• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Rilis Berita
Arsip:

Rilis Berita

Menggali, Mengenali, serta Memahami Kembali Batik Nusantara Melalui Seminar Nasional Hari Batik 2026

Rilis Berita Kamis, 5 November 2026

KAGAMA UGM bekerja sama dengan KAGAMA Batik dan Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM), menyelenggarakan Seminar Nasional Hari Batik 2026 pada Sabtu, 3 Oktober 2026. Bertempat di Auditorium Soegondo, FIB UGM, seminar ini mengusung tema “Merawat Warisan, Menumbuhkan Masa Depan: Batik sebagai Identitas Budaya dan Ruang Inovasi”. Kegiatan tersebut diselenggarakan dalam rangka memperingati Hari Batik Nasional yang jatuh pada 2 Oktober 2026.

Acara diawali dengan pertunjukan Tari Golek Ayun-Ayun sebagai bentuk penyambutan kepada para tamu yang hadir. Kegiatan tersebut semakin semarak melalui peragaan beragam jenis batik dari berbagai daerah, mulai dari batik Jakarta hingga Madura. Rangkaian kegiatan ini menjadi pengantar untuk mengenali kekayaan motif, keragaman tradisi, serta nilai budaya yang terkandung dalam batik Indonesia.

Seminar ini menghadirkan Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adishakti, M.Arch., dosen purnatugas UGM sekaligus Chair UNESCO Chair in Heritage Cities Conservation and Management, sebagai pembicara kunci (keynote speaker). Dalam paparannya, ia mengulas berbagai aspek batik, mulai dari sejarah, kearifan lokal, hingga peran batik dalam pergerakan sosial-budaya dan diplomasi hubungan internasional.

Dr. Eng. Ir. Laretna Trisnantari Adishakti, M.Arch., juga menyoroti tantangan dalam menjaga eksistensi batik di tengah perubahan zaman serta pentingnya merumuskan strategi pelestarian yang berkelanjutan. Salah satu poin utama yang disampaikan adalah peran batik sebagai sarana diplomasi, baik di Nusantara, Asia Tenggara, maupun dalam lingkup global. Selain sebagai identitas budaya, batik juga memiliki potensi untuk mendukung ekonomi regeneratif, yaitu sistem ekonomi yang tidak hanya menciptakan nilai ekonomi, tetapi juga memulihkan lingkungan, memperkuat kehidupan sosial dan budaya, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

Setelah sesi pembicara kunci, kegiatan dilanjutkan dengan seminar yang dimoderatori oleh Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum., Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, FIB UGM. Seminar menghadirkan dua narasumber dengan latar belakang dan pengalaman berbeda, yaitu dr. CHR Sulistyono, M.Sc., FISQua, pemilik Batik Nyah Kiok yang memproduksi batik Lasem, Rembang, serta Aji Setyowijaya, S.S., perajin batik khas Yogyakarta yang juga menggeluti batik tiga negeri.

Dalam pemaparannya, dr. CHR Sulistyono, M.Sc., FISQua menjelaskan sejarah Batik Nyah Kiok dan perkembangan batik Lasem, termasuk tantangan yang dihadapi dalam mempertahankan keberlangsungannya. Ia mengungkapkan bahwa keberadaan batik Lasem tidak terlepas dari kebiasaan dan praktik budaya masyarakat yang menggunakannya. Meski memiliki nilai sejarah dan budaya yang kuat, keberadaan batik saat ini menghadapi sejumlah tantangan. Berkurangnya jumlah perajin dan terbatasnya regenerasi menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian. Kondisi tersebut berpotensi menghambat keberlanjutan pengetahuan, keterampilan, dan tradisi membatik yang diwariskan dari generasi ke generasi.

Sementara itu, Aji Setyowijaya, S.S., membagikan pengalamannya menekuni dunia batik secara mandiri. Ia menyoroti pentingnya perhatian terhadap teknik dan prosedur pembuatan batik yang dinilai belum memperoleh perhatian memadai. Menurutnya, upaya pelestarian batik perlu juga mencakup keseluruhan proses produksi, termasuk pengetahuan akan bahan dan alat yang digunakan oleh para perajin. Pengetahuan mengenai proses pembuatan, ketersediaan bahan, penggunaan peralatan, serta keterampilan teknis juga perlu dijaga agar tradisi membatik dapat terus lestari dan berlangsung. Perhatian terhadap aspek produksi menjadi semakin penting untuk mendukung keberlanjutan profesi perajin sekaligus membuka ruang bagi inovasi tanpa mengabaikan nilai tradisional.

Antusiasme peserta terlihat dari beragam pertanyaan dan tanggapan yang disampaikan selama seminar. Diskusi yang berkembang menunjukkan bahwa batik tidak hanya menarik untuk dibicarakan dari sisi estetika, tetapi juga membuka ruang pembahasan mengenai sejarah, identitas budaya, praktik sosial, keberlanjutan ekonomi, dan tantangan produksi.

Seminar Nasional Hari Batik 2026 memperluas pemahaman masyarakat mengenai peran batik dalam kehidupan Indonesia, tidak hanya sebagai warisan budaya, tetapi juga sebagai sarana diplomasi, sumber pengetahuan sejarah, peluang ekonomi, dan ruang inovasi. Pengembangannya perlu diiringi dengan pemberdayaan masyarakat, termasuk perempuan, serta kepedulian terhadap lingkungan dengan melibatkan perajin dan komunitas sebagai bagian penting dalam ekosistem batik. Melalui seminar ini, penyelenggara mengajak masyarakat untuk mengenali dan melestarikan batik secara menyeluruh, mencakup motif, nilai filosofis, pengetahuan, dan keterampilan yang diwariskan antargenerasi. Dengan demikian, batik tidak hanya terjaga sebagai identitas budaya Indonesia, tetapi juga mampu mendukung kesejahteraan masyarakat dan berkembang secara berkelanjutan sebagai sumber inspirasi bagi generasi mendatang.

 

Penulis : Haryo Untoro

Fakultas Ilmu Budaya UGM Ramaikan Global Edufair 2026, Tarik Antusiasme Ratusan Pelajar

Rilis Berita Kamis, 5 November 2026

Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada kembali menunjukkan eksistensinya dengan berpartisipasi dalam ajang tahunan Global Edufair yang digelar pada Rabu, 4 November 2026. Berlangsung dari pukul 09.00 hingga 18.00 WIB, acara ini sukses menyedot perhatian ribuan pelajar dan mahasiswa dari seluruh Indonesia, dengan mayoritas pengunjung berasal dari wilayah Yogyakarta dan sekitarnya.

Sebagai pameran pendidikan berskala internasional, Global Edufair tahun ini menghadirkan lebih dari 80 institusi pendidikan tinggi (eksibitor) dari 21 negara di dunia, membentang mulai dari kawasan Asia, Australia, hingga Eropa. Kehadiran ragam institusi global ini tidak hanya memperkaya wawasan pengunjung, tetapi juga bertujuan membangun modal sosial nasional, meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, serta memfasilitasi generasi muda dalam mengeksplorasi luasnya kesempatan studi global tanpa kehilangan akar identitas lokal.

Dalam acara tersebut, FIB UGM menempati booth di bagian dalam Joglo GIK, berdampingan dengan fakultas-fakultas lain yang turut berpartisipasi. Setiap booth tampil interaktif dengan memamerkan berbagai pamflet, profil akademik, serta media promosi untuk memfasilitasi para pelajar SMA yang ingin mengenal lebih dekat ragam program studi dan jurusan di Fakultas Ilmu Budaya.

Antusiasme tinggi tampak jelas dari kunjungan para siswa. “Aku pengen ke Fakultas Ilmu Budaya karena ada jurusan Arkeologi, dan memang sejak SMA sudah tertarik dengan kebudayaan,” ujar salah satu pelajar asal SMA Negeri 9 Yogyakarta.

Antusiasme ini juga tercatat secara nyata pada data scan pengunjung. Tahun ini, tercatat adanya peningkatan jumlah pengunjung yang signifikan dibandingkan tahun sebelumnya, dengan lebih dari 60 orang memadati booth FIB hanya dalam rentang pukul 09.00 hingga 16.00 WIB. Tingginya angka kunjungan ini menjadi salah satu tanda positif bahwa minat generasi muda terhadap bidang budaya dan sastra terus tumbuh.

Melalui keikutsertaan dalam acara global ini, diharapkan FIB UGM dapat terus berkembang, semakin menjadi fakultas impian bagi siswa-siswi SMA yang ingin mendalami ilmu budaya dan sastra, serta konsisten menjadi ruang tumbuh yang nyaman dalam mencetak generasi unggul untuk mendukung Indonesia maju.

 

Penulis: Humas FIB, Zaidan Abdurrahman

Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM Raih Juara II Lomba Presentasi Bahasa Jepang Wilayah D.I. Yogyakarta ke-5 Tahun 2026

Rilis Berita Selasa, 3 November 2026

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM). Callista Putri Nathania berhasil meraih Juara II dalam Lomba Presentasi Bahasa Jepang Wilayah D.I. Yogyakarta ke-5 Tahun 2026 yang diselenggarakan pada 17 Oktober 2026 di Amphitheater E7-A Lantai 5, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Kompetisi tahun ini mengangkat tema “Apa Itu Kebahagiaan?”, yang mengajak para peserta untuk menyampaikan pandangan dan pemikiran mereka mengenai makna kebahagiaan melalui presentasi dalam bahasa Jepang. Melalui tema tersebut, peserta mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Jepang sekaligus menyampaikan gagasan secara kritis dan kreatif.

Dalam kompetisi ini, Callista Putri Nathania berhasil menunjukkan kemampuan berbahasa Jepang serta keterampilan presentasi yang baik hingga memperoleh posisi juara kedua. Pencapaian ini menjadi bukti dari semangat mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan bahasa Jepang, khususnya dalam keterampilan berbicara dan menyampaikan gagasan di hadapan publik.

Keberhasilan Callista diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan bahasa Jepang dan berani mengikuti berbagai kompetisi, baik di tingkat regional maupun nasional.

Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM mengapresiasi pencapaian tersebut dan mengucapkan selamat kepada Callista Putri Nathania atas prestasi yang telah diraih. Semoga keberhasilan ini menjadi langkah awal untuk meraih prestasi-prestasi berikutnya.

Penulis: Felisha Bethrix

Spiritualitas, Trauma Ekologis, dan Kritik Modernitas dalam Diskusi Sastra ASN 2026

Rilis Berita Selasa, 3 November 2026

Hantu, wallpaper berwarna kuning, ponsel, hingga naskah Melayu menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan spiritualitas dalam sastra. Melalui beragam objek dan pengalaman tersebut, para pemakalah Academic Student Networking (ASN) 2026 pada Rabu (7/10) menunjukkan bahwa sastra tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga menyimpan kritik terhadap kerusakan lingkungan, relasi kuasa, dan kehidupan manusia modern.

Pembahasan itu mengemuka dalam sesi kedua dan ketiga ASN 2026 yang mempertemukan pemakalah dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (Undip), dan Universitas Andalas (Unand). Melalui pembacaan terhadap novel, cerita pendek, puisi, dan naskah Melayu, para pemakalah mencoba melihat bagaimana pengalaman spiritual dan berbagai bentuk keganjilan dalam sastra berkaitan dengan persoalan sosial dan kebudayaan.

Dalam sesi kedua yang dimoderatori Dinda Aura Putri, Jusmawati dari Magister Sastra UGM mempresentasikan makalah berjudul “Hantu sebagai Personifikasi Climate Trauma dalam Novel Jejak Balak Karya Ayu Welirang”. Ia membaca sosok hantu dalam novel tersebut sebagai representasi trauma iklim, terutama kecemasan yang muncul akibat kerusakan lingkungan dan ancaman bencana ekologis.

Jusma menggunakan konsep climate trauma dari E. Kaplan (2015) untuk menelaah hubungan antara kerusakan hutan, konflik penguasaan tanah, dan pengalaman traumatis masyarakat. Dalam pembacaannya, kerusakan lingkungan tidak hanya mengubah kondisi alam, tetapi juga mengganggu hubungan masyarakat dengan tanah adat, tradisi, dan ruang hidup mereka.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah pengubahan hutan ulayat menjadi perkebunan sawit oleh PT Zamrud Bumi melalui manipulasi birokrasi. Praktik tersebut memicu konflik tenurial sekaligus memperlihatkan bagaimana tekanan ekonomi dapat mendorong masyarakat melepas tanah adatnya.

Pembalakan pohon jati juga menciptakan ruang ekologis yang kehilangan fungsi dan makna bagi masyarakat. Situasi ini dibaca sebagai bentuk keterasingan tempat (place alienation), ketika lingkungan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat justru berubah menjadi ruang yang asing.

Ancaman banjir bandang atau galodo memperkuat kecemasan kolektif tersebut. Dalam novel, kerusakan hutan dipahami sebagai bagian dari rangkaian persoalan yang berpotensi membawa bencana lebih luas.

Di tengah situasi itu, sosok Inyak muncul sebagai figur spiritual yang mengalami perubahan makna. Kemunculan sepasang manik putih di rimba ulayat menjadi pertanda bahaya sebelum malapetaka ekologis terjadi. Inyak yang semula dipahami sebagai leluhur suci penjaga moral kemudian tampil sebagai sosok spektral yang menghukum dan menebarkan maut di wilayah sengketa.

Jusma juga menyoroti trauma masa lalu yang dialami tokoh dalam novel, termasuk pengalaman pembantaian satwa oleh ayahnya. Trauma tersebut berkelindan dengan tindakan kekerasan ketika figur Inyak seolah diambil alih melalui aksi pembunuhan terhadap pembalak menggunakan cakar buatan. Dalam pembacaan ini, trauma yang tidak terolah justru berkembang menjadi teror destruktif.

Melalui analisis tersebut, Jusma menempatkan hantu bukan sekadar sebagai unsur yang menghadirkan ketakutan, melainkan sebagai personifikasi trauma iklim dan konflik sosial yang menyertai kerusakan lingkungan.

Horor dan Keganjilan sebagai Kritik terhadap Kekuasaan

Persoalan horor dibahas dari sudut berbeda oleh tim pemakalah Undip, yang yang terdiri dari Nugrahaning Anindita C., Dennis Audria Permana, dan Zainab Al Awwahah. Melalui makalah bertajuk “Something Queer: Entitas Janggal Mark Fisher dalam ‘The Yellow Wallpaper’ karya Charlotte”, mereka menelusuri pergeseran dari horor Gotik menuju weird fiction, terutama melalui cerita pendek “The Yellow Wallpaper” (1892) karya Charlotte Perkins Gilman.

Cerita tersebut berkisah tentang seorang narator perempuan tanpa nama yang menjalani metode rest cure, sebuah perawatan yang membatasi aktivitas fisik dan mental pasien. Ia ditempatkan di sebuah kamar oleh suaminya, John, seorang dokter, dan hanya dapat menyalurkan kegelisahannya melalui buku harian yang disembunyikan.

Dalam pembacaan tim pemakalah, rumah dan wallpaper bukan sekadar latar cerita. Rumah yang lama kosong dan memiliki sejarah sengketa waris menjadi ruang yang menyimpan keganjilan. Sementara itu, kamar yang semestinya menjadi tempat perlindungan justru berubah menjadi ruang yang membatasi kebebasan narator.

Wallpaper berwarna kuning menjadi pusat perhatian ketika narator mulai melihat sosok di balik pola-pola yang menghiasi permukaannya. Keganjilan itu perlahan meluas, seolah merembes keluar dari kamar dan mengganggu ruang-ruang lain di rumah.

Pembacaan tersebut memperlihatkan bagaimana sesuatu yang dianggap tidak masuk akal dapat menantang penjelasan rasional. John terus mengutamakan logika medis, tetapi pengalaman narator menunjukkan bahwa kerangka rasional yang digunakan untuk memahami dirinya belum tentu mampu menjelaskan seluruh keganjilan yang dialaminya.

Kondisi tersebut juga berkaitan dengan relasi kuasa dalam rumah tangga. Sebagai suami sekaligus dokter, John memiliki otoritas untuk menentukan apa yang dianggap benar mengenai keadaan istrinya. Sebaliknya, narator memiliki ruang yang terbatas untuk menyampaikan pengalaman dan menentukan kebutuhannya sendiri.

Pada akhir cerita, narator semakin melepaskan peran sosialnya sebagai istri dan ibu. Kegilaan yang dialaminya dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan terhadap dunia yang membatasi kebebasannya, meskipun cerita tidak memberikan penyelesaian yang sepenuhnya tuntas.

Diskusi kemudian berkembang ke persoalan relevansi sastra dalam kehidupan sosial. Wahyu Agung Ramdani mempertanyakan sejauh mana sastra masih dapat digunakan untuk membicarakan politik ekologi, terutama ketika distribusi karya sastra belum menjangkau banyak wilayah dan harga buku menjadi kendala bagi pembaca. Ia juga mengajukan pertanyaan mengenai peran pembaca agar tidak sekadar menjadi penonton di tengah krisis ekologis.

Sementara itu, Muhamad Ferdian Syah dari UGM mempertanyakan hubungan antara kondisi psikologis narator dalam “The Yellow Wallpaper” dan pengalaman weird yang dialaminya. Ia menyoroti kemungkinan bahwa tekanan akibat rest cure dan perlakuan John tidak harus dipisahkan dari pengalaman keganjilan, tetapi justru berjalan bersama dan saling membentuk.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa pembahasan sastra lebih jauh, dari interpretasi teks menuju persoalan mengenai bagaimana manusia memahami trauma, lingkungan, dan pengalaman yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui kerangka berpikir yang mapan.

Doa, Ponsel, dan Spiritualitas Manusia Modern

Pembahasan spiritualitas berlanjut dalam sesi ketiga yang dimoderatori Ann Evelin Rahajeng. Awabeen Samsuding dari Magister Sastra UGM mempresentasikan makalah “Membaca Doa dalam Puisi Joko Pinurbo: Estetika Ironi sebagai Kritik terhadap Spiritualitas Manusia Modern”.

Awabeen menyoroti cara penyair Joko Pinurbo menghadirkan doa melalui benda dan aktivitas sehari-hari. Jika puisi ketuhanan kerap diasosiasikan dengan suasana khusyuk dan sakral, puisi Jokpin justru membawa spiritualitas ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan manusia modern, seperti ponsel, tubuh, dan kosmetik.

Penelitian tersebut membahas tiga puisi, yakni “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya” (2018), “Doa Sebelum Mandi” (2000), dan “Doa Seorang Pesolek” (2001).

Bagi Awabeen, ironi dalam puisi-puisi tersebut bukan sekadar permainan bahasa, melainkan strategi estetik untuk membongkar kontradiksi dalam kehidupan manusia. Melalui ironi, pembaca diajak bergerak melampaui makna literal dan mempertanyakan kembali kebiasaan maupun keyakinan yang selama ini dianggap wajar.

Dalam “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya”, misalnya, tokoh kehilangan seluruh nomor kontak akibat ponselnya rusak, tetapi masih menyimpan nomor Tuhan. Ironi muncul ketika Tuhan menyatakan bahwa nomor-Nya justru menjadi satu-satunya nomor yang tidak pernah disapa.

Situasi tersebut menyentil kehidupan manusia yang memiliki akses komunikasi tanpa batas, tetapi belum tentu menjaga kedekatan spiritual. Ponsel yang menjadi simbol keterhubungan sekaligus memperlihatkan kemungkinan keterasingan manusia dari relasi yang dianggap paling mendasar.

Sementara itu, “Doa Sebelum Mandi” dibaca melalui persoalan tubuh dan kekerasan. Dalam pemaparan Awabeen, pengalaman kekerasan yang melekat pada tubuh tidak serta-merta dapat dihapus melalui tindakan membersihkan diri secara fisik.

Adapun “Doa Seorang Pesolek” menyoroti hubungan antara tubuh, kosmetik, dan kefanaan. Melalui ironi, perhatian berlebihan terhadap penampilan fisik dipertemukan dengan kenyataan bahwa tubuh manusia tetap berada dalam batas kehidupan yang sementara.

Untuk membaca persoalan tersebut, Awabeen menggunakan konsep religiusitas Y.B. Mangunwijaya serta teori ironi stabil (stable irony) dari Wayne C. Booth. Dengan pendekatan kualitatif dan pembacaan dekat (close reading), ia berupaya menunjukkan bagaimana puisi dapat mengkritik spiritualitas manusia modern tanpa harus meninggalkan benda-benda yang akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Spiritualitas dan Lokalitas dalam Naskah Syair Kupu-Kupu

Masih dalam sesi ketiga, Afifah Chairunnisa dan Aditya Fiandra dari Unand mempresentasikan makalah berjudul “Negosiasi Spiritualitas dan Lokalitas dalam Naskah Syair Kupu-kupu”. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk membaca ideologi yang terkandung dalam naskah Melayu (Naskah Schoemann V 40).

Berangkat dari pentingnya penyelamatan nilai-nilai naskah kuno, penelitian tersebut menyoroti dimensi alegoris dan simbolik yang memungkinkan naskah dibaca lebih jauh daripada sekadar teks tertulis. Hubungan antara spiritualitas dan lokalitas menjadi perhatian utama, terutama dalam memahami bagaimana simbol dan nilai budaya saling berkelindan dalam sebuah karya.

Melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, keduanya mengidentifikasi sejumlah simbol lokal, seperti Gunung Ledang dan Gunung Anta Sujana yang dimaknai sebagai ruang sakral, serta songket, keris, sirih, dan selendang yang merepresentasikan kehormatan, status sosial, dan komitmen. Sementara itu, penyebutan nama Allah dan ungkapan “dengan karena Allah”, bersama berbagai ritual, menunjukkan bahwa spiritualitas menjadi landasan dalam tindakan dan kehidupan masyarakat.

Kajian tersebut juga menyoroti bagaimana adat, tata krama, dan penggunaan sapaan kehormatan seperti Datuk, Tuanku, Kakanda, dan Adinda memperkuat tatanan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan lokalitas tidak berdiri sendiri; saling membentuk dalam menjaga nilai, etika, dan pandangan hidup masyarakat Melayu. Dengan demikian, Syair Kupu-Kupu tidak hanya menyimpan kekayaan sastra, tetapi juga merekam cara masyarakat Melayu memaknai hubungan antara keyakinan, tradisi, dan kehidupan sosial.

Rangkaian diskusi dalam sesi kedua dan ketiga ASN 2026 memperlihatkan beragam cara membaca spiritualitas dalam sastra. Melalui hantu dalam novel, keganjilan dalam cerita horor, ironi dalam puisi, hingga simbol dalam naskah Melayu, para pemakalah menunjukkan bahwa karya sastra dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan hubungan manusia dengan alam, kekuasaan, tubuh, keyakinan, dan tradisi budaya.

Dengan pendekatan yang berbeda-beda, diskusi tersebut menempatkan sastra bukan hanya sebagai objek kajian estetika, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami persoalan yang terus hadir dalam kehidupan masyarakat.

 

Penulis: Khotibul Umam

Prodi Bahasa Korea UGM Menjadi Prodi Korea di Indonesia Pertama dan Satu-satunya yang Memiliki Tiga Dosen Bersertifikat Pengajaran Tertinggi dari Pemerintah Korea Selatan

Rilis Berita Selasa, 3 November 2026

Yogyakarta, Indonesia — Pada Jumat, 30 Oktober 2026, tiga dosen prodi bahasa dan kebudayaan Korea UGM mendapatkan sertifikat pengajaran level 1 atau level  tertinggi dari National Institute of Korean Language. Tiga dosen tersebut adalah Dr. Hwang Who Young, M.A., Iva Hanani, S.S, M.A, dan Alfiana Amrin Rosyadi, S.S, M.A. Ketiganya dinyatakan layak untuk mendapatkan sertifikat tertinggi setelah memenuhi kriteria utama yaitu paling sedikit telah memegang sertifikat pengajaran level 2 selama 5 tahun sejak diterbitkan dan memiliki 2000 jam terbang mengajar mata kuliah yang berhubungan dengan bahasa Korea. Jam terbang tersebut harus berasal dari institusi yang diakui resmi, salah duanya yaitu Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM dan King Sejong Institute Yogyakarta. 

Dengan raihan prestasi ini, prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea semakin memantapkan kualitas pengajarnya dan menjadi tonggak bersejarah dalam pengajaran bahasa Korea di Indonesia karena dalam satu kali waktu, tiga dosen berhasil lolos secara bersamaan. Dari tiga dosen yang lolos, dua dosen prodi merupakan dosen non native sehingga ini bisa menjadi inspirasi bagi para mahasiswa yang memiliki ketertarikan dalam ilmu pengajaran bahasa Korea bahwa tidak hanya orang Korea yang diakui kualitasnya oleh pemerintah Korea Selatan tetapi juga orang asing sebagai pengajar bahasa Korea.

. 

Penulis: Alfiana

123…347

Rilis Berita

  • Menggali, Mengenali, serta Memahami Kembali Batik Nusantara Melalui Seminar Nasional Hari Batik 2026
  • Fakultas Ilmu Budaya UGM Ramaikan Global Edufair 2026, Tarik Antusiasme Ratusan Pelajar
  • Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM Raih Juara II Lomba Presentasi Bahasa Jepang Wilayah D.I. Yogyakarta ke-5 Tahun 2026
  • Spiritualitas, Trauma Ekologis, dan Kritik Modernitas dalam Diskusi Sastra ASN 2026
  • Prodi Bahasa Korea UGM Menjadi Prodi Korea di Indonesia Pertama dan Satu-satunya yang Memiliki Tiga Dosen Bersertifikat Pengajaran Tertinggi dari Pemerintah Korea Selatan

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY