Yogyakarta, 20 November 2025 – Pelaksana Tugas (Plt.) Duta Besar Korea Selatan untuk Indonesia, Park Soo-deok, menyampaikan bahwa Indonesia menjadi satu-satunya negara di Asia Tenggara yang menjalin kemitraan strategis khusus dengan Korea Selatan. Hal tersebut ia ungkapkan dalam kuliah umum bertajuk Public Diplomacy: Building Bridges between Korea and Indonesia yang diselenggarakan oleh Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea Universitas Gadjah Mada (UGM) di Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM.
Kegiatan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa dari berbagai latar belakang disiplin ilmu. Dalam pemaparannya, Park menjelaskan bahwa hubungan bilateral Indonesia dan Korea Selatan yang telah terjalin selama lebih dari 50 tahun berlandaskan pada kesamaan nilai fundamental. Ia menuturkan bahwa kedua negara menjunjung tinggi prinsip demokrasi, supremasi hukum, penghormatan terhadap hak asasi manusia, serta kerja sama multilateral di tingkat internasional.
Selain nilai-nilai modern tersebut, Park juga menyoroti kesamaan nilai tradisional yang hidup dalam masyarakat Indonesia dan Korea Selatan. Nilai kerja sama kolektif, yang dikenal sebagai gotong royong di Indonesia dan sanggu sangjo di Korea, dinilai menjadi kekuatan budaya yang mempererat hubungan antarbangsa.
Di sektor ekonomi, Park menegaskan posisi Korea Selatan sebagai salah satu investor utama di Indonesia. Ia melihat Indonesia memiliki potensi besar sebagai penggerak ekonomi global dan optimistis negara ini mampu menempati posisi lima besar ekonomi dunia pada tahun 2030. Optimisme tersebut mencerminkan pentingnya kerja sama internasional dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan inklusif.
Sementara itu, dalam bidang pendidikan, Park menyebut pertukaran pelajar sebagai elemen penting dalam hubungan Indonesia–Korea Selatan. Ia mengungkapkan bahwa setiap tahun hampir 200 pelajar Indonesia mendapatkan kesempatan menempuh pendidikan di Korea Selatan melalui program Global Korea Scholarship (GKS). Program ini menunjukkan komitmen kedua negara dalam meningkatkan kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan.
Pada sesi yang sama, Diplomat Kedutaan Besar Korea Selatan, Lee Seo Yeon, memaparkan strategi diplomasi publik Korea Selatan yang banyak bertumpu pada kekuatan budaya populer. Menurutnya, fenomena K-Pop dan K-Drama berperan besar dalam membangun citra positif Korea Selatan di mata masyarakat global. Pengalaman budaya yang menyenangkan, jelas Lee, secara alami dapat menumbuhkan ketertarikan dan sikap positif terhadap Korea Selatan.
Lee juga menambahkan bahwa budaya populer memberikan dampak langsung terhadap sektor pariwisata. Ia mencontohkan peningkatan jumlah wisatawan yang berkunjung ke Korea Selatan setelah pandemi, yang dipengaruhi oleh tingginya minat terhadap drama dan film Korea yang diakses melalui platform digital. Hal ini menunjukkan keterkaitan antara diplomasi budaya, ekonomi kreatif, dan pembangunan berkelanjutan.
Menjelang penutupan acara, Park mengapresiasi kemampuan berbahasa Korea para pelajar Indonesia, termasuk mahasiswa UGM. Ia mengisahkan pengalamannya menghadiri ajang kontes pelajar bahasa Korea di Lotte Shopping Mall, Jakarta, pada Juni lalu, yang meninggalkan kesan mendalam atas tingginya kompetensi bahasa para peserta. Park menegaskan komitmennya untuk terus memberikan dukungan terhadap pengembangan pembelajaran bahasa Korea di Indonesia.
Kuliah umum ini sekaligus membuka rangkaian kegiatan Korean Days 2025. Kepala Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM, Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D., menyampaikan bahwa kegiatan tersebut diharapkan mampu memperkuat hubungan antara program studi dan Kedutaan Besar Korea Selatan. Ia menilai kerja sama yang solid akan menjadi dasar penting dalam pengembangan kolaborasi ke depan, terutama terkait program beasiswa serta upaya mengaktifkan kembali jurnal akademik program studi.
Melalui penyelenggaraan kegiatan ini, FIB UGM terus berperan sebagai ruang dialog akademik dan diplomasi budaya yang mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya dalam bidang pendidikan berkualitas dan kemitraan global untuk pembangunan berkelanjutan.
[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]








