• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Pos oleh
Pos oleh :

Humas FIB

Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa

Rilis Berita Rabu, 11 Maret 2026

Bahasa Jawa selama ini sering diasosiasikan dengan wilayah Yogyakarta dan Surakarta yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa. Selain itu, masyarakat juga akrab dengan dialek Jawa Timuran yang lugas atau dialek Banyumasan yang kerap dianggap unik oleh penutur bahasa Jawa lainnya. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa bahasa Jawa juga hidup dan berkembang di luar wilayah utama tersebut, yakni di Provinsi Banten, sebelah ujung barat pulau Jawa. Di wilayah ini, berkembang sebuah variasi bahasa yang dikenal sebagai Bahasa Jawa dialek Banten.

Dalam klasifikasi dialek bahasa Jawa, Ras (1994) membagi bahasa Jawa menjadi tiga kelompok besar, yaitu dialek Jawa bagian barat, tengah, dan timur. Bahasa Jawa Dialek Banten (BJDB) termasuk kelompok dialek Jawa bagian barat dan sering pula disebut sebagai bahasa Jawa Serang atau Jaseng, karena sebagian besar penuturnya berada di Kota Serang dan Kabupaten Serang (Rohbiah & Mu’awwanah, 2021).

Terdapat beberapa sumber yang menyebutkan wilayah penggunaan BJDB secara berbeda. Penelitian Danasasmita dan Pronggodigdo menyebutkan bahwa dialek ini digunakan di wilayah bekas Keresidenan Banten yang mencakup Kabupaten Serang, Pandeglang, dan Lebak. Sementara itu, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat juga memasukkan wilayah Tangerang sebagai daerah yang memiliki penutur dialek tersebut (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Secara geografis, keberadaan bahasa ini cukup unik karena berada di antara beberapa komunitas bahasa lain, yaitu penutur bahasa Betawi di wilayah Jakarta, penutur bahasa Sunda di bagian selatan Banten, serta penutur bahasa Lampung di seberang Selat Sunda (Rohbiah & Mu’awwanah, 2020).

Pengaruh Sejarah dalam Perkembangan Dialek

Kemunculan bahasa Jawa di Banten tidak terlepas dari proses sejarah panjang kawasan tersebut. Pada awal abad ke-16, wilayah Banten masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Situasi ini berubah setelah terjadinya Perjanjian Sunda–Portugis pada tahun 1522. Perjanjian tersebut memicu konflik yang kemudian berujung pada penaklukan Pelabuhan Banten pada tahun 1526 dan Sunda Kelapa pada tahun 1527 oleh pasukan Demak dan Cirebon (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Setelah penaklukan tersebut, Banten dipimpin oleh Syarif Hidayatullah yang berasal dari Cirebon. Hanya saja, secara politik, Banten sebenarnya dikendalikan oleh Sultan Demak. Di bawah kepemimpinan Syarif Hidayatullah,  Banten berkembang menjadi kerajaan Islam yang aktif dalam jaringan perdagangan dan perhubungan bagi para pedagang Jawa dan Islam (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Patmadiwiria (1977) menambahkan bahwa bermukimnya prajurit penaklukan Banten dari Jawa juga membawa serta bahasa dan kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa Kesultanan Demak dan Cirebon menjadi penyebab atau asal-muasal dari munculnya dialek Banten

Pengaruh budaya Jawa juga semakin kuat pada abad ke-17 ketika Kesultanan Mataram memperluas pengaruhnya ke wilayah Jawa Barat. Penyebaran budaya Jawa pada masa itu tidak hanya terjadi di kalangan elit, tetapi juga pada masyarakat lapisan bawah (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Selain faktor sejarah, kondisi geografis turut membentuk perkembangan BJDB. Keberadaan Pelabuhan Merak yang menjadi jalur penghubung antara Jawa dan Sumatra memungkinkan interaksi intensif dengan masyarakat Lampung. Interaksi tersebut melahirkan komunitas penutur bahasa Lampung di beberapa wilayah pesisir Banten, seperti di Kecamatan Anyer. Kontak budaya ini kemudian turut memengaruhi kosakata dalam bahasa Jawa dialek Banten (Rohbiah & Mu’awwanah, 2021).

Keunikan Pelafalan

Sebagai sebuah dialek, BJDB memiliki ciri khas yang tampak, terutama pada aspek pelafalan dan kosakata. Salah satu keunikan paling menonjol adalah variasi pelafalan fonem /a/. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al. (1985), disebutkan bahwa bunyi ini memiliki tiga variasi pengucapan yang berbeda, bergantung pada wilayah penuturnya.

Di daerah Kota Serang, Cilegon, dan wilayah sekitarnya, fonem /a/ sering dilafalkan mendekati bunyi [ɤ], yang mirip dengan bunyi “eu” dalam bahasa Sunda (Patmadiwiria, 1977; Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Sementara itu, di wilayah pinggiran Serang seperti Barugbug, Pagelaran, Cikande, dan Kragilan, fonem /a/ tetap dilafalkan sebagai [a]. Adapun di beberapa daerah seperti Rancasawah dan sebagian wilayah Cilegon, fonem /a/ dibunyikan sebagai [ɔ] (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Variasi bunyi atas fonem /a/ terjadi dari beberapa keadaan, di antaranya sebagai berikut (Karia, 1914; Iskandarwassid Mulyana, Hudari, et al., 1985):

  1. Fonem /a/ pada suku kata terbuka akan menghadirkan variasi bunyi. Contoh: sira [sirɤ], ora [orɤ], dan kula [kulɤ].
  2. Khusus pada daerah Kota Serang dan sekitarnya, /a/ dapat berbunyi [ɤ] pada kata bersilabel satu, yaitu mah [mɤh]. Akan tetapi, kata bersilabel satu lainnya seperti lah, la, dan tah tetap dibaca [a].
  3. Jika /a/ terletak pada sebuah kata dengan suku kata terbuka, lalu kemudian ditutup dengan pelekatan sufiks, maka /a/ dilafalkan sebagai /a/. Contoh: sira [sirɤ] menjadi sirane [siranI] dan apa [apɤ] menjadi apane [apanI].

Kosakata Khas

Selain pelafalan, BJDB juga memiliki sejumlah kosakata yang berbeda dari bahasa Jawa standar yang digunakan di Yogyakarta dan Surakarta. Berikut 5 contoh beserta pengucapannya didasarkan dan disesuaikan dengan Karia (1914), Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al. (1985), Poerwadarminta (1939), Sulistyowati (2015), dan Patmadiwiria (1977):

 

  1. kastelâ atau kêstelâ ‘pepaya’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut kates
  2. sirâ ‘kamu’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut kowe
  3. kepremen ‘bagaimana’, yang setara dengan kepiye
  4. ayun ‘ingin’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut arep
  5. ning ‘jika’, yang setara dengan yen
  6. derbe ‘punya’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut duwe
  7. linggar ‘pergi’, yang setara dengan lungå

Perbedaan kosakata ini menunjukkan bahwa BJDB memiliki perkembangan leksikal yang khas dan tidak sepenuhnya identik dengan bahasa Jawa standar.

*Untuk memberi kemudahan, penulis memberikan simbol khusus untuk <a> yang dibunyikan [a], <å> yang dibunyikan [ɔ], dan <â> yang dibunyikan [ɤ]

Hasil Kontak Bahasa

Keunikan BJDB juga tercermin dari banyaknya kosakata hasil kontak dengan bahasa lain. Bahasa Sunda, Betawi, Melayu, dan Lampung turut memberikan pengaruh terhadap perbendaharaan kata dalam dialek ini. Berlandaskan pada Rohbiah & Mu’awwanah (2021), berikut adalah contoh-contoh pengaruh dari masing-masing bahasa tersebut.

  1. Dari bahasa Sunda, misalnya, kata kolot yang berarti ‘tua’ serta beuleum yang berarti ‘membakar’ yang digunakan oleh penutur BJDB daerah di Desa Binong, Kecamatan Pamarayan, alih-alih menggunakan kata tuâ dan ngobong dalam BJDB. 
  2. Dari bahasa Betawi terdapat kata engkong yang berarti ‘kakek’ dan betot yang berarti ‘menarik’ yang digunakan oleh penutur BJDB di Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara, alih-alih menggunakan kata ende lanang dan narik dalam BJDB.
  3. Pengaruh bahasa Melayu terlihat pada penggunaan kata laki untuk menyebut ‘suami’ oleh penutur BJDB di Desa Kampung Baru & Binong, Kecamatan Pamarayan, Desa Pontang & Wanayasa, Kecamatan Pontang, Desa Tanara & Pedaleman, Kecamatan Tanara, dan Desa Anyar & Cikoneng, Kecamatan Anyar, alih-alih menggunakan kata rayat lanang dalam BJDB.
  4. Pengaruh bahasa Lampung muncul kata eppak yang berarti ‘empat’ dan duwai yang berarti ‘danau’ yang digunakan oleh penutur BJDB di Desa Anyar, Kecamatan Anyar, alih-alih menggunakan kata papat dan danau dalam BJDB.

Fenomena penyerapan tersebut biasanya muncul di wilayah-wilayah yang memiliki intensitas kontak budaya tinggi dengan komunitas bahasa tertentu.

Penulis: Haryo Untoro

Editor: Haryo Untoro & Nurul Fajri Rahmani

Pembuat Keluku: Nurul Fajri Rahmani

 

Daftar Pustaka

Iskandarwassid; Mulyana, Y.; Hudari, A; Sjarif, T.K.S. (1985). Struktur Bahasa Jawa Dialek Banten. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Karia, M. M. D. (1914). Dialect Djawa Banten. Batavia: G Kolff & Co.

Patmadiwiria, M. (1977). Kamus Dialek Jawa Banten-Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Baoesastra Jawa. Batavia: J.B. Wolters’ Uitgevers-Maatschappij N. V. Groningen.

Ras, J.J. (1994). Inleiding tot het Modern Javaans. Leiden: KITLV.

Rohiah, T.S., & Mu’awwanah, U. (2020). Inovasi Leksikal Bahasa Jawa Banten di Perbatasan Kabupaten Serang Provinsi Banten: Kajian Geografis – Linguistik. Serang: Media Madani

Sulistyowati. (2018). Kompleksitas dan Fleksibilitas Realisasi Bunyi Vokal Bahasa Jawa. Mutiara dalam Sastra Jawa Edisi 4, 4(3), 29-45.

Daftar Gambar

Akbar. (2025, 13 Oktober). Keraton Kaibon, Jejak Kejayaan Kesultanan Banten di Kota Serang [Gambar]. Serangkota.go.id. https://serangkota.go.id/detailpost/keraton-kaibon-jejak-kejayaan-kesultanan-banten-di-kota-serang. 

Seputar Jawa: Basa Kedhaton dan Basa Bagongan, Ragam Tutur Khas Keraton Surakarta dan Yogyakarta

Rilis Berita Rabu, 11 Maret 2026

Pembahasan mengenai tingkat tutur bahasa Jawa umumnya berhenti pada dua istilah yang paling populer, yakni tingkat tutur ngoko dan krama. Padahal, di lingkungan keraton Jawa berkembang satu ragam bahasa khusus yang digunakan oleh para abdi dalem di lingkungan istana, yaitu Basa Kedhaton dan Basa Bagongan. Apa itu Basa Kedhaton atau Basa Bagongan?

Secara istilah, basa berarti ‘bahasa’, sedangkan kedhaton merujuk pada ‘keraton’ atau ‘kerajaan’. Basa Kedhaton atau Basa Bagongan itu sendiri digunakan oleh para sentana ‘kerabat raja’ dan abdi dalem ketika menghadap raja, seperti Sultan atau Sunan, serta Pangeran Adipati Anom ‘putra mahkota’ di Keraton (Padmosoekotjo, 1953:16). Istilah yang digunakan di Keraton Kasunanan Surakarta adalah Basa Kedhaton, sementara di Keraton Kasultanan Yogyakarta dikenal sebagai Basa Bagongan (Padmosoekotjo, 1953).

Dalam naskah Serat Purwa Ukara, tercatat bahwa Sejarah penggunaan Basa Bagongan sendiri telah tercatat sejak masa pemerintahan Hamengkubuwana (HB) I. Namun, penggunaannya sempat dilarang pada masa HB V karena kurang disukai, sebelum akhirnya diperbolehkan kembali oleh HB VI (Setyowijaya, 2015:61–63).

Istilah “Bagongan” sendiri kerap dihubungkan dengan tokoh Bagong dalam tradisi pewayangan Yogyakarta. Tokoh ini dikenal lugas, apa adanya, dan tidak terlalu halus dalam bertutur. Karakter tersebut dinilai merepresentasikan sifat Basa Bagongan yang “setengah madya”, tidak sehalus krama, tetapi tetap sopan dan beritikad baik (Padmosoekotjo, 1953:89). Sementara itu, dalam naskah Serat Purwa Ukara dijelaskan bahwa istilah “Bagongan” diciptakan oleh Sri Sultan itu sendiri. Istilah ini identik dengan pegoan ‘bahasa Jawa yang tidak lazim atau menyimpang dari kebiasaan’ (Setyowijaya, 2015:62–63).

Keunikan dari Basa Kedhaton dan Basa Bagongan dapat diketahui dari bentuk kebahasaannya, yaitu memiliki istilah-istilah khusus, struktur gramatikal, dan penggunaan bentuk sastra dengan pelekatan imbuhan ragam bahasa Kawi atau bahasa Jawa Kuna untuk sastra (Padmosoekotjo, 1953; Setyowijaya, 2015; dan Poedjosoedarmo & Laginem, 2014).

Ciri paling menonjol dari Basa Kedhaton adalah penggunaan kata ganti orang pertama (aku) dan kata ganti orang kedua (kamu). Bentuk kata ganti di Kasunanan Surakata dibedakan sesuai jabatan: mara ‘aku’ dan para ‘kamu’ yang digunakan oleh putra-sentana ‘anak pejabat istana’, manira ‘aku’ dan pakenira ‘kamu’ untuk punggawa, kula ‘aku’ dan jengandika ‘kamu’ untuk panèwu ‘camat’ dan mantri ‘lurah’, serta robaja ‘aku’ dan pantèn ‘kamu’ untuk pujangga. Sementara itu, di Yogyakarta hanya dikenal pasangan manira ‘aku’ dan pakenira ‘kamu’ (Padmosoekotjo, 1953:16).

Selain itu, terdapat sejumlah kosakata khas lainnya. Poedjosoedarmo dan Laginem (2014) mencatat bahwa terdapat sekitar 40 kosakata khusus dari Basa Kedhaton dan 11 kosakata khusus Basa Bagongan. Beberapa di antaranya ialah:

  • enggèh ‘iya’ 
  • wènten ‘ada’, 
  • wikana ‘tidak tahu’, 
  • sumitra ‘singa’.

Kemudian, ragam ini juga sering memanfaatkan bentuk bernuansa sastra atau imbuhan Kawi, misalnya kakersake ‘dikehendaki’, mangangge ‘memakai’, sinerat ‘ditulis’, dan lumebet ‘masuk’.

Dari segi tata bahasa, terdapat perbedaan antara struktur tata bahasa Basa Kedhaton dari Surakarta dan Basa Bagongan dari Yogyakarta. Basa Kedhaton dari Surakarta yang tetap menggunakan tata kalimat dalam wujud krama. Berdasarkan hal tersebut, maka prefiks dan sufiks yang digunakan tetap menggunakan variasi krama, yaitu prefiks pasif {dipun-} dan sufiks {-aken}.

Kondisi tersebut berbeda dengan struktur Basa Bagongan memperlihatkan percampuran krama dan ngoko dalam satu bentuk. Contoh yang ditemukan dalam Serat Purwa Ukara yaitu sebagai berikut: 

Rawuhé Kanjeng Tuwan Panes, wènten ing negari Ngayugya minangka kumissarising gupermèn… 

‘Datangnya Kanjeng Tuwan Panes, di Negari Yogyakarta sebagai komisaris gupermen..’. 

Dalam hal ini, kata rawuhé, berasal dari kata dasar rawuh ‘datang’ (krama inggil) yang dilekati sufiks {-é} (ngoko). Fenomena tersebut menunjukkan perpaduan tingkat tutur dalam satu kata (Setyowijaya, 2015:57).

Selain itu, perbedaan lainnya adalah perbedaan penggunaan antara Basa Kedhaton dan Basa Bagongan. Basa Kedhaton tidak dimaksudkan untuk menghadirkan efek kesejajaran antarpengguna (Poedjosoedarmo & Laginem, 2014:21–22). Poedjosoedarmo & Laginem (2014:22) menerangkan bahwa terdapat beberapa tingkatan yang berbeda, seperti: 

  • Manungkara, digunakan oleh para bangsawan, seperti Kanjeng Gusti dan Bendara Pangeran
  • Mangungkak basa, digunakan oleh para punggawa pangkat tinggi antara satu dengan yang lain
  • Angagok wicara, digunakan oleh bangsawan tinggi kepada orang yang lebih rendah pangkatnya.

Hal tersebut berbeda dengan Basa Bagongan di Yogyakarta yang tetap menyampaikan rasa hormat sekaligus menghadirkan kesetaraan di antara penutur dan mitra tutur (Poedjosoedarmo & Laginem, 2014:10).

Fungsi dari Basa Bagongan tidak sekadar untuk komunikasi lisan di lingkungan istana saja. Variasi bahasa Jawa ini juga ditemukan dalam komunikasi tulis atau persuratan. Selain itu, Basa Bagongan juga digunakan dalam upacara adat Keraton, tepatnya ketika pemimpin prajurit diperintahkan untuk mengantarkan gunungan dalam proses adat Grebeg (Setyowijaya, 2015:63-66).

 

Baik Basa Kedhaton maupun Basa Bagongan memiliki ciri khasnya tersendiri. Kendatipun menjadi kekayaan budaya yang tidak ternilai, keberadaan Basa Bagongan kini semakin jarang dijumpai. Setyowijaya (2015:66–67) mencatat bahwa penutur aktif umumnya abdi dalem berusia di atas 60 tahun. Generasi muda keraton cenderung hanya menggunakan ngoko dan krama. Regenerasi dari luar lingkungan keraton serta anggapan kurang sopan jika dipakai kepada pejabat tinggi turut menyebabkan ragam ini jarang digunakan.

[Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Haryo Untoro]

Daftar Pustaka

Padmosoekotjo, S. (1953). Ngéngréngan Kasusastran Djawa. Jogyakarta: Hien Hoo Sing

Poedjosoedarmo, S., dan Laginem. (2014). Bahasa Bagongan. Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setyowijaya, A. (2015). Teks Basa Bagongan dalam Naskah Sêrat Purwa Ukara: Suntinga Teks, Terjemahan, dan Deskripsi Kebahasaan. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Daftar Gambar

Verkaik, A. (t.t.). Abdi Dalem – Yogya [Gambar]. Pinterest. https://pin.it/5XmXoVqln

Widya. (t.t.). Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat / Surakarta Hadiningrat Royal Palace. Solo, Java [Gambar]. Pinterest.  https://pin.it/5Wm9RNcqm. 

Wirasandjaya, F.R. (2019, 16 Agustus). Spiritualisme Masyarakat Jawa [Gambar]. Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/frwirasandjaya/5d56c9ff097f3675ad5e5bd4/spiritualisme-masyarakat-jawa.

Departemen Antropologi Melaksanakan Film Refugee Rohingya

Rilis Berita Selasa, 10 Maret 2026

Migrasi dan perpindahan manusia merupakan sebuah isu yang semakin relevan dengan berkembangnya hubungan lintas-wilayah di era global. Pada hari Jumat, 13 Februari 2026 yang lalu, Departemen Antropologi UGM melaksanakan penayangan film serta diskusi bersama terkait dengan topik ini. When The Water Horse Seeks a New Home adalah sebuah film pendek hasil karya sutradara Andrianus “Oetjoe” Merdhi, yang telah memproduksi banyak film mengenai berbagai kelompok masyarakat di Indonesia. Produksi film ini juga dibantu oleh Gerhard Hoffstaedter dari University of Brisbane, serta Prof. Dr. Antje Missbach (Mbak Antje) dari University of Bielefeld. Secara garis besar, film ini menceritakan tentang pengalaman para refugee dari Rohingya yang melalui lautan untuk mencari suaka di Aceh, Indonesia. Ajang penayangan ini dihadiri langsung oleh Mbak Antje, serta difasilitasi oleh Dr. Realisa Darathea Masardi (Mbak Lisa) sebagai penyelenggara acara dari Departemen Antropologi UGM.

Film ini dimulai dengan eksposisi dari sisi pandang seorang migran Rohingya yang mengungsi ke Aceh. Di perjalanan, banyak tantangan yang dilewati oleh kelompok ini, seperti kerusakan mesin kapal yang memaksa mereka untuk mengambang di lautan selama beberapa hari, tanpa kemampuan untuk mengendalikan arah gerak mereka. Bantuan diberikan oleh beberapa petugas patroli negara yang daerah lautnya mereka lewati, namun tidak ada yang memberikan mereka izin untuk berlabuh. Setelah perjalanan yang lama, akhirnya mereka tiba di pesisir Aceh.

Sesampainya di sana, banyak warga setempat yang mengekspresikan penolakan terhadap kehadiran mereka. Selama negosiasi tempat tinggal dengan warga, para pengungsi menunggu di pesisir, di dekat kapal mereka, tidak diperbolehkan pergi jauh. Setelah itu pun, mereka bermukim di kamp pengungsian yang padat dan kumuh. Penolakan yang dilakukan warga pun sebenarnya juga beralasan, karena kekhawatiran atas perilaku para pengungsi Rohingya. Namun ada pula warga yang berempati dengan para pengungsi ini. Setelah para pengungsi berpindah ke kamp, ia menemukan mainan kuda nil milik salah satu anak pengungsi. Beberapa waktu kemudian, ia berusaha mengembalikan mainan tersebut, namun ternyata si anak dan keluarganya telah meninggalkan kamp, tanpa bisa dihubungi.

Empati yang ditunjukkan berakar dari rasa senasib sepenanggungan, karena dahulu ia sendiri juga pernah menjadi pengungsi. Perang Aceh memaksanya untuk pergi meninggalkan rumah dan keluarganya. Jadi, dia pernah merasakan apa yang kini dirasakan oleh para pengungsi Rohingya saat ini. Perspektif ini menunjukkan sisi kemanusiaan dari konflik ini, dan memperlihatkan bahwa sebenarnya banyak pengalaman serupa yang pernah dijalani oleh kelompok masyarakat di Indonesia sendiri.

Setelah penayangan film, Mbak Antje membuka sesi diskusi dan tanya jawab bersama para penonton. Diskusi yang aktif mulai terwujud, membahas tentang bagaimana warga sipil bisa bersikap dan membantu para pengungsi ini. Selain itu, diskusi juga mengarah ke bagaimana negara bisa menangani krisis ini, menjaga sikap antara mempertahankan kepentingan warga negara namun juga membantu para pengungsi secara kemanusiaan. Setelah diskusi selesai, acara diakhiri dengan penyerahan kenang-kenangan dari Departemen Antropologi ke Mbak Antje.

Penulis: Amadeus Abhirama Paramanindita

Dua Dosen Baru Resmi Bergabung di Program Studi Antropologi

Rilis Berita Selasa, 10 Maret 2026

Departemen Antropologi dengan bangga dan gembira mengumumkan bergabungnya dua dosen baru yang akan memperkuat kegiatan akademik, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat di lingkungan program studi. Kehadiran kedua dosen ini diharapkan dapat memberikan kontribusi signifikan dalam pengembangan ilmu antropologi serta meningkatkan kualitas pembelajaran bagi mahasiswa.

Kedua dosen tersebut memiliki latar belakang akademik dan pengalaman penelitian yang relevan dengan bidang antropologi. Dengan keahlian yang dimiliki, mereka diharapkan dapat memperkaya perspektif keilmuan, mendorong kolaborasi penelitian, serta menghadirkan pendekatan pembelajaran yang inovatif di kelas.

Dosen yang bergabung tersebut adalah, pertama, Dr. Des Christy, S.Ant., M.A., lulusan program PhD di Radboud University Nijmegen dengan judul disertasi “Navigating Shifting Tides: The Sociality of Fishing in North Shields, UK, in the face of the EU Common Fisheries Policy” dan telah mengikuti postdoctoral researcher di Nijmegen School of Management. Adapun minat studi kajiannya yaitu antropologi maritim, environmental governance, urban sustainability dan ethnography in Europe.Kedua, Michael Haryo Bagus Raditya, M.A. yang saat ini masih menyelesaikan studinya di Program Doktor Asia Institute, Faculty of Arts The University Melbourne, Victoria, Australia. Adapun riset area minat studinya tentang dangdut, popular music studies, ethnomusicology, performing arts, performance studies, contemporary dance, anthropology of art, and asian cultural studies.

Penambahan tenaga pengajar ini merupakan bagian dari upaya penguatan kapasitas akademik program studi. Semoga kehadiran mereka dapat memberikan energi baru bagi pengembangan keilmuan, peningkatan kualitas pendidikan, serta memperluas jaringan penelitian dan kerja sama. Selain itu, para mahasiswa juga diharapkan dapat memanfaatkan kesempatan ini untuk belajar dari pengalaman dan keahlian yang dimiliki oleh para dosen baru tersebut, baik melalui perkuliahan, kegiatan penelitian, maupun diskusi akademik. Dengan bergabungnya dua dosen baru ini, Program Studi Antropologi optimistis dapat terus berkembang dan memberikan kontribusi yang lebih luas bagi pengembangan ilmu pengetahuan serta pemahaman mengenai dinamika sosial dan budaya di masyarakat.

FIB UGM Luncurkan Buku Sejarah 80 Tahun Perjalanan Fakultas

HEADLINERilis Berita Selasa, 10 Maret 2026

Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Bertepatan dengan ulang tahunnya yang ke-80, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada meluncurkan buku sejarah berjudul Mengeja Waktu Merajut Warna, 80 Tahun Perjalanan Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Buku tersebut diserahkan kepada Ketua Senat FIB, Prof. Dr. Bambang Hudayana, M.A., dan Rektor UGM, Prof. dr. Ova Emilia, Ph.D., sebagai bagian dari upaya mendokumentasikan perjalanan panjang fakultas dalam pengembangan kajian sastra dan kebudayaan di Indonesia.

Buku ini ditulis oleh tim yang terdiri dari Abdul Wahid, Tatag Andriawan, Soraya Anugra Lia, dan Lenna Aurelia Amalia. Penyusunannya dilakukan dalam waktu relatif singkat, namun diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk merekonstruksi perjalanan kelembagaan FIB UGM selama delapan dekade.

Dalam pengantar buku, tim penulis menjelaskan bahwa karya ini merupakan upaya awal untuk merekam secara lebih utuh sejarah Fakultas Ilmu Budaya sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi tertua di Indonesia di bidang sastra dan kebudayaan. Melalui penelusuran perjalanan tersebut, buku ini juga berupaya menemukan makna dari transformasi yang dialami fakultas sepanjang waktu.

“Buku ini merupakan upaya pertama yang mencoba merekonstruksi secara lengkap 80 tahun perjalanan Fakultas Ilmu Budaya sebagai lembaga perguruan tinggi di bidang sastra dan kebudayaan tertua di Indonesia, sekaligus untuk mencari makna dari perjalanan panjang tersebut,” tulis tim penulis.

Sebagai kajian sejarah kelembagaan, buku ini menjelaskan perkembangan Fakultas Ilmu Budaya UGM sebagai organisasi yang dipengaruhi oleh dinamika internal sekaligus perubahan eksternal, seperti kebijakan pemerintah, perkembangan pendidikan tinggi, dan dinamika masyarakat. Pendekatan sejarah kelembagaan tidak hanya mencatat kronik peristiwa, tetapi juga menjelaskan bagaimana sebuah lembaga berkembang dan merespons berbagai perubahan dari waktu ke waktu.

Penulisan sejarah lembaga juga berperan dalam menjaga memori institusi. Memori ini mencakup aspek fisik seperti bangunan, ruang kelas, struktur organisasi, dan berbagai artefak institusional, serta aspek nonfisik seperti norma, aturan, dan budaya kerja yang berkembang di dalam lembaga.

Bagi sebuah institusi akademik, memori kelembagaan memiliki nilai strategis karena dapat menjadi bahan refleksi untuk memahami proses pembentukan identitas kolektif sekaligus merancang arah pengembangan di masa depan.

Dalam penyusunannya, buku ini ditulis secara kronologis untuk memudahkan pembaca memahami perkembangan fakultas. Periodisasi yang digunakan didasarkan pada perubahan nama fakultas sepanjang sejarahnya.

Pembahasan dibagi ke dalam empat bab utama. Bab pertama membahas periode awal perkembangan pada 1946 hingga 1955. Bab kedua mengulas masa Fakultas Sastra dan Kebudayaan dari 1955 hingga 1982. Bab ketiga membahas periode Fakultas Sastra pada 1982 hingga 2001. Sementara bab keempat mengulas periode Fakultas Ilmu Budaya dari 2001 hingga 2025.

Tim penulis menyadari buku ini masih memiliki keterbatasan dan belum sepenuhnya mencakup kompleksitas sejarah fakultas yang panjang. Oleh karena itu, mereka berharap buku ini dapat menjadi awal bagi penelitian yang lebih mendalam mengenai perkembangan kelembagaan dan keilmuan di lingkungan FIB UGM.

“Kami menyadari bahwa buku ini masih jauh dari lengkap apalagi sempurna. Dengan segala kerendahan hati, kami berharap buku ini mendapatkan masukan konstruktif untuk dapat diperbaiki di masa depan,” tulis tim penulis.

Para penulis juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang mendukung proses penyusunan buku, khususnya Dekanat FIB UGM periode 2021–2026 yang memberikan kepercayaan kepada tim untuk mengerjakan proyek tersebut.

Kehadiran buku ini diharapkan dapat menjadi sarana refleksi bagi sivitas akademika untuk memahami perjalanan institusi sekaligus memperkuat komitmen dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, kebudayaan, dan kontribusi akademik bagi masyarakat.

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

123…283

Rilis Berita

  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
  • Seputar Jawa: Basa Kedhaton dan Basa Bagongan, Ragam Tutur Khas Keraton Surakarta dan Yogyakarta
  • Departemen Antropologi Melaksanakan Film Refugee Rohingya
  • Dua Dosen Baru Resmi Bergabung di Program Studi Antropologi
  • FIB UGM Luncurkan Buku Sejarah 80 Tahun Perjalanan Fakultas

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju