• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang Tangguh
Arsip:

SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang Tangguh

Meraih Paper Terbaik, Cerita Sofiana, Joko, dan Mulya Berjalan di Sepatu Perempuan dalam Sastra Indonesia

Rilis Berita Senin, 21 September 2026

Ada pertanyaan yang mula-mula terdengar sederhana namun sukar dijawab: siapa yang berhak menceritakan perempuan?

Pertanyaan itu membawa Sofiana Martha Rini dan dua rekannya, Priyo Joko Purnomo serta Mulya Atmana Dwiyana WNA, jauh lebih dalam. Dari tugas mata kuliah prosa, tulisan mereka berkembang menjadi paper yang dipresentasikan dalam The 2nd International Conference Bali Gender Studies Forum (BGSF) 2026.

Paper berjudul Walking in Her Shoes: Gender and Ethics of Representing Women in Post-Reform Indonesian Novels (2000–2025) itu kemudian meraih penghargaan Best Paper dalam konferensi yang diselenggarakan Yayasan Bali Sruti pada 28–29 Agustus 2026 secara daring.

Bagi Sofiana, paper tersebut sebenarnya tidak  tiba-tiba lahir dari meja penelitian yang penuh buku dan teori. Ia bermula dari kegelisahan.

Salah satunya ketika Sofiana membaca dan memikirkan kembali karya karya Panji Sukma. Dari sana muncul pertanyaan tentang representasi: bagaimana perempuan ditulis, siapa yang menuliskannya, dan apakah pengalaman perempuan bisa benar-benar direpresentasikan secara utuh oleh orang lain.

Pertanyaan itu rupanya tidak selesai setelah satu kali membaca.

“Intinya tuh kita harus tahu representasi itu sulit untuk tidak bias,” kata Sofiana.

Kegelisahan tersebut bahkan sempat ia bawa ke diskusi lain, termasuk ketika mengikuti summer school. Ia berdiskusi dengan seorang dosen sekaligus sastrawan Ramayda Akmal dan Prof. Arnez mengenai persoalan representasi dan batas-batas seseorang ketika mencoba menceritakan pengalaman yang bukan miliknya.

Dari sana, topik yang awalnya berangkat dari satu karya melebar menjadi pertanyaan yang lebih besar: bagaimana perempuan direpresentasikan dalam sastra Indonesia setelah Reformasi?

Sofiana bersama kedua rekannya kemudian tidak berhenti pada satu atau dua novel. Mereka membaca 21 novel Indonesia yang terbit antara 2002 hingga 2025, karya pengarang laki-laki maupun perempuan, dari latar sastra dan kecenderungan ideologis yang berbeda.

Kerangka berpikir mereka salah satunya berangkat dari gagasan Stuart Hall mengenai representasi. Representasi, dalam kerangka ini, adalah yang tebarluasnya tanpa tepi dan bukan hanya menghadirkan sesuatu agar terlihat. Ia merupakan proses ketika makna tentang sesuatu diproduksi.

Maka pertanyaannya pun bergeser menjadi: siapa yang membangun makna tentang perempuan itu? Dari sudut pandang siapa pengalaman perempuan diceritakan? Dan siapa yang memiliki otoritas untuk merepresentasikan perempuan?

Untuk membedahnya, mereka menggunakan sejumlah perangkat teori, antara lain konsep male gaze dari Laura Mulvey serta konsep fokalisasi dan non-narratorial commentary dalam naratologi Mieke Bal.

Hasil pembacaan terhadap puluhan tokoh perempuan dalam 21 novel itu menunjukkan pola yang menarik. 

Perempuan memang semakin sering muncul sebagai pusat cerita. Tetapi menjadi pusat cerita tidak otomatis berarti menjadi pusat kuasa. Perempuan boleh bicara. Tetapi siapa yang menentukan?

Dalam sejumlah novel, Sofiana dan timnya menemukan perempuan masih banyak ditempatkan mengelilingi tokoh laki-laki.

Ada perempuan yang berbicara, merasa, mencintai, bahkan mengambil keputusan. Namun suara tersebut tetap berada dalam struktur cerita yang ditentukan oleh tokoh laki-laki.

Contohnya mereka temukan dalam Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Aisha memiliki suara dan pengalaman emosionalnya sendiri. Tetapi cara pembaca mengenali pengalaman itu tetap berhubungan erat dengan posisi Fahri sebagai pusat cerita.

Pola lain muncul ketika perempuan sudah menjadi tokoh utama.

Namun sekali lagi, menjadi protagonis belum tentu berarti memiliki otoritas.

Dalam pembacaan mereka terhadap sejumlah novel, perempuan bisa menjadi pusat perhatian narasi, tetapi keputusan mengenai bagaimana tubuh, pengalaman, trauma, maupun kehidupannya dimaknai tetap dapat dikendalikan oleh struktur naratif yang lebih besar.

Pada tahap ini, Sofiana menemukan perbedaan penting antara agency dan authority.

Perempuan dapat memiliki agensi, yakni mampu memilih, bertindak, menolak, bahkan melawan. Tetapi itu belum tentu berarti ia memiliki otoritas untuk menentukan bagaimana kisahnya sendiri dimaknai.

Lalu, bagaimana jika perempuan menulis perempuan?

Pertanyaan tersebut membawa penelitian mereka ke bagian berikutnya. Apakah representasi otomatis menjadi lebih etis ketika perempuan menjadi penulisnya? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Sofiana dan timnya juga membaca karya-karya yang ditulis pengarang perempuan. Di sana mereka menemukan perempuan memang dapat hadir dengan suara, pengalaman, dan persoalan yang lebih beragam.

Tapi bagi mereka, jenis kelamin pengarang bukan satu-satunya ukuran. Sebab persoalannya bukan semata-mata siapa si empunya pena. Yang lebih penting adalah bagaimana teks tersebut memproduksi makna tentang perempuan dan sejauh mana teks menyadari batas-batas otoritasnya ketika berbicara tentang pengalaman orang lain.

Karena itu, kesimpulan paper mereka justru terasa seperti pertanyaan yang sengaja dibiarkan tanpa closure.

Can we ever fully walk in her shoes?

Mungkin tidak. Dan justru karena itulah, kata Sofiana dan timnya, sastra perlu menyadari bahwa tidak ada seseorang yang bisa sepenuhnya berjalan dengan sepatu orang lain.

Tugas etisnya bukan berpura-pura telah sampai pada pengalaman tersebut. Perlu menyadari batas.

Dari tugas kuliah, menariknya, paper yang membawa Sofiana meraih penghargaan itu bermula dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa: tugas kuliah.

Tulisan tersebut berangkat dari tugas mata kuliah prosa. Setelah dikerjakan dan dibaca kembali, Sofiana bersama kedua rekannya melihat ada gagasan yang masih bisa dikembangkan.

Mereka kemudian merevisi tulisan tersebut dan mengikutsertakannya dalam call for paper BGSF.

Yayasan Bali Sruti sendiri selama ini mengembangkan penerbitan di bidang literasi akademik, sosial, budaya, perempuan dan anak, bahasa, hingga kebijakan publik. Lembaga tersebut juga memiliki lini penerbitan prosiding dan book chapter. Paper Sofiana dan tim akhirnya dipresentasikan secara daring pada 28 Agustus.

Waktu presentasinya pun tidak panjang. Hanya sekitar enam menit.

Enam menit untuk membawa 21 novel, sejumlah teori, kegelisahan akan representasi, dan pertanyaan tentang otoritas ke hadapan forum internasional.

Pada akhirnya, paper itulah yang membawa nama Sofiana dan timnya meraih Best Paper. Penghargaan tersebut datang tidak hanya karena banyaknya novel yang mereka baca atau teori yang mereka gunakan. Ada perjalanan yang lebih panjang di belakangnya: tugas kuliah yang tidak berhenti hanya sebagai tugas, sebuah kegelisahan yang terus dipikirkan, lalu sebuah pertanyaan yang terus dibawa sampai ke ruang konferensi.

Siapa yang berhak menceritakan perempuan?

Sofiana sendiri tidak memberikan jawaban yang sederhana. Barangkali memang tidak ada.

Sebab semakin jauh ia membaca, semakin jelas bahwa persoalan representasi bukan cuma tentang siapa yang berbicara, bahwa ketika ia berbicara mengenai orang lain, selalu ada bagian yang tidak akan pernah sepenuhnya menjadi miliknya.

 

Penulis: Khotibul Umam

Ceramah Pakar “Politik Bahasa” Memperkaya Wawasan tentang Dinamika Bahasa di Asia Tenggara

Rilis Berita Kamis, 17 September 2026

Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Ceramah Pakar dengan tema “Politik Bahasa” pada Senin, 7 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Soegondo, FIB UGM, ini menjadi forum akademik untuk memperluas wawasan mengenai hubungan bahasa dengan dinamika sosial, politik, dan regional, khususnya di kawasan Asia Tenggara.

Ceramah Pakar menghadirkan dua narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Jerôme Samuel dari Institut National des Langues Orientales, France menyampaikan materi berjudul “Politik Bahasa di Negara-Negara Asia Tenggara”. Dalam pemaparannya, pembahasan diarahkan pada dinamika kebijakan dan politik bahasa di berbagai negara Asia Tenggara serta bagaimana bahasa menempati posisi strategis dalam kehidupan masyarakat dan hubungan antarnegara di kawasan.

Narasumber kedua, Dr. Merry Andriani, S.S., M.L.C.S. dari Universitas Gadjah Mada, membawakan materi “Politik Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kerja di ASEAN”. Topik tersebut memberikan perspektif mengenai posisi dan peran bahasa Indonesia dalam konteks regional, terutama dalam kaitannya dengan perkembangan ASEAN dan peluang bahasa Indonesia sebagai bahasa yang digunakan dalam komunikasi dan kerja sama di kawasan.

Diskusi dalam kegiatan ini dipandu oleh Dhisna Luklu’ul Fauzan, S.S., mahasiswa Magister Linguistik, sebagai moderator. Interaksi antara narasumber dan peserta menjadi bagian penting dalam memperkaya pembahasan serta membuka ruang untuk melihat persoalan politik bahasa dari berbagai perspektif.

Melalui Ceramah Pakar ini, Program Studi Magister Linguistik FIB UGM terus menghadirkan ruang akademik yang mendorong mahasiswa dan peserta untuk memahami bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika sosial, politik, identitas, dan hubungan regional.

Program Studi Magister Linguistik FIB UGM menyampaikan terima kasih kepada para narasumber, moderator, dan seluruh peserta yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini. Semoga Ceramah Pakar “Politik Bahasa” dapat memperluas wawasan serta mendorong diskusi dan kajian lebih lanjut mengenai politik bahasa di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.

 

Penulis: Prodi Magister Linguistik

Mahasiswa Sastra Arab UGM Pelajari Bahasa Mandarin dan Budaya Taiwan lewat Summer Course

Rilis Berita Selasa, 15 September 2026

YOGYAKARTA – Belajar bahasa asing tidak selalu harus dimulai dari buku dan ruang kelas. Hal tersebut dirasakan Shang Narendra, mahasiswa Sastra Arab UGM angkatan 2022, yang menjadi satu-satunya perwakilan Universitas Gadjah Mada dalam 2026 Mandarin Summer Camp Short Term Study Program di Taiwan. Program subsidi dari Kementerian Pendidikan Taiwan tersebut berlangsung di Da Yeh University (大葉大學), Changhua, Taiwan, pada 22 Juli–4 Agustus 2026.

Program yang diselenggarakan melalui Official Taiwan Education Center Indonesia bekerja sama dengan perguruan tinggi di Taiwan ini mempertemukan mahasiswa internasional untuk mempelajari bahasa Mandarin sekaligus mengenal budaya Taiwan. Bagi Shang Narendra yang kerap disapa Adam, kesempatan tersebut berawal dari keinginannya untuk mempelajari bahasa asing langsung di lingkungan penuturnya. Sebagai mahasiswa Sastra Arab, ia terbiasa melihat bahasa tidak hanya dari struktur dan kosakata, tetapi juga dari budaya, masyarakat, dan konteks penggunaannya.

Selama program, peserta mengikuti kelas Mandarin pada pagi hari dan berbagai kegiatan budaya pada sore hari. Setibanya di Da Yeh University, peserta terlebih dahulu mengikuti Test of Chinese as a Foreign Language (TOCFL) untuk mengetahui kemampuan bahasa Mandarin dan menentukan penempatan kelas. Pembelajaran kemudian dilengkapi dengan kegiatan praktik, seperti memasak, kerajinan tangan, aroma therapy, fabric painting, kaligrafi tradisional Tiongkok, hingga membuat semprotan anti nyamuk khas Taiwan.

Pengalaman lintas budaya juga terasa dalam kehidupan sehari-hari di asrama. Peserta dari berbagai universitas dan negara tinggal bersama sehingga komunikasi berlangsung dalam bahasa yang beragam, terutama bahasa Inggris dan Mandarin. Adam bahkan sesekali menggunakan Google Translate ketika keterbatasan bahasa membuat percakapan terhenti. Ia juga berinteraksi langsung dengan masyarakat lokal saat membeli kebutuhan sehari-hari. Dari situ, ia belajar bahwa keberanian berkomunikasi dan kemampuan beradaptasi sering kali sama pentingnya dengan penguasaan tata bahasa.

Salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Adam adalah final project berupa roleplay bersama kelompok yang terdiri atas enam mahasiswa dari latar belakang berbeda. Dalam waktu yang relatif singkat, ia dan anggota kelompoknya harus menggunakan bahasa Mandarin untuk berdiskusi, membagi tugas, dan mempersiapkan penampilan. Program ini juga mengajak peserta mengunjungi Sun Moon Lake di Nantou, yang menjadi kesempatan bagi mereka untuk mengenal sisi lain Taiwan di luar lingkungan kampus.

Bagi Adam, pengalaman belajar Mandarin di Taiwan turut mengubah cara pandangnya sebagai mahasiswa Sastra Arab. Ia semakin melihat bahwa pembelajaran bahasa tidak dapat dipisahkan dari budaya dan masyarakat yang menggunakannya. Pengalaman tersebut juga melatih kemampuan mendengar, berbicara, memahami konteks komunikasi, serta beradaptasi dengan lingkungan baru. Mempelajari bahasa lain justru memberinya perspektif baru untuk memahami bahasa Arab secara lebih luas, bukan sekadar melalui teori yang dipelajari di kelas.

Summer course tersebut sekaligus menjadi pengalaman bagi Adam untuk keluar dari zona nyaman. Ia menemukan bahwa mahasiswa Sastra Arab memiliki kesempatan untuk mempelajari bahasa dan budaya lain tanpa harus meninggalkan bidang yang sedang ditekuni. Dengan mengenal lebih banyak bahasa dan masyarakat, mahasiswa dapat membawa perspektif baru dalam memahami bahasa Arab sekaligus mempersiapkan diri untuk berinteraksi di lingkungan yang semakin lintas budaya.

 

Penulis: Indana Zulfa Maulida

 

 

Prof. Pujo dalam Workshop “Commodity, Plantation and Colonialism in Indonesia” di Munich, Jerman

Rilis Berita Senin, 14 September 2026

Workshop internasional “Commodity, Plantation and Colonialism in Indonesia: Current Research in Social, Economic and Architectural History” diselenggarakan pada 23–24 Juli 2026 di Pavillon 333, Architekturmuseum der Technische Universität München (TUM), Jerman. Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian pameran “Nge-Téh / Tea Time: Architectures of Colonial Commodity Chain from Indonesia to Germany, 19th Century”, yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026.Workshop ono mempertemukan akademisi dari berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam sejarah komoditas, perkebunan dan kolonialisme. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong dialog mencangkup sejarah arsitektur, sosial, ekonomi, budaya dari sisi historis, selama periode awal modern hingga kontemporer yang membentuk rantau komoditas teh dari Indonesia menuju Eropa. Melalui perspektif interdisipliner, workshop mengeksplorasi bagaimana sistem perkebunan kolonial tidak hanya membentuk lanskap fisik, tetapi juga menciptakan relasi sosial, ekonomi, dan budaya yang pengaruhnya masih terasa hingga saat ini.

Lokakarya ini diselenggarakan bersamaan dengan kunjungan Prof. Dr. Pujo Semedi yang dikenal sebagai Antropolog yang Menyejarah. Beliau didaulat untuk menjadi Keynote Speaker dan bercerita mengenai Perkebunan di Indonesia periode 1870-2020. Kontribusi beliau terhadap pengembangan ilmu pengetahuan menjadi contoh baik bagi para pembelajar. Melalui penelitian yang berakar pada pengalaman masyarakat lokal, pengetahuan mengenai sejarah kolonial Indonesia dapat diperkaya sekaligus diperkenalkan kepada publik internasional sebagai bagian dari upaya membangun pemahaman yang lebih inklusif terhadap sejarah global.

Selain sesi diskusi diadakan juga pameran Nge-Téh / Tea Time. Pameran itu  mengangkat perjalanan teh sebagai komoditas kolonial, mulai dari perkebunan di Jawa Barat, proses pengolahan, distribusi melalui Batavia dan Hamburg, hingga konsumsi masyarakat di Jerman. Beragam arsip sejarah, foto, artefak perdagangan teh, karya seni keramik, serta film dokumenter dipamerkan untuk memperlihatkan keterkaitan Indonesia dengan jaringan perdagangan global. Pameran ini juga menegaskan bahwa meskipun Indonesia tidak pernah menjadi koloni Jerman, hubungan perdagangan teh menjadikan kedua wilayah terhubung dalam sistem ekonomi kolonial dunia.

Workshop ini menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam kajian sejarah kolonial, antropologi, arsitektur, dan studi kawasan Asia Tenggara. Diskusi yang berkembang tidak hanya menyoroti masa lalu kolonial, tetapi juga mendorong refleksi kritis mengenai keberlanjutan, keadilan historis, serta pentingnya menghadirkan perspektif masyarakat lokal dalam memahami sejarah komoditas global.

Penulis: Dewi Widyastuti

Dokumentasi: Prof. Pujo Semedi

Malam Inisiasi Magister Sastra: Dari Puisi hingga Teatrikal 

Rilis Berita Senin, 14 September 2026

SLEMAN— Malam Inisiasi mahasiswa baru Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) menjadi ruang perjumpaan yang tidak sekadar memperkenalkan kehidupan akademik, tetapi juga menghadirkan ekspresi seni yang spontan, personal, dan sarat makna.

Mengusung tema “Antara Kata dan Kita: Sebuah Cerita yang Ditulis Bersama”, kegiatan yang berlangsung pada 28–29 Agustus 2026 di Pondok A. Salam, Kalimasada, Sleman, tersebut diikuti mahasiswa baru Magister Sastra semester genap Tahun Akademik 2026/2027.

Rangkaian kegiatan diawali dengan pembukaan dan sambutan Ketua Program Studi Magister Sastra, Prof. Dr. Aprinus Salam, S.S., M.Hum.. Selanjutnya, mahasiswa mendapatkan materi mengenai filosofi dan nilai-nilai ke-UGM-an yang disampaikan Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum., Ph.D. of Arts.

Kegiatan juga memperkenalkan sejumlah agenda akademik Magister Sastra, di antaranya Academic Student Networking (ASN) dan International Dissemination.

Namun, salah satu bagian yang paling menonjol dalam malam inisiasi tersebut adalah penampilan seni mahasiswa. Beragam bentuk ekspresi ditampilkan dengan pendekatan sederhana, tanpa kesan pertunjukan yang terikat oleh kemewahan panggung maupun fasilitas pertunjukan formal.

Alya tampil membawakan lagu “Rayuan Perempuan Gila” dari Nadin Amizah. Deni menghadirkan musikalisasi puisi yang ditulisnya sendiri. Sementara itu, Chaca menyampaikan cerita personal melalui storytelling dalam bahasa Inggris.

Fajri kemudian membacakan puisi, disusul Eloi yang menampilkan pertunjukan tari. Sebagai penutup, Adit, Nurdin, Riki, dan Veto menghadirkan pertunjukan teatrikal yang mengangkat beragam persoalan, mulai dari isu lingkungan hingga politik. Pertunjukan tersebut dipadukan dengan lantunan syair yang menguatkan suasana dan pesan yang disampaikan. 

Keragaman penampilan tersebut memperlihatkan bahwa sastra dan seni tidak hanya hadir melalui karya tertulis, tetapi juga melalui tubuh, suara, musik, gerak, dan pengalaman personal. Para mahasiswa menjadikan panggung sederhana sebagai ruang untuk memperkenalkan diri sekaligus menyampaikan gagasan.

Dalam tulisannya soal acara ini, Aprinus menyebut seni radikal sebagai praktik kesenian yang tidak berorientasi pada posisi politik maupun ekonomi. Seni, dalam pengertian tersebut, hadir sebagai ekspresi bebas dengan semangat persahabatan.

Ciri lainnya adalah tidak adanya sirkulasi uang dalam praktik kesenian. Seniman tidak dibayar dan penonton tidak membayar. Kegiatan seni berlangsung bukan untuk mengakumulasi keuntungan, tapi sebagai bentuk ekspresi.

Menurut Aprinus, seni juga dapat menjadi bentuk penghormatan terhadap solidaritas komunitas. Kesenian menjadi cara untuk memperlihatkan rasa persaudaraan, kasih sayang terhadap sesama, sekaligus menunjukkan kepribadian seseorang.

“Keberanian untuk membebaskan diri dari itu adalah bentuk dari radikalisasi kehidupan itu sendiri,” tulisnya.

Ia juga mengkritik kecenderungan masyarakat yang menempatkan kesenian dalam ruang-ruang khusus yang administratif dan fasilitatif. Dalam kondisi tersebut, seni yang pada mulanya dapat menjadi bentuk perlawanan justru berpotensi berubah menjadi tontonan komersial dan komoditas.

Karena itu, bagi Aprinus, seni radikal yang “nol rupiah” merupakan bentuk resistensi yang otentik. Puisi, prosa, dan sastra dapat hadir tanpa kooptasi, motif, maupun kepentingan tertentu. Yang tersisa adalah pengalaman estetik, kekaguman, dan ketertegunan.

Pengalaman tersebut ia temukan dalam penampilan mahasiswa Magister Sastra FIB UGM pada malam inisiasi 28 Agustus 2026.

Bagi Aprinus, kemampuan menampilkan pertunjukan tentu membutuhkan latihan. Namun, ada bagian tertentu dari seni yang tidak dapat diperoleh hanya melalui latihan teknis.

“Yang tidak bisa dilatih adalah menghadirkan ruh, karakter pribadi, dan rasa yang dalam,” tulisnya.

Pernyataan tersebut sekaligus menjadi refleksi atas penampilan mahasiswa baru Magister Sastra. Di tengah suasana inisiasi yang mempertemukan mahasiswa dengan lingkungan akademik barunya, seni hadir sebagai ruang untuk menunjukkan karakter, pengalaman, keberanian berekspresi, dan solidaritas.

Malam inisiasi pun tidak berhenti sebagai kegiatan penyambutan mahasiswa baru. Melalui penampilan sederhana yang lahir dari para mahasiswa sendiri, malam tersebut menjadi semacam panggung bersama di mana kata, tubuh, suara, dan gagasan bertemu dalam sebuah cerita yang benar-benar ditulis bersama.

Penulis: Khotibul Umam

123…50

Rilis Berita

  • 2nd American Studies International Conference: Memahami Amerika dalam Konteks Global 
  • Divisi Keilmuan HMJ Kamastawa Gelar Sosialisasi KRS dan Perkuliahan bagi Mahadaya 2026
  • Meraih Paper Terbaik, Cerita Sofiana, Joko, dan Mulya Berjalan di Sepatu Perempuan dalam Sastra Indonesia
  • Siswa SMA Islam Sinar Cendekia Tangerang Gali Informasi hingga Prospek Kerja di FIB UGM
  • Dari Habit ke Karier: Mahasiswa Sastra Arab Kenali Peluang Kewirausahaan Berbasis Kearaban 

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju