• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Pos oleh
Pos oleh :

Humas FIB

Prof. Suhandano Soroti Tantangan Studi Bahasa di Era Digital pada Dies Natalis ke-80 FIB UGM

Rilis Berita Kamis, 12 Maret 2026

Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Ketua Departemen Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Suhandano, M.A., menyoroti perkembangan serta tantangan studi bahasa di era digital dalam pidato ilmiah yang disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-80 Fakultas Ilmu Budaya UGM. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa kajian linguistik memiliki cakupan yang luas dan berpotensi besar untuk berkontribusi dalam memahami berbagai persoalan masyarakat.

Prof. Suhandano menjelaskan bahwa studi bahasa saat ini tidak hanya berfokus pada struktur internal bahasa, tetapi juga pada hubungannya dengan berbagai aspek kehidupan. Dalam linguistik mikro, kajian mencakup bidang seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sementara itu, linguistik makro mengkaji bahasa dalam kaitannya dengan bidang lain, seperti analisis wacana, sosiolinguistik, neurolinguistik, linguistik antropologis, hingga linguistik komputasional dan linguistik forensik.

Menurutnya, bahasa sebagai objek kajian bersifat dinamis dan selalu berkembang mengikuti perubahan masyarakat. Karena itu, perspektif dalam mempelajari bahasa juga terus bertambah seiring dengan munculnya berbagai persoalan baru dalam kehidupan sosial.

Ia juga menyinggung perkembangan pemikiran mengenai bahasa sejak zaman Yunani kuno. Filsuf Plato, misalnya, telah mengajukan pertanyaan mengenai hubungan antara kata dan benda yang dinamainya. Dari pemikiran tersebut muncul dua pandangan yang berbeda, yakni pandangan yang melihat hubungan kata dan benda bersifat logis serta pandangan yang menilai hubungan tersebut bersifat arbitrer atau terbentuk melalui kesepakatan masyarakat penutur.

Sementara itu, Aristoteles memandang bahasa sebagai alat untuk berpikir. Ia mengidentifikasi tiga komponen utama dalam proposisi, yaitu onoma, rema, dan logos, yang dalam kajian linguistik modern dapat disejajarkan dengan nomina, verba, dan kalimat.

Prof. Suhandano menekankan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sistem tanda, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami dunia. “Bahasa mencerminkan bagaimana penuturnya memandang dunia, bagaimana penuturnya memikirkan apa yang ada di sekitarnya,” ujarnya dalam pidato ilmiah tersebut.

Pandangan ini membuka peluang bagi studi linguistik untuk berkontribusi dalam berbagai tema penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia mencontohkan bahwa tema pangan yang sekilas tampak jauh dari kajian bahasa sebenarnya dapat ditelaah melalui perspektif linguistik untuk memahami bagaimana masyarakat memandang dan membicarakan pangan.

Untuk mengembangkan kajian tersebut, Prof. Suhandano menilai kolaborasi lintas disiplin menjadi langkah penting. “Linguistik perlu bergandeng tangan dengan ilmu-ilmu lain dalam menggarap tema-tema tersebut,” tuturnya.

Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti posisi Fakultas Ilmu Budaya UGM yang selama ini dikenal sebagai salah satu rujukan penting dalam pengembangan studi bahasa di Indonesia. Sejumlah karya akademik yang lahir dari fakultas tersebut telah menjadi acuan dalam kajian linguistik, termasuk karya M. Ramlan mengenai morfologi dan sintaksis bahasa Indonesia.

Minat terhadap studi bahasa di fakultas tersebut juga terus berkembang. Mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari mancanegara datang untuk mempelajari linguistik dengan beragam tema penelitian.

Memasuki usia ke-80, pembangunan gedung baru FIB UGM diharapkan dapat mendukung aktivitas akademik yang semakin berkembang. Dengan fasilitas yang lebih memadai, kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat diharapkan dapat berjalan lebih optimal.

Di tengah perubahan yang cepat pada era digital, Prof. Suhandano menilai studi bahasa tetap memiliki peluang besar untuk berkembang. Melalui penelitian dan kolaborasi lintas disiplin, kajian linguistik diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memahami dinamika masyarakat serta mendorong pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

FIB UGM Berikan Penghargaan Mahasiswa Berprestasi pada Dies Natalis ke-80

Rilis Berita Kamis, 12 Maret 2026

Yogyakarta, 03 Maret 2026 – Dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-80 Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Gadjah Mada, FIB UGM memberikan penghargaan kepada sejumlah mahasiswa berprestasi dari berbagai program studi. Penghargaan ini menjadi bentuk apresiasi fakultas terhadap dedikasi, capaian akademik, serta kontribusi mahasiswa dalam mengembangkan keilmuan di bidang humaniora.

Pemberian penghargaan Mahasiswa Berprestasi tersebut merupakan salah satu rangkaian kegiatan Dies Natalis ke-80 FIB UGM yang mengusung semangat refleksi atas perjalanan panjang fakultas dalam membangun peradaban melalui ilmu pengetahuan dan kebudayaan. Melalui penghargaan ini, FIB UGM berharap dapat mendorong mahasiswa untuk terus mengembangkan potensi akademik, kreativitas, serta kepemimpinan di berbagai bidang.

Adapun mahasiswa yang menerima penghargaan Mahasiswa Berprestasi FIB UGM berasal dari berbagai program studi, yaitu :  

  1. Muhammad Lodhi Firmansyah – Program Studi Antropologi Budaya
  2. Stefanie Adelia Tiurma Mukti – Program Studi Arkeologi
  3. Haris Arfakhsyadz Azka Maula – Program Studi Sastra Arab 
  4. Bening Christalica Damai Nugraha – Program Studi Bahasa dan Sastra Indoensia
  5. Sabrina Cherryl Az-zahra – Program Studi Sastra Inggris
  6. Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ – Program Studi Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa
  7. Betari Ardya Febbyaliza – Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang
  8. Ferdinanda Melinda Suryaningrum – Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea
  9. Ferdian Dwi Saputra – Program Studi Pariwisata
  10. Nova Indah Navez – Program Studi Bahasa dan Sastra Prancis
  11. Muhammad Jaris Almazani – Program Studi Sejarah

Pemberian penghargaan ini tidak hanya menjadi bentuk pengakuan atas prestasi mahasiswa, tetapi juga menjadi motivasi bagi seluruh mahasiswa FIB UGM untuk terus berkontribusi dalam pengembangan ilmu pengetahuan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat. Inisiatif ini sejalan dengan upaya mendukung implementasi United Nations Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4: Quality Education, yang menekankan pentingnya pendidikan berkualitas serta pengembangan potensi generasi muda.

Melalui penghargaan Mahasiswa Berprestasi dalam Dies Natalis ke-80 ini, FIB UGM berharap dapat terus melahirkan generasi akademisi dan intelektual muda yang mampu berperan aktif dalam pembangunan masyarakat serta pengembangan ilmu humaniora di tingkat nasional maupun global.

[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]

Mahasiswa FIB UGM Ciptakan Buku Pop-Up “8 Dekade Membangun Peradaban” untuk Visualisasikan Sejarah Fakultas

Rilis Berita Kamis, 12 Maret 2026

Yogyakarta, 03 Maret 2026 – Kreativitas mahasiswa kembali mewarnai peringatan Dies Natalis ke-80 Fakultas Ilmu Budaya di Universitas Gadjah Mada. Seorang mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, Wanita Perkasa Bijaksana, menghadirkan karya inovatif berupa buku pop-up berjudul “8 Dekade Membangun Peradaban” yang menampilkan perjalanan sejarah FIB UGM dalam bentuk visual yang interaktif.

Buku pop-up tersebut dibuat sebagai upaya menghadirkan sejarah Fakultas Ilmu Budaya secara lebih menarik dan mudah dipahami. Melalui pendekatan visual, karya ini menyajikan perjalanan panjang FIB UGM sejak awal berdiri hingga perkembangannya saat ini. Format pop-up dipilih karena mampu menghadirkan elemen tiga dimensi yang membuat pembaca dapat merasakan pengalaman membaca sejarah secara lebih hidup dan interaktif.

Dalam buku tersebut, Wanita Perkasa Bijaksana menyeleksi sejumlah peristiwa penting serta penanda sejarah yang menggambarkan dinamika perkembangan Fakultas Ilmu Budaya. Peristiwa-peristiwa tersebut dipresentasikan melalui ilustrasi visual yang dirancang secara kreatif, sehingga mampu merepresentasikan transformasi institusi, capaian akademik, serta kontribusi FIB UGM dalam pengembangan ilmu humaniora.

Kehadiran buku pop-up ini tidak hanya menjadi karya artistik, tetapi juga sarana edukasi yang memperkenalkan sejarah fakultas kepada mahasiswa, civitas akademika, maupun masyarakat luas. Melalui media visual yang inovatif, sejarah yang sebelumnya disampaikan secara tekstual dapat dipahami dengan cara yang lebih komunikatif dan menarik.

Inisiatif kreatif ini juga sejalan dengan semangat pengembangan pendidikan yang inklusif dan inovatif, sekaligus mendukung implementasi United Nations Sustainable Development Goals, khususnya SDG 4: Quality Education, yang mendorong akses terhadap pembelajaran berkualitas melalui metode yang kreatif, serta SDG 11: Sustainable Cities and Communities melalui upaya pelestarian dan penyebaran pengetahuan budaya serta sejarah institusi.

Melalui karya buku pop-up “8 Dekade Membangun Peradaban”, mahasiswa FIB UGM menunjukkan bahwa kreativitas generasi muda dapat menjadi medium penting dalam merawat memori institusi sekaligus menyampaikan nilai-nilai sejarah kepada generasi berikutnya dengan cara yang lebih inovatif dan inspiratif.

[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]

Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa

Rilis Berita Rabu, 11 Maret 2026

Bahasa Jawa selama ini sering diasosiasikan dengan wilayah Yogyakarta dan Surakarta yang dikenal sebagai pusat budaya Jawa. Selain itu, masyarakat juga akrab dengan dialek Jawa Timuran yang lugas atau dialek Banyumasan yang kerap dianggap unik oleh penutur bahasa Jawa lainnya. Namun, tidak banyak yang menyadari bahwa bahasa Jawa juga hidup dan berkembang di luar wilayah utama tersebut, yakni di Provinsi Banten, sebelah ujung barat pulau Jawa. Di wilayah ini, berkembang sebuah variasi bahasa yang dikenal sebagai Bahasa Jawa dialek Banten.

Dalam klasifikasi dialek bahasa Jawa, Ras (1994) membagi bahasa Jawa menjadi tiga kelompok besar, yaitu dialek Jawa bagian barat, tengah, dan timur. Bahasa Jawa Dialek Banten (BJDB) termasuk kelompok dialek Jawa bagian barat dan sering pula disebut sebagai bahasa Jawa Serang atau Jaseng, karena sebagian besar penuturnya berada di Kota Serang dan Kabupaten Serang (Rohbiah & Mu’awwanah, 2021).

Terdapat beberapa sumber yang menyebutkan wilayah penggunaan BJDB secara berbeda. Penelitian Danasasmita dan Pronggodigdo menyebutkan bahwa dialek ini digunakan di wilayah bekas Keresidenan Banten yang mencakup Kabupaten Serang, Pandeglang, dan Lebak. Sementara itu, Dinas Pariwisata Provinsi Jawa Barat juga memasukkan wilayah Tangerang sebagai daerah yang memiliki penutur dialek tersebut (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Secara geografis, keberadaan bahasa ini cukup unik karena berada di antara beberapa komunitas bahasa lain, yaitu penutur bahasa Betawi di wilayah Jakarta, penutur bahasa Sunda di bagian selatan Banten, serta penutur bahasa Lampung di seberang Selat Sunda (Rohbiah & Mu’awwanah, 2020).

Pengaruh Sejarah dalam Perkembangan Dialek

Kemunculan bahasa Jawa di Banten tidak terlepas dari proses sejarah panjang kawasan tersebut. Pada awal abad ke-16, wilayah Banten masih berada di bawah kekuasaan Kerajaan Sunda. Situasi ini berubah setelah terjadinya Perjanjian Sunda–Portugis pada tahun 1522. Perjanjian tersebut memicu konflik yang kemudian berujung pada penaklukan Pelabuhan Banten pada tahun 1526 dan Sunda Kelapa pada tahun 1527 oleh pasukan Demak dan Cirebon (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Setelah penaklukan tersebut, Banten dipimpin oleh Syarif Hidayatullah yang berasal dari Cirebon. Hanya saja, secara politik, Banten sebenarnya dikendalikan oleh Sultan Demak. Di bawah kepemimpinan Syarif Hidayatullah,  Banten berkembang menjadi kerajaan Islam yang aktif dalam jaringan perdagangan dan perhubungan bagi para pedagang Jawa dan Islam (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Patmadiwiria (1977) menambahkan bahwa bermukimnya prajurit penaklukan Banten dari Jawa juga membawa serta bahasa dan kebudayaan Jawa. Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa Kesultanan Demak dan Cirebon menjadi penyebab atau asal-muasal dari munculnya dialek Banten

Pengaruh budaya Jawa juga semakin kuat pada abad ke-17 ketika Kesultanan Mataram memperluas pengaruhnya ke wilayah Jawa Barat. Penyebaran budaya Jawa pada masa itu tidak hanya terjadi di kalangan elit, tetapi juga pada masyarakat lapisan bawah (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Selain faktor sejarah, kondisi geografis turut membentuk perkembangan BJDB. Keberadaan Pelabuhan Merak yang menjadi jalur penghubung antara Jawa dan Sumatra memungkinkan interaksi intensif dengan masyarakat Lampung. Interaksi tersebut melahirkan komunitas penutur bahasa Lampung di beberapa wilayah pesisir Banten, seperti di Kecamatan Anyer. Kontak budaya ini kemudian turut memengaruhi kosakata dalam bahasa Jawa dialek Banten (Rohbiah & Mu’awwanah, 2021).

Keunikan Pelafalan

Sebagai sebuah dialek, BJDB memiliki ciri khas yang tampak, terutama pada aspek pelafalan dan kosakata. Salah satu keunikan paling menonjol adalah variasi pelafalan fonem /a/. Dalam penelitian yang dilakukan oleh Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al. (1985), disebutkan bahwa bunyi ini memiliki tiga variasi pengucapan yang berbeda, bergantung pada wilayah penuturnya.

Di daerah Kota Serang, Cilegon, dan wilayah sekitarnya, fonem /a/ sering dilafalkan mendekati bunyi [ɤ], yang mirip dengan bunyi “eu” dalam bahasa Sunda (Patmadiwiria, 1977; Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985). Sementara itu, di wilayah pinggiran Serang seperti Barugbug, Pagelaran, Cikande, dan Kragilan, fonem /a/ tetap dilafalkan sebagai [a]. Adapun di beberapa daerah seperti Rancasawah dan sebagian wilayah Cilegon, fonem /a/ dibunyikan sebagai [ɔ] (Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al., 1985).

Variasi bunyi atas fonem /a/ terjadi dari beberapa keadaan, di antaranya sebagai berikut (Karia, 1914; Iskandarwassid Mulyana, Hudari, et al., 1985):

  1. Fonem /a/ pada suku kata terbuka akan menghadirkan variasi bunyi. Contoh: sira [sirɤ], ora [orɤ], dan kula [kulɤ].
  2. Khusus pada daerah Kota Serang dan sekitarnya, /a/ dapat berbunyi [ɤ] pada kata bersilabel satu, yaitu mah [mɤh]. Akan tetapi, kata bersilabel satu lainnya seperti lah, la, dan tah tetap dibaca [a].
  3. Jika /a/ terletak pada sebuah kata dengan suku kata terbuka, lalu kemudian ditutup dengan pelekatan sufiks, maka /a/ dilafalkan sebagai /a/. Contoh: sira [sirɤ] menjadi sirane [siranI] dan apa [apɤ] menjadi apane [apanI].

Kosakata Khas

Selain pelafalan, BJDB juga memiliki sejumlah kosakata yang berbeda dari bahasa Jawa standar yang digunakan di Yogyakarta dan Surakarta. Berikut 5 contoh beserta pengucapannya didasarkan dan disesuaikan dengan Karia (1914), Iskandarwassid, Mulyana, Hudari, et al. (1985), Poerwadarminta (1939), Sulistyowati (2015), dan Patmadiwiria (1977):

 

  1. kastelâ atau kêstelâ ‘pepaya’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut kates
  2. sirâ ‘kamu’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut kowe
  3. kepremen ‘bagaimana’, yang setara dengan kepiye
  4. ayun ‘ingin’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut arep
  5. ning ‘jika’, yang setara dengan yen
  6. derbe ‘punya’, yang dalam bahasa Jawa standar disebut duwe
  7. linggar ‘pergi’, yang setara dengan lungå

Perbedaan kosakata ini menunjukkan bahwa BJDB memiliki perkembangan leksikal yang khas dan tidak sepenuhnya identik dengan bahasa Jawa standar.

*Untuk memberi kemudahan, penulis memberikan simbol khusus untuk <a> yang dibunyikan [a], <å> yang dibunyikan [ɔ], dan <â> yang dibunyikan [ɤ]

Hasil Kontak Bahasa

Keunikan BJDB juga tercermin dari banyaknya kosakata hasil kontak dengan bahasa lain. Bahasa Sunda, Betawi, Melayu, dan Lampung turut memberikan pengaruh terhadap perbendaharaan kata dalam dialek ini. Berlandaskan pada Rohbiah & Mu’awwanah (2021), berikut adalah contoh-contoh pengaruh dari masing-masing bahasa tersebut.

  1. Dari bahasa Sunda, misalnya, kata kolot yang berarti ‘tua’ serta beuleum yang berarti ‘membakar’ yang digunakan oleh penutur BJDB daerah di Desa Binong, Kecamatan Pamarayan, alih-alih menggunakan kata tuâ dan ngobong dalam BJDB. 
  2. Dari bahasa Betawi terdapat kata engkong yang berarti ‘kakek’ dan betot yang berarti ‘menarik’ yang digunakan oleh penutur BJDB di Desa Pedaleman, Kecamatan Tanara, alih-alih menggunakan kata ende lanang dan narik dalam BJDB.
  3. Pengaruh bahasa Melayu terlihat pada penggunaan kata laki untuk menyebut ‘suami’ oleh penutur BJDB di Desa Kampung Baru & Binong, Kecamatan Pamarayan, Desa Pontang & Wanayasa, Kecamatan Pontang, Desa Tanara & Pedaleman, Kecamatan Tanara, dan Desa Anyar & Cikoneng, Kecamatan Anyar, alih-alih menggunakan kata rayat lanang dalam BJDB.
  4. Pengaruh bahasa Lampung muncul kata eppak yang berarti ‘empat’ dan duwai yang berarti ‘danau’ yang digunakan oleh penutur BJDB di Desa Anyar, Kecamatan Anyar, alih-alih menggunakan kata papat dan danau dalam BJDB.

Fenomena penyerapan tersebut biasanya muncul di wilayah-wilayah yang memiliki intensitas kontak budaya tinggi dengan komunitas bahasa tertentu.

Penulis: Haryo Untoro

Editor: Haryo Untoro & Nurul Fajri Rahmani

Pembuat Keluku: Nurul Fajri Rahmani

 

Daftar Pustaka

Iskandarwassid; Mulyana, Y.; Hudari, A; Sjarif, T.K.S. (1985). Struktur Bahasa Jawa Dialek Banten. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Karia, M. M. D. (1914). Dialect Djawa Banten. Batavia: G Kolff & Co.

Patmadiwiria, M. (1977). Kamus Dialek Jawa Banten-Indonesia. Jakarta: Departemen Pendidikan dan Kebudayaan.

Poerwadarminta, W.J.S. (1939). Baoesastra Jawa. Batavia: J.B. Wolters’ Uitgevers-Maatschappij N. V. Groningen.

Ras, J.J. (1994). Inleiding tot het Modern Javaans. Leiden: KITLV.

Rohiah, T.S., & Mu’awwanah, U. (2020). Inovasi Leksikal Bahasa Jawa Banten di Perbatasan Kabupaten Serang Provinsi Banten: Kajian Geografis – Linguistik. Serang: Media Madani

Sulistyowati. (2018). Kompleksitas dan Fleksibilitas Realisasi Bunyi Vokal Bahasa Jawa. Mutiara dalam Sastra Jawa Edisi 4, 4(3), 29-45.

Daftar Gambar

Akbar. (2025, 13 Oktober). Keraton Kaibon, Jejak Kejayaan Kesultanan Banten di Kota Serang [Gambar]. Serangkota.go.id. https://serangkota.go.id/detailpost/keraton-kaibon-jejak-kejayaan-kesultanan-banten-di-kota-serang. 

Seputar Jawa: Basa Kedhaton dan Basa Bagongan, Ragam Tutur Khas Keraton Surakarta dan Yogyakarta

Rilis Berita Rabu, 11 Maret 2026

Pembahasan mengenai tingkat tutur bahasa Jawa umumnya berhenti pada dua istilah yang paling populer, yakni tingkat tutur ngoko dan krama. Padahal, di lingkungan keraton Jawa berkembang satu ragam bahasa khusus yang digunakan oleh para abdi dalem di lingkungan istana, yaitu Basa Kedhaton dan Basa Bagongan. Apa itu Basa Kedhaton atau Basa Bagongan?

Secara istilah, basa berarti ‘bahasa’, sedangkan kedhaton merujuk pada ‘keraton’ atau ‘kerajaan’. Basa Kedhaton atau Basa Bagongan itu sendiri digunakan oleh para sentana ‘kerabat raja’ dan abdi dalem ketika menghadap raja, seperti Sultan atau Sunan, serta Pangeran Adipati Anom ‘putra mahkota’ di Keraton (Padmosoekotjo, 1953:16). Istilah yang digunakan di Keraton Kasunanan Surakarta adalah Basa Kedhaton, sementara di Keraton Kasultanan Yogyakarta dikenal sebagai Basa Bagongan (Padmosoekotjo, 1953).

Dalam naskah Serat Purwa Ukara, tercatat bahwa Sejarah penggunaan Basa Bagongan sendiri telah tercatat sejak masa pemerintahan Hamengkubuwana (HB) I. Namun, penggunaannya sempat dilarang pada masa HB V karena kurang disukai, sebelum akhirnya diperbolehkan kembali oleh HB VI (Setyowijaya, 2015:61–63).

Istilah “Bagongan” sendiri kerap dihubungkan dengan tokoh Bagong dalam tradisi pewayangan Yogyakarta. Tokoh ini dikenal lugas, apa adanya, dan tidak terlalu halus dalam bertutur. Karakter tersebut dinilai merepresentasikan sifat Basa Bagongan yang “setengah madya”, tidak sehalus krama, tetapi tetap sopan dan beritikad baik (Padmosoekotjo, 1953:89). Sementara itu, dalam naskah Serat Purwa Ukara dijelaskan bahwa istilah “Bagongan” diciptakan oleh Sri Sultan itu sendiri. Istilah ini identik dengan pegoan ‘bahasa Jawa yang tidak lazim atau menyimpang dari kebiasaan’ (Setyowijaya, 2015:62–63).

Keunikan dari Basa Kedhaton dan Basa Bagongan dapat diketahui dari bentuk kebahasaannya, yaitu memiliki istilah-istilah khusus, struktur gramatikal, dan penggunaan bentuk sastra dengan pelekatan imbuhan ragam bahasa Kawi atau bahasa Jawa Kuna untuk sastra (Padmosoekotjo, 1953; Setyowijaya, 2015; dan Poedjosoedarmo & Laginem, 2014).

Ciri paling menonjol dari Basa Kedhaton adalah penggunaan kata ganti orang pertama (aku) dan kata ganti orang kedua (kamu). Bentuk kata ganti di Kasunanan Surakata dibedakan sesuai jabatan: mara ‘aku’ dan para ‘kamu’ yang digunakan oleh putra-sentana ‘anak pejabat istana’, manira ‘aku’ dan pakenira ‘kamu’ untuk punggawa, kula ‘aku’ dan jengandika ‘kamu’ untuk panèwu ‘camat’ dan mantri ‘lurah’, serta robaja ‘aku’ dan pantèn ‘kamu’ untuk pujangga. Sementara itu, di Yogyakarta hanya dikenal pasangan manira ‘aku’ dan pakenira ‘kamu’ (Padmosoekotjo, 1953:16).

Selain itu, terdapat sejumlah kosakata khas lainnya. Poedjosoedarmo dan Laginem (2014) mencatat bahwa terdapat sekitar 40 kosakata khusus dari Basa Kedhaton dan 11 kosakata khusus Basa Bagongan. Beberapa di antaranya ialah:

  • enggèh ‘iya’ 
  • wènten ‘ada’, 
  • wikana ‘tidak tahu’, 
  • sumitra ‘singa’.

Kemudian, ragam ini juga sering memanfaatkan bentuk bernuansa sastra atau imbuhan Kawi, misalnya kakersake ‘dikehendaki’, mangangge ‘memakai’, sinerat ‘ditulis’, dan lumebet ‘masuk’.

Dari segi tata bahasa, terdapat perbedaan antara struktur tata bahasa Basa Kedhaton dari Surakarta dan Basa Bagongan dari Yogyakarta. Basa Kedhaton dari Surakarta yang tetap menggunakan tata kalimat dalam wujud krama. Berdasarkan hal tersebut, maka prefiks dan sufiks yang digunakan tetap menggunakan variasi krama, yaitu prefiks pasif {dipun-} dan sufiks {-aken}.

Kondisi tersebut berbeda dengan struktur Basa Bagongan memperlihatkan percampuran krama dan ngoko dalam satu bentuk. Contoh yang ditemukan dalam Serat Purwa Ukara yaitu sebagai berikut: 

Rawuhé Kanjeng Tuwan Panes, wènten ing negari Ngayugya minangka kumissarising gupermèn… 

‘Datangnya Kanjeng Tuwan Panes, di Negari Yogyakarta sebagai komisaris gupermen..’. 

Dalam hal ini, kata rawuhé, berasal dari kata dasar rawuh ‘datang’ (krama inggil) yang dilekati sufiks {-é} (ngoko). Fenomena tersebut menunjukkan perpaduan tingkat tutur dalam satu kata (Setyowijaya, 2015:57).

Selain itu, perbedaan lainnya adalah perbedaan penggunaan antara Basa Kedhaton dan Basa Bagongan. Basa Kedhaton tidak dimaksudkan untuk menghadirkan efek kesejajaran antarpengguna (Poedjosoedarmo & Laginem, 2014:21–22). Poedjosoedarmo & Laginem (2014:22) menerangkan bahwa terdapat beberapa tingkatan yang berbeda, seperti: 

  • Manungkara, digunakan oleh para bangsawan, seperti Kanjeng Gusti dan Bendara Pangeran
  • Mangungkak basa, digunakan oleh para punggawa pangkat tinggi antara satu dengan yang lain
  • Angagok wicara, digunakan oleh bangsawan tinggi kepada orang yang lebih rendah pangkatnya.

Hal tersebut berbeda dengan Basa Bagongan di Yogyakarta yang tetap menyampaikan rasa hormat sekaligus menghadirkan kesetaraan di antara penutur dan mitra tutur (Poedjosoedarmo & Laginem, 2014:10).

Fungsi dari Basa Bagongan tidak sekadar untuk komunikasi lisan di lingkungan istana saja. Variasi bahasa Jawa ini juga ditemukan dalam komunikasi tulis atau persuratan. Selain itu, Basa Bagongan juga digunakan dalam upacara adat Keraton, tepatnya ketika pemimpin prajurit diperintahkan untuk mengantarkan gunungan dalam proses adat Grebeg (Setyowijaya, 2015:63-66).

 

Baik Basa Kedhaton maupun Basa Bagongan memiliki ciri khasnya tersendiri. Kendatipun menjadi kekayaan budaya yang tidak ternilai, keberadaan Basa Bagongan kini semakin jarang dijumpai. Setyowijaya (2015:66–67) mencatat bahwa penutur aktif umumnya abdi dalem berusia di atas 60 tahun. Generasi muda keraton cenderung hanya menggunakan ngoko dan krama. Regenerasi dari luar lingkungan keraton serta anggapan kurang sopan jika dipakai kepada pejabat tinggi turut menyebabkan ragam ini jarang digunakan.

[Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Haryo Untoro]

Daftar Pustaka

Padmosoekotjo, S. (1953). Ngéngréngan Kasusastran Djawa. Jogyakarta: Hien Hoo Sing

Poedjosoedarmo, S., dan Laginem. (2014). Bahasa Bagongan. Yogyakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Balai Bahasa Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta.

Setyowijaya, A. (2015). Teks Basa Bagongan dalam Naskah Sêrat Purwa Ukara: Suntinga Teks, Terjemahan, dan Deskripsi Kebahasaan. Skripsi. Yogyakarta: Universitas Gadjah Mada.

Daftar Gambar

Verkaik, A. (t.t.). Abdi Dalem – Yogya [Gambar]. Pinterest. https://pin.it/5XmXoVqln

Widya. (t.t.). Keraton Kasunan Surakarta Hadiningrat / Surakarta Hadiningrat Royal Palace. Solo, Java [Gambar]. Pinterest.  https://pin.it/5Wm9RNcqm. 

Wirasandjaya, F.R. (2019, 16 Agustus). Spiritualisme Masyarakat Jawa [Gambar]. Kompasiana.com. https://www.kompasiana.com/frwirasandjaya/5d56c9ff097f3675ad5e5bd4/spiritualisme-masyarakat-jawa.

123…284

Rilis Berita

  • Prof. Suhandano Soroti Tantangan Studi Bahasa di Era Digital pada Dies Natalis ke-80 FIB UGM
  • FIB UGM Berikan Penghargaan Mahasiswa Berprestasi pada Dies Natalis ke-80
  • Mahasiswa FIB UGM Ciptakan Buku Pop-Up “8 Dekade Membangun Peradaban” untuk Visualisasikan Sejarah Fakultas
  • Seputar Jawa: Bahasa Jawa Dialek Banten, Dialek Bahasa yang Eksis di Ujung Barat Pulau Jawa
  • Seputar Jawa: Basa Kedhaton dan Basa Bagongan, Ragam Tutur Khas Keraton Surakarta dan Yogyakarta

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju