• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Publikasi Ilmiah
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • HEADLINE
  • hal. 134
Arsip:

HEADLINE

Public Lecture

AGENDAHEADLINENews Release Selasa, 25 April 2017

Jules Itier and the coming of photography to Asia.

A talk by Gilles Massot
McNally School of Fine Arts – Lasalle College of the Arts, Singapore

Tuesday, 23 Mei 2017
14:00 – Mutimedia Margono

My work has long been concerned with the theory of photography and the effect of this medium on the human perception of time and space, in contrast to the traditional graphic medium, drawing or painting. By the early 2000s, I started teaching photography for the school of Fine Arts in Lasalle, and this new academic context made me developed this research into a concept, which I named COS•MO or “the Constant Self-recording Mode”: with the invention of photography in the 1830s, the world had entered an age in which things were no longer just represented but laterally recorded with the help of a mechanical device; a radical transformation of the human relation to time and space that eventually resulted in today’s Infocom society.

A few years later, I started teaching history of photography in the School of Art Design and Media, Nanyang Technological University. This is when I came across the work of Jules Itier, a French custom officer who travelled around the China Sea in 1844-45 with a daguerreotype camera. His daguerreotypes of China taken in October 1844 were acknowledged as the first extant photographs of China. But there were many more, taken in other countries around the region, including one in Singapore that was dated by the day in his published journal: 6 July 1844. As I developed a timeline of the coming of photography to Asia for my class, this historical perspective began to echo my earlier theoretical concerns: what if that Singapore plate was not just the earliest dated photograph of this port, but marked the shift into the age of COS•MO for the whole Asian continent?

A research grant from Lasalle allowed me to embark on an in-depth research conducted all around Asia and Europe, the results of which were published in the December 2015 issue of the prestigious journal History of Photography. My talk will present the results of this research, some of which proved to be really ground breaking, while tracing the artistic journey that guided it from its onset.

Prof Lala

Reuni Akbar Alumni Sejarah: Masa Lalu Selalu Aktual

HEADLINE Senin, 20 Maret 2017

“Masa Lalu Selalu Aktual” begitu lah tagline sekaligus tema dari Reuni Akbar Departemen Sejarah, Fakultas Ilmu Budaya, UGM. Mengundang seluruh alumni Departemen Sejarah dari berbagai angkatan dan strata. Reuni akbar yang dihelat selama dua hari 18-19 Maret di kampus Fakultas Ilmu Budaya UGM tersebut berlangsung ramai dan meriah dengan berbagai agendanya.

Reuni akbar dibuka dengan beberapa orasi terbuka dari beberapa tokoh di bidang sejarah. Deputi Komunikasi Politik dan Diseminasi Informasi Kantor Staf Presiden, Eko Sulistyo, menyampaikan bagaimana pendekatan sejarah digunakan pada pemerintahan saat ini. Eko menjelaskan bagaimana pendekatan sejarah yang digunakan dalam membuat visi dan kebijakan strategis pada pemerintahan saat ini. Eko mencontohkan bagiamana visi Trisakti menjadi pondasi pemerintahan tentang kemandirian ekonomi, kedaulatan politik, dan berkarakter budaya. Selanjutnya yakni visi revolusi mental yang lahir dari sebuah pembacaan masa lalu bangsa yang hanya fokus pada pembangunan pertumbuhan ekonomi tapi melupakan sisi manusia Indonesia.

“Pemerintah saat ini merupakan pemerintah yang belajar dari sejarah,” jelas Eko.

Sementara itu, orasi juga disampaikan oleh Ketua Masyarakat Sejarawan Indonesia, Hilmar Farid. Dalam orasi tersebut, Hilmar membahas tentang profesi sejarah dan masa depannya. Hilmar membuka orasinya dengan sebuah pertanyaan, siapakah yang disebut sebagai sejarawan. Sebuah pertanyaan yang telah muncul sejak bertahun-tahun lalu. Menjawab pertanyaan itu, Hilmar pertama-tama membedakan sejarah sebagai disiplin ilmu dan sejarah sebagai profesi.

“Dua hal tersebut berbeda, namun pada abad ke-20 kecenderungannya untuk menyatu sangatlah besar,” jelas Hilmar.

Selanjutnya, Hilmar mengulas latar belakang bagaimana berkembangnya seseorang disebut sejarawan dari abad ke-19 hingga abad ke-20. Definisi itu berubah dari waktu ke waktu hingga saat ini. Namun, Hilmar menyimpulkan bahwa seseorang disebut sejarawan ialah orang yang menggunakan disiplin ilmu sejarah pada profesinya. “Seseorang yang berprofesi sejarah pasti adalah sejarawan, namun sejarawan belum tentu seorang yang yang berprofesi sejarah,” terang Hilmar.

Menurut Hilmar, tema dari reuni kali ini sangatlah tepat. Tema tersebut begitu baik untuk mendorong seseorang dari berbagai profesi tetapi menggunakan disiplin ilmu sejarah untuk mengembangkan sejarah. “Mimpi saya kedepannya sejarah ini bukan menjadi sub bidang yang dipelajari di univeristas, tetapi benar-benar bisa memberikan prespektif pada banyak hal,” tegasnya. (Humas UGM/Catur)

Rampoe UGM Berprestasi di 11th National Folklore Festival

HEADLINE Senin, 20 Maret 2017


Rampoe UGM yang merupakan salah satu Badan Semi Otonom di bawah Fakultas Ilmu Budaya kembali meraih prestasi pada 11th National Folklore Festival yang diselenggarakan pada 13 – 16 Maret 2017 di Auditorium Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia.
National Folklore Festival (NFF) merupakan kompetisi paduan suara dan tari tradisional terbesar se-Indonesia yang diadakan oleh Fakultas Ekonomi dan Bisnis, Universitas Indonesia. Kompetisi ini dapat diikuti oleh siswa-siswi SMA, universitas, dan sanggar dan umum. Pada tahun ini, kompetisi tari tradisional dalam National Folklore Festival terdiri dari 16 tim dari kategori A (SMA), 18 tim dari kategori B (universitas), dan 11 tim dari kategori C (sanggar dan umum).
Berbeda dari tahun sebelumnya, pada tahun ini Rampoe UGM mengirimkan dua tim yang terdiri dari 19 penari, 2 syekh, dan 4 official. “Tahun ini kami mengirimkan 2 tim, yaitu tim putri yang membawa Tari Mesare-sare dan Tarek Pukat, serta tim putra yang membawa tari Rapai’i Geleng.” Ungkap Ridwan, ketua delegasi NFF 2017.
Kedua tim yang dikirim untuk mengikuti kompetisi tari tradisional pun berhasil mendapatkan juara 2 untuk Tari Mesare-sare dan Tarek Pukat dalam kategori B, dan juara 3 untuk Tari Rapa’i Geleng dalam kategori C. Menurut Laras, kemenangan Rampoe UGM ini tidak terlepas dari dukungan FIB, UGM, dan keluarga Rampoe.
Ketua Rampoe UGM, Laras Widyawati berharap Rampoe UGM bisa terus berprestasi dan berproses dengan baik ke depannya. (/Shofi)

FIB UGM Peringati Dies Natalis ke-71

HEADLINENews Release Senin, 6 Maret 2017

Gagasan tentang sebuah Negara bangsa Indonesia muncul secara resmi pada saat diadakannya Kongres Pemuda II tahun 1928. Pada saat itu, konsep negara bangsa yang kini menjadi Republik Indonesia adalah sebuah cita-cita, yang diperjaungkan dan menemukan momentumnya pada tahun 1928. Pada saat itulah lagu Indonesia Raya dikumandangkan, yang kemudian menjadi lagu kebangsaan Indonesia. Pada bait pertama lagu itu tercantum “…Tanah tumpah darahku//Di sanalah aku berdiri…” yang dapat dibaca bahwa pada saat lagu ini digubah, konsep negara dan bangsa masih dalam harapan dan cita-cita.

Hal tersebut diungkapkan oleh Prof. Dr. Faruk H.T., S.U. pada orasi ilmiah bertajuk “Krisis Nasionalisme: Sebuah Renungan Strategis” yang disampaikan dalam Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-71 Fakultas Ilmu Budaya UGM, Jumat (3/3). Pada tahun ini Fakultas Ilmu Budaya UGM merayakan hari lahirnya yang ke-71 dengan mengambil tema “Multikulturalisme sebagai Jati Diri Bangsa Indonesia untuk Kebhinekaan yang Harmonis”. Dalam rangka memeriahkan Dies Natalis ke-71 FIB UGM, serangkaian acara telah dilaksanakan sejak bulan Februari lalu, di antaranya adalah seminar, International Culture Festival (ICF), Hari Keluarga, pertandingan olah raga, anjangsana, dan diakhiri dengan Rapat Senat Terbuka.

Lebih jauh dalam orasi ilmiahnya, Prof. Faruk H.T., S.U mengungkapkan gagasan mengenai keindonesiaan pada sekitar tahun 1928 telah bergerak dari gerakan yang murni politik menuju gerakan kebudayaan. Seiring dengan semakin kuatnya tekanan politik pemerintah kolonial Belanda waktu itu, maka semakin kuat pula gerakan keindonesiaan yang bersifat kultural. Hal ini dibuktikan dengan munculnya kegiatan-kegiatan dan organisasi yang bersifat kultural, seperti terbitnya majalah Pujangga Baru, terbentuknya Persagi (Persatuan Ahli Gambar Indonesia), dan terjadinya polemik kebudayaan. Pada akhirnya, apa yang dinamakan nasionalisme telah mengalami pasang surut seiring dengan perkembangan zaman dan konteks sejarah Indonesia.

Sementara itu dalam Laporan Kerja yang disampaikan saat Rapat Senat Terbuka, Dekan Fakultas Ilmu Budaya menyampaikan capaian-capaian kinerja dekanat FIB UGM yang merupakan keberlajutan dari program-program dekanat periode sebelumnya. Dalam ranah kelembagaan, FIB telah berhasil secara mulus merestrukturisasi jurusan dan program studi dalam departemen-departemen sesuai dengan arah kebijakan universitas. Dari sisi pengelolaan akademik, Dekan menyampaikan proporsi mahasiswa pascasarjana berdasarkan asal pendidikan mereka, yang didominasi oleh bidang ilmu tertentu, dalam hal ini Bahasa dan Sastra Inggris. “Untuk itu, ke depan kita harus memikirkan secara lebih strategis cara dan upaya agar para pendaftar dari Sastra Jawa, Sastra Indonesia, serta sastra dan baha lain tidak menjadi marjinal”, ujarnya.

Selain itu, Dekan juga menyampaikan bahwa dari sisi pengeloaan sumberdaya manusia (SDM), FIB mencatat kenaikan jumlah dosen bergelar doctor yang cukup signifikan. Pada periode 2012 – 2017 terdapat kenaikan jumlah dosen bergelar doktor dari 25,95% menjadi 43,14%, atau dari 34 orang menjadi 66 oraang. Sebaliknya, proporsi jumlah dosen bergelar master tercatat mengalami penurunan dari 64,12% menjadi 55,56%, meskipun secara kuantitatif jumlahnya masih sebesar 85 orang. “Dari jumlah tersebut, 32 orang sedang dalam proses studi S3,” tambahnya.

Sebagai penutup Rapat Senat Terbuka dalam rangka peringatan Dies Natalis ke-71 FIB UGM disuguhkan persembahan lagu-lagu yang dibawakan oleh Tim Paduan Suara Dosen, yang membawakan tiga buah lagu, yakni Goro-Gorone, sebuah lagu daerah Maluku, Plaisir D’Amour, sebuah lagu berbagasa Prancis, dan Sabda Alam. (Tim Humas FIB)

Kebhinnekaan Yang Harmonis Dalam Multikulturalisme Dies Ke-71 Tahun Fakultas Ilmu Budaya UGM

HEADLINENews Release Jumat, 17 Februari 2017

“Multikulturalisme sebagai Jati Diri Bangsa Indonesia untuk Kebhinnekaan yang Harmonis” menjadi tema dalam Dies Natalis ke-71 Fakultas Ilmu Budaya UGM. Tema tersebut diangkat sebagai bentuk kepedulian dan respons Fakultas Ilmu Budaya terhadap perkembangan kondisi kehidupan bangsa dan negara Indonesia yang dewasa ini semakin memprihatinkan dan mengkhawatirkan. Hiruk-pikuk politik pemilihan kepala daerah yang diselenggarakan serentak di seluruh pelosok negeri ternyata diikuti oleh menguatnya sentimen primordial-keagamaan dan merebaknya praktik-praktik intoleran, kekerasan, dan konflik horizontal yang utamanya bersumber pada egoisme dan kepentingan pribadi dan kelompok demi menggapai kepentingan politik sesaat.
Karena itu, Fakultas Ilmu Budaya memandang bahwa kondisi dan perkembangan tersebut harus disikapi dengan saksama karena bertentangan dengan semangat dan falsafah hidup bangsa yang secara historis sudah dilembagakan oleh para pendiri bangsa dalam Pancasila dan semboyan “Bhinneka Tunggal Ika”. Selain itu, sebagai salah satu lembaga pendidikan tinggi terkemuka di Indonesia dalam bidang kajian kebudayaan dan ilmu-ilmu humaniora, FIB bermaksud menegaskan kembali posisinya sebagai penjaga warisan sejarah dan kebudayaan bangsa serta pemberi suara kebijakan bagi masyarakat luas. FIB juga ingin kembali mengingatkan bahwa keindonesiaan yang dimiliki bangsa ini sejatinya dibangun berlandaskan pada prinsip-prinsip kesetaraan, keadilan, dan penghormatan atas segala bentuk kebhinnekaan yang dimiliki anak bangsa sehingga harus terus dipelihara dan dijaga keberlangsungannya.
Dalam memperingati hari jadinya ini FIB mengajak semua komponen bangsa untuk merenungi dan menginsyafi kembali bahwa keragaman budaya, etnik, agama, ideologi, dan sebagainya merupakan bagian tidak terpisahkan dari jati diri bangsa Indonesia. Keragaman tersebut merupakan faktor-faktor utama yang secara historis telah membentuk keindonesiaan. Selain itu, FIB juga mengingatkan segenap anak bangsa tentang pentingnya upaya untuk merawat dan menjaga kebhinnekaan tersebut sebagai sebuah kekayaan bangsa serta menjadikannya sebagai sumber kekuatan kohesif bangsa dalam menghadapi tantangan zaman sehingga bisa menjadikan Indonesia sebagai sebuah negara bangsa yang bermartabat dan diperhitungkan oleh dunia internasional.
Untuk itulah, dua kegiatan utama digagas dalam Dies Natalis ke-71 FIB UGM kali ini, yakni:
1. Festival Budaya Internasional (International Culture Festival).
Festival ini akan diselenggarakan pada 1 Maret 2017 di Gedung PKKH UGM. Kegiatan yang tahun lalu juga menuai sukses ini rencananya akan dimeriahkan oleh penampilan atraksi seni dan budaya serta tradisi kuliner dari berbagai wilayah di Indonesia dan dari negara-negara sahabat yang tersebar di seluruh penjuru dunia.
2. Rapat Senat Terbuka
Kegiatan ini akan dilaksanakan bertepatan dengan hari jadi FIB, yakni pada 3 Maret 2017 dan merupakan puncak dari rangkaian kegiatan Dies Natalis FIB UGM tahun ini. Dalam rapat ini Dekan Fakultas Ilmu Budaya akan menyampaikan laporan tahunan. Selain itu, Pidato Ilmiah yang bertemakan “Multikulturalisme” akan disusun dan disampaikan oleh tiga Guru Besar Fakultas Ilmu Budaya UGM dari tiga bidang ilmu di FIB, yakni Prof. Dr. Heddy Shri Ahimsa Putra, M.A., M.Phil. (Antropologi), Prof. Faruk (Sastra), serta Prof. Dr. Bambang Purwanto, M.A. (Sejarah). Tidak lupa, pada akhir acara, kelompok paduan suara dosen dan karyawan FIB akan menampilkan tiga lagu dalam tiga bahasa: Prancis, Indonesia, dan lagu daerah Maluku.
Selain dua kegiatan utama tersebut, Dies Natalis ke-71 FIB UGM juga mengagendakan beberapa kegiatan lain yang sudah menjadi tradisi, di antaranya adalah:
1. Hari Keluarga yang akan dilaksanakan pada tanggal 26 Februari 2017
2. Olahraga yang akan dilaksanakan tanggal 18 dan 26 Februari 2017
3. Donor Darah yang akan dilaksanakan pada tanggal 20 dan 21 Februari 2017
4. Anjangsana Sesepuh FIB yang akan dilaksanakan pada tanggal 24 Februari 2017

1…132133134135136…150

Rilis Berita

  • FIB UGM Gelar Syukuran atas Keberhasilan Akreditasi Internasional ACQUIN
  • Menembus Jurnal Bereputasi Global: Dr. Anna M. Gade Tekankan Integrasi Realitas dalam Riset Sastra Arab
  • Mahasiswa Sastra Arab UGM Menyelami Dunia Kerja di Kementerian Agama Kabupaten Sleman
  • Penyaluran Dana Bantuan dari Masjid Jogokariyan Untuk 18 Mahasiswa FIB UGM yang Terdampak Bencana Banjir Sumatera
  • Pisah Sambut Pejabat Fakultas Ilmu Budaya

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju