Kesadaran akan ketimpangan produksi dan penyebaran pengetahuan antara Global North dan Global South merupakan dasar berkembangnya diskursus decoloniality di dalam ranah akademik maupun seni. Kesadaran baru akan realitas kehidupan yang tidak universal, melainkan bersifat pluriverse, mendorong akademisi dan praktisi seni untuk merefleksikan kembali hidup keseharian dengan tujuan membangun kepekaan terhadap akar ketimpangan relasi kuasa yang mungkin luput dari perhatian. Edisi terbaru Lembaran Antropologi vol. 4 no.2 mengangkat topik “Anthropology and Decolonialization in Performance Studies and Art Critiques” dan mengundang Rachmi Diyah Larasati dari Interdisciplinary Center for the Study of Global Change, University of Minnesota sebagai editor, mengajak pembaca bergabung dan memahami lebih jauh bagaimana seni dan pertunjukan kini mencerminkan kritik secara antropologis dalam berkesenian.
Edisi kali ini membahas praktik berkesenian tidak sebatas pada segi artistik, tetapi juga pada upaya menyampaikan keresahan dan kritik sosial terhadap fenomena sosial sehari-hari. Persoalan mengenai narasi kepengaturan, ekspresi dan ruang hidup menjadi pokok yang dihadirkan oleh kontributor pada edisi ini. Beranjak pada praktik berkesenian yang didasarkan pada standar atau pakem tidak lepas dari perhatian terhadap sosok yang menentukan standar ini. Artikel Chaterji & Loravianti dan Pangastuti mempertanyakan kembali pakem atau standar berkesenian dalam lomba MTQ serta eksperimen transkultural Swan Lake dengan instrumen gamelan. Hadirnya standar atau pakem sebagai kriteria penilaian seni perlu dipertanyakan ulang, narasi atau nilai apa yang dominan memengaruhi penilaian seni?
Beralih pada aspek tari sebagai perwujudan simbolik yang menubuh pada manusia sarat akan makna dan pesan sosial. Artikel Sekar Sari dan Listyorini menunjukkan bahwa tari atau koreografi membawa pesan dan juga ekspresi untuk menunjukkan persoalan mengenai kerja perawatan dan juga bentuk perlawanan terhadap narasi kapitalisme global yang hidup dalam keseharian. Topik terakhir dalam edisi kali ini, membahas ruang hidup kesenian rakyat seperti Reog Ponorogo (Nurdiyanto, Amrullah, Mahadewa) dan Horeg (Nursilah, Gietty, Setyani, Yoesoef). Kedua kesenian rakyat yang semula ditampilkan dalam keseharian melalui ruang-ruang komunal kini mulai ditempatkan dalam festival, menunjukkan komodifikasi kesenian rakyat sebagai bagian dari pariwisata. Perubahan dari aktivitas komunal menjadi terlembaga menghadirkan ruang negosiasi antara pelaku seni dan penonton? Untuk mendalami lebih jauh diskursus yang dihadirkan silakan mengakses edisi ini melalui tautan berikut: https://journal.ugm.ac.id/v3/LA/issue/view/916
[Okky Chandra Baskoro]

