Workshop internasional “Commodity, Plantation and Colonialism in Indonesia: Current Research in Social, Economic and Architectural History” diselenggarakan pada 23–24 Juli 2026 di Pavillon 333, Architekturmuseum der Technische Universität München (TUM), Jerman. Workshop ini merupakan bagian dari rangkaian pameran “Nge-Téh / Tea Time: Architectures of Colonial Commodity Chain from Indonesia to Germany, 19th Century”, yang berlangsung pada 23–26 Juli 2026.Workshop ono mempertemukan akademisi dari berbagai disiplin ilmu yang terlibat dalam sejarah komoditas, perkebunan dan kolonialisme. Kegiatan ini bertujuan untuk mendorong dialog mencangkup sejarah arsitektur, sosial, ekonomi, budaya dari sisi historis, selama periode awal modern hingga kontemporer yang membentuk rantau komoditas teh dari Indonesia menuju Eropa. Melalui perspektif interdisipliner, workshop mengeksplorasi bagaimana sistem perkebunan kolonial tidak hanya membentuk lanskap fisik, tetapi juga menciptakan relasi sosial, ekonomi, dan budaya yang pengaruhnya masih terasa hingga saat ini.
Lokakarya ini diselenggarakan bersamaan dengan kunjungan Prof. Dr. Pujo Semedi yang dikenal sebagai Antropolog yang Menyejarah. Beliau didaulat untuk menjadi Keynote Speaker dan bercerita mengenai Perkebunan di Indonesia periode 1870-2020. Kontribusi beliau terhadap pengembangan ilmu pengetahuan menjadi contoh baik bagi para pembelajar. Melalui penelitian yang berakar pada pengalaman masyarakat lokal, pengetahuan mengenai sejarah kolonial Indonesia dapat diperkaya sekaligus diperkenalkan kepada publik internasional sebagai bagian dari upaya membangun pemahaman yang lebih inklusif terhadap sejarah global.
Selain sesi diskusi diadakan juga pameran Nge-Téh / Tea Time. Pameran itu mengangkat perjalanan teh sebagai komoditas kolonial, mulai dari perkebunan di Jawa Barat, proses pengolahan, distribusi melalui Batavia dan Hamburg, hingga konsumsi masyarakat di Jerman. Beragam arsip sejarah, foto, artefak perdagangan teh, karya seni keramik, serta film dokumenter dipamerkan untuk memperlihatkan keterkaitan Indonesia dengan jaringan perdagangan global. Pameran ini juga menegaskan bahwa meskipun Indonesia tidak pernah menjadi koloni Jerman, hubungan perdagangan teh menjadikan kedua wilayah terhubung dalam sistem ekonomi kolonial dunia.
Workshop ini menjadi ruang penting untuk memperkuat kolaborasi internasional dalam kajian sejarah kolonial, antropologi, arsitektur, dan studi kawasan Asia Tenggara. Diskusi yang berkembang tidak hanya menyoroti masa lalu kolonial, tetapi juga mendorong refleksi kritis mengenai keberlanjutan, keadilan historis, serta pentingnya menghadirkan perspektif masyarakat lokal dalam memahami sejarah komoditas global.
Penulis: Dewi Widyastuti
Dokumentasi: Prof. Pujo Semedi
