• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang Tangguh
Arsip:

SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang Tangguh

Spiritualitas, Trauma Ekologis, dan Kritik Modernitas dalam Diskusi Sastra ASN 2026

Rilis Berita Selasa, 3 November 2026

Hantu, wallpaper berwarna kuning, ponsel, hingga naskah Melayu menjadi pintu masuk untuk membicarakan persoalan spiritualitas dalam sastra. Melalui beragam objek dan pengalaman tersebut, para pemakalah Academic Student Networking (ASN) 2026 pada Rabu (7/10) menunjukkan bahwa sastra tidak hanya berbicara tentang keindahan bahasa, tetapi juga menyimpan kritik terhadap kerusakan lingkungan, relasi kuasa, dan kehidupan manusia modern.

Pembahasan itu mengemuka dalam sesi kedua dan ketiga ASN 2026 yang mempertemukan pemakalah dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (Undip), dan Universitas Andalas (Unand). Melalui pembacaan terhadap novel, cerita pendek, puisi, dan naskah Melayu, para pemakalah mencoba melihat bagaimana pengalaman spiritual dan berbagai bentuk keganjilan dalam sastra berkaitan dengan persoalan sosial dan kebudayaan.

Dalam sesi kedua yang dimoderatori Dinda Aura Putri, Jusmawati dari Magister Sastra UGM mempresentasikan makalah berjudul “Hantu sebagai Personifikasi Climate Trauma dalam Novel Jejak Balak Karya Ayu Welirang”. Ia membaca sosok hantu dalam novel tersebut sebagai representasi trauma iklim, terutama kecemasan yang muncul akibat kerusakan lingkungan dan ancaman bencana ekologis.

Jusma menggunakan konsep climate trauma dari E. Kaplan (2015) untuk menelaah hubungan antara kerusakan hutan, konflik penguasaan tanah, dan pengalaman traumatis masyarakat. Dalam pembacaannya, kerusakan lingkungan tidak hanya mengubah kondisi alam, tetapi juga mengganggu hubungan masyarakat dengan tanah adat, tradisi, dan ruang hidup mereka.

Salah satu persoalan yang disoroti adalah pengubahan hutan ulayat menjadi perkebunan sawit oleh PT Zamrud Bumi melalui manipulasi birokrasi. Praktik tersebut memicu konflik tenurial sekaligus memperlihatkan bagaimana tekanan ekonomi dapat mendorong masyarakat melepas tanah adatnya.

Pembalakan pohon jati juga menciptakan ruang ekologis yang kehilangan fungsi dan makna bagi masyarakat. Situasi ini dibaca sebagai bentuk keterasingan tempat (place alienation), ketika lingkungan yang sebelumnya menjadi bagian dari kehidupan masyarakat justru berubah menjadi ruang yang asing.

Ancaman banjir bandang atau galodo memperkuat kecemasan kolektif tersebut. Dalam novel, kerusakan hutan dipahami sebagai bagian dari rangkaian persoalan yang berpotensi membawa bencana lebih luas.

Di tengah situasi itu, sosok Inyak muncul sebagai figur spiritual yang mengalami perubahan makna. Kemunculan sepasang manik putih di rimba ulayat menjadi pertanda bahaya sebelum malapetaka ekologis terjadi. Inyak yang semula dipahami sebagai leluhur suci penjaga moral kemudian tampil sebagai sosok spektral yang menghukum dan menebarkan maut di wilayah sengketa.

Jusma juga menyoroti trauma masa lalu yang dialami tokoh dalam novel, termasuk pengalaman pembantaian satwa oleh ayahnya. Trauma tersebut berkelindan dengan tindakan kekerasan ketika figur Inyak seolah diambil alih melalui aksi pembunuhan terhadap pembalak menggunakan cakar buatan. Dalam pembacaan ini, trauma yang tidak terolah justru berkembang menjadi teror destruktif.

Melalui analisis tersebut, Jusma menempatkan hantu bukan sekadar sebagai unsur yang menghadirkan ketakutan, melainkan sebagai personifikasi trauma iklim dan konflik sosial yang menyertai kerusakan lingkungan.

Horor dan Keganjilan sebagai Kritik terhadap Kekuasaan

Persoalan horor dibahas dari sudut berbeda oleh tim pemakalah Undip, yang yang terdiri dari Nugrahaning Anindita C., Dennis Audria Permana, dan Zainab Al Awwahah. Melalui makalah bertajuk “Something Queer: Entitas Janggal Mark Fisher dalam ‘The Yellow Wallpaper’ karya Charlotte”, mereka menelusuri pergeseran dari horor Gotik menuju weird fiction, terutama melalui cerita pendek “The Yellow Wallpaper” (1892) karya Charlotte Perkins Gilman.

Cerita tersebut berkisah tentang seorang narator perempuan tanpa nama yang menjalani metode rest cure, sebuah perawatan yang membatasi aktivitas fisik dan mental pasien. Ia ditempatkan di sebuah kamar oleh suaminya, John, seorang dokter, dan hanya dapat menyalurkan kegelisahannya melalui buku harian yang disembunyikan.

Dalam pembacaan tim pemakalah, rumah dan wallpaper bukan sekadar latar cerita. Rumah yang lama kosong dan memiliki sejarah sengketa waris menjadi ruang yang menyimpan keganjilan. Sementara itu, kamar yang semestinya menjadi tempat perlindungan justru berubah menjadi ruang yang membatasi kebebasan narator.

Wallpaper berwarna kuning menjadi pusat perhatian ketika narator mulai melihat sosok di balik pola-pola yang menghiasi permukaannya. Keganjilan itu perlahan meluas, seolah merembes keluar dari kamar dan mengganggu ruang-ruang lain di rumah.

Pembacaan tersebut memperlihatkan bagaimana sesuatu yang dianggap tidak masuk akal dapat menantang penjelasan rasional. John terus mengutamakan logika medis, tetapi pengalaman narator menunjukkan bahwa kerangka rasional yang digunakan untuk memahami dirinya belum tentu mampu menjelaskan seluruh keganjilan yang dialaminya.

Kondisi tersebut juga berkaitan dengan relasi kuasa dalam rumah tangga. Sebagai suami sekaligus dokter, John memiliki otoritas untuk menentukan apa yang dianggap benar mengenai keadaan istrinya. Sebaliknya, narator memiliki ruang yang terbatas untuk menyampaikan pengalaman dan menentukan kebutuhannya sendiri.

Pada akhir cerita, narator semakin melepaskan peran sosialnya sebagai istri dan ibu. Kegilaan yang dialaminya dapat dibaca sebagai bentuk perlawanan terhadap dunia yang membatasi kebebasannya, meskipun cerita tidak memberikan penyelesaian yang sepenuhnya tuntas.

Diskusi kemudian berkembang ke persoalan relevansi sastra dalam kehidupan sosial. Wahyu Agung Ramdani mempertanyakan sejauh mana sastra masih dapat digunakan untuk membicarakan politik ekologi, terutama ketika distribusi karya sastra belum menjangkau banyak wilayah dan harga buku menjadi kendala bagi pembaca. Ia juga mengajukan pertanyaan mengenai peran pembaca agar tidak sekadar menjadi penonton di tengah krisis ekologis.

Sementara itu, Muhamad Ferdian Syah dari UGM mempertanyakan hubungan antara kondisi psikologis narator dalam “The Yellow Wallpaper” dan pengalaman weird yang dialaminya. Ia menyoroti kemungkinan bahwa tekanan akibat rest cure dan perlakuan John tidak harus dipisahkan dari pengalaman keganjilan, tetapi justru berjalan bersama dan saling membentuk.

Pertanyaan-pertanyaan tersebut membawa pembahasan sastra lebih jauh, dari interpretasi teks menuju persoalan mengenai bagaimana manusia memahami trauma, lingkungan, dan pengalaman yang tidak selalu dapat dijelaskan melalui kerangka berpikir yang mapan.

Doa, Ponsel, dan Spiritualitas Manusia Modern

Pembahasan spiritualitas berlanjut dalam sesi ketiga yang dimoderatori Ann Evelin Rahajeng. Awabeen Samsuding dari Magister Sastra UGM mempresentasikan makalah “Membaca Doa dalam Puisi Joko Pinurbo: Estetika Ironi sebagai Kritik terhadap Spiritualitas Manusia Modern”.

Awabeen menyoroti cara penyair Joko Pinurbo menghadirkan doa melalui benda dan aktivitas sehari-hari. Jika puisi ketuhanan kerap diasosiasikan dengan suasana khusyuk dan sakral, puisi Jokpin justru membawa spiritualitas ke ruang yang lebih dekat dengan kehidupan manusia modern, seperti ponsel, tubuh, dan kosmetik.

Penelitian tersebut membahas tiga puisi, yakni “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya” (2018), “Doa Sebelum Mandi” (2000), dan “Doa Seorang Pesolek” (2001).

Bagi Awabeen, ironi dalam puisi-puisi tersebut bukan sekadar permainan bahasa, melainkan strategi estetik untuk membongkar kontradiksi dalam kehidupan manusia. Melalui ironi, pembaca diajak bergerak melampaui makna literal dan mempertanyakan kembali kebiasaan maupun keyakinan yang selama ini dianggap wajar.

Dalam “Doa Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya”, misalnya, tokoh kehilangan seluruh nomor kontak akibat ponselnya rusak, tetapi masih menyimpan nomor Tuhan. Ironi muncul ketika Tuhan menyatakan bahwa nomor-Nya justru menjadi satu-satunya nomor yang tidak pernah disapa.

Situasi tersebut menyentil kehidupan manusia yang memiliki akses komunikasi tanpa batas, tetapi belum tentu menjaga kedekatan spiritual. Ponsel yang menjadi simbol keterhubungan sekaligus memperlihatkan kemungkinan keterasingan manusia dari relasi yang dianggap paling mendasar.

Sementara itu, “Doa Sebelum Mandi” dibaca melalui persoalan tubuh dan kekerasan. Dalam pemaparan Awabeen, pengalaman kekerasan yang melekat pada tubuh tidak serta-merta dapat dihapus melalui tindakan membersihkan diri secara fisik.

Adapun “Doa Seorang Pesolek” menyoroti hubungan antara tubuh, kosmetik, dan kefanaan. Melalui ironi, perhatian berlebihan terhadap penampilan fisik dipertemukan dengan kenyataan bahwa tubuh manusia tetap berada dalam batas kehidupan yang sementara.

Untuk membaca persoalan tersebut, Awabeen menggunakan konsep religiusitas Y.B. Mangunwijaya serta teori ironi stabil (stable irony) dari Wayne C. Booth. Dengan pendekatan kualitatif dan pembacaan dekat (close reading), ia berupaya menunjukkan bagaimana puisi dapat mengkritik spiritualitas manusia modern tanpa harus meninggalkan benda-benda yang akrab dalam kehidupan sehari-hari.

Spiritualitas dan Lokalitas dalam Naskah Syair Kupu-Kupu

Masih dalam sesi ketiga, Afifah Chairunnisa dan Aditya Fiandra dari Unand mempresentasikan makalah berjudul “Negosiasi Spiritualitas dan Lokalitas dalam Naskah Syair Kupu-kupu”. Penelitian ini menggunakan pendekatan semiotika Roland Barthes untuk membaca ideologi yang terkandung dalam naskah Melayu (Naskah Schoemann V 40).

Berangkat dari pentingnya penyelamatan nilai-nilai naskah kuno, penelitian tersebut menyoroti dimensi alegoris dan simbolik yang memungkinkan naskah dibaca lebih jauh daripada sekadar teks tertulis. Hubungan antara spiritualitas dan lokalitas menjadi perhatian utama, terutama dalam memahami bagaimana simbol dan nilai budaya saling berkelindan dalam sebuah karya.

Melalui pendekatan semiotika Roland Barthes, keduanya mengidentifikasi sejumlah simbol lokal, seperti Gunung Ledang dan Gunung Anta Sujana yang dimaknai sebagai ruang sakral, serta songket, keris, sirih, dan selendang yang merepresentasikan kehormatan, status sosial, dan komitmen. Sementara itu, penyebutan nama Allah dan ungkapan “dengan karena Allah”, bersama berbagai ritual, menunjukkan bahwa spiritualitas menjadi landasan dalam tindakan dan kehidupan masyarakat.

Kajian tersebut juga menyoroti bagaimana adat, tata krama, dan penggunaan sapaan kehormatan seperti Datuk, Tuanku, Kakanda, dan Adinda memperkuat tatanan sosial. Temuan ini menunjukkan bahwa spiritualitas dan lokalitas tidak berdiri sendiri; saling membentuk dalam menjaga nilai, etika, dan pandangan hidup masyarakat Melayu. Dengan demikian, Syair Kupu-Kupu tidak hanya menyimpan kekayaan sastra, tetapi juga merekam cara masyarakat Melayu memaknai hubungan antara keyakinan, tradisi, dan kehidupan sosial.

Rangkaian diskusi dalam sesi kedua dan ketiga ASN 2026 memperlihatkan beragam cara membaca spiritualitas dalam sastra. Melalui hantu dalam novel, keganjilan dalam cerita horor, ironi dalam puisi, hingga simbol dalam naskah Melayu, para pemakalah menunjukkan bahwa karya sastra dapat menjadi ruang untuk mempertanyakan hubungan manusia dengan alam, kekuasaan, tubuh, keyakinan, dan tradisi budaya.

Dengan pendekatan yang berbeda-beda, diskusi tersebut menempatkan sastra bukan hanya sebagai objek kajian estetika, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami persoalan yang terus hadir dalam kehidupan masyarakat.

 

Penulis: Khotibul Umam

Peneliti Muda ASEAN dan Pasifik Ulas Kompleksitas Perdamaian Ambon di UGM-CHSS Writing Workshop

Rilis Berita Rabu, 28 Oktober 2026

Dua dekade setelah konflik kemanusiaan melanda Ambon, Maluku, bayang-bayang trauma masa lalu ternyata masih diwariskan kepada generasi muda yang bahkan tidak pernah menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Fakta antropologis ini mengemuka dalam pemaparan akademis bertajuk “In Indonesia? The Messiness of Actual Peace Processes” oleh peneliti Geger Riyanto. Presentasi kritis tersebut disampaikan dalam rangkaian UGM-CHSS Academic Writing Workshop Batch pertama tahun 2026 yang berlangsung di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Yogyakarta.

Workshop internasional ini merupakan inisiatif di bawah payung CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia) Project. Program penguatan kapasitas (capacity building) ini didanai oleh SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency) dan dimandatkan oleh AAS (Association for Asian Studies) kepada UGM selama tiga tahun (2026–2028). Di bawah pimpinan Profesor Wening Udasmoro selaku Hub Lead, proyek ini berfokus memberdayakan akademisi serta dosen muda yang mengkaji isu konflik dan perdamaian, atau mereka yang berasal dari wilayah pascakonflik (post-conflict) di Asia Tenggara dan Pasifik, termasuk Thailand, Myanmar, Filipina, dan Papua New Guinea.

Dengan mengangkat tema sentral “Self Narration: Centralizing the Periphery”, forum ilmiah UGM-CHSS ini mendorong para peneliti untuk memusatkan perhatian pada suara-suara dari pinggiran yang selama ini kurang terwakili dalam wacana lokal maupun global. Salah satu kajian pinggiran yang dibedah secara mendalam adalah dinamika sosiologis di Ambon pascakonflik.

Dalam paparannya, Geger Riyanto menyoroti bahwa perdamaian di lapangan kerap kali berjalan rumit dan tidak linier. Proses resolusi di berbagai wilayah pascakonflik Indonesia—seperti Maluku Utara, Maluku, Aceh, Poso, dan Kalimantan Barat—melibatkan strategi penunjukan provokator luar sebagai kambing hitam, berbagi kekuasaan politik lokal (power-sharing), integrasi ekonomi mantan kombatan, hingga kerja sukarela kolektif untuk membangun kembali ruang sosial masyarakat.

Secara khusus di Ambon, riset memotret lanskap kota secara spasial yang masih terbelah berdasarkan identitas agama, di mana masjid dan gereja menjadi penanda visual dari memori kekerasan massal. Dampak pembelahan ini secara nyata terwariskan pada generasi baru yang tumbuh pascakonflik. Merujuk pada survei tahun 2019 terhadap 450 siswa SMA di Ambon yang tidak mengalami konflik secara langsung, ditemukan data bahwa 89 persen siswa telah mendengar cerita konflik dengan narasi yang dirancang untuk memproteksi diri mereka. Akibat dari transmisi ingatan kolektif ini, 50 persen siswa setuju untuk tinggal di area dengan agama mayoritas yang sama. Ketakutan psikologis yang mendalam bahkan membuat sebagian anak merasa cemas saat mendengar suara adzan dari masjid. Warisan trauma keluarga ini turut melanggengkan stereotip tajam, seperti anggapan di sebagian keluarga Kristen bahwa “Muslim tidak bisa dipercaya”, yang juga disuarakan sebaliknya oleh komunitas Muslim terhadap umat Kristen.

Realitas di akar rumput Ambon ini menjadi landasan kuat dalam forum UGM-CHSS untuk mengkritik konsep perdamaian arus utama, yakni “Liberal Peace” yang kerap didorong lembaga internasional melalui skema top-down (demokratisasi, penegakan hukum, dan kapitalisme pasar bebas). Pendekatan barat tersebut dinilai sering bermutasi dan gagal di tingkat tapak karena mengabaikan keadilan restoratif lokal. Sebaliknya, melalui sudut pandang “Peace from Below” yang merujuk pada pemikiran Johan Galtung, perdamaian diposisikan bukan sebagai formasi sosial yang statis, melainkan sebuah proses dinamis yang digerakkan oleh agensi dan aksi kreatif masyarakat lokal sendiri.

Melalui UGM-CHSS Writing Workshop ini, artikel-artikel riset kritis seperti dinamika perdamaian di Ambon akan dimatangkan hingga menembus publikasi jurnal nasional maupun internasional. Langkah ini sekaligus menyokong tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam memberikan akses akademik yang setara (equal access) serta wadah jejaring regional bagi para peneliti muda Asia guna menyuarakan perspektif lokal di panggung global.

 

Penulis: Humas FIB, Zaidan Abdurrahman

Pertemuan PROPLI Bahas Penguatan Kelembagaan dan Sinkronisasi Kurikulum Pascasarjana Linguistik

Rilis Berita Selasa, 27 Oktober 2026

Depok, 5–6 Oktober 2026 — Perkumpulan Program Pascasarjana Linguistik Indonesia (PROPLI) menyelenggarakan pertemuan pada Senin–Selasa, 5–6 Oktober 2026, di Auditorium Toety Herati Noerhadi, Gedung R.M. Ng. Poerbatjaraka, Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia, Depok. Pertemuan tersebut membahas sejumlah agenda terkait penguatan kelembagaan perkumpulan serta pengembangan dan sinkronisasi kurikulum program pascasarjana linguistik di Indonesia.

Pertemuan diawali dengan laporan Ketua PROPLI, Dr. Triaswarin Sutanarihesti, yang menyampaikan perkembangan organisasi sejak pertama kali dibentuk pada 2018. Organisasi tersebut pada awalnya didirikan di Universitas Gadjah Mada dengan nama APMALI (Asosiasi Program Studi Magister Linguistik Seluruh Indonesia) dan diketuai oleh Prof. Suhandano. Pada 2024, terjadi pergantian kepengurusan sekaligus perubahan nama menjadi PROPLI. Keanggotaan PROPLI kemudian diperluas tidak hanya mencakup program magister, tetapi juga program doktor linguistik.

Salah satu agenda utama pertemuan adalah pembahasan pengurusan akta notaris perkumpulan. Pembahasan menghadirkan Notaris Fatma, S.H., M.Kn., M.H. dengan moderator Dr. Triaswarin Sutanarihesti. Kehadiran notaris dimaksudkan untuk membantu memastikan berbagai persyaratan administratif dan kelembagaan yang diperlukan dalam proses pengesahan perkumpulan dapat dipenuhi.

Dalam pembahasan tersebut, PROPLI juga membicarakan penataan kembali struktur kepengurusan, yang mencakup ketua, wakil ketua, dewan pengawas, bendahara, sekretaris, serta divisi-divisi pendukung. Selain struktur organisasi, dibahas pula aspek kekayaan perkumpulan yang saat ini tercatat sebesar tiga puluh tiga juta rupiah sebagai bagian dari kelengkapan administrasi organisasi.

Forum juga membahas profil lulusan program studi magister linguistik di Indonesia. PROPLI memberikan rekomendasi agar lulusan program magister linguistik memiliki profil sebagai ahli bahasa dengan kompetensi yang sesuai dengan KKNI/SN-Dikti level 8.

Sinkronisasi Kurikulum Pascasarjana Linguistik

Agenda berikutnya membahas sinkronisasi kurikulum dengan regulasi pendidikan tinggi terbaru. Sesi ini menghadirkan Prof. Dr. Made Sri Setyawati, M.Hum. dan Prof. Oktavianus, dengan moderator Dr. Putu Pramania Adnyana.

Pembahasan menyoroti sejumlah indikator dasar dalam penyusunan kurikulum, meliputi fokus dan beban studi, struktur kurikulum dan matriks kompetensi, fleksibilitas serta keterbaruan materi, dan ekosistem pendukung penelitian.

Dalam pertemuan tersebut disampaikan bahwa jumlah beban studi minimal program magister mengacu pada Permendikbudristek Nomor 39 Tahun 2025 tentang Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi, serta regulasi pendidikan di lingkungan UGM, yaitu Peraturan Rektor UGM Nomor 23 Tahun 2024 tentang Pendidikan dan Peraturan Rektor UGM Nomor 19 Tahun 2025 tentang perubahan atas peraturan tersebut. Berdasarkan ketentuan yang dibahas, program magister memiliki beban studi minimal 36 SKS.

Selain ketentuan jumlah SKS, pembahasan diarahkan pada upaya menjaga keseimbangan antara kompetensi wajib dan kekhasan masing-masing perguruan tinggi. Kurikulum inti diharapkan dapat memiliki kesamaan kompetensi, sementara kurikulum khas tetap dapat disesuaikan dengan karakteristik dan keunggulan masing-masing universitas.

Dalam penyusunan kurikulum linguistik, forum juga membahas pentingnya kesinambungan kompetensi pada setiap jenjang pendidikan. Mahasiswa program magister, misalnya, diharapkan menguasai bidang mikrolinguistik yang mencakup fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik, serta salah satu bidang makrolinguistik yang menjadi fokus kajian.

Perbedaan capaian kompetensi antartingkat juga menjadi perhatian. Pada jenjang sarjana, pembelajaran diarahkan pada kemampuan deskriptif; pada jenjang magister, kemampuan eksplanatori; sedangkan pada jenjang doktor, kompetensi diarahkan pada kemampuan eksplanatori sekaligus discovery. Forum juga mendorong agar penamaan mata kuliah pada jenjang S-1, S-2, dan S-3 dapat dibedakan sesuai tingkat kompetensinya, misalnya Pengantar Semantik pada S-1 dan Semantik Lanjut pada S-2.

Pembahasan kurikulum turut mencakup beberapa bentuk penyelenggaraan pendidikan, termasuk jalur by research, by course, dan Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL). Dengan demikian, pengembangan kurikulum diharapkan tetap responsif terhadap kebutuhan pendidikan linguistik pada jenjang pascasarjana, sekaligus memberikan ruang bagi kekhasan akademik masing-masing perguruan tinggi.

Pertemuan PROPLI menjadi ruang untuk mempertemukan pengelola program pascasarjana linguistik dari berbagai perguruan tinggi dalam membahas penguatan kelembagaan dan arah pengembangan pendidikan linguistik. Hasil pembahasan diharapkan dapat menjadi bahan tindak lanjut dalam penataan organisasi serta pengembangan kurikulum pascasarjana linguistik di Indonesia.

 

Penulis: Magister Linguistik

Romzul Falah, Mahasiswa Magister Sastra UGM, Raih Anugerah Sutasoma 2026 melalui Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon

Rilis Berita Kamis, 22 Oktober 2026

Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur kembali menyelenggarakan Anugerah Sutasoma pada Rabu, 7 Oktober 2026, di Gedung M. Tabrani, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Memasuki penyelenggaraan ke-18, Anugerah Sutasoma menjadi salah satu bentuk apresiasi Balai Bahasa Jawa Timur terhadap para penggiat bahasa dan sastra, komunitas, guru, serta pihak-pihak yang berdedikasi dalam pengembangan, perlindungan, dan pembinaan bahasa dan sastra.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Anugerah Sutasoma menghadirkan gelar wicara bertajuk “Membangun Ekosistem Sastra di Jawa Timur”, yang kemudian dilanjutkan dengan penganugerahan dalam tujuh kategori, yakni Kritik Sastra, Sastrawan, Guru Bahasa dan Sastra Daerah, Bahasa dan Sastra Indonesia, Komunitas Sastra, Karya Sastra Daerah, dan Karya Sastra Indonesia.

Salah satu penerima penghargaan tersebut adalah Romzul Falah, mahasiswa Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui kumpulan puisinya, Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon (dan Balada Orang-orang Batuputih). Romzul berhasil menyabet penghargaan Anugerah Sutasoma 2026–sebuah penghargaan prestisius dalam dunia kesusastraan dan literasi, khususnya di wilayah Jawa Timur–pada kategori Karya Sastra Indonesia. 

Setelah melalui rangkaian penjurian yang ketat oleh lima dewan juri yang dikepalai oleh Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., seorang Guru Besar bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM), buku kumpulan puisi Romzul Falah yang dinobatkan sebagai Naskah Yang Menarik Perhatian Dewan Juri pada Sayembara Manuskrip Puisi yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2023, pada akhirnya menjadi karya yang disoroti menjadi pembaharu dalam jagat perpuisian Jawa Timur. 

Dalam laporan pertanggungjawaban juri Anugerah Sutasoma 2026, kumpulan puisi tersebut dinilai memiliki posisi yang khas dalam lanskap perpuisian kontemporer, khususnya di Jawa Timur. Di tengah kecenderungan perpuisian Jawa Timur yang belakangan banyak didominasi corak lirik, karya Romzul mengambil pijakan berbeda dengan menghadirkan puisi naratif untuk membangun kembali ingatan kolektif, mitos, dan tradisi lisan sebuah masyarakat.

Juri menilai kekuatan utama kumpulan puisi tersebut terletak pada keutuhan strukturnya dari awal hingga akhir. Semesta yang dibangun dinilai padu tanpa lonjakan yang terasa janggal dari satu puisi ke puisi lainnya. Karya tersebut juga memperlihatkan pergerakan tematis yang berayun dari hal-hal yang jauh, tinggi, dan ajaib menuju hal-hal yang biasa dan mendasar, hingga akhirnya kembali kepada tanah.

Atas penghargaan tersebut, Romzul mengungkapkan rasa senang sekaligus kesadaran akan tanggung jawab baru untuk terus berkarya.

“Pertama, tentu perasaan senang karena buku puisi saya, Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon, diberikan penghargaan oleh Balai Bahasa Jawa Timur. Tetapi di satu sisi, menjadi semacam beban moral karena penghargaan, bagi saya, ialah salah satu bahasa lain dari tanggung jawab, bagaimana pada akhirnya saya menulis puisi kembali,” ujar penyair kelahiran 2000 itu.

Romzul juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang terlibat dalam proses lahirnya buku tersebut. Ia menyebutnya sebagai “buku kami”, sebab proses penulisan hingga penerbitannya melibatkan banyak pihak, terutama rekan-rekannya di Penerbit Anagram, termasuk Doni Ahmadi dan editor Willy Fahmy Agiska. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada teman-temannya di komunitas Malatè Artspace, Kabupaten Sumenep, yang turut memberikan masukan selama proses penggarapan puisi.

Secara khusus, Romzul menyampaikan terima kasih kepada neneknya yang sejak kecil mengenalkannya pada berbagai mitos di kampung halaman. Cerita-cerita tersebut mendekatkannya dengan kehidupan masyarakat masa lalu dan kemudian menjadi salah satu sumber yang diolah ke dalam puisi. Kisah-kisah kehidupan masyarakat Batuputih juga turut menjadi bagian dari materi yang diolahnya dalam karya tersebut.

Penghargaan Anugerah Sutasoma 2026 menjadi apresiasi terhadap karya Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon (dan Balada Orang-orang Batuputih) sekaligus menunjukkan bagaimana puisi dapat menjadi ruang untuk mengolah ingatan kolektif, mitos, tradisi lisan, dan pengalaman masyarakat ke dalam bentuk sastra kontemporer. 

Bagi mahasiswa FIB UGM yang juga menulis Sebuah Kota Yang Menculik Kita sebagai buku puisi perdananya itu, penghargaan tersebut bukan menjadi sebuah titik akhir dari perjalanan kepengarangannya, melainkan bertransformasi menjadi sebuah tanggung jawab baru untuk terus menulis dan mengembangkan dunia perpuisian dalam ekosistem sastra Indonesia.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Dr. Puji Retno Hardiningtyas, dalam gelar wicara, mengatakan bahwa pemberian apresiasi Anugerah Sutasoma merupakan bagian dari peran Balai Bahasa dalam upaya pengembangan bahasa dan sastra.

“Balai Bahasa memiliki peran dalam perlindungan dan pemasyarakatan, khususnya dalam hal ini upaya pengembangan bahasa dan sastra. Salah satunya adalah memberikan apresiasi kepada komunitas, pegiat bahasa dan sastra, dan ini kami wujudkan sudah ke-18 kali melalui Anugerah Sutasoma,” ujar Retno.

Menurut pengamatan dan realitas di lapangan, dari 30 UPT Balai Bahasa yang ada, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur menjadi balai bahasa yang masih konsisten memberikan apresiasi kepada para pegiat bahasa dan sastra, komunitas, guru, serta berbagai pihak yang memiliki dedikasi terhadap perkembangan bahasa dan sastra.

Ia juga menilai bahwa karya-karya para sastrawan Jawa Timur memiliki peran yang krusial dalam memperkaya khazanah bahasa dan sastra Indonesia. Karya yang menggunakan bahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Jawa dialek Osing, maupun bahasa Indonesia, menurutnya, turut memperkaya kosakata sekaligus mengenalkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia yang berangkat dari keelokan kearifan lokal.

“Saya yakin, melalui karya-karya Bapak dan Ibu, baik itu berbahasa Jawa, berbahasa Madura, maupun berbahasa Jawa dialek Osing, juga berbahasa Indonesia; setidaknya menjadi tonggak penting untuk memperkaya kosakata, juga mengenalkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dengan kearifan lokal yang Ibu/Bapak atau sastrawan tulis,” kata perempuan yang pernah menjadi peneliti di Balai Bahasa Provinsi Bali itu.

Puji Retno juga menambahkan dalam wicaranya bahwa para sastrawan, pengarang, komunitas, guru, serta pegiat bahasa dan sastra di Jawa Timur memiliki kontribusi yang tidak kalah strategis dibandingkan para sastrawan dan karya sastra di tingkat nasional. Buah karya yang dilahirkan para penerima penghargaan Anugerah Sutasoma, dinilai menjadi sumbangsih dan memberikan dampak yang luas terhadap perkembangan sastra Indonesia.

“Ini juga menunjukkan bahwa sastrawan atau pengarang, komunitas, ibu/bapak guru, kemudian penggiat sastra, bahasa dan sastra ini di Jawa Timur, tidak kalah dengan sastrawan atau karya-karya di tingkat nasional. Karena karya-karya ibu/bapak yang telah dihasilkan—termasuk tujuh pemenang kategori yang akan diberikan melalui Anugerah Sutasoma hari ini—itu berdampak luas dan setidaknya memiliki peran penting terhadap perkembangan sastra Indonesia,” tutur Retno.

Penulis: Selvia Parwati Putri

Puncak BERKAWANT 2026—Rangkaian Ospek Jurusan Antropologi Budaya untuk Mahasiswa Baru S1 

Rilis Berita Senin, 19 Oktober 2026

Yogyakarta, 4 Oktober 2026—Ospek jurusan Antropologi Budaya untuk mahasiswa baru S1 (BERKAWANT) yang telah berlangsung selama 5 (lima) minggu akhirnya sampai di hari terakhir sebagai puncak sekaligus penutup rangkaian yang diadakan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada pada pukul 13.00-21.00, dihadiri oleh sivitas akademik Antropologi Budaya.

BERKAWANT bermula pada 23 Agustus 2026 sebagai orientasi pengenalan terhadap dinamika Antropologi Budaya Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada yang bertajuk “Jumpa Maba” didampingi oleh dosen Antropologi Budaya salah satunya yaitu Dr. Agung Wicaksono, S.Ant., M.A. selaku kepala Departemen Antropologi UGM, lalu kemudian pada 29 Agustus dilanjutkan dengan kegiatan seminar bertajuk “Rembukant” yang membahas tentang lingkup Antropologi sebagai ilmu dan laku, diisi oleh Dr. Sita Hidayah, S.Ant., M.A. selaku ketua S1 Antropologi Budaya. Tidak jauh juga dari dunia literatur, pada 12 September terlaksana Workshop Kepenulisan “WKP” dengan Dr. Muhammad Zamzam Fauzanafi, S.Ant., M.A. sebagai fasilitator yang memandu kegiatan. Hasil pembelajaran beberapa minggu kemudian diaplikasikan dengan penelitian lapangan lingkup kampus dan dipamerkan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada sebagai salah satu rangkaian BERKAWANT yaitu “Pamerant” yang berlangsung selama 5 hari berturut-turut dengan sistem pembagian shift per kelompok tema penelitian. Kegiatan akhirnya ditutup dengan puncak BERKAWANT.

Puncak BERKAWANT memiliki rangkaian yang sudah dipersiapkan dengan sungguh-sungguh oleh para panitia, berisikan berbagai kegiatan yang disesuaikan dengan ilmu kebudayaan bersifat reflektif, salah satunya berkelana menuju pos-pos-ant bertemakan 10 unsur kebudayaan Prof. Drs. Heddy Shri Ahimsa-Putra, M.A., M.Phil., Ph.D. juga terdapat pengesahan mahasiswa baru secara simbolis melalui ritual yang menggambarkan jalannya kehidupan dan kemudian diakhiri dengan awarding sebagai apresiasi kepada partisipan tertentu selama BERKAWANT berlangsung. Partisipan yang hadir dan terlibat tidak hanya mahasiswa baru dan para panitia, namun beberapa alumni dan dosen juga terlibat.

 

Penulis: Syafina Kamilya

123…53

Rilis Berita

  • Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM Raih Juara II Lomba Presentasi Bahasa Jepang Wilayah D.I. Yogyakarta ke-5 Tahun 2026
  • Spiritualitas, Trauma Ekologis, dan Kritik Modernitas dalam Diskusi Sastra ASN 2026
  • Prodi Bahasa Korea UGM Menjadi Prodi Korea di Indonesia Pertama dan Satu-satunya yang Memiliki Tiga Dosen Bersertifikat Pengajaran Tertinggi dari Pemerintah Korea Selatan
  • HMJ Kamastawa Mengabdi: Ajarkan Unggah-Ungguh Basa dan Berbagi Kebahagiaan di Sanggar Puspa Budaya
  • Belajar dari Pesisir, Antropologi Budaya UGM Gelar Fieldwork ke Wonokerto, Pekalongan

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju