Yogyakarta, 18 Juni 2026 — Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan diskusi novel Dari Dalam Kubur karya Soe Tjen Marching pada Kamis, 18 Juni 2026, di ruang Auditorium Poerbatjaraka Lantai 3. Acara ini menghadirkan Soe Tjen Marching dan Prof. Dr. Pujiharto, M.Hum. sebagai narasumber, dengan Asef Saeful Anwar, S.S., M.A. sebagai moderator. Kegiatan ini turut didukung oleh Penerbit Marjin Kiri dan Toko Buku Warung Sastra sebagai mitra kerja sama, serta dihadiri oleh jajaran pimpinan Fakultas Ilmu Budaya dan Kepala Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia Dr. Novi Siti Kussuji Indrastuti, M.Hum.
Diskusi hari ini dihadiri oleh 110 peserta dari berbagai daerah. Sesi diskusi berlangsung interaktif dengan antusiasme tinggi dari peserta. Pembahasan mengenai relasi kuasa menjadi salah satu sorotan utama dalam diskusi. Menanggapi pertanyaan peserta, Prof. Pujiharto menjelaskan bahwa
“Jika dilihat menggunakan perspektif Marxisme, ketergantungan terhadap kekuasaan itu memperlihatkan bagaimana kuasa itu memengaruhi kehidupan masyarakat, dan sastra seperti novel karya Soe Tjen Marching ini menjadi medium untuk merekam kondisi itu pada zamannya.”
Berbagai pertanyaan diajukan, mulai dari persoalan hubungan antara fakta sejarah dan fiksi, tanggapan penulis pada penerbit masa kini, hingga relevansi tema-tema yang diangkat dengan kondisi sosial masyarakat Indonesia saat ini. Soe Tjen Marching menanggapi pertanyaan salah satunya adalah mengenai sikapnya terhadap penerbit yang enggan menerbitkan karya-karya bertema sejarah. Soe Tjen Marching menjelaskan bahwa ia memahami setiap penerbit memiliki pertimbangannya masing-masing.
“Saya tidak menyalahkan penerbit yang memilih untuk tidak menerbitkannya. Setiap penerbit punya pertimbangan sendiri. Namun saya bersyukur masih ada penerbit seperti Marjin Kiri yang berani memberi ruang bagi karya-karya yang mengangkat sejarah terutama sejarah Indonesia.”
Melalui kegiatan ini, peserta tidak hanya memperoleh pemahaman mengenai novel Dari Dalam Kubur, tetapi juga diajak untuk melihat sastra sebagai ruang dialog yang mampu membuka perspektif baru terhadap sejarah dan kemanusiaan. Tak hanya diskusi, kehadiran Warung Sastra menarik antusiasme peserta dengan koleksi buku-bukunya termasuk Dari Dalam Kubur. Dilanjutkan dengan sesi foto bersama dan tanda-tangan buku oleh Soe Tjen Marching.
Program diskusi ini tentunya sejalan dengan upaya mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan literasi sastra dan sejarah di lingkungan akademik, serta SDG 5 (Kesetaraan Gender) melalui pengangkatan isu perempuan dan ketidakadilan gender yang menjadi topik pada novel. Acara turut diperkuat dengan SDG 16 (Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Kuat) lewat penekanan pada pentingnya keadilan dan rekonsiliasi sejarah, serta SDG 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) yang tercermin dari kolaborasi antara UGM dan Penerbit Marjin Kiri dalam menyelenggarakan diskusi ini.
Penulis: Geovanna Nathania Yolanda




