1. Pembayaran SPP/UKT dijadwalkan tanggal 2 – 31 Juli 2018 –> JANGAN SAMPAI TERLAMBAT!
2. SPP, UKT dan atau BOP harus dibayarkan tepat waktu sesuai jadwal pembayaran.
3. UGM tidak akan mentolerir keterlambatan heregistrasi/pembayaran SPP, UKT dan atau BOP.
[gview file=”https://fib.ugm.ac.id/wp-content/uploads/sites/10/2018/06/Hereg-Gasal-2018-2019.pdf” title=”Hereg Gasal 2018-2019″]
Rilis Berita
Dalam rangka mengikuti event tahunan Kompetisi Pariwisata Indonesia yang kesembilan, prodi Pariwisata FIB mengirimkan beberapa delegasi mahasiswanya ke Bandung. Kompetisi Pariwisata Indonesia (KPI) merupakan event tahunan yang diadakan oleh prodi D3 Usaha Perjalanan Wisata Politeknik Negeri Bandung. Tahun ini KPI telah mencapai tahun kesembilan. KPI 9 ini diadakan di Politeknik Negeri Bandung pada 3—4 Mei 2018.
Beberapa cabang lomba yang diikuti oleh delegasi Pariwisata UGM adalah tourism advertising video, tourism quiz competition, tour package, paper, photography, speech, bussiness event proposal, dan travel writing. Dari delapan cabang lomba yang diikuti tersebut, Pariwisata FIB mampu membawa pulang empat piala. Keempat piala tersebut terdiri dari beberapa cabang lomba, yaitu.
(a) Juara I Paper

a.n Laras Candra Laksi (Pariwisata 2014), Junanto (Pariwisata 2015) dan Anindwitya R Monica (Pariwisata 2014).
(b) Juara III Tourism Advertising Video

a.n Seysha Airunisa Dewanthy (Pariwisata 2017), Muhammad Swastika Ardhi (Antropologi 2017) dan Andewi Rizkya Ramadhani (Pariwisata 2017).
(c) Juara II Tourism Quiz

a.n April Aji Santoso (Pariwisata 2016), Fauzani Ninda Paramitha (Pariwisata 2016) dan Dian Putri Ratnasari (Pariwisata 2016)
(d) Juara III Tourism Quiz.

a.n. Anggita Kartika Sari Rezki (Pariwisata 2016), Nita Suryani (Pariwisata 2016) dan Kornelius Ganang Fajarianto (Pariwisata 2016).
Fakultas Ilmu Budaya UGM kembali menjalin kerja sama dengan instansi lain untuk memeperluas jejaring dalam rangka mewujudkan visi dan misi fakultas. Kali ini FIB menyepakati perjanjian kerja sama (Memorandum of Agreement) dengan Bukit Vista Hospitality Services, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang perjalanan wisata dan hospitality yang berbasis di Jimbaran, Bali. Bukit Vista merupakan salah satu mitra Program Studi Pariwisata FIB dalam rangka mengembangkan dan mendukung proses belajar dan mengajar dalam bentuk pemagangan mahasiswa Prodi Pariwisata. Dalam kesempatan ini disepakati kerja sama antara Bukit Vista Hospitality Services dan Prodi Pariwisata FIB secara spesifik. “Namun demikian, diharapkan bahwa kerja sama yang terjalin ini dapat juga dikembangkan dengan prodi dan departemen lain yang ada di lingkungan FIB, seperti Prodi Sastra Prancis, Sastra Inggris, dan prodi lain”, ungkap Dekan FIB UGM, Dr. Wening Udasmoro, M.Hum., DEA.
Pendiri sekaligus CEO Bukit Vista, Jingcho Yang, mengungkapkan pihaknya sangat mengapresiasi terwujudnya kerja sama antara lembaganya dengan FIB UGM. Sebelumnya dalam acara kuliah umum yang digelar di Auditorium Poerbotjaroko FIB, Jingcho Yang mengungkapkan bahwa trend industri hospitality kini sudah mengalami perubahan dengan bermunculannya flatform home sharing seperti Airbnb. “Industri hospitality kini berkembang pesat yang ditandai dengan adanya inovasi, mengutamakan otentisitas, dan mengalami ndesentralisasi. Sehingga siapa pun dapat dengan mudah menjalankan bisnis hospitality. Industri hospitality pada hakekatnya juga sedang mengalami disrupsi”, ungkap Jingcho Yang. CEO Bukit Vista ini juga mengungkapkan bahwa trend perjalanan wisata dalam kelompok kecil telah memicu munculnya inovasi dalam jasa penyediaan akomodasi dan hospitality. “Dalam konteks ini, industri hospitality skala kecil dapat tumbuh dan berkembang berdampingan dengan industri hotel yang selama ini mendominasi industri hospitality”, tambahnya. Ke depan, trend industri hospitality akan membutuhkan sumber daya manusia yang unggul dan inovatif yang mampu merespons dengan kreatif perkembangan industri pariwisata yang bergerak dengan cepat.[popiirawan]
Mahasiswa Sastra FIB UGM berhasil memborong kejuaraan dalam Lomba Pidato Bahasa Jepang dan kaligrafi tingkat DIY pada Nihongo No Hi ke 13 tanggal 28 April 2018 yang dilaksanakan di Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.
Desak Nyoman Risma Riyandewi, menempati posisi pertama dan dilanjutkan Hardika Easti Asthi menempati posisi kedua dalam ajang Lomba Pidato Bahasa Jepang untuk umum di DIY. Lomba pidato ini diselenggarakan oleh Program Studi Sastra Jepang dengan The Japan Foundation (JF), Jakarta. Pemenang lomba pidato tingkat DIY akan mewakili DIY di lomba tigkat nasional yang akan diselenggaakan di Jakarta.
Bagi Desak, menjadi pemenang lomba pidato yang diselenggarakan JF merupakan impiannya sejak dulu, “jadi juara di lomba dari JF itu mimpiku sejak lama, dan akhinya sekarang tercapai,” jelasnya.
Selain mendapat juara pertama dan kedua, predikat terfavorit juri pada lomba pidato didapatkan oleh Bangun Permata, mahasiswa Sastra Jepang tingkat 3. Dan sebagai Juara 1 lomba shodo atau kaligrafi jepang diraih oleh Akbar Rizqi Dhea Habibi.
Nishigomi sebagai salah satu juri kaligrafi memuji hasil karya Akbar Rizqi Dhea Habibi, “tulisan Rizqi sangat bagus karena proporsi penggunaan space dan penulisannya sangat seimbang dan pas dengan kertasnya, dan poin paling penting dari shodo seperti tome, harai dan hane sangat diperhatikan” ucapnya saat penjelasan penilaian hasil karya.
Di akhir acara, Okamoto yang merupakan wakil JF yang menjadi juri pada lomba ini juga berpesan pada semua peserta lomba agar tetap bersemangat dalam belajar bahasa dan budaya Jepang. (kiki)
Video Heritage Tourism Research Project 2017: Food Tourism adalah sebuah dokumentasi kegiatan penelitian tentang pariwisata dengan makanan sebagai daya tarik utama. Kegiatan ini dibagi dalam 3 bagian, bagian 1 dilakukan di Chiang Mai, Thailand; Hanoi, Vietnam; dan Luang Prabang, Laos pada bulan Agustus 2017. Bagian 2 bertempat di Penang, Malaysia dan Yogyakarta, Indonesia pada bulan September 2017. Bagian terakhir dilaksanakan di Kyoto, Jepang pada bulan November 2017.
Heritage Tourism Research Project adalah sebuah proyek penelitian multinasional yang berjalan selama 3 tahun dimulai dari tahun 2016. Proyek penelitian ini diselenggarakan atas kerja sama ASEAN-Japan Tourism Exchange Project yang didanai oleh The Japan Foundation. Tema penelitian yang diangkat pada tahun kedua ini adalah food tourism atau wisata kuliner. Di dalam penelitian ini, peserta-peserta yang terlibat merupakan para dosen dan mahasiswa yang berasal dari universitas-universitas kenamaan di negara masing-masing, yaitu Kyoto University of Foreign Studies, Jepang; Souphanouvong University, Laos; Hanoi University, Vietnam; Chiang Mai University, Thailand; Universiti Sains Malaysia, Malaysia; dan Universitas Gadjah Mada, Indonesia.
Pada bagian satu, anggota tim dari Universitas Gadjah Mada terdiri dari Dr. Wiwik Sushartami, M.A. sebagai dosen pembimbing dan tiga orang mahasiswa yaitu Junanto, Hanin Banurukmi, dan Sari Nastiti dari program studi S1 Pariwisata. Pada bagian dua dan tiga, anggota tim Universitas Gadjah Mada masih didampingi oleh Dr. Wiwik Sushartami, M.A. dengan tiga orang mahasiswa lain yaitu Jordyna Austine X. S., I Gusti Ngurah Paul W., dan Kharisma Galida Arafani.
Setiap tim dari setiap negara melakukan dua penelitian sekaligus yaitu penelitian multinasional dan penelitian nasional. Penelitian multinasional dilakukan bersama-sama oleh seluruh tim dari seluruh negara sedangkan penelitian nasional dilakukan secara pribadi oleh masing-masing tim dari tiap-tiap negara. Walaupun dilakukan secara pribadi, namun tema penelitian masih tetap sama yaitu tentang food tourism atau wisata kuliner. Penelitian multinasional yang dilakukan mengambil topik seputar budaya makan yang ada di masing-masing negara sedangkan untuk penelitian nasional topik yang dipilih bebas sesuai dengan minat masing-masing tim. Tim dari UGM memutuskan untuk melakukan penelitian mengenai beras untuk penelitian nasional.
Tim UGM memilih beras sebagai topik di dalam penelitian ini karena keenam negara yang menjadi lokasi penelitian yaitu Thailand, Vietnam, Laos, Malaysia, Indonesia, dan Jepang merupakan beberapa negara di dunia yang mayoritas penduduknya mengonsumsi nasi sebagai makanan pokoknya. Di dalam penelitian ini, Tim UGM mencoba untuk menganalisis peran beras dalam wisata kuliner di masing-masing negara tersebut. Dasar teori yang digunakan untuk menganalisis hal tersebut adalah teori 4h dari Valene Smith. 4h terdiri dari habitat, heritage, history, dan handicraft. Habitat menjelaskan mengenai kondisi geografi sebuah wilayah dimana sebuah fenomena terjadi. Heritage mengidentifikasi budaya, aktivitas, dan pandangan masyarakat. History menjelaskan tentang bagaimana sebuah peristiwa dapat mengubah pandangan masyarakat terhadap sesuatu hal. Yang terakhir handicraft menjelaskan tentang nilai-nilai kebudayaan yang diberikan oleh masyarakat ke dalam benda-benda fisik maupun nonfisik.
Baik penelitian multinasional maupun penelitian nasional diadakan di berbagai objek wisata yang ada di tiga kota di tiga negara tersebut dalam part 1 serta 2 negara dalam part 2. Khusus untuk penelitian nasional, tim UGM juga melakukan wawancara mendalam dengan pakar-pakar yang ahli seputar pengolahan beras seperti peneliti, petani, dan perwakilan dinas pertanian setempat. Kedua penelitian ini dibantu oleh peserta yang berasal dari tuan rumah masing-masing negara untuk menterjemahkan wawancara yang dilakukan peneliti dengan narasumber. Seluruh peserta juga diajak untuk mengunjungi pasar tradisional dan juga belajar memasak masakan lokal untuk meningkatkan pengalaman selama penelitian wisata kuliner ini. Selama proyek penelitian ini berlangsung, selain melakukan penelitian peserta juga mendapat kesempatan untuk menikmati setiap objek wisata yang dikunjungi dan juga mencicipi berbagai kuliner khas lokal.[Tyassanti]
