Jadwal bisa teman-teman unduh pada link di bawah ini :
Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM melaksanakan kegiatan Pendiidkan dan Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) pada Selasa, 7 Januari 2026 di SMA Budi Utomo Perak, Kabupaten Jombang, Jawa Timur. Kegiatan ini merupakan kolaborasi bersama SMA Budi Utomo Perak dalam rangkaian acara kejepangan Festival NIKKI: Nihon Chishiki (Pengetahuan Jepang) yang diselenggarakan oleh pihak sekolah. Festival NIKKI mengusung tema “Menggali Wawasan: Filosofi Jepang dan Peluang Karier Global” dengan tujuan memperkenalkan berbagai aspek budaya Jepang sekaligus membuka wawasan siswa mengenai studi dan peluang karier yang berkaitan dengan Jepang. Melalui kegiatan ini, dosen dan mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM berpartisipasi sebagai narasumber dalam rangkaian kegiatan akademik dan edukatif.
Kegiatan berlangsung selama satu hari penuh dengan beragam sesi yang disusun secara interaktif. Tim dosen menyampaikan materi mengenai nilai-nilai budaya Jepang, di antaranya konsep omotenashi sebagai bentuk pelayanan sepenuh hati, konsep honne dan tatemae dalam komunikasi masyarakat Jepang, pengenalan budaya populer Jepang dalam kehidupan sehari-hari, serta pemaparan mengenai peluang kerja dan budaya kerja di Jepang. Seluruh materi disampaikan secara komunikatif dan dikaitkan dengan realitas yang dekat dengan kehidupan siswa.
Selain pemaparan materi oleh dosen, tim mahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang turut berpartisipasi aktif dengan mengunjungi kelas pembelajaran bahasa Jepang. Pada sesi ini, mahasiswa berbagi pengalaman mengenai proses pembelajaran bahasa Jepang, dunia perkuliahan, serta kehidupan mahasiswa, sehingga siswa memperoleh gambaran langsung mengenai studi di perguruan tinggi. Rangkaian kegiatan ditutup dengan penampilan seni pertunjukan Jepang oleh tim mahasiswa, yang menampilkan tarian tradisional dan modern Jepang. Penampilan tersebut menambah kemeriahan acara dan mendapat sambutan hangat dari para peserta.
Kegiatan kolaborasi ini berjalan dengan lancar dan meriah, serta mendapat respons positif dari para siswa, guru, maupun pihak yayasan SMA Budi Utomo. Antusiasme peserta terlihat dari keaktifan mereka dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Melalui kegiatan ini, diharapkan minat dan ketertarikan siswa terhadap bahasa, budaya, dan Jepang secara umum semakin meningkat, serta dapat menjadi motivasi untuk mempelajarinya lebih lanjut di masa mendatang. Kegiatan kolaborasi ini diwacanakan akan diselenggarakan secara rutin dalam lingkup yang lebih luas.
Penulis: Barra Taura N.
Editor: Stedi Wardoyo
SMAN 1 Bantul menyelenggarakan kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair pada Kamis (22/01/2026). Kegiatan ini bertujuan untuk memberikan motivasi serta informasi lanjutan pendidikan kepada para siswa, khususnya peserta didik tingkat akhir, agar memiliki gambaran yang lebih luas mengenai dunia perguruan tinggi dan pilihan program studi.
Dalam kegiatan tersebut, dua mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa angkatan 2025, Universitas Gadjah Mada (UGM), yang juga merupakan alumni SMAN 1 Bantul, yakni Nurul Fajri Rahmani dan Tri Wulandari, turut berpartisipasi sebagai pemateri. Kehadiran mereka dimanfaatkan untuk berbagi pengalaman akademik sekaligus mengenalkan berbagai program studi yang ada di Universitas Gadjah Mada kepada para siswa.
Berdasarkan wawancara daring dengan Nurul Fajri Rahmani pada Jumat (23/01/2026), disampaikan bahwa materi yang diberikan berfokus pada pengenalan rumpun sastra dan budaya, khususnya Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Selain itu, Fajri juga membagikan pengalamannya dalam menempuh perjalanan menuju perguruan tinggi melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) dan Seleksi Nasional Berdasarkan Tes (SNBT).
Fajri mengungkapkan bahwa tantangan utama dalam kegiatan tersebut adalah masih rendahnya minat siswa terhadap rumpun Sastra dan Budaya. “Karenanya, kami berusaha menjelaskan sebaik baik mungkin tentang prospek kerja, potensi keilmuan, serta berbagai keuntungan dan pengalaman menarik yang dapat diperoleh selama menempuh pendidikan di rumpun sastra budaya” terangnya. Penjelasan tersebut diharapkan mampu membuka wawasan dan mengubah pandangan siswa terhadap studi sastra dan budaya.
Bagi Fajri, keikutsertaannya dalam Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair menjadi pengalaman yang sangat berkesan. Selain dapat kembali ke almamater dan bertemu dengan teman-teman seangkatan, dirinya juga berkesempatan untuk berbagi cerita dan informasi mengenai dunia perkuliahan. Ia berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan secara berkelanjutan guna membangkitkan minat dan semangat siswa-siswi dalam melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi.
Kegiatan Saba Tilik 6.0 X Saba Education Fair sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs), khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas melalui pemberian akses informasi pendidikan tinggi yang inklusif dan merata. Pemberian informasi ini membantu siswa dalam mengambil keputusan pendidikan secara lebih sadar dan terarah. Dalam cakupan yang lebih luas, kegiatan ini juga bersinggungan dengan SDGs 11 (Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan), yakni melalui peningkatan literasi dan wawasan komunitas pendidikan yang menjadi fondasi terbentuknya masyarakat yang berpengetahuan dan berkelanjutan. Kolaborasi antara sekolah menengah dan perguruan tinggi dalam kegiatan ini juga mencerminkan implementasi SDGs 17, yakni kemitraan untuk mencapai tujuan pembangunan berkelanjutan melalui sinergi antarlembaga pendidikan.
Penulis : Haryo Untoro
Editor : Haryo Untoro
Yogyakarta, 24 Januari 2026 – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) menjadi tuan rumah penyelenggaraan 2026 The 1st CAUGM Korean Festival, sebuah kegiatan budaya yang menghadirkan pengalaman langsung mengenal budaya Korea bagi masyarakat umum. Festival ini diselenggarakan pada Jumat (24/1) di Selasar Margono, FIB UGM, dan terbuka untuk siapa saja yang memiliki ketertarikan terhadap Korea.
Korean Festival 2026 merupakan kolaborasi antara mahasiswa Universitas Gadjah Mada dan Chung-Ang University (CAU), Korea Selatan. Kegiatan ini bertujuan mempererat hubungan budaya lintas negara sekaligus menjadi wadah pertukaran budaya antara Indonesia dan Korea melalui pendekatan yang edukatif dan menghibur.
Beragam program ditawarkan dalam festival ini, mulai dari Taste Korean Cuisines, yang memungkinkan pengunjung mencicipi makanan khas Korea dengan porsi terbatas, hingga booth cultural experience yang menghadirkan pengalaman budaya secara langsung. Pengunjung dapat mencoba Hanbok, pakaian tradisional Korea, serta mengenal alat musik tradisional Korea melalui booth interaktif yang disediakan.
Selain itu, acara ini juga dimeriahkan oleh penampilan spesial dari mahasiswa UGM dan CAU, serta kegiatan Random Play Dance yang terbuka bagi pengunjung dan menjadi daya tarik tersendiri, khususnya bagi pencinta budaya pop Korea. Seluruh rangkaian acara dimulai pukul 10.00 WIB, dengan sistem kehadiran yang terbuka tanpa kewajiban registrasi bagi peserta.
Penyelenggaraan Korean Festival 2026 sejalan dengan upaya pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDGs 4 tentang pendidikan berkualitas melalui penyediaan ruang pembelajaran lintas budaya di luar kelas, serta SDGs 17 tentang kemitraan untuk mencapai tujuan melalui kolaborasi internasional antara institusi pendidikan Indonesia dan Korea Selatan. Festival ini juga mencerminkan semangat SDGs 11, yaitu membangun komunitas yang inklusif dengan menyediakan ruang publik yang aman dan terbuka untuk interaksi budaya.
Melalui Korean Festival 2026, FIB UGM menegaskan komitmennya sebagai ruang akademik yang mendukung diplomasi budaya, pertukaran global, serta penguatan pemahaman lintas budaya di kalangan mahasiswa dan masyarakat luas.
[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]






