• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • FIB UGM
Arsip:

FIB UGM

FIB UGM Gelar Agenda Monitoring Mahasiswa Pertukaran di Nglanggeran, Perkuat Akademis dan Pengenalan Budaya

Rilis Berita Senin, 26 Oktober 2026

Pada hari Sabtu, 24 Oktober 2026, Fakultas Ilmu Budaya UGM menggelar agenda monitoring mahasiswa program pertukaran dan Pertukaran Mahasiswa Merdeka Konsorsium Dekan FIB se-Indonesia Tahun Akademik 2026/2027. Agenda ini digelar di Pawon Purba, Wonosari, Gunungkidul. Adapun agenda ini dihadiri oleh Dekan FIB, Wakil Dekan Bidang Keuangan, Aset, dan SDM, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama dan Alumni, Kepala Kantor Administrasi, tenaga kependidikan (tendik) akademik, dan mahasiswa sejumlah 25 orang.

Monitoring dilakukan dengan tujuan untuk memantau perkembangan, mendengarkan pengalaman, serta memastikan kenyamanan dan kelancaran studi para mahasiswa peserta pertukaran selama berdinamika di FIB UGM. Selain sebagai sarana evaluasi, kegiatan ini juga dirancang untuk mempererat tali silaturahmi serta mengenalkan kekayaan potensi budaya dan keindahan alam Daerah Istimewa Yogyakarta secara langsung.

 

Setelah sesi pembukaan dan diskusi monitoring bersama jajaran pimpinan fakultas di Pawon Purba, rangkaian kegiatan dilanjutkan dengan kunjungan edukasi ke Griya Cokelat Nglanggeran. Para peserta berkesempatan melihat langsung proses olahan kakao lokal khas masyarakat setempat, mulai dari bahan mentah hingga menjadi ragam produk olahan cokelat.  Tak hanya itu, mereka juga diberi kesempatan mencoba produk olahan minuman cokelat, bakpia cokelat, keripik pisang salut cokelat, hingga kukis cokelat almond. Kunjungan ini memberikan pengalaman berkesan bagi para mahasiswa pertukaran dalam mengenal potensi pemberdayaan ekonomi kreatif berbasis masyarakat lokal.

Melalui kegiatan monitoring dan jelajah budaya ini, Fakultas Ilmu Budaya UGM berharap para mahasiswa peserta pertukaran tidak hanya mendapatkan pengalaman akademis yang bermakna, tetapi juga membawa pulang kenangan indah serta pemahaman yang lebih mendalam mengenai kearifan lokal Yogyakarta. Kegiatan diakhiri dengan foto bersama sebelum rombongan kembali ke kampus UGM.

Selain sebagai wadah monitoring akademis dan pengenalan budaya, rangkaian kegiatan ini juga merupakan wujud nyata komitmen FIB UGM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Khususnya pada SDG poin 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui penguatan pengalaman belajar inklusif lintas daerah, SDG poin 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) lewat pengenalan UMKM dan potensi ekonomi kreatif lokal di Griya Cokelat, serta SDG poin 15 (Ekosistem Daratan) melalui edukasi pelestarian kawasan geowisata Gunung Api Purba Nglanggeran.

[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]

Para Peneliti dan Aktivis Muda dari Berbagai Negara ASEAN dan Wilayah Pascakonflik Indonesia Mengikuti Writing & Capacity Building Workshop di UGM-CHSS

Rilis Berita Senin, 26 Oktober 2026

Yogyakarta, Indonesia – Selasa, 20 Oktober 2026

Para peneliti muda dari berbagai negara di Asia Tenggara dan wilayah Pasifik mengikuti UGM-CHSS Writing Workshop yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Para peserta yang hadir berasal dari Thailand, Myanmar, Filipina, dan Papua New Guinea. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya capacity building atau penguatan kapasitas bagi para akademisi muda yang meneliti isu-isu konflik dan perdamaian.

UGM-CHSS Writing Workshop merupakan sebuah inisiatif di bawah payung CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia) Project yang didanai oleh SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency) dan dimandatkan oleh AAS (Association for Asian Studies) kepada Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Koordinator (Hub Lead) dari Universitas Gadjah Mada adalah Profesor Wening Udasmoro, Guru Besar Gender dan Ilmu Sastra UGM, yang akan memimpin proyek dari SIDA-AAS ini. Proyek akan dilaksanakan selama tiga tahun, mulai tahun 2026 hingga 2028, dengan harapan mampu melahirkan generasi peneliti yang lebih inklusif dan representatif.

Isu pokok yang menjadi fokus pada Academic Writing Workshop UGM-CHSS ini adalah isu perdamaian. Para peserta yang diseleksi dari luar negeri berasal dari negara-negara Asia Tenggara dan Papua New Guinea. Mereka adalah para peneliti muda dan dosen-dosen muda yang meneliti tentang persoalan konflik dan perdamaian atau yang berasal dari wilayah-wilayah pasca konflik (post-conflict).

Tema sentral dari Workshop Batch pertama tahun 2026 ini adalah “Self Narration: Centralizing the Periphery”. Tema ini sengaja dimunculkan sebagai kesadaran bersama untuk penarasian (narration) bagi mereka yang seringkali terpinggirkan dalam wacana narasi, baik lokal maupun global. Melalui tema ini, para peserta didorong untuk memusatkan perhatian pada suara-suara dari pinggiran yang selama ini kurang terwakili.

Kehadiran workshop ini juga sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam aspek pendidikan (education) dan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability). Dengan memberikan pelatihan penulisan akademik kepada para peneliti muda, program ini berkontribusi dalam menciptakan pendidikan berkualitas yang berkelanjutan bagi para akademisi di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik.

Selain itu, workshop ini juga mendorong terwujudnya akses yang setara (equal access) terhadap kesempatan pengembangan akademik. Para peneliti dari negara berkembang atau wilayah yang terpinggirkan seringkali menghadapi hambatan dalam mengakses pelatihan, publikasi internasional, dan jejaring akademik global. Melalui inisiatif ini, kesenjangan akses tersebut berupaya dijembatani.

Pemberdayaan (empowerment) para peneliti muda menjadi inti dari program ini. Para peserta tidak hanya dibekali keterampilan menulis akademik, tetapi juga kepercayaan diri untuk menyuarakan penelitian mereka di panggung internasional. Para dosen muda dari wilayah pasca konflik, khususnya, diberikan ruang untuk mengembangkan potensi akademik mereka secara penuh.

Hasil luaran UGM-CHSS Writing Workshop ini adalah artikel-artikel yang akan dipublikasi baik di jurnal-jurnal internasional maupun nasional sesuai dengan kebutuhan para peserta. Publikasi ini diharapkan memperkuat khazanah keilmuan humaniora dan ilmu sosial mengenai isu perdamaian dari perspektif para peneliti di kawasan Asia.

Lebih dari sekadar arena menulis, forum ini diharapkan menciptakan ruang-ruang networking antar negara. Kolaborasi lintas negara yang terjalin diharapkan dapat berlanjut menjadi kerja sama penelitian jangka panjang, memperkuat solidaritas akademik regional, serta memastikan bahwa suara para peneliti muda dari kawasan Asia Tenggara dan Pasifik semakin terdengar dalam percakapan global tentang perdamaian dan kemanusiaan.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

UGM–CHSS Gelar Workshop Penguatan Kapasitas Akademik dan Penulisan Artikel Ilmiah untuk Isu Pascakonflik

Rilis Berita Senin, 26 Oktober 2026

Yogyakarta, Indonesia — Senin, 19 Oktober 2026

Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia Project) menyelenggarakan UGM–CHSS Writing and Academic Capacity Building Workshop: Inclusivity for Post-Conflict Issues & Areas pada 19–23 Oktober 2026. Workshop penulisan ilmiah ini merupakan bagian dari inisiatif AAS (Association for Asian Studies) yang didanai oleh SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency). Kegiatan ini mencerminkan komitmen bersama terhadap kesetaraan (equality) dalam pendidikan (education) serta prinsip akses yang setara (equal access) terhadap peluang akademik bagi para sarjana dari wilayah pascakonflik.

