Program ini didukung oleh Swedish International Development Cooperation Agency (Sida) melalui Association for Asian Studies (AAS) dalam payung CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas akademik serta memperluas #equalopportunities bagi peneliti muda dari komunitas yang kurang terwakili, memastikan bahwa para sarjana dari wilayah marginal dan pascakonflik memperoleh dukungan yang mereka butuhkan untuk berkembang di ruang akademik internasional.
Kehadiran peserta dari Aceh, yakni Raihal Fajri dan Rachmad Setiawan, Ambon yakni Febby Winda Pelupessy dan Salmawati Rumada, Poso yakni Dwi Preti Natalia Tara’u dan Mariano Ombo, serta Papua yakni Marlon Arthur Huwae dan Rina Kurana Awom, menjadi penting dalam memperluas perspektif penelitian mengenai perdamaian, rekonsiliasi, hak asasi manusia, dan pembangunan pascakonflik. Keterlibatan mereka memperkaya program dengan menghadirkan pengalaman nyata #conflictresolution ke dalam dialog akademik.
Melalui lokakarya penulisan dan pertukaran pengetahuan, program ini diharapkan dapat mendorong lahirnya karya akademik yang mengangkat pengalaman lokal sekaligus memperkuat kontribusi peneliti Indonesia dalam diskursus perdamaian di tingkat regional. Para peserta mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan artikel penelitian, mempertajam argumen, serta memosisikan pengetahuan lokal mereka dalam perdebatan akademik yang lebih luas mengenai #conflicts dan upaya penyelesaiannya.
Program AAS–CHSS di UGM juga menjadi bagian dari upaya membangun jejaring akademik lintas wilayah dan negara yang lebih inklusif, sekaligus membuka ruang bagi pengalaman masyarakat pascakonflik untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu humaniora dan ilmu sosial. Inisiatif ini secara langsung mendorong prinsip #educationforsustainability dengan menanamkan pembangunan kapasitas jangka panjang dalam praktik keilmuan.
Penyelenggara menegaskan bahwa #equalaccess terhadap pelatihan akademik masih menjadi tantangan yang dialami para sarjana dari wilayah pascakonflik, yang kerap menghadapi keterbatasan sumber daya institusional, isolasi geografis, dan dampak berkepanjangan dari kekerasan. Program ini dirancang untuk menghapus hambatan tersebut melalui partisipasi yang didukung penuh dan pendampingan yang disesuaikan, sehingga tidak ada sarjana yang tertinggal.
Lebih dari sekadar pengembangan keterampilan individu, pertemuan ini membangun solidaritas antarpeserta dari beragam latar belakang, menciptakan komunitas peneliti muda yang berkomitmen terhadap #equality dalam produksi pengetahuan. Penyelenggara mencatat bahwa kesetaraan sejati dalam dunia akademik tidak hanya menuntut representasi, tetapi juga redistribusi kesempatan dan sumber daya secara aktif kepada mereka yang selama ini tersingkir dari jejaring akademik arus utama.
Program ini juga menegaskan keterkaitan antara kebebasan akademik dan perdamaian yang berkelanjutan. Dengan membekali peneliti muda kemampuan untuk mendokumentasikan, menganalisis, dan mengomunikasikan realitas komunitas mereka, inisiatif ini berkontribusi pada tujuan #educationforsustainability, mendorong lahirnya riset yang menginformasikan kebijakan, upaya rekonsiliasi, dan pembangunan sosial jangka panjang di masyarakat pascakonflik.
Para peserta menyampaikan bahwa pertukaran pengetahuan lintas batas negara dan kawasan telah memperdalam pemahaman mereka tentang tantangan bersama dan beragam pendekatan dalam membangun perdamaian. Dialog lintas kawasan memungkinkan para sarjana dari Aceh, Ambon, Poso, dan Papua menghubungkan pengalaman lokal mereka dengan rekan-rekan dari negara lain di Asia Tenggara dan Asia-Pasifik, memperkuat komitmen kolektif terhadap #conflictresolution yang berlandaskan bukti dan empati.
Ke depan, UGM dan para mitra berencana menjaga keberlanjutan program melalui pendampingan lanjutan, dukungan publikasi, dan jejaring alumni. Universitas menegaskan kembali komitmennya untuk memajukan #equalopportunities dan #equalaccess dalam pendidikan tinggi, menjadikan program AAS–CHSS sebagai model bagaimana institusi akademik dapat secara bermakna mendukung sarjana yang kurang terwakili serta berkontribusi bagi masyarakat yang damai, inklusif, dan berkelanjutan.
Kontributor: Nada & Jusma, 2026
