• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Rilis Berita
  • (Page 2)
Arsip:

Rilis Berita

Tim HUB CHSS Indonesia dari Universitas Gadjah Mada Bawa Isu Bahasa Terancam Punah Indonesia–Pakistan ke Panggung Akademik Internasional

Rilis Berita Senin, 26 Oktober 2026

Lahore, Pakistan, September 2026 — Universitas Gadjah Mada (UGM) melalui tim HUB CHSS Indonesia berhasil membawa isu bahasa terancam punah di Indonesia dan Pakistan ke panggung akademik internasional. Isu ini diangkat dalam Project AAS: CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia Project) di LUMS, Pakistan. Keikutsertaan UGM dalam forum ini menegaskan komitmen universitas dalam memajukan humaniora dan ilmu sosial yang inklusif dan berkelanjutan.

CHSS 2026 merupakan forum akademik internasional yang mempertemukan akademisi dan perwakilan HUB dari berbagai negara di Asia. Forum ini menjadi ruang strategis untuk memperkuat kolaborasi lintas negara serta mendorong pengembangan kajian humaniora dan ilmu sosial yang mampu menjawab tantangan kontemporer, termasuk isu keberagaman budaya (cultural diversity) dan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability).

Universitas Gadjah Mada berpartisipasi melalui tiga perwakilan Fakultas Ilmu Budaya (FIB), yaitu Prof. Dr. Wening Udasmoro, Dr. Aprillia Firmonasari, dan Dr. Merry Andriani. Kehadiran ketiga akademisi ini menunjukkan peran aktif FIB UGM dalam jejaring akademik internasional di kawasan Asia.

Dalam rangkaian kegiatan tersebut, tim HUB CHSS Indonesia dari UGM menyelenggarakan sesi panel bertajuk “Endangered Languages in Indonesia and Pakistan: Ideas to Mitigate” pada Minggu, 27 September 2026. Panel ini menjadi salah satu sesi unggulan yang menarik perhatian banyak peserta konferensi.

Panel tersebut membahas kerentanan bahasa terancam punah di Indonesia dan Pakistan melalui tiga studi kasus, yaitu bahasa Enggano, Minangkabau, dan Wakhi. Ketiga bahasa ini dipilih karena masing-masing menghadapi tekanan serius terhadap keberlangsungan penutur aslinya, baik akibat perubahan sosial, migrasi, maupun dominasi bahasa-bahasa mayor.

Diskusi dalam panel ini juga menyoroti pentingnya pelestarian bahasa melalui keterlibatan komunitas dan dukungan kebijakan. Para pembicara menegaskan bahwa hilangnya sebuah bahasa bukan sekadar hilangnya alat komunikasi, melainkan juga hilangnya pengetahuan budaya yang terkandung di dalamnya—mulai dari kearifan lokal, tradisi lisan, hingga cara pandang masyarakat terhadap alam dan kehidupan.

Dari perspektif pembangunan berkelanjutan, isu ini beririsan erat dengan agenda pemberdayaan (empowerment) masyarakat penutur bahasa minoritas. Pelestarian bahasa memerlukan pemberdayaan komunitas lokal agar mereka memiliki kapasitas dan kesempatan setara untuk menjaga warisan bahasa dan budaya mereka sendiri.

Sesi panel ini merupakan hasil kolaborasi antara dua dosen FIB UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro dan Dr. Merry Andriani, bersama Dr. Aftab Nasir dari Lahore University of Management Sciences (LUMS). Kolaborasi lintas negara ini menjadi contoh nyata bagaimana pengembangan education for sustainability dapat diwujudkan melalui kemitraan akademik yang setara dan saling menguntungkan.

Kegiatan ini dihadiri oleh para pemerhati bahasa terancam punah dari berbagai negara di Asia Tenggara, Asia Selatan, Eropa, dan Australia. Kehadiran peserta dari berbagai kawasan memperlihatkan bahwa isu kepunahan bahasa merupakan persoalan global yang menuntut respons kolektif dan equal access terhadap sumber daya, riset, serta kebijakan pelestarian bahasa.

Tidak hanya dosen, sejumlah alumni UGM turut berpartisipasi dalam berbagai sesi panel CHSS 2026. Partisipasi alumni ini memperluas keterlibatan akademisi dan jejaring UGM dalam forum akademik internasional, sekaligus memperkuat posisi UGM sebagai salah satu pusat kajian humaniora dan budaya di kawasan.

Upaya pelestarian bahasa terancam punah sebagaimana dibahas dalam panel ini juga merupakan wujud nyata penghargaan terhadap keberagaman budaya (cultural diversity). Setiap bahasa yang bertahan hidup berarti satu khazanah identitas, pengetahuan, dan sejarah manusia yang tetap terjaga bagi generasi mendatang.

Ke depan, tim HUB CHSS Indonesia dari UGM berharap kolaborasi dengan LUMS dan mitra internasional lainnya dapat berlanjut ke dalam riset bersama, publikasi ilmiah, serta inisiatif pelestarian bahasa yang lebih konkret. Langkah ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata bagi komunitas penutur bahasa minoritas, baik di Indonesia maupun Pakistan.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

Tim HUB CHSS Indonesia Diwakili Kepemimpinan UGM, Berkontribusi dalam Dialog Sinema Asia Tenggara di Forum AAS 2026

Rilis Berita Senin, 26 Oktober 2026

Lahore, Pakistan — Jumat, 9 Oktober 2026 Partisipasi Universitas Gadjah Mada (UGM) sebagai pemimpin HUB Indonesia dalam proyek Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia (CHSS) 2026 terus berlanjut melalui keterlibatan akademisi UGM dalam forum internasional Association for Asian Studies (AAS) pada 25–27 September 2026. Keterlibatan ini menegaskan komitmen UGM dalam memperjuangkan kesetaraan (equality) dalam pertukaran akademik global dengan memastikan bahwa sarjana dari Asia Tenggara memiliki suara yang berarti dalam percakapan ilmiah internasional.

AAS merupakan organisasi akademik yang mendukung pengembangan kajian Asia dan mempertemukan akademisi, peneliti, serta pengajar dari berbagai disiplin ilmu. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Presiden Association for Asian Studies, Elora Shehabuddin, serta para pemimpin AAS, antara lain Krisna Uk, Hilary Finchum-Sung, dan Brandon Johnson. Kehadiran mereka mencerminkan pentingnya forum ini sebagai platform untuk mendorong dialog lintas kawasan dan memperkuat fondasi pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability) di seluruh Asia.

Dalam forum tersebut, Prof. Wening Udasmoro berpartisipasi sebagai pembahas (discussant) dalam sesi peluncuran buku Archipelagic Cinemas: Screening Southeast Asian Modernity karya Dag S. Yngvesson, Assistant Professor di Faculty of Arts, University of Nottingham Malaysia. Yngvesson merupakan akademisi sekaligus pembuat film dengan fokus kajian pada sinema Asia Tenggara, media, serta persoalan sejarah dan representasi budaya. Karyanya menjadi contoh bagaimana penyelidikan ilmiah dapat menjadi sarana pemberdayaan (empowerment), memberikan komunitas alat untuk menarasikan sejarah dan identitas budaya mereka sendiri.

Sesi bertajuk “Archipelagic Cinemas: Screening Southeast Asian Modernity” diselenggarakan dalam format Roundtable & Book Launch pada pukul 15.00–16.30 di Auditorium A-13/MCB, dengan melibatkan Dr. Furrukh Khan dan Tajwar Awan dari Lahore University of Management Sciences (LUMS), serta seorang akademisi dari Kamboja. Keragaman peserta menunjukkan komitmen bersama terhadap kesetaraan (equality) dalam produksi pengetahuan, memastikan bahwa perspektif dari seluruh Asia Tenggara dan Asia Selatan terwakili dalam wacana akademik global.

Diskusi tersebut berfokus pada perkembangan sinema di Indonesia, Filipina, Thailand, dan Malaysia serta hubungannya dengan modernitas dan dinamika sosial-budaya Asia Tenggara. Percakapan ini menyoroti bagaimana film berfungsi sebagai medium penting untuk melestarikan dan mewariskan warisan budaya (cultural heritage), memungkinkan masyarakat mendokumentasikan sejarah, tradisi, dan identitas mereka yang terus berkembang melalui penceritaan visual.

Keterlibatan Prof. Wening Udasmoro dalam forum tersebut memperluas kontribusi akademisi UGM dalam dialog ilmiah lintas negara, khususnya pada pengembangan kajian humaniora dan ilmu sosial. Partisipasinya mencerminkan upaya yang lebih luas untuk mempromosikan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability) dengan mengintegrasikan perspektif budaya dan sejarah ke dalam kurikulum akademik dan agenda penelitian yang menjawab tantangan jangka panjang yang dihadapi kawasan.

Partisipasi ini sejalan dengan tujuan proyek CHSS 2026 untuk memperkuat jejaring akademik internasional dan memperluas keterlibatan sarjana Asia dalam pertukaran pengetahuan global. Dengan memfasilitasi kolaborasi semacam itu, proyek ini secara aktif mendorong pemberdayaan (empowerment) di kalangan sarjana yang kurang terwakili, memberikan mereka platform untuk berbagi penelitian dan berkontribusi pada debat internasional tentang budaya, media, dan masyarakat.

Melalui kolaborasi tersebut, UGM turut mendorong pertukaran perspektif mengenai sinema, sejarah, dan kebudayaan Asia Tenggara sekaligus memperkuat kontribusi akademisi Indonesia dalam percakapan ilmiah internasional. Hal ini mencerminkan dedikasi terhadap pelestarian warisan budaya (cultural heritage), karena eksplorasi sinematik dan akademik terhadap masa lalu kawasan membantu memastikan bahwa generasi mendatang dapat mengakses dan menghargai kekayaan tradisi Asia Tenggara.

Keterlibatan akademisi UGM dalam forum seperti AAS juga memperkuat pentingnya kesetaraan (equality) dalam representasi akademik, khususnya bagi sarjana dari kawasan yang kurang terwakili. Dengan menciptakan ruang di mana beragam suara dapat didengar, proyek CHSS 2026 dan kepemimpinan UGM berkontribusi pada lanskap akademik global yang lebih inklusif dan setara.

Ke depan, kepemimpinan UGM yang berkelanjutan dalam HUB CHSS Indonesia diharapkan dapat mendorong kolaborasi yang lebih mendalam di antara para sarjana di seluruh Asia, mempromosikan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability), pemberdayaan (empowerment), dan pelestarian warisan budaya (cultural heritage) melalui penelitian interdisipliner dan dialog internasional. Keberhasilan partisipasi dalam forum AAS 2026 ini menjadi bukti potensi transformatif pertukaran akademik dalam membangun komunitas global yang lebih terhubung dan sadar budaya.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

Universitas Gadjah Mada Menjadi Pemimpin HUB Indonesia dalam Project AAS: CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholar of Asia Project) 2026 melalui Kolaborasi Akademik

Rilis Berita Senin, 26 Oktober 2026

Universitas Gadjah Mada Menjadi Pemimpin HUB Indonesia dalam Project AAS: CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia Project) 2026 melalui Kolaborasi Internasional

Sleman, 6 Oktober 2026 — Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi dipercaya menjadi pemimpin HUB Indonesia dalam Project AAS: CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia Project) 2026 melalui kolaborasi internasional. Kabar tersebut disampaikan di lingkungan Universitas Gadjah Mada, Selasa, 6 Oktober 2026, pukul 17.00 WIB. Penunjukan ini menegaskan posisi UGM sebagai salah satu poros pengembangan ilmu humaniora dan ilmu sosial di kawasan Asia.

CHSS 2026 merupakan forum akademik internasional yang diselenggarakan pada 23–27 September 2026 di Lahore University of Management Sciences (LUMS), Lahore, Pakistan. Forum tersebut mengumpulkan para akademisi, peneliti, dan pemimpin lembaga dari berbagai negara di Asia untuk merumuskan arah pengembangan kajian humaniora dan ilmu sosial yang lebih inklusif dan berorientasi pada masa depan.

Dalam kegiatan ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi melalui perwakilan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, yaitu Prof. Dr. Wening Udasmoro, Dr. Aprillia Firmonasari, dan Dr. Merry Andriani. Kehadiran ketiga akademisi tersebut menjadi bukti komitmen FIB UGM dalam mendukung penguatan kapasitas para sarjana, khususnya sarjana yang selama ini kurang terwakili (under-represented) dalam percakapan akademik global.

Acara tersebut dihadiri oleh Presiden AAS (Association for Asian Studies), Elora Shehabuddin, serta para pemimpin AAS, antara lain Krisna Uk, Hilary Finchum-Sung, dan Brandon Johnson. Kehadiran para pimpinan organisasi akademik dunia ini menunjukkan besarnya perhatian terhadap agenda equal access dan equal opportunities dalam dunia akademik internasional.

Turut hadir pula Eren Zink selaku Senior Research Advisor di SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency). Keterlibatan SIDA dalam forum ini menegaskan pentingnya dukungan kebijakan pembangunan yang mengedepankan education for sustainability di kawasan Global South, khususnya dalam memastikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat dinikmati secara merata oleh semua negara.

Peserta lainnya adalah para perwakilan HUB dari Indonesia yang dipimpin oleh Universitas Gadjah Mada, serta HUB dari Vietnam, Pakistan, India, Thailand, dan Timor-Leste. Kehadiran berbagai negara ini menjadikan CHSS 2026 sebagai panggung penting bagi perbincangan lintas negara mengenai masa depan ilmu humaniora dan sosial Asia.

Pertemuan ini membahas mengenai Theory of Change, yakni pendekatan yang digunakan untuk memaksimalkan outcome yang langsung akan berdampak bagi masyarakat dalam program-program CHSS. Melalui pendekatan tersebut, setiap kegiatan akademik dirancang agar tidak berhenti pada tataran diskursus, melainkan memberikan pemberdayaan (empowerment) yang nyata bagi komunitas ilmiah maupun masyarakat luas.

Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah pertukaran pengetahuan, pengembangan jejaring, serta kolaborasi akademik terkait berbagai isu Asia dan Global South, seperti migrasi, pendidikan, gender, tata kelola, perubahan iklim, kesehatan masyarakat, dan warisan budaya. Isu-isu tersebut berkaitan erat dengan agenda pembangunan berkelanjutan, termasuk jaminan akses yang setara terhadap pendidikan dan kesempatan yang sama bagi semua kalangan.

Secara khusus, isu gender menjadi salah satu perhatian utama forum ini, sejalan dengan semangat pemberdayaan perempuan (women’s empowerment) dalam ekosistem akademik. Para perempuan akademisi dari kawasan Asia dan Global South dipandang perlu mendapatkan ruang yang lebih besar untuk memimpin riset, menulis, dan berkontribusi dalam jaringan ilmiah internasional.

Partisipasi UGM dalam forum ini juga memperkuat kerja sama internasional dan membuka peluang kolaborasi penelitian lintas negara. Jejaring yang terbangun diharapkan dapat memperluas akses para peneliti muda dan sarjana dari kelompok kurang terwakili terhadap sumber daya akademik, pendanaan riset, dan publikasi global.

Sebagai tindak lanjut, UGM akan menjadi tuan rumah lokakarya internasional di Yogyakarta pada 19–23 Oktober 2026. Lokakarya ini merupakan kesinambungan dari komitmen UGM dalam memimpin HUB Indonesia serta memperkuat peran Indonesia dalam peta riset humaniora dan ilmu sosial Asia.

Selain itu, acara CHSS tersebut juga berlangsung bersamaan dengan pre-workshop yang terdiri dari dua panel. Panel pertama membahas isu migrasi, sedangkan panel kedua membahas isu gender yang dikaitkan dengan teori disjointness. Kedua panel ini menjadi ruang diskusi penting untuk memahami dinamika sosial yang kompleks di kawasan Asia dan Global South.

Dengan capaian ini, UGM berharap dapat terus mendorong tata kelola akademik yang lebih terbuka dan setara, serta memastikan bahwa ilmu humaniora dan sosial memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan berkelanjutan, pemerataan akses, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat lokal maupun global.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

Mahasiswa Prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM Raih Juara I Kanji Cup ke-23 Tingkat Menengah

Rilis Berita Kamis, 22 Oktober 2026

Mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), kembali menorehkan prestasi membanggakan dalam kompetisi bahasa Jepang. Tim mahasiswa Prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM berhasil meraih Juara I kategori Chuukyuu (tingkat menengah) dalam ajang Kanji Cup ke-23 yang diselenggarakan pada Sabtu, 10 Oktober 2026, bertempat di LP3M Universitas Negeri Surabaya (Unesa).

Kompetisi ini diselenggarakan oleh Konsulat Jenderal Jepang di Surabaya, IMC Center, dan The Japan Foundation, Jakarta. Kanji Cup merupakan ajang kompetisi yang menguji kemampuan peserta dalam penguasaan kanji, salah satu aspek penting dalam pembelajaran bahasa Jepang.

Tim FIB UGM yang berhasil meraih Juara I kategori Chuukyuu terdiri atas dua mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang, yaitu Muhammad Alimahdi dan Koeszahra Ganyo Saharasza. Keduanya menunjukkan kemampuan dan kerja sama tim yang baik dalam menghadapi berbagai tantangan terkait penguasaan huruf kanji pada tingkat menengah.

Keberhasilan tersebut menjadi salah satu bukti kemampuan mahasiswa Prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM dalam mengaplikasikan pengetahuan bahasa Jepang yang diperoleh selama perkuliahan. Selain menguji penguasaan kanji, kompetisi ini juga menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mengembangkan ketelitian, kecepatan berpikir, dan kemampuan bekerja sama dalam situasi kompetitif.

Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lainnya untuk terus meningkatkan kemampuan bahasa Jepang, baik melalui kegiatan akademik maupun partisipasi dalam berbagai kompetisi. Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM juga berharap agar capaian tersebut dapat menjadi dorongan untuk terus mengembangkan kualitas pembelajaran dan mendukung potensi mahasiswa dalam meraih prestasi di tingkat yang lebih luas.

 

Penulis: Prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang

Romzul Falah, Mahasiswa Magister Sastra UGM, Raih Anugerah Sutasoma 2026 melalui Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon

Rilis Berita Kamis, 22 Oktober 2026

Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur kembali menyelenggarakan Anugerah Sutasoma pada Rabu, 7 Oktober 2026, di Gedung M. Tabrani, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur. Memasuki penyelenggaraan ke-18, Anugerah Sutasoma menjadi salah satu bentuk apresiasi Balai Bahasa Jawa Timur terhadap para penggiat bahasa dan sastra, komunitas, guru, serta pihak-pihak yang berdedikasi dalam pengembangan, perlindungan, dan pembinaan bahasa dan sastra.

Pada penyelenggaraan tahun ini, Anugerah Sutasoma menghadirkan gelar wicara bertajuk “Membangun Ekosistem Sastra di Jawa Timur”, yang kemudian dilanjutkan dengan penganugerahan dalam tujuh kategori, yakni Kritik Sastra, Sastrawan, Guru Bahasa dan Sastra Daerah, Bahasa dan Sastra Indonesia, Komunitas Sastra, Karya Sastra Daerah, dan Karya Sastra Indonesia.

Salah satu penerima penghargaan tersebut adalah Romzul Falah, mahasiswa Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM), melalui kumpulan puisinya, Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon (dan Balada Orang-orang Batuputih). Romzul berhasil menyabet penghargaan Anugerah Sutasoma 2026–sebuah penghargaan prestisius dalam dunia kesusastraan dan literasi, khususnya di wilayah Jawa Timur–pada kategori Karya Sastra Indonesia. 

Setelah melalui rangkaian penjurian yang ketat oleh lima dewan juri yang dikepalai oleh Prof. Dr. Djoko Saryono, M.Pd., seorang Guru Besar bidang Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia di Fakultas Sastra Universitas Negeri Malang (UM), buku kumpulan puisi Romzul Falah yang dinobatkan sebagai Naskah Yang Menarik Perhatian Dewan Juri pada Sayembara Manuskrip Puisi yang diselenggarakan oleh Dewan Kesenian Jakarta tahun 2023, pada akhirnya menjadi karya yang disoroti menjadi pembaharu dalam jagat perpuisian Jawa Timur. 

Dalam laporan pertanggungjawaban juri Anugerah Sutasoma 2026, kumpulan puisi tersebut dinilai memiliki posisi yang khas dalam lanskap perpuisian kontemporer, khususnya di Jawa Timur. Di tengah kecenderungan perpuisian Jawa Timur yang belakangan banyak didominasi corak lirik, karya Romzul mengambil pijakan berbeda dengan menghadirkan puisi naratif untuk membangun kembali ingatan kolektif, mitos, dan tradisi lisan sebuah masyarakat.

Juri menilai kekuatan utama kumpulan puisi tersebut terletak pada keutuhan strukturnya dari awal hingga akhir. Semesta yang dibangun dinilai padu tanpa lonjakan yang terasa janggal dari satu puisi ke puisi lainnya. Karya tersebut juga memperlihatkan pergerakan tematis yang berayun dari hal-hal yang jauh, tinggi, dan ajaib menuju hal-hal yang biasa dan mendasar, hingga akhirnya kembali kepada tanah.

Atas penghargaan tersebut, Romzul mengungkapkan rasa senang sekaligus kesadaran akan tanggung jawab baru untuk terus berkarya.

“Pertama, tentu perasaan senang karena buku puisi saya, Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon, diberikan penghargaan oleh Balai Bahasa Jawa Timur. Tetapi di satu sisi, menjadi semacam beban moral karena penghargaan, bagi saya, ialah salah satu bahasa lain dari tanggung jawab, bagaimana pada akhirnya saya menulis puisi kembali,” ujar penyair kelahiran 2000 itu.

Romzul juga menyampaikan terima kasih kepada berbagai pihak yang terlibat dalam proses lahirnya buku tersebut. Ia menyebutnya sebagai “buku kami”, sebab proses penulisan hingga penerbitannya melibatkan banyak pihak, terutama rekan-rekannya di Penerbit Anagram, termasuk Doni Ahmadi dan editor Willy Fahmy Agiska. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada teman-temannya di komunitas Malatè Artspace, Kabupaten Sumenep, yang turut memberikan masukan selama proses penggarapan puisi.

Secara khusus, Romzul menyampaikan terima kasih kepada neneknya yang sejak kecil mengenalkannya pada berbagai mitos di kampung halaman. Cerita-cerita tersebut mendekatkannya dengan kehidupan masyarakat masa lalu dan kemudian menjadi salah satu sumber yang diolah ke dalam puisi. Kisah-kisah kehidupan masyarakat Batuputih juga turut menjadi bagian dari materi yang diolahnya dalam karya tersebut.

Penghargaan Anugerah Sutasoma 2026 menjadi apresiasi terhadap karya Balai Desa dan Hantu-Hantu Nippon (dan Balada Orang-orang Batuputih) sekaligus menunjukkan bagaimana puisi dapat menjadi ruang untuk mengolah ingatan kolektif, mitos, tradisi lisan, dan pengalaman masyarakat ke dalam bentuk sastra kontemporer. 

Bagi mahasiswa FIB UGM yang juga menulis Sebuah Kota Yang Menculik Kita sebagai buku puisi perdananya itu, penghargaan tersebut bukan menjadi sebuah titik akhir dari perjalanan kepengarangannya, melainkan bertransformasi menjadi sebuah tanggung jawab baru untuk terus menulis dan mengembangkan dunia perpuisian dalam ekosistem sastra Indonesia.

Kepala Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur, Dr. Puji Retno Hardiningtyas, dalam gelar wicara, mengatakan bahwa pemberian apresiasi Anugerah Sutasoma merupakan bagian dari peran Balai Bahasa dalam upaya pengembangan bahasa dan sastra.

“Balai Bahasa memiliki peran dalam perlindungan dan pemasyarakatan, khususnya dalam hal ini upaya pengembangan bahasa dan sastra. Salah satunya adalah memberikan apresiasi kepada komunitas, pegiat bahasa dan sastra, dan ini kami wujudkan sudah ke-18 kali melalui Anugerah Sutasoma,” ujar Retno.

Menurut pengamatan dan realitas di lapangan, dari 30 UPT Balai Bahasa yang ada, Balai Bahasa Provinsi Jawa Timur menjadi balai bahasa yang masih konsisten memberikan apresiasi kepada para pegiat bahasa dan sastra, komunitas, guru, serta berbagai pihak yang memiliki dedikasi terhadap perkembangan bahasa dan sastra.

Ia juga menilai bahwa karya-karya para sastrawan Jawa Timur memiliki peran yang krusial dalam memperkaya khazanah bahasa dan sastra Indonesia. Karya yang menggunakan bahasa Jawa, bahasa Madura, bahasa Jawa dialek Osing, maupun bahasa Indonesia, menurutnya, turut memperkaya kosakata sekaligus mengenalkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia yang berangkat dari keelokan kearifan lokal.

“Saya yakin, melalui karya-karya Bapak dan Ibu, baik itu berbahasa Jawa, berbahasa Madura, maupun berbahasa Jawa dialek Osing, juga berbahasa Indonesia; setidaknya menjadi tonggak penting untuk memperkaya kosakata, juga mengenalkan bahasa daerah dan bahasa Indonesia dengan kearifan lokal yang Ibu/Bapak atau sastrawan tulis,” kata perempuan yang pernah menjadi peneliti di Balai Bahasa Provinsi Bali itu.

Puji Retno juga menambahkan dalam wicaranya bahwa para sastrawan, pengarang, komunitas, guru, serta pegiat bahasa dan sastra di Jawa Timur memiliki kontribusi yang tidak kalah strategis dibandingkan para sastrawan dan karya sastra di tingkat nasional. Buah karya yang dilahirkan para penerima penghargaan Anugerah Sutasoma, dinilai menjadi sumbangsih dan memberikan dampak yang luas terhadap perkembangan sastra Indonesia.

“Ini juga menunjukkan bahwa sastrawan atau pengarang, komunitas, ibu/bapak guru, kemudian penggiat sastra, bahasa dan sastra ini di Jawa Timur, tidak kalah dengan sastrawan atau karya-karya di tingkat nasional. Karena karya-karya ibu/bapak yang telah dihasilkan—termasuk tujuh pemenang kategori yang akan diberikan melalui Anugerah Sutasoma hari ini—itu berdampak luas dan setidaknya memiliki peran penting terhadap perkembangan sastra Indonesia,” tutur Retno.

Penulis: Selvia Parwati Putri

1234…341

Rilis Berita

  • Mahasiswa Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea Raih Juara 2 dalam 2025 Yeungnam University KF Global e-School Korean Video Contest
  • Pertemuan PROPLI Bahas Penguatan Kelembagaan dan Sinkronisasi Kurikulum Pascasarjana Linguistik
  • FIB UGM Gelar Agenda Monitoring Mahasiswa Pertukaran di Nglanggeran, Perkuat Akademis dan Pengenalan Budaya
  • Para Peneliti dan Aktivis Muda dari Berbagai Negara ASEAN dan Wilayah Pascakonflik Indonesia Mengikuti Writing & Capacity Building Workshop di UGM-CHSS
  • UGM–CHSS Gelar Workshop Penguatan Kapasitas Akademik dan Penulisan Artikel Ilmiah untuk Isu Pascakonflik

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju