YOGYAKARTA (07/09)—Sasmita Lindhu, Tim Program Kreativitas Mahasiswa bidang Riset Sosial Humaniora (PKM-RSH) Universitas Gadjah Mada tengah melakukan riset terhadap manuskrip Jawa untuk mentransformasi kesiapsiagaan gempa melalui pendekatan ethno-seismology. Sasmita berarti tanda dan lindhu berarti gempa bumi. Riset ini menggabungkan catatan sejarah bencana gempa bumi dalam manuskrip Jawa dengan data modern guna mengungkap pola kegempaan sekaligus membangun ketangguhan masyarakat di Yogyakarta sebagai wilayah rawan gempa bumi.
Maraknya isu potensi gempa megathrust dan ancaman gempa di Yogyakarta belakangan ini kerap memicu kecemasan publik. Selaras dengan hal tersebut, PUSGEN 2017 juga mengidentifikasi potensi gempa megathrust di selatan Jawa dengan magnitudo maksimum mencapai 8,8. Data tersebut menempatkan kesiapsiagaan gempa sebagai kebutuhan penting bagi masyarakat Yogyakarta. Hadirnya riset ini, diharapkan dapat menjadi angin segar untuk mengikis kepanikan tersebut dengan mengembalikan pendekatan mitigasi ke akar budaya lokal yang jauh lebih akrab dan mudah dipahami masyarakat.
Inovasi riset ini mengisi celah riset mitigasi gempa sebelumnya yang cenderung hanya memanfaatkan data modern. Tim Sasmita Lindhu menggabungkan catatan gempa manuskrip-manuskrip Jawa dengan catatan gempa kolonial karya peneliti Belanda Arthur Wichmann (1538–1877) dan data gempa modern, seperti BMKG dan Survei Geologi Amerika Serikat (USGS).
(Lok: Perpustakaan Teknik, Fakultas Teknik UGM)
Kombinasi interdisipliner ini memungkinkan Tim Sasmita Lindhu membaca jejak dan pola gempa bumi di Yogyakarta hingga mundur lebih dari 400 tahun ke belakang. Narasi peristiwa gempa bumi dan petunjuk keselamatan dari masa lalu itu kemudian dikuantifikasi ke dalam skala Modified Mercalli Intensity (MMI) dan diolah dengan pemodelan statistik Gutenberg-Richter agar menghasilkan peta perkiraan gempa yang akurat.
Proses pengumpulan data riset ini berfokus pada studi manuskrip dan observasi lapangan. Tim mengkaji serta mentransliterasi arsip beraksara Jawa di perpustakaan Museum Sonobudoyo, Pura Pakualaman, dan Keraton Yogyakarta sebagai sumber data, serta kajian filologi dalam bentuk artikel ilmiah sebagai data pendukung.
Untuk memvalidasi data manuskrip secara kualitatif, tim melakukan wawancara terstruktur dengan Abdi Dalem sebagai pelaku budaya dan penyintas korban gempa Yogyakarta tahun 2006. Pendekatan sosial humaniora ini digunakan untuk menggali memori kolektif masyarakat, memetakan praktik kearifan lokal yang masih bertahan, serta mengukur tingkat pemahaman warga terhadap risiko gempa di Yogyakarta dan sekitarnya.
(Lok: Perpustakaan Widyabudaya Keraton Yogyakarta)
Riset inovatif Sasmita Lindhu ini meraih pendanaan resmi dalam PKM-RSH tahun 2026 yang diselenggarakan oleh Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi. Tim riset beranggotakan tiga mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya, yaitu Aliffa Aprilyani, Firdausi Nuzula, dan Maysa Putri Fatihah, serta dua mahasiswa Fakultas Teknik, yaitu Iwan Dwi Ferdianto dan Akmal Kurniawan. Perjalanan riset sosial humaniora ini didampingi oleh Dr. Aprillia Firmonasari, S.S., M.Hum., DEA. dari Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.
“Riset ini menjadi upaya kami untuk berkontribusi dalam membangun Yogyakarta tangguh gempa melalui pemanfaatan manuskrip Jawa,” ungkap Aliffa, selaku ketua tim Sasmita Lindhu.
Dengan luaran Model Transformasi Resiliensi gempa bumi berbasis budaya dalam bentuk policy brief, riset ini berkontribusi aktif dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya pada poin 4 tentang Pendidikan Berkualitas, poin 11 tentang Kota dan Komunitas Berkelanjutan, poin 13 tentang Penanganan Perubahan Iklim melalui penataan strategi tangguh bencana, serta poin 17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dengan lembaga pemerintah (BPBD).
Penulis: Maysa Putri Fatihah dan Aliffa Apriliyani
Editor: Maylafaizza Nafisha Zifa





