Yogyakarta, 15 April 2026 – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada kembali menorehkan tonggak akademik melalui pengukuhan Prof. Dr. Pujiharto, S.S., M.Hum. sebagai Guru Besar dalam bidang sastra. Dalam pidato pengukuhannya, beliau mengangkat tema tentang Sastra Indonesia Pascamodern.
Dalam pemaparannya, Prof. Pujiharto menjelaskan bahwa pascamodernisme dapat dipahami sebagai persimpangan dengan modernisme. Mengacu pada pemikiran Brian McHale, keduanya dipandang sebagai suatu puitika, yakni sistem dalam sastra yang setara dengan konsep “-isme”. Puitika sendiri berakar dari gagasan Aristotle yang memandang sastra sebagai sebuah sistem yang memiliki aturan dan karakteristik tertentu.
Lebih lanjut, beliau menguraikan bahwa pemahaman terhadap sastra modern Indonesia tidak dapat dilepaskan dari konsep keindonesiaan yang berkaitan erat dengan proyek pembangunan bangsa menuju Indonesia modern. Dalam konteks ini, istilah “modern” memiliki akar historis di Eropa yang ditandai dengan pergeseran dari pola pikir teosentris menuju antroposentris, sebagaimana dikemukakan oleh Jürgen Habermas. Hal ini menunjukkan bahwa konstruksi sastra modern Indonesia turut dipengaruhi oleh perspektif modernitas Barat.
Memasuki pembahasan sastra pascamodern Indonesia, Prof. Pujiharto menyoroti perubahan mendasar dari puitika epistemologis yang menjadi ciri modernisme menuju puitika ontologis yang menjadi karakter pascamodernisme. Perubahan ini dijelaskan melalui konsep “the dominant” dari Roman Jakobson, yang menekankan adanya pergeseran fokus utama dalam struktur karya sastra.
Dalam bagian akhir pidatonya, Prof. Pujiharto mengaitkan pluralitas ontologis dalam sastra pascamodern dengan kondisi masyarakat masa kini. Menurutnya, era pascamodern ditandai oleh dominasi teknologi informasi yang melahirkan masyarakat informasi dengan beragam realitas dan perspektif. Fenomena ini memperlihatkan bahwa karya sastra tidak hanya menjadi refleksi zaman, tetapi juga medium untuk memahami kompleksitas kehidupan modern dan pascamodern.
Menutup pidatonya, Prof. Pujiharto menyampaikan rasa terima kasih kepada berbagai pihak yang telah mendukung proses pengusulannya hingga resmi dikukuhkan sebagai Guru Besar melalui keputusan Menteri.
Pengukuhan ini tidak hanya menjadi pencapaian personal, tetapi juga berkontribusi pada penguatan kajian sastra Indonesia dalam ranah global. Sejalan dengan itu, pemikiran yang disampaikan turut mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan, khususnya United Nations poin 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan ilmu pengetahuan, serta poin 9 (Industri, Inovasi, dan Infrastruktur) dalam konteks kemajuan masyarakat berbasis informasi dan teknologi.
[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]



