Yogyakarta, 29 Oktober 2025 – Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang (BKJ), Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Konsep dan Ruang Lingkup Bahasa dan Sejarah Jepang” pukul 08.00–12.00 WIB, bertempat di Gedung Soegondo Lantai 7, Ruang 709. Kegiatan ini menghadirkan dua narasumber, yakni Dr. Mulyadi, M.A., dosen bidang kebahasaan Jepang di BKJ UGM sekaligus alumni Chiba University, serta Meta Sekar Pujiastuti, M.A., Ph.D., dosen Sastra Jepang Universitas Hasanuddin yang merupakan alumni Ohio University dan Keio University. Melalui latar akademik dan riset yang kuat, kedua narasumber menyampaikan paparan yang memperkaya pemahaman mahasiswa mengenai kajian bahasa dan sejarah Jepang.
Materi pertama disampaikan oleh Dr. Mulyadi, M.A. melalui paparan penelitian berjudul “Strategi Kesantunan dalam Diskursus Persuasif pada Siaran TV Belanja, QVC Jepang untuk Produk Fashion.” Pemaparan dibuka dengan analogi pasar tradisional Indonesia untuk menekankan pentingnya kenyamanan berbahasa dalam komunikasi. Dari hal tersebut, pembahasan diarahkan pada QVC Japan, salah satu saluran home shopping yang menjadi objek kajian. Berdasarkan data yang bersumber dari siaran QVC di YouTube, pemateri menunjukkan bagaimana strategi kebahasaan, mulai dari penggunaan partikel pragmatis (ne, yo), keigo, ajakan tidak langsung, hingga intonasi ekspresif, dipakai untuk membentuk wacana persuasif yang tetap menjaga kesantunan. Paparan ini memperlihatkan bahwa praktik pemasaran di Jepang menekankan keharmonisan (wa) sekaligus tetap mempertahankan efektivitas pesan.
Sesi berikutnya disampaikan oleh Meta Sekar Pujiastuti, M.A., Ph.D. melalui materi “Meninjau Ulang Sejarah Hubungan Indonesia–Jepang: Identitas Nusantara dalam Konteks Global.” Pembahasan menyoroti relasi Indonesia–Jepang yang telah berlangsung jauh sebelum periode 1942–1945. Berbagai temuan historis dipaparkan untuk menunjukkan jejak interaksi kedua wilayah, mulai dari kemunculan batik pada artefak ukiyo-e abad ke-17, aktivitas VOC di Dejima, hingga catatan perbudakan yang melibatkan masyarakat Bugis dan Batavia. Pemateri juga menampilkan materi visual serta temuan arkeologis terkait kehidupan kelompok Nusantara di Dejima, termasuk aktivitas dapur serta ciri busana seperti lurik dan udeng. Rangkaian contoh tersebut memperlihatkan kuatnya kontribusi budaya Nusantara dalam lintasan sejarah Jepang, meskipun kerap luput dari perhatian dalam narasi yang lebih dominan.
Kegiatan ini memberikan gambaran menyeluruh tentang hubungan antara bahasa dan sejarah sebagai fondasi penting dalam memahami Jepang, sekaligus membuka wawasan mahasiswa mengenai dinamika historis Indonesia–Jepang yang terus berkembang hingga masa kini. Pemahaman yang diperoleh dari kuliah umum ini diharapkan dapat memperkuat kemampuan analitis mahasiswa serta menumbuhkan proses belajar yang lebih berkualitas dan bermakna di lingkungan Prodi BKJ UGM.
Penulis: Barra Taura Nursaid






