• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 4 Pendidikan Berkualitas
  • SDGs 4 Pendidikan Berkualitas
  • hal. 58
Arsip:

SDGs 4 Pendidikan Berkualitas

Ada Musuh dalam Selimut: Bagaimana Internet Bebas Mengubah Gaya Hidup dan Mentalitas Generasi Z dengan Tidak Disadari

Rilis BeritaSDGSSDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang TangguhSDGs 3: Kehidupan Sehat dan SejahteraSDGs 4: Pendidikan Berkualitas Rabu, 23 Juli 2025

Yogyakarta, 14 Juli 2025 – Generasi Internet yang disebut juga sebagai Generasi Z mengacu secara spesifik bawah orang-orang yang lahir pada akhir tahun 1990 hingga awal tahun 2010.

Generasi Z sangat dipengaruhi oleh produk-produk teknologi, yaitu generasi asli yang telah hidup di dunia maya dan dunia nyata elektronik sejak masa kanak-kanak. Oleh karena itu, dianggap juga “penduduk digital”. Perkembangan teknologi sekali mempengaruhi generasi ini. Identifikasi diri, mereka tidak hanya menaruh harapan pada Internet, tetapi juga merasa bingung karena Internet. Keinginan akan kebebasan dan ketidakberdayaan hidup berdampingan dalam hati generasi Internet.

Internet bebas telah menjadi nilai-nilai yang sangat diperlukan dalam masyarakat demokratis. Melalui Internet, orang dapat dengan gratis berbagi suasana hati dan memanfaatkan sumber daya. Ponsel pintar juga sudah menjadi alat Internet yang penting bagi remaja zaman sekarang. Tapi pada saat yang sama, media sosial dan video instan yang berwarna-warni juga telah mengubah gaya hidup pemuda-mudi dan menciptakan generasi yang rentan kurang PD dan terhadap depresi.

Ada banyak alasan mengapa remaja bisa mengalami depresi, namun perasaan “tidak kompeten” atau “gagal” disebutkan salah satu alasan yang paling umum. Terutama media sosial dapat menyebabkan atau memperburuk perasaan tidak mampu tersebut. Kekuatan teknologi sebagaimananya benar “berpartisipasi“ dalam kehidupan dan selangkah demi selangkah cetakan gaya hidup semuanya.

Selain itu, Postingan di Internet sering kali melaporkan kabar baik tetapi bukan kabar buruk. Ketika pemuda menghabiskan banyak waktu menggunakan media sosial, mereka sering kali mengembangkan mentalitas komparatif seperti “dibayangi oleh orang lain”. atau “merasa bahwa saya tidak sebaik orang lain” adalah fenomena yang umum terjadi.

Paradoksnya, remaja yang depresi suka menunjukkan optimisme, PD atau kehidupan yang indah secara online. Terlihat bahwa Internet telah menjadi surga bagi remaja untuk menghindari depresi dan khawatir dalam kenyataan. Mereka membenci rasa sakit yang mereka derita dalam kehidupan nyata, sehingga mereka beralih ke Internet untuk mengejar kebahagiaan virtual. Ciri-ciri ledakan informasi di era Internet telah membuat kebebasan semakin meluas. Platform Internet dapat memberikan pemuda-pemudi beragam pilihan yang terang.

Meskipun konsep kebebasan telah berkembang ke tingkat yang lebih tinggi, hal ini juga meningkatkan rasa tidak aman di generasi Internet. Keberagaman internet juga mendukung setiap orang untuk berkembang ke arah yang berbeda. Diskusi seperti mendorong kelemahan, mendorong pembicaraan, dan mendorong perbedaan pun bermunculan. Fakta-fakta berikutnya menjadi bukti bahwa gaya hidup generasi muda lambat laun mulai terdampak.

Sebaliknya, fenomenanya juga membawa efek samping tentang kebingungan diri sendiri dan ketidakberdayaan. Semakin banyak anak muda sekarang yang kebanjiran “samudra ledakan informasi” yang luas serta bahaya dan mausuk ke arah gaya hidup yang buruk seperti menghasilkan uang cepat dengan penipuan atau memamerkan kekayaan keluarganya. Kejadian berikutnya tampaknya berbeda dengan niat awalnya.

Di era Internet, diskusi tentang selfie yang sempurna dan pekerjaan yang sukses sering bisa dilihat di mana-mana di media sosial. Ketika foto-foto yang menunjukkan tubuh atau penampilan yang sempurna terlihat di wawasan para remaja; ketika lulusan perguruan tinggi melihat bahwa teman-teman kelas mereka sudah memiliki pekerjaan yang patut ditiru, mereka mulai memikirkan gaya hidup yang diikuti sekarang dan mencoba mencari tempat yang berbeda: gaya hidup yang sukses dari orang lainnya membuat mereka untuk bekerja lebih keras dan mencoba untuk menjadikan diri sendiri lebih baik, semuanya memiliki kesempatan untuk memperbaiki kehidupannya melalui nilai-nilai cocok dari informasi Internet dan media sosial.

Namun kenyataannya tidak sempurna yang dibayangkan. Misalnya, dalam ingatan saya ada banyak “pemberi pengaruh“ yang sukses mendapat banyak perhatian dari Instagram tapi akhirnya menolak arti media sosial dan menutup akunnya. Semakin banyak pemuda-pemudi mengkritik budaya palsu generasi internet. Meski internet penuh dengan berbagai nilai dan opini, media sosial membatasi imajinasi masyarakat akan kesuksesan dan kecantikan. Sulit membayangkan kesuksesan di platform Internet adalah apa yang banyak pemuda-pemudi kejar ketika mereka masih di sekolah menengah.

Internet hanyalah sebuah hadiah gaib yang berorientasi pasar, dan semuanya di Internet menjadi komoditas yang dinilai dari jumlah “suka” atau tanggapan orang lain. Hal ini pada akhirnya menjadi pengejaran biasa-biasa saja dan tidak bisa membawa kebahagiaan yang nyata.

Terakhir tetapi tidak kalah penting, meskipun Internet gratis mungkin tidak memberikan kebahagiaan sejati bagi masyarakat, teknologi ini masih telah menciptakan kemungkinan tak terbatas untuk pengembangan diri dan imajinasi berbeda tentang masa depan. ( Konsep Internet bagai musuh dalam selimutnya. ) Saat ini, mustahil bagi kita untuk kembali ke era tanpa Internet. Namun, jika kita dapat mendeteksi dan lebih memahami terhadap tantangan psikologis generasi Internet, kita dapat menciptakan peluang Internet yang lebih baik!

[National Chengchi University, Wu Yu Han]

 

source photo : Media.id

Dekolonisasi Arsip Fotografi: Membangkitkan Kembali Gambar-Gambar Kolonial untuk Ilmu Pengetahuan dan Masyarakat

SDGs 10: Mengurangi KetimpanganSDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang TangguhSDGs 4: Pendidikan Berkualitas Jumat, 18 Juli 2025

Yogyakarta, 10/7/2025 – Departemen Sejarah Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan kuliah umum yang membangkitkan gairah intelektual dan diskusi kritis lintas disiplin. Bertempat di Ruang 709 Gedung Soegondo, kuliah umum bertajuk “Dekolonisasi Arsip Fotografi: Masalah Penelitian di Zaman Kolonial dan Dokumentasi Visualnya” ini menghadirkan Dr. Martin Slama, peneliti senior dari Akademi Ilmu Pengetahuan Austria, sebagai narasumber utama.

Dalam pemaparannya, Dr. Slama menyingkap hasil ekspedisi ilmuwan Austria dan Jerman ke Hindia Belanda pada tahun 1928-1929. Ekspedisi limnologi ini tak hanya menghasilkan sekitar 3.000 foto yang menyorot ekologi perairan sungai dan danau, tetapi juga merekam kehidupan masyarakat lokal secara detail, mulai dari upacara adat, kegiatan keagamaan, hingga rutinitas sehari-hari. Uniknya, sebagian besar gambar diambil dengan teknologi fotografi stereo yang menghadirkan efek tiga dimensi.

Namun, di balik nilai ilmiahnya yang besar, arsip foto-foto tersebut selama ini tersimpan eksklusif di Wina, Austria. Akses yang terbatas menjadi kritik utama yang diangkat dalam diskusi: bagaimana foto-foto ini bisa dikembalikan maknanya ke masyarakat tempat ia diambil? Bagaimana menjadikannya bukan sekadar warisan kolonial, tetapi jendela refleksi sosial, budaya, dan sejarah?

Dr. Slama menekankan bahwa digitalisasi semata tidak cukup. Menurutnya, perlu ada pendekatan dekolonisasi dalam penyajian arsip digital tersebut, agar komunitas lokal di Indonesia dapat mengakses, memahami, bahkan memaknai ulang gambar-gambar tersebut sesuai konteks hari ini. “Foto-foto kolonial ini harus diberi kehidupan baru yang tidak hanya sebagai objek visual, tetapi sebagai bagian dari narasi yang melibatkan masyarakat yang dulu menjadi subjeknya,” ujarnya.

Diskusi berlangsung dinamis dan penuh antusiasme. Dosen, mahasiswa, serta akademisi dari berbagai bidang turut aktif bertanya dan berdialog, menunjukkan betapa pentingnya interseksi antara sejarah, visualitas, dan etika arsip dalam kajian post-kolonial.

Melalui kuliah umum ini, Departemen Sejarah UGM tidak hanya membuka ruang akademik untuk belajar sejarah masa lalu, tetapi juga menantang peserta untuk berpikir kritis tentang masa kini serta bagaimana warisan kolonial bisa direkonstruksi untuk masa depan yang lebih adil dan inklusif.

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

Siapa Sangka Seorang Mahasiswa Sastra Arab Diterima Magang di Perusahaan BUMN? Inilah Kontribusi Faris Zakiy untuk Masyarakat

SDGs 11: Kota dan Pemukiman Yang BerkelanjutanSDGs 7: Energi bersih dan terjangkauSDGs 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Jumat, 18 Juli 2025

Siapa bilang mahasiswa Sastra Arab hanya berkutat dengan teks dan budaya Timur Tengah? Fariz Zakiy, mahasiswa aktif dari Sastra Arab Universitas Gadjah Mada (UGM), membuktikan sebaliknya. Ia berhasil menunjukkan bahwa latar belakang pendidikan humaniora bukanlah penghalang untuk berkontribusi nyata dalam dunia profesional. 

Berawal dari keinginan mengisi liburan semester dengan kegiatan produktif, Faris menemukan informasi magang. Saat membaca salah satu posisi yang dibuka adalah di bidang Corporate Social Responsibility (CSR), ia langsung tertarik, meskipun sempat ragu karena merasa jurusannya tidak berkaitan langsung. Dengan keberanian untuk mencoba, dia memutuskan untuk mengambil peluang dan kesempatan itu. Keputusannya itu ternyata membuahkan hasil. Ia diterima dan mulai menjalani pengalaman magang yang mempertemukannya dengan banyak dinamika masyarakat. 

Ketertarikan Faris terhadap dunia sosial bukanlah hal baru. Sejak awal kuliah, ia aktif dalam berbagai kegiatan kemasyarakatan seperti Ikmasa Mengabdi, Gemilang Desa, Ramadhan di Kampus, hingga menjadi bagian dari tim acara PIONIR Gadjah Mada 2024. Dari sanalah tumbuh kepekaannya terhadap isu sosial serta kemampuan dalam perencanaan kegiatan yang kini menjadi aset penting dalam perannya di bidang CSR.

Kendati berasal dari jurusan Sastra Arab, Faris menemukan bahwa banyak keterampilan yang ia peroleh selama studi sangat berguna dalam dunia kerja. Kemampuan menulis dan berkomunikasi yang ia latih selama kuliah menjadi modal utama dalam menyampaikan informasi kepada masyarakat dengan cara yang lebih jelas dan mudah dipahami. Ditambah lagi, pengalamannya dalam menangani program-program organisasi membekalinya dengan kemampuan menerima kritik, merespons permasalahan secara solutif, serta menyiapkan materi komunikasi publik dengan visual menarik–seperti desain grafis dan video editing–yang semuanya mendukung kerja-kerja CSR di lapangan.

Selama magang, Faris terlibat dalam berbagai program pengembangan masyarakat yang mencakup sektor pertanian, peternakan, kesehatan, pariwisata, dan ekonomi. Salah satu program yang paling membanggakan baginya adalah pengembangan Kelompok Tani Bina Mandiri di Desa Pulosari melalui inovasi teknologi biodigester yang menghasilkan bio slurry. Produk ini kemudian dikembangkan menjadi Bio Slurry Plus, inovasi orisinal dari PLTP Gunung Salak yang belum pernah diterapkan di tempat lain. Program ini terbukti meningkatkan produktivitas sektor pertanian dan peternakan, dan menjadi salah satu alasan mengapa CSR PLTP Gunung Salak mendapatkan penghargaan Gold–tingkat tertinggi dalam penilaian program CSR nasional.

Dalam menjalankan perannya, Faris juga dihadapkan pada tantangan, terutama dalam mengubah kebiasaan masyarakat yang belum sepenuhnya tepat, khususnya di bidang pertanian dan peternakan. Ia dan tim memilih untuk melakukan edukasi secara perlahan, konsisten, dan dengan pendekatan yang persuasif agar pesan-pesan perubahan bisa diterima tanpa menyinggung kebiasaan yang telah mengakar. Dalam proses itu, Faris sangat menjunjung tinggi nilai lokal dan budaya setempat. Ia percaya bahwa prinsip “di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung” menjadi kunci dalam membangun kepercayaan masyarakat, terutama ketika bekerja di lingkungan yang sarat dengan nilai-nilai kultural seperti kawasan sekitar Taman Nasional Halimun Gunung Salak, meskipun lokasi binaan program berada di luar area konservasi tersebut.

Pengalaman magang ini mengubah cara pandang Faris terhadap hubungan antara dunia sastra, sosial, dan dunia kerja. Ia menyadari bahwa ilmu yang ia pelajari, yang semula ia anggap hanya relevan di ruang akademik atau kajian budaya, ternyata memiliki koneksi erat dengan kebutuhan praktis di lapangan. Sastra tidak hanya soal teks, tetapi juga tentang memahami konteks sosial, membangun empati, dan menyampaikan gagasan secara efektif–hal-hal yang sangat krusial dalam bidang pengembangan masyarakat. Baginya, dunia sastra dan dunia kerja tidak berseberangan, justru saling mendukung dan menguatkan.

Setelah program magangnya selesai, Faris bertekad untuk terus terlibat dalam kegiatan sosial dan memperdalam pengetahuannya di bidang pengembangan masyarakat. Ia juga ingin mengeksplorasi keterampilan yang selama ini ia tekuni, seperti perencanaan acara, desain, video editing, dan penulisan, yang menurutnya sangat dibutuhkan dalam dunia kerja sosial. Kisah Faris Zakiy adalah bukti nyata bahwa keberanian untuk melangkah, minat yang konsisten, dan kemampuan beradaptasi bisa membawa mahasiswa dari disiplin apa pun untuk memberi dampak nyata bagi masyarakat–bahkan hingga ke perusahaan milik negara.

 

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

“Berdongeng Bisa Menyentuh Lebih Dalam dari Logika”: Kisah Pandhita, Mahasiswa Sastra Arab yang Menjadikan Storytelling Sebagai Jalan Hidup

SDGs 4: Pendidikan BerkualitasSDGs 5: Kesetaraan Gender Kamis, 17 Juli 2025

“Saat aku berperan sebagai seorang ibu yang dikhianati putranya, aku melihat audiensku menangis.” Kalimat itu keluar dari mulut Pandhita dengan penuh keyakinan dan mata yang menerawang. Bukan karena ia pernah benar-benar mengalami kisah itu, melainkan karena ia tahu betul bagaimana menyampaikan cerita dengan rasa. Bagi Pandhita, storytelling bukan sekadar pertunjukan kata atau hiburan panggung. Itu adalah cara paling halus namun dalam untuk menyampaikan pesan, menggerakkan emosi, dan menyentuh sisi manusia yang sering kali tak dijangkau oleh logika. Dan perjalanan cinta pada storytelling  itu dimulai sejak ia masih duduk di bangku sekolah dasar.

Waktu itu, Pandhita mengikuti lomba storytelling tingkat kabupaten dan berhasil meraih juara. Bukan kemenangannya yang paling membekas, melainkan saat ia menyadari kekuatan sebuah dongeng yang mampu membuat audiens tertawa, termenung, bahkan menitikkan air mata. Sejak momen itulah, storytelling bukan lagi sekadar hobi baginya, melainkan jalan hidup yang ia yakini bisa membawa manfaat untuk orang lain. Ia percaya bahwa menyampaikan nilai-nilai kehidupan tidak selalu harus dengan nasihat atau petuah, cerita yang ringan namun mengandung makna justru lebih bisa diterima dan diresapi. “Khairunnās anfa‘uhum linnās, sebaik-baik manusia adalah yang bermanfaat untuk manusia yang lain” begitu ia menegaskan, sembari mengutip mahfuzhat Arab yang menjadi prinsip utamanya dalam berkarya.

Semakin ia menyelami dunia storytelling, semakin banyak pula pintu yang terbuka. Kemampuan bercerita menjadikannya dipercaya sebagai mentor dalam berbagai bidang, mulai dari bahasa Arab, Inggris, hingga pelajaran umum. Salah satu pengalaman paling unik yang ia alami adalah saat mengikuti lomba storytelling berbahasa Korea–padahal ia belum pernah belajar bahasa itu secara formal. Hanya berbekal dari lagu-lagu dan drama yang ia dengar, ia mencoba menirukan pelafalan dan ekspresi, semata-mata demi memperluas wawasan dan mengenal bahasa baru. Dari situ, ia semakin yakin bahwa cerita bisa menjadi medium pembelajaran lintas bahasa.

Kemampuannya dalam menyusun narasi dan menyampaikan pesan juga membuatnya kerap dilibatkan dalam proyek video edukatif. Orang-orang mempercayakan padanya tugas penting: menyampaikan pesan dengan runtut, hidup, dan penuh makna. Namun dari sekian banyak pengalaman, satu momen yang paling tak terlupakan adalah saat ia menjadi pendongeng dalam acara sosial anak-anak di daerah marginal. Jumlah audiensnya mungkin tak seberapa, tapi ketika ia memainkan peran dalam kisah “Batu Menangis”, ruangan itu berubah hening dan emosional. “Ketika aku berakting sebagai seorang ibu yang dicela oleh anaknya, aku melihat anak-anak itu ikut menangis. Mereka tidak hanya mendengar, mereka merasakan.” Dari situlah Pandhita tahu: ia tidak hanya menyampaikan cerita, tapi menghidupkan makna.

Keterampilan itu pula yang menuntunnya ke dunia profesional sebagai moderator dan pembawa acara. Menjadi MC, menurutnya, bukan sekadar membaca susunan acara, tapi juga bagaimana membangun suasana, menjaga semangat dan antusias pendengar, serta menjaga energi diri untuk terus stabil dari awal hingga akhir. Ia memadukan teknik naratif dengan permainan nada suara, metafora ringan, dan transisi yang baik agar setiap segmen acara terasa hidup. Bahkan, storytelling pernah menyelamatkannya dalam situasi wawancara yang penuh tekanan. Ketika pikirannya buntu karena sebuah pertanyaan, ia memilih menjawab dengan pendekatan naratif. “Aku hanya menceritakan sebuah analogi sederhana, mengemas bahasa yang rumit menjadi sederhana dan mudah dipahami, dan pewawancaranya pun tersenyum,” kenangnya.

Bagi Pandhita, storytelling adalah jembatan antara pikiran dan hati. Ia menolak anggapan bahwa bercerita hanya untuk anak-anak. Justru, dari cerita, kita bisa belajar empati, kepekaan, dan kepedulian sosial. Dunia ini dipenuhi hal-hal kecil yang bermakna, hanya saja kita sering tak sempat melihatnya. Maka dari itu, ia menjadikan storytelling sebagai cara untuk membuat orang lain melihat ulang hidupnya dengan sudut pandang yang lebih hangat. Di berbagai forum edukasi dan motivasi yang ia hadiri, Pandhita selalu membawa satu pesan penting: literasi dan bahasa adalah kunci masa depan. “Sayangnya, masih banyak yang mengabaikannya,” ujarnya dengan lirih.

Saat ditanya tentang impiannya, Pandhita menjawab dengan mantap: ia ingin membuat workshop storytelling yang terbuka bagi siapa saja. Sebuah ruang aman tempat orang bisa berbagi cerita tanpa takut dihakimi. Baginya, storytelling bukan soal tampil sempurna atau mengesankan, tapi tentang kejujuran, keberanian, dan penerimaan diri. “Setiap orang punya cerita. Dan setiap cerita punya kekuatan,” katanya. Ia percaya, menjadi manusia yang menginspirasi tidak selalu soal pencapaian besar, kadang cukup dengan menjadi pendengar yang baik, atau pencerita yang tulus.

 

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

Hanuman dan Sun Gokong: Dua Pahlawan Kera dalam Lintas Budaya India–Tionghoa

SDGs 11: Kota dan Pemukiman Yang BerkelanjutanSDGs 17: Kemitraan Untuk Mencapai TujuanSDGs 4: Pendidikan Berkualitas Kamis, 10 Juli 2025

Yogyakarta, 8 Juli 2025 – Pertunjukan Ramayana di Candi Prambanan adalah salah satu pertunjukan budaya paling megah di Indonesia. Dipentaskan di panggung terbuka dengan latar belakang Candi Prambanan yang megah, pertunjukan ini menggabungkan tari tradisional Jawa, musik gamelan, dan drama tanpa dialog untuk menceritakan kisah epik Ramayana. Cerita ini mengikuti petualangan Pangeran Rama dalam menyelamatkan istrinya, Shinta, dari cengkeraman Rahwana, dengan bantuan Hanuman sang Dewa Kera. Pertunjukan ini biasanya diadakan pada malam hari, menciptakan suasana magis yang memadukan seni, sejarah, dan spiritualitas di bawah cahaya bulan.

Setiap bagian dari pertunjukan Ramayana benar-benar memikat saya, seperti musik, tarian, adegan perkelahian, hingga efek-efek khusus, semuanya terasa sangat sempurna. Meskipun hampir tidak ada dialog dalam pertunjukan ini, ekspresi tubuh dan tarian para penari mampu menyampaikan cerita dengan sangat jelas. Bagian yang paling berkesan bagi saya adalah saat Hanuman, dewa kera, mencari Putri Shinta, namun akhirnya tertangkap oleh Rahwana, sang raja iblis. Adegan ini mengingatkan saya pada budaya Tionghoa yang juga memiliki tokoh kera legendaris, yaitu Sun Gokong, Raja Kera dari kisah “Perjalanan ke Barat”. 

Hanuman dan Sun Gokong berasal dari budaya yang berbeda, namun keduanya merupakan sosok “pahlawan kera” yang sangat ikonik dalam peradaban masing-masing. Hanuman adalah tokoh penting dalam wiracarita India, Ramayana. Ia dikenal sebagai putra Dewa Angin dan reinkarnasi Dewa Siwa, melambangkan kesetiaan, pengabdian, dan kekuatan spiritual yang luar biasa. Hanuman dengan setia membantu Pangeran Rama dalam menyelamatkan Shinta yang diculik oleh raja iblis Rahwana. Dalam cerita, Hanuman menunjukkan berbagai kekuatan supranatural seperti terbang melintasi lautan, mengubah ukuran tubuh, dan tubuhnya yang kebal. Hingga kini, Hanuman masih sangat dihormati di India, Indonesia, dan wilayah Asia Tenggara lainnya.

Sementara itu, Sun Gokong adalah salah satu tokoh utama dalam novel klasik Tiongkok “Perjalanan ke Barat” (Journey to the West). Ia lahir dari batu, memiliki kecerdasan luar biasa, dan pernah membuat kekacauan di istana langit sebelum akhirnya dikalahkan oleh Buddha dan dipenjara di bawah Gunung Lima Elemen selama lima ratus tahun. Ia kemudian dibebaskan oleh Biksu Tang dan menjadi pengawalnya dalam perjalanan ke Barat untuk mencari kitab suci. Sun Wukong memiliki kemampuan seperti 72 perubahan bentuk, Jindouyun (Awan ajaib yang dipakai Sun Gokong untuk terbang sangat cepat), dan Huo Yan Jin Sing (Mata Sun Wukong yang bisa melihat melalui ilusi dan penyamaran). Ia cerdik, pemberani, dan setia, mencerminkan perpaduan nilai-nilai Buddhisme, Taoisme, dan kepercayaan rakyat Tiongkok. Selain menjadi pelindung gurunya, Sun Gokong juga melambangkan proses pencarian spiritual dan pertumbuhan pribadi, dan telah menjadi tokoh yang sangat dicintai dalam budaya Tionghoa dan komunitas Tionghoa di seluruh dunia.

Banyak ahli percaya bahwa sosok Sun Gokong mungkin mendapat pengaruh tidak langsung dari Hanuman. Hal ini terutama karena saat agama Buddha masuk ke Tiongkok dari India, banyak elemen mitologi India ikut terbawa; selain itu, kisah perjalanan biksu Xuanzang ke Barat pada masa Dinasti Tang menjadi prototipe cerita “Perjalanan ke Barat” . Selain itu, Hanuman juga muncul dalam beberapa versi Buddha dari Ramayana yang mungkin disebarkan ke Tiongkok melalui Asia Tengah. Namun, karakter dan kisah Sun Gokong lebih banyak dengan humor khas Tiongkok dan unsur Taoisme, sehingga dia bukan sekadar salinan Hanuman, melainkan tokoh unik yang diciptakan kembali melalui budaya Tiongkok. Meskipun keduanya bukan tokoh yang sama, mereka dapat dilihat sebagai representasi “pahlawan kera” dari budaya berbeda, yang mungkin saling memberi inspirasi sekaligus mencerminkan nilai dan imajinasi dari peradaban masing-masing.


[National Chengchi University, Pan Ke En]

1…5657585960…161

Rilis Berita

  • Lulus dalam 3,5 Tahun: Strategi Tiga Mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM dalam Menyelesaikan Studinya
  • Ziarah Makam Sawitsari, Agenda Rutinan FIB UGM Menyambut Dies Natalis ke-80
  • Prof. Suhandano Soroti Tantangan Studi Bahasa di Era Digital pada Dies Natalis ke-80 FIB UGM
  • FIB UGM Berikan Penghargaan Mahasiswa Berprestasi pada Dies Natalis ke-80
  • Mahasiswa FIB UGM Ciptakan Buku Pop-Up “8 Dekade Membangun Peradaban” untuk Visualisasikan Sejarah Fakultas

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju