• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 5: Kesetaraan Gender
Arsip:

SDGs 5: Kesetaraan Gender

UGM melalui AAS–CHSS Perkuat Kapasitas Young Scholars dari Wilayah Pascakonflik Indonesia

Rilis Berita Jumat, 30 Oktober 2026

Yogyakarta, Jumat, 23 Oktober 2026 — Universitas Gadjah Mada (UGM) telah menuntaskan program capacity building penulisan akademik selama lima hari bagi para peneliti muda dari berbagai negara di Asia Tenggara dan Asia-Pasifik. Berlangsung pada 19–23 Oktober 2026 di kampus UGM, Yogyakarta, Indonesia, program ini menjadi ruang pengembangan kapasitas bagi peneliti muda, termasuk peserta dari wilayah pascakonflik di Indonesia, yakni Aceh, Ambon, Poso, dan Papua.

Program ini didukung oleh Swedish International Development Cooperation Agency (Sida) melalui Association for Asian Studies (AAS) dalam payung CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia). Kegiatan ini bertujuan memperkuat kapasitas akademik serta memperluas #equalopportunities bagi peneliti muda dari komunitas yang kurang terwakili, memastikan bahwa para sarjana dari wilayah marginal dan pascakonflik memperoleh dukungan yang mereka butuhkan untuk berkembang di ruang akademik internasional.

Kehadiran peserta dari Aceh, yakni Raihal Fajri dan Rachmad Setiawan, Ambon yakni Febby Winda Pelupessy dan Salmawati Rumada, Poso yakni Dwi Preti Natalia Tara’u dan Mariano Ombo, serta Papua yakni Marlon Arthur Huwae dan Rina Kurana Awom, menjadi penting dalam memperluas perspektif penelitian mengenai perdamaian, rekonsiliasi, hak asasi manusia, dan pembangunan pascakonflik. Keterlibatan mereka memperkaya program dengan menghadirkan pengalaman nyata #conflictresolution ke dalam dialog akademik.

Melalui lokakarya penulisan dan pertukaran pengetahuan, program ini diharapkan dapat mendorong lahirnya karya akademik yang mengangkat pengalaman lokal sekaligus memperkuat kontribusi peneliti Indonesia dalam diskursus perdamaian di tingkat regional. Para peserta mendapatkan pendampingan dalam mengembangkan artikel penelitian, mempertajam argumen, serta memosisikan pengetahuan lokal mereka dalam perdebatan akademik yang lebih luas mengenai #conflicts dan upaya penyelesaiannya.

Program AAS–CHSS di UGM juga menjadi bagian dari upaya membangun jejaring akademik lintas wilayah dan negara yang lebih inklusif, sekaligus membuka ruang bagi pengalaman masyarakat pascakonflik untuk berkontribusi dalam pengembangan ilmu humaniora dan ilmu sosial. Inisiatif ini secara langsung mendorong prinsip #educationforsustainability dengan menanamkan pembangunan kapasitas jangka panjang dalam praktik keilmuan.

Penyelenggara menegaskan bahwa #equalaccess terhadap pelatihan akademik masih menjadi tantangan yang dialami para sarjana dari wilayah pascakonflik, yang kerap menghadapi keterbatasan sumber daya institusional, isolasi geografis, dan dampak berkepanjangan dari kekerasan. Program ini dirancang untuk menghapus hambatan tersebut melalui partisipasi yang didukung penuh dan pendampingan yang disesuaikan, sehingga tidak ada sarjana yang tertinggal.

Lebih dari sekadar pengembangan keterampilan individu, pertemuan ini membangun solidaritas antarpeserta dari beragam latar belakang, menciptakan komunitas peneliti muda yang berkomitmen terhadap #equality dalam produksi pengetahuan. Penyelenggara mencatat bahwa kesetaraan sejati dalam dunia akademik tidak hanya menuntut representasi, tetapi juga redistribusi kesempatan dan sumber daya secara aktif kepada mereka yang selama ini tersingkir dari jejaring akademik arus utama.

Program ini juga menegaskan keterkaitan antara kebebasan akademik dan perdamaian yang berkelanjutan. Dengan membekali peneliti muda kemampuan untuk mendokumentasikan, menganalisis, dan mengomunikasikan realitas komunitas mereka, inisiatif ini berkontribusi pada tujuan #educationforsustainability, mendorong lahirnya riset yang menginformasikan kebijakan, upaya rekonsiliasi, dan pembangunan sosial jangka panjang di masyarakat pascakonflik.

Para peserta menyampaikan bahwa pertukaran pengetahuan lintas batas negara dan kawasan telah memperdalam pemahaman mereka tentang tantangan bersama dan beragam pendekatan dalam membangun perdamaian. Dialog lintas kawasan memungkinkan para sarjana dari Aceh, Ambon, Poso, dan Papua menghubungkan pengalaman lokal mereka dengan rekan-rekan dari negara lain di Asia Tenggara dan Asia-Pasifik, memperkuat komitmen kolektif terhadap #conflictresolution yang berlandaskan bukti dan empati.

Ke depan, UGM dan para mitra berencana menjaga keberlanjutan program melalui pendampingan lanjutan, dukungan publikasi, dan jejaring alumni. Universitas menegaskan kembali komitmennya untuk memajukan #equalopportunities dan #equalaccess dalam pendidikan tinggi, menjadikan program AAS–CHSS sebagai model bagaimana institusi akademik dapat secara bermakna mendukung sarjana yang kurang terwakili serta berkontribusi bagi masyarakat yang damai, inklusif, dan berkelanjutan.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

UGM dan SHAPE-SEA Mahidol University Thailand Berkolaborasi dalam Capacity Building Young Scholars di Southeast Asia

Rilis Berita Jumat, 30 Oktober 2026

Yogyakarta, Universitas Gadjah Mada, Indonesia — Jumat, 23 Oktober 2026 — Universitas Gadjah Mada (UGM) berkolaborasi dengan SHAPE-SEA (Strengthening Human Rights and Peace Research and Education in ASEAN) dari Mahidol University, Thailand, menyelenggarakan program Capacity Building pada 19–23 Oktober 2026. Program ini berfokus pada peningkatan kemampuan menulis akademik bagi young scholars dari lima negara, yakni Indonesia, Filipina, Myanmar, Thailand, dan Papua New Guinea.

Program ini didukung oleh SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency) dan AAS dalam payung program CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia). Inisiatif ini mencerminkan komitmen kuat untuk memajukan education dan education for sustainability di kawasan Asia Tenggara, khususnya bagi para akademisi dari komunitas yang kurang terwakili.

SHAPE-SEA, yang juga merupakan HUB dari SIDA-AAS untuk Thailand, berperan sentral dalam kolaborasi ini. Sebagai organisasi yang berdedikasi pada penelitian hak asasi manusia dan perdamaian, keterlibatan SHAPE-SEA menegaskan pentingnya education in developing countries sebagai fondasi stabilitas kawasan dan kemajuan sosial.

Melalui program ini, SHAPE-SEA mengirimkan beberapa young scholars untuk mengikuti workshop penulisan, yaitu Casey Anne Cruz, Lailia Dhiah Indriani, Su Pan Htwar, dan Jarukit Kanokjaros. Para scholar ini membawa beragam topik riset, terutama yang berfokus pada isu peacebuilding, yang berkaitan erat dengan conflict resolution dan pencegahan conflicts di kawasan.

Selain para scholars, SHAPE-SEA juga mengirimkan dua pendamping, yakni Dr. Bidyalaxmi Salam dan Muhammad Diaz Kurniawan. Keduanya terlibat aktif dalam kegiatan survey terkait Theory of Change serta berbagai diskusi networking yang bertujuan memperkuat kerja sama akademik regional dan mendorong equality di antara para akademisi dari berbagai latar belakang.

Selama program lima hari ini, para peserta mendapatkan pendampingan intensif mengenai penulisan akademik, strategi publikasi, dan metodologi penelitian. Para mentor menekankan bahwa akses yang setara terhadap education merupakan elemen fundamental dalam mewujudkan equality, terutama bagi akademisi yang berasal dari wilayah terdampak konflik atau terpinggirkan di Asia Tenggara.

Pada kesempatan ini, SHAPE-SEA juga membagikan publikasi akademik hasil penelitian para scholars mereka kepada para peserta yang berasal dari wilayah-wilayah lain di Asia Tenggara, termasuk dari Indonesia. Sesi berbagi pengetahuan ini dirancang untuk membangun jembatan antara para peneliti dan mendorong kolaborasi lintas negara dalam menghadapi tantangan regional.

Tema-tema yang diangkat para peserta menyoroti bagaimana education in developing countries berperan penting dalam conflict resolution. Beberapa makalah membahas bagaimana program pendidikan berbasis komunitas dapat menjadi alat yang efektif untuk peacebuilding, membantu masyarakat pulih dari conflicts dan mencegah kekerasan di masa depan melalui dialog dan pemahaman bersama.

Program ini juga menekankan pentingnya education for sustainability, mendorong para young scholars untuk merancang riset yang tidak hanya berkontribusi pada ilmu pengetahuan, tetapi juga mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Education berkualitas, SDG 5 tentang Equality gender, dan SDG 16 tentang Peace, Justice, and Strong Institutions.

Para penyelenggara berharap program Capacity Building ini dapat menjadi tradisi tahunan yang memperkuat jejaring young scholars di Asia Tenggara. Dengan berinvestasi dalam education dan memberdayakan akademisi yang kurang terwakili, UGM dan SHAPE-SEA percaya bahwa dunia akademik dapat berkontribusi secara bermakna terhadap equality, pembangunan berkelanjutan, dan conflict resolution yang berkelanjutan di seluruh kawasan.

Kontributor: Jusma & Nada, 2026

Peneliti Muda ASEAN dan Pasifik Ulas Kompleksitas Perdamaian Ambon di UGM-CHSS Writing Workshop

Rilis Berita Rabu, 28 Oktober 2026

Dua dekade setelah konflik kemanusiaan melanda Ambon, Maluku, bayang-bayang trauma masa lalu ternyata masih diwariskan kepada generasi muda yang bahkan tidak pernah menyaksikan langsung peristiwa tersebut. Fakta antropologis ini mengemuka dalam pemaparan akademis bertajuk “In Indonesia? The Messiness of Actual Peace Processes” oleh peneliti Geger Riyanto. Presentasi kritis tersebut disampaikan dalam rangkaian UGM-CHSS Academic Writing Workshop Batch pertama tahun 2026 yang berlangsung di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), Yogyakarta.

Workshop internasional ini merupakan inisiatif di bawah payung CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia) Project. Program penguatan kapasitas (capacity building) ini didanai oleh SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency) dan dimandatkan oleh AAS (Association for Asian Studies) kepada UGM selama tiga tahun (2026–2028). Di bawah pimpinan Profesor Wening Udasmoro selaku Hub Lead, proyek ini berfokus memberdayakan akademisi serta dosen muda yang mengkaji isu konflik dan perdamaian, atau mereka yang berasal dari wilayah pascakonflik (post-conflict) di Asia Tenggara dan Pasifik, termasuk Thailand, Myanmar, Filipina, dan Papua New Guinea.

Dengan mengangkat tema sentral “Self Narration: Centralizing the Periphery”, forum ilmiah UGM-CHSS ini mendorong para peneliti untuk memusatkan perhatian pada suara-suara dari pinggiran yang selama ini kurang terwakili dalam wacana lokal maupun global. Salah satu kajian pinggiran yang dibedah secara mendalam adalah dinamika sosiologis di Ambon pascakonflik.

Dalam paparannya, Geger Riyanto menyoroti bahwa perdamaian di lapangan kerap kali berjalan rumit dan tidak linier. Proses resolusi di berbagai wilayah pascakonflik Indonesia—seperti Maluku Utara, Maluku, Aceh, Poso, dan Kalimantan Barat—melibatkan strategi penunjukan provokator luar sebagai kambing hitam, berbagi kekuasaan politik lokal (power-sharing), integrasi ekonomi mantan kombatan, hingga kerja sukarela kolektif untuk membangun kembali ruang sosial masyarakat.

Secara khusus di Ambon, riset memotret lanskap kota secara spasial yang masih terbelah berdasarkan identitas agama, di mana masjid dan gereja menjadi penanda visual dari memori kekerasan massal. Dampak pembelahan ini secara nyata terwariskan pada generasi baru yang tumbuh pascakonflik. Merujuk pada survei tahun 2019 terhadap 450 siswa SMA di Ambon yang tidak mengalami konflik secara langsung, ditemukan data bahwa 89 persen siswa telah mendengar cerita konflik dengan narasi yang dirancang untuk memproteksi diri mereka. Akibat dari transmisi ingatan kolektif ini, 50 persen siswa setuju untuk tinggal di area dengan agama mayoritas yang sama. Ketakutan psikologis yang mendalam bahkan membuat sebagian anak merasa cemas saat mendengar suara adzan dari masjid. Warisan trauma keluarga ini turut melanggengkan stereotip tajam, seperti anggapan di sebagian keluarga Kristen bahwa “Muslim tidak bisa dipercaya”, yang juga disuarakan sebaliknya oleh komunitas Muslim terhadap umat Kristen.

Realitas di akar rumput Ambon ini menjadi landasan kuat dalam forum UGM-CHSS untuk mengkritik konsep perdamaian arus utama, yakni “Liberal Peace” yang kerap didorong lembaga internasional melalui skema top-down (demokratisasi, penegakan hukum, dan kapitalisme pasar bebas). Pendekatan barat tersebut dinilai sering bermutasi dan gagal di tingkat tapak karena mengabaikan keadilan restoratif lokal. Sebaliknya, melalui sudut pandang “Peace from Below” yang merujuk pada pemikiran Johan Galtung, perdamaian diposisikan bukan sebagai formasi sosial yang statis, melainkan sebuah proses dinamis yang digerakkan oleh agensi dan aksi kreatif masyarakat lokal sendiri.

Melalui UGM-CHSS Writing Workshop ini, artikel-artikel riset kritis seperti dinamika perdamaian di Ambon akan dimatangkan hingga menembus publikasi jurnal nasional maupun internasional. Langkah ini sekaligus menyokong tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), terutama dalam memberikan akses akademik yang setara (equal access) serta wadah jejaring regional bagi para peneliti muda Asia guna menyuarakan perspektif lokal di panggung global.

 

Penulis: Humas FIB, Zaidan Abdurrahman

Para Peneliti dan Aktivis Muda dari Berbagai Negara ASEAN dan Wilayah Pascakonflik Indonesia Mengikuti Writing & Capacity Building Workshop di UGM-CHSS

Rilis Berita Senin, 26 Oktober 2026

Yogyakarta, Indonesia – Selasa, 20 Oktober 2026

Para peneliti muda dari berbagai negara di Asia Tenggara dan wilayah Pasifik mengikuti UGM-CHSS Writing Workshop yang diselenggarakan di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta. Para peserta yang hadir berasal dari Thailand, Myanmar, Filipina, dan Papua New Guinea. Kegiatan ini merupakan bagian dari upaya capacity building atau penguatan kapasitas bagi para akademisi muda yang meneliti isu-isu konflik dan perdamaian.

UGM-CHSS Writing Workshop merupakan sebuah inisiatif di bawah payung CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia) Project yang didanai oleh SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency) dan dimandatkan oleh AAS (Association for Asian Studies) kepada Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia.

Koordinator (Hub Lead) dari Universitas Gadjah Mada adalah Profesor Wening Udasmoro, Guru Besar Gender dan Ilmu Sastra UGM, yang akan memimpin proyek dari SIDA-AAS ini. Proyek akan dilaksanakan selama tiga tahun, mulai tahun 2026 hingga 2028, dengan harapan mampu melahirkan generasi peneliti yang lebih inklusif dan representatif.

Isu pokok yang menjadi fokus pada Academic Writing Workshop UGM-CHSS ini adalah isu perdamaian. Para peserta yang diseleksi dari luar negeri berasal dari negara-negara Asia Tenggara dan Papua New Guinea. Mereka adalah para peneliti muda dan dosen-dosen muda yang meneliti tentang persoalan konflik dan perdamaian atau yang berasal dari wilayah-wilayah pasca konflik (post-conflict).

Tema sentral dari Workshop Batch pertama tahun 2026 ini adalah “Self Narration: Centralizing the Periphery”. Tema ini sengaja dimunculkan sebagai kesadaran bersama untuk penarasian (narration) bagi mereka yang seringkali terpinggirkan dalam wacana narasi, baik lokal maupun global. Melalui tema ini, para peserta didorong untuk memusatkan perhatian pada suara-suara dari pinggiran yang selama ini kurang terwakili.

Kehadiran workshop ini juga sejalan dengan tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs), khususnya dalam aspek pendidikan (education) dan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability). Dengan memberikan pelatihan penulisan akademik kepada para peneliti muda, program ini berkontribusi dalam menciptakan pendidikan berkualitas yang berkelanjutan bagi para akademisi di kawasan Asia Tenggara dan Pasifik.

Selain itu, workshop ini juga mendorong terwujudnya akses yang setara (equal access) terhadap kesempatan pengembangan akademik. Para peneliti dari negara berkembang atau wilayah yang terpinggirkan seringkali menghadapi hambatan dalam mengakses pelatihan, publikasi internasional, dan jejaring akademik global. Melalui inisiatif ini, kesenjangan akses tersebut berupaya dijembatani.

Pemberdayaan (empowerment) para peneliti muda menjadi inti dari program ini. Para peserta tidak hanya dibekali keterampilan menulis akademik, tetapi juga kepercayaan diri untuk menyuarakan penelitian mereka di panggung internasional. Para dosen muda dari wilayah pasca konflik, khususnya, diberikan ruang untuk mengembangkan potensi akademik mereka secara penuh.

Hasil luaran UGM-CHSS Writing Workshop ini adalah artikel-artikel yang akan dipublikasi baik di jurnal-jurnal internasional maupun nasional sesuai dengan kebutuhan para peserta. Publikasi ini diharapkan memperkuat khazanah keilmuan humaniora dan ilmu sosial mengenai isu perdamaian dari perspektif para peneliti di kawasan Asia.

Lebih dari sekadar arena menulis, forum ini diharapkan menciptakan ruang-ruang networking antar negara. Kolaborasi lintas negara yang terjalin diharapkan dapat berlanjut menjadi kerja sama penelitian jangka panjang, memperkuat solidaritas akademik regional, serta memastikan bahwa suara para peneliti muda dari kawasan Asia Tenggara dan Pasifik semakin terdengar dalam percakapan global tentang perdamaian dan kemanusiaan.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

UGM–CHSS Gelar Workshop Penguatan Kapasitas Akademik dan Penulisan Artikel Ilmiah untuk Isu Pascakonflik

Rilis Berita Senin, 26 Oktober 2026

Yogyakarta, Indonesia — Senin, 19 Oktober 2026

Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia Project) menyelenggarakan UGM–CHSS Writing and Academic Capacity Building Workshop: Inclusivity for Post-Conflict Issues & Areas pada 19–23 Oktober 2026. Workshop penulisan ilmiah ini merupakan bagian dari inisiatif AAS (Association for Asian Studies) yang didanai oleh SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency). Kegiatan ini mencerminkan komitmen bersama terhadap kesetaraan (equality) dalam pendidikan (education) serta prinsip akses yang setara (equal access) terhadap peluang akademik bagi para sarjana dari wilayah pascakonflik.

UGM mendapatkan grant dari AAS-SIDA selama 3 tahun (2026–2028) untuk kegiatan workshop ini sekaligus menjadi HUB yang mewakili Indonesia dengan mitra Asian Research Institute Universitas Indonesia. HUB lain berasal dari beberapa perguruan tinggi di Asia Tenggara dan Asia Selatan, antara lain Chiang Mai University (Thailand), Lahore University of Management Sciences (LUMS) di Lahore, Pakistan, Savitribai Phule Pune University di India, dan Universidade Nacional Timor Lorosa’e dari Timor-Leste. Jaringan ini mewujudkan semangat kesempatan yang setara (equal opportunities), memastikan para akademisi dari berbagai latar belakang yang sering terpinggirkan dapat berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari kolaborasi akademik internasional.

Selain itu, workshop ini juga didukung oleh SHAPE-SEA (Strengthening Human Rights and Peace Research and Education in ASEAN) yang juga merupakan grantee dari SIDA dalam kegiatan-kegiatan pembangunan perdamaian melalui travel grant dan riset. Kegiatan di Universitas Gadjah Mada ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas akademik dan keterampilan penulisan ilmiah, khususnya dalam mengkaji isu-isu pascakonflik secara inklusif. Pendekatan inklusif ini penting untuk menjamin akses yang setara (equal access) terhadap produksi pengetahuan bagi komunitas dan peneliti yang secara historis terpinggirkan oleh konflik.

Workshop dibuka pada Senin (19/10) di Ruang S.709, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Kerja Sama FIB UGM, Mimi Savitri, Ph.D. Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari narasumber CHSS untuk UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., yang menyampaikan materi mengenai Theory of Change yang menjelaskan pentingnya kegiatan workshop ini agar dapat bermanfaat secara konkret bagi para peserta workshop. Ia menekankan bahwa Theory of Change ini menjadi penting mengingat diversitas peserta yang hadir dari berbagai negara dan wilayah pascakonflik—sebuah keragaman yang menegaskan pentingnya kesetaraan (equality) pada setiap tahap program.

Para peserta antara lain hadir dari Thailand, Filipina, Papua New Guinea, dan Myanmar. Sementara itu, para peserta yang datang dari Indonesia berasal dari Papua, Poso, Ambon, Sampit, Aceh dan berbagai wilayah lain. Kehadiran para akademisi dari wilayah-wilayah tersebut mencerminkan upaya nyata untuk mendorong kesempatan yang setara (equal opportunities) bagi para akademisi yang mengkaji perdamaian dan rekonsiliasi dalam konteks yang sering kurang terwakili dalam kajian internasional, sehingga memajukan pendidikan (education) yang benar-benar inklusif.

Pada sesi pleno pertama, pembicara adalah Dr.phil. Geger Riyanto. Dr. Geger Riyanto adalah ahli peacebuilding yang banyak menulis artikel-artikel ilmiah di berbagai jurnal internasional mengenai isu tersebut. Ia membahas isu peacebuilding dengan moderator Dr. Wulan Tri Astuti, S.S., M.A. Sesi ini menjadi ruang diskusi mengenai pendekatan dan perspektif dalam memahami proses pembangunan perdamaian, terutama dalam konteks masyarakat pascakonflik, yakni Ambon, Poso, Aceh dan Sampit pasca Reformasi Indonesia 1998. Dialog ini menyoroti bagaimana pemberdayaan (empowerment) suara-suara lokal menjadi inti dari perdamaian yang berkelanjutan.

Materi berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A., yang mengulas penulisan artikel untuk jurnal bereputasi. Sesi ini memberikan wawasan mengenai pengembangan tulisan akademik agar memenuhi standar publikasi ilmiah, sekaligus menegaskan pentingnya pendidikan (education) dan pendampingan dalam membangun kepercayaan diri akademik para peneliti muda dari wilayah pascakonflik.

Pada sesi pleno ketiga, Theresia Dyah Wirastri, S.H., M.A., Ph.D., dan Dr. Mohamad Yusuf, M.A., membahas proses pengajuan artikel ilmiah dari perspektif editor internasional melalui topik Article Submission: International Editors’ Point of View. Sesi yang dimoderatori oleh Mubarika Dyah Fitri Nugraheni, S.Ant., M.A., ini membahas perspektif editorial dalam proses pengajuan artikel untuk publikasi internasional, membantu menciptakan kesempatan yang lebih merata dan memastikan akses yang setara (equal access) ke platform akademik global.

Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan sesi mentoring breakdown yang dipandu oleh Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., serta pengisian survei awal (pre-workshop survey) oleh peserta sebagai bagian dari persiapan program pendampingan. Struktur pendampingan ini dirancang untuk memberikan pemberdayaan (empowerment) yang berkelanjutan, sehingga para peserta dapat mentransformasikan riset mereka menjadi publikasi yang mampu memengaruhi kebijakan dan praktik pembangunan perdamaian di daerah asal mereka.

Kegiatan workshop UGM ini juga akan dilanjutkan dengan program-program lain yang akan dilaksanakan pada tahun depan, antara lain grant bagi selected participants untuk hadir di konferensi Association for Asian Studies di Malaysia pada 1–3 Juli 2027. Inisiatif semacam ini menegaskan kembali komitmen terhadap kesetaraan (equality) dan kesempatan yang setara (equal opportunities) dalam pertukaran akademik global, memastikan para akademisi dari wilayah pascakonflik dapat berbagi pengetahuan di panggung internasional dan berkontribusi pada pemahaman perdamaian dan pembangunan yang lebih inklusif.

Kontributor: Nada & Jusma, 2026

123…19

Rilis Berita

  • Book Party English Days 2026 Hadirkan Ruang Diskusi Fantasi yang Interaktif
  • KNB 26/27: Selamat Datang dan Semangat!
  • UGM melalui AAS–CHSS Perkuat Kapasitas Young Scholars dari Wilayah Pascakonflik Indonesia
  • UGM dan SHAPE-SEA Mahidol University Thailand Berkolaborasi dalam Capacity Building Young Scholars di Southeast Asia
  • Berawal dari Mata Kuliah Tradisi Lisan, Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ Menghidupkan Kembali Tradisi Gejog Lesung

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju