Yogyakarta, 24 Februari 2026 – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) menggelar Pelatihan Softskill bertajuk “Pembekalan bagi Calon Wisudawan/wati dan Mahasiswa” pada pukul 13.00–15.00 WIB di Auditorium Gedung Poerbatjaraka Lantai 3. Kegiatan ini menghadirkan alumni Sastra Indonesia FIB UGM sekaligus Ketua IWAPI dan pendiri Bundaco, Erwina Kusmarini, S.S., untuk berbagi pengalaman menangkap peluang usaha dan membangun kemandirian setelah lulus.
Dalam sambutannya, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FIB UGM, Mimi Savitri, M.A., Ph.D., menegaskan pentingnya pembekalan bagi mahasiswa menjelang kelulusan. “Kegiatan ini tentunya memberikan bekal sekaligus gambaran kepada teman-teman sekalian setelah lulus dari FIB UGM,” ujarnya.
Koordinator Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Yusuf Sulistiyo, A.Md., S.Psi., M.M., turut menyampaikan pengumuman akademik sebelum sesi utama dimulai. Moderator Dr. phil. Ramayda Akmal, S.S., M.A., kemudian memperkenalkan narasumber dan membacakan riwayat singkatnya.
Dalam pemaparannya, Erwina Kusmarini mengangkat tema “Kisah Bundaco dan Semangat Menangkap Peluang”. Ia menceritakan langkah awal merintis usaha pada 2004 dari rumah di Klaten dengan satu mesin jahit rumahan. Ia memulai usaha tanpa latar belakang keluarga pebisnis dan tanpa pendidikan formal di bidang teknik atau ekonomi. Keterbatasan modal, jaringan, dan keterampilan teknis menjadi tantangan yang dihadapi sejak awal. Ia belajar langsung dari penjahit lokal, vendor kain, dan komunitas sekitar untuk mengembangkan usahanya.
Bundaco, singkatan dari Bunda Collection, tumbuh sebagai usaha konveksi yang memproduksi seragam sekolah, baju komunitas, fesyen muslim, hingga pesanan khusus untuk instansi dan organisasi. Ia menekankan pentingnya menjaga kualitas dan pelayanan sebagai fondasi pertumbuhan usaha.
Saat pandemi COVID-19 melanda, produksi dialihkan ke alat pelindung diri dan masker kain untuk menjawab kebutuhan masyarakat. Inovasi tersebut menjaga keberlangsungan usaha sekaligus memperluas jangkauan pasar. Pada tahun-tahun berikutnya, ia dipercaya memimpin IWAPI Klaten dan menggerakkan pelatihan konveksi serta pemasaran digital bagi ratusan pelaku UMKM perempuan.
Dalam sesi tanya jawab, Erwina mendorong mahasiswa untuk berani memulai dan terus belajar. Ia menegaskan bahwa latar belakang ilmu budaya tidak menjadi penghalang untuk berwirausaha. Kepekaan sosial dan kemampuan membaca peluang dinilai sebagai modal penting dalam membangun usaha.
Pelatihan ditutup dengan penyerahan kenang-kenangan dari fakultas kepada narasumber dan sesi foto bersama. Melalui kegiatan ini, FIB UGM berupaya menyiapkan lulusan yang adaptif, berdaya saing, dan mampu memberi dampak bagi masyarakat. Pembekalan semacam ini diharapkan mendorong lahirnya generasi yang tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan peluang dan memberdayakan lingkungan sekitarnya secara berkelanjutan.
[Humas FIB UGM, Candra Solihin]







