Yogyakarta (21/7), Departemen Antropologi FIB UGM menyambut Dr.Tan Yujing dari Universitas Leiden. Dr.Tan Yujing merupakan dosen di Institute for Area Studies and International Studies yang memiliki minat kajian mobilisasi dan migrasi, ekonomi politik dalam inovasi, Global China, dan Sosiologi institusi yang berkaitan dengan asosiasi industri dan ekonomi. Dalam kunjungan nya ke Departemen Antropologi di Ruang Baca Lantai 5, Dr.Tan Yujing mempresentasikan hasil riset dan materinya di daerah Batang, Jawa Tengah dengan judul Understanding Mobility Regime in China Indonesia Economic Cooperative Zone (Batang) yang membahas tentang bagaimana daerah industri di Batang menjadi zona ekonomi yang banyak menyerap tenaga asing seperti Tiongkok dalam rezim mobilitas nya yang masif. Acara tersebut dimoderatori oleh Dr. Wahyu Kuncoro dari Departemen Antropologi yang berjalan selama satu setengah jam dari 13.00 hingga 14.30.
Diresmikan pada Mei 2025, Zona Ekonomi Batang diciptakan untuk mendukung investasi asing di industri ekspor Indonesia sebagai respon atas rezim mobilitas untuk memfasilitasi pekerja Tiongkok yang sering bermigrasi ke Indonesia. Dengan spektrum keahlian nya di bidang mobilisasi dan inovasi ekonomi politik dalam konteks industri, beliau menilik bagaimana kedatangan pekerja Tiongkok beradaptasi dengan industri lokal dan menciptakan relasi yang baru di lingkungan para pekerja pabrik di Batang. Dalam riset ini, Dr. Tan Yujing menggunakan berbagai pendekatan untuk mempelajari fenomena pekerja antardua negara tersebut. Salah satunya adalah dengan observasi partisipatoris dengan mengikuti dan bekerja dengan pekerja Tiongkok dan Indonesia selama 4 hari dalam seminggu untuk mempelajari rutinitas harian. Wawancara semi struktur dan obrolan kasual digunakan oleh Dr. Tan Yujing untuk mengetahui lebih dalam tentang hubungan pekerja dengan tempat mereka bekerja secara struktural. Baik itu secara manajerial karyawan, pekerjaan domestik, dan dampaknya terhadap ekonomi daerah lokal dan global.
Dari hasil risetnya itu, beliau menemukan adanya diferensiasi atau perbedaan pola hidup pekerja Tiongkok dan Indonesia yang membentuk dua dimensi kehidupan yang berbeda dalam satu tempat yang sama. Pekerja Tiongkok membawa kultur negaranya untuk bisa bertahan hidup di Batang sekaligus berasimilasi dengan kebiasaan penduduk lokal. Kolaborasi pekerja antardua negara tersebut tidak hanya dilihat sebagai budaya migrasi untuk mencari taraf ekonomi yang lebih baik. Lebih dari itu, para pekerja di Zona Ekonomi Batang turut menyukseskan kesuksesan ekonomi dan bilateral antar dua negara dalam skala makro. Riset Dr. Tan Yujing membuka pandangan bahwa kerjasama ekonomi bilateral antara Indonesia-Tiongkok tidak hanya dimaknai oleh kesuksesan secara global. Ada aktor-aktor kecil yang jarang terlihat oleh masyarakat luas sebagai penopang utama kesuksesan industri antarnegara, yaitu para pekerja Tiongkok dan Indonesia yang kolaboratif. Harapannya, zona ekonomi yang terintegrasi oleh dua negara di Batang ini bisa membantu surplus ekonomi dua negara secara implementatif.
Penulis : Zaky Ahmad Hidayat

