Universitas Gadjah Mada Menjadi Pemimpin HUB Indonesia dalam Project AAS: CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia Project) 2026 melalui Kolaborasi Internasional
Sleman, 6 Oktober 2026 — Universitas Gadjah Mada (UGM) resmi dipercaya menjadi pemimpin HUB Indonesia dalam Project AAS: CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia Project) 2026 melalui kolaborasi internasional. Kabar tersebut disampaikan di lingkungan Universitas Gadjah Mada, Selasa, 6 Oktober 2026, pukul 17.00 WIB. Penunjukan ini menegaskan posisi UGM sebagai salah satu poros pengembangan ilmu humaniora dan ilmu sosial di kawasan Asia.
CHSS 2026 merupakan forum akademik internasional yang diselenggarakan pada 23–27 September 2026 di Lahore University of Management Sciences (LUMS), Lahore, Pakistan. Forum tersebut mengumpulkan para akademisi, peneliti, dan pemimpin lembaga dari berbagai negara di Asia untuk merumuskan arah pengembangan kajian humaniora dan ilmu sosial yang lebih inklusif dan berorientasi pada masa depan.
Dalam kegiatan ini, Universitas Gadjah Mada (UGM) berpartisipasi melalui perwakilan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, yaitu Prof. Dr. Wening Udasmoro, Dr. Aprillia Firmonasari, dan Dr. Merry Andriani. Kehadiran ketiga akademisi tersebut menjadi bukti komitmen FIB UGM dalam mendukung penguatan kapasitas para sarjana, khususnya sarjana yang selama ini kurang terwakili (under-represented) dalam percakapan akademik global.
Acara tersebut dihadiri oleh Presiden AAS (Association for Asian Studies), Elora Shehabuddin, serta para pemimpin AAS, antara lain Krisna Uk, Hilary Finchum-Sung, dan Brandon Johnson. Kehadiran para pimpinan organisasi akademik dunia ini menunjukkan besarnya perhatian terhadap agenda equal access dan equal opportunities dalam dunia akademik internasional.
Turut hadir pula Eren Zink selaku Senior Research Advisor di SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency). Keterlibatan SIDA dalam forum ini menegaskan pentingnya dukungan kebijakan pembangunan yang mengedepankan education for sustainability di kawasan Global South, khususnya dalam memastikan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan dapat dinikmati secara merata oleh semua negara.
Peserta lainnya adalah para perwakilan HUB dari Indonesia yang dipimpin oleh Universitas Gadjah Mada, serta HUB dari Vietnam, Pakistan, India, Thailand, dan Timor-Leste. Kehadiran berbagai negara ini menjadikan CHSS 2026 sebagai panggung penting bagi perbincangan lintas negara mengenai masa depan ilmu humaniora dan sosial Asia.
Pertemuan ini membahas mengenai Theory of Change, yakni pendekatan yang digunakan untuk memaksimalkan outcome yang langsung akan berdampak bagi masyarakat dalam program-program CHSS. Melalui pendekatan tersebut, setiap kegiatan akademik dirancang agar tidak berhenti pada tataran diskursus, melainkan memberikan pemberdayaan (empowerment) yang nyata bagi komunitas ilmiah maupun masyarakat luas.
Kegiatan ini sekaligus menjadi wadah pertukaran pengetahuan, pengembangan jejaring, serta kolaborasi akademik terkait berbagai isu Asia dan Global South, seperti migrasi, pendidikan, gender, tata kelola, perubahan iklim, kesehatan masyarakat, dan warisan budaya. Isu-isu tersebut berkaitan erat dengan agenda pembangunan berkelanjutan, termasuk jaminan akses yang setara terhadap pendidikan dan kesempatan yang sama bagi semua kalangan.
Secara khusus, isu gender menjadi salah satu perhatian utama forum ini, sejalan dengan semangat pemberdayaan perempuan (women’s empowerment) dalam ekosistem akademik. Para perempuan akademisi dari kawasan Asia dan Global South dipandang perlu mendapatkan ruang yang lebih besar untuk memimpin riset, menulis, dan berkontribusi dalam jaringan ilmiah internasional.
Partisipasi UGM dalam forum ini juga memperkuat kerja sama internasional dan membuka peluang kolaborasi penelitian lintas negara. Jejaring yang terbangun diharapkan dapat memperluas akses para peneliti muda dan sarjana dari kelompok kurang terwakili terhadap sumber daya akademik, pendanaan riset, dan publikasi global.
Sebagai tindak lanjut, UGM akan menjadi tuan rumah lokakarya internasional di Yogyakarta pada 19–23 Oktober 2026. Lokakarya ini merupakan kesinambungan dari komitmen UGM dalam memimpin HUB Indonesia serta memperkuat peran Indonesia dalam peta riset humaniora dan ilmu sosial Asia.
Selain itu, acara CHSS tersebut juga berlangsung bersamaan dengan pre-workshop yang terdiri dari dua panel. Panel pertama membahas isu migrasi, sedangkan panel kedua membahas isu gender yang dikaitkan dengan teori disjointness. Kedua panel ini menjadi ruang diskusi penting untuk memahami dinamika sosial yang kompleks di kawasan Asia dan Global South.
Dengan capaian ini, UGM berharap dapat terus mendorong tata kelola akademik yang lebih terbuka dan setara, serta memastikan bahwa ilmu humaniora dan sosial memberikan kontribusi nyata bagi pendidikan berkelanjutan, pemerataan akses, dan pemberdayaan masyarakat di tingkat lokal maupun global.
Kontributor: Nada & Jusma, 2026

