Yogyakarta — Penulis sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada, Ramayda Akmal, mengajak publik membaca kembali pemikiran Profesor Emeritus Monash University, Ariel Heryanto, dalam diskusi bertajuk “Ramayda Akmal Membaca Ariel Heryanto” yang digelar di Auditorium Soegondo, Lantai 7 FIB UGM, Senin (29/6), pukul 13.00–15.00 WIB.
Acara yang dimoderatori mahasiswa Magister Sastra UGM, Giandra Febrian, menghadirkan Ariel Heryanto sebagai narasumber. Diskusi berfokus pada dua karya Ariel, yakni Huruf demi Huruf dan Nasib Publik dalam Republik, serta mengundang peserta untuk mendiskusikan berbagai persoalan sosial, politik, dan budaya Indonesia melalui pembacaan atas karya-karya tersebut.
Dalam sambutan acara ini, Ketua Program Studi Magister Sastra UGM, Prof. Aprinus Salam, mengenang perjalanan intelektualnya bersama Ariel Heryanto. Ia bahkan memperlihatkan sejumlah foto lama yang merekam kebersamaan mereka sebagai bagian dari nostalgia sekaligus penghormatan terhadap kontribusi Ariel dalam dunia akademik Indonesia.
Mengawali pemaparannya, Ramayda Akmal menyebut Huruf demi Huruf sebagai kumpulan esai yang merangkum berbagai persoalan paling krusial yang dihadapi bangsa Indonesia. Menurutnya, tulisan-tulisan Ariel tidak hanya mengangkat isu-isu penting, tetapi juga mengajak pembaca mempertanyakan kembali asumsi yang selama ini dianggap mapan, mulai dari makna pemilu sebagai “pesta demokrasi”, konsep kelas menengah, pembacaan atas perkosaan Mei 1998 sebagai bahasa kekuasaan, hingga relasi antara struktur sosial Indonesia pascakemerdekaan dengan warisan kolonial Hindia Belanda.
Ramayda juga menyoroti bagaimana Ariel Heryanto membangun cara pandang yang tidak selalu bertumpu pada teori-teori Barat. Menurutnya, banyak esai Ariel memperlihatkan upaya memahami masyarakat Asia melalui pengalaman, sejarah, pengetahuan, dan pemikiran yang lahir dari sesama masyarakat Asia atau yang dikenal sebagai south-south knowledge exchange. Dalam pembacaannya, Ariel berupaya melihat budaya Indonesia melalui relasinya dengan masyarakat Asia lainnya.
Selain itu, Ramayda menjelaskan bahwa salah satu kekuatan tulisan Ariel terletak pada kemampuannya membaca hubungan yang semakin kompleks antara budaya populer, kapitalisme, dan kekuasaan. Menurutnya, perkembangan media digital menghadirkan berbagai bentuk produk budaya alternatif yang tampak inklusif, tetapi tetap berada dalam logika kapitalisme.
“Yang membuat tulis Mas Ariel bisa kita baca dan bisa dipertanyakan ulang ketika kita melihat contoh-contohnya semakin kompleks. Tadi alternate literature itu masuk pop culture apa tidak, pembacanya, atau ia alternative product. Tapi sangat difasilitasi oleh media yang sangat kapitalis. Walaupun karakternya sangat variatif-inklusif, setiap orang bisa nulis, bisa baca, tapi kan kalau product kamu harus bayar […] nah itu kan semakin kompleks hubungan antara kapitalisme, budaya pop, penguasa, kekuatan dominan,” ujar Ramayda.
Dalam sesi diskusi, Ramayda juga membagikan kesan pribadinya terhadap esai “Huruf demi Huruf” yang menjadi judul buku tersebut. Baginya, esai itu menjadi salah satu tulisan Ariel yang paling berkesan karena berangkat dari pengalaman masa lalu yang sangat personal, lalu menghubungkannya dengan refleksi mengenai kondisi Indonesia hari ini.
Sementara itu, Ariel Heryanto mengungkapkan pertanyaan yang terus mendorongnya menulis sejak sekitar 1976. Menurutnya, ia selalu terusik oleh kenyataan bahwa ketimpangan sosial dapat berlangsung dalam masyarakat yang tampak relatif stabil, damai, dan seolah berjalan tanpa gejolak besar.
Diskusi semakin hangat ketika peserta menanyakan kemungkinan Indonesia mengalami disintegrasi, merujuk pada judul buku Nasib Publik dalam Republik. Menanggapi pertanyaan tersebut, Ariel menekankan bahwa kapitalisme merupakan kekuatan terbesar yang membentuk kehidupan bernegara saat ini.
“Menurut saya kekuatan terbesar di dunia saat ini bernama kapitalisme. Bukan radikalisme, bukan separatisme. Ada semua itu, tapi tidak mampu mengungguli kapitalisme. Selama ia (negara) menggunakan kapitalisme, ia akan bertahan. Bukan saja di dalam negeri, tapi juga di luar. Dengan kata lain, nasionalisme adalah produk dan kepentingan kapitalisme. Nasib sebuah nation akan bertahan tergantung pembentukan menggunakan sistem kapitalisme atau tidak,” ujar Ariel.
Melalui diskusi ini, penyelenggara berharap masyarakat, baik yang telah maupun belum membaca karya-karya Ariel Heryanto, dapat menjadikan forum tersebut sebagai ruang untuk mengurai sekaligus mengkritisi berbagai persoalan kebangsaan melalui perspektif sastra, budaya, dan ilmu sosial.
Acara ditutup dengan sesi penandatanganan buku oleh Ariel Heryanto. Sejumlah peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meminta tanda tangan, berfoto, dan berdiskusi secara langsung dengan Ariel mengenai gagasan-gagasan yang dipaparkan selama diskusi. Antusiasme peserta mencerminkan besarnya minat terhadap karya dan pemikiran Ariel Heryanto yang masih relevan dalam membaca berbagai persoalan Indonesia hari ini.
Penulis: Khotibul Umam
