• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang Tangguh
Arsip:

SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang Tangguh

Prof. Pujo dalam Workshop “Commodity, Plantation and Colonialism in Indonesia” di Munich, Jerman

Rilis Berita Senin, 14 September 2026

Workshop internasional “Commodity, Plantation and Colonialism in Indonesia: Current Research in Social, Economic and Architectural History” diselenggarakan pada 23–24 Juli 2026 di Pavillon 333, Architekturmuseum der Technische Universität München (TUM), Jerman. Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian pameran “Nge-Téh / Tea Time: Architectures of Colonial Commodity Chain from Indonesia to Germany, 19th Century”, yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026.Workshop ono mempertemukan akademisi dari berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam sejarah komoditas, perkebunan dan kolonialisme. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong dialog mencangkup sejarah arsitektur, sosial, ekonomi, budaya dari sisi historis, selama periode awal modern hingga kontemporer yang membentuk rantau komoditas teh dari Indonesia menuju Eropa. Melalui perspektif interdisipliner, workshop mengeksplorasi bagaimana sistem perkebunan kolonial tidak hanya membentuk lanskap fisik, tetapi juga menciptakan relasi sosial, ekonomi, dan budaya yang pengaruhnya masih terasa hingga saat ini.

Lokakarya ini diselenggarakan bersamaan dengan kunjungan Prof. Dr. Pujo Semedi yang dikenal sebagai Antropolog yang Menyejarah. Beliau didaulat untuk menjadi Keynote Speaker dan bercerita mengenai Perkebunan di Indonesia periode 1870-2020. Kontribusi beliau terhadap pengembangan ilmu pengetahuan menjadi contoh baik bagi para pembelajar. Melalui penelitian yang berakar pada pengalaman masyarakat lokal, pengetahuan mengenai sejarah kolonial Indonesia dapat diperkaya sekaligus diperkenalkan kepada publik internasional sebagai bagian dari upaya membangun pemahaman yang lebih inklusif terhadap sejarah global.

Selain sesi diskusi diadakan juga pameran Nge-Téh / Tea Time. Pameran itu  mengangkat perjalanan teh sebagai komoditas kolonial, mulai dari perkebunan di Jawa Barat, proses pengolahan, distribusi melalui Batavia dan Hamburg, hingga konsumsi masyarakat di Jerman. Beragam arsip sejarah, foto, artefak perdagangan teh, karya seni keramik, serta film dokumenter dipamerkan untuk memperlihatkan keterkaitan Indonesia dengan jaringan perdagangan global. Pameran ini juga menegaskan bahwa meskipun Indonesia tidak pernah menjadi koloni Jerman, hubungan perdagangan teh menjadikan kedua wilayah terhubung dalam sistem ekonomi kolonial dunia.

Workshop ini menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam kajian sejarah kolonial, antropologi, arsitektur, dan studi kawasan Asia Tenggara. Diskusi yang berkembang tidak hanya menyoroti masa lalu kolonial, tetapi juga mendorong refleksi kritis mengenai keberlanjutan, keadilan historis, serta pentingnya menghadirkan perspektif masyarakat lokal dalam memahami sejarah komoditas global.

Penulis: Dewi Widyastuti

Dokumentasi: Prof. Pujo Semedi

Malam Inisiasi Magister Sastra: Dari Puisi hingga Teatrikal 

Rilis Berita Senin, 14 September 2026

SLEMAN— Malam Inisiasi mahasiswa baru Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) menjadi ruang perjumpaan yang tidak sekadar memperkenalkan kehidupan akademik, tetapi juga menghadirkan ekspresi seni yang spontan, personal, dan sarat makna.

Mengusung tema “Antara Kata dan Kita: Sebuah Cerita yang Ditulis Bersama”, kegiatan yang berlangsung pada 28–29 Agustus 2026 di Pondok A. Salam, Kalimasada, Sleman, tersebut diikuti mahasiswa baru Magister Sastra semester genap Tahun Akademik 2026/2027.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan Ketua Program Studi Magister Sastra, Prof. Dr. Aprinus Salam, S.S., M.Hum.. Selanjutnya, mahasiswa mendapatkan materi mengenai filosofi dan nilai-nilai ke-UGM-an yang disampaikan Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum., Ph.D. of Arts.

Kegiatan juga memperkenalkan sejumlah agenda akademik Magister Sastra, di antaranya Academic Student Networking (ASN) dan International Dissemination.

Namun, salah satu bagian yang paling menonjol dalam malam inisiasi tersebut adalah penampilan seni mahasiswa. Beragam bentuk ekspresi ditampilkan dengan pendekatan sederhana, tanpa kesan pertunjukan yang terikat oleh kemewahan panggung maupun fasilitas pertunjukan formal.

Alya tampil membawakan lagu “Rayuan Perempuan Gila” dari Nadin Amizah. Deni menghadirkan musikalisasi puisi yang ditulisnya sendiri. Sementara itu, Chaca menyampaikan cerita personal melalui storytelling dalam bahasa Inggris.

Fajri kemudian membacakan puisi, disusul Eloi yang menampilkan pertunjukan tari. Sebagai penutup, Adit, Nurdin, Riki, dan Veto menghadirkan pertunjukan teatrikal yang mengangkat beragam persoalan, mulai dari isu lingkungan hingga politik. Pertunjukan tersebut dipadukan dengan lantunan syair yang menguatkan suasana dan pesan yang disampaikan. 

Keragaman penampilan tersebut memperlihatkan bahwa sastra dan seni tidak hanya hadir melalui karya tertulis, tetapi juga melalui tubuh, suara, musik, gerak, dan pengalaman personal. Para mahasiswa menjadikan panggung sederhana sebagai ruang untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan gagasan.

Dalam tulisannya soal acara ini, Aprinus menyebut seni radikal sebagai praktik kesenian yang tidak berorientasi pada posisi politik maupun ekonomi. Seni, dalam pengertian tersebut, hadir sebagai ekspresi bebas dengan semangat persahabatan.

Ciri lainnya adalah tidak adanya sirkulasi uang dalam praktik kesenian. Seniman tidak dibayar dan penonton tidak membayar. Kegiatan seni berlangsung bukan untuk mengakumulasi keuntungan, tapi sebagai bentuk ekspresi.

Menurut Aprinus, seni juga dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap solidaritas komunitas. Kesenian menjadi cara untuk memperlihatkan rasa persaudaraan, kasih sayang terhadap sesama, sekaligus menunjukkan kepribadian seseorang.

“Keberanian untuk membebaskan diri dari itu adalah bentuk dari radikalisasi kehidupan itu sendiri,” tulisnya.

Ia juga mengkritik kecenderungan masyarakat yang menempatkan kesenian dalam ruang-ruang khusus yang administratif dan fasilitatif. Dalam kondisi tersebut, seni yang pada mulanya dapat menjadi bentuk perlawanan justru berpotensi berubah menjadi tontonan komersial dan komoditas.

Karena itu, bagi Aprinus, seni radikal yang “nol rupiah” merupakan bentuk resistensi yang otentik. Puisi, prosa, dan sastra dapat hadir tanpa kooptasi, motif, maupun kepentingan tertentu. Yang tersisa adalah pengalaman estetik, kekaguman, dan ketertegunan.

Pengalaman tersebut ia temukan dalam penampilan mahasiswa Magister Sastra FIB UGM pada malam inisiasi 28 Agustus 2026.

Bagi Aprinus, kemampuan menampilkan pertunjukan tentu membutuhkan latihan. Namun, ada bagian tertentu dari seni yang tidak dapat diperoleh hanya melalui latihan teknis.

“Yang tidak bisa dilatih adalah menghadirkan ruh, karakter pribadi, dan rasa yang dalam,” tulisnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas penampilan mahasiswa baru Magister Sastra. Di tengah suasana inisiasi yang mempertemukan mahasiswa dengan lingkungan akademik barunya, seni hadir sebagai ruang untuk menunjukkan karakter, pengalaman, keberanian berekspresi, dan solidaritas.

Malam inisiasi pun tidak berhenti sebagai kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Melalui penampilan sederhana yang lahir dari para mahasiswa sendiri, malam tersebut menjadi semacam panggung bersama di mana kata, tubuh, suara, dan gagasan bertemu dalam sebuah cerita yang benar-benar ditulis bersama.

Penulis: Khotibul Umam

Program Pengabdian kepada Masyarakat tentang Kesantunan Bermedia Sosial di Kalangan Remaja Memasuki Tahap Kedua di SMA Negeri 1 Depok

Rilis Berita Jumat, 28 Agustus 2026

Program Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) bertajuk “Santun Bermedia Sosial di Kalangan Remaja” yang diselenggarakan oleh Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) kembali berlanjut ke tahap kedua. Kegiatan ini dilaksanakan di SMA Negeri 1 Depok, Sleman, sebagai bagian dari rangkaian edukasi bagi siswa mengenai pentingnya menerapkan kesantunan dalam berkomunikasi di ruang digital.

Setelah pada tahap pertama para siswa memperoleh materi mengenai santun bermedia sosial dan mengikuti dinamika kelompok, tahap kedua difokuskan pada presentasi hasil karya setiap kelompok. Kegiatan ini menjadi kesempatan bagi para siswa untuk menerapkan pemahaman yang telah diperoleh sebelumnya melalui karya kreatif yang berkaitan dengan tema kesantunan bermedia sosial.

Dalam kegiatan presentasi, masing-masing kelompok menampilkan hasil karya yang telah mereka susun sebelumnya. Karya-karya tersebut dikemas dalam berbagai bentuk, di antaranya flyer dan konten video yang mengangkat pesan-pesan mengenai pentingnya menggunakan media sosial secara bijak, santun, dan bertanggung jawab. Melalui karya tersebut, para siswa menyampaikan berbagai situasi yang dekat dengan kehidupan remaja di media sosial serta menunjukkan bagaimana bahasa dan perilaku yang santun dapat diterapkan dalam interaksi digital.

Presentasi hasil karya tidak hanya menjadi ajang untuk menunjukkan kreativitas siswa, tetapi juga menjadi sarana bagi mereka untuk berdiskusi dan merefleksikan kembali kebiasaan berkomunikasi di media sosial. Kegiatan ini mendorong siswa untuk memahami bahwa penggunaan media sosial tidak sekadar berkaitan dengan kemampuan membuat atau membagikan konten, tetapi juga dengan bagaimana seseorang mempertimbangkan pilihan bahasa, sikap, serta dampak komunikasinya terhadap orang lain.

Selain presentasi karya, pada tahap kedua ini para siswa juga mengikuti posttest sebagai bagian dari evaluasi rangkaian kegiatan PkM. Posttest diberikan setelah siswa mengikuti seluruh rangkaian materi dan aktivitas untuk mengetahui pemahaman mereka mengenai kesantunan bermedia sosial setelah memperoleh pembelajaran dan pengalaman langsung selama kegiatan berlangsung.

Rangkaian kegiatan PkM “Santun Bermedia Sosial di Kalangan Remaja” diharapkan dapat memberikan pengalaman belajar yang kontekstual bagi siswa SMA Negeri 1 Depok, khususnya dalam membangun kesadaran akan pentingnya berbahasa dan berperilaku secara santun di ruang digital. Melalui pendekatan yang memadukan materi, aktivitas kelompok, kreativitas, dan evaluasi, siswa diharapkan tidak hanya memahami konsep kesantunan bermedia sosial, tetapi juga mampu menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

Antusiasme dan kreativitas para siswa dalam menghasilkan serta mempresentasikan karya menjadi bagian penting dari keberhasilan kegiatan ini. Kolaborasi antara Program Studi Magister Linguistik FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok juga diharapkan dapat terus memberikan kontribusi positif dalam meningkatkan literasi berbahasa dan kesadaran bermedia sosial di kalangan remaja.

Dengan berakhirnya tahap kedua ini, rangkaian PkM “Santun Bermedia Sosial di Kalangan Remaja” menjadi sebuah ruang bersama bagi akademisi dan siswa untuk belajar bahwa kesantunan tidak hanya penting dalam komunikasi tatap muka, tetapi juga perlu hadir dalam setiap interaksi di ruang digital.

Penulis: Magister Linguistik

Kuliah Perdana Program Sarjana FIB UGM 2026: Tanamkan Empati dan Etika Lewat “Be Kind: Because ‘Just Kidding’ Isn’t Always Kind”

Rilis Berita Kamis, 27 Agustus 2026

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) menggelar Kuliah Perdana Program Sarjana Tahun Akademik 2026/2027 pada Selasa (18/8). Acara yang berlangsung di ruang utama Auditorium Soegondo FIB UGM ini dihadiri oleh sekitar 800 mahasiswa baru angkatan 2026.

Pada kuliah perdana kali ini, FIB UGM menghadirkan narasumber dari Fakultas Kedokteran, Kesehatan Masyarakat, dan Keperawatan (FK-KMK) UGM, yaitu dr. Bagas Suryo Bintoro, Ph.D. Beliau merupakan dosen dari Departemen Perilaku Kesehatan, Lingkungan, dan Kedokteran Sosial. Dalam kesempatan tersebut, dr. Bagas membawakan materi penting yang bertajuk “Be Kind: Because ‘Just Kidding’ Isn’t Always Kind”.

Dalam pemaparannya, dr. Bagas menyoroti maraknya gangguan kesehatan mental yang berdampak pada remaja di Indonesia. Masalah tersebut sering kali dipicu oleh rasa kesepian, ketiadaan teman cerita, serta trauma masa lalu. Salah satu pemicu yang kerap tidak disadari di lingkungan sosial adalah candaan yang melampaui batas. Beliau mengingatkan bahwa banyak kasus di mana seseorang bermaksud bercanda, tetapi secara tidak sadar justru menyakiti perasaan orang lain.

Guna mengantisipasi hal tersebut, dr. Bagas menekankan pentingnya menerapkan sikap-sikap dasar dalam berinteraksi, seperti kebiasaan mengucapkan terima kasih, meminta maaf, dan cara membangun empati yang tulus terhadap sesama.

Suasana kuliah perdana berlangsung sangat hangat dan interaktif. Dr. Bagas sesekali menyelipkan humor-humor segar dan relevan yang akrab dengan keseharian generasi muda, sehingga memicu gelak tawa dari para mahasiswa baru FIB UGM yang hadir.

Melalui pelaksanaan kuliah perdana ini, pihak fakultas berharap nilai-nilai dasar dan materi yang disampaikan dapat menjadi bekal berharga bagi mahasiswa baru. Dengan demikian, mereka mampu menjalani kehidupan perkuliahan dengan baik, beretika, serta mampu menciptakan lingkungan kampus yang inklusif dan saling menghargai.

 

[Penulis: Humas FIB, Zaidan Abdurrahman]

Unggunan Cerita: Di Balik Dapur Kreatif Mahfud Ikhwan

Rilis Berita Senin, 24 Agustus 2026

Yogyakarta — Malam di Pondok A. Salam, Kalimasada, menjadi lebih hangat ketika sesi Unggunan Cerita menghadirkan penulis Mahfud Ikhwan dalam rangkaian Kemah Sastra bersama Alam-Semesta 2026. Dalam suasana santai dan akrab, Mahfud berbagi cerita tentang perjalanan kepenulisan, proses kreatif, riset, kegemarannya pada budaya populer, hingga bagaimana ia memandang kritik sastra.

Sesi ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengintip “dapur kreatif” seorang penulis yang selama bertahun-tahun membangun karya melalui ketekunan, riset, dan kedekatan dengan kehidupan sehari-hari.

Mahfud mengawali perjalanan kepenulisannya melalui novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009). Namanya kemudian semakin dikenal melalui Kambing dan Hujan: Sebuah Roman (2015) dan Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017). Karya-karya tersebut memperlihatkan perhatian Mahfud pada kehidupan masyarakat, terutama dunia desa dan kelompok-kelompok yang kerap berada di pinggiran arus utama.

Dalam Unggunan Cerita, Mahfud berbicara cukup jauh mengenai proses kreatifnya. Ia mengungkapkan bahwa menulis sebuah novel bukan pekerjaan yang selalu dapat diselesaikan dalam hitungan bulan. Sebuah novel bahkan dapat dikerjakannya selama bertahun-tahun, hingga mencapai sembilan tahun untuk satu karya.

Menurut Mahfud, setiap novel membutuhkan treatment, cara kerja, metode, dan riset yang berbeda. Tidak ada satu resep yang dapat diterapkan untuk semua karya. Riset untuk menulis karya sastra pun, menurutnya, tidak dapat begitu saja disamakan dengan riset ilmiah. Semuanya bergantung pada jenis cerita, dunia yang hendak dibangun, serta apa yang ingin disampaikan melalui karya.

Ia kemudian menyinggung kebiasaan menulis Haruki Murakami sebagai salah satu contoh bagaimana seorang penulis dapat membangun disiplin kreatif melalui rutinitas. Murakami dikenal dengan kebiasaan berlari dan menulis secara teratur. Bagi Mahfud, contoh tersebut memperlihatkan bahwa proses kreatif juga membutuhkan kerja rutin dan ketekunan, bukan semata-mata menunggu datangnya inspirasi.

Salah satu gagasan menarik yang dibagikan Mahfud adalah nasihat agar penulis tidak selalu memulai cerita dari gagasan-gagasan besar atau grand narrative. Cerita, menurutnya, justru dapat tumbuh dari sesuatu yang tampak kecil: sebuah peristiwa, adegan, percakapan, atau dialog yang menarik.

Hal-hal kecil tersebut dapat menjadi pintu masuk ke dalam cerita yang lebih luas. Yang penting adalah bagaimana peristiwa atau adegan tersebut mampu membuat pembaca betah mengikuti cerita dan terus merasa penasaran.

Dengan cara demikian, penulis tidak perlu sejak awal memaksakan sebuah gagasan besar ke dalam cerita. Sebuah percakapan sederhana atau peristiwa yang tampaknya sepele dapat berkembang menjadi dunia cerita yang kompleks apabila digarap dengan tepat.

Pandangan tersebut juga tampak dalam cara Mahfud melihat kehidupan masyarakat di luar pusat kebudayaan. Ia akrab dengan apa yang disebutnya sebagai budaya dan hiburan rendah—wilayah kebudayaan populer yang sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan.

Kehidupan masyarakat dan dunia pinggiran, misalnya, justru menjadi bahan yang diolah Mahfud menjadi karya sastra. Salah satunya adalah Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu, yang mengangkat kehidupan masyarakat di sebuah wilayah pedesaan dan berhasil memperoleh penghargaan sastra bergengsi.


Kegemaran Mahfud terhadap budaya populer juga tidak berhenti sebagai konsumsi pribadi. Dangdut, film India, dan sepak bola menjadi bagian dari dunia yang kemudian masuk ke dalam karya-karyanya.

Ketertarikannya pada sepak bola, misalnya, melahirkan novel Bek: Sebuah Novel (2024). Sementara kecintaannya pada film India dituangkan dalam buku esai Aku dan Film India Melawan Dunia (2017). Kegemarannya terhadap dangdut dan berbagai fenomena budaya populer lainnya kemudian hadir dalam Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop Lainnya (2024).

Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa bahan sastra tidak harus selalu datang dari sesuatu yang dianggap “tinggi”. Kehidupan sehari-hari, hiburan populer, kebiasaan masyarakat, bahkan hal-hal yang kerap dianggap remeh dapat menjadi sumber kreativitas.

Bagi Mahfud, justru dari wilayah-wilayah semacam itulah cerita sering kali memiliki kedekatan dengan pengalaman manusia yang konkret.

Menjelang akhir sesi, pembicaraan bergeser pada persoalan kritik sastra. Mahfud menjelaskan bahwa kritik yang baik memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar memberikan penilaian atau mencari kelemahan sebuah karya.

Ia mengibaratkan kritik sastra seperti latihan menyanyi dan suara fals. Seorang penyanyi mungkin tidak menyadari bahwa ada nada tertentu yang dinyanyikannya kurang tepat. Demikian pula seorang pengarang tidak selalu mengetahui seluruh hal yang bekerja di dalam karyanya.

“Ada hal-hal tertentu yang bahkan penulis sendiri tidak tahu dan sadari.”

Karena itu, kritik sastra dapat membantu membuka kemungkinan-kemungkinan yang tidak terlihat oleh pengarang sendiri. Dengan perspektif, teori, dan metode yang tepat, kritik dapat menjadi cara untuk membaca karya secara lebih tajam dan produktif.

Kritik sastra, dalam pandangan Mahfud, tidak seharusnya berhenti pada apa yang belakangan kerap diasosiasikan dengan perdebatan di media sosial: sekadar “nyinyir”, saling serang, atau ribut-ribut tanpa pijakan yang jelas.

Mahfud sendiri pernah menulis kritik melalui bukunya Melihat Pengarang Tidak Bekerja (2022). Buku tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana ia mempraktikkan kritik dengan caranya sendiri: dekat dengan karya, tetapi tetap berusaha melihat proses dan persoalan kepengarangan secara kritis.

Sesi Unggunan Cerita akhirnya menjadi lebih dari sekadar percakapan tentang teknik menulis. Dari perjalanan panjang sebuah novel hingga kesukaan terhadap dangdut, film India, dan sepak bola, Mahfud menunjukkan bahwa dapur kreatif seorang penulis dapat berada di mana saja.

Cerita bisa tumbuh dari desa, dari pinggiran, dari lapangan sepak bola, dari layar film India, dari panggung dangdut, atau bahkan dari sebuah dialog kecil yang awalnya tampak tidak penting. Yang membedakan adalah bagaimana seorang penulis melihat, mengolah, meriset, dan memberinya bentuk.

Di bawah langit malam Kalimasada, Unggunan Cerita memperlihatkan bahwa sastra tidak selalu lahir dari gagasan-gagasan besar. Kadang-kadang, ia justru bermula dari hal kecil yang diperhatikan dengan sungguh-sungguh—lalu dikerjakan dengan sabar selama bertahun-tahun.

 

Penulis: Khotibul Umam

123…49

Rilis Berita

  • Prof. Pujo dalam Workshop “Commodity, Plantation and Colonialism in Indonesia” di Munich, Jerman
  • Mengurai Relasi Negara dan Warga Melalui Rusunawa: Kolokium Series Antropologi Bersama Clara Siagian, Ph.D.
  • Malam Inisiasi Magister Sastra: Dari Puisi hingga Teatrikal 
  • 2nd American Studies International Conference: Memahami Amerika dalam Konteks Global 
  • Storytelling Sumbu Filosofi Yogyakarta untuk Anak-Anak: Merawat Warisan melalui Cerita

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju