• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 5: Kesetaraan Gender
  • SDGs 5: Kesetaraan Gender
  • hal. 10
Arsip:

SDGs 5: Kesetaraan Gender

Rapat Kerja Fakultas Ilmu Budaya UGM Agustus 2024

HEADLINEHEADLINERilis BeritaSDGSSDGs 4: Pendidikan BerkualitasSDGs 5: Kesetaraan Gender Jumat, 30 Agustus 2024

Yogyakarta, Rabu, 28 Agustus 2024. Fakultas Ilmu Budaya UGM mengadakan Rapat Kerja Fakultas Ilmu Budaya UGM pada bulan Agustus 2024, mengundang seluruh dosen dan tenaga pendidik FIB UGM. Rapat kerja fakultas yang dipimpin oleh Dekan FIB UGM, Prof. Dr. Setiadi, M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Dr. Nur Saktiningrum, S.S., M.Hum., dan Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan Sumber Daya Manusia, Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D., bertujuan untuk memberikan sosialisasi mengenai tindakan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual di lingkungan fakultas. Rapat kerja diadakan di Auditorium Soegondo Lt. 7, pada pukul 13.00 WIB s.d. 14.30 WIB.

Dalam rapat kerja, Dekan FIB UGM memberikan presentasi mengenai langkah pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, seperti cakupan kekerasan seksual dengan 21 bentuk kekerasan seksual yang dikategorikan menjadi empat kategori: verbal, fisik, nonfisik, dan teknologi informasi dan komunikasi. Peraturan Rektor UGM Nomor 1 Tahun 2023 tentang Pencegahan dan Penanganan Kekerasan Seksual di Universitas Gadjah Mada, memberikan diagram alur tim penindak dari kekerasan seksual yang bermula dari pembentukan satuan tugas pencegahan dan penanganan kekerasan seksual kemudian Tim PPKS untuk dukungan penanganan dan pencegahan, dan komite pemeriksa untuk pemeriksaan dan verifikasi kasus. Pada pemaparan presentasi, turut disertakan Standard Operational Procedure (SOP) Penerimaan Laporan yang terdiri secara runtut dimulai dari: pelaporan, melengkapi dan meneruskan laporan awal, melakukan asesmen, koordinasi pelayanan awal, dan koordinasi hasil asesmen serta penunjukkan komite pemeriksa.

Setelah sesi pemaparan mengenai sosialisasi tindakan pencegahan dan penanganan kekerasan seksual, agenda berikutnya adalah sesi umpan balik dan pertanyaan terbuka mengenai kebijakan FIB UGM kepada para peserta dosen dan tenaga pendidik yang hadir. Pada sesi ini, sejumlah dosen memberikan tanggapan terhadap fasilitas dan prasarana fakultas untuk menunjang pembelajaran. Dari tanggapan yang telah dikumpulkan, diharapkan menjadi bahan evaluasi untuk tindaklanjutan konkrit dari umpan balik yang diberikan.

Kuliah Praktikum Etnografi Wilayah Sumatera – Agus Indiyanto, S.Sos., M.Si

HEADLINERilis BeritaSDGs 12: Konsumsi dan Produksi Yang Bertanggung JawabSDGs 17: Kemitraan Untuk Mencapai TujuanSDGs 4: Pendidikan BerkualitasSDGs 5: Kesetaraan Gender Kamis, 22 Agustus 2024

Pada hari Sabtu, 8 Juni 2024, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada telah melaksanakan kegiatan mata kuliah Etnografi Wilayah Sumatera yang berlangsung di halaman gedung Soegondo. Acara yang dimulai pukul 09.00 WIB hingga pukul 14.00 WIB ini bertujuan untuk memberikan pemahaman mendalam mengenai manusia dan dinamika kebudayaan etnis-etnis di wilayah Sumatera serta mengasah apresiasi terhadap bentuk dan praktik budaya lokal. Peserta dari kegiatan ini adalah seluruh mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya yang mengambil mata kuliah Etnografi Wilayah Sumatera, berjumlah 74 mahasiswa. Selain itu, acara ini juga dihadiri oleh beberapa mahasiswa INCULS yang ikut berpartisipasi sebagai bagian dari program ini.

Kuliah praktikum berupa praktik memasak bersama ini adalah suplemen bermuatan afeksi untuk membangun sisi afektif mahasiswa misalnya kerjasama, kedisiplinan, dedikasi, etika dan tanggung jawab. Melalui aktivitas memasak bersama ini mahasiswa diharapkan mampu memahami bahwa makanan itu bukanlah sesederhana membeli dan menikmati. Terdapat proses kognitif mengenali rasa, mengasah sensitifitas rasa melalui kombinasi, yang secara keseluruhan itu membutuhkan kesabaran, ketelitian, kerjasama, dan empati. Lebih jauh, proses ini diharapkan memiliki sikap menghargai makanan secara lebih baik, tidak menyianyiakan makanan, dan apresiatif terhadap makanan lokal yang kini mulai ditinggalkan.

Acara dimulai dengan penjelasan umum oleh dosen terkait aturan main kegiatan, misalnya terkait tata tertib dan waktu pelaksanaan. Selanjutnya dosen menjelaskan tentang jenis bumbu pokok yang digunakan untuk memasak rendang. Keseluruhan bumbu tersebut didisplay di meja di depan teras Soegondo. Setelah cukup dengan penjelasan dan tanya jawab, setiap kelompok mengambil ‘jatah’ daging sapi 1 kilogram yang sudah disiapkan, serta bumbu-bumbu dasar yang telah disiapkan di display. Untuk bumbu mereka mengambil sendiri sesuai dengan kebutuhannya masing-masing.

Pada minggu sebelumnya, masalah teknis masak sudah didiskusikan di kelas. Mahasiswa diperkenankan mencari sendiri resep masakan rendang. Oleh karena itu, sangat dimungkinkan ada perbedaan dalam bumbu-bumbu tambahan maupun teknis masaknya.  Ada yang menyertakan gula merah, ada yang menyertakan parutan kelapa. Ada juga yang memasukkan unsur daun kunyit.

Tepat 09.30 wib para mahasiswa mulai kembali ke meja kerjanya dan mulai masak. Sementara mahasiswa masak, dosen dan ‘asistennya’ juga melakukan hal yang sama. Suasana menjadi seru. Apalagi juga diumumkan nanti akan ada penilaian yang dilakukan oleh ‘juri’. Jurinya adalah mahasiswa magang di departemen yang sejatinya bertugas menjadi pendokumentasi kegiatan. Oleh karena akan ada ‘penilaian’ ini para mahasiswa menjadi bersemangat. Beberapa kali mahasiswa datang ke meja kerja dosen untuk bertanya tentang teknis masak atau meminta bumbu tambahan. Beberapa mahasiswa juga terlihat melakukan telepon maupun panggilan video kepada orang tuanya tentang prosedur memasak ‘yang benar’. Meskipun terlihat sekali bahwa mayoritas para mahasiswa tidak terbiasa memasak, mereka terlihat bersemangat. Sesekali berteriak dan berceloteh riang. Sesekali datang ke meja kerja dosen untuk membandingkan masakannya dengan punya kelompoknya.

Akhirnya pukul 12.30 acara masak sesuai dengan kesepakatan dihentikan. Kemudian para Juri dadakan mendatangi setiap kelompok untuk memberikan penilaian berdasarkan dua kriteria: penampilan masakan dan rasa. Berdasarkan akumulasi skor, kelompok 3 menjadi juara untuk kategori rasa, dan kelompok 4 menjadi yang terbaik dari segi tampilan rendang (terlihat sangat coklat cantik, rupanya ditambahkan gula merah, dan itu menjadikannya rendang Jogja). Satu hal yang menarik juga adalah kreasi dari kelompok 5 yang membuat rendang dengan lembut dan rasa yang sangat ringan, sehingga cocok kalau dijadikan untuk konsumsi turis.

Acara ditutup dengan review singkat dari dosen tentang keseluruhan proses dan kesan-kesan mahasiswa. Acara ditutup dengan foto bersama dan makan bersama. Beberapa mahasiswa malah bersemangat ikut antri minta rendang hasil kerja dosen.Dari segi capaian, acara ini dapat dikatakan sukses. Sebagaimana tujuan utama mata kuliah etnografi adalah apresiasi dan penghormatan atas perbedaan, acara ini jelas memberikan pengalaman baru bagi mahasiswa tentang nasi padang. Selama ini mereka tidak pernah membayangkan bahwa untuk menikmati nasi rendang itu harus serepot itu. Dibutuhkan waktu, komitmen, dan kecerdasan dalam mengatur komposisi dan teknis. Hal ini membuat mahasiswa menjadi sadar untuk lebih menghargai makanan tradisional, meskipun mereka mampu membeli.

Hal lain yang penting juga ditegaskan adalah bahwa kuliah itu tidak harus selalu dengan melakukan review dan tugas yang paper oriented. Kegiatan ini menjadi salah satu bentuk bahwa kuliah itu dapat dilakukan secara lebih rileks dan menyenangkan meskipun tetap kritis dan akademis.

Kuliah Umum Kebudayaan oleh Prof. Bambang Hudayana: Menjadi Aktivis Kebudayaan

HEADLINERilis BeritaSDGs 4: Pendidikan BerkualitasSDGs 5: Kesetaraan Gender Kamis, 1 Agustus 2024

Pada hari Rabu, 31 Juli 2024, Prof. Bambang Hudayana memberikan kuliah umum kebudayaan yang menjadi bagian dari acara Pembukaan Pionir Kampung Budaya 2024. Kuliah ini berhasil menarik perhatian banyak peserta dengan topik yang sangat relevan dan mendalam tentang pentingnya menjadi seorang aktivis kebudayaan.

Dalam pemaparannya, Prof. Bambang menekankan betapa pentingnya menjadi seorang aktivis kebudayaan. Menurutnya, aktivis kebudayaan harus memiliki kepedulian dan kepekaan terhadap isu-isu kebudayaan yang ada di masyarakat. Beliau juga menekankan peran pendamping dan advokat kebudayaan yang harus diemban oleh para aktivis ini. Ia menambahkan bahwa mengangkat kebudayaan daerah sangat penting karena memiliki nilai yang sangat berharga bagi kehidupan kita.

Selain itu, beliau juga menekankan bahwa apapun yang diajarkan di Fakultas Ilmu Budaya UGM, selalu ada unsur budaya yang dapat dijadikan sebagai panduan untuk memberdayakan kebudayaan kita.

Tak hanya itu, Prof. Bambang juga mengangkat isu kesetaraan gender dalam setiap aspek kehidupan. Beliau mengingatkan bahwa budaya kita mengandung nilai yang meninggikan martabat perempuan, sehingga penting untuk terus memberdayakan mereka.

Kuliah umum ini memberikan wawasan berharga bagi para peserta mengenai pentingnya menjaga, memelihara, dan memberdayakan kebudayaan lokal. Prof. Bambang Hudayana berhasil menyampaikan pesan-pesan penting yang menginspirasi para peserta untuk menjadi aktivis kebudayaan yang berkomitmen terhadap pelestarian dan pengembangan kebudayaan di Indonesia.

Pembukaan Pionir Kampung Budaya 2024 oleh Prof. Setiadi, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM

HEADLINERilis BeritaSDGs 10: Berkurangnya kesenjanganSDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang TangguhSDGs 17: Kemitraan Untuk Mencapai TujuanSDGs 4: Pendidikan BerkualitasSDGs 5: Kesetaraan Gender Kamis, 1 Agustus 2024

Rabu, 31 Juli 2024, menjadi hari bersejarah bagi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) dengan dilaksanakannya Pembukaan Pionir Kampung Budaya 2024. Acara ini berlangsung meriah di halaman depan Gedung Margono, yang biasa dikenal dengan sebutan Greenland.

Acara dibuka secara resmi oleh Prof. Setiadi, Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM. Dalam sambutannya, Prof. Setiadi mengenalkan jajaran wakil dekan, ketua program studi, dan koordinator unit di FIB UGM. “Saya berharap mahasiswa dapat mengenal orang-orang yang akan membantu mereka selama masa perkuliahan di FIB UGM,” ujar Prof. Setiadi. Pengenalan ini bertujuan untuk menciptakan hubungan yang lebih dekat dan akrab antara mahasiswa dan pihak fakultas, sehingga dapat tercipta suasana belajar yang kondusif dan mendukung.

Kemeriahan acara tidak berhenti di situ. Berbagai penampilan dari badan semi otonom (BSO) FIB UGM turut menyemarakkan pembukaan Pionir Kampung Budaya 2024. Di antaranya adalah Sastra Oebah dengan pertunjukan teater yang memukau, Rampoe dengan tari tradisional Aceh yang energik, serta Buchaechum yang menampilkan tarian kipas khas Korea yang elegan dan mempesona. Salah satu hal menarik lainnya adalah sesi diskusi budaya yang menghadirkan Prof. Bambang Hudayana sebagai pembicara. Diskusi ini membahas isu-isu terkini dalam dunia kebudayaan serta bagaimana mahasiswa dapat berperan aktif dalam pelestarian dan pengembangan budaya lokal. Sesi ini menjadi momen inspiratif yang memotivasi mahasiswa untuk lebih mendalami dan menghargai kekayaan budaya yang dimiliki. Selain itu, diadakan sesi sharing bersama dengan alumni Fakultas Ilmu Budaya yang telah sukses di bidangnya. Tak lupa ada juga sesi yang dibawakan oleh Ibu Erika Purnawati, S.Kom., M.Cs. mengenai tata cara administrasi peminjaman ruang dan fasilitas di FIB UGM.

Acara Pembukaan Pionir Kampung Budaya 2024 ini tidak hanya menjadi ajang perkenalan dan hiburan, tetapi juga sarana untuk mempererat hubungan antara mahasiswa dan fakultas serta memperkaya wawasan budaya. Dengan semangat yang tinggi, diharapkan mahasiswa FIB UGM dapat terus berkontribusi dalam melestarikan dan mengembangkan kebudayaan Indonesia.

 

 

WHO CAN SPEAK AND WHAT WE CAN SPEAK ABOUT?

Rilis BeritaSDGs 10: Mengurangi KetimpanganSDGs 11: Kota dan Pemukiman Yang BerkelanjutanSDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang TangguhSDGs 17: Kemitraan Untuk Mencapai TujuanSDGs 4: Pendidikan BerkualitasSDGs 5: Kesetaraan Gender Rabu, 31 Juli 2024

Dekolonisasi merupakan isu penting yang terus dikaji dalam ilmu sosial belakangan. Usaha untuk melepaskan diri dari hegemoni Barat yang merupakan warisan kolonialisme adalah jalan panjang yang sedang ditempuh, khususnya bagi para pemikir Global North. Usaha itu juga tampak dari salah satu forum berjudul Who Can Speak and What We Can Speak About yang diselenggarakan di AAS, Universitas Gadjah Mada, 11 Juli 2024.

Dalam forum ini, ada 6 pembicara yang mempresentasikan hasil riset mereka. Benang merah dari presentasi tersebut adalah tentang nasib liyan, perjuangan Hak Asasi Manusia, serta upaya untuk menyingkap relasi kuasa Utara-Selatan (Global North-Global South)

Pembicara pertama adalah Lili Chen dari National University of East Timor. Dalam presentasinya, ia menjelaskan dinamika kehidupan kelompok LGBT di Timor Leste. Pasca merdeka dari Indonesia, kelompok LGBT di Timor Leste memang cukup progresif. Dibanding di Indonesia, kelompok ini juga jauh lebih diterima. Hal ini tampak dari Pride Parade yang bisa mereka ikuti di Dili setiap tahunnya. Meski demikian, bukan berarti kehidupan mereka sepenuhnya aman. Di negara yang penduduk kristennya sangat religius, kelompok LGBT masih mengalami diskriminasi. Meski demikian, ada upaya yang dilakukan oleh kelompok LGBT untuk menegosiasikan hal tersebut. Mereka misalnya mencoba terus menggali budaya lokal pra-kolonial, yang sebetulnya juga mengenal konsep gender di luar heteronormativitas.

Masih terkait isu gender, Carol Rodriguez Bello Dawonlay dari University of Philippines, membahas berbagai kelompok perempuan pribumi di Filipina dalam melawan pernikahan anak dan kekerasan gender. Sementara itu, Anna Christi Suwardi dari Mae Fah Luang University, juga membahas peran perempuan dalam upaya menyelesaikan konflik di Thailand Selatan.

Adapun Faryal Khan dari Bonn International Centre for Conflict Studies (BICC) membahas tentang konflik militer di Waziristan Selatan, Pakistan. Menurut Khan, konflik yang melibatkan negara dan berbagai suku ini menjadi berkepanjangan, sebab negara melakukan pendekatan militer untuk menyelesaikannya.

Presentasi Faryal Khan juga berkaitan dengan paparan Amjad Hassan dari National University of Modern Language Peshawar. Hassan, yang juga berasal dari Pakistan, mengkritik pendekatan negara dalam mengatasi beragam konflik kekerasan di Pakistan. Menurut Hassan, para pembuat kebijakan, think tank, dan intelektual Pakistan masih mengambil pendekatan Barat, terutama pendekatan realis, positivistik, dan modernitas kapitalis. Cara ini sangat tidak efektif karena Pakistan akan selalu gagal menyelesaikan akar permasalahan dari segala konflik modern, yaitu sebetulnya adalah Barat itu sendiri. Menurut Hassan, negara Barat, khususnya Amerika adalah the elephant in the room yang gagal diidentifikasi. Oleh karena itu, penting memetakan sejauh apa kepentingan mereka di balik konflik-konflik kekerasan ini.

Sementara itu, Gopale Amarnath membahas tentang problem fasilitas kesehatan di wilayah Gadchiroli, Maharashtra, India, yang merupakan daerah konflik antara pemerintah dengan ekstrimis sayap kiri. Menurut Amarnath, keberadaan kelompok ekstrimis ini membuat kawasan ini mengalami diskriminasi dalam hal kebijakan kesehatan. Amarnath menunjukkan keprihatinannya terkait buruknya fasilitas kesehatan dan kurangnya dokter di sana. Selain itu, kurangnya fasilitas child care, maternal delivery, dan gedung yang layak, juga menambah rumit permasalahan. Apalagi, militer juga sering masuk ke rumah sakit atau puskesmas untuk mengadakan sidak yang membuat para petugas kesehatan khawatir.

Secara umum, forum ini juga membahas metode penelitian yang didasarkan semangat dekolonisasi. Ada setidaknya tiga poin yang harus dilakukan oleh peneliti yang terjun ke lapangan. Pertama, mereka harus lebih banyak mendengarkan. Kedua, penelitian harus didasari consent, atau persetujuan kedua pihak. Ketiga, do no harm, atau jangan sampai menyakit fisik dan perasaan kelompok yang didatangi.  Forum ini menjadi sangat penting karena menunjukkan bagaimana metode riset lapangan yang bisa menggali permasalahan secara mendalam, tetapi juga berbasis empati terhadap masyarakat terdampak. Ini juga bentuk dekolonisasi, khususnya terhadap metode penelitian antropologi yang dahulu kerap mengobjektivikasi penduduk pribumi. Dekolonisasi memang tidak semata hasil, tetapi juga proses.

Penulis: Ari Bagus Panuntun

1…89101112…14

Rilis Berita

  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
  • Ziarah Makam Sawitsari, Agenda Rutinan FIB UGM Menyambut Dies Natalis ke-80
  • Prof. Suhandano Soroti Tantangan Studi Bahasa di Era Digital pada Dies Natalis ke-80 FIB UGM
  • FIB UGM Berikan Penghargaan Mahasiswa Berprestasi pada Dies Natalis ke-80
  • Mahasiswa FIB UGM Ciptakan Buku Pop-Up “8 Dekade Membangun Peradaban” untuk Visualisasikan Sejarah Fakultas

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju