SDGs 11: Kota dan Pemukiman yang berkelanjutan
Yogyakarta— Rangkaian Kemah Sastra bersama Alam-Semesta yang diselenggarakan Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) di Pondok A. Salam, Kalimasada, menghadirkan sesi Orasi Sastra pada Jumat malam, 14 Agustus 2026. Acara yang berlangsung mulai pukul 19.30 tersebut menghadirkan dua pembicara dari lingkungan akademik FIB UGM, yakni Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan, mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora FIB UGM, dan Rini Febriani Hauri, mahasiswa Magister Sastra FIB UGM.
Orasi Sastra menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Kemah Sastra karena menghadirkan ruang refleksi mengenai sastra, hubungan manusia dengan alam, perkembangan teknologi, serta masa depan humaniora.
Dalam orasi pertama bertajuk “Menyingkap Denyut Teks: Biopuitika dan Krisis Batas Manusia-Alam dalam Sastra,” Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan mengangkat gagasan biopuitika (biopoetics) sebagai perspektif untuk membaca hubungan antara kehidupan, manusia, alam, dan karya sastra.
Secara umum, biopuitika atau biopoetics merupakan pendekatan interdisipliner yang mempertemukan ilmu biologi atau ilmu tentang kehidupan dengan puitika, sastra, seni, dan berbagai bentuk ekspresi kreatif. Pendekatan ini membuka kemungkinan untuk melihat karya sastra tidak semata-mata sebagai produk bahasa dan kebudayaan, tetapi juga sebagai bagian dari perbincangan yang lebih luas mengenai kehidupan dan relasi manusia dengan dunia biologis di sekitarnya.
Dalam orasinya, Lutfi memberikan contoh menarik tentang tendon Achilles, bagian penting dari tubuh manusia yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit. Istilah Achilles tersebut berasal dari Achilles, tokoh dalam mitologi Yunani yang terkenal melalui karya epik Iliad karya Homer. Contoh tersebut menunjukkan bagaimana bahasa dan pengetahuan manusia kerap menyimpan jejak sastra dan mitologi
Dalam konteks tersebut, biopuitika menjadi relevan ketika batas antara manusia dan alam semakin dipertanyakan. Sastra dapat menjadi ruang untuk mengeksplorasi bagaimana manusia memahami kehidupan, bagaimana alam direpresentasikan, serta bagaimana hubungan manusia dengan makhluk hidup lainnya dibentuk melalui bahasa, imajinasi, dan pengalaman.
Tema “Menyingkap Denyut Teks” membawa sastra ke wilayah yang lebih luas, dengan mempertemukan kajian tekstual dengan persoalan kehidupan dan lingkungan. Biopuitika memungkinkan sastra berdialog dengan ilmu pengetahuan sekaligus mempertanyakan kembali posisi manusia sebagai bagian dari ekosistem kehidupan, bukan sebagai entitas yang sepenuhnya terpisah dari alam.
Sementara itu, Rini Febriani Hauri menyampaikan orasi bertajuk “Membaca Sastra di Era Algoritma: Pengalaman, Penafsiran, dan Masa Depan Humaniora.” Melalui tema tersebut, Rini mengajak peserta mempertimbangkan kembali pengalaman membaca sastra di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi.
Dalam orasinya, Rini mengutip Franz Kafka:
“Buku harus menjadi kapak untuk memecahkan lautan beku di dalam diri kita.”
Kutipan tersebut menjadi pijakan reflektif untuk melihat membaca bukan sekadar aktivitas memperoleh informasi, membaca adalah pengalaman yang dapat menggugah, mengusik, bahkan mengubah cara seseorang memahami dirinya dan dunia.
Di tengah budaya digital yang bergerak serba cepat, ketika informasi datang tanpa henti dan algoritma turut menentukan apa yang kita lihat dan baca, Rini mengajak peserta untuk membaca dengan pelan. Ajakan tersebut menjadi semacam jeda sekaligus bentuk perlawanan terhadap dorongan untuk terus bergerak cepat, berpindah dari satu informasi ke informasi lain, dan segera memberikan penilaian.
Membaca secara perlahan memberi ruang bagi pembaca untuk membiarkan teks bekerja dalam dirinya. Dengan demikian, pembaca memiliki kesempatan untuk menikmati bahasa, menangkap lapisan makna, mempertanyakan pengalaman, serta menemukan kemungkinan penafsiran yang mungkin terlewat dalam pembacaan yang tergesa-gesa.
Dalam konteks era algoritma, pengalaman membaca menjadi semakin penting. Ketika teknologi mampu memproduksi, menyebarkan, dan mengolah teks dalam jumlah yang nyaris tak terbatas, kemampuan manusia untuk membaca, merasakan, menafsirkan, dan menemukan makna menjadi bagian penting yang perlu dipertahankan.
Kedua orasi tersebut mempertemukan dua persoalan penting dalam kehidupan sastra kontemporer: hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan teknologi. Di satu sisi, biopuitika mengajak peserta memikirkan kembali batas antara manusia dan dunia kehidupan. Di sisi lain, pembahasan tentang sastra di era algoritma mengajak peserta mempertimbangkan perubahan pengalaman membaca dan menafsirkan karya ketika teknologi semakin hadir dalam kehidupan manusia.
Pertemuan kedua tema tersebut memperluas ruang perbincangan Kemah Sastra. Sastra tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan membaca dan menulis karya, tetapi juga sebagai ruang untuk memahami perubahan dunia, mempertanyakan batas-batas kemanusiaan, dan memikirkan kembali masa depan hubungan manusia dengan alam serta teknologi.
Pelaksanaan Orasi Sastra pada malam hari juga menjadi bagian dari suasana khas Kemah Sastra. Setelah menjalani kegiatan sore dan menikmati suasana alam Kalimasada, peserta berkumpul untuk mendengarkan gagasan, berdiskusi, serta berbagi perspektif mengenai sastra dan berbagai persoalan kehidupan.
Kemah Sastra tidak hanya menawarkan pengalaman berkemah dan berkumpul, tetapi juga menghadirkan ruang intelektual yang mempertemukan karya, gagasan, alam, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengalaman manusia dalam satu rangkaian kegiatan.
Penulis: Khotibul Umam
BANGI, SELANGOR — Tiga mahasiswa Magister Sastra, Departemen Bahasa dan Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), Priyo Joko Purnomo, M. Aufal Ghufron, dan Maulana Nurul Izza, berpartisipasi sebagai pemakalah dalam Seminar Antarabangsa Manuskrip Melayu ke-4 (SEMALU IV) 2026.
Dalam seminar internasional yang diselenggarakan oleh Pusat Penyelidikan Manuskrip Alam Melayu (PPMAM), Institut Alam dan Tamadun Melayu (ATMA), Universiti Kebangsaan Malaysia (UKM), tersebut, ketiganya mempresentasikan kajian berjudul “Meramal Keberuntungan: Dinamika Sistem Numerik Abajadun dalam Tradisi Manuskrip Melayu dan Jawa.”
SEMALU IV 2026 diselenggarakan di Universiti Kebangsaan Malaysia, Bangi, Selangor, Malaysia, pada 21 Juli 2026. Seminar ini mengangkat tema “Pelestarian Warisan Manuskrip Alam Melayu Melalui Penyelidikan dan Inovasi” serta mempertemukan cendekiawan, peneliti, akademisi, dan masyarakat umum untuk membahas kekayaan manuskrip dan warisan intelektual alam Melayu.
Melalui penelitian tersebut, ketiga mahasiswa UGM mengkaji dinamika adaptasi sistem numerik Abajadun dalam tradisi manuskrip Melayu dan Jawa, khususnya pada manuskrip Syair Raksi Macam Baru (SRMB) dan Kitab Mujarrabat Pegon (KMP). Kajian ini menyoroti bagaimana sistem numerik yang memberikan nilai angka pada huruf Arab mengalami proses adaptasi, negosiasi, dan pelokalan ketika berinteraksi dengan kebudayaan Melayu dan Jawa.
Penelitian tersebut menunjukkan bahwa Abajadun tidak semata-mata sistem penghitungan atau ramalan. Dalam tradisi manuskrip Nusantara, sistem ini berkembang menjadi teknologi kosmologis yang menghubungkan manusia, waktu, alam, dan Tuhan dalam suatu jaringan makna. Melalui penghitungan huruf, nama, hari, dan berbagai unsur lainnya, masyarakat berusaha memahami kemungkinan-kemungkinan masa depan serta menentukan tindakan yang dianggap tepat.
Dalam tradisi Melayu, kajian terhadap Syair Raksi Macam Baru memperlihatkan penggunaan sistem Abajadun untuk membaca kecocokan pasangan melalui penghitungan nama. Sementara itu, Kitab Mujarrabat Pegon menunjukkan perjumpaan antara sistem numerik Abajadun dengan tradisi petungan Jawa, termasuk penggunaan konsep neptu hari dan pasaran untuk berbagai keperluan, seperti menentukan waktu yang dianggap baik untuk berdagang, berobat, dan menikah.
Kajian ini juga menegaskan bahwa manuskrip Melayu dan Jawa juga memproduksi dan menegosiasikan pengetahuan. Sistem angka, huruf, nama, hari, dan nasib dirangkai menjadi mekanisme budaya yang membantu masyarakat memahami ketidakpastian serta mengatur berbagai keputusan dalam kehidupan sosial.
Dengan menggunakan perspektif representasi budaya Stuart Hall dan pendekatan ergodic literature E.J. Aarseth, penelitian tersebut memandang Abajadun sebagai sebuah sistem tanda yang maknanya tidak selalu tersedia secara langsung dalam teks. Pembaca perlu melakukan serangkaian operasi, mulai dari mengonversi huruf menjadi angka, menghitung nilai tertentu, hingga menafsirkan hasilnya. Dalam proses tersebut, pembaca berperan aktif dalam menemukan makna yang terkandung di dalam manuskrip.
“Abajadun menjadi navigator yang mengarahkan pembaca dari huruf menuju angka, dari angka menuju tafsir, dan dari tafsir menuju keputusan sosial,” demikian gagasan utama yang ditawarkan dalam penelitian tersebut.
Keikutsertaan mahasiswa Magister Sastra UGM dalam SEMALU IV 2026 menjadi bagian dari upaya memperluas kajian terhadap manuskrip Nusantara sekaligus memperlihatkan relevansi warisan pengetahuan tradisional dalam diskursus akademik kontemporer. Penelitian mengenai Abajadun juga menunjukkan bahwa manuskrip Melayu dan Jawa merefleksikan perjumpaan kreatif antara tradisi Islam dan kosmologi lokal yang melahirkan sistem pengetahuan khas di Nusantara.
Melalui forum SEMALU IV, kajian tersebut turut memperkuat upaya pelestarian manuskrip alam Melayu melalui penelitian dan inovasi. Warisan manuskrip tidak hanya dipandang sebagai peninggalan sejarah, tetapi juga sebagai sumber pengetahuan yang terus dapat dikaji, ditafsirkan, dan diperkenalkan kepada generasi baru.
Penulis: Khotibul Umam
Sebagai bagian dari implementasi pembelajaran berbasis pengalaman (experiential learning), mahasiswa Magister Antropologi, FIB UGM melaksanakan kegiatan kuliah lapangan (fieldtrip) pada Rabu, 17 Juni 2026 ke Masyarakat Adat Bonokeling di Desa Pekuncen, Kecamatan Jatilawang, Kabupaten Banyumas, Jawa Tengah. Kegiatan ini merupakan kelas lapangan mata kuliah Sistem Pemerintahan Adat yang diampu oleh Dr. Sita Hidayah, M.A. Tujuannya adalah untuk memperdalam pemahaman mengenai praktik pemerintahan adat, tata kelola komunitas, serta dinamika hubungan antara sistem adat dan pemerintahan formal melalui pendekatan etnografi.
Kehadiran mahasiswa disambut oleh Ki Soemitro selaku Ketua Lembaga Adat Desa dan Pak Narso selaku Kepala Desa Pekuncen. Pertemuan ini menjadi ruang dialog mengenai sejarah komunitas Bonokeling, struktur kepemimpinan adat, serta hubungan erat masyarakat dengan leluhur melalui konsep anak-putu, yaitu ikatan spiritual dan genealogis yang menjadi dasar identitas sekaligus sistem sosial masyarakat Bonokeling. Ki Soemitro menjelaskan bahwa keberlangsungan masyarakat adat tidak hanya bergantung pada aturan tertulis, tetapi pada kepatuhan moral seluruh anak-putu terhadap nilai-nilai yang diwariskan oleh Kyai Bonokeling. Sistem ini terbukti mampu menjaga tata kelola adat tetap bertahan lintas generasi di tengah arus perubahan modernisasi.
Selain berdiskusi, mahasiswa melakukan observasi terhadap arsitektur rumah adat, tata ruang komunal, serta proses penyelenggaraan ritual adat. Pengamatan dan diskusi tersebut menunjukkan bahwa masyarakat adat memiliki kapasitas tata kelola kolektif yang efektif tanpa bergantung sepenuhnya pada struktur birokrasi formal. Kepala Desa menjelaskan bahwa pemerintahan formal dan lembaga adat tidak saling bersaing, melainkan saling melengkapi. Kebijakan pembangunan desa senantiasa dikonsultasikan dengan lembaga adat untuk menjaga dan menghormati ruang-ruang sakral dan nilai budaya masyarakat. Sebaliknya, berbagai persoalan internal komunitas, seperti sengketa keluarga, konflik sosial, maupun pelanggaran norma adat, diselesaikan melalui musyawarah adat sebelum menempuh mekanisme hukum negara.
Masyarakat Bonokeling terbuka dengan teknologi, seperti telepon genggam, namun tetap menjaga agar nilai-nilai individualisme dan konsumerisme tidak menggeser prinsip hidup kolektif warisan leluhur. Di tengah arus globalisasi, mereka menghadapi tantangan, mulai dari penyesuaian regulasi administrasi negara hingga tekanan komersialisasi budaya melalui industri pariwisata. Menanggapi hal tersebut, Ki Soemitro menjelaskan bahwa masyarakat Bonokeling menerapkan strategi resistensi kultural melalui proses negosiasi yang bijaksana. Mereka memenuhi persyaratan administratif negara demi menjamin hak-hak sipil warga, namun tetap mempertahankan praktik spiritual dan sistem nilai Kejawen dalam kehidupan sehari-hari. Selain itu, lembaga adat secara tegas membatasi komersialisasi ritual agar kesakralan tradisi tidak berubah menjadi sekadar tontonan wisata.
Kegiatan ini memberikan pengalaman belajar yang melampaui pembelajaran di kelas. Melalui observasi, dialog, dan refleksi langsung bersama masyarakat adat, mahasiswa memperoleh pemahaman yang lebih komprehensif mengenai praktik pemerintahan adat sebagai sistem sosial yang hidup, dinamis, dan terus beradaptasi terhadap perubahan zaman.
Penulis: Dewi Widyastuti
‘Gamelan Mahasiswa Sastra Nusantara’ atau yang lebih dikenal dengan nama Gamasutra, sekali lagi turut meramaikan gelar Festival Karawitan yang diselenggarakan oleh Fakultas Filsafat pada Sabtu, 18 Juli 2026. Festival ini merupakan agenda rutin setiap tahun dalam rangka semarak Dies Natalis Fakultas Filsafat. Festival karawitan tahun ini diikuti oleh 52 kelompok karawitan, baik dari internal maupun eksternal Universitas Gadjah Mada. Acara ini diselenggarakan dalam dua hari berturut-turut yakni Sabtu dan Minggu, 18-19 Juli 2026.
Gamasutra menampilkan 6 repertoar yakni gendhing Ladrang Sumyar, Lagon Emplek-emplek Ketepu, Lagon Kembang Jagung, Lancaran Aku Duwe Pitik, Ketawang Manggung Sore, dan Ayak-ayak Pamungkas RRI. “Gendhing-gendhing ini dipentaskan dengan niat mengeluarkan kembali repertoar yang sudah lama nggak dipentaskan, dan untuk mengenalkan kembali lagu lagu dolanan,” ujar Yanuar, salah satu mahasiswa Bahasa, Sastra dan Budaya Jawa FIB yang menginisiasi susunan repertoar ini.
Masing-masing dari repertoar tersebut memiliki makna yang berbeda-beda. Lagon Emplek-emplek Ketepu, Lagon Kembang Jagung, Lancaran Aku Duwe Pitik, merupakan tembang dolanan dengan irama yang menyenangkan. Ladrang Sumyar yang menjadi repertoar utama dalam penampilan Gamasutra, dibawakan dengan nuansa yang cukup berbeda. “Tidak seperti Ladrang Sumyar yang biasanya ditampilkan dengan laras pelog pathet barang, kami menampilkannya dengan laras slendro pathet manyura,” ujar Yanuar. Adapun repertoar tersebut juga merupakan rekonstruksi dari rekaman lama milik RRI Yogyakarta, RRI Kraton Yoyakarta, SMKI Yogyakarta, dan Karawitan Condong Raos.
Keikutsertaan Gamasutra dalam Festival Karawitan menjadi bagian dari upaya mahasiswa FIB UGM untuk terus menghidupkan, melestarikan, sekaligus mengenalkan kembali kekayaan karawitan Jawa kepada masyarakat luas. Melalui pemilihan repertoar yang mengangkat gendhing klasik hingga lagu dolanan, Gamasutra menunjukkan komitmennya dalam menjaga kesinambungan tradisi seni karawitan di tengah perkembangan zaman.
[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]