UGM mendapatkan grant dari AAS-SIDA selama 3 tahun (2026–2028) untuk kegiatan workshop ini sekaligus menjadi HUB yang mewakili Indonesia dengan mitra Asian Research Institute Universitas Indonesia. HUB lain berasal dari beberapa perguruan tinggi di Asia Tenggara dan Asia Selatan, antara lain Chiang Mai University (Thailand), Lahore University of Management Sciences (LUMS) di Lahore, Pakistan, Savitribai Phule Pune University di India, dan Universidade Nacional Timor Lorosa’e dari Timor-Leste. Jaringan ini mewujudkan semangat kesempatan yang setara (equal opportunities), memastikan para akademisi dari berbagai latar belakang yang sering terpinggirkan dapat berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari kolaborasi akademik internasional.

Selain itu, workshop ini juga didukung oleh SHAPE-SEA (Strengthening Human Rights and Peace Research and Education in ASEAN) yang juga merupakan grantee dari SIDA dalam kegiatan-kegiatan pembangunan perdamaian melalui travel grant dan riset. Kegiatan di Universitas Gadjah Mada ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas akademik dan keterampilan penulisan ilmiah, khususnya dalam mengkaji isu-isu pascakonflik secara inklusif. Pendekatan inklusif ini penting untuk menjamin akses yang setara (equal access) terhadap produksi pengetahuan bagi komunitas dan peneliti yang secara historis terpinggirkan oleh konflik.

Workshop dibuka pada Senin (19/10) di Ruang S.709, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Kerja Sama FIB UGM, Mimi Savitri, Ph.D. Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari narasumber CHSS untuk UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., yang menyampaikan materi mengenai Theory of Change yang menjelaskan pentingnya kegiatan workshop ini agar dapat bermanfaat secara konkret bagi para peserta workshop. Ia menekankan bahwa Theory of Change ini menjadi penting mengingat diversitas peserta yang hadir dari berbagai negara dan wilayah pascakonflik—sebuah keragaman yang menegaskan pentingnya kesetaraan (equality) pada setiap tahap program.

Para peserta antara lain hadir dari Thailand, Filipina, Papua New Guinea, dan Myanmar. Sementara itu, para peserta yang datang dari Indonesia berasal dari Papua, Poso, Ambon, Sampit, Aceh dan berbagai wilayah lain. Kehadiran para akademisi dari wilayah-wilayah tersebut mencerminkan upaya nyata untuk mendorong kesempatan yang setara (equal opportunities) bagi para akademisi yang mengkaji perdamaian dan rekonsiliasi dalam konteks yang sering kurang terwakili dalam kajian internasional, sehingga memajukan pendidikan (education) yang benar-benar inklusif.

Pada sesi pleno pertama, pembicara adalah Dr.phil. Geger Riyanto. Dr. Geger Riyanto adalah ahli peacebuilding yang banyak menulis artikel-artikel ilmiah di berbagai jurnal internasional mengenai isu tersebut. Ia membahas isu peacebuilding dengan moderator Dr. Wulan Tri Astuti, S.S., M.A. Sesi ini menjadi ruang diskusi mengenai pendekatan dan perspektif dalam memahami proses pembangunan perdamaian, terutama dalam konteks masyarakat pascakonflik, yakni Ambon, Poso, Aceh dan Sampit pasca Reformasi Indonesia 1998. Dialog ini menyoroti bagaimana pemberdayaan (empowerment) suara-suara lokal menjadi inti dari perdamaian yang berkelanjutan.

Materi berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A., yang mengulas penulisan artikel untuk jurnal bereputasi. Sesi ini memberikan wawasan mengenai pengembangan tulisan akademik agar memenuhi standar publikasi ilmiah, sekaligus menegaskan pentingnya pendidikan (education) dan pendampingan dalam membangun kepercayaan diri akademik para peneliti muda dari wilayah pascakonflik.

Pada sesi pleno ketiga, Theresia Dyah Wirastri, S.H., M.A., Ph.D., dan Dr. Mohamad Yusuf, M.A., membahas proses pengajuan artikel ilmiah dari perspektif editor internasional melalui topik Article Submission: International Editors’ Point of View. Sesi yang dimoderatori oleh Mubarika Dyah Fitri Nugraheni, S.Ant., M.A., ini membahas perspektif editorial dalam proses pengajuan artikel untuk publikasi internasional, membantu menciptakan kesempatan yang lebih merata dan memastikan akses yang setara (equal access) ke platform akademik global.

Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan sesi mentoring breakdown yang dipandu oleh Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., serta pengisian survei awal (pre-workshop survey) oleh peserta sebagai bagian dari persiapan program pendampingan. Struktur pendampingan ini dirancang untuk memberikan pemberdayaan (empowerment) yang berkelanjutan, sehingga para peserta dapat mentransformasikan riset mereka menjadi publikasi yang mampu memengaruhi kebijakan dan praktik pembangunan perdamaian di daerah asal mereka.

Kegiatan workshop UGM ini juga akan dilanjutkan dengan program-program lain yang akan dilaksanakan pada tahun depan, antara lain grant bagi selected participants untuk hadir di konferensi Association for Asian Studies di Malaysia pada 1–3 Juli 2027. Inisiatif semacam ini menegaskan kembali komitmen terhadap kesetaraan (equality) dan kesempatan yang setara (equal opportunities) dalam pertukaran akademik global, memastikan para akademisi dari wilayah pascakonflik dapat berbagi pengetahuan di panggung internasional dan berkontribusi pada pemahaman perdamaian dan pembangunan yang lebih inklusif.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

Tim HUB CHSS Indonesia dari Universitas Gadjah Mada Bawa Isu Bahasa Terancam Punah Indonesia–Pakistan ke Panggung Akademik Internasional

Rilis Berita Senin, 26 Oktober 2026

Lahore, Pakistan, September 2026 — Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui tim HUB CHSS Indonesia berhasil membawa isu bahasa terancam punah di Indonesia dan Pakistan ke panggung akademik internasional. Isu ini diangkat dalam Project AAS: CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia Project) di LUMS, Pakistan. Keikutsertaan UGM dalam forum ini menegaskan komitmen universitas dalam memajukan humaniora dan ilmu sosial yang inklusif dan berkelanjutan.

CHSS 2026 merupakan forum akademik internasional yang mempertemukan akademisi dan perwakilan HUB dari berbagai negara di Asia. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas negara serta mendorong pengembangan kajian humaniora dan ilmu sosial yang mampu menjawab tantangan kontemporer, termasuk isu keberagaman budaya (cultural diversity) dan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability).

Universitas Gadjah Mada berpartisipasi melalui tiga perwakilan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), yaitu Prof. Dr. Wening Udasmoro, Dr. Aprillia Firmonasari, dan Dr. Merry Andriani. Kehadiran ketiga akademisi ini menunjukkan peran aktif FIB UGM dalam jejaring akademik internasional di kawasan Asia.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, tim HUB CHSS Indonesia dari UGM menyelenggarakan sesi panel bertajuk “Endangered Languages in Indonesia and Pakistan: Ideas to Mitigate” pada Minggu, 27 September 2026. Panel ini menjadi salah satu sesi unggulan yang menarik perhatian banyak peserta konferensi.

Panel tersebut membahas kerentanan bahasa terancam punah di Indonesia dan Pakistan melalui tiga studi kasus, yaitu bahasa Enggano, Minangkabau, dan Wakhi. Ketiga bahasa ini dipilih karena masing-masing menghadapi tekanan serius terhadap keberlangsungan penutur aslinya, baik akibat perubahan sosial, migrasi, maupun dominasi bahasa-bahasa mayor.

Diskusi dalam panel ini juga menyoroti pentingnya pelestarian bahasa melalui keterlibatan komunitas dan dukungan kebijakan. Para pembicara menegaskan bahwa hilangnya sebuah bahasa bukan sekadar hilangnya alat komunikasi, melainkan juga hilangnya pengetahuan budaya yang terkandung di dalamnya—mulai dari kearifan lokal, tradisi lisan, hingga cara pandang masyarakat terhadap alam dan kehidupan.

Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, isu ini beririsan erat dengan agenda pemberdayaan (empowerment) masyarakat penutur bahasa minoritas. Pelestarian bahasa memerlukan pemberdayaan komunitas lokal agar mereka memiliki kapasitas dan kesempatan setara untuk menjaga warisan bahasa dan budaya mereka sendiri.

Sesi panel ini merupakan hasil kolaborasi antara dua dosen FIB UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro dan Dr. Merry Andriani, bersama Dr. Aftab Nasir dari Lahore University of Management Sciences (LUMS). Kolaborasi lintas negara ini menjadi contoh nyata bagaimana pengembangan education for sustainability dapat diwujudkan melalui kemitraan akademik yang setara dan saling menguntungkan.

Kegiatan ini dihadiri oleh para pemerhati bahasa terancam punah dari berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Selatan, Eropa, dan Australia. Kehadiran peserta dari berbagai kawasan memperlihatkan bahwa isu kepunahan bahasa merupakan persoalan global yang menuntut respons kolektif dan equal access terhadap sumber daya, riset, serta kebijakan pelestarian bahasa.

Tidak hanya dosen, sejumlah alumni UGM turut berpartisipasi dalam berbagai sesi panel CHSS 2026. Partisipasi alumni ini memperluas keterlibatan akademisi dan jejaring UGM dalam forum akademik internasional, sekaligus memperkuat posisi UGM sebagai salah satu pusat kajian humaniora dan budaya di kawasan.

Upaya pelestarian bahasa terancam punah sebagaimana dibahas dalam panel ini juga merupakan wujud nyata penghargaan terhadap keberagaman budaya (cultural diversity). Setiap bahasa yang bertahan hidup berarti satu khazanah identitas, pengetahuan, dan sejarah manusia yang tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Ke depan, tim HUB CHSS Indonesia dari UGM berharap kolaborasi dengan LUMS dan mitra internasional lainnya dapat berlanjut ke dalam riset bersama, publikasi ilmiah, serta inisiatif pelestarian bahasa yang lebih konkret. Langkah ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi komunitas penutur bahasa minoritas, baik di Indonesia maupun Pakistan.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

Tim HUB CHSS Indonesia Diwakili Kepemimpinan UGM, Berkontribusi dalam Dialog Sinema Asia Tenggara di Forum AAS 2026

Rilis Berita Senin, 26 Oktober 2026

Lahore, Pakistan — Jumat, 9 Oktober 2026 Partisipasi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai pemimpin HUB Indonesia dalam proyek Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia (CHSS) 2026 terus berlanjut melalui keterlibatan akademisi UGM dalam forum internasional Association for Asian Studies (AAS) pada 25–27 September 2026. Keterlibatan ini menegaskan komitmen UGM dalam memperjuangkan kesetaraan (equality) dalam pertukaran akademik global dengan memastikan bahwa sarjana dari Asia Tenggara memiliki suara yang berarti dalam percakapan ilmiah internasional.

AAS merupakan organisasi akademik yang mendukung pengembangan kajian Asia dan mempertemukan akademisi, peneliti, serta pengajar dari berbagai disiplin ilmu. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Presiden Association for Asian Studies, Elora Shehabuddin, serta para pemimpin AAS, antara lain Krisna Uk, Hilary Finchum-Sung, dan Brandon Johnson. Kehadiran mereka mencerminkan pentingnya forum ini sebagai platform untuk mendorong dialog lintas kawasan dan memperkuat fondasi pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability) di seluruh Asia.

Dalam forum tersebut, Prof. Wening Udasmoro berpartisipasi sebagai pembahas (discussant) dalam sesi peluncuran buku Archipelagic Cinemas: Screening Southeast Asian Modernity karya Dag S. Yngvesson, Assistant Professor di Faculty of Arts, University of Nottingham Malaysia. Yngvesson merupakan akademisi sekaligus pembuat film dengan fokus kajian pada sinema Asia Tenggara, media, serta persoalan sejarah dan representasi budaya. Karyanya menjadi contoh bagaimana penyelidikan ilmiah dapat menjadi sarana pemberdayaan (empowerment), memberikan komunitas alat untuk menarasikan sejarah dan identitas budaya mereka sendiri.

Sesi bertajuk “Archipelagic Cinemas: Screening Southeast Asian Modernity” diselenggarakan dalam format Roundtable & Book Launch pada pukul 15.00–16.30 di Auditorium A-13/MCB, dengan melibatkan Dr. Furrukh Khan dan Tajwar Awan dari Lahore University of Management Sciences (LUMS), serta seorang akademisi dari Kamboja. Keragaman peserta menunjukkan komitmen bersama terhadap kesetaraan (equality) dalam produksi pengetahuan, memastikan bahwa perspektif dari seluruh Asia Tenggara dan Asia Selatan terwakili dalam wacana akademik global.

