• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang Tangguh
  • SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang Tangguh
  • hal. 4
Arsip:

SDGs 16: Perdamaian Keadilan dan Kelembagaan Yang Tangguh

Peringati Dies Natalis ke-80, FIB UGM Beri Penghargaan bagi Dosen dan Tenaga Kependidikan Berprestasi

HEADLINERilis Berita Jumat, 6 Maret 2026

Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada memberikan penghargaan kepada lima sivitas akademika berprestasi dalam rangkaian peringatan Dies Natalis ke-80 di ruang Auditorium Poerbatjaraka FIB UGM. Langkah ini menjadi bentuk apresiasi institusi atas dedikasi dan capaian para dosen maupun tenaga kependidikan dalam mengembangkan ilmu pengetahuan, pendidikan, serta memajukan masyarakat.

Pada kategori dosen berprestasi, FIB UGM memberikan penghargaan kepada Dr. Elan Ardri Lazuardi, S.Ant., M.A. dari Program Studi Antropologi Budaya. Elan memiliki keahlian khusus dalam antropologi kesehatan dan layanan kesehatan publik. Sepanjang kariernya, ia telah menerima berbagai pengakuan akademik bergengsi. Beberapa di antaranya meliputi penghargaan Artikel Ilmiah Berkualitas Tinggi Bidang Kesehatan dan Obat dari Kementerian Riset dan Teknologi pada 2020 serta Dean’s Award for Outstanding PhD Theses dari University of New South Wales pada tahun yang sama. Sebelumnya, ia memperoleh Early Career Research Award untuk kategori presentasi lisan terbaik dari Australian Society for HIV, Viral Hepatitis, and Sexual Health Medicine pada 2018.

Penerima penghargaan dosen berprestasi selanjutnya adalah Dr. Raden Rucitarahma Ristiawan, S.Par., M.Sc. dari Program Studi Pariwisata. Pakar pariwisata dan lanskap budaya ini meraih gelar doktor bidang Cultural Geography dari Wageningen University, Belanda, pada 2024. Disertasinya membahas komodifikasi lanskap dalam pengembangan pariwisata geopark di Indonesia. Rucitarahma secara konsisten meneliti praktik pariwisata berbasis masyarakat sejak menempuh pendidikan sarjana di UGM hingga program magister di University of Glasgow, Inggris, pada 2017.

Dosen ketiga yang menerima penghargaan serupa adalah Wildan Sena Utama, S.S., M.A., Ph.D. dari Program Studi Sejarah. Sejarawan ini berfokus pada hubungan internasional dan transnasional modern antara Indonesia dan dunia Afro-Asia pada abad ke-20. Wildan menamatkan pendidikan doktor di University of Bristol pada 2023. Disertasinya menyoroti peran tokoh Indonesia dalam gerakan Afro-Asia pada dekade 1950 hingga 1960-an untuk menunjukkan pentingnya solidaritas Selatan-Selatan dalam sejarah kemerdekaan nasional, gerakan antiimperialisme, dan upaya membangun tatanan dunia yang lebih dekolonial.

Dari jajaran tenaga kependidikan, FIB UGM mengapresiasi kinerja dua staf yang dinilai memberikan kontribusi besar bagi kelancaran operasional fakultas. Dyah Ayu Retnowati, A.Md. menerima penghargaan berprestasi pada bidang Akademik dan Kemahasiswaan. Sementara itu, Tri Iswanto meraih penghargaan pada bidang Umum atas dedikasi pentingnya dalam mendukung kelancaran layanan administrasi maupun kegiatan di lingkungan fakultas.

Pemberian apresiasi ini diharapkan mampu memacu motivasi seluruh sivitas akademika untuk terus berinovasi dan memberikan layanan terbaik pada masa mendatang. Langkah tersebut sejalan dengan komitmen institusi pendidikan tinggi untuk terus membangun ekosistem pembelajaran yang berkualitas, inklusif, dan berdaya tahan demi melahirkan sumber daya manusia yang mampu membawa dampak positif bagi kemajuan peradaban.

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

Dekan FIB UGM Tekankan Penguatan Kolaborasi dan Internasionalisasi pada Dies Natalis ke-80 FIB UGM

HEADLINERilis Berita Rabu, 4 Maret 2026

Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Setiadi, M.Si., menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas disiplin dan internasionalisasi dalam pengembangan ilmu humaniora. Hal tersebut disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-80 FIB UGM yang digelar pada 3 Maret 2026 di Auditorium Poerbatjaraka FIB UGM.

