Yogyakarta, 13 Januari 2026 – Galuh Febri Putra menjalani Sidang Terbuka Promosi Doktor di Fakultas Ilmu Budaya UGM. Dalam sidang tersebut, Galuh mempertahankan disertasi berjudul Narasi Seks dalam Novel-Novel Motinggo Busye Tahun 1967—1969: Kajian Estetisasi Politik yang mengkaji sastra sebagai medium kritik terhadap kekuasaan pada masa Orde Baru.
Disertasi ini menelaah karya-karya Motinggo Busye yang terbit pada periode awal Orde Baru, yakni Tante Maryati (1967), Perempuan Paris (1968), dan Cross Mama (1969). Penelitian berangkat dari konteks politik Indonesia dekade 1960-an, ketika negara memberlakukan kontrol ketat terhadap kebebasan berekspresi, termasuk dalam sastra dan media, demi menopang stabilitas politik dan ekonomi.
Galuh memaparkan bahwa narasi seks dalam karya-karya Motinggo Busye tidak berhenti pada fungsi hiburan. Seks justru digunakan sebagai strategi estetik untuk mengganggu pola sastra arus utama yang cenderung repetitif dan selaras dengan ideologi dominan. “Narasi seks dalam novel-novel Motinggo Busye digunakan sebagai bentuk perlawanan terhadap sistem politik Orde Baru dan sebagai sarana membangkitkan kesadaran sosial pembaca,” ujar Galuh dalam sidang tersebut.
Penelitian ini merumuskan tiga fokus utama, yakni posisi narasi seks sebagai intervensi terhadap politik bercerita Orde Baru, efek auratik yang ditimbulkannya dalam membangun kesadaran kelas, serta peran narasi tersebut dalam menciptakan deotomatisasi terhadap repetisi sastra erotis pada masa itu. Galuh menempatkan teori estetisasi politik untuk menjelaskan bagaimana sastra dapat kehilangan daya kritis ketika terjebak dalam produksi massal tanpa muatan sosial.
Dalam analisisnya, Galuh menunjukkan bahwa Motinggo Busye menyisipkan kritik terhadap patriarki, kapitalisme, dan otoritarianisme melalui penggambaran seksualitas tokoh. Seks diposisikan sebagai simbol ketegangan sosial dan konflik kelas, sekaligus medium untuk menantang kontrol negara atas tubuh dan moralitas. Pendekatan ini membuat karya-karya Busye berbeda dari sastra erotis sezamannya yang umumnya mengedepankan sensasi tanpa refleksi sosial.
Hasil penelitian juga menegaskan relevansi kajian sastra dalam membaca dinamika sosial-politik Indonesia. Dengan memberikan manfaat teoretis bagi pengembangan kajian sosiologi sastra dan estetisasi politik, disertasi ini diharapkan menjadi rujukan bagi peneliti dan sastrawan untuk melihat sastra sebagai ruang kritik yang produktif.
Sidang terbuka ini menutup rangkaian promosi doktor dengan penegasan bahwa kajian sastra tidak terlepas dari upaya membangun kesadaran kritis masyarakat. Melalui pembacaan ulang karya sastra masa lalu, ruang akademik turut berkontribusi menjaga ingatan kolektif, mendorong kebebasan berpikir, dan menumbuhkan praktik kebudayaan yang lebih adil dan berkelanjutan bagi kehidupan sosial ke depan.
[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

