• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 10: Reduced Inequalities
  • (Page 2)
Arsip:

SDGs 10: Reduced Inequalities

Satu Semester, Segudang Pelajaran: Merangkul Perspektif Baru melalui Program Pertukaran Pelajar di UNS

Rilis Berita Senin, 18 Mei 2026

Bagi banyak mahasiswa, mengikuti program pertukaran pelajar tidak hanya memberi kesempatan untuk menempuh pendidikan di negara lain, tetapi juga memberikan perspektif baru di luar zona nyaman. Pengalaman itulah yang saat ini dijalani oleh Ardhanamesvari Nuringtyas Aji, yang akrab disapa Vari, melalui program DiscoverNUS di National University of Singapore (NUS). Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk belajar selama satu semester di NUS dengan biaya kuliah yang ditanggung penuh. Vari mengetahui peluang tersebut melalui Office of International Affairs Universitas Gadjah Mada (OIA UGM). 

Keputusan Vari memilih NUS didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi. Berbeda dengan sebagian besar mahasiswa yang sejak lama merencanakan tujuan studinya, Vari mengaku pilihannya muncul karena merasa memiliki peluang untuk memenuhi persyaratan pendaftaran sebelum tenggat waktu yang ditentukan. “Saya melihat informasinya dan merasa bisa memenuhi semua persyaratan serta timeline yang ada,” ujarnya. Kedekatan Singapura dengan Indonesia juga menjadi alasan tersendiri yang membuat kesempatan tersebut terasa semakin menarik dan mungkin untuk diwujudkan. Hal inilah yang membuat Vari tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. 

Sebelum keberangkatan, Vari menyiapkan sejumlah dokumen seperti surat rekomendasi dan motivation letter, memperpanjang paspor, hingga mengikuti tes IELTS. Setelah dinyatakan lolos, ia masih harus mengurus berbagai kebutuhan lain, mulai dari pengajuan visa pelajar, pendaftaran asrama kampus, hingga pemilihan mata kuliah untuk satu semester. Meski cukup melelahkan, proses tersebut menjadi bagian penting dalam transisinya menuju pengalaman studi di luar negeri. 

Kesan mendalam yang dirasakan Vari setibanya di Singapura adalah atmosfer yang sangat berbeda apabila dibandingkan dengan Yogyakarta. “Kota ini sangat modern,” katanya. Menurutnya, Singapura merupakan tempat yang “rapi dan tertata di mana pun saya berada.” Vari juga terkejut dengan budaya akademik di NUS yang menekankan partisipasi mahasiswa sebagai komponen penting dari penilaian, sehingga diskusi di kelas berlangsung dengan aktif. Selain itu, budaya berpakaian di lingkungan kampus yang lebih santai juga merupakan hal baru baginya. Di sisi lain, ia menyadari bahwa meraih nilai tinggi di NUS terasa lebih menantang daripada yang ia bayangkan. 

Karena sebelumnya belum pernah menetap di luar Yogyakarta, Vari sempat mengalami berbagai tantangan saat menyesuaikan diri dengan kehidupan di Singapura. Ia harus belajar hidup di asrama bersama mahasiswa lain, beradaptasi dengan penggunaan transportasi umum, serta mengikuti lingkungan akademik NUS yang menekankan keaktifan dalam diskusi, pengerjaan proyek, dan partisipasi di kelas. Dalam proses adaptasi tersebut, Vari mulai membentuk rutinitas baru, salah satunya dengan lebih sering belajar di perpustakaan.

Selama mengikuti program tersebut, rutinitas harian Vari mulai terasa lebih teratur. Pada hari kerja, ia biasanya bangun sekitar pukul delapan atau sembilan pagi untuk sarapan di residence hall yang menyediakan makanan bagi mahasiswa. Di luar kegiatan akademik, ia kerap menghadiri berbagai acara kampus, bertemu teman-teman asal Indonesia untuk makan siang bersama, hingga belajar di perpustakaan pada malam hari. Sementara itu, akhir pekan dimanfaatkannya untuk menjelajahi Singapura bersama teman-teman dan mengenal kehidupan kota di luar lingkungan kampus 

Melalui pengalaman pertukaran pelajar ini, Vari merasa berkembang baik secara pribadi maupun akademik. Hidup mandiri di negara baru membuatnya menjadi lebih percaya diri, mudah beradaptasi, dan disiplin, sementara lingkungan akademik yang kompetitif memotivasinya untuk bekerja lebih keras dan konsisten. Pertemuannya dengan orang-orang dari berbagai budaya juga memperluas sudut pandangnya dalam banyak hal. “Saya belajar untuk berani dan percaya diri dalam mencoba hal-hal baru,” tuturnya. 

Berkaca pada pengalamannya, Vari mendorong mahasiswa lain agar tidak takut mengambil peluang untuk belajar di luar negeri. Ia menekankan pentingnya memperhatikan tenggat waktu dan detail administrasi, sekaligus tetap terbuka terhadap pengalaman baru. Bagi Vari, program pertukaran pelajar ini merupakan salah satu pengalaman paling berharga yang penuh pelajaran bermakna, kenangan tak terlupakan, dan persahabatan baru. “Awalnya mungkin terasa menakutkan,” ujarnya, “tetapi ketika sudah mulai menjalani, kalian akan berterima kasih pada diri sendiri karena berani mencoba.” 

[Sastra Inggris, Maulina Artyansa S]

Kuliah Tamu Dr. Irma Budginaitė-Mačkinė Bahas Lithuania dalam Ambiguitas Post-Soviet

Rilis Berita Senin, 11 Mei 2026

Pada pertemuan terakhir di paruh pertama mata kuliah Poskolonialisme, mahasiswa Magister Sastra Universitas Gadjah Mada mendapatkan kesempatan mengikuti kuliah tamu bertajuk Baltic Postcolonialism yang disampaikan oleh Dr. Irma Budginaitė-Mačkinė, Associate Professor of Sociology di Vilnius University, Lithuania. Dr. Irma melakukan kunjungan ke Indonesia dalam rangka skema mobilitas riset yang dibiayai oleh Project MARS: Non Western Migration from Global Perspectives.

Kuliah ini dihadirkan oleh dosen pengampu mata kuliah Poskolonialisme pada paruh pertama, yakni Dr. Arifah Arum Candra Hayuningsih. Kuliah tamu pada kelas Magister Sastra ini dilaksanakan pada Senin (27/4/2026) di Gedung Soegondo 224, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Mata kuliah Poskolonialisme merupakan salah satu mata kuliah wajib yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai dinamika kolonialisme serta dampaknya terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti bahasa, sastra, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Kajian ini tidak hanya berfokus pada negara-negara di Asia dan Afrika, tetapi juga mencakup wilayah lain seperti Karibia, Kenya, India, Vietnam, hingga kawasan Eropa Timur, termasuk Lithuania, yang mengalami dominasi kekuasaan dalam bentuk yang berbeda dari kolonialisme klasik.

Berbagai pengalaman kolonial tersebut melahirkan pemikir-pemikir poskolonial yang berupaya mengkritisi dan mendekonstruksi hegemoni kolonial melalui gagasan-gagasan reflektif dan kritis. Tokoh-tokoh seperti Aimé Césaire, Albert Memmi, Frantz Fanon, Ngũgĩ wa Thiong’o, Trinh T. Minh-ha, Chandra Talpade Mohanty, serta Édouard Glissant menghadirkan perspektif beragam dalam memahami kolonialisme dan proses dekolonisasi.

Dalam pemaparannya, akademisi yang memiliki latar belakang interdisipliner dalam bidang ilmu politik dan sosiologi ini, menyoroti posisi Lithuania yang ambigu dalam kajian poskolonial, khususnya dalam konteks post-Soviet. Untuk memahami ambiguitas tersebut, Lithuania perlu dilihat dalam kerangka post-imperial, yakni sebagai negara yang mengalami transisi dari kekuasaan Kekaisaran Rusia hingga Uni Soviet menuju fase pasca-Soviet. Negara ini tidak mudah dikategorikan sebagai “terjajah” dalam pengertian kolonialisme klasik, namun tetap mengalami bentuk dominasi yang menyerupai kolonialisme (colonial-like domination).

Secara geografis, Lithuania merupakan negara dengan luas sekitar 65.300 km², atau kurang lebih setengah dari Pulau Jawa, dengan jumlah penduduk sekitar 2,9 juta jiwa yang setara dengan populasi penduduk di Kota Yogyakarta. Bahasa nasionalnya, yaitu bahasa Lithuania, termasuk dalam rumpun Indo-Eropa cabang Baltik dan menjadi bagian penting dari identitas nasional yang tetap bertahan di tengah berbagai tekanan sejarah.

Dari sisi historis, Lithuania pernah tergabung dalam persatuan politik melalui Uni Polandia–Lithuania pada tahun 1569. Namun, pada tahun 1795, negara ini kehilangan kedaulatannya dan menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia. Sejak saat itu, berbagai kebijakan yang diterapkan menunjukkan bahwa dominasi yang terjadi tidaklah sederhana, melainkan berlangsung secara sistematis dan kompleks.

Dalam pemaparannya, sosiolog yang telah melakukan riset ilmiah selama sepuluh tahun lebih tersebut juga menerangkan persoalan terkait pandangan sejarawan Darius Staliūnas yang mendeskripsikan dominasi Rusia di Lithuania menyasar berbagai aspek kehidupan. Dalam bidang politik, Lithuania berada di bawah kontrol kekuasaan eksternal yang membatasi kedaulatan nasional. Dalam aspek sosial, praktik represi seperti sensor dan pembatasan kebebasan menjadi bagian dari pengalaman masyarakat. Secara ekonomi, terjadi eksploitasi serta pengalihan orientasi ekonomi untuk kepentingan pusat kekuasaan.

Selanjutnya pada bidang budaya, bahasa, dan agama, dominasi ini tampak melalui kebijakan yang mendorong Russification. Pemerintah Rusia mempromosikan Kristen Ortodoks, membatasi pengaruh Gereja Katolik, serta pernah melarang penggunaan alfabet Latin. Kebijakan ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menggeser identitas lokal Lithuania. Selain itu, pendidikan dan pengetahuan juga dijadikan sebagai alat kontrol untuk membentuk cara berpikir masyarakat agar sesuai dengan kepentingan kekuasaan.

Sebagai bentuk respons terhadap tekanan tersebut, masyarakat Lithuania menunjukkan berbagai bentuk resistensi, salah satunya melalui tindakan migrasi besar-besaran. Pada periode 1865–1915, sekitar 700.000 penduduk Lithuania meninggalkan negaranya dan berpindah ke berbagai wilayah, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Brasil, Argentina, dan Jerman. Migrasi ini dapat dipahami sebagai bentuk perlawanan tidak langsung terhadap dominasi yang mereka alami.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, Lithuania memasuki fase post-Soviet transition yang ditandai dengan pemulihan kemerdekaan politik pada tahun 1990 serta berakhirnya kontrol langsung dari kekuatan eksternal. Namun demikian, dampak dari dominasi sebelumnya masih terasa hingga saat ini. Lithuania, seperti negara-negara Eropa Timur lainnya, menghadapi tantangan sebagai negara yang relatif kurang berkembang, belum sepenuhnya modern, dan masih berada dalam proses mengejar ketertinggalan dari negara-negara Barat.

Oleh karena itu, pengalaman Lithuania menunjukkan bahwa kolonialisme tidak selalu berbentuk penjajahan geografis yang eksplisit, tetapi juga dapat dikenali melalui relasi kuasa yang kompleks dan berlapis. Ambiguitas inilah yang menjadikan Lithuania sebagai kasus yang menarik dalam kajian poskolonial, sekaligus memperluas cakupan analisis poskolonial di luar wilayah Global South.

[Magister Sastra, Selvia Parwati Putri]

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Gadjah Mada dan Universitas Islam Darussalam

News Release Rabu, 6 Mei 2026

Ciamis, 25 April 2026 — Departemen Studi Antarbudaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) dan Kuliah Pakar di Universitas Islam Darussalam pada tanggal 25–26 April 2026. Acara ini mempertemukan para dosen, mahasiswa, dan komunitas pesantren dalam sebuah suasana yang memadukan diskusi akademik dengan interaksi sehari-hari.

Kunjungan ini juga melanjutkan hubungan yang sudah terjalin antara kedua institusi, khususnya melalui Prof. Dr. K.H. Fadlil Munawwar Manshur. Dalam sambutannya, beliau menggambarkan program ini lebih dari sekadar agenda akademik formal. Baginya, kegiatan ini merupakan bentuk silaturahim, di mana ilmu dibagikan dengan cara yang lebih personal dan terbuka.

Delegasi ini dipimpin oleh Prof. Dr. Aris Munandar, yang berbicara tentang peran Pengkajian Amerika (American Studies) dalam membaca pengaruh global. Ia menyoroti bahwa pengaruh tersebut tidak selalu datang dalam bentuk yang langsung atau kasat mata. Dalam banyak kasus, pengaruh ini muncul melalui kebiasaan sehari-hari seperti penulisan akademik, sistem publikasi, dan standar yang secara bertahap diikuti oleh para akademisi.

Oleh karena itu, menurutnya, program studi Pengkajian Amerika memainkan peran penting dalam membantu akademisi untuk secara kritis mengenali dan menavigasi pengaruh-pengaruh halus tersebut, yang sering kali muncul melalui kebiasaan dalam penulisan akademik, sistem publikasi, dan standar keilmuan.

Beberapa pembicara kemudian mempresentasikan topik mereka dalam sesi-sesi paralel. Dr. Mahmudah membahas feminisme dalam sastra Arab dan posisinya dalam pendidikan Islam. Dr. Amin Basuki berfokus pada bagaimana pola akademik Amerika dapat dilihat pada jurnal-jurnal terindeks SINTA, terutama dalam cara artikel disusun dan dievaluasi. Dr. Muhammad Zakki Masykur berbicara tentang bahasa Arab dan karya-karya ulama Jawa yang menunjukkan bahwa tradisi lokal tetap aktif dalam produksi pengetahuan. Sementara itu, Dr. Stedi Wardoyo menjelaskan bagaimana moralitas dalam masyarakat Jepang sering kali tumbuh dari kehidupan keluarga dan kebiasaan sosial, tidak hanya dari agama.

Di luar sesi formal, program ini juga mencakup kegiatan bersama seperti mengikuti majelis Shalawat Burdah bersama komunitas pesantren. Momen-momen seperti ini membuat kunjungan terasa lebih cair dan akrab. Hal ini menunjukkan bahwa pengabdian kepada masyarakat bukan hanya sekadar penyampaian materi, tetapi juga tentang membangun hubungan.

Sebagai institusi yang menyelenggarakan pendidikan dari tingkat usia dini hingga perguruan tinggi, Universitas Islam Darussalam juga menawarkan ruang untuk kolaborasi di masa depan, khususnya dalam pendidikan karakter. Program ini, dengan cara yang sederhana, menunjukkan bahwa kerja sama akademik dapat tumbuh melalui pertemuan, perbincangan, dan kebersamaan.

Pelaksanaan Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) oleh Departemen Antarbudaya FIB UGM di Pondok Pesantren Daruddalam, Ciamis, Jawa Barat

Pengabdian Kepada MasyarakatRilis Berita Rabu, 29 April 2026

Yogyakarta,  25 – 26 April 2026 – Tiga tim PkM yang diketuai oleh Dr. Stedi Wardoyo, S.S., M.A., Dr. Amin Basuki, S.S., M.A., dan Dr. Mahmudah M.Hum. yang tergabung dari Departemen Antarbudaya telah melaksanakan kegiatan PkM di Pondok Pesantren Darussalam, Ciamis, Jawa Barat.

Materi yang disampaikan oleh ke-3 tim PkM berjudul:“Agama dan Moralitas dalam Masyarakat Jepang” oleh tim PkM Prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang; ”Bahasa Arab dan karya Ulama Jawa”, oleh Muhammad Zakki Masykur; ”Feminisme dalam Sastra Arab dan Pendidikan Islam” oleh Dr. Mahmudah, M.Hum., dari Prodi Sastra Arab Departemen Antarbudaya; dan ”Pengaruh Amerika dalam Penulisan Artikel Ilmiah di Indonesia Analisis Jurnal Terakreditasi SINTA” oleh Dr. Amin Basuki, S.S., M.A. dari American Studies UGM.

Kegiatan PkM ini diharapkan memberikan para santri mengenai Jepang tidak sekedar berkaitan dengan budaya populer (komik, animasi, musik, drama), namun juga pemahaman mengenai budaya Jepang lain yang lebih prinsip untuk dipahami, para santri makin menyadari bahwa ajaran agama (islam) dapat menjadi panduan dalam kehidupan sehari-hari dan dapat menjadikan masyarakat hidup lebih harmonis dan meiliki etos kerja yang baik, civitas pesantren dan pengelolannya mendapat wawasan perkembangan pendidikan tinggi saat ini dan pengaruh Amerika Serikat khususnya terkait gaya penulisan ilmiah, pesantren dapat semakin bersaing dan melakukan internasionalisasi yang proporsional untuk meningkatkan visibilitas di dunia pendidikan melalui tulisan-tulisan ilmiah, para santro memiliki cara pandang baru terkait ritual pembacaan shalawat, para santri senior diharapkan menjadi semacam intelektual organik yang mengembangkan pemaknaan ritual secara lebih masif.

Kegiatan PkM ini mendukung Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4: Pendidikan Berkualitas, melalui peningkatan akses dan kualitas pendidikan berbasis keilmuan lintas budaya; SDG 10: Berkurangnya Kesenjangan, dengan memperluas akses pengetahuan global bagi komunitas pesantren; serta SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, melalui kolaborasi antara perguruan tinggi dan lembaga pendidikan keagamaan dalam pengembangan kapasitas masyarakat.

[Unit PKM dan Alumni FIB UGM]

Prof. Pujiharto Menyinggung Metode Dekontruksi Dalam Membaca Karya Sastra

News Release Selasa, 21 April 2026

Universitas Gadjah Mada resmi mengukuhkan Prof. Dr. Pujiharto, S.S., M.Hum. sebagai Guru Besar dalam bidang Sastra Indonesia Pasca Modern pada Fakultas Ilmu Budaya, dalam upacara yang digelar di Balai Senat UGM, Selasa, 14 April 2026.

Pengukuhan berlangsung khidmat dan dihadiri pimpinan universitas, sivitas akademika, keluarga, serta tamu undangan. Rangkaian acara diawali dengan pembukaan sidang senat, pembacaan Surat Keputusan Menteri, hingga prosesi pemasangan samir sebagai simbol jabatan akademik tertinggi.

Dalam pidato pengukuhannya berjudul Sastra Indonesia Pasca Modern, Prof. Pujiharto mengulas perkembangan sastra Indonesia dari era tradisional, modern, hingga pasca modern. Ia menjelaskan bahwa istilah “modern” bukan sekadar penanda waktu, melainkan konstruksi sejarah yang terus mengalami perubahan makna.

“Kalau kita mendengar istilah pasca modern, tampaknya pikiran kita akan terarah pada suatu penggal waktu setelah modern. Namun kalau kita telusuri secara historis, modern sebagai istilah ternyata adalah suatu konstruksi,” ujar Pujiharto.

Ia memaparkan bahwa sastra tradisional cenderung berfokus pada kisah istana, kepahlawanan, keajaiban, dan nilai moral. Sementara sastra modern mulai menyoroti kehidupan sehari-hari serta persoalan sosial manusia.

Menurutnya, sastra pasca modern membawa pembaca pada gagasan pluralitas ontologis, yakni keberadaan banyak realitas dalam satu ruang pemikiran. Pendekatan tersebut tampak dalam karya-karya seperti Pabrik dan Telegram karya Putu Wijaya.

Selain itu, Prof. Pujiharto menyinggung metode dekonstruksi dalam membaca karya sastra, termasuk pada novel Siti Nurbaya karya Marah Rusli dan Kitab Omong Kosong karya Seno Gumira Ajidarma. Ia menilai pendekatan tersebut membuka cara pandang baru terhadap narasi-narasi yang selama ini dianggap mapan.

Dalam pidatonya, ia juga menyoroti relevansi sastra pasca modern di era digital. Menurutnya, perkembangan teknologi informasi dan kecerdasan buatan menghadirkan dunia yang semakin artifisial, sehingga masyarakat dituntut lebih kritis dalam membedakan fakta, simulasi, maupun parodi.

“Penggunaan AI telah membawa kita kepada satu dunia yang serba artifisial,” katanya.

Menutup pidatonya, Prof. Pujiharto menyampaikan terima kasih kepada keluarga, para guru, kolega, serta seluruh pihak yang mendukung perjalanan akademiknya hingga mencapai jabatan Guru Besar.

Pengukuhan ini menambah deretan profesor di lingkungan Fakultas Ilmu Budaya UGM serta memperkuat kontribusi kampus tersebut dalam pengembangan kajian sastra Indonesia di tingkat nasional maupun global.

[Magister Sastra, Khotibul Umam]

1234…18

Rilis Berita

  • Menemukan Benang Merah dalam Karya Tulis bersama Prof. Tania Li
  • Prof. Putu Sampaikan Pidato Valediktori dan Luncurkan 3 Buku Usai 43 Tahun Mengabdi di FIB UGM
  • Mahasiswa Sastra Arab UGM Pelajari Bahasa Mandarin dan Budaya Taiwan lewat Summer Course
  • Prof. Pujo dalam Workshop “Commodity, Plantation and Colonialism in Indonesia” di Munich, Jerman
  • Mengurai Relasi Negara dan Warga Melalui Rusunawa: Kolokium Series Antropologi Bersama Clara Siagian, Ph.D.

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju