Upaya penguatan integrasi teknologi dan pembelajaran bahasa Arab kembali dilakukan melalui seminar internasional bertajuk “Arabic Linguistic Analysis and Instructional Design.” yang dilaksanakan secara daring pada Kamis, 30 April 2026 ini diikuti oleh pendidik, akademisi, dan praktisi bahasa Arab dari berbagai negara. Seminar ini menjadi ruang diskusi dalam membahas perkembangan metode pembelajaran bahasa Arab di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Dalam forum ini, peserta diajak memahami pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, tanpa meninggalkan dasar-dasar ilmiah dalam pendidikan bahasa.
Selama seminar berlangsung, peserta mendapatkan pemaparan roadmap pembelajaran berdurasi lima jam yang mencakup tiga tahap utama, yaitu penguatan teori, praktik langsung, dan pengembangan profesional tenaga pendidik. Melalui pendekatan tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai penerapan AI dalam pembelajaran bahasa Arab secara lebih efektif dan berkelanjutan. Salah satu pembahasan utama dalam seminar ini adalah pengenalan “Mubeen,” sebuah model AI yang dirancang khusus untuk kebutuhan linguistik bahasa Arab. Mubeen dinilai lebih mampu memahami kompleksitas bahasa Arab dibandingkan model AI umum, mulai dari ketepatan pemberian harakat (tasykil), analisis struktur morfologi, hingga pemahaman konteks budaya dalam penggunaan bahasa Arab.
Selain pemaparan materi, seminar juga menghadirkan kegiatan interaktif dimana peserta terlibat langsung dalam praktik prompt engineering. Dalam sesi ini, peserta menyusun teks deskriptif berbahasa Arab yang hasil teks tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Pedagogical Judge (القاضي البيداغوجي) untuk menilai kualitas pembelajaran dalam teks. Diskusi seminar berlangsung aktif, terutama saat membahas peran AI dalam dunia pendidikan. Sebagian peserta menilai AI dapat membantu tenaga pendidik mengurangi pekerjaan administratif dan perencanaan yang berulang. Namun, ada pula pandangan bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat membuat proses pembelajaran menjadi terlalu mekanis. Perdebatan tersebut memperkaya sudut pandang peserta mengenai posisi teknologi sebagai alat bantu dalam pendidikan.
Meskipun berlangsung secara virtual, antusiasme peserta tetap terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Hal ini tampak dari aktifnya peserta dalam sesi tanya jawab, diskusi, serta pertukaran pengalaman mengenai penggunaan teknologi dalam pembelajaran bahasa Arab. Sebagai penutup, seminar ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga mendorong lahirnya komitmen bersama untuk menerapkan hasil pelatihan dalam praktik pembelajaran di masing-masing institusi. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan metode pengajaran bahasa Arab yang lebih inovatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan teknologi di era digital.
icesco
Penulis : Indana Zulfa Maulida
Fakultas Ilmu Budaya UGM
Kabar gembira datang dari tiga mahasiswa Sarjana Antropologi Budaya, FIB, UGM yang berhasil menorehkan prestasi membanggakan dalam ajang National Excellence Competition (NEC) 2026 tingkat nasional. NEC diselenggarakan oleh Eduhub Incubator bekerja sama dengan Universitas Mataram. Kompetisi tersebut berlangsung pada 9–10 Mei 2026 di Fakultas Pertanian Universitas Mataram, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Tim tersebut terdiri atas Dinaesy Fadillah Hidayat, Aly Aydeed dan Nadila Aryani Az-Zalfa berhasil meraih Medali Emas pada cabang Essay Bidang Riset Pariwisata dan Ekonomi Kreatif di bawah bimbingan Agus Indiyanto, S.Sos., M.Si.
Kompetisi ini mengangkat tema “Integrasi Pemikiran Kritis, Inovasi Sosial, dan Kapabilitas Entrepreneurial Berkelanjutan dalam Kerangka Pembangunan Inklusif dan Pencapaian SDGs di Indonesia.” Dalam karya tulisnya, tim mengangkat persoalan pengelolaan event dan limbah sampah pariwisata di Yogyakarta yang dinilai masih menjadi tantangan dalam mendukung pariwisata berkelanjutan.
Sebagai solusi, tim menawarkan inovasi berupa lembaga pengelolaan event panggung berbasis ekonomi sirkular. Gagasan tersebut dirancang untuk mengintegrasikan pengelolaan acara dengan sistem pengurangan dan pemanfaatan kembali limbah, sehingga mampu menciptakan ekosistem event yang lebih ramah lingkungan sekaligus mendukung sektor ekonomi kreatif secara berkelanjutan.
Prestasi ini diharapkan dapat menjadi motivasi bagi mahasiswa lain untuk tetap kritis terhadap fenomena yang terjadi di masyarakat dan menghadirkan gagasan inovatif serta dapat berkontribusi dalam menjawab berbagai persoalan sosial melalui riset dan karya ilmiah yang berdampak bagi masyarakat.
Penulis: Dewi W – disadur dari laporan Dinaesy Fadillah Hidayat
Foto: Dinaesy Fadillah Hidayat dkk
Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada melalui pelaksanaan Asia Theories Network (ATN) Workshop 2026 menghadirkan forum akademik internasional yang mempertemukan para sarjana terkemuka dari Asia, Amerika Serikat, dan Eropa untuk membahas paradoks globalisasi dan diskonektivitas di era digital. Kegiatan ini akan berlangsung pada 22–24 Mei 2026 di Ruang 709, Gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.
Mengusung tema “Globalization and (Dis)Connectivity”, workshop ini mengangkat berbagai persoalan mengenai perubahan identitas, komunitas, dan institusi di tengah dunia yang semakin terkoneksi secara digital. Para peserta diajak untuk mendiskusikan bagaimana jaringan digital dan budaya tidak hanya menciptakan integrasi global, tetapi juga melahirkan bentuk-bentuk isolasi sosial dan keterputusan baru dalam kehidupan masyarakat kontemporer.
ATN Workshop 2026 juga menghadirkan dialog interdisipliner yang melibatkan bidang sastra, pendidikan, politik, hingga kajian budaya. Para akademisi dan peneliti akan membahas berbagai isu kontemporer seperti gerakan sosial digital, politik koalisi, wacana dekolonial, kesejahteraan digital (digital well-being), hingga isu Anthropocene yang berkaitan dengan relasi manusia dan lingkungan. Kehadiran perspektif global dan lokal dalam setiap sesi menjadi salah satu kekuatan utama workshop ini, termasuk pembahasan kasus-kasus regional seperti Gerakan Sunflower di Taiwan maupun kontroversi media di Indonesia.
Selain forum akademik, peserta juga akan diajak mengenal kekayaan budaya Yogyakarta melalui berbagai kegiatan budaya seperti kunjungan ke candi, pertunjukan tradisional, dan pengalaman kuliner lokal. Kegiatan ini menjadi upaya memperkenalkan budaya Indonesia kepada komunitas akademik internasional sekaligus memperkuat pertukaran budaya lintas negara.
Penyelenggaraan Asia Theories Network Workshop 2026 turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kolaborasi akademik internasional dan pengembangan wacana keilmuan kritis, SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui dialog lintas budaya dan perspektif global-lokal, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama akademik internasional antara peneliti, institusi pendidikan, dan komunitas intelektual dari berbagai negara.
[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]
Mahasiswa Program Studi S1 Arkeologi angkatan 2025, Departemen Arkeologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada melaksanakan kegiatan kuliah lapangan Mata Kuliah Etika dan Kebijakan Arkeologi pada tanggal 13 Mei 2026 di kawasan Candi Barong dan Stupa Dawangsari. Kegiatan ini didampingi oleh dosen pengampu mata kuliah, Dr. Fahmi Prihantoro, S.S., M.A., sebagai bagian dari pembelajaran langsung di lapangan untuk memperkenalkan mahasiswa pada penerapan etika arkeologi dan kebijakan pelestarian cagar budaya. Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa melakukan observasi terhadap kondisi situs, tata kelola kawasan, serta proses pemugaran yang pernah dilakukan pada bangunan cagar budaya. Melalui penjelasan dan diskusi secara langsung, mahasiswa diajak memahami bagaimana proses pelestarian dilakukan tidak hanya dari sisi teknis, tetapi juga mempertimbangkan nilai sejarah, budaya, dan keberlanjutan situs di masa depan.
Kuliah lapangan ini menjadi pengalaman penting bagi mahasiswa untuk melihat secara langsung hubungan antara teori yang dipelajari di kelas dengan praktik pengelolaan warisan budaya di lapangan. Selain memperdalam pemahaman mengenai etika dalam penelitian dan pelestarian arkeologi, kegiatan ini juga mendorong mahasiswa untuk lebih peka terhadap berbagai tantangan yang dihadapi dalam menjaga situs cagar budaya, mulai dari aspek konservasi hingga pemanfaatannya bagi masyarakat. Dengan adanya kegiatan ini, mahasiswa diharapkan dapat memahami bahwa arkeologi tidak hanya berfokus pada peninggalan masa lalu, tetapi juga memiliki peran penting dalam menjaga identitas budaya dan keberlanjutan warisan sejarah Indonesia bagi generasi mendatang.
[Arkeologi, Muhammad Irsyad]
Selama bulan Februari hingga April 2026, 15 mahasiswa Antropologi (sarjana dan pascasarjana) Antropologi,FIB, UGM mengikuti kelas “Framing Sustainable Tourism on the Ground” yang dirancang dan diampu oleh dosen tamu, Profesor Dr. Sabine Troeger dari Universitas Bonn, Jerman. Dalam kelas ini dibahas mengenai sustainable atau keberlanjutan dalam pariwisata.
Kata kunci ‘Keberlanjutan’ dan ‘Pariwisata’ menghubungkan perspektif kelas berkaitan dengan: (a) kerangka normatif tantangan pembangunan dalam hal ‘Integritas Ekologis’, ‘Kelayakan Ekonomi’, dan ‘Keadilan Sosial’ sebagaimana didefinisikan oleh UNWTO dan UNEP, Laporan Brundtland ‘Masa Depan Kita Bersama’ (1987) yang direplikasi dalam struktur tripartitnya pada tahun 2015 oleh SDGs melalui 17 tujuannya, serta (b) dimensi pengembangan pariwisata di Indonesia, salah satu sektor strategis dalam pembangunan nasional Indonesia. Laporan ‘Our Common Future’ merupakan salah satu landasan politik terpenting dari Tujuan Pembangunan Berkelanjutan PBB (SDGs). Laporan ini menetapkan gagasan dasar perlindungan lingkungan, pembangunan ekonomi, dan keadilan sosial, yang diintegrasikan dan saling terkait, sementara SDGs mengimplementasikan filosofi, terminologi, dan argumen moral tersebut dalam kerangka aksi global yang konkret, terukur, dan disepakati secara politik.
Kelas tentang pariwisata, dengan fokus khusus pada berbagai aktor dan pilihan agen mereka serta kekuatan struktural yang mengikutinya, bertujuan untuk menghubungkan bidang pariwisata yang sangat sensitif dan rentan—sebagaimana didefinisikan oleh berbagai kelompok kepentingan dan kekuasaan—dengan kerangka kerja menyeluruh yang ditekankan dalam proses globalisasi saat ini.
Urutan kelas dibagi menjadi dua tahap sebagai pengenalan:
Pertama: sesi pengenalan awal yang mengikuti pemahaman awal tentang kerangka akademis teori-filosofis yang menghubungkan kata kunci ‘pariwisata’ dengan ‘keberlanjutan’, presentasi mahasiswa atas artikel-artikel terpilih, antara lain tentang ‘Dinamika kelas dalam perubahan agraria di pedesaan Jawa’ (Habibi, 2024) atau Pengembangan Pariwisata (Isnandar dkk., 2025), dan kedua, pelatihan praktis mengenai Metodologi PRA dan Filsafat PRA (Chambers, 1994).
Kedua: Fase ‘penilaian dan evaluasi data partisipatif’, yang berlokasi di desa Watu Kodok/Kelor Kidul/Kelor Lor di Kabupaten Gunungkidul, sebuah gabungan dusun yang telah berubah menjadi resor pantai.
Pembangunan masyarakat di Indonesia saat ini menuntut perubahan radikal, meskipun berbeda dari yang dihasilkan oleh modernisasi pertanian – berupa diversifikasi mata pencaharian, peningkatan kerja sama, dan partisipasi masyarakat di wilayah yang kini ditandai oleh istilah-istilah globalisasi. Perspektif deskriptif-analitis berfokus pada pendekatan terhadap titik transformasi dan membuka ruang untuk memahami perubahan sebagai hasil dari proses yang tidak disengaja atau disengaja. Penilaian Pedesaan Partisipatif (PRA), sebuah metodologi yang mendorong mahasiswa peneliti melampaui pengamatan pasif dan mengharuskan mereka bekerja sebagai peneliti aktif bersama masyarakat. Dengan berinteraksi langsung dengan petani, pengusaha lokal, dan pemimpin masyarakat, kelas ini menjembatani kesenjangan antara teori akademis dan tantangan praktis pariwisata berbasis masyarakat (CBT). Filosofi ‘Metodologi Partisipatif’ menyatakan bahwa peserta di lapangan adalah ‘aktor’ yang mendefinisikan dan merefleksikan keprihatinan mereka sendiri – keprihatinan mata pencaharian dalam berbagai bentuk – merefleksikan diri mereka sendiri, dan menceritakan ‘kisah mereka sendiri’, terutama di masa perubahan sosial dan kebutuhan dalam konteks yang lebih luas. Sorotan kelas ini adalah menemukan dan merefleksikan proses dan hasil perubahan sosial saat ini di bidang ‘pariwisata’.

Watu Kodok dan dusun-dusun tetangganya, yang secara berurutan disatukan di bawah nama ‘Watu Kodok’—lokasi penelitian lapangan kelas ini—dikenal luas karena pasir putih dan tebing kapurnya. Namun, di balik citra populernya sebagai destinasi liburan, lanskap sosial yang kompleks terungkap dan menanti untuk dijelajahi. Penelitian lapangan kelas ini dirancang untuk menganalisis bagaimana ‘keberlanjutan’, yang mencerminkan perbedaan perspektif yang disebutkan di atas, ditafsirkan dan dipraktikkan oleh penduduk yang tinggal di lingkungan Watu Kodok.
Perbedaan perspektif yang ditargetkan mengenai ‘keberlanjutan’ yang berkaitan dengan pariwisata ini direalisasikan melalui fokus selektif pada empat kelompok sasaran: a) para pelaku yang menjalankan pekerjaan turun-temurun, seperti petani dan pemilik usaha kecil; b) pelaku di bidang tradisi budaya seperti pemain gamelan
dan seniman batik; c) pelaku dalam kegiatan yang secara eksplisit berorientasi pada pariwisata seperti pengusaha homestay, serta pelaku di bidang pengelolaan sampah; d) pelaku di bidang pariwisata eksplisit seperti manajer Jiwa Laut Eco Resort, Bu Ira dan karyawannya, pelaku bisnis penyewaan tenda dan ‘glamping’, serta ‘Mas Heri’, inisiator dan pelaku ‘Fun Games’ bagi wisatawan di lokasi pantai.
Penelitian ini dilakukan dalam tiga tahap strategis, dimulai pada 2 April dengan fokus pada pemetaan sosial dan konteks historis. Hari dimulai dengan diskusi PRA pertama bersama warga lanjut usia dan pemangku kepentingan lokal untuk membahas harapan, aspirasi, serta tekanan yang ditimbulkan oleh faktor eksternal seperti kebijakan pemerintah dan investor. Pada sore hari, mahasiswa berinteraksi dengan petani untuk membahas kebutuhan pertanian dasar, termasuk akses terhadap pupuk dan benih, sambil menganalisis bagaimana pariwisata mengganggu mata pencaharian mereka, misalnya terkait beban limbah dan bayangan yang ditimbulkan oleh bangunan vila baru yang mengganggu pertumbuhan tanaman. Setelah menyelidiki secara partisipatif persepsi dan kekhawatiran petani terkait pariwisata, mahasiswa bertemu dengan pemilik ‘Warung’ dan mendiskusikan kekhawatiran bisnis mereka terkait wisatawan serta harapan untuk masa depan. Hal ini dilanjutkan dengan perjalanan Transect untuk membangun pemahaman visual awal tentang evolusi fisik dan sosial wilayah tersebut bersama mahasiswa. Hari itu ditutup dengan pertunjukan Gamelan, yang berfungsi sebagai studi kasus bagi mahasiswa untuk mengeksplorasi bagaimana budaya lokal secara strategis mempertahankan vitalitas dan relevansinya di tengah perkembangan modern.
Pada 8 April, hari kedua kerja lapangan, fokus beralih ke usaha lokal dan ekologi, saat mahasiswa bertemu dengan seniman Batik, pemilik homestay, dan kelompok pengelolaan limbah. Sesi-sesi ini dirancang untuk mengevaluasi pengakuan seni tradisional oleh wisatawan, menilai peluang pasar dan keadilan bisnis, serta menentukan bagaimana pengunjung dilibatkan dalam ‘masalah sampah’ dan pelestarian lanskap ekologi. Hari itu diakhiri dengan sesi ‘Fun Games’, yang menyediakan platform untuk mendiskusikan harapan masa depan bagi usaha lokal. Fase terakhir pada 20 April didedikasikan untuk ‘transparansi’ yang diwujudkan melalui Umpan Balik Penelitian, di mana mahasiswa mempresentasikan temuan mereka kepada masyarakat untuk pengakuan, koreksi, dan komentar. Proses “belajar dua arah” ini memastikan penelitian benar-benar mencerminkan realitas warga.
Para mahasiswa, yang berperan sebagai ‘mitra penelitian’, mengapresiasi kegiatan ini dan menemukan bahwa pengalaman lapangan menantang prasangka akademis mereka. Siraj mencatat bahwa kerja lapangan mengungkapkan isu-isu pariwisata jauh lebih “kompleks dan gila” daripada yang disarankan buku teks, sementara Hizkia menghargai kesempatan untuk meresapi wawasan lapangan sambil merefleksikan teori. Rifqy merasa kerja PRA praktis memberikan visi yang jelas tentang bagaimana pariwisata berkelanjutan seharusnya berfungsi, dan Fina mengamati bahwa pengalaman intensif ini “entah bagaimana menghubungkan setiap dari kita.” Bagi yang lain seperti Tiara dan Biel, kursus ini digambarkan sebagai salah satu keputusan paling membuka wawasan dan bermakna dalam perjalanan akademik mereka.
Kembali ke interpolasi yang awalnya ditekankan antara perspektif ‘keberlanjutan’ dan ‘pariwisata’, data mahasiswa dalam pelatihan pertama penilaian partisipatif ini menyoroti beberapa hasil, yang dibahas secara mendalam dalam sesi umpan balik akhir bersama peserta penelitian. Mengacu pada indikator yang disebutkan sebelumnya yang mendefinisikan ‘Keberlanjutan’ terkait pengembangan pariwisata, yaitu ‘Integritas Ekologis’, ‘Kelayakan Ekonomi’, dan ‘Keadilan Sosial’, perwakilan dari kelompok sasaran penelitian tersebut menyoroti perkembangan seperti a) dampak pariwisata dalam hal jumlah limbah yang mengancam lingkungan; b) pengungsian penduduk yang dipicu pariwisata dan penebangan pohon di kawasan pantai; selain itu, mereka menyoroti kurangnya keterlibatan komunitas lokal sebagai mitra manusia yang sejajar dan setara, serta c) biaya konservasi akibat perluasan dampak pariwisata sepenuhnya dibebankan pada komunitas lokal, yang mengabaikan prinsip ‘pencemar membayar’.
Dari perspektif Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), studi ini membahas SDG 8 (Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi) dengan menganalisis bagaimana pendekatan Pariwisata Berbasis Masyarakat melindungi pemilik usaha kecil dan pengusaha warung dari dominasi investor eksternal besar. Aktivitas di lapangan mencerminkan SDG 11 (Kota dan Komunitas Berkelanjutan) dengan menekankan perlindungan warisan budaya lokal, seperti Gamelan dan Batik, sebagai landasan identitas komunitas. Selain itu, fokus pada ‘masalah sampah’ dan langkah-langkah pelestarian lanskap Karst mencerminkan SDG 12
(Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab). Terakhir, kolaborasi antara akademisi internasional, mahasiswa UGM, dan aktor lokal seperti tim Jiwa Laut menunjukkan penerapan praktis dari SDG 17 (Kemitraan untuk Tujuan). Pada akhirnya, penelitian lapangan di Watu Kodok menunjukkan bahwa agar pariwisata benar-benar berkelanjutan, pariwisata harus dibangun berdasarkan suara, kebutuhan, dan pengalaman hidup masyarakat di lapangan.
Bagaimanapun juga, masyarakat sedang menghadapi dorongan yang tidak dapat diubah menuju ‘transformasi’, yang memerlukan inisiatif penyelidikan dan penelitian lebih lanjut yang hanya dapat disinggung, namun tidak dibahas secara mendalam, oleh pelatihan utama dalam orientasi teori dan metodologi akademis di kelas UGM. Terakhir namun tidak kalah pentingnya, diskusi dengan para peserta di Watu Kodok menunjukkan bahwa pariwisata, secara keseluruhan, melibatkan ‘transformasi’ mata pencaharian serta nilai-nilai dan interpretasi yang terkait. Kehidupan tidak akan pernah sama seperti sebelumnya, dan masyarakat sedang dan akan terus berada dalam proses redefinisi.
References:
Brundtland, G.H. (1987) Report of the World Commission on Environment and Development: Our Common Future. UN General Assembly Document A/42/427
Chambers, R. (1994). Participatory rural appraisal (PRA): Challenges, potentials and paradigm. World Development, 22(10), 1437–1454. https://doi.org/10.1016/0305-750x(94)90030-2
Isnandar et al. (2025): Sustainable Tourism Development Based on Local Wisdom in Sutojayan Village, Malang Regency: A Participatory Approach in Masterplan Planning.
Muchtar Habibi (2024): Masters of the countryside and their enemies: Class dynamics of agrarian changes in rural Java.
Penulis: Cynthia Christyananta & Prof. Dr. Sabine Troeger
Foto: Cynthia Christyananta
