• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 8: Decent work and economic growth
  • SDGs 8: Decent work and economic growth
Arsip:

SDGs 8: Decent work and economic growth

Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Lapangan’ – sebagai Refleksi atas ‘Masa Depan Kita Bersama’ dan perkembangan dalam rangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Rilis Berita Selasa, 19 Mei 2026

Selama bulan Februari hingga April 2026, 15 mahasiswa Antropologi (sarjana dan pascasarjana) Antropologi,FIB, UGM mengikuti kelas “Framing Sustainable Tourism on the Ground” yang dirancang dan diampu oleh dosen tamu, Profesor Dr. Sabine Troeger dari Universitas Bonn, Jerman. Dalam kelas ini dibahas mengenai sustainable atau keberlanjutan dalam pariwisata.

Kata kunci ‘Keberlanjutan’ dan ‘Pariwisata’ menghubungkan perspektif kelas berkaitan dengan: (a) kerangka normatif tantangan pembangunan dalam hal ‘Integritas Ekologis’, ‘Kelayakan Ekonomi’, dan ‘Keadilan Sosial’ sebagaimana didefinisikan oleh UNWTO dan UNEP, Laporan Brundtland ‘Masa Depan Kita Bersama’ (1987) yang direplikasi dalam struktur tripartitnya pada tahun 2015 oleh SDGs melalui 17 tujuannya, serta (b) dimensi pengembangan pariwisata di Indonesia, salah satu sektor strategis dalam pembangunan nasional Indonesia. Laporan ‘Our Common Future’ merupakan salah satu landasan politik terpenting dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs). Laporan ini menetapkan gagasan dasar perlindungan lingkungan, pembangunan ekonomi, dan keadilan sosial, yang diintegrasikan dan saling terkait, sementara SDGs mengimplementasikan filosofi, terminologi, dan argumen moral tersebut dalam kerangka aksi global yang konkret, terukur, dan disepakati secara politik. 

Kelas tentang pariwisata, dengan fokus khusus pada berbagai aktor dan pilihan agen mereka serta kekuatan struktural yang mengikutinya, bertujuan untuk menghubungkan bidang pariwisata yang sangat sensitif dan rentan—sebagaimana didefinisikan oleh berbagai kelompok kepentingan dan kekuasaan—dengan kerangka kerja menyeluruh yang ditekankan dalam proses globalisasi saat ini.

Urutan kelas dibagi menjadi dua tahap sebagai pengenalan:

Pertama: sesi pengenalan awal yang mengikuti pemahaman awal tentang kerangka akademis teori-filosofis yang menghubungkan kata kunci ‘pariwisata’ dengan ‘keberlanjutan’, presentasi mahasiswa atas artikel-artikel terpilih, antara lain tentang ‘Dinamika kelas dalam perubahan agraria di pedesaan Jawa’ (Habibi, 2024) atau Pengembangan Pariwisata (Isnandar dkk., 2025), dan kedua, pelatihan praktis mengenai Metodologi PRA dan Filsafat PRA (Chambers, 1994).

Kedua: Fase ‘penilaian dan evaluasi data partisipatif’, yang berlokasi di desa Watu Kodok/Kelor Kidul/Kelor Lor di Kabupaten Gunungkidul, sebuah gabungan dusun yang telah berubah menjadi resor pantai.

Pembangunan masyarakat di Indonesia saat ini menuntut perubahan radikal, meskipun berbeda dari yang dihasilkan oleh modernisasi pertanian – berupa diversifikasi mata pencaharian, peningkatan kerja sama, dan partisipasi masyarakat di wilayah yang kini ditandai oleh istilah-istilah globalisasi. Perspektif deskriptif-analitis berfokus pada pendekatan terhadap titik transformasi dan membuka ruang untuk memahami perubahan sebagai hasil dari proses yang tidak disengaja atau disengaja. Penilaian Pedesaan Partisipatif (PRA), sebuah metodologi yang mendorong mahasiswa peneliti melampaui pengamatan pasif dan mengharuskan mereka bekerja sebagai peneliti aktif bersama masyarakat. Dengan berinteraksi langsung dengan petani, pengusaha lokal, dan pemimpin masyarakat, kelas ini menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan tantangan praktis pariwisata berbasis masyarakat (CBT). Filosofi ‘Metodologi Partisipatif’ menyatakan bahwa peserta di lapangan adalah ‘aktor’ yang mendefinisikan dan merefleksikan keprihatinan mereka sendiri – keprihatinan mata pencaharian dalam berbagai bentuk – merefleksikan diri mereka sendiri, dan menceritakan ‘kisah mereka sendiri’, terutama di masa perubahan sosial dan kebutuhan dalam konteks yang lebih luas. Sorotan kelas ini adalah menemukan dan merefleksikan proses dan hasil perubahan sosial saat ini di bidang ‘pariwisata’.

Screenshot

Watu Kodok dan dusun-dusun tetangganya, yang secara berurutan disatukan di bawah nama ‘Watu Kodok’—lokasi penelitian lapangan kelas ini—dikenal luas karena pasir putih dan tebing kapurnya. Namun, di balik citra populernya sebagai destinasi liburan, lanskap sosial yang kompleks terungkap dan menanti untuk dijelajahi. Penelitian lapangan kelas ini dirancang untuk menganalisis bagaimana ‘keberlanjutan’, yang mencerminkan perbedaan perspektif yang disebutkan di atas, ditafsirkan dan dipraktikkan oleh penduduk yang tinggal di lingkungan Watu Kodok.

Perbedaan perspektif yang ditargetkan mengenai ‘keberlanjutan’ yang berkaitan dengan pariwisata ini direalisasikan melalui fokus selektif pada empat kelompok sasaran: a) para pelaku yang menjalankan pekerjaan turun-temurun, seperti petani dan pemilik usaha kecil; b) pelaku di bidang tradisi budaya seperti pemain gamelan

dan seniman batik; c) pelaku dalam kegiatan yang secara eksplisit berorientasi pada pariwisata seperti pengusaha homestay, serta pelaku di bidang pengelolaan sampah; d) pelaku di bidang pariwisata eksplisit seperti manajer Jiwa Laut Eco Resort, Bu Ira dan karyawannya, pelaku bisnis penyewaan tenda dan ‘glamping’, serta ‘Mas Heri’, inisiator dan pelaku ‘Fun Games’ bagi wisatawan di lokasi pantai.

Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap strategis, dimulai pada 2 April dengan fokus pada pemetaan sosial dan konteks historis. Hari dimulai dengan diskusi PRA pertama bersama warga lanjut usia dan pemangku kepentingan lokal untuk membahas harapan, aspirasi, serta tekanan yang ditimbulkan oleh faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah dan investor. Pada sore hari, mahasiswa berinteraksi dengan petani untuk membahas kebutuhan pertanian dasar, termasuk akses terhadap pupuk dan benih, sambil menganalisis bagaimana pariwisata mengganggu mata pencaharian mereka, misalnya terkait beban limbah dan bayangan yang ditimbulkan oleh bangunan vila baru yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Setelah menyelidiki secara partisipatif persepsi dan kekhawatiran petani terkait pariwisata, mahasiswa bertemu dengan pemilik ‘Warung’ dan mendiskusikan kekhawatiran bisnis mereka terkait wisatawan serta harapan untuk masa depan. Hal ini dilanjutkan dengan perjalanan Transect untuk membangun pemahaman visual awal tentang evolusi fisik dan sosial wilayah tersebut bersama mahasiswa. Hari itu ditutup dengan pertunjukan Gamelan, yang berfungsi sebagai studi kasus bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi bagaimana budaya lokal secara strategis mempertahankan vitalitas dan relevansinya di tengah perkembangan modern.

Pada 8 April, hari kedua kerja lapangan, fokus beralih ke usaha lokal dan ekologi, saat mahasiswa bertemu dengan seniman Batik, pemilik homestay, dan kelompok pengelolaan limbah. Sesi-sesi ini dirancang untuk mengevaluasi pengakuan seni tradisional oleh wisatawan, menilai peluang pasar dan keadilan bisnis, serta menentukan bagaimana pengunjung dilibatkan dalam ‘masalah sampah’ dan pelestarian lanskap ekologi. Hari itu diakhiri dengan sesi ‘Fun Games’, yang menyediakan platform untuk mendiskusikan harapan masa depan bagi usaha lokal. Fase terakhir pada 20 April didedikasikan untuk ‘transparansi’ yang diwujudkan melalui Umpan Balik Penelitian, di mana mahasiswa mempresentasikan temuan mereka kepada masyarakat untuk pengakuan, koreksi, dan komentar. Proses “belajar dua arah” ini memastikan penelitian benar-benar mencerminkan realitas warga.

Para mahasiswa, yang berperan sebagai ‘mitra penelitian’, mengapresiasi kegiatan ini dan menemukan bahwa pengalaman lapangan menantang prasangka akademis mereka. Siraj mencatat bahwa kerja lapangan mengungkapkan isu-isu pariwisata jauh lebih “kompleks dan gila” daripada yang disarankan buku teks, sementara Hizkia menghargai kesempatan untuk meresapi wawasan lapangan sambil merefleksikan teori. Rifqy merasa kerja PRA praktis memberikan visi yang jelas tentang bagaimana pariwisata berkelanjutan seharusnya berfungsi, dan Fina mengamati bahwa pengalaman intensif ini “entah bagaimana menghubungkan setiap dari kita.” Bagi yang lain seperti Tiara dan Biel, kursus ini digambarkan sebagai salah satu keputusan paling membuka wawasan dan bermakna dalam perjalanan akademik mereka.

Kembali ke interpolasi yang awalnya ditekankan antara perspektif ‘keberlanjutan’ dan ‘pariwisata’, data mahasiswa dalam pelatihan pertama penilaian partisipatif ini menyoroti beberapa hasil, yang dibahas secara mendalam dalam sesi umpan balik akhir bersama peserta penelitian. Mengacu pada indikator yang disebutkan sebelumnya yang mendefinisikan ‘Keberlanjutan’ terkait pengembangan pariwisata, yaitu ‘Integritas Ekologis’, ‘Kelayakan Ekonomi’, dan ‘Keadilan Sosial’, perwakilan dari kelompok sasaran penelitian tersebut menyoroti perkembangan seperti a) dampak pariwisata dalam hal jumlah limbah yang mengancam lingkungan; b) pengungsian penduduk yang dipicu pariwisata dan penebangan pohon di kawasan pantai; selain itu, mereka menyoroti kurangnya keterlibatan komunitas lokal sebagai mitra manusia yang sejajar dan setara, serta c) biaya konservasi akibat perluasan dampak pariwisata sepenuhnya dibebankan pada komunitas lokal, yang mengabaikan prinsip ‘pencemar membayar’.

Dari perspektif Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), studi ini membahas SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan menganalisis bagaimana pendekatan Pariwisata Berbasis Masyarakat melindungi pemilik usaha kecil dan pengusaha warung dari dominasi investor eksternal besar. Aktivitas di lapangan mencerminkan SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) dengan menekankan perlindungan warisan budaya lokal, seperti Gamelan dan Batik, sebagai landasan identitas komunitas. Selain itu, fokus pada ‘masalah sampah’ dan langkah-langkah pelestarian lanskap Karst mencerminkan SDG 12

(Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Terakhir, kolaborasi antara akademisi internasional, mahasiswa UGM, dan aktor lokal seperti tim Jiwa Laut menunjukkan penerapan praktis dari SDG 17 (Kemitraan untuk Tujuan). Pada akhirnya, penelitian lapangan di Watu Kodok menunjukkan bahwa agar pariwisata benar-benar berkelanjutan, pariwisata harus dibangun berdasarkan suara, kebutuhan, dan pengalaman hidup masyarakat di lapangan.

Bagaimanapun juga, masyarakat sedang menghadapi dorongan yang tidak dapat diubah menuju ‘transformasi’, yang memerlukan inisiatif penyelidikan dan penelitian lebih lanjut yang hanya dapat disinggung, namun tidak dibahas secara mendalam, oleh pelatihan utama dalam orientasi teori dan metodologi akademis di kelas UGM. Terakhir namun tidak kalah pentingnya, diskusi dengan para peserta di Watu Kodok menunjukkan bahwa pariwisata, secara keseluruhan, melibatkan ‘transformasi’ mata pencaharian serta nilai-nilai dan interpretasi yang terkait. Kehidupan tidak akan pernah sama seperti sebelumnya, dan masyarakat sedang dan akan terus berada dalam proses redefinisi.

 

References:

Brundtland, G.H. (1987) Report of the World Commission on Environment and Development: Our Common Future. UN General Assembly Document A/42/427

Chambers, R. (1994). Participatory rural appraisal (PRA): Challenges, potentials and paradigm. World Development, 22(10), 1437–1454. https://doi.org/10.1016/0305-750x(94)90030-2

Isnandar et al. (2025): Sustainable Tourism Development Based on Local Wisdom in Sutojayan Village, Malang Regency: A Participatory Approach in Masterplan Planning.

Muchtar Habibi (2024): Masters of the countryside and their enemies: Class dynamics of agrarian changes in rural Java.

 

Penulis: Cynthia Christyananta & Prof. Dr. Sabine Troeger

Foto: Cynthia Christyananta

Perjalanan di Balik IPK 4,00: Kisah Hadijah Rima, Lulusan Berprestasi Magister Sastra FIB UGM

Rilis Berita Kamis, 7 Mei 2026

Capaian Indeks Prestasi Kumulatif (IPK) 4,00 yang diraih Hadijah Rima menjadi sorotan dalam wisuda Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Lulusan Program Studi Magister Sastra ini menyelesaikan studinya dalam waktu 1 tahun 11 bulan 29 hari, dengan predikat pujian.

Perempuan kelahiran Surakarta, 14 Desember 1995 ini menempuh pendidikan di bidang Sastra Arab. Di balik angka sempurna tersebut, tersimpan perjalanan yang penuh dinamika, mulai dari masa-masa harus begadang untuk belajar, hingga momen sederhana menikmati waktu bersama teman.

“Melakukan segala yang diperlukan untuk meraih hasil maksimal,” ujarnya singkat tentang prinsip yang ia pegang selama menempuh studi.

Sejak awal, Hadijah memiliki tujuan yang jelas: menjadi ahli di bidang yang ia tekuni. Ia menetapkan target jangka pendek dan panjang agar proses belajar tetap terarah. Konsistensi inilah yang kemudian mengantarkannya pada capaian akademik tertinggi.

Dukungan keluarga, terutama kedua orang tua, menjadi fondasi utama dalam perjalanannya. Selain itu, peran dosen, mentor, serta sosok inspiratif turut membentuk karakter akademiknya.

Dalam menjaga performa akademik, Hadijah menekankan pentingnya menjalankan setiap peran secara maksimal. Ia tidak hanya fokus pada akademik, tetapi juga menjaga keseimbangan hidup.

Rasa lelah tentu pernah menghampiri. Namun, ia memilih untuk bangkit dengan menjadikan sosok-sosok akademisi sukses sebagai inspirasi. “Melihat mereka yang sudah berhasil membuat saya terpacu untuk terus berkembang,” katanya.

Dalam penelitiannya, Hadijah mengangkat judul “Temporalitas Naratif dalam Antologi Puisi Imru’ Al-Qais: Kajian Naratologi Gerard Genette.” Topik ini berfokus pada sastra Arab pra-Islam yang dinilai masih jarang diteliti, khususnya oleh peneliti non-Arab.

Menurutnya, karya-karya klasik tersebut merupakan fondasi penting dalam memahami perkembangan sastra Arab. Namun, tantangan terbesar terletak pada kompleksitas bahasa dan konteks historisnya.

“Memahami puisi dari 14 abad lalu bukan hal mudah, apalagi tanpa tinggal langsung di lingkungan penutur asli. Saya harus banyak menelaah buku dan video penjelasan yang sangat detail,” jelasnya.

Ia berharap hasil penelitiannya dapat menjadi rujukan bagi peneliti sastra Arab di Indonesia.

Pada momen wisuda, Hadijah menyampaikan pesan yang menggugah, salah satunya dengan mengutip syair dari Abu Tayyib al-Mutanabbi:

“Aku tidak melihat aib yang lebih memalukan
Dari mereka yang memiliki kemampuan
Namun gagal sampai ke tujuan.”

Ia menekankan pentingnya menjadikan ilmu sebagai dasar dalam bertindak, serta mengasah “rasa” (żauq) di tengah era kecerdasan buatan dan disrupsi informasi.

Menurutnya, keberhasilan akademik bukan hanya hasil usaha pribadi, tetapi merupakan hasil dari banyak interaksi termasuk dengan orang-orang sederhana yang hadir dalam kehidupan sehari-hari.

Bagi Hadijah, IPK 4,00 bukanlah tujuan akhir. “IPK hanya penanda dari proses panjang. Yang terpenting adalah bagaimana kita bisa berdampak luas setelah studi,” ungkapnya.

Ia juga menegaskan bahwa kesuksesan akademik tidak semata ditentukan oleh kecerdasan, terutama itu ditentunkan oleh kemauan dan semangat untuk terus belajar dari berbagai sumber.

Setelah menyandang gelar Master of Arts (M.A.), Hadijah memiliki cita-cita menjadi penerjemah tersumpah dan meraih posisi sebagai guru besar di bidangnya. Dengan bekal akademik yang kuat dan dedikasi tinggi, ia optimistis dapat mewujudkan mimpi tersebut.

“Semoga kita terus diberi kekuatan untuk berkontribusi dan kemudahan dalam mencapai tujuan berikutnya,” tutupnya.

[Magister Sastra, Khotibul Umam]

Syahrul Zidane, Mahasiswa Antropologi Berkontribusi dalam Pameran “Life Behind the Ride” di Universitas Toronto

Rilis Berita Senin, 27 April 2026

Yogyakarta, 9 April 2026 – Pameran fotografi bertajuk “Life Behind the Ride: Resilience and Risk in Indonesia’s On-Demand Economy” di Lobi Barat Gedung Antropologi, Departemen Antropologi, Universitas Toronto dibuka dan akan dipajang selama enam minggu. Pameran yang dilaksanakan oleh EthnoLab, Universitas Toronto, Kanada merupakan keluaran dari penelitian panjang “Ubering the City” yang dipimpin oleh Dr. Sheri Gibbings, Dr. Elan Lazuardi (Departemen Antropologi, FIB, UGM), Dr. Robbie Peters, dan Dr. Joshua Barker dengan melibatkan kolaborasi antara peneliti, mahasiswa dan fotografer. 

Pameran ini menyoroti dampak transformasi ekonomi digital terhadap lanskap transportasi perkotaan di Indonesia melalui pendekatan visual etnografi. Kehadiran ekonomi gig ini tidak hanya menggeser keberadaan ojek tradisional, tetapi juga membentuk ulang jaringan sosial, pola mobilitas, dan perencanaan kota. Salah satu kontribusi penting dalam pameran ini yaitu Syahrul Zidane, mahasiswa Magister Antropologi Universitas Gadjah Mada. Meski terpisah jarak dan zona waktu, koordinasi antara tim UGM dan University of Toronto dilakukan secara intensif melalui pertemuan daring.

Sebelum terlibat di Toronto, Zidane lebih dulu berkontribusi dalam pameran di Universitas Gadjah Mada dan Wilfrid Laurier University. Ia bertanggung jawab atas penataan ruang pameran, kurasi foto, serta desain buku dan perangkat digital seperti katalog digital dan contributor book. Kini, ia kembali dilibatkan dalam pameran di University of Toronto bersama Dr. Emily Hertzman selaku penanggung jawab pameran, serta Austin dari School of Cities.

Dalam proyek ini, Zidane turut mengerjakan tata letak ruang pameran, kurasi visual, serta desain berbagai elemen seperti description text dan katalog digital. Ia mengaku pengalaman tersebut memberinya kepuasan tersendiri, “Rasanya bagi saya ini sangat menyenangkan karena bisa membantu dengan kemampuan saya mengenai managerial pameran, dan seperti balik lagi di masa-masa kuliah saya (semasa S1) di bidang seni terutama dalam kuratorial dan layout pameran”, ungkap Zidane. Keterlibatan Zidane mencerminkan peran generasi muda Indonesia dalam kancah akademik internasional sekaligus menunjukkan pentingnya kolaborasi global.

[Antropologi Budaya, Dewi Widyastuti]

Mahasiswa Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM Raih Juara 2 dan 3 dalam K-Newscasting Competition 2026 yang Diselenggarakan oleh KCCI

Rilis Berita Senin, 20 April 2026

Jakarta, 27 Februari 2026 – Empat mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea, Universitas Gadjah Mada (UGM), berpartisipasi dalam ajang K-Newscasting Competition 2026. Kompetisi membaca berita dalam bahasa Korea ini diselenggarakan oleh Korean Cultural Center Indonesia (KCCI) sebagai wadah untuk meningkatkan keterampilan berbahasa dan melatih kemampuan public speaking para peserta. Dalam kompetisi tersebut, dua mahasiswa berhasil menorehkan prestasi membanggakan dengan meraih Juara 2 oleh Matilda Kinasih Dewi dan Juara 3 oleh Mulya Ghefira Azzahra.

K-Newscasting Competition merupakan kompetisi tahunan yang menuntut peserta untuk membacakan berita dalam bahasa Korea dengan pelafalan yang tepat, intonasi yang akurat, serta ekspresi yang profesional layaknya seorang penyiar berita. Melalui ajang ini, para peserta tidak hanya mengasah kompetensi kebahasaan, tetapi juga mengembangkan keterampilan komunikasi, kepercayaan diri, dan profesionalisme yang relevan dengan kebutuhan dunia kerja.

Rangkaian acara dimulai dengan pemilihan nomor urut peserta yang kemudian dilanjutkan dengan sesi rehearsal membaca berita menggunakan prompter. Pada sesi rehearsal para peserta dilatih untuk menyesuaikan tempo dan intonasi penyampaian. Setelah sesi rehearsal telah selesai, para peserta diberikan waktu istirahat dan melakukan absensi ulang. Kompetisi utama dimulai dan dibagi menjadi dua sesi, yaitu peserta nomor urut 1–10 dan 11–21. Usai seluruh penampilan, dewan juri melakukan perhitungan skor sebelum akhirnya memasuki sesi awarding.

Pada sesi penghargaan tersebut diumumkan para pemenang K-Newscasting Competition 2026. Matilda Kinasih Dewi berhasil meraih Juara 2, disusul oleh Mulya Ghefira Azzahra yang memperoleh Juara 3. Prestasi ini menjadi kebanggaan bagi Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea UGM serta mencerminkan kualitas pendidikan yang mampu membekali mahasiswa dengan kompetensi unggul dan kesiapan berkarir secara profesional.

Matilda Kinasih Dewi, peraih Juara 2, menyampaikan rasa syukur atas pencapaiannya. “Saya sangat senang dan bersyukur karena bisa mendapatkan pengalaman baru melalui kompetisi ini. Tidak lupa, terima kasih banyak untuk semua yang telah mendukung saya dari awal hingga akhir!”

Mulya Ghefira Azzahra selaku peraih Juara 3 mengungkapkan bahwa kompetisi ini memberikan pengalaman yang berharga. “Saya mengikuti kompetisi ini untuk kedua kalinya karena ingin make sure minat career path saya. Meski tampil urutan pertama dan terkendala di speed prompter, saya tetap berusaha tenang dan bersyukur mendapat penilaian yang baik dari juri. Sangat senang bisa hadir bersama sahabat-sahabat saya dan bertemu dengan banyak wajah familiar. Terima kasih kepada keluarga dan Prodi kami atas support-nya selalu! ^^”

Keikutsertaan dan pencapaian ini diharapkan dapat memotivasi mahasiswa lainnya untuk terus mengembangkan potensi akademik dan nonakademik, sekaligus memperkuat hubungan budaya antara Indonesia dan Korea Selatan.

[Bahasa dan Kebudayaan Korea, Aura Adiba W. L]

Pengalaman Baru Keysha Almira sebagai Moderator Kuliah Umum Pariwisata di FIB UGM

Rilis Berita Jumat, 10 April 2026

Yogyakarta, 8 April 2026 – Kuliah umum bertajuk “Manajemen Hospitality di Hotel Bintang: Tantangan dan Peluang” yang diselenggarakan oleh Program Studi Pariwisata, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada tidak hanya memberikan wawasan baru bagi peserta, tetapi juga menghadirkan pengalaman berharga bagi mahasiswa yang terlibat langsung dalam penyelenggaraan acara. Salah satunya adalah Keysha Almira yang dipercaya menjadi moderator dalam kegiatan tersebut.

Bagi Keysha, kesempatan menjadi moderator dalam forum akademik berskala fakultas ini merupakan pengalaman yang penuh tantangan sekaligus pembelajaran. Ia bertugas memandu jalannya diskusi yang menghadirkan narasumber praktisi, yaitu Faradilla dari The Alana Yogyakarta Hotel & Convention Centre.

Dalam perannya, Keysha memastikan alur diskusi berjalan interaktif dan kondusif. Ia mengaku perlu melakukan persiapan, mulai dari memahami topik hospitality hingga mengenal latar belakang narasumber agar mampu membangun komunikasi yang baik selama sesi berlangsung.

Pengalaman ini menjadi momen penting bagi Keysha dalam mengasah keterampilan komunikasi publik, kepercayaan diri, serta kemampuan manajerial dalam mengelola forum akademik. Dalam pengalaman kali ini ia mendapatkan banyak insight dari materi yang disampaikan, khususnya terkait dinamika industri perhotelan dan pentingnya kualitas sumber daya manusia dalam sektor hospitality.

Keterlibatan mahasiswa sebagai moderator dalam kegiatan akademik seperti ini menunjukkan komitmen Prodi Pariwisata FIB UGM dalam memberikan ruang pembelajaran yang tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis. Mahasiswa didorong untuk aktif berpartisipasi dan mengembangkan soft skills yang relevan dengan dunia kerja.

Kegiatan ini sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) melalui pengembangan kompetensi mahasiswa secara holistik, serta SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan membekali mahasiswa keterampilan komunikasi dan profesionalisme yang dibutuhkan di dunia industri.

[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]

123…18

Rilis Berita

  • Program Studi Kajian Budaya Timur Tengah: Adakan Rapat Kurikulum untuk Meningkatkan Mutu Akademik
  • Kuliah Lapangan Etika dan Kebijakan Arkeologi Angkatan 2025 di Candi Barong dan Stupa Dawangsari
  • Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Lapangan’ – sebagai Refleksi atas ‘Masa Depan Kita Bersama’ dan perkembangan dalam rangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan
  • Kunjungan Asisten Proyek ERC DEAGENCY ke Antropologi UGM: Perkuat Kemitraan Internasional
  • Menyoal “Sosok Rakyat” dalam Sastra Populer Indonesia

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju