• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Magister Pengkajian Amerika
  • (Page 2)
Arsip:

Magister Pengkajian Amerika

Meretas Batas: Suara Perempuan dan Minoritas dalam Sorotan Kajian Amerika

HEADLINERilis BeritaSDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang TangguhSDGs 4: Pendidikan BerkualitasSDGs 5: Kesetaraan Gender Jumat, 2 Mei 2025

Yogyakarta, 30/4/2025 – Di tengah hiruk pikuk perayaan kelulusan, para mahasiswa Magister Pengkajian Amerika Universitas Gadjah Mada menyimpan cerita perjuangan yang tak kalah menarik dari sekadar pencapaian akademik. Melalui tesis mereka, suara-suara perempuan, kelompok minoritas, hingga wacana keagamaan di Amerika rampung dikaji. Tidak hanya sebagai objek kajian, tetapi sebagai refleksi sosial yang erat kaitannya dengan kehidupan global dan tujuan pembangunan berkelanjutan.

Salah satu topik yang mengemuka adalah persoalan religiositas dalam masyarakat Amerika kontemporer. Dalam penelitiannya, Eliyawati, S.S., M.A. menelaah representasi religiusitas perempuan Amerika dalam serial Young Sheldon. Dengan memadukan teori representasi Stuart Hall dan pendekatan Post-Nasionalis dalam Pengkajian Amerika, Eliyawati membedah bagaimana keyakinan religius perempuan Amerika, baik yang tradisional maupun yang mengalami sekularisasi yang tercermin melalui karakter lintas generasi. Ia menemukan bahwa perempuan dari generasi Baby Boomers hingga Generasi X menunjukkan cara beriman yang berbeda: mulai dari ketaatan spiritual yang menempatkan perempuan sebagai “gereja dalam keluarga”, hingga pergeseran nilai ke arah sekularitas akibat pengaruh modernitas, media, dan pendidikan. Penelitian ini tidak hanya memotret transformasi nilai-nilai agama dalam masyarakat Amerika, tetapi juga membuka ruang refleksi tentang posisi perempuan dalam lembaga keagamaan dan kehidupan sosial.

Eliyawati, S.S., M.A. bersama Dr. Aris Munandar, M. Hum., Kaprodi Magister Pengkajian Amerika, FIB, UGM

Isu representasi gender juga dikupas dalam penelitian Leny Roslinda Sinaga, S.S., M.A., melalui serial You. Dengan latar genre romantik-thriller yang populer di kalangan penonton global, serial ini menjadi medium refleksi atas bagaimana dominasi maskulin yang berbalut romansa sering kali memanipulasi persepsi perempuan. Leny mengeksplorasi bagaimana cinta bisa menjadi kedok kekerasan, dan bagaimana budaya populer Amerika membentuk serta mengabadikan narasi tersebut. Dengan menggunakan teori dekonstruksi, hasil penelitiannya menyoroti pentingnya kesadaran perempuan terhadap relasi kuasa dalam ranah personal maupun publik, mempertegas urgensi kesetaraan gender di tengah dominasi narasi maskulinitas dalam media massa Amerika.


Leny Roslinda Sinaga, S.S., M.A. bersama Dr. Aris Munandar, M. Hum., Kaprodi Magister Pengkajian Amerika, FIB, UGM

Tak kalah menarik, kajian tentang Ruth Bader Ginsburg dalam film On the Basis of Sex, yang menggambarkan dengan kuat perjuangan perempuan menembus dunia hukum yang sarat dominasi laki-laki diekspolari oleh Zahra Kamila, S.Pd., M.A. Film ini menjadi pintu masuk untuk membedah struktur sosial yang maskulin, sekaligus memetakan strategi-strategi seperti pendekatan legal, akses pendidikan tinggi, hingga kolaborasi lintas gender. Dalam tesis nya, Zahra menunjukkan bahwa perjuangan tersebut tak hanya berkaitan erat dengan isu kesetaraan gender, tetapi juga menyuarakan nilai-nilai keadilan dan kelembagaan inklusif. Dua aspek penting dalam mewujudkan masyarakat yang setara dan berkeadaban.

Zahra Kamila, S.Pd., M.A. bersama Dr. Aris Munandar, M. Hum., Kaprodi Magister Pengkajian Amerika, FIB, UGM

Beranjak ke ruang digital, penelitian Annida Ul Marhamah, S.S., M.A., menyoroti perjuangan identitas melalui figur Bretman Rock, seorang influencer LGBTQ+ berdarah Filipina-Amerika yang menjadikan media baru sebagai panggung untuk mengekspresikan dirinya sekaligus melawan stereotip. Di tengah dominasi narasi heteronormatif dalam budaya populer Amerika, Bretman tampil sebagai suara alternatif yang menantang batas-batas representasi identitas rasial, gender, dan seksualitas. Dengan memadukan teori dekonstruksi Jacques Derrida, Annida mengurai bagaimana mikroagresi yang ditujukan kepada Bretman melalui komentar dan ekspektasi publik tidak hanya bersifat personal, tetapi juga struktural. Menariknya, kajian ini menunjukkan bahwa kekuatan naratif dalam media digital justru dapat dibalikkan menjadi ruang emansipasi, di mana keotentikan menjadi bentuk perlawanan. Dalam konteks mengurangi ketimpangan dan kesetaraan gender, riset ini menegaskan pentingnya keotentikan dalam narasi digital, serta menyerukan pemahaman lintas budaya dan representasi diri sebagai fondasi menuju masyarakat yang lebih adil dan setara. 

Annida Ul Marhamah, S.S., M.A. bersama Dr. Aris Munandar, M. Hum., Kaprodi Magister Pengkajian Amerika, FIB, UGM

Keempat penelitian ini menegaskan bahwa ruang akademik bukan sekadar tempat mempelajari teori, melainkan arena untuk menyuarakan ketidakadilan, membongkar narasi dominan, dan merayakan keberagaman. Melalui film, serial televisi, hingga media digital, para mahasiswa ini membuktikan bahwa Pengkajian Amerika bukan hanya soal memahami Amerika, melainkan cara kritis untuk membaca dunia.

[Humas Magister Pengkajian Amerika, Nariza Ayu Pasha]

Budaya Populer, Sosial, dan Budaya: Wisudawan, Wisudawati dan Penelitian Thesis Pengkajian Amerika

HEADLINERilis BeritaSDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang TangguhSDGs 4: Pendidikan BerkualitasSDGs 5: Kesetaraan Gender Jumat, 2 Mei 2025

Yogyakarta, 30/4/2025 – Pada hari Rabu, 23 April, enam mahasiswa program studi Pengkajian Amerika, FIB, UGM, berhasil menyelesaikan masa studi mereka dengan menghasilkan thesis yang menyoroti isu sosial dan budaya yang ada pada Budaya Populer Amerika. Keenam mahasiswa yang diwisuda tersebut terdiri dari: Eliyawati, Zahra Kamila yang adalah Angkatan 2022 Genap, A . Fahmi Dahlan, Leny Roslinda Sinaga dan Annida Ul Marhamah, mahasiswa Angkatan 2022 Ganjil, dan Aprilia Nilham, mahasiswa Angkatan 2021 Genap. Dalam thesis mereka, wisudawan wisudawati tidak hanya memberi kajian baru mengenai Amerika secara internal, melainkan juga pengaruh Amerika yang dirasakan oleh negara lain, yaitu Indonesia. 

Thesis yang ditulis oleh A . Fahmi Dahlan yang berjudul “American Hegemony in Indonesian Mass Culture: A Case Study on Hip-hop Community in Wijilan Yogyakarta” meneliti bagaimana musik hip-hop Indonesia mendapat pengaruh dari hegemoni Amerika dalam berbagai elemen hip-hop yang kompleks. Thesis ini juga menemukan bahwa hegemoni yang terjadi dalam lagu hip-hop di Wijilan bisa dilihat dari program pemberdayaan kultur hip-hop, sekaligus menggunakan hip-hop sebagai sarana untuk mengkritisi isu sosial, atau dengan kata lain, melakukan adaptasi pengaruh global dengan identitas lokal.

Sebagai perbandingan dengan thesis yang sebelumnya menghubungkan Amerika dengan Indonesia, thesis yang ditulis oleh Eliyawati  dengan judul “The Representation of American Women’s Religiosity in Young Sheldon” menemukan bahwa konsep kekrisenan yang dianut oleh perempuan Amerika bisa dilihat dari sikap, pengimplementasian nilai-nilai keagamaan termasuk ke dalam role perempuan dalam keluarga, yang mana memiliki ketimpangan yang sangat kontras apabila di bandingkan dengan perempuan yang tidak memiliki kepercayaan tertentu. Dalam thesisnya, beliau berargumen juga bahwa representasi ini terlihat dari tiga generasi yang ada di dalam Young Sheldon. 

Melalui penelitian yang menggunakan berbagai macam perspektif maupun isu, tulisan mereka diharapkan dapat berkontibusi untuk memperkaya dan menjadi rujukan riset yang akan datang, terutama semua yang berhubungan dengan Amerika, budaya popular, termasuk isu sosial baik di dalam Amerika maupun secara global sehingga bisa membangun masyarakat yang lebih terbuka.

[Humas Magister Pengkajian Amerika, Reni Renatawati]

Jurnal RUBIKON Raih Akreditasi SINTA 3! Langkah Besar dalam Kajian Transnasional

HEADLINERilis BeritaSDGs 17: Kemitraan Untuk Mencapai TujuanSDGs 4: Pendidikan BerkualitasSDGs 5: Kesetaraan Gender Kamis, 27 Maret 2025

Yogyakarta, 21 Maret 2025 – RUBIKON: Journal of Transnational American Studies kini resmi meraih akreditasi SINTA 3, sebagaimana tertuang dalam Surat Keputusan Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, Riset, dan Teknologi Nomor 0173/C3/DT.05.00/2025 yang diterbitkan pada 21 Maret 2025. Prestasi ini semakin mengukuhkan posisi Jurnal Rubikon sebagai salah satu jurnal akademik paling berpengaruh di Indonesia dalam bidang Kajian Amerika serta memperluas jangkauannya dalam diskusi akademik global.

Dikelola oleh Magister Pengkajian Amerika, Universitas Gadjah Mada (UGM), Rubikon adalah jurnal ilmiah yang berfokus pada kajian transnasional, dengan perhatian khusus pada pengaruh Amerika di luar wilayahnya, termasuk di Indonesia. Jurnal ini dipimpin oleh Editor in Chief, Prof. Dr. Ida Rochani Adi, S.U. dan Managing Editor, Dr. Aris Munandar, M. Hum. serta didukung oleh tim editorial yang terdiri dari akademisi dari berbagai universitas di dalam dan luar negeri, seperti Northeast Normal University (China), Deakin University (Australia), dan Victoria University of Wellington (Selandia Baru). Sejak awal, Rubikon juga telah menjalin kerja sama dengan American Studies Society of Indonesia (ASSINDO), memperkuat jejaring akademik dalam Kajian Amerika.

Sebagai jurnal transnasional, Rubikon membahas beragam topik menarik seputar sastra dan budaya Amerika, masyarakat dan kelompok minoritas, budaya populer dan globalisasi, politik dan kebijakan luar negeri, hingga hegemoni Amerika di era digital. Nama Rubikon sendiri diambil dari Sungai Rubicon dalam sejarah Romawi, yang melambangkan titik tanpa jalan kembali—sebuah filosofi yang mencerminkan semangat jurnal ini dalam membuka wawasan baru dan menghadirkan perspektif segar dalam studi akademik.

Keberhasilan Rubikon meraih akreditasi SINTA 3 tidak hanya menjadi bukti kualitas akademiknya, tetapi juga mempertegas kontribusinya terhadap Sustainable Development Goals (SDGs). Sebagai jurnal akses terbuka, Rubikon mendukung SDG 4: Pendidikan Berkualitas dengan menyediakan publikasi ilmiah gratis yang dapat diakses oleh siapa saja, sehingga ilmu pengetahuan dapat tersebar luas tanpa hambatan finansial. Selain itu, banyak artikel yang diterbitkan menyoroti isu SDG 5: Kesetaraan Gender dan SDG 10: Mengurangi Ketimpangan, dengan membahas representasi kelompok minoritas dan gender dalam budaya Amerika serta bagaimana isu-isu tersebut beresonansi dalam konteks global, termasuk Indonesia. Dalam skala yang lebih luas, Rubikon juga selaras dengan SDG 17: Kemitraan untuk Mencapai Tujuan dengan menjalin kolaborasi akademik lintas negara, memperkaya diskusi ilmiah, dan memperkuat jejaring penelitian dalam kajian transnasional.

Diterbitkan dua kali setahun dan tanpa biaya publikasi, Rubikon terus membuka peluang bagi akademisi dan peneliti untuk menyumbangkan gagasan serta memperluas cakrawala kajian transnasional. Dengan pencapaian akreditasi SINTA 3, jurnal ini semakin mantap melangkah sebagai platform akademik yang inovatif, inklusif, dan berdampak luas.

Untuk informasi lebih lanjut serta pengiriman artikel, situs resmi Rubikon dapat diakses melalui laman berikut: https://jurnal.ugm.ac.id/rubikon/.

[Humas Magister Pengkajian Amerika FIB UGM, Nariza Ayu Pasha]

Kuliah Baru “Superheroes and Cultural Identity” di Magister Pengkajian Amerika (Menyingkap Makna Superhero dalam Budaya AS)

HEADLINERilis BeritaSDGs 4: Pendidikan Berkualitas Kamis, 27 Maret 2025

Yogyakarta, 27/3/2025 – Program Magister Pengkajian Amerika menghadirkan mata kuliah baru yang menarik perhatian banyak mahasiswa, yaitu “Superheroes and Cultural Identity.” Mata kuliah ini diampu oleh Dr. Ashika Prajnya Paramita, M.A., dan bertujuan untuk menggali lebih dalam makna superhero dalam konteks sosial, politik, dan budaya Amerika Serikat.

Pada pertemuan pertama, Dr. Ashika mengajak para mahasiswa untuk memperkenalkan diri dan menceritakan superhero favorit mereka. Dari Superman hingga X-Men, setiap superhero memiliki tempat tersendiri di hati para mahasiswa. Kegiatan ini tidak hanya membangun suasana kelas yang interaktif tetapi juga mengawali diskusi mengenai peran superhero dalam membentuk identitas budaya.

Dr. Ashika menjelaskan bahwa dalam studi Amerika, superhero bukan sekadar karakter fiksi, tetapi juga simbol yang mencerminkan dinamika sosial dan politik di Amerika Serikat. Salah satu konsep yang dibahas adalah bagaimana superhero merepresentasikan American Dream—sebuah gagasan bahwa siapapun dapat meraih kesuksesan melalui kerja keras dan ketekunan.

Sebagai contoh, Superman digambarkan sebagai seorang imigran dari planet Krypton yang tumbuh besar di Kansas, Amerika Serikat. Karakter ini merefleksikan harapan para imigran yang ingin menjadi bagian dari bangsa Amerika. Identitas gandanya sebagai Clark Kent, seorang jurnalis, juga menegaskan pentingnya kebebasan pers sebagai nilai fundamental dalam demokrasi Amerika.

Mata kuliah ini membahas “Primary Conventions” dalam dunia superhero, yaitu elemen khas yang sering muncul di berbagai media. Dr. Ashika menguraikan beberapa konvensi utama, seperti identitas ganda, di mana superhero memiliki dua persona, misalnya Clark Kent sebagai Superman. Kekuatan super mereka bisa berasal dari mutasi, teknologi, sihir, atau latihan ekstrem. Setiap superhero juga memiliki kostum ikonik, seperti logo laba-laba pada kostum Spider-Man. Misi utama mereka adalah melawan kejahatan demi keadilan dan melindungi masyarakat. Selain itu, banyak superhero memiliki latar kota khas, seperti Gotham City untuk Batman, serta sidekick atau tim pendukung, misalnya Robin yang membantu Batman.

Para mahasiswa menunjukkan antusiasme tinggi dalam perkuliahan ini. Diskusi mengenai relevansi superhero dalam kehidupan nyata menjadi bagian menarik yang membuat kelas semakin hidup. Para peserta aktif mengemukakan pendapat mereka tentang bagaimana karakter superhero mencerminkan isu-isu sosial yang sedang berkembang, termasuk gender, politik, dan keberagaman budaya.

Dengan adanya mata kuliah ini, diharapkan mahasiswa dapat memahami lebih dalam peran budaya populer dalam membentuk identitas dan nilai-nilai masyarakat, khususnya dalam konteks Amerika Serikat. Mata kuliah “Superheroes and Cultural Identity” menjadi langkah maju dalam pengkajian budaya modern dan memperkaya wawasan akademik para mahasiswa Magister Pengkajian Amerika.

[Humas Magister Pengkajian Amerika FIB UGM, Gilang Hardian]

ASOSIASI MAHASISWA DAN ALUMNI PENGKAJIAN AMERIKA (ASSAA) BERKOLABORASI DENGAN ASOSIASI PENGKAJIAN AMERIKA INDONESIA (ASSINDO) MENYELENGGARAKAN “SERIES LECTURE DAN MAKAN SIANG SYUKUR 2024″

Rilis BeritaSDGSSDGs 10: Berkurangnya kesenjanganSDGs 4: Pendidikan Berkualitas Senin, 30 Desember 2024

Dalam upaya signifikan untuk mempromosikan akses pendidikan dan keberagaman budaya, Asosiasi Mahasiswa dan Alumni Pengkajian Amerika (ASSAA) bekerja sama dengan Asosiasi Pengkajian Amerika Indonesia (ASSINDO) berhasil menyelenggarakan serangkaian acara bertajuk “Series Lecture dan Makan Siang Syukur 2024.” Acara ini diadakan secara daring melalui Zoom dan berfokus pada tema “Evolusi Identitas Amerika dalam Masyarakat Multikultural,” mencerminkan pentingnya pendidikan untuk keberlanjutan dan akses yang setara terhadap pengetahuan di negara-negara berkembang.

Dokumentasi Lecture Series

Series Lecture dimulai pada Rabu, 6 November 2024, dengan dua sesi yang menarik. Sesi pertama menampilkan Dr. Suzie Handajani, M.A., yang membahas “Asian Americans: Dari Media Utama ke Media Sosial.” Sesi ini menyoroti representasi orang Asia-Amerika dalam berbagai bentuk media, menekankan perlunya keberagaman budaya dalam narasi yang membentuk identitas Amerika.

Setelah presentasi Dr. Handajani, Tino Torres, mahasiswa pascasarjana dari City University of New York, menyampaikan materi tentang “Identitas Amerika Melalui Lensa Kota New York: Refleksi tentang Keberagaman dan Kontras Budaya.” Wawasannya memberikan perspektif unik tentang bagaimana Kota New York, sebagai tempat pertemuan berbagai budaya, memengaruhi pemahaman identitas Amerika.

Dokumentasi Lecture Series

Sesi kedua berlangsung pada Kamis pagi, 7 November 2024. Dr. Nur Saktiningrum, M.A., memimpin diskusi tentang “Menavigasi Keberagaman: Peran Interseksionalitas dalam Membentuk Identitas Amerika.” Sesi ini menekankan pentingnya mengenali berbagai identitas yang saling berinteraksi dalam memahami kompleksitas budaya Amerika.

Dokumentasi Lecture Series

Prof. Dr. H. Nuriadi, S.S., M.Hum., melanjutkan dengan eksplorasi menarik berjudul “Menjelajahi Penggunaan Kata Ganti Thou, Thee, Thy, atau Thine: Fakta dari Quaker Amerika.” Presentasinya membahas signifikansi historis dan budaya bahasa dalam membentuk identitas, semakin memperkaya diskusi tentang keberagaman budaya.

Peserta dalam Series Lecture ini berasal dari berbagai universitas di Indonesia, menunjukkan komitmen acara ini terhadap akses pendidikan yang setara dan menciptakan lingkungan belajar yang kolaboratif. Audiens yang beragam mencerminkan kekayaan budaya dan keterlibatan akademis yang ada dalam bidang Pengkajian Amerika.

Dokumentasi Movie Discussion

Pada sore hari Kamis, 7 November, acara ini mencapai puncaknya dengan Diskusi Film dan Makan Siang Syukur. Pertemuan ini dihadiri oleh tamu-tamu terhormat, termasuk anggota fakultas dari Fakultas Ilmu Budaya, mahasiswa pascasarjana Pengkajian Amerika, mahasiswa Sastra Inggris, dan perwakilan dari ASSINDO. Acara ini memberikan platform untuk menjalin jaringan dan berbagi pengalaman di antara para peserta.

Diskusi Film yang dipandu oleh Ahdi Sakha berlangsung dalam suasana hangat dan partisipasi yang antusias. Dr. Aris Munandar, M.Hum., membuka sesi dengan sambutan yang tulus, mengungkapkan rasa syukur atas kesempatan untuk berkumpul sebagai komunitas akademik dalam momen yang meriah ini.

Setelah diskusi, para peserta menikmati Makan Siang Syukur, yang menjadi kesempatan sempurna bagi peserta untuk saling bertegur sapa, berbagi pengalaman, dan mengenang masa-masa mereka di program Pengkajian Amerika. Pertemuan ini tidak hanya merayakan pencapaian akademis tetapi juga memperkuat ikatan komunitas dan pertukaran budaya.

Pelaksanaan yang sukses dari “Series Lecture dan Makan Siang Syukur 2024” mencerminkan komitmen ASSAA dan ASSINDO untuk mempromosikan akses pendidikan, keberagaman budaya, dan praktik berkelanjutan dalam bidang Pengkajian Amerika. Seiring dunia terus berkembang, inisiatif semacam ini memainkan peran penting dalam mendorong pemahaman dan penghargaan terhadap budaya yang beragam, terutama di negara-negara berkembang

[Humas FIB UGM, Sandya Kirani]

123

Rilis Berita

  • Mahasiswa Prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM Raih Juara I Kanji Cup ke-23 Tingkat Menengah
  • Kolaborasi Kenalkan Warisan Budaya Sumbu Filosofi Yogyakarta melalui Kegiatan Bercerita dan Pameran
  • Dua Mahasiswa Antropologi Fakultas Ilmu Budaya UGM Lolos PIMNAS 39
  • Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM Kolaborasi dalam Peluncuran Buku Puisi Sitor Situmorang
  • Puncak BERKAWANT 2026—Rangkaian Ospek Jurusan Antropologi Budaya untuk Mahasiswa Baru S1 

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju