Departemen Antropologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan Visiting Lecture bertajuk “Memberdayakan Siapa, Mengubah Apa? Politik, Hak dan Tantangan Pemberdayaan Komunitas Pesisir, Nelayan dan Kepulauan di Indonesia”. Kegiatan ini telah berlangsung pada Jumat, 23 Oktober 2026, pukul 09.00–11.30 WIB, di Auditorium Gedung Poerbatjaraka Lantai 3 FIB UGM.
Kuliah tamu ini menghadirkan Dr. Dedi Supriadi Adhuri, peneliti Pusat Riset Masyarakat dan Budaya Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) Semarang, sebagai pembicara. Kegiatan yang terbuka untuk umum ini diikuti oleh mahasiswa, dosen, peneliti, serta masyarakat yang tertarik pada isu kemaritiman, dan turut didukung oleh Asosiasi Antropologi Indonesia (AAI).
Kegiatan ini diselenggarakan mengingat komunitas pesisir, nelayan, dan masyarakat kepulauan merupakan bagian penting dari wajah Indonesia sebagai negara maritim. Namun, kelompok ini masih menghadapi berbagai kerentanan, baik secara ekonomi, sosial, maupun ekologis. Persoalan akses terhadap sumber daya laut, perubahan kebijakan, hingga ketimpangan posisi tawar menjadi sebagian dari tantangan yang dihadapi. Melalui pendekatan antropologi, persoalan tersebut tidak hanya dipandang sebagai masalah teknis, melainkan juga sebagai persoalan keadilan sosial dan penghormatan terhadap hak-hak komunitas.
Dalam paparannya, Dr. Dedi mengajak peserta menelaah kehidupan maritim di Indonesia, khususnya kondisi komunitas pesisir dan nelayan. Menurutnya, kelompok ini tidak pernah lepas dari spektrum politik pemberdayaan dan tantangan struktural dalam upaya bertahan hidup sekaligus mempertahankan hak-hak mereka sendiri. Pertanyaan seperti “memberdayakan siapa dan mengubah apa” menjadi pintu masuk untuk meninjau ulang berbagai program pemberdayaan yang selama ini dijalankan—mulai dari siapa yang sesungguhnya diuntungkan, bagaimana hak komunitas diakui, hingga hambatan apa yang masih dihadapi di lapangan.
Format kuliah tamu ini memberikan ruang untuk berdialog langsung dengan peneliti yang berpengalaman di bidang kajian maritim. Selain itu, kegiatan ini juga memperkuat jejaring antara UGM, BRIN, dan AAI dalam pengembangan kajian antropologi di Indonesia. Melalui kegiatan ini, Departemen Antropologi FIB UGM berharap tumbuh kesadaran kritis serta kepedulian sivitas akademika dan masyarakat terhadap upaya pemberdayaan yang berkeadilan bagi komunitas pesisir, nelayan, dan kepulauan di Indonesia. Diskusi yang berlangsung diharapkan dapat menjadi bekal bagi mahasiswa dalam menghadirkan gagasan dan penelitian yang berpihak pada kepentingan masyarakat.
Penulis: Aisyah Alya Muztahid