Dalam pidato laporan dekan, Prof. Setiadi menyampaikan bahwa usia 80 tahun menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang FIB UGM sekaligus pijakan untuk menatap masa depan. Dengan tema “Delapan Dekade Membangun Peradaban”, fakultas diharapkan terus memperkuat kontribusi keilmuan di tingkat nasional maupun internasional.

“Selama 80 tahun, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada telah mengalami banyak perubahan dan meraih capaian yang membanggakan sebagai pilar utama pengembangan ilmu-ilmu humaniora,” ujarnya.

Ia menjelaskan bahwa berbagai capaian yang diraih FIB UGM merupakan hasil kerja kolektif sivitas akademika yang dibangun di atas fondasi keilmuan para pendahulu. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari komitmen bersama dalam menjaga mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.

Dalam laporan tersebut, Prof. Setiadi memaparkan sejumlah indikator kinerja yang melampaui target universitas. Salah satunya adalah jumlah mahasiswa asing yang mencapai 150 orang, melebihi target 100 mahasiswa atau setara dengan 150 persen dari target yang ditetapkan. Pencapaian ini menunjukkan meningkatnya daya tarik FIB UGM di tingkat internasional.

Penguatan kolaborasi riset juga terlihat dari jumlah luaran penelitian multidisiplin yang mencapai 169 judul dari target 84 judul, atau sekitar 201 persen dari target. Capaian ini mencerminkan semakin berkembangnya budaya penelitian kolaboratif yang melibatkan berbagai bidang ilmu.

Selain itu, kegiatan tridharma juga tercermin dalam tingginya publikasi kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan. Sepanjang 2025, FIB UGM mencatat 2.378 pemberitaan kegiatan, melampaui target 1.155 pemberitaan.

Dalam bidang pendidikan, FIB UGM terus meningkatkan kualitas program studi. Dari 21 program studi, sebanyak 20 program studi telah memperoleh akreditasi Unggul dari BAN-PT, sementara Magister Pengkajian Amerika meraih akreditasi Unggul dari LAMSPAK.

Sejumlah program studi juga telah mendapatkan pengakuan dari lembaga akreditasi internasional, seperti ACQUIN, AUN-QA, dan FIBAA. Pengakuan ini memperkuat posisi FIB UGM dalam peta pendidikan humaniora global.

Capaian akademik tersebut juga tercermin dalam pemeringkatan internasional. Program studi Antropologi, Arkeologi, dan Sastra Inggris menempati peringkat pertama nasional dalam QS World University Rankings by Subject dengan posisi global pada rentang 101–170 dan 151–200. Selain itu, lembaga pemeringkat EduRank menempatkan bidang sastra FIB UGM sebagai peringkat pertama di Indonesia dari 68 institusi penyelenggara pendidikan sastra.

Prof. Setiadi juga menyoroti perkembangan jumlah mahasiswa dan peningkatan capaian akademik. Saat ini FIB UGM memiliki 4.346 mahasiswa aktif, terdiri dari 3.448 mahasiswa sarjana, 672 mahasiswa magister, dan 226 mahasiswa doktor. Data akademik menunjukkan peningkatan kualitas studi dengan IPK rata-rata sarjana meningkat dari 3,62 menjadi 3,67, serta masa studi menurun dari 4,42 tahun menjadi 4,28 tahun.

Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyampaikan apresiasi kepada dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa atas kontribusi mereka dalam berbagai prestasi akademik. Dalam empat tahun terakhir, mahasiswa FIB UGM tercatat meraih 23 prestasi internasional, 224 prestasi nasional, dan 48 prestasi regional.

Menutup laporan tersebut, Prof. Setiadi menegaskan pentingnya menjaga nilai integritas, kebersamaan, dan budaya akademik dalam membangun masa depan fakultas.

“Di dunia akademik yang menjunjung kejujuran, kesetaraan, dan integritas, kita perlu terus mengembangkan pola asah, asih, dan asuh serta memperkuat sinergi sebagai keluarga besar FIB UGM,” ungkapnya.

Memasuki usia delapan dekade, FIB UGM diharapkan terus menjadi ruang yang kondusif bagi pengembangan ilmu humaniora serta berkontribusi dalam membangun peradaban melalui pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Upaya ini sekaligus mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam mendorong kemajuan pengetahuan, memperluas kolaborasi global, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas.

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

Prof. Setiadi Bahas Refleksi Kemanusiaan dan Keadilan atas Isu Pengungsi dalam Kajian Masjid Mardliyah

Rilis Berita Jumat, 27 Februari 2026

Yogyakarta, 25 Februari 2026 – Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada, Prof. Setiadi, S.Sos., M.Si., menjadi narasumber dalam Kajian Masjid Mardliyah UGM yang mengangkat tema “Refleksi Kemanusiaan dan Keadilan atas Isu Pengungsi“. Kajian ini mengajak jamaah untuk melihat fenomena pengungsian secara lebih mendalam, tidak hanya dari aspek kebijakan, tetapi juga dari perspektif kemanusiaan dan keadilan sosial.

Dalam pemaparannya, Prof. Setiadi menekankan bahwa fenomena migrasi terpaksa tidak dapat dilepaskan dari struktur sosial dan relasi kekuasaan yang kerap melahirkan marginalisasi. Ia menyoroti bahwa ketika isu pengungsian mencuat, diskusi publik sering kali bergeser pada perdebatan mengenai siapa yang berwenang menangani, alih-alih berfokus pada substansi penyelesaian dan perlindungan terhadap para pengungsi itu sendiri.

Menurutnya, pengungsi adalah individu yang sedang berupaya membangun kembali sejarah kehidupannya setelah terputus dari pekerjaan, pendidikan, cita-cita, dan komunitas asal. Perpindahan secara terpaksa dapat terjadi dalam berbagai skala, baik mikro maupun makro, akibat konflik, diskriminasi, tekanan politik, maupun bencana alam. Dalam konteks tersebut, kondisi “mengungsi” pada dasarnya merupakan upaya menyelamatkan diri demi keberlangsungan hidup.

Secara konseptual, istilah pengungsi dalam ranah internasional merujuk pada definisi yang dirumuskan oleh United Nations High Commissioner for Refugees (UNHCR), yaitu seseorang yang berada di luar negara kewarganegaraannya karena ketakutan yang beralasan akan persekusi atas dasar ras, agama, kebangsaan, keanggotaan kelompok sosial tertentu, atau opini politik, serta tidak mampu atau tidak bersedia kembali ke negaranya. Definisi ini juga mencakup individu yang terpaksa meninggalkan tempat tinggal akibat agresi eksternal, pendudukan, dominasi asing, atau peristiwa yang sangat mengganggu ketertiban umum. Selain itu, terdapat pula pengungsi dalam negeri yang berpindah tempat tinggal tetapi masih berada dalam wilayah negaranya sendiri.

Lebih lanjut, Prof. Setiadi mengajak peserta kajian untuk melihat isu pengungsi sebagai bagian dari dinamika sejarah kehidupan manusia. Para pengungsi bukan sekadar angka statistik, melainkan subjek yang memiliki mimpi, harapan, dan hak untuk membangun masa depan yang lebih baik. Tantangan terbesar bukan hanya persoalan administratif, tetapi juga hambatan sosial seperti stigma, diskriminasi, serta keterbatasan akses terhadap pendidikan dan pekerjaan.

Kajian ini juga menegaskan keterkaitan isu pengungsi dengan agenda Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs). Upaya menghadirkan perlindungan dan keadilan bagi pengungsi sejalan dengan komitmen global untuk mengurangi ketimpangan (SDG 10) dan memperkuat perdamaian, keadilan, serta kelembagaan yang tangguh (SDG 16). Pemenuhan hak atas pendidikan dan penghidupan yang layak bagi pengungsi juga berkaitan erat dengan tujuan pengentasan kemiskinan (SDG 1) dan pendidikan berkualitas (SDG 4), sementara kolaborasi lintas negara dan lembaga mencerminkan pentingnya kemitraan global (SDG 17).

Melalui kajian ini, Dekan FIB UGM menegaskan bahwa refleksi atas isu pengungsi adalah panggilan moral untuk membangun masyarakat yang lebih adil dan berempati, serta menempatkan kemanusiaan sebagai fondasi utama dalam setiap kebijakan dan tindakan sosial.

[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]

FIB UGM Jadi Tuan Rumah Workshop Oral History Asia Tenggara, Perkuat Sejarah dari Perspektif Akar Rumput

Rilis Berita Jumat, 20 Februari 2026

FIB UGM menjadi tuan rumah Workshop Oral History in Southeast Asia yang diselenggarakan oleh SEASREP Foundation bekerja sama dengan Sejarah Lisan pada 9–11 Februari 2026 di Ruang Multimedia FIB UGM. Kegiatan ini ditujukan bagi mahasiswa pascasarjana dan peneliti awal karier di Asia Tenggara untuk memperkuat kapasitas metodologis, etis, dan konseptual dalam penelitian sejarah lisan, di tengah tantangan produksi sejarah yang kerap dipengaruhi kepentingan politik dan keterbatasan arsip.

Workshop ini digelar sebagai respons atas meningkatnya kebutuhan penggalian kisah hidup, kesaksian, dan narasi lapangan yang sering tidak tercatat dalam dokumen resmi. Di berbagai negara Asia Tenggara, kekerasan negara, pembungkaman arsip dan media, serta revisi narasi sejarah telah membentuk cara sejarah diproduksi dan disebarluaskan.

Dalam beberapa tahun terakhir, kawasan ini menyaksikan upaya peninjauan ulang peristiwa kekerasan di Indonesia, menguatnya tafsir etno-nasionalis di Malaysia, dominasi narasi kepahlawanan tunggal di Singapura, hingga konflik situs warisan di perbatasan Thailand dan Kamboja. Situasi tersebut menempatkan suara kelompok yang terpinggirkan dalam posisi rentan untuk hilang dari ingatan kolektif.

Sejarah lisan dan sejarah sosial hadir sebagai pendekatan untuk mengisi kekosongan tersebut. Namun, praktiknya tidak lepas dari tantangan metodologis dan etis, terutama ketika penelitian menyentuh isu yang sensitif secara politik dan hukum, trauma, serta akses informasi yang tidak merata.

Workshop ini dirancang untuk menjawab kesenjangan pelatihan formal sejarah lisan di kawasan. Banyak peneliti muda mempelajari metode ini melalui praktik langsung tanpa pembekalan sistematis mengenai desain wawancara, interpretasi, etika, preservasi, dan pelibatan publik. Melalui pelatihan berbasis konteks Asia Tenggara, peserta diajak memahami sejarah lisan bukan sekadar perangkat teknis, tetapi juga sebagai konsep dan praktik kritis dalam membaca ulang produksi sejarah.

Kegiatan berlangsung selama tiga hari dengan pendekatan bertahap. Hari pertama membahas nilai dan metodologi sejarah lisan, termasuk penyusunan panduan wawancara dan persiapan menghadapi tantangan kerja lapangan. Hari kedua berfokus pada interpretasi, transkripsi, preservasi, dan publikasi, disertai panel diskusi serta sesi pertunjukan sejarah lisan untuk mengeksplorasi bentuk narasi alternatif. Hari ketiga menyoroti presentasi riset peserta dan pembahasan isu etika, relasi kuasa, serta tanggung jawab peneliti dalam lingkungan sosial politik yang kompleks.

Peserta yang mengikuti workshop diharapkan telah memiliki atau sedang merancang proyek penelitian berbasis wawancara sejarah lisan. Tidak ada batasan disiplin ilmu, namun peserta diminta aktif berbagi pengalaman dan terlibat dalam diskusi kolektif.

Melalui kombinasi kuliah, panel, lokakarya, pertunjukan, dan presentasi mahasiswa, penyelenggara menekankan pentingnya partisipasi aktif serta pembangunan komunitas. Workshop ini bertujuan membentuk jejaring peneliti sejarah lisan di Asia Tenggara dan Jepang yang berkomitmen pada kolaborasi dan praktik riset yang tidak eksploitatif.

Pada akhir kegiatan, peserta diharapkan memahami seluruh tahapan penelitian sejarah lisan beserta potensi tantangannya, mampu merancang wawancara yang peka konteks dan berlandaskan kesadaran etis, serta memiliki pemahaman yang lebih dalam tentang relasi kuasa dan posisi diri dalam penelitian lapangan. Mereka juga didorong melihat sejarah lisan sebagai sarana kritik terhadap narasi negara yang dominan dan sebagai medium perluasan representasi sejarah.

Kehadiran workshop ini menegaskan pentingnya penguatan kapasitas akademik yang berpihak pada keberagaman suara dan tanggung jawab sosial. Upaya membangun komunitas peneliti yang kolaboratif dan reflektif menjadi langkah strategis untuk memastikan bahwa sejarah tidak hanya ditulis oleh kekuasaan, tetapi juga oleh mereka yang selama ini berada di pinggiran narasi.

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

Malam Inisiasi Mahasiswa Baru Magister Sastra UGM Tegaskan Lima Pilar dan Integritas Akademik

Rilis Berita Kamis, 19 Februari 2026

Program Studi Magister Sastra FIB UGM menyelenggarakan Malam Inisiasi Mahasiswa Baru Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026 di Pondok As-Salam Kalimasada, Kabupaten Sleman, Yogyakarta, pada Sabtu–Minggu, 14–15 Februari 2026. Kegiatan bertema “Sastra Kita Satu Keluarga” ini menjadi momentum awal pembentukan identitas akademik mahasiswa magister.

Rangkaian acara inti dibuka pada Sabtu pukul 19.30 WIB dengan menghadirkan Ketua Program Studi Magister Sastra FIB UGM, Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum. Dalam sambutannya, ia menegaskan bahwa pada jenjang magister mahasiswa dituntut memiliki kedewasaan akademik yang lebih tinggi.

“Mahasiswa magister tidak cukup hanya menguasai materi perkuliahan. Mereka juga harus memahami seluk-beluk sejarah dan filosofi UGM sebagai landasan pembentukan sikap serta etika akademik,” ujarnya.

Aprinus juga menyoroti pentingnya membangun kultur akademik yang kolaboratif. Ia menekankan bahwa tradisi diskusi yang terbuka, disertai sikap saling mendukung antarangkatan, merupakan prasyarat lahirnya komunitas ilmiah yang sehat, produktif, dan berkelanjutan.

Kegiatan tersebut turut menghadirkan sesi berbagi pengalaman bersama mahasiswa senior, yakni Khotibul Umam, Marsya Kamila, dan Kharisma Qurrota A’yun. Dalam sesi tersebut, para senior membagikan pengalaman mengenai manajemen waktu, dinamika perkuliahan, hingga strategi penyusunan proposal penelitian sebagai bekal awal menjalani studi magister.

Materi utama disampaikan oleh Guru Besar Filsafat UGM, Prof. Drs. M. Mukhtasar Syamsuddin, M.Hum., Ph.D., yang mengulas Lima Pilar UGM sebagai landasan filosofis universitas. Ia menjelaskan bahwa UGM berpijak pada lima prinsip utama, yakni sebagai Universitas Nasional, Universitas Perjuangan, Universitas Pancasila, Universitas Kerakyatan, dan Universitas Pusat Kebudayaan. Pilar-pilar tersebut menjadi arah pengembangan institusi sekaligus pedoman etik bagi seluruh sivitas akademika.

“UGM bukan hanya institusi pendidikan, tetapi ruang pembentukan karakter bangsa. Karena itu, nilai-nilai dasarnya harus hidup dalam perilaku sehari-hari mahasiswa,” tuturnya.

Dalam sesi diskusi, Mukhtasar Syamsuddin juga menekankan pentingnya keterbukaan lintas disiplin, khususnya bagi mahasiswa sastra. Menurutnya, kompleksitas persoalan sosial dan kebudayaan menuntut dialog antardisiplin, sehingga mahasiswa tidak boleh membangun sekat kaku antara sastra, filsafat, dan bidang ilmu lainnya. Perspektif tersebut dinilai relevan dengan karakter studi sastra yang reflektif dan humanistik.

Rangkaian acara inti berlangsung hingga pukul 21.30 WIB dan ditutup dengan penampilan mahasiswa angkatan Genap 2025/2026 berupa pembacaan puisi dan pertunjukan musik yang mempererat solidaritas antaranggota angkatan. Usai kegiatan malam, peserta beristirahat dan melanjutkan agenda pada hari berikutnya.

Memasuki hari kedua, Minggu (15/2), kegiatan diawali dengan salat subuh berjemaah, dilanjutkan jalan santai dan permainan kelompok yang dirancang untuk memperkuat kebersamaan. Acara kemudian ditutup dengan penyampaian harapan serta sesi foto bersama sebelum peserta kembali ke kediaman masing-masing.

Melalui malam inisiasi ini, Program Studi Magister Sastra FIB UGM menunjukkan komitmennya bahwa pendidikan pascasarjana tidak hanya berorientasi pada capaian akademik, tetapi juga pada pembentukan integritas, kesadaran lintas disiplin, dan tanggung jawab moral dalam menjaga nilai-nilai dasar universitas. Kegiatan ini menjadi langkah awal perjalanan intelektual 33 mahasiswa baru dalam mengembangkan studi sastra yang kritis, reflektif, dan berkontribusi bagi masyarakat.

[Magister Sastra, Rini Febriani Hauri]

123456…40

Rilis Berita

  • Dikukuhkan Jadi Guru Besar UGM, Prof. Mutiah Amini Soroti Realitas Ruang Sosial Perkotaan
  • Call for Papers: Decolonizing Anthropology Beyond the Neoliberal University
  • Prof. Pujiharto Menyinggung Metode Dekontruksi Dalam Membaca Karya Sastra
  • Update Koleksi Buku Baru Perpustakaan FIB UGM
  • Pembelajaran Praktis Lapangan di Candi Ijo sebagai Metode Pembelajaran Arkeologi Lingkungan

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju