• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 4 Pendidikan Berkualitas
Arsip:

SDGs 4 Pendidikan Berkualitas

Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM Raih Juara II Lomba Presentasi Bahasa Jepang Wilayah D.I. Yogyakarta ke-5 Tahun 2026

Rilis Berita Selasa, 3 November 2026

Prestasi membanggakan kembali diraih oleh mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM). Callista Putri Nathania berhasil meraih Juara II dalam Lomba Presentasi Bahasa Jepang Wilayah D.I. Yogyakarta ke-5 Tahun 2026 yang diselenggarakan pada 17 Oktober 2026 di Amphitheater E7-A Lantai 5, Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY).

Kompetisi tahun ini mengangkat tema “Apa Itu Kebahagiaan?”, yang mengajak para peserta untuk menyampaikan pandangan dan pemikiran mereka mengenai makna kebahagiaan melalui presentasi dalam bahasa Jepang. Melalui tema tersebut, peserta mendapatkan kesempatan untuk mengembangkan kemampuan berbahasa Jepang sekaligus menyampaikan gagasan secara kritis dan kreatif.

Dalam kompetisi ini, Callista Putri Nathania berhasil menunjukkan kemampuan berbahasa Jepang serta keterampilan presentasi yang baik hingga memperoleh posisi juara kedua. Pencapaian ini menjadi bukti dari semangat mahasiswa dalam mengembangkan kemampuan bahasa Jepang, khususnya dalam keterampilan berbicara dan menyampaikan gagasan di hadapan publik.

Keberhasilan Callista diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan kemampuan bahasa Jepang dan berani mengikuti berbagai kompetisi, baik di tingkat regional maupun nasional.

Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM mengapresiasi pencapaian tersebut dan mengucapkan selamat kepada Callista Putri Nathania atas prestasi yang telah diraih. Semoga keberhasilan ini menjadi langkah awal untuk meraih prestasi-prestasi berikutnya.

Penulis: Felisha Bethrix

Spiritualitas, Trauma Ekologis, dan Kritik Modernitas dalam Diskusi Sastra ASN 2026

Rilis Berita Selasa, 3 November 2026

Hantu, wallpaper berwarna kuning, ponsel, hingga naskah Melayu menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan spiritualitas dalam sastra. Melalui beragam objek dan pengalaman tersebut, para pemakalah Academic Student Networking (ASN) 2026 pada Rabu (7/10) menunjukkan bahwa sastra tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga menyimpan kritik terhadap kerusakan lingkungan, relasi kuasa, dan kehidupan manusia modern.

Pembahasan itu mengemuka dalam sesi kedua dan ketiga ASN 2026 yang mempertemukan pemakalah dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (Undip), dan Universitas Andalas (Unand). Melalui pembacaan terhadap novel, cerita pendek, puisi, dan naskah Melayu, para pemakalah mencoba melihat bagaimana pengalaman spiritual dan berbagai bentuk keganjilan dalam sastra berkaitan dengan persoalan sosial dan kebudayaan.

Dalam sesi kedua yang dimoderatori Dinda Aura Putri, Jusmawati dari Magister Sastra UGM mempresentasikan makalah berjudul “Hantu sebagai Personifikasi Climate Trauma dalam Novel Jejak Balak Karya Ayu Welirang”. Ia membaca sosok hantu dalam novel tersebut sebagai representasi trauma iklim, terutama kecemasan yang muncul akibat kerusakan lingkungan dan ancaman bencana ekologis.

Jusma menggunakan konsep climate trauma dari E. Kaplan (2015) untuk menelaah hubungan antara kerusakan hutan, konflik penguasaan tanah, dan pengalaman traumatis masyarakat. Dalam pembacaannya, kerusakan lingkungan tidak hanya mengubah kondisi alam, tetapi juga mengganggu hubungan masyarakat dengan tanah adat, tradisi, dan ruang hidup mereka.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah pengubahan hutan ulayat menjadi perkebunan sawit oleh PT Zamrud Bumi melalui manipulasi birokrasi. Praktik tersebut memicu konflik tenurial sekaligus memperlihatkan bagaimana tekanan ekonomi dapat mendorong masyarakat melepas tanah adatnya.

Pembalakan pohon jati juga menciptakan ruang ekologis yang kehilangan fungsi dan makna bagi masyarakat. Situasi ini dibaca sebagai bentuk keterasingan tempat (place alienation), ketika lingkungan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat justru berubah menjadi ruang yang asing.

Ancaman banjir bandang atau galodo memperkuat kecemasan kolektif tersebut. Dalam novel, kerusakan hutan dipahami sebagai bagian dari rangkaian persoalan yang berpotensi membawa bencana lebih luas.

Di tengah situasi itu, sosok Inyak muncul sebagai figur spiritual yang mengalami perubahan makna. Kemunculan sepasang manik putih di rimba ulayat menjadi pertanda bahaya sebelum malapetaka ekologis terjadi. Inyak yang semula dipahami sebagai leluhur suci penjaga moral kemudian tampil sebagai sosok spektral yang menghukum dan menebarkan maut di wilayah sengketa.

Jusma juga menyoroti trauma masa lalu yang dialami tokoh dalam novel, termasuk pengalaman pembantaian satwa oleh ayahnya. Trauma tersebut berkelindan dengan tindakan kekerasan ketika figur Inyak seolah diambil alih melalui aksi pembunuhan terhadap pembalak menggunakan cakar buatan. Dalam pembacaan ini, trauma yang tidak terolah justru berkembang menjadi teror destruktif.

Melalui analisis tersebut, Jusma menempatkan hantu bukan sekadar sebagai unsur yang menghadirkan ketakutan, melainkan sebagai personifikasi trauma iklim dan konflik sosial yang menyertai kerusakan lingkungan.

Horor dan Keganjilan sebagai Kritik terhadap Kekuasaan

Persoalan horor dibahas dari sudut berbeda oleh tim pemakalah Undip, yang yang terdiri dari Nugrahaning Anindita C., Dennis Audria Permana, dan Zainab Al Awwahah. Melalui makalah bertajuk “Something Queer: Entitas Janggal Mark Fisher dalam ‘The Yellow Wallpaper’ karya Charlotte”, mereka menelusuri pergeseran dari horor Gotik menuju weird fiction, terutama melalui cerita pendek “The Yellow Wallpaper” (1892) karya Charlotte Perkins Gilman.

Cerita tersebut berkisah tentang seorang narator perempuan tanpa nama yang menjalani metode rest cure, sebuah perawatan yang membatasi aktivitas fisik dan mental pasien. Ia ditempatkan di sebuah kamar oleh suaminya, John, seorang dokter, dan hanya dapat menyalurkan kegelisahannya melalui buku harian yang disembunyikan.

Dalam pembacaan tim pemakalah, rumah dan wallpaper bukan sekadar latar cerita. Rumah yang lama kosong dan memiliki sejarah sengketa waris menjadi ruang yang menyimpan keganjilan. Sementara itu, kamar yang semestinya menjadi tempat perlindungan justru berubah menjadi ruang yang membatasi kebebasan narator.

Wallpaper berwarna kuning menjadi pusat perhatian ketika narator mulai melihat sosok di balik pola-pola yang menghiasi permukaannya. Keganjilan itu perlahan meluas, seolah merembes keluar dari kamar dan mengganggu ruang-ruang lain di rumah.

Pembacaan tersebut memperlihatkan bagaimana sesuatu yang dianggap tidak masuk akal dapat menantang penjelasan rasional. John terus mengutamakan logika medis, tetapi pengalaman narator menunjukkan bahwa kerangka rasional yang digunakan untuk memahami dirinya belum tentu mampu menjelaskan seluruh keganjilan yang dialaminya.

Kondisi tersebut juga berkaitan dengan relasi kuasa dalam rumah tangga. Sebagai suami sekaligus dokter, John memiliki otoritas untuk menentukan apa yang dianggap benar mengenai keadaan istrinya. Sebaliknya, narator memiliki ruang yang terbatas untuk menyampaikan pengalaman dan menentukan kebutuhannya sendiri.

Pada akhir cerita, narator semakin melepaskan peran sosialnya sebagai istri dan ibu. Kegilaan yang dialaminya dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan terhadap dunia yang membatasi kebebasannya, meskipun cerita tidak memberikan penyelesaian yang sepenuhnya tuntas.

Diskusi kemudian berkembang ke persoalan relevansi sastra dalam kehidupan sosial. Wahyu Agung Ramdani mempertanyakan sejauh mana sastra masih dapat digunakan untuk membicarakan politik ekologi, terutama ketika distribusi karya sastra belum menjangkau banyak wilayah dan harga buku menjadi kendala bagi pembaca. Ia juga mengajukan pertanyaan mengenai peran pembaca agar tidak sekadar menjadi penonton di tengah krisis ekologis.

Sementara itu, Muhamad Ferdian Syah dari UGM mempertanyakan hubungan antara kondisi psikologis narator dalam “The Yellow Wallpaper” dan pengalaman weird yang dialaminya. Ia menyoroti kemungkinan bahwa tekanan akibat rest cure dan perlakuan John tidak harus dipisahkan dari pengalaman keganjilan, tetapi justru berjalan bersama dan saling membentuk.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa pembahasan sastra lebih jauh, dari interpretasi teks menuju persoalan mengenai bagaimana manusia memahami trauma, lingkungan, dan pengalaman yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui kerangka berpikir yang mapan.

Doa, Ponsel, dan Spiritualitas Manusia Modern

Pembahasan spiritualitas berlanjut dalam sesi ketiga yang dimoderatori Ann Evelin Rahajeng. Awabeen Samsuding dari Magister Sastra UGM mempresentasikan makalah “Membaca Doa dalam Puisi Joko Pinurbo: Estetika Ironi sebagai Kritik terhadap Spiritualitas Manusia Modern”.

Awabeen menyoroti cara penyair Joko Pinurbo menghadirkan doa melalui benda dan aktivitas sehari-hari. Jika puisi ketuhanan kerap diasosiasikan dengan suasana khusyuk dan sakral, puisi Jokpin justru membawa spiritualitas ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan manusia modern, seperti ponsel, tubuh, dan kosmetik.

Penelitian tersebut membahas tiga puisi, yakni “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya” (2018), “Doa Sebelum Mandi” (2000), dan “Doa Seorang Pesolek” (2001).

Bagi Awabeen, ironi dalam puisi-puisi tersebut bukan sekadar permainan bahasa, melainkan strategi estetik untuk membongkar kontradiksi dalam kehidupan manusia. Melalui ironi, pembaca diajak bergerak melampaui makna literal dan mempertanyakan kembali kebiasaan maupun keyakinan yang selama ini dianggap wajar.

Dalam “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya”, misalnya, tokoh kehilangan seluruh nomor kontak akibat ponselnya rusak, tetapi masih menyimpan nomor Tuhan. Ironi muncul ketika Tuhan menyatakan bahwa nomor-Nya justru menjadi satu-satunya nomor yang tidak pernah disapa.

Situasi tersebut menyentil kehidupan manusia yang memiliki akses komunikasi tanpa batas, tetapi belum tentu menjaga kedekatan spiritual. Ponsel yang menjadi simbol keterhubungan sekaligus memperlihatkan kemungkinan keterasingan manusia dari relasi yang dianggap paling mendasar.

Sementara itu, “Doa Sebelum Mandi” dibaca melalui persoalan tubuh dan kekerasan. Dalam pemaparan Awabeen, pengalaman kekerasan yang melekat pada tubuh tidak serta-merta dapat dihapus melalui tindakan membersihkan diri secara fisik.

Adapun “Doa Seorang Pesolek” menyoroti hubungan antara tubuh, kosmetik, dan kefanaan. Melalui ironi, perhatian berlebihan terhadap penampilan fisik dipertemukan dengan kenyataan bahwa tubuh manusia tetap berada dalam batas kehidupan yang sementara.

Untuk membaca persoalan tersebut, Awabeen menggunakan konsep religiusitas Y.B. Mangunwijaya serta teori ironi stabil (stable irony) dari Wayne C. Booth. Dengan pendekatan kualitatif dan pembacaan dekat (close reading), ia berupaya menunjukkan bagaimana puisi dapat mengkritik spiritualitas manusia modern tanpa harus meninggalkan benda-benda yang akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Spiritualitas dan Lokalitas dalam Naskah Syair Kupu-Kupu

Masih dalam sesi ketiga, Afifah Chairunnisa dan Aditya Fiandra dari Unand mempresentasikan makalah berjudul “Negosiasi Spiritualitas dan Lokalitas dalam Naskah Syair Kupu-kupu”. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk membaca ideologi yang terkandung dalam naskah Melayu (Naskah Schoemann V 40).

Berangkat dari pentingnya penyelamatan nilai-nilai naskah kuno, penelitian tersebut menyoroti dimensi alegoris dan simbolik yang memungkinkan naskah dibaca lebih jauh daripada sekadar teks tertulis. Hubungan antara spiritualitas dan lokalitas menjadi perhatian utama, terutama dalam memahami bagaimana simbol dan nilai budaya saling berkelindan dalam sebuah karya.

Melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, keduanya mengidentifikasi sejumlah simbol lokal, seperti Gunung Ledang dan Gunung Anta Sujana yang dimaknai sebagai ruang sakral, serta songket, keris, sirih, dan selendang yang merepresentasikan kehormatan, status sosial, dan komitmen. Sementara itu, penyebutan nama Allah dan ungkapan “dengan karena Allah”, bersama berbagai ritual, menunjukkan bahwa spiritualitas menjadi landasan dalam tindakan dan kehidupan masyarakat.

Kajian tersebut juga menyoroti bagaimana adat, tata krama, dan penggunaan sapaan kehormatan seperti Datuk, Tuanku, Kakanda, dan Adinda memperkuat tatanan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan lokalitas tidak berdiri sendiri; saling membentuk dalam menjaga nilai, etika, dan pandangan hidup masyarakat Melayu. Dengan demikian, Syair Kupu-Kupu tidak hanya menyimpan kekayaan sastra, tetapi juga merekam cara masyarakat Melayu memaknai hubungan antara keyakinan, tradisi, dan kehidupan sosial.

Rangkaian diskusi dalam sesi kedua dan ketiga ASN 2026 memperlihatkan beragam cara membaca spiritualitas dalam sastra. Melalui hantu dalam novel, keganjilan dalam cerita horor, ironi dalam puisi, hingga simbol dalam naskah Melayu, para pemakalah menunjukkan bahwa karya sastra dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan hubungan manusia dengan alam, kekuasaan, tubuh, keyakinan, dan tradisi budaya.

Dengan pendekatan yang berbeda-beda, diskusi tersebut menempatkan sastra bukan hanya sebagai objek kajian estetika, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami persoalan yang terus hadir dalam kehidupan masyarakat.

 

Penulis: Khotibul Umam

Prodi Bahasa Korea UGM Menjadi Prodi Korea di Indonesia Pertama dan Satu-satunya yang Memiliki Tiga Dosen Bersertifikat Pengajaran Tertinggi dari Pemerintah Korea Selatan

Rilis Berita Selasa, 3 November 2026

Yogyakarta, Indonesia — Pada Jumat, 30 Oktober 2026, tiga dosen prodi bahasa dan kebudayaan Korea UGM mendapatkan sertifikat pengajaran level 1 atau level  tertinggi dari National Institute of Korean Language. Tiga dosen tersebut adalah Dr. Hwang Who Young, M.A., Iva Hanani, S.S, M.A, dan Alfiana Amrin Rosyadi, S.S, M.A. Ketiganya dinyatakan layak untuk mendapatkan sertifikat tertinggi setelah memenuhi kriteria utama yaitu paling sedikit telah memegang sertifikat pengajaran level 2 selama 5 tahun sejak diterbitkan dan memiliki 2000 jam terbang mengajar mata kuliah yang berhubungan dengan bahasa Korea. Jam terbang tersebut harus berasal dari institusi yang diakui resmi, salah duanya yaitu Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM dan King Sejong Institute Yogyakarta. 

Dengan raihan prestasi ini, prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea semakin memantapkan kualitas pengajarnya dan menjadi tonggak bersejarah dalam pengajaran bahasa Korea di Indonesia karena dalam satu kali waktu, tiga dosen berhasil lolos secara bersamaan. Dari tiga dosen yang lolos, dua dosen prodi merupakan dosen non native sehingga ini bisa menjadi inspirasi bagi para mahasiswa yang memiliki ketertarikan dalam ilmu pengajaran bahasa Korea bahwa tidak hanya orang Korea yang diakui kualitasnya oleh pemerintah Korea Selatan tetapi juga orang asing sebagai pengajar bahasa Korea.

. 

Penulis: Alfiana

HMJ Kamastawa Mengabdi: Ajarkan Unggah-Ungguh Basa dan Berbagi Kebahagiaan di Sanggar Puspa Budaya

Rilis Berita Selasa, 3 November 2026

Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Keluarga Mahasiswa Sastra Jawa (Kamastawa) menyelenggarakan kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Kamastawa Mengajar dan Berbagi” di Sanggar Puspa Budaya, Kapanewon Minggir, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, pada Sabtu (31/10/2026). Kegiatan ini merupakan wujud nyata kepedulian mahasiswa terhadap pendidikan serta pelestarian budaya lokal, sekaligus upaya menumbuhkan kembali kebiasaan berbahasa Jawa yang santun (unggah-ungguh) di kalangan anak-anak.

Program pengabdian ini merupakan hasil dari kolaborasi antara Divisi Keilmuan dan Divisi Sosial Masyarakat HMJ Kamastawa. Sinergi antardivisi ini dirancang agar program kerja yang dijalankan mampu memberikan dampak sosial yang nyata dan berkelanjutan bagi masyarakat luas.

Sebanyak 30 anak anggota Sanggar Puspa Budaya jenjang Sekolah Dasar (SD) menjadi peserta dalam kegiatan ini. Sejak acara dibuka pada pagi hari, raut wajah antusias dan ceria terpancar dari anak-anak yang siap mengikuti seluruh rangkaian acara.

Rangkaian acara diawali dengan edukasi mengenai unggah-ungguh basa Jawa. Pemahaman mengenai etika dan tingkatan berbahasa ini dinilai sangat penting untuk ditanamkan sejak dini agar generasi muda tetap mengenali dan memegang teguh akar budayanya di tengah gempuran arus modernisasi.

Agar materi mudah dipahami oleh anak-anak, Divisi Keilmuan menerapkan pendekatan interaktif melalui gim melengkapi huruf rumpang pada kosakata bahasa Jawa. Melalui konsep learning by playing ini, anak-anak diajak berpartisipasi aktif tanpa merasa tertekan atau bosan. Suasana sanggar pun berlangsung meriah ketika para peserta saling bersemangat berebut menjawab dan menyelesaikan tantangan yang diberikan.

Kiri: Anggota HMJ Kamastawa membagikan bingkisan kepada peserta. 

Kanan: Potret antusiasme peserta dalam sesi pembelajaran.

Usai sesi pembelajaran interaktif, kegiatan dilanjutkan dengan aksi sosial berupa penyerahan bantuan fasilitas belajar dan sarana pendukung sanggar. HMJ Kamastawa menyerahkan berbagai kebutuhan sekolah, seperti papan tulis, spidol, buku tulis, pensil, pulpen, serta perlengkapan pendukung lainnya untuk menunjang operasional dan kegiatan belajar-mengajar di Sanggar Puspa Budaya. 

Melalui kegiatan pengabdian ini, HMJ Kamastawa berharap dapat terus memantik semangat anak-anak dalam mempelajari bahasa dan budaya Jawa. Selain itu, kegiatan ini juga diharapkan dapat mempererat rasa empati dan kepedulian sosial mahasiswa terhadap masyarakat sekitar.

Penulis : Nindy Rosalina Ekaputri

Editor : Haryo Untoro

Belajar dari Pesisir, Antropologi Budaya UGM Gelar Fieldwork ke Wonokerto, Pekalongan

Rilis Berita Selasa, 3 November 2026

Sabtu, 17 Oktober 2026 Departemen Antropologi Budaya mengadakan kegiatan
fieldwork ke Wonokerto, Pekalongan sebagai upaya pengamalan pembelajaran secara
praktik pada teori yang sudah dipaparkan di dalam kelas. Peserta fieldwork kali ini
diikuti oleh mahasiswa S1 Antropologi Budaya yang mengambil mata kuliah
“Antropologi Maritim” dengan dosen pengampu Dr. Des Christy dan mahasiswa S2
Antropologi Budaya yang mengambil mata kuliah “Retorika Pembangunan” dengan
dosen pengampu Prof Pujo Semedi Hargo Yuwono dan keterlibatan dosen tamu dari
UIN Pekalongan yakni Mochammad Najmul Afad. Kegiatan fieldwork disusun dengan
menentukan destinasi yang akan dikunjungi oleh peserta agar sesuai pada tujuan
pembelajaran di kelas.

Pagi itu, sembari sarapan, peserta tidak hanya diberi pemenuhan secara logistik,
tetapi juga diberi kuliah umum sebagai wujud pemenuhan pengetahuan lokal dengan
mendatangkan perangkat desa setempat dalam menjelaskan konteks mengenai
Wonokerto kulon. Pak Jodi selaku perangkat desa menerangkan beberapa hal dalam
memperkenalkan daerah secara fundamental seperti konteks sosial, kultural, ekonomi,
dan ekologi dalam sudut pandang kehidupan pesisir. Salah satu poin yang paling
ditekankan oleh Pak Jodi adalah banjir rob yang terus membasahi Wonokerto, yang
turut memengaruhi konteks sosial dan ekonomi dari masyarakat sekitar.
Perkuliahan dilanjutkan dengan beranjak ke Tempat Pelelangan Ikan Wonokerto.
Di sana, mahasiswa secara langsung mengalami proses para nelayan melelang ikan.
Dosen Antropologi Maritim, Dr. Des Christy memberikan kebebasan kepada mahasiswa
dalam mencari data selama proses penugasan yang berbentuk deskripsi kehidupan
masyarakat bisa tercapai. Para mahasiswa menempuh beberapa pendekatan seperti
observasi partisipasi, wawancara, dan etno-fotografi. Selama dua jam, mahasiswa dan

dosen mengobservasi kegiatan pelelangan ikan secara seksama sebelum akhirnya
berpamitan untuk beranjak ke destinasi selanjutnya.
Destinasi selanjutnya dari rangkaian kegiatan fieldwork adalah mengunjungi
shipyard atau kawasan “parkir” bagi kapal-kapal yang secara fungsi sedang beristirahat
atau tempat menunggu bagi kapal yang akan menjalankan kegiatan pelayaran. Dalam
destinasi di shipyard, baik mahasiswa dari mata kuliah Antropologi Maritim dan Retorika Pembangunan memiliki objektif utama untuk menjelajahi kehidupan personal para nelayan. Para mahasiswa diperbolehkan mengeksplorasi kapal-kapal yang sedang
berjejer parkir, terdapat berbagai jenis kapal mulai dari kapal penangkapan skala kecil
hingga penangkapan skala besar. Di sela-sela eksplorasi kapal dan pendekatan kepada
nelayan, mahasiswa dan dosen disuguhkan kuliner ikan pari asap dan sayur mayur,
yang diolah secara khusus oleh warga lokal.

Rangkaian terakhir fieldwork berlangsung pada pemberhentian sejenak di
kawasan Pasar Batik Setono. Para mahasiswa diajak untuk mengeksplor daerah pasar
sembari melihat produk-produk kain batik khas Pekalongan yang punya kekuatan
identitas lokal. Tidak hanya diajak untuk eksplorasi, beberapa mahasiswa turut melarisi
dagangan para pengrajin batik sebagai bentuk dukungan pada komunitas UMKM Batik
Pekalongan. Pembelian batik juga menjadi bentuk pewarisan budaya kepada generasi
lebih muda. Dengan pengetahuan yang lebih lanjut mengenai batik, kain khas
Pekalongan ini punya konteksnya sendiri dalam spektrum kebudayaan yang lebih
besar. Belanja dan cuci mata dengan oleh-oleh khas Pekalongan mengakhiri seluruh
rangkaian perjalanan serta fieldwork yang dilaksanakan oleh mahasiswa serta dosen
terkait, membawa banyak pengalaman serta suka cita dari setiap pertemuan dan
hawa-hawa pesisir yang mengukir perjalanan akademik di masa yang akan datang.

Penulis: Danumurti
Editor: Leonard Dimas

123…223

Rilis Berita

  • Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM Raih Juara II Lomba Presentasi Bahasa Jepang Wilayah D.I. Yogyakarta ke-5 Tahun 2026
  • Spiritualitas, Trauma Ekologis, dan Kritik Modernitas dalam Diskusi Sastra ASN 2026
  • Prodi Bahasa Korea UGM Menjadi Prodi Korea di Indonesia Pertama dan Satu-satunya yang Memiliki Tiga Dosen Bersertifikat Pengajaran Tertinggi dari Pemerintah Korea Selatan
  • HMJ Kamastawa Mengabdi: Ajarkan Unggah-Ungguh Basa dan Berbagi Kebahagiaan di Sanggar Puspa Budaya
  • Belajar dari Pesisir, Antropologi Budaya UGM Gelar Fieldwork ke Wonokerto, Pekalongan

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju