Yogyakarta — Malam di Pondok A. Salam, Kalimasada, menjadi lebih hangat ketika sesi Unggunan Cerita menghadirkan penulis Mahfud Ikhwan dalam rangkaian Kemah Sastra bersama Alam-Semesta 2026. Dalam suasana santai dan akrab, Mahfud berbagi cerita tentang perjalanan kepenulisan, proses kreatif, riset, kegemarannya pada budaya populer, hingga bagaimana ia memandang kritik sastra.
Sesi ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengintip “dapur kreatif” seorang penulis yang selama bertahun-tahun membangun karya melalui ketekunan, riset, dan kedekatan dengan kehidupan sehari-hari.
Mahfud mengawali perjalanan kepenulisannya melalui novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009). Namanya kemudian semakin dikenal melalui Kambing dan Hujan: Sebuah Roman (2015) dan Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017). Karya-karya tersebut memperlihatkan perhatian Mahfud pada kehidupan masyarakat, terutama dunia desa dan kelompok-kelompok yang kerap berada di pinggiran arus utama.
Dalam Unggunan Cerita, Mahfud berbicara cukup jauh mengenai proses kreatifnya. Ia mengungkapkan bahwa menulis sebuah novel bukan pekerjaan yang selalu dapat diselesaikan dalam hitungan bulan. Sebuah novel bahkan dapat dikerjakannya selama bertahun-tahun, hingga mencapai sembilan tahun untuk satu karya.
Menurut Mahfud, setiap novel membutuhkan treatment, cara kerja, metode, dan riset yang berbeda. Tidak ada satu resep yang dapat diterapkan untuk semua karya. Riset untuk menulis karya sastra pun, menurutnya, tidak dapat begitu saja disamakan dengan riset ilmiah. Semuanya bergantung pada jenis cerita, dunia yang hendak dibangun, serta apa yang ingin disampaikan melalui karya.
Ia kemudian menyinggung kebiasaan menulis Haruki Murakami sebagai salah satu contoh bagaimana seorang penulis dapat membangun disiplin kreatif melalui rutinitas. Murakami dikenal dengan kebiasaan berlari dan menulis secara teratur. Bagi Mahfud, contoh tersebut memperlihatkan bahwa proses kreatif juga membutuhkan kerja rutin dan ketekunan, bukan semata-mata menunggu datangnya inspirasi.
Salah satu gagasan menarik yang dibagikan Mahfud adalah nasihat agar penulis tidak selalu memulai cerita dari gagasan-gagasan besar atau grand narrative. Cerita, menurutnya, justru dapat tumbuh dari sesuatu yang tampak kecil: sebuah peristiwa, adegan, percakapan, atau dialog yang menarik.
Hal-hal kecil tersebut dapat menjadi pintu masuk ke dalam cerita yang lebih luas. Yang penting adalah bagaimana peristiwa atau adegan tersebut mampu membuat pembaca betah mengikuti cerita dan terus merasa penasaran.
Dengan cara demikian, penulis tidak perlu sejak awal memaksakan sebuah gagasan besar ke dalam cerita. Sebuah percakapan sederhana atau peristiwa yang tampaknya sepele dapat berkembang menjadi dunia cerita yang kompleks apabila digarap dengan tepat.
Pandangan tersebut juga tampak dalam cara Mahfud melihat kehidupan masyarakat di luar pusat kebudayaan. Ia akrab dengan apa yang disebutnya sebagai budaya dan hiburan rendah—wilayah kebudayaan populer yang sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan.
Kehidupan masyarakat dan dunia pinggiran, misalnya, justru menjadi bahan yang diolah Mahfud menjadi karya sastra. Salah satunya adalah Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu, yang mengangkat kehidupan masyarakat di sebuah wilayah pedesaan dan berhasil memperoleh penghargaan sastra bergengsi.
Kegemaran Mahfud terhadap budaya populer juga tidak berhenti sebagai konsumsi pribadi. Dangdut, film India, dan sepak bola menjadi bagian dari dunia yang kemudian masuk ke dalam karya-karyanya.
Ketertarikannya pada sepak bola, misalnya, melahirkan novel Bek: Sebuah Novel (2024). Sementara kecintaannya pada film India dituangkan dalam buku esai Aku dan Film India Melawan Dunia (2017). Kegemarannya terhadap dangdut dan berbagai fenomena budaya populer lainnya kemudian hadir dalam Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop Lainnya (2024).
Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa bahan sastra tidak harus selalu datang dari sesuatu yang dianggap “tinggi”. Kehidupan sehari-hari, hiburan populer, kebiasaan masyarakat, bahkan hal-hal yang kerap dianggap remeh dapat menjadi sumber kreativitas.
Bagi Mahfud, justru dari wilayah-wilayah semacam itulah cerita sering kali memiliki kedekatan dengan pengalaman manusia yang konkret.
Menjelang akhir sesi, pembicaraan bergeser pada persoalan kritik sastra. Mahfud menjelaskan bahwa kritik yang baik memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar memberikan penilaian atau mencari kelemahan sebuah karya.
Ia mengibaratkan kritik sastra seperti latihan menyanyi dan suara fals. Seorang penyanyi mungkin tidak menyadari bahwa ada nada tertentu yang dinyanyikannya kurang tepat. Demikian pula seorang pengarang tidak selalu mengetahui seluruh hal yang bekerja di dalam karyanya.
“Ada hal-hal tertentu yang bahkan penulis sendiri tidak tahu dan sadari.”
Karena itu, kritik sastra dapat membantu membuka kemungkinan-kemungkinan yang tidak terlihat oleh pengarang sendiri. Dengan perspektif, teori, dan metode yang tepat, kritik dapat menjadi cara untuk membaca karya secara lebih tajam dan produktif.
Kritik sastra, dalam pandangan Mahfud, tidak seharusnya berhenti pada apa yang belakangan kerap diasosiasikan dengan perdebatan di media sosial: sekadar “nyinyir”, saling serang, atau ribut-ribut tanpa pijakan yang jelas.
Mahfud sendiri pernah menulis kritik melalui bukunya Melihat Pengarang Tidak Bekerja (2022). Buku tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana ia mempraktikkan kritik dengan caranya sendiri: dekat dengan karya, tetapi tetap berusaha melihat proses dan persoalan kepengarangan secara kritis.
Sesi Unggunan Cerita akhirnya menjadi lebih dari sekadar percakapan tentang teknik menulis. Dari perjalanan panjang sebuah novel hingga kesukaan terhadap dangdut, film India, dan sepak bola, Mahfud menunjukkan bahwa dapur kreatif seorang penulis dapat berada di mana saja.
Cerita bisa tumbuh dari desa, dari pinggiran, dari lapangan sepak bola, dari layar film India, dari panggung dangdut, atau bahkan dari sebuah dialog kecil yang awalnya tampak tidak penting. Yang membedakan adalah bagaimana seorang penulis melihat, mengolah, meriset, dan memberinya bentuk.
Di bawah langit malam Kalimasada, Unggunan Cerita memperlihatkan bahwa sastra tidak selalu lahir dari gagasan-gagasan besar. Kadang-kadang, ia justru bermula dari hal kecil yang diperhatikan dengan sungguh-sungguh—lalu dikerjakan dengan sabar selama bertahun-tahun.
Penulis: Khotibul Umam