Diskusi tersebut berfokus pada perkembangan sinema di Indonesia, Filipina, Thailand, dan Malaysia serta hubungannya dengan modernitas dan dinamika sosial-budaya Asia Tenggara. Percakapan ini menyoroti bagaimana film berfungsi sebagai medium penting untuk melestarikan dan mewariskan warisan budaya (cultural heritage), memungkinkan masyarakat mendokumentasikan sejarah, tradisi, dan identitas mereka yang terus berkembang melalui penceritaan visual.

Keterlibatan Prof. Wening Udasmoro dalam forum tersebut memperluas kontribusi akademisi UGM dalam dialog ilmiah lintas negara, khususnya pada pengembangan kajian humaniora dan ilmu sosial. Partisipasinya mencerminkan upaya yang lebih luas untuk mempromosikan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability) dengan mengintegrasikan perspektif budaya dan sejarah ke dalam kurikulum akademik dan agenda penelitian yang menjawab tantangan jangka panjang yang dihadapi kawasan.

Partisipasi ini sejalan dengan tujuan proyek CHSS 2026 untuk memperkuat jejaring akademik internasional dan memperluas keterlibatan sarjana Asia dalam pertukaran pengetahuan global. Dengan memfasilitasi kolaborasi semacam itu, proyek ini secara aktif mendorong pemberdayaan (empowerment) di kalangan sarjana yang kurang terwakili, memberikan mereka platform untuk berbagi penelitian dan berkontribusi pada debat internasional tentang budaya, media, dan masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, UGM turut mendorong pertukaran perspektif mengenai sinema, sejarah, dan kebudayaan Asia Tenggara sekaligus memperkuat kontribusi akademisi Indonesia dalam percakapan ilmiah internasional. Hal ini mencerminkan dedikasi terhadap pelestarian warisan budaya (cultural heritage), karena eksplorasi sinematik dan akademik terhadap masa lalu kawasan membantu memastikan bahwa generasi mendatang dapat mengakses dan menghargai kekayaan tradisi Asia Tenggara.

Keterlibatan akademisi UGM dalam forum seperti AAS juga memperkuat pentingnya kesetaraan (equality) dalam representasi akademik, khususnya bagi sarjana dari kawasan yang kurang terwakili. Dengan menciptakan ruang di mana beragam suara dapat didengar, proyek CHSS 2026 dan kepemimpinan UGM berkontribusi pada lanskap akademik global yang lebih inklusif dan setara.

Ke depan, kepemimpinan UGM yang berkelanjutan dalam HUB CHSS Indonesia diharapkan dapat mendorong kolaborasi yang lebih mendalam di antara para sarjana di seluruh Asia, mempromosikan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability), pemberdayaan (empowerment), dan pelestarian warisan budaya (cultural heritage) melalui penelitian interdisipliner dan dialog internasional. Keberhasilan partisipasi dalam forum AAS 2026 ini menjadi bukti potensi transformatif pertukaran akademik dalam membangun komunitas global yang lebih terhubung dan sadar budaya.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

123…190

Rilis Berita

  • FIB UGM Gelar Agenda Monitoring Mahasiswa Pertukaran di Nglanggeran, Perkuat Akademis dan Pengenalan Budaya
  • Para Peneliti dan Aktivis Muda dari Berbagai Negara ASEAN dan Wilayah Pascakonflik Indonesia Mengikuti Writing & Capacity Building Workshop di UGM-CHSS
  • UGM–CHSS Gelar Workshop Penguatan Kapasitas Akademik dan Penulisan Artikel Ilmiah untuk Isu Pascakonflik
  • Tim HUB CHSS Indonesia dari Universitas Gadjah Mada Bawa Isu Bahasa Terancam Punah Indonesia–Pakistan ke Panggung Akademik Internasional
  • Tim HUB CHSS Indonesia Diwakili Kepemimpinan UGM, Berkontribusi dalam Dialog Sinema Asia Tenggara di Forum AAS 2026

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju