Dalam rangka Dies Natalis ke-80 Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM), Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM menyelenggarakan Workshop Internasional bertajuk Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang pada Kamis (9/7/2026). Kegiatan ini mengajak akademisi, mahasiswa, dan masyarakat umum untuk meninjau kembali seni pewayangan, tidak hanya sebagai warisan budaya masa lalu, tetapi juga sebagai tradisi yang terus berkembang dan tetap relevan dalam menjawab tantangan masa kini maupun masa depan.
Untuk mengulas tema tersebut secara komprehensif, workshop menghadirkan tiga narasumber yang memiliki kepakaran di bidangnya, yaitu Prof. Matthew Isaac Cohen, Ph.D., Alan H. Feinstein, Ph.D., dan Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A. Jalannya diskusi dipandu oleh Zakariya Pamuji Aminullah, S.S., M.A. sebagai moderator.
Acara dimulai pada pukul 09.00 WIB dengan sambutan dari Dr. Rudy Wiratama, S.I.P., M.A. selaku ketua koordinator kegiatan, yang kemudian dilanjutkan oleh Dr. Mimi Savitri, M.A. selaku Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni FIB UGM. Setelah sesi pembukaan, workshop internasional resmi dimulai.
Sebagai pembicara pertama, Prof. Matthew Isaac Cohen, Ph.D., membahas kehidupan seni wayang di ruang virtual, khususnya perkembangan yang semakin terlihat pada masa pandemi. Menurutnya, keberadaan seni wayang di dunia digital sebenarnya telah dimulai jauh sebelum pandemi melalui siaran langsung pertunjukan wayang kulit. “Hidupnya seni wayang dalam dunia virtual ternyata sudah dimulai sebelum era pandemi, dengan hadirnya siaran langsung wayang kulit yang telah dilakukan,” jelasnya. Ia juga memaparkan bahwa eksistensi wayang di ruang virtual terus mengalami transformasi melalui berbagai bentuk inovasi, mulai dari hadirnya komunitas seperti Posko Dalang Nusantara, publikasi buku #Dalang Goes to Twitter, kemunculan Wayang Jemblung pada masa pandemi, hingga pengembangan wayang dalam bentuk animasi berbasis kecerdasan artifisial (AI).
Pembicara kedua, Alan H. Feinstein, Ph.D., mengangkat tema historiografi dan dokumentasi lakon wayang Jawa. Ia menjelaskan bahwa upaya pendokumentasian lakon wayang telah dilakukan sejak masa kolonial, baik melalui proyek dokumentasi lakon carangan maupun penghimpunan berbagai sumber naskah kuno. Menurutnya, wayang dapat dikaji dari beragam perspektif keilmuan sehingga dokumentasi terhadap fakta, data, dokumen, maupun berbagai bentuk bukti lainnya menjadi sangat penting. Hal tersebut diperlukan karena pertunjukan wayang bersifat fana dan tidak meninggalkan jejak setelah dalang mengakhiri pementasannya.
Pada sesi terakhir, Dr. G.R. Lono Lastoro Simatupang, M.A., membahas eksistensi perempuan dalam seni pertunjukan wayang, baik dari perspektif dalang, tokoh wayang, representasi perempuan, maupun lakon yang dipentaskan. Ia menjelaskan bahwa keterlibatan perempuan dalam dunia pewayangan telah menunjukkan perkembangan yang positif, meskipun masih memerlukan berbagai upaya penguatan. “Saya menyarankan penambahan dalang perempuan, peningkatan keterampilan perempuan dalam seni pertunjukan wayang, hingga penciptaan lakon-lakon carangan yang sesuai dengan perkembangan zaman,” ungkapnya.
Melalui workshop ini, wayang Jawa dipahami tidak hanya sebagai seni pertunjukan, tetapi juga sebagai cermin dinamika sosial dan kebudayaan yang terus berkembang. Berbagai paparan yang disampaikan menunjukkan bahwa eksistensi wayang senantiasa berkelindan dengan konteks zamannya serta terus mengalami transformasi tanpa kehilangan nilai-nilai budaya yang menjadi pondasinya. Sejalan dengan tema Membaca Ulang Wayang: Mengenang yang Silam, Menjelang yang Datang, workshop ini memperlihatkan bahwa pelestarian wayang tidak hanya dilakukan melalui pewarisan tradisi, tetapi juga melalui dokumentasi, pembacaan kritis, serta berbagai inovasi yang menjaga relevansinya di tengah perkembangan zaman.
Penulis: Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa




