• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Publikasi Ilmiah
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • Bejo Mulyo
    • Lembaga Otonom
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Inggris
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Indonesia
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Asia Barat
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa Korea
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Studi Prancis
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi
      • Himpunan Mahasiswa Jepang
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • FIB UGM
  • FIB UGM
  • hal. 95
Arsip:

FIB UGM

FIB Weekly Forum: Peluang dan Beasiswa di SOAS, University of London

AGENDA Selasa, 1 April 2014

Kamis, 3 April 2014
Ruang Sidang 1 FIB UGM ; Pukul 13.00

Peluang dan Beasiswa di SOAS, University of London
Pemateri : Dr. Ben Murtagh
(SOAS, University of London, The School of Oriental and African Studies)

Terbuka Untuk Umum & Disediakan Kudapan

Dulu, Industri Kretek Milik Pribumi

HEADLINENews Release Kamis, 27 Maret 2014

Kretek menjadi fenomena menarik di Indonesia. Selama ini kretek selalu dikaitkan dengan kesehatan, kebijakan politik, sampai hubungannya dengan sosio-kultural masyarakat Indonesia. Namun sangat jarang yang mengkaji kretek dari sisi historisnya. Sejawaran UGM, Dr. Sri Margana, M.Phil, mengatakan industri kretek dulu pernah menjadi tulang punggung perekonomian Hindia Belanda saat terjadi depresi ekonomi tahun 1930-an. “Saat itu semua perusahaan-perusahaan besar milik Hindia Belanda hancur dihantam depresi ekonomi,” terangnya.

Industri kretek yang berbasis di desa dan dalam skala rumahan saat itu justru mengalami perkembangan yang sangat pesat. Margana menyebutkan, satu-satunya industri milik pribumi adalah industri kretek. “Tapi kita tidak akan menemukan orang pribumi menjadi direktur perusahaan-perusahaan besar saat itu,” kata Margana dalam peluncurkan buku yang ditulisnya, Kretek Indonesia dari Nasionalisme hingga Warisan Budaya di Ruang Seminar Perpustakaan UGM, Kamis (27/3).

Ketua Jurusan Ilmu Sejarah Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM ini menambahkan, saat itu industri kretek sebagai sumber ekonomi para pribumi. Hal itu dikarenakan dari hulu ke hilir, seluruh bahan baku pembuatan kretek bersasal dari orang-orang pribumi. “Jika di industri kolonial kita hanya menjadi kuli, tidak demikian dengan industri kretek,” imbuhnya.

Selain itu, kretek juga ikut membangun jaringan ekonomi yang sangat luas. Dari pemilik toko, asongan, warung-warung, dan pekerja industri rokok menggantungkan hidupnya dari kretek. Lebih dari itu, kretek sebagai warisan budaya justru  terdapat pada rasa dan aroma kretek khas masyarakat pribumi. “Keunikan proses inilah yang bisa mengkategorikan kretek sebagai warisan budaya. Apalagi ramuan dalam setiap merk diwariskan secara turun-temurun,” jelasnya.

Margana mengisahkan, gagasan menulis buku ini timbul dari keinginan menambah khasanah kajian kretek di Indonesia. Ia menegaskan, tim penulis buku ini tidak ingin terjebak pada kebijakan kesehatan atau mendukung industri rokok. “Buku ini merupakan penafsiran atas fakta-fakta sejarah yang terjadi pada industri keretek di Indonesia awal abad ke-20,” ungkapnya.

Kepala Pusat Studi Kebudayaan UGM, Dr. Aprinus Salam, M.Hum, berpandangan bahwa rokok selalu identik dengan asap. “Tidak ada kretek kalau tidak ada asap,” tuturnya. Baginya, esensi kenikmatan merokok berasal dari asap yang dihasilkan. “Asap rokok itu kan rasanya berbeda-beda, setiap orang punya seleranya masing-masing,” ujarnya.

Dalam kesempatan yang sama, perwakilan Muhammadiyah Tobacco Control Center (MTCC), Dianita Sugiyo, S.Kep., NS., MHID., menilai rokok dari sisi dampak bahaya rokok yang ditimbulkan. Menurutnya, zat-zat adiktif dalam rokok sangat berbahaya. Ia menjelaskan, asap rokok yang dihasilkan dari pembakaran rokok mencapai 16,9 mg/batang. “Padahal, untuk mengiritasi mata hanya cukup dengan 58 mikrogram,” paparnya.[]

 

Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/8842-dulu.industri.kretek.milik.pribumi

Kenyamanan Berwisata Jadikan Keistimewaan Pariwisata Jogja

HEADLINENews Release Rabu, 26 Maret 2014

Yogyakarta masih menjadi tujuan wisata favorit bagi wisatawan baik domestik maupun mancanegara. Sayangnya, tingginya kunjungan wisatawan belum didukung dengan fasilitas memadai yang memberi kenyamanan berwisata. Hal itu dapat dilihat mulai dari kurangnya kantong parkir, kemacetan, menjamurnya sampah visual hingga lingkungan yang kurang tertata. Apabila hal tersebut tidak segera ditangani dikhawatirkan akan mengurangi keistimewaan pariwisata Yogyakarta. Bahkan kondisi demikian dapat mengurangi minat wisatawan untuk berkunjung.

Antropolog UGM,  Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra menyebutkan untuk mewujudkan keistimewaan Yogyakarta dalam bidang pariwisata dapat dilakukan dengan menjadikan kota pelajar ini sebagai tempat yang nyaman bagi semua orang. Pasalnya keistimewaan pariwisata Yogyakarta terletak pada nuansa kenyamanan yang ditawarkan melalui masyarakat yang akrab, hangat, dan lingkungan yang nyaman.

“Harapannya kedepan akan ada perda untuk mengatasai berbagai persoalan yang membelit Yogyakarta. Bagaimana membuat Yogyakarta sebagai sebuah kota yang terlihat keistimewaanya, kekhasannya, ngangeni, tetapi kenyamanannya tidak hilang,” paparnya dalam seminar “Mewujudkan Keistimewaan Yogyakarta Dalam Pariwisata” Rabu (26/3) di Pusat Studi Pariwisata (Puspar) UGM.

Menurutnya situasi yang semakin tidak nyaman akan menghilangkan keistimewaan Yogyakarta. Karenanya perlu segera dilakukan penanganan untuk mengembalikan kenyamanan Yogyakarta.

“Tidak sedikit yang juga mengeluh merasa tidak nyaman lagi. Jogja tidak lagi berhati nyaman, tetapi berhenti nyaman. Kalau sudah tidak nyaman keistimewaan Yogyakarta akan hilang,” terangnya.

Heddy berkeyakinan melalui kerjasama dengan berbagai pihak terkait dan antarsektor, penanganan permasalahan tersebut bisa komperehensif. Dengan begitu pariwisata Yogayakarta bisa berkembang dengan baik.

“Artinya wisatawan tambah banyak, tetapi tidak terjebak dengan persoalan kemacetan, lingkungan kumuh, kurang parkir dan lainnya. Yang dibutuhkan pengaturan,” jelasnya.

Dalam kesempatan itu, Heddy juga menyinggung tentang wisata budaya tradisi alit yang belum banyak dikembangkan Yogyakarta. Padahal DIY memiliki potensi besar terhadap wisata ini.

“Sebetulnya banyak yang bisa dikembangkan, misalnya kesenian-kesenian di masyarakat pedesaan. Sayangnya wisata tradisi alit masih kurang mendapat perhatian. Pengembangan pariwisata Yogyakarta masih terfokus pada wisata tradisi ageng,” ujarnya.

Hal senada disampaikan oleh Dr. Ir. Chafid Fandeli, M.S, peneliti Puspar UGM. Menurutnya banyak wisata tradisi alit di DIY yang bisa dikembangkan untuk pariwisata. Hanya saja belum banyak pihak yang melirik wisata di tingkat masyarakat ini.

“Keistimewaan Jogja harus digali, masih banyak yang perlu diungkap salah satunya wisata tradisi alit,” katanya.

Chafid menuturkan dari wisata tradisi alit tidak hanya akan memberikan manfaat bagi kehidupan ekonomi masyarakat bawah. Namun ia meyakini dapat menarik lebih banyak wisatawan untuk melakukan kunjungan ke Yogyakarta.[]

 

Sumber: https://ugm.ac.id/id/berita/8840-kenyamanan.berwisata.jadikan.keistimewaan.pariwisata.jogja

1…939495

Rilis Berita

  • Kunjungan Fakultas Ushuludin Adab dan Humaniora UIN Salatiga ke FIB UGM
  • Pengukuhan Prof. Dr. Hendrokumoro, M.Hum. sebagai Guru Besar Bidang Ilmu Linguistik Fakultas Ilmu Budaya UGM
  • Makna Tanggung Jawab Ditekankan dalam Ikmasa Mentoring #1
  • Sharing Study Humas dan Kerja Sama FIB UGM ke Media FISIPOL UGM
  • SANJUNG: Kolaborasi Kerja Sama antara HMPS BSA UAD dengan IKMASA UGM

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY