• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Magister Sastra
  • (Page 2)
Arsip:

Magister Sastra

Pameran “Pusaka Kata” Hadirkan Kolaborasi Lintas Ilmu untuk Menghidupkan Warisan Naskah Nusantara

Kegiatan MahasiswaRilis Berita Rabu, 17 Juni 2026

Yogyakarta, 9 Juni 2026 – Mahasiswa Program Magister Sastra serta Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menggelar Pameran Naskah bertema “Pusaka Kata” di Lobby Lantai 1 Gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM), Selasa (9/6). Pameran yang berlangsung pukul 08.30–15.00 WIB ini menjadi wadah kolaborasi akademik yang mempertemukan kajian filologi, pernaskahan Jawa, dan kodikologi dalam upaya merawat sekaligus menghidupkan kembali warisan naskah Nusantara.

Pameran ini melibatkan mahasiswa Magister Sastra dari Kelas Filologi dan Kelas Pernaskahan Jawa, serta mahasiswa Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dari Kelas Kodikologi. Kegiatan tersebut didampingi oleh dosen pengampu, yakni Prof. Dr. Sangidu, M.Hum., Dr. Arsanti Wulandari, S.S., M.Hum., dan Zakariya Pamuji Aminullah, S.S., M.A.

Mengusung tema “Pusaka Kata”, pameran ini berangkat dari kesadaran bahwa naskah-naskah Nusantara merupakan warisan intelektual dan kultural yang menyimpan berbagai sistem pengetahuan leluhur, mulai dari pendidikan, pengobatan, ritual keagamaan, hingga sastra. Namun, selain menghadapi ancaman kerusakan fisik akibat usia, naskah-naskah tersebut juga terancam oleh semakin renggangnya hubungan generasi muda dengan pengetahuan yang terkandung di dalamnya.

Nama “Pusaka Kata” sendiri dipilih untuk menegaskan makna naskah sebagai warisan lintas generasi. Dalam tradisi Jawa, pusaka memiliki arti benda peninggalan, titipan yang mengandung nilai, identitas, dan tanggung jawab untuk dijaga. Sementara itu, kata dipahami sebagai medium penyimpan pengetahuan yang diwariskan leluhur kepada generasi berikutnya.

Menafsirkan Pengetahuan dalam Naskah

Dari Kelas Filologi, salah satu objek yang dipamerkan adalah naskah Melayu-Islam berjudul Kitab Jimat, Tangkal, dan Obat-obatan. Naskah yang telah didigitalisasi oleh British Library melalui program Endangered Archives Programme (EAP) ini memuat pengetahuan tentang perlindungan diri, pengobatan, serta penjagaan lingkungan melalui doa, ayat Al-Qur’an, rajah, dan ramuan herbal.

Fajar Nur Zaima menjelaskan bahwa salah satu bagian yang paling dominan dalam naskah tersebut adalah pembahasan mengenai khasiat ayat-ayat Al-Qur’an, khususnya bacaan basmalah. Menurutnya, dalam naskah itu basmalah tidak hanya berfungsi sebagai pembuka aktivitas, tetapi juga dipandang sebagai sumber keberkahan, perlindungan, dan keselamatan dalam berbagai aspek kehidupan.

Objek lain yang ditampilkan adalah bagian jimat dalam Serat Primbon koleksi Perpustakaan Nasional Republik Indonesia dengan nomor katalog NB 973. Bagian ini memuat sedikitnya 29 jenis jimat dengan fungsi yang beragam, mulai dari pengasihan, kesehatan, keselamatan, hingga perlindungan dari mara bahaya.

Giandra Febriyan Haidar menjelaskan bahwa teks jimat dapat dibaca sebagai representasi cara masyarakat Jawa memahami hubungan antara manusia, alam, dan kekuatan di luar rasionalitas sehari-hari. Ia mencontohkan jimat pengasihan yang disebut dalam naskah sebagai sarana memperoleh kasih sayang dan penerimaan sosial. Menurutnya, jimat dalam konteks tersebut tidak sekadar benda magis, melainkan simbol harapan manusia terhadap keteraturan hubungan sosial.

Membaca Jejak Naskah melalui Fisik dan Estetika

Kelas Pernaskahan Jawa menghadirkan kajian mengenai aspek fisik dan estetika naskah Jawa. Salah satu materi yang dipamerkan mengangkat naskah beraksara Jawa yang kini tersimpan di Perpustakaan Jurusan Sastra Nusantara dengan kode 899.047.

Melalui kajian tersebut, pengunjung diajak memahami naskah bukan hanya sebagai media penyimpan teks, tetapi juga sebagai benda budaya yang merekam praktik penyalinan, tradisi sastra, hingga sejarah perpindahan kepemilikan. Unsur-unsur seperti jenis kertas, bentuk jilidan, aksara, hingga kerusakan fisik menjadi sumber informasi penting mengenai perjalanan sebuah naskah.

Selain itu, Kelas Pernaskahan Jawa juga menampilkan kajian iluminasi bertajuk Wêdana Gapura Rênggan. Naskah ini memuat sejumlah intisari, antara lain Aji Pamasa, Mihradipun Jêng Nabi, Rajah Kalacakra, Jumbuhing Panembah, dan Lêlampahanipun Raden Sahid.

Affan Akbar menjelaskan bahwa iluminasi dalam naskah tidak hanya berfungsi sebagai hiasan, tetapi juga menjadi sumber informasi mengenai proses produksi naskah. Dari pengamatan terhadap sketsa dan pewarnaan yang belum sepenuhnya selesai, dapat diketahui bahwa teks dituliskan terlebih dahulu sebelum ornamen digambar. Temuan tersebut menunjukkan tahapan kerja penyalin naskah dalam menghasilkan karya manuskrip yang utuh.

Kodikologi dan Kreativitas Pelestarian Naskah

Sementara itu, Kelas Kodikologi memperkenalkan kajian naskah dari sisi material. Kodikologi merupakan ilmu yang mempelajari naskah sebagai objek fisik, mencakup bahan pembuat naskah, teknik penjilidan, ornamen, tata letak, hingga kondisi kerusakan yang menyimpan jejak sejarah penggunaannya.

Dalam pameran ini, mahasiswa Kodikologi tidak hanya menampilkan hasil kajian, tetapi juga produk praktik berupa pembuatan cover atau box naskah serta penjilidan buku yang dilengkapi dengan narasi interpretatif.

Salah satu karya yang menarik perhatian adalah hasil karya Arfia Kholifatul yang mengangkat tokoh Semar sebagai tema utama desain binding book dan book cover. Melalui visual wayang kulit dan ornamen tumbuhan, karya tersebut menafsirkan nilai-nilai filsafat Jawa seperti “urip iku urup” atau hidup yang memberi manfaat bagi sesama. Unsur daun dan sulur yang menjulang ke atas dimaknai sebagai simbol pencarian cahaya kebenaran dan keberlangsungan kehidupan.

Melalui kolaborasi tiga bidang kajian tersebut, Pameran Pusaka Kata menghadirkan cara pandang yang utuh terhadap naskah sebagai warisan budaya yang hidup. Tidak hanya menjadi benda bersejarah yang disimpan, naskah diposisikan sebagai sumber pengetahuan yang terus dapat dibaca, dipahami, dan dimaknai kembali oleh generasi masa kini.

Penulis: Khotibul Umam

Workshop Penulisan Artikel Ilmiah Guna Dorong Publikasi Akademik Berkualitas

Rilis Berita Minggu, 15 Maret 2026

Upaya memperkuat kapasitas akademik mahasiswa dan peneliti dalam menghasilkan publikasi ilmiah berkualitas kembali digelar di lingkungan kampus. Program Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan “Workshop Penulisan Artikel Ilmiah: Strategi Publikasi di Jurnal Bereputasi” pada Senin, 23 Februari 2026 di Ruang 709 Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Kegiatan yang berlangsung pukul 12.30–15.00 WIB ini menghadirkan pakar kajian budaya dan gender, Wening Udasmoro, sebagai pemateri utama. Workshop ini bertujuan meningkatkan kemampuan akademisi muda dalam menulis artikel ilmiah yang mampu bersaing di jurnal internasional bereputasi.

Dalam pemaparannya, Wening menekankan bahwa publikasi ilmiah bukan sekadar persoalan teknik atau strategi cepat agar artikel diterima jurnal. Menurutnya, menulis di jurnal bereputasi merupakan proses penting untuk menguji kualitas intelektual seorang akademisi di hadapan komunitas ilmiah yang lebih luas.

Ia menegaskan bahwa publikasi ilmiah seharusnya dipandang sebagai proses pembelajaran dan pengembangan kapasitas intelektual, bukan sekadar memenuhi tuntutan administratif akademik. Melalui publikasi, gagasan akademisi dapat dibaca dan dikritisi oleh peneliti dari berbagai perguruan tinggi maupun negara lain sehingga memperkaya diskursus keilmuan.

Dalam sesi materi, peserta diajak memahami pentingnya problematisasi dalam penelitian. Wening menjelaskan bahwa penelitian yang kuat biasanya berangkat dari fenomena sosial atau budaya yang menarik perhatian dan menimbulkan pertanyaan ilmiah.

Ia mencontohkan bagaimana berbagai fenomena kontemporer—seperti gaya hidup mewah yang dipertontonkan di media sosial—dapat menjadi pintu masuk penelitian yang relevan dengan dinamika masyarakat. Peneliti didorong untuk tidak sekadar mencari objek penelitian yang belum pernah dianalisis, tetapi menemukan sudut pandang baru yang membuat penelitian menjadi signifikan secara akademik.

Selain merumuskan masalah penelitian, peserta juga dibekali pemahaman tentang pentingnya tinjauan pustaka yang kuat. Dalam workshop tersebut dijelaskan bahwa penelitian ilmiah harus dibangun di atas dialog dengan teori dan penelitian sebelumnya.

Beberapa teori yang dapat digunakan untuk menganalisis fenomena sosial, misalnya konsep conspicuous consumption, nilai simbolik barang (sign value), hingga budaya konsumsi modern. Kerangka teoretis tersebut membantu peneliti membaca fenomena sosial secara lebih kritis dan sistematis.

Dengan pelatihan ini, diharapkan mahasiswa pascasarjana mampu menghasilkan artikel ilmiah yang tidak hanya memenuhi standar akademik, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan serta solusi bagi berbagai persoalan sosial.

Workshop ini disambut antusias oleh mahasiswa Magister Sastra yang hadir. Diskusi berlangsung interaktif, terutama saat peserta membahas strategi menemukan topik penelitian yang memiliki kebaruan dan relevansi akademik.

Melalui kegiatan semacam ini, Fakultas Ilmu Budaya UGM berupaya memperkuat budaya akademik yang kritis, reflektif, dan produktif dalam menghasilkan publikasi ilmiah berkualitas di tingkat nasional maupun internasional.


Penulis: Khotibul Umam

Magister Sastra FIB UGM Catat Lulusan Tercepat pada Wisuda Pascasarjana Periode II TA 2025/2026

Rilis Berita Senin, 9 Februari 2026

Program Studi Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) mencatat capaian akademik menonjol pada Wisuda Pascasarjana Periode II Tahun Akademik 2025/2026 yang diselenggarakan di Yogyakarta, Selasa (21/1/2026). Salah satu lulusannya, Iftinan Rose Putri Safana, berhasil meraih predikat lulusan tercepat dengan masa studi 1 tahun 8 bulan 8 hari.

Wisuda pascasarjana Fakultas Ilmu Budaya periode ini mengukuhkan 46 wisudawan dan wisudawati, terdiri atas 38 lulusan program magister dan 8 lulusan program doktor. Dari jumlah lulusan magister tersebut, 21 orang meraih predikat cumlaude, dengan rata-rata Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 3,77.

Capaian Iftinan sebagai lulusan tercepat mencerminkan konsistensi akademik, perencanaan studi yang matang, serta efektivitas proses pembelajaran dan pendampingan di Program Studi Magister Sastra. Penyelesaian studi dalam waktu kurang dari dua tahun tersebut menunjukkan bahwa pendidikan pascasarjana dapat ditempuh secara optimal tanpa mengesampingkan mutu akademik.

Dalam sambutannya pada kegiatan Mangayubagya Wisudawan/Wisudawati di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Wakil Dekan Fakultas Ilmu Budaya UGM Dr. Nur Saktiningrum, S.S., M.Hum. menegaskan bahwa pendidikan memiliki peran penting dalam membentuk manusia yang kritis dan bertanggung jawab secara sosial. Ia mengutip pemikiran Paulo Freire bahwa tugas pendidikan adalah mencetak manusia yang kelak menjadi agen perubahan.

“Education does not change the world. Education changes people. People change the world. Pendidikan di Fakultas Ilmu Budaya, termasuk di Magister Sastra, diarahkan untuk membentuk lulusan yang memiliki kepekaan intelektual dan keberpihakan pada nilai-nilai kemanusiaan,” ujarnya.

Prestasi akademik pada tingkat magister juga ditunjukkan melalui capaian IPK tertinggi, yang diraih oleh Hanina Naura Fadila, lulusan Program Studi Antropologi, dengan IPK 3,93. Dalam sambutannya sebagai perwakilan mahasiswa magister, Hanina mengajak para lulusan untuk memaknai karya akademik sebagai wujud tanggung jawab intelektual.

Capaian lulusan Magister Sastra pada wisuda ini sejalan dengan komitmen UGM dalam mendukung pendidikan berkualitas, melalui penyelenggaraan pendidikan pascasarjana yang unggul, reflektif, dan berorientasi pada pengembangan manusia seutuhnya.

Penulis: Khotibul Umam

Magister Sastra FIB UGM Gelar Lokakarya Menembus Jurnal Bereputasi: Strategi Penulisan dan Publikasi Artikel Ilmiah

HEADLINE Kamis, 18 September 2025

Yogyakarta, 17/9/2025 – Program Studi Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada mengadakan lokakarya akademik yang mengusung tema “Menembus Jurnal Bereputasi: Strategi Penulisan dan Publikasi Artikel Ilmiah”. Acara yang berlangsung pada Rabu (17/9) di Auditorium C Gedung Poerbatjaraka ini menghadirkan dua narasumber utama, yakni Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., guru besar Fakultas Ilmu Budaya UGM, dan Adwidya Susila Yoga, S.Pd., M.A., akademisi sekaligus praktisi publikasi ilmiah. Acara dipandu oleh Nada Nadillah sebagai moderator.

Dalam pemaparannya, Prof. Wening Udasmoro menekankan bahwa menulis artikel untuk jurnal bereputasi memerlukan ketegasan dalam pemilihan isu dan ketelitian dalam membangun metodologi penulisan. “Hal pertama yang harus diperhatikan adalah material atau isu. Isu yang kuat adalah isu yang spesifik, kontekstual, dan menantang secara intelektual. Jangan terjebak pada isu yang klise,” jelasnya.

Beliau mencontohkan beberapa topik yang bisa menjadi pintu masuk segar dalam penelitian sastra, seperti isu LGBTQ+ di negara Muslim, aborsi di negara Muslim, hingga pemberontakan pengarang perempuan di Indonesia terhadap dominasi penulis laki-laki. 

Prof. Wening juga menekankan pentingnya literature review yang berbasis kebaruan (novelty). “Literature review adalah fondasi. Dari situlah kita bisa menunjukkan kontribusi pada perdebatan akademis. Kalau hanya mengulang penelitian lama, tulisan kita tidak akan dianggap kompeten,” tegasnya.

Sesi kedua dilanjutkan oleh Adwidya Susila Yoga, S.Pd., M.A. yang menekankan pentingnya kecermatan dalam mencari jurnal sasaran, serta perlunya menentukan topik yang akan dibahas dalam artikel. “Menulis artikel itu tidak bisa dilepaskan dari pemetaan topik dan storyline yang jelas. Setelah itu, kita perlu melakukan sourcing dengan optimal, jangan sampai referensi hanya menumpuk di bagian pendahuluan tapi minim di pembahasan. Tahap berikutnya adalah journal hunt, yakni mencari jurnal yang sesuai dengan topik, konsisten, dan bereputasi baik,” paparnya.

Beliau juga mengingatkan bahaya jurnal predator. “Kalau sebuah jurnal punya frekuensi terbit yang terlalu tinggi, proses review yang terlalu cepat, E-ISSN yang tidak valid, atau biaya publikasi yang ambigu, kita harus waspada. Itu biasanya tanda jurnal predator,” ungkapnya.

Lebih jauh, ia mendorong mahasiswa memanfaatkan teknologi. “Gunakan perangkat digital seperti Grammarly, DeepL, Vosviewer, bahkan AI, tapi penggunaannya harus bisa dipertanggungjawabkan secara akademis. Jangan hanya asal pakai,” jelasnya.

Lokakarya ini berlangsung dinamis dengan sesi tanya jawab antara peserta dan narasumber. Naria (Magister Sastra UGM) yang menyinggung soal pemilihan objek material. “Apakah objek material harus karya sastra yang sudah mendapat penghargaan? Dan apakah research question itu harus selalu berangkat dari teori?” ujarnya.

Menanggapi hal ini, Prof. Wening menjelaskan, “Objek material tidak harus karya yang sudah mendapat penghargaan. Yang lebih penting adalah isu yang ingin kita tawarkan. Fokuskan pada kebaruan dan perspektif yang kita hadirkan, bukan pada kredibilitas karya. Untuk research question, itu bisa berangkat dari masalah yang ingin dikaji, bukan semata-mata dari teori.”

Sementara itu, Andi (Magister Administrasi Publik UGM) menanyakan cara menyeimbangkan penelitian lokal dengan isu global. “Kekuatan penelitian di Indonesia adalah bukti empiris yang kaya. Bagaimana cara menyeimbangkannya dengan isu global agar tetap relevan?” tanyanya.

Prof. Wening menegaskan, “Kuncinya adalah fokus pada isu yang kontekstual tapi tetap membuka diri pada perdebatan global. Ambil isu yang orang lain belum banyak tahu, lalu kaitkan dengan diskursus yang lebih luas. Dengan begitu, penelitian kita akan punya daya tarik internasional.”

Lokakarya ini berhasil memberikan wawasan mendalam mengenai strategi menulis artikel ilmiah dan menembus jurnal bereputasi. Para peserta tidak hanya mendapat teori, tetapi juga panduan praktis dari para narasumber. Dengan semangat ini, Magister Sastra FIB UGM berharap mahasiswa mampu menghasilkan karya ilmiah yang berkualitas, kontributif, dan mampu bersaing di kancah nasional maupun internasional.

Penulis: Marsya Kamila/Humas Magister Sastra

Kuliah Umum Magister Sastra Mengungkap yang Tak Terlihat dalam English Pop Literature

Rilis Berita Kamis, 18 September 2025

Yogyakarta, 15/9/2025 – Program Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, kembali menyelenggarakan kuliah umum yang kali ini bertajuk “Make the Invisible Visible Again: Race, Gender, and Language in Popular Literature”. Acara berlangsung pada Senin (15/9) di Auditorium Gedung Soegondo FIB UGM dengan menghadirkan Dr. Ashika Prajnya Paramita, S.S., M.A. sebagai narasumber utama.

Kuliah umum ini diikuti mahasiswa dan pemerhati sastra yang antusias mendalami bagaimana ideologi bekerja dalam teks-teks populer. Dengan gaya pemaparan yang komunikatif, Dr. Ashika mengajak peserta untuk melihat bahwa sastra tidak pernah hadir sebagai cerita yang netral, melainkan selalu membawa ideologi yang kadang tersembunyi.

Dalam paparannya, Dr. Ashika membuka diskusi dengan pertanyaan sederhana, What’s visible? and What’s invisible? Ia mencontohkan hal-hal sehari-hari yang tampak netral namun sesungguhnya sarat ideologi, mulai dari warna band-aid yang menyesuaikan warna kulit tertentu, wacana beauty, hingga bahasa tertentu yang dianggap lebih baik dari bahasa yang lain. Mengutip Antonio Gramsci, Mbak Ashika menekankan bahwa ideologi bekerja melalui common sense yang dianggap wajar dan alamiah oleh masyarakat. “Everyday ideology is always around us, if we are not aware, we need to check,” jelasnya.

Dr. Ashika juga menyoroti bagaimana representasi ras dan gender hadir dalam karya populer, khususnya film superhero. Contoh yang diangkat antara lain perdebatan tentang Sam Wilson sebagai Captain America, serta anggapan bahwa terpilihnya Barack Obama sebagai presiden kulit hitam otomatis menandai akhir rasisme di Amerika, padahal realitas sosial menunjukkan sebaliknya.

Dalam isu gender, ia menggarisbawahi bagaimana kekuatan fisik dalam film superhero lebih sering dikaitkan dengan laki-laki, sementara karakter perempuan kerap diberikan kekuatan tak kasat mata. “Gender is a kind of imitation for which there is no original,” kutipnya dari Judith Butler (1993), sambil menekankan bahwa maskulinitas dan femininitas selalu dikonstruksi dan berubah sesuai konteks sosial.

Menariknya, Dr. Ashika juga mengajak audiens membaca representasi dalam film Indonesia Satria Dewa: Gatotkaca (2022). Ia menunjukkan bagaimana tokoh-tokoh berkulit putih sering digambarkan sebagai bos, sementara karakter berkulit gelap tampil sebagai satpam atau pekerja kelas bawah. Selain itu, penggunaan aksen bahasa juga membentuk hierarki tersendiri, bahasa Jawa dilekatkan pada orang desa, sedangkan tokoh utama menggunakan gaya bahasa gaul Jakarta.

“Literature is never just stories. Ideologies hide in plain sight. Reading critically is seeing power,” tegasnya, menutup sesi utama kuliah umum.

Sesi tanya jawab berlangsung hangat dengan pertanyaan seputar representasi perempuan dalam komik, bias ideologi dalam membaca karya sastra, hingga standar maskulinitas dalam karakter superhero modern. Mbak Ashika menekankan bahwa progres ideologi tidak pernah linear, melainkan messy dan penuh resistensi. Ia juga mengingatkan pentingnya kesadaran kritis pembaca dalam memeriksa bias masing-masing.

Kuliah umum ini memperlihatkan bahwa kajian sastra populer bukan sekadar membahas hiburan, melainkan juga membuka ruang refleksi kritis tentang kekuasaan, representasi, dan ideologi dalam kehidupan sehari-hari. Melalui kegiatan ini, Magister Sastra UGM menegaskan komitmennya untuk menghadirkan ruang akademik yang relevan dengan isu-isu kontemporer, sekaligus membekali mahasiswa dengan cara pandang kritis dalam membaca teks dan budaya.

Penulis: Marsya Kamila/Humas Magister Sastra

1234…7

Rilis Berita

  • Medinfo HIMAJE Ajak Mahasiswa BKJ UGM Eksplorasi Desain Digital melalui Figma 101
  • Resmi Dilantik, Dr. Nur Saktiningrum Siap Bawa FIB UGM ke Babak Baru Periode 2026–2031
  • FIB UGM Terima Kunjungan 19 Siswa Australia dari Canning Vale College dan Duncraig Senior High School
  • Ceramah Pakar Magister Linguistik UGM Bahas Pengembangan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing
  • Temu Alumni Magister Linguistik FIB UGM 2026: Memperkuat Silaturahmi dan Jejaring Alumni

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju