• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 4 Pendidikan Berkualitas
Arsip:

SDGs 4 Pendidikan Berkualitas

Kuliah Perdana Program Sarjana FIB UGM 2026: Tanamkan Empati dan Etika Lewat “Be Kind: Because ‘Just Kidding’ Isn’t Always Kind”

Rilis Berita Kamis, 27 Agustus 2026

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) menggelar Kuliah Perdana Program Sarjana Tahun Akademik 2026/2027 pada Selasa (18/8). Acara yang berlangsung di ruang utama Auditorium Soegondo FIB UGM ini dihadiri oleh sekitar 800 mahasiswa baru angkatan 2026.

Pada kuliah perdana kali ini, FIB UGM menghadirkan narasumber dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, yaitu dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D. Beliau merupakan dosen dari Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial. Dalam kesempatan tersebut, dr. Bagas membawakan materi penting yang bertajuk “Be Kind: Because ‘Just Kidding’ Isn’t Always Kind”.

Dalam pemaparannya, dr. Bagas menyoroti maraknya gangguan kesehatan mental yang berdampak pada remaja di Indonesia. Masalah tersebut sering kali dipicu oleh rasa kesepian, ketiadaan teman cerita, serta trauma masa lalu. Salah satu pemicu yang kerap tidak disadari di lingkungan sosial adalah candaan yang melampaui batas. Beliau mengingatkan bahwa banyak kasus di mana seseorang bermaksud bercanda, tetapi secara tidak sadar justru menyakiti perasaan orang lain.

Guna mengantisipasi hal tersebut, dr. Bagas menekankan pentingnya menerapkan sikap-sikap dasar dalam berinteraksi, seperti kebiasaan mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan cara membangun empati yang tulus terhadap sesama.

Suasana kuliah perdana berlangsung sangat hangat dan interaktif. Dr. Bagas sesekali menyelipkan humor-humor segar dan relevan yang akrab dengan keseharian generasi muda, sehingga memicu gelak tawa dari para mahasiswa baru FIB UGM yang hadir.

Melalui pelaksanaan kuliah perdana ini, pihak fakultas berharap nilai-nilai dasar dan materi yang disampaikan dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa baru. Dengan demikian, mereka mampu menjalani kehidupan perkuliahan dengan baik, beretika, serta mampu menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan saling menghargai.

 

[Penulis: Humas FIB, Zaidan Abdurrahman]

Pelaksanaan PkM dengan Tema Pelatihan Penulisan Kreatif Bahasa Inggris untuk Promosi Wisata dan Kuliner di SMKN 2 Pacitan oleh Program Studi Sastra Inggris FIB UGM

Rilis Berita Rabu, 26 Agustus 2026

Yogyakarta, 22 Juli – 5 Agustus 2026. Program Studi Sastra Inggris FIB UGM telah melaksanakan serangkaian kegiatan dalam rangka program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada akhir bulan Juli sampai dengan awal bulan Agustus 2026.  Kegiatan tersebut bertema Pelatihan Penulisan Kreatif Bahasa Inggris untuk Promosi Wisata dan Kuliner yang ditujukan bagi siswa-siswa Sekolah Menengah Kejuruan Negeri 2 Pacitan (SMKN 2 Pacitan).  SMKN 2 Pacitan memiliki enam konsentrasi keahlian: akuntansi; asisten keperawatan dan caregiver; agribisnis perikanan air tawar; bisnis digital; manajemen perkantoran; dan perhotelan, yang semuanya dinilai bisa mendapatkan manfaat besar dari program PkM yang diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Inggris FIB UGM. Keterampilan menulis kreatif akan bermanfaat untuk masa depan para siswa SMKN 2 Pacitan, khususnya apabila mereka nantinya ingin mengembangkan kegiatan-kegiatan yang memerlukan promosi dalam bentuk tulisan ataupun video.  

Program PkM ini dilaksanakan dalam beberapa kali pertemuan (empat kali pertemuan daring melalui platform Zoom dan dua kali pertemuan luring di SMKN 2 Pacitan). Selain melibatkan enam dosen dan dua orang mahasiswa Program Studi Sastra Inggris, seorang alumnus yang berprofesi sebagai penulis dan juga kurator di Bentara Budaya, F.X. Sartono, berperan serta memberikan sumbangan pengalaman yang dibagikan kepada para siswa SMKN 2 Pacitan. Setelah menerima pembekalan materi, seperti penguasaan kosakata tematik dalam bahasa Inggris terkait wisata dan kuliner,  cara menulis tulisan ilmiah populer, serta cara mengucapkan kata-kata dalam bahasa Inggris dan bercerita (storytelling), para siswa diminta untuk menulis artikel dan membuat video pendek dengan topik yang berkaitan dengan tujuan wisata dan kuliner menarik yang ada di wilayah Pacitan. Dalam kesempatan itu, terkumpul artikel tulisan para siswa sebanyak 29 dan empat video pendek untuk konten YouTube dan Instagram. Sebagai bentuk apresiasi, karya yang mereka hasilkan tersebut dinilai dan diberikan hadiah bagi karya terbaik. Artikel terbaik ditulis oleh siswa bernama Fentani Alexa Ramadhani dan video terbaik dibuat oleh Arin Septya Ramadhani.

Penulis: Tim PkM Sastra Inggris

Unggunan Cerita: Di Balik Dapur Kreatif Mahfud Ikhwan

Rilis Berita Senin, 24 Agustus 2026

Yogyakarta — Malam di Pondok A. Salam, Kalimasada, menjadi lebih hangat ketika sesi Unggunan Cerita menghadirkan penulis Mahfud Ikhwan dalam rangkaian Kemah Sastra bersama Alam-Semesta 2026. Dalam suasana santai dan akrab, Mahfud berbagi cerita tentang perjalanan kepenulisan, proses kreatif, riset, kegemarannya pada budaya populer, hingga bagaimana ia memandang kritik sastra.

Sesi ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengintip “dapur kreatif” seorang penulis yang selama bertahun-tahun membangun karya melalui ketekunan, riset, dan kedekatan dengan kehidupan sehari-hari.

Mahfud mengawali perjalanan kepenulisannya melalui novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009). Namanya kemudian semakin dikenal melalui Kambing dan Hujan: Sebuah Roman (2015) dan Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017). Karya-karya tersebut memperlihatkan perhatian Mahfud pada kehidupan masyarakat, terutama dunia desa dan kelompok-kelompok yang kerap berada di pinggiran arus utama.

Dalam Unggunan Cerita, Mahfud berbicara cukup jauh mengenai proses kreatifnya. Ia mengungkapkan bahwa menulis sebuah novel bukan pekerjaan yang selalu dapat diselesaikan dalam hitungan bulan. Sebuah novel bahkan dapat dikerjakannya selama bertahun-tahun, hingga mencapai sembilan tahun untuk satu karya.

Menurut Mahfud, setiap novel membutuhkan treatment, cara kerja, metode, dan riset yang berbeda. Tidak ada satu resep yang dapat diterapkan untuk semua karya. Riset untuk menulis karya sastra pun, menurutnya, tidak dapat begitu saja disamakan dengan riset ilmiah. Semuanya bergantung pada jenis cerita, dunia yang hendak dibangun, serta apa yang ingin disampaikan melalui karya.

Ia kemudian menyinggung kebiasaan menulis Haruki Murakami sebagai salah satu contoh bagaimana seorang penulis dapat membangun disiplin kreatif melalui rutinitas. Murakami dikenal dengan kebiasaan berlari dan menulis secara teratur. Bagi Mahfud, contoh tersebut memperlihatkan bahwa proses kreatif juga membutuhkan kerja rutin dan ketekunan, bukan semata-mata menunggu datangnya inspirasi.

Salah satu gagasan menarik yang dibagikan Mahfud adalah nasihat agar penulis tidak selalu memulai cerita dari gagasan-gagasan besar atau grand narrative. Cerita, menurutnya, justru dapat tumbuh dari sesuatu yang tampak kecil: sebuah peristiwa, adegan, percakapan, atau dialog yang menarik.

Hal-hal kecil tersebut dapat menjadi pintu masuk ke dalam cerita yang lebih luas. Yang penting adalah bagaimana peristiwa atau adegan tersebut mampu membuat pembaca betah mengikuti cerita dan terus merasa penasaran.

Dengan cara demikian, penulis tidak perlu sejak awal memaksakan sebuah gagasan besar ke dalam cerita. Sebuah percakapan sederhana atau peristiwa yang tampaknya sepele dapat berkembang menjadi dunia cerita yang kompleks apabila digarap dengan tepat.

Pandangan tersebut juga tampak dalam cara Mahfud melihat kehidupan masyarakat di luar pusat kebudayaan. Ia akrab dengan apa yang disebutnya sebagai budaya dan hiburan rendah—wilayah kebudayaan populer yang sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan.

Kehidupan masyarakat dan dunia pinggiran, misalnya, justru menjadi bahan yang diolah Mahfud menjadi karya sastra. Salah satunya adalah Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu, yang mengangkat kehidupan masyarakat di sebuah wilayah pedesaan dan berhasil memperoleh penghargaan sastra bergengsi.


Kegemaran Mahfud terhadap budaya populer juga tidak berhenti sebagai konsumsi pribadi. Dangdut, film India, dan sepak bola menjadi bagian dari dunia yang kemudian masuk ke dalam karya-karyanya.

Ketertarikannya pada sepak bola, misalnya, melahirkan novel Bek: Sebuah Novel (2024). Sementara kecintaannya pada film India dituangkan dalam buku esai Aku dan Film India Melawan Dunia (2017). Kegemarannya terhadap dangdut dan berbagai fenomena budaya populer lainnya kemudian hadir dalam Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop Lainnya (2024).

Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa bahan sastra tidak harus selalu datang dari sesuatu yang dianggap “tinggi”. Kehidupan sehari-hari, hiburan populer, kebiasaan masyarakat, bahkan hal-hal yang kerap dianggap remeh dapat menjadi sumber kreativitas.

Bagi Mahfud, justru dari wilayah-wilayah semacam itulah cerita sering kali memiliki kedekatan dengan pengalaman manusia yang konkret.

Menjelang akhir sesi, pembicaraan bergeser pada persoalan kritik sastra. Mahfud menjelaskan bahwa kritik yang baik memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar memberikan penilaian atau mencari kelemahan sebuah karya.

Ia mengibaratkan kritik sastra seperti latihan menyanyi dan suara fals. Seorang penyanyi mungkin tidak menyadari bahwa ada nada tertentu yang dinyanyikannya kurang tepat. Demikian pula seorang pengarang tidak selalu mengetahui seluruh hal yang bekerja di dalam karyanya.

“Ada hal-hal tertentu yang bahkan penulis sendiri tidak tahu dan sadari.”

Karena itu, kritik sastra dapat membantu membuka kemungkinan-kemungkinan yang tidak terlihat oleh pengarang sendiri. Dengan perspektif, teori, dan metode yang tepat, kritik dapat menjadi cara untuk membaca karya secara lebih tajam dan produktif.

Kritik sastra, dalam pandangan Mahfud, tidak seharusnya berhenti pada apa yang belakangan kerap diasosiasikan dengan perdebatan di media sosial: sekadar “nyinyir”, saling serang, atau ribut-ribut tanpa pijakan yang jelas.

Mahfud sendiri pernah menulis kritik melalui bukunya Melihat Pengarang Tidak Bekerja (2022). Buku tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana ia mempraktikkan kritik dengan caranya sendiri: dekat dengan karya, tetapi tetap berusaha melihat proses dan persoalan kepengarangan secara kritis.

Sesi Unggunan Cerita akhirnya menjadi lebih dari sekadar percakapan tentang teknik menulis. Dari perjalanan panjang sebuah novel hingga kesukaan terhadap dangdut, film India, dan sepak bola, Mahfud menunjukkan bahwa dapur kreatif seorang penulis dapat berada di mana saja.

Cerita bisa tumbuh dari desa, dari pinggiran, dari lapangan sepak bola, dari layar film India, dari panggung dangdut, atau bahkan dari sebuah dialog kecil yang awalnya tampak tidak penting. Yang membedakan adalah bagaimana seorang penulis melihat, mengolah, meriset, dan memberinya bentuk.

Di bawah langit malam Kalimasada, Unggunan Cerita memperlihatkan bahwa sastra tidak selalu lahir dari gagasan-gagasan besar. Kadang-kadang, ia justru bermula dari hal kecil yang diperhatikan dengan sungguh-sungguh—lalu dikerjakan dengan sabar selama bertahun-tahun.

 

Penulis: Khotibul Umam

Menjaga Kemandirian dan Karakter Lewat Kemah Sastra 

Rilis Berita Jumat, 21 Agustus 2026

Yogyakarta— Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Kemah Sastra bersama Alam-Semesta 2026 di Pondok A. Salam, Kalimasada, pada Jumat (14/8) hingga Sabtu (15/8). Mengusung semangat pengabdian dan kebersamaan, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan para pegiat sastra sekaligus ruang untuk kembali merefleksikan posisi sastra dalam kehidupan.

Kemah Sastra berlangsung secara sederhana dan nonkomersial. BagiProf. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., Ketua Program Studi Magister Sastra UGM sekaligus fasilitator kegiatan ini, salah satu hal penting dari sastra, termasuk penyelenggaraan Kemah Sastra Magister Sastra FIB UGM di Pondok A. Salam, Kalimasada, adalah upaya menjaga kemandirian dan mempertahankan karakter manusia.

“Hal yang penting dari sastra, termasuk Kemah Sastra Magister Sastra FIB UGM di Pondok A. Salam, Kalimasada, adalah upaya menjaga kemandirian dan mempertahankan karakter. Peluang untuk tidak berhasil mungkin lebih besar.”

Menurut Aprinus, upaya tersebut tidak mudah. Dalam sejarahnya, sastra justru menempatkan diri secara elegan ketika berhadapan dengan kekuasaan politik dan ekonomi, termasuk dengan konstruksi sosial-budaya yang hierarkis dan asimetris.

“Secara adab dan estetik, sastra adalah upaya-upaya untuk terus menerus mengklarifikasi mana kehidupan yang terkontaminasi dan mana yang seharusnya diperjuangkan.”

Pandangan tersebut memberikan konteks yang lebih luas terhadap pelaksanaan Kemah Sastra yang digelar secara sederhana. Kegiatan ini tidak dirancang sebagai acara komersial atau kegiatan yang mengejar kemewahan fasilitas, tetapi sebagai ruang perjumpaan dan konsolidasi melalui sastra.

Aprinus menilai, menjaga kemandirian merupakan sesuatu yang berat dan kemungkinan mengalami kegagalan cukup besar. Terlebih, menurutnya, kinerja-kinerja independen semakin sulit dilakukan. Banyak warga negara berada dalam kondisi serba terbatas dan tidak cukup terlatih untuk mandiri.

Namun, bagi sastra, persoalan kemandirian tidak dapat dipisahkan dari upaya mempertahankan karakter kemanusiaan.

“Dalam sejarahnya, sastra adalah ruang konsolidasi untuk mempertahankan karakter kemanusiaan yang asli. Sastra adalah ruang perjuangan untuk mempertahankan karakter manusia yang murni. Sastra adalah cara untuk mempertahankan hati nurani manusia.”



Peserta Kemah Sastra 2026 direkrut melalui proses kurasi karya. Para calon peserta diminta menyerahkan sedikitnya satu cerpen atau lima puisi. Dari karya yang masuk, sekitar 40 persen peserta atau kurang lebih 40 orang dinyatakan lolos kurasi.

Karya-karya peserta selanjutnya akan dihimpun dalam antologi cerpen dan puisi. Untuk tahap awal, buku antologi akan diterbitkan dalam bentuk buku fotokopi sesuai kebutuhan. Apabila buku tersebut dinilai baik dan layak dikembangkan, ke depan akan diupayakan pengurusan ISBN.

Dengan demikian, Kemah Sastra tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga mempertemukan proses penciptaan, pembacaan, kurasi, dan perbincangan sastra dalam satu ruang yang relatif sederhana.

Kegiatan dimulai Jumat (14/8) pukul 14.00. Sebelumnya, peserta hadir dan dilakukan pembagian kelompok,kemudian peserta mengikuti salat bersama sekaligus menerima informasi kegiatan. Sore hari diisi dengan perkenalan, ngobrol, jalan-jalan, olahraga ringan, dan menikmati suasana kebun di Kalimasada. Menjelang malam, peserta menikmati matahari terbenam sebelum melanjutkan kegiatan malam.

Setelah makan malam, rangkaian acara diisi dengan Orasi Sastra bersama Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan dan Rini Febriani Hauri. Acara dilanjutkan dengan pembacaan Catatan Kuratorial. Peserta kemudian mengikuti sesi Ngobrol Santai bersama Mahfud Ikhwan bertajuk Unggunan Cerita.

Malam ditutup dengan pembacaan puisi dan cerpen serta acara bebas. Peserta kemudian beristirahat dan melanjutkan kegiatan pada Sabtu pagi.

Meski hanya berlangsung sekitar 18 jam, Aprinus melihat Kemah Sastra sebagai sebuah praktik kecil yang memperlihatkan upaya manusia untuk menjaga kemandirian dan karakter. Namun, ia sekaligus mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya justru muncul setelah kegiatan selesai.

“Seperti Kemah Sastra, misalnya, mungkin pada saat mempraktikkan Kemah Sastra, seolah memang ada upaya menjaga kemandirian dan mempertahankan karakter manusianya masing-masing. Sayangnya, hal itu cuma berlangsung 18 jam.”

Sabtu pagi, peserta bangun dan melaksanakan salat Subuh, dilanjutkan dengan kegiatan santai seperti jalan pagi, ngopi, dan ngeteh. Setelah sarapan, peserta melakukan foto bersama dan mempersiapkan kepulangan.

Bagi Aprinus, berakhirnya Kemah Sastra bukan berarti berakhir pula perjuangan yang dibicarakan dan dipraktikkan selama kegiatan. Justru setelah kembali ke kehidupan sehari-hari, tantangan untuk mempertahankan kemandirian dan karakter kemanusiaan kembali dihadapi masing-masing.

“Selesai Kemah Sastra, kita harus berjuang sendiri-sendiri lagi, terjebak dalam berbagai rutinitas politik yang bising, terjebak dalam rutinitas ekonomi yang mencemaskan, terjebak dalam rutinitas sosial budaya yang membosankan.”

Karena itu, meskipun berlangsung singkat dan dengan fasilitas yang terbatas, Kemah Sastra diharapkan menjadi semacam jeda dari berbagai rutinitas tersebut—sebuah ruang untuk bertemu, membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan kembali suara hati nurani melalui sastra.

Fasilitas Kemah Sastra memang masih terbatas. Keterbatasan tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman kemah: hidup bersama dengan fasilitas sederhana, berbagi ruang, berbagi cerita, serta belajar mengatur kebutuhan secara mandiri.

Dengan jadwal kegiatan yang cukup padat, peserta diharapkan disiplin terhadap waktu dan menjaga kekompakan. Namun, di atas semua itu, Kemah Sastra 2026 diharapkan menjadi ruang yang menyenangkan—tempat sastra tidak hanya dibicarakan, tetapi juga dihidupi melalui kebersamaan.

Sebab, sebagaimana ditekankan Prof. Aprinus Salam, sastra pada akhirnya bukan hanya perkara karya dan estetika. Ia juga merupakan upaya untuk mempertahankan sesuatu yang lebih mendasar: kemandirian, karakter kemanusiaan, dan hati nurani.

 

Penulis: Khotibul Umam

 

Memasuki Semester Ketiga, Sastra Arab UGM Ajak Mahasiswa 2025 Siapkan Langkah dan Ambil Peluang.

Rilis Berita Jumat, 21 Agustus 2026

YOGYAKARTA – Memasuki semester ketiga, Program Studi Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar sosialisasi bagi mahasiswa angkatan 2025 untuk mempersiapkan perkuliahan sekaligus merencanakan pengembangan diri selama masa studi. Kegiatan ini membahas kurikulum, perencanaan akademik, manajemen waktu, serta berbagai peluang yang dapat dimanfaatkan mahasiswa untuk mengembangkan kemampuan di dalam maupun di luar perkuliahan. Kegiatan diawali dengan pemaparan Dr. Zulfa Purnamawati, S.S., M.Hum. mengenai perubahan kurikulum dari Kurikulum 2021 dan Kurikulum 2026. Mahasiswa mendapatkan penjelasan mengenai pemetaan mata kuliah dan hal-hal yang perlu diperhatikan dalam menyusun rencana studi, termasuk bagi mahasiswa yang masih memiliki mata kuliah dari semester sebelumnya. 

Tidak hanya membahas soal akademik, sesi berikutnya diisi dengan cerita dan pengalaman Pandhita Hapsari, mahasiswa Sastra Arab 2023. Pandhita mengajak mahasiswa Sastra Arab 2025 untuk lebih berani mencoba berbagai hal selama kuliah, termasuk mengambil kesempatan yang mungkin sebelumnya belum pernah terpikirkan. Menurutnya, keluar dari zona nyaman dan berani menghadapi kegagalan merupakan bagian dari proses menemukan pengalaman dan kemampuan baru. Pandhita juga berbagi tentang pengalamannya mengikuti berbagai kegiatan di luar perkuliahan. Ia mendorong mahasiswa untuk tidak hanya mengejar capaian akademik, tetapi juga mencoba organisasi, kompetisi, maupun kegiatan lain yang dapat mengasah soft skill. Pengalaman tersebut, menurutnya, bisa menjadi bekal ketika mahasiswa mulai memasuki dunia profesional. Meski aktif berkegiatan, Pandhita mengingatkan agar mahasiswa tetap mampu mengatur waktu dan tidak melupakan tanggung jawab utama sebagai mahasiswa.

Setelah sesi bersama program studi dan pemateri, mahasiswa kemudian melanjutkan kegiatan dalam ruang diskusi bersama Dosen Pembimbing Akademik (DPA) masing-masing, yaitu Dr. Mahmudah, S.S., M.Hum., Dr. Nur Kholid, S.Pd.I., M.Pd.I., dan Dr. Muhammad Zakki Masykur, S.S., M.Pd.I. Pertemuan ini menjadi ruang bagi mahasiswa untuk berkonsultasi langsung mengenai perkuliahan sekaligus mempersiapkan diri sebelum semester ketiga dimulai. Lewat pertemuan ini, mahasiswa tidak hanya membawa pulang informasi tentang perkuliahan, tetapi juga cerita, pengalaman, dan gambaran tentang hal-hal yang bisa mereka coba selama menjadi mahasiswa.


Penulis : Indana Zulfa Maulida

 

123…199

Rilis Berita

  • Kuliah Perdana Program Sarjana FIB UGM 2026: Tanamkan Empati dan Etika Lewat “Be Kind: Because ‘Just Kidding’ Isn’t Always Kind”
  • Pelaksanaan PkM dengan Tema Pelatihan Penulisan Kreatif Bahasa Inggris untuk Promosi Wisata dan Kuliner di SMKN 2 Pacitan oleh Program Studi Sastra Inggris FIB UGM
  • Unggunan Cerita: Di Balik Dapur Kreatif Mahfud Ikhwan
  • Menjaga Kemandirian dan Karakter Lewat Kemah Sastra 
  • Memasuki Semester Ketiga, Sastra Arab UGM Ajak Mahasiswa 2025 Siapkan Langkah dan Ambil Peluang.

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju