• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab
Arsip:

SDGs 12: Konsumsi dan produksi yang bertanggung jawab

Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

Rilis Berita Senin, 3 Agustus 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah dalam pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, maupun budaya Jawa. Salah satunya ialah Aji Setyowijaya, alumni angkatan 2008 yang kini menekuni dunia batik sebagai pengrajin batik khas Yogyakarta.

Tim Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berkesempatan mengunjungi sekaligus mewawancarai Aji Setyowijaya, selanjutnya ditulis sebagai Mas Aji, secara langsung pada Selasa, 21 Juli 2026. Alumni angkatan 2008 yang juga merupakan penerima beasiswa Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) atau Yayasan Keluarga Hasyim Djojohadikusumo (YKHD) tersebut menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap batik bermula dari kekagumannya pada kain-kain batik peninggalan. Ia mengaku sering menjumpai kain batik lama yang memiliki kualitas dan keindahan tinggi, tetapi kondisinya sudah rapuh sehingga tidak lagi layak digunakan. “Saya dulu senang ketika melihat kain batik peninggalan. Kainnya bagus dan ingin dipakai, tetapi sudah rawan. Akhirnya, saya termotivasi untuk mencoba mereproduksi kain batik yang sudah tua. Hal itu ditambah dengan waktu berkuliah saya sedang senang menggunakan rasukan atau pakaian Jawa,” ungkapnya.

Ketertarikan tersebut mendorongnya mulai belajar membatik pada 2009. Dirinya mempelajari berbagai teknik membatik dengan mengamati dan belajar secara langsung di sejumlah sentra batik di Yogyakarta. Pada masa awal tersebut, Mas Aji memfokuskan diri untuk memahami pakem dan teknik batik tradisi Yogyakarta sebagai fondasi utama sebelum mengembangkan karyanya sendiri.

Berbekal pemahaman tersebut, pada sekitar 2013 hingga 2015, Mas Aji mulai memproduksi batik antik, yang juga dikenal sebagai batik kama atau batik lawasan. Menurutnya, pada masa itu masyarakat maupun kolektor memberikan apresiasi yang tinggi terhadap batik lawasan karena dianggap berasal dari puluhan tahun silam. “Pada tahun tersebut, dalam perdagangan, orang lebih mengapresiasi batik antik atau kama atau lawasan dengan asumsi batik itu dari 50–70 tahun yang lalu,” jelasnya.

Namun, pengalaman tersebut justru memunculkan kegelisahan dalam dirinya. Menurut Mas Aji, batik tidak semestinya hanya dipandang sebagai karya klasik yang berhenti pada proses reproduksi masa lalu. Batik juga perlu terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya. Berangkat dari pemikiran tersebut, ia mulai menghadirkan identitas pribadinya dalam setiap karya yang dibuat serta memperluas eksplorasi di luar gaya batik khas Yogyakarta.

Sejalan dengan semangat tersebut, sejak 2018 Mas Aji mulai mendalami teknik pewarna alami (natural dye) untuk batik pakem tradisi Yogyakarta. Baginya, mempelajari pewarna alami bukan sekadar menghasilkan ragam warna yang berbeda, melainkan juga menjadi bagian dari upaya memahami kembali pengetahuan teknis yang telah diwariskan oleh para pembatik terdahulu.

Dalam proses berkarya, Mas Aji tidak bekerja seorang diri. Ia berkolaborasi dengan rekannya, Yahya Adi Sutikno, yang berfokus pada proses perancangan desain, sementara Mas Aji lebih banyak menangani proses produksi. Kolaborasi tersebut memungkinkan keduanya menghasilkan berbagai karya batik dengan pendekatan yang saling melengkapi.

Berbagai karya batik telah dihasilkan, mulai dari sample pieces ragam motif batik dalam satu kain yang terdiri atas 27, 260, hingga 480 contoh motif, karya-karya batik replikasi, batik lawasan, hingga batik hasil transformasi, alih media, dan berbagai bentuk batik kreasi. Tidak hanya pada kain batik, eksplorasi tersebut juga diterapkan pada berbagai media tekstil lain, seperti sarung dan media kain lainnya.

Selain berkecimpung dalam pembuatan kain batik, Mas Aji juga aktif dalam Perkumpulan Wastra Indonesia, sebuah komunitas yang menghimpun para pegiat dan pencinta wastra Nusantara. Dedikasinya terhadap batik juga diwujudkan melalui kontribusinya dalam buku Pesona Padu Padan Wastra Indonesia sebagai kontributor busana yang menampilkan penggunaan batik tradisi Yogyakarta.

Di balik seluruh proses kreatif tersebut, Mas Aji menilai bahwa salah satu aspek yang perlu terus dijaga dalam dunia batik adalah pengetahuan teknis. Menurutnya, pembahasan mengenai batik selama ini lebih banyak berfokus pada makna filosofis, simbol, dan nilai budaya, sementara pengetahuan mengenai teknik membatik justru berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan dan diwariskan. “Menurut saya, ranah tersebut (filosofi) tidak mudah hilang karena literaturnya sudah banyak. Tetapi, kalau soal teknis, itu bisa hilang. Misalnya, motif parang itu mau dibuat dari mana, arahnya dari mana. Ada cara dan metodenya.” Bagi Mas Aji, menjaga pengetahuan teknis sama pentingnya dengan menjaga nilai filosofis batik karena keduanya merupakan satu kesatuan yang membentuk tradisi membatik.

Menjelang akhir wawancara, Mas Aji juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa agar tidak takut mencoba berbagai peluang di luar ruang kelas. “Masalah besar dikecilkan, dan masalah kecil diabaikan. Jangan ragu atau takut untuk mencoba dan bereksplorasi. Jangan juga menutup wawasan hanya pada perkuliahan saja.”

Perjalanan Mas Aji Setyowijaya menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai bahasa, sastra, dan budaya Jawa tidak hanya berhenti pada ranah akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui praktik pelestarian budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui dedikasinya dalam mempelajari teknik membatik, mereproduksi batik tradisi, mengembangkan inovasi berbasis pakem, serta terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam dunia wastra, Mas Aji membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Bagi para mahadaya yang ingin mengenal lebih dekat karya maupun aktivitas Mas Aji, dapat mengunjungi akun Instagram @setyowijaya dan Facebook Batik Setyowijaya. Melalui kedua media sosial tersebut, Mas Aji membagikan berbagai proses kreatif, hasil karya, serta aktivitasnya dalam melestarikan dan mengembangkan seni batik.

 

Penulis : Haryo Untoro

FIB UGM Bekali Tenaga Kependidikan dengan Pelatihan Timbangan IoT 

Rilis Berita Jumat, 17 Juli 2026

Yogyakarta, 17 Juli 2026 — Pada hari Jumat, 17 Juli 2026, Fakultas Ilmu Budaya UGM Menggelar sosialisasi timbangan IoT dalam rangka program UGM Sustainability Campus Action Tahun 2026. Program ini dilakukan di Ruang Multimedia gedung Margono dengan mendatangkan Dr. Ir. Thomas Oka Pratama, S.T., M.Eng.,IPP dari Laboratorium Sensor dan Sistem Terkontrol UGM. Adapun sosialisasi ini digelar sebagai pelatihan bagi staf tendik (tenaga kependidikan) untuk mengelola sampah fakultas menggunakan timbangan IoT. 

Timbangan IoT merupakan alat pengukur berat timbulan limbah di titik pengumpulan (pick-up point) secara real-time, dengan integrasi sistem Internet of Things (IoT). Data berat digunakan untuk pemantauan, evaluasi, dan perencanaan kebijakan pengelolaan limbah secara digital. Dalam sosialisasi ini, disampaikan cara penggunaan timbangan IoT untuk mengelola timbulan sampah. Staf tendik FIB juga diminta untuk mempraktikkan penggunaan timbangan IoT.  

Melalui penerapan timbangan IoT, FIB UGM berupaya memperkuat sistem pengelolaan sampah yang lebih akurat, terukur, dan berbasis data. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas tendik dalam mendukung pengelolaan limbah yang berkelanjutan sekaligus menjadi bagian dari komitmen UGM Sustainability Campus Action 2026. Inisiatif tersebut sejalan dengan upaya pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya SDGs poin 12: Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab, serta turut mendukung SDGs poin 11: Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan dan SDGs poin 13: Penanganan Perubahan Iklim.

[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]

Membaca Relasi Timbal Balik Manusia dan Alam pada Budidaya Buah Naga di Desa Wringinputih, Banyuwangi

Rilis Berita Selasa, 30 Juni 2026

Suasana malam hari di Desa Wisata Wringinputih, Kecamatan Muncar, Kabupaten Banyuwangi terlihat berbeda dibandingkan pedesaan pada umumnya karena hamparan ladang yang terang benderang oleh ribuan lampu gantung. Fenomena unik ini disaksikan langsung oleh Tim KKN-PPM UGM Muncar Memancar 2026 yang ikut serta dalam kegiatan budidaya buah naga bersama petani setempat pada tanggal 26 Juni 2026. Melalui keterlibatan langsung di lapangan, para mahasiswa berkesempatan mempelajari sistem pengetahuan lokal serta adaptasi kebudayaan yang diterapkan masyarakat dalam mengoptimalkan hasil pertanian mereka.

Aktivitas intensif di ladang pada malam hari tersebut terjadi karena bunga buah naga memiliki sifat mekar penuh hanya pada malam hari dan akan kembali layu keesokan paginya. Karena minimnya keberadaan agen penyerbuk alami di perkebunan pada jam-jam tersebut, petani setempat mengambil alih peran tersebut dengan melakukan penyerbukan buatan secara manual yang sering disebut warga lokal dengan istilah “mengawinkan” bunga. Selain penyerbukan manual, pemasangan instalasi lampu gantung di sela-sela tanaman juga berfungsi memberikan pencahayaan buatan agar tanaman mendapatkan stimulasi paparan cahaya yang lebih lama, sehingga merangsang pohon buah naga untuk tetap berbunga dan berproduksi di luar musim.

Selain teknik penyerbukan dan manipulasi cahaya, para mahasiswa juga mendapatkan pengetahuan baru mengenai siasat petani dalam menghadapi kendala cuaca buruk. Saat hujan turun di malam hari bersamaan dengan waktu mekar bunga, petani secara cekatan akan mematahkan sebagian serat tangkai bunga hingga posisinya menunduk ke bawah tanpa membuatnya terlepas dari pohon. Langkah taktis ini sengaja dilakukan agar bagian atas mahkota bunga dapat berfungsi sebagai payung alami yang melindungi serbuk sari sensitif dari terpaan air hujan, sehingga proses pembuahan tidak gagal akibat pembusukan.

Praktik budidaya di Desa Wringinputih ini pada akhirnya membentuk sebuah agroekosistem pertanian terpadu yang sirkular dan berkelanjutan. Sebagai pengganti tiang beton, petani memanfaatkan pohon kapuk randu hidup sebagai tiang penopang sekaligus peneduh agar batang buah naga tidak rusak terpapar matahari ekstrem. Ketika dedaunan pohon randu tumbuh terlalu lebat, petani akan memangkasnya untuk dimanfaatkan sebagai pakan ternak sapi atau kambing, yang kemudian kotoran dari hewan ternak tersebut diolah kembali melalui fermentasi menjadi pupuk kandang organik untuk menyuburkan kembali tanaman buah naga dan pohon randu.

Interaksi yang erat antara aktivitas manusia, pemanfaatan teknologi, dan pengelolaan lingkungan ini menarik perhatian dari sudut pandang ilmu sosial dan kebudayaan. Adinda, salah satu mahasiswa Antropologi FIB UGM angkatan 2023 yang terlibat dalam kegiatan KKN tersebut memberikan pandangannya dalam proses belajar lapangan ini.

“Dari teknik penyerbukan buah naga, kita bisa melihat bahwa dalam praktik budidaya, manusia berperan membantu mengoptimalkan proses alami agar hasil produksinya lebih maksimal. Kalau dilihat dari perspektif antropologi, hal ini menunjukkan adanya relasi timbal balik antara manusia dan lingkungan. Manusia memanfaatkan pengetahuan yang dimilikinya untuk mendukung proses penyerbukan, sementara alam tetap menjadi sumber kehidupan yang menopang aktivitas manusia.” penjelasannya.

Kemudian Adinda juga menjelaskan bahwa pengetahuan budidaya buah naga tersebut tidak ditumbuhkan begitu saja, tetapi dibentuk melalui pengalaman, pengamatan, dan interaksi yang dilakukan secara terus-menerus dengan lingkungan. Dari proses itu, kapan bunga mekar, bagaimana cara membantu penyerbukannya, hingga langkah-langkah yang dapat dilakukan agar buah dihasilkan secara lebih optimal oleh tanaman dapat dipahami oleh masyarakat. Hubungan ini menunjukkan bahwa pertanian tidak sekadar dipandang sebagai proses produksi, tetapi juga sebagai bentuk interaksi, adaptasi, dan pengetahuan yang dibangun manusia dalam hidup berdampingan dengan lingkungannya.

Melalui integrasi pengetahuan lokal, pemanfaatan teknologi lampu, serta penerapan sistem pertanian terpadu, masyarakat Desa Wringinputih berhasil menciptakan ketahanan ekonomi yang mandiri. Dinamika aktivitas pertanian nokturnal ini membuktikan bahwa keberhasilan sebuah komoditas tidak hanya bergantung pada modernisasi alat berskala besar, melainkan pada kemampuan manusia dalam membaca tanda alam, beradaptasi, dan membangun keharmonisan dengan ekosistem di sekitarnya.

Foto: Tim KKN-PPM UGM Muncar Memancar 2026

 

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

Mahasiswa Antropologi Raih Medali Emas di National Excellence Competition

Rilis Berita Rabu, 20 Mei 2026

Kabar gembira datang dari tiga mahasiswa Sarjana Antropologi Budaya, FIB, UGM yang berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang National Excellence Competition (NEC) 2026 tingkat nasional. NEC diselenggarakan oleh Eduhub Incubator bekerja sama dengan Universitas Mataram. Kompetisi tersebut berlangsung pada 9–10 Mei 2026 di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tim tersebut terdiri atas Dinaesy Fadillah Hidayat, Aly Aydeed dan Nadila Aryani Az-Zalfa berhasil meraih Medali Emas pada cabang Essay Bidang Riset Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di bawah bimbingan Agus Indiyanto, S.Sos., M.Si.

Kompetisi ini mengangkat tema “Integrasi Pemikiran Kritis, Inovasi Sosial, dan Kapabilitas Entrepreneurial Berkelanjutan dalam Kerangka Pembangunan Inklusif dan Pencapaian SDGs di Indonesia.” Dalam karya tulisnya, tim mengangkat persoalan pengelolaan event dan limbah sampah pariwisata di Yogyakarta yang dinilai masih menjadi tantangan dalam mendukung pariwisata berkelanjutan.

Sebagai solusi, tim menawarkan inovasi berupa lembaga pengelolaan event panggung berbasis ekonomi sirkular. Gagasan tersebut dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan acara dengan sistem pengurangan dan pemanfaatan kembali limbah, sehingga mampu menciptakan ekosistem event yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung sektor ekonomi kreatif secara berkelanjutan.

Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk tetap kritis terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat dan menghadirkan gagasan inovatif serta dapat berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan sosial melalui riset dan karya ilmiah yang berdampak bagi masyarakat.

Penulis: Dewi W – disadur dari laporan Dinaesy Fadillah Hidayat 

Foto: Dinaesy Fadillah Hidayat dkk

Membangun Pariwisata Berkelanjutan di Lapangan’ – sebagai Refleksi atas ‘Masa Depan Kita Bersama’ dan perkembangan dalam rangka Tujuan Pembangunan Berkelanjutan

Rilis Berita Selasa, 19 Mei 2026

Selama bulan Februari hingga April 2026, 15 mahasiswa Antropologi (sarjana dan pascasarjana) Antropologi,FIB, UGM mengikuti kelas “Framing Sustainable Tourism on the Ground” yang dirancang dan diampu oleh dosen tamu, Profesor Dr. Sabine Troeger dari Universitas Bonn, Jerman. Dalam kelas ini dibahas mengenai sustainable atau keberlanjutan dalam pariwisata.

Kata kunci ‘Keberlanjutan’ dan ‘Pariwisata’ menghubungkan perspektif kelas berkaitan dengan: (a) kerangka normatif tantangan pembangunan dalam hal ‘Integritas Ekologis’, ‘Kelayakan Ekonomi’, dan ‘Keadilan Sosial’ sebagaimana didefinisikan oleh UNWTO dan UNEP, Laporan Brundtland ‘Masa Depan Kita Bersama’ (1987) yang direplikasi dalam struktur tripartitnya pada tahun 2015 oleh SDGs melalui 17 tujuannya, serta (b) dimensi pengembangan pariwisata di Indonesia, salah satu sektor strategis dalam pembangunan nasional Indonesia. Laporan ‘Our Common Future’ merupakan salah satu landasan politik terpenting dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs). Laporan ini menetapkan gagasan dasar perlindungan lingkungan, pembangunan ekonomi, dan keadilan sosial, yang diintegrasikan dan saling terkait, sementara SDGs mengimplementasikan filosofi, terminologi, dan argumen moral tersebut dalam kerangka aksi global yang konkret, terukur, dan disepakati secara politik. 

Kelas tentang pariwisata, dengan fokus khusus pada berbagai aktor dan pilihan agen mereka serta kekuatan struktural yang mengikutinya, bertujuan untuk menghubungkan bidang pariwisata yang sangat sensitif dan rentan—sebagaimana didefinisikan oleh berbagai kelompok kepentingan dan kekuasaan—dengan kerangka kerja menyeluruh yang ditekankan dalam proses globalisasi saat ini.

Urutan kelas dibagi menjadi dua tahap sebagai pengenalan:

Pertama: sesi pengenalan awal yang mengikuti pemahaman awal tentang kerangka akademis teori-filosofis yang menghubungkan kata kunci ‘pariwisata’ dengan ‘keberlanjutan’, presentasi mahasiswa atas artikel-artikel terpilih, antara lain tentang ‘Dinamika kelas dalam perubahan agraria di pedesaan Jawa’ (Habibi, 2024) atau Pengembangan Pariwisata (Isnandar dkk., 2025), dan kedua, pelatihan praktis mengenai Metodologi PRA dan Filsafat PRA (Chambers, 1994).

Kedua: Fase ‘penilaian dan evaluasi data partisipatif’, yang berlokasi di desa Watu Kodok/Kelor Kidul/Kelor Lor di Kabupaten Gunungkidul, sebuah gabungan dusun yang telah berubah menjadi resor pantai.

Pembangunan masyarakat di Indonesia saat ini menuntut perubahan radikal, meskipun berbeda dari yang dihasilkan oleh modernisasi pertanian – berupa diversifikasi mata pencaharian, peningkatan kerja sama, dan partisipasi masyarakat di wilayah yang kini ditandai oleh istilah-istilah globalisasi. Perspektif deskriptif-analitis berfokus pada pendekatan terhadap titik transformasi dan membuka ruang untuk memahami perubahan sebagai hasil dari proses yang tidak disengaja atau disengaja. Penilaian Pedesaan Partisipatif (PRA), sebuah metodologi yang mendorong mahasiswa peneliti melampaui pengamatan pasif dan mengharuskan mereka bekerja sebagai peneliti aktif bersama masyarakat. Dengan berinteraksi langsung dengan petani, pengusaha lokal, dan pemimpin masyarakat, kelas ini menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan tantangan praktis pariwisata berbasis masyarakat (CBT). Filosofi ‘Metodologi Partisipatif’ menyatakan bahwa peserta di lapangan adalah ‘aktor’ yang mendefinisikan dan merefleksikan keprihatinan mereka sendiri – keprihatinan mata pencaharian dalam berbagai bentuk – merefleksikan diri mereka sendiri, dan menceritakan ‘kisah mereka sendiri’, terutama di masa perubahan sosial dan kebutuhan dalam konteks yang lebih luas. Sorotan kelas ini adalah menemukan dan merefleksikan proses dan hasil perubahan sosial saat ini di bidang ‘pariwisata’.

Screenshot

Watu Kodok dan dusun-dusun tetangganya, yang secara berurutan disatukan di bawah nama ‘Watu Kodok’—lokasi penelitian lapangan kelas ini—dikenal luas karena pasir putih dan tebing kapurnya. Namun, di balik citra populernya sebagai destinasi liburan, lanskap sosial yang kompleks terungkap dan menanti untuk dijelajahi. Penelitian lapangan kelas ini dirancang untuk menganalisis bagaimana ‘keberlanjutan’, yang mencerminkan perbedaan perspektif yang disebutkan di atas, ditafsirkan dan dipraktikkan oleh penduduk yang tinggal di lingkungan Watu Kodok.

Perbedaan perspektif yang ditargetkan mengenai ‘keberlanjutan’ yang berkaitan dengan pariwisata ini direalisasikan melalui fokus selektif pada empat kelompok sasaran: a) para pelaku yang menjalankan pekerjaan turun-temurun, seperti petani dan pemilik usaha kecil; b) pelaku di bidang tradisi budaya seperti pemain gamelan

dan seniman batik; c) pelaku dalam kegiatan yang secara eksplisit berorientasi pada pariwisata seperti pengusaha homestay, serta pelaku di bidang pengelolaan sampah; d) pelaku di bidang pariwisata eksplisit seperti manajer Jiwa Laut Eco Resort, Bu Ira dan karyawannya, pelaku bisnis penyewaan tenda dan ‘glamping’, serta ‘Mas Heri’, inisiator dan pelaku ‘Fun Games’ bagi wisatawan di lokasi pantai.

Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap strategis, dimulai pada 2 April dengan fokus pada pemetaan sosial dan konteks historis. Hari dimulai dengan diskusi PRA pertama bersama warga lanjut usia dan pemangku kepentingan lokal untuk membahas harapan, aspirasi, serta tekanan yang ditimbulkan oleh faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah dan investor. Pada sore hari, mahasiswa berinteraksi dengan petani untuk membahas kebutuhan pertanian dasar, termasuk akses terhadap pupuk dan benih, sambil menganalisis bagaimana pariwisata mengganggu mata pencaharian mereka, misalnya terkait beban limbah dan bayangan yang ditimbulkan oleh bangunan vila baru yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Setelah menyelidiki secara partisipatif persepsi dan kekhawatiran petani terkait pariwisata, mahasiswa bertemu dengan pemilik ‘Warung’ dan mendiskusikan kekhawatiran bisnis mereka terkait wisatawan serta harapan untuk masa depan. Hal ini dilanjutkan dengan perjalanan Transect untuk membangun pemahaman visual awal tentang evolusi fisik dan sosial wilayah tersebut bersama mahasiswa. Hari itu ditutup dengan pertunjukan Gamelan, yang berfungsi sebagai studi kasus bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi bagaimana budaya lokal secara strategis mempertahankan vitalitas dan relevansinya di tengah perkembangan modern.

Pada 8 April, hari kedua kerja lapangan, fokus beralih ke usaha lokal dan ekologi, saat mahasiswa bertemu dengan seniman Batik, pemilik homestay, dan kelompok pengelolaan limbah. Sesi-sesi ini dirancang untuk mengevaluasi pengakuan seni tradisional oleh wisatawan, menilai peluang pasar dan keadilan bisnis, serta menentukan bagaimana pengunjung dilibatkan dalam ‘masalah sampah’ dan pelestarian lanskap ekologi. Hari itu diakhiri dengan sesi ‘Fun Games’, yang menyediakan platform untuk mendiskusikan harapan masa depan bagi usaha lokal. Fase terakhir pada 20 April didedikasikan untuk ‘transparansi’ yang diwujudkan melalui Umpan Balik Penelitian, di mana mahasiswa mempresentasikan temuan mereka kepada masyarakat untuk pengakuan, koreksi, dan komentar. Proses “belajar dua arah” ini memastikan penelitian benar-benar mencerminkan realitas warga.

Para mahasiswa, yang berperan sebagai ‘mitra penelitian’, mengapresiasi kegiatan ini dan menemukan bahwa pengalaman lapangan menantang prasangka akademis mereka. Siraj mencatat bahwa kerja lapangan mengungkapkan isu-isu pariwisata jauh lebih “kompleks dan gila” daripada yang disarankan buku teks, sementara Hizkia menghargai kesempatan untuk meresapi wawasan lapangan sambil merefleksikan teori. Rifqy merasa kerja PRA praktis memberikan visi yang jelas tentang bagaimana pariwisata berkelanjutan seharusnya berfungsi, dan Fina mengamati bahwa pengalaman intensif ini “entah bagaimana menghubungkan setiap dari kita.” Bagi yang lain seperti Tiara dan Biel, kursus ini digambarkan sebagai salah satu keputusan paling membuka wawasan dan bermakna dalam perjalanan akademik mereka.

Kembali ke interpolasi yang awalnya ditekankan antara perspektif ‘keberlanjutan’ dan ‘pariwisata’, data mahasiswa dalam pelatihan pertama penilaian partisipatif ini menyoroti beberapa hasil, yang dibahas secara mendalam dalam sesi umpan balik akhir bersama peserta penelitian. Mengacu pada indikator yang disebutkan sebelumnya yang mendefinisikan ‘Keberlanjutan’ terkait pengembangan pariwisata, yaitu ‘Integritas Ekologis’, ‘Kelayakan Ekonomi’, dan ‘Keadilan Sosial’, perwakilan dari kelompok sasaran penelitian tersebut menyoroti perkembangan seperti a) dampak pariwisata dalam hal jumlah limbah yang mengancam lingkungan; b) pengungsian penduduk yang dipicu pariwisata dan penebangan pohon di kawasan pantai; selain itu, mereka menyoroti kurangnya keterlibatan komunitas lokal sebagai mitra manusia yang sejajar dan setara, serta c) biaya konservasi akibat perluasan dampak pariwisata sepenuhnya dibebankan pada komunitas lokal, yang mengabaikan prinsip ‘pencemar membayar’.

Dari perspektif Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), studi ini membahas SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan menganalisis bagaimana pendekatan Pariwisata Berbasis Masyarakat melindungi pemilik usaha kecil dan pengusaha warung dari dominasi investor eksternal besar. Aktivitas di lapangan mencerminkan SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) dengan menekankan perlindungan warisan budaya lokal, seperti Gamelan dan Batik, sebagai landasan identitas komunitas. Selain itu, fokus pada ‘masalah sampah’ dan langkah-langkah pelestarian lanskap Karst mencerminkan SDG 12

(Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Terakhir, kolaborasi antara akademisi internasional, mahasiswa UGM, dan aktor lokal seperti tim Jiwa Laut menunjukkan penerapan praktis dari SDG 17 (Kemitraan untuk Tujuan). Pada akhirnya, penelitian lapangan di Watu Kodok menunjukkan bahwa agar pariwisata benar-benar berkelanjutan, pariwisata harus dibangun berdasarkan suara, kebutuhan, dan pengalaman hidup masyarakat di lapangan.

Bagaimanapun juga, masyarakat sedang menghadapi dorongan yang tidak dapat diubah menuju ‘transformasi’, yang memerlukan inisiatif penyelidikan dan penelitian lebih lanjut yang hanya dapat disinggung, namun tidak dibahas secara mendalam, oleh pelatihan utama dalam orientasi teori dan metodologi akademis di kelas UGM. Terakhir namun tidak kalah pentingnya, diskusi dengan para peserta di Watu Kodok menunjukkan bahwa pariwisata, secara keseluruhan, melibatkan ‘transformasi’ mata pencaharian serta nilai-nilai dan interpretasi yang terkait. Kehidupan tidak akan pernah sama seperti sebelumnya, dan masyarakat sedang dan akan terus berada dalam proses redefinisi.

 

References:

Brundtland, G.H. (1987) Report of the World Commission on Environment and Development: Our Common Future. UN General Assembly Document A/42/427

Chambers, R. (1994). Participatory rural appraisal (PRA): Challenges, potentials and paradigm. World Development, 22(10), 1437–1454. https://doi.org/10.1016/0305-750x(94)90030-2

Isnandar et al. (2025): Sustainable Tourism Development Based on Local Wisdom in Sutojayan Village, Malang Regency: A Participatory Approach in Masterplan Planning.

Muchtar Habibi (2024): Masters of the countryside and their enemies: Class dynamics of agrarian changes in rural Java.

 

Penulis: Cynthia Christyananta & Prof. Dr. Sabine Troeger

Foto: Cynthia Christyananta

123…24

Rilis Berita

  • Kuliah Tamu: Dr. Tan Yujing
  • FIB UGM Sambut 12 Mahasiswa Daito Bunka University dalam Pembukaan Summer Program 2026
  • HIMAJE Peduli: Salurkan Donasi kepada Panti Asuhan Griya Yatim & Dhuafa Yogyakarta
  • Kuliah Seru Kejepangan (KSK): Yang Terlihat dan Tak Terlihat: ‘Membaca’ Budaya Jepang Lewat Visual
  • Menuju Mutu Unggul: Visitasi Akreditasi Program Studi Kajian Budaya Timur Tengah oleh BAN-PT di Magister KBTT UGM

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju