• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 10 Mengurangi Ketimpangan
Arsip:

SDGs 10 Mengurangi Ketimpangan

Unggunan Cerita: Di Balik Dapur Kreatif Mahfud Ikhwan

Rilis Berita Senin, 24 Agustus 2026

Yogyakarta — Malam di Pondok A. Salam, Kalimasada, menjadi lebih hangat ketika sesi Unggunan Cerita menghadirkan penulis Mahfud Ikhwan dalam rangkaian Kemah Sastra bersama Alam-Semesta 2026. Dalam suasana santai dan akrab, Mahfud berbagi cerita tentang perjalanan kepenulisan, proses kreatif, riset, kegemarannya pada budaya populer, hingga bagaimana ia memandang kritik sastra.

Sesi ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengintip “dapur kreatif” seorang penulis yang selama bertahun-tahun membangun karya melalui ketekunan, riset, dan kedekatan dengan kehidupan sehari-hari.

Mahfud mengawali perjalanan kepenulisannya melalui novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009). Namanya kemudian semakin dikenal melalui Kambing dan Hujan: Sebuah Roman (2015) dan Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017). Karya-karya tersebut memperlihatkan perhatian Mahfud pada kehidupan masyarakat, terutama dunia desa dan kelompok-kelompok yang kerap berada di pinggiran arus utama.

Dalam Unggunan Cerita, Mahfud berbicara cukup jauh mengenai proses kreatifnya. Ia mengungkapkan bahwa menulis sebuah novel bukan pekerjaan yang selalu dapat diselesaikan dalam hitungan bulan. Sebuah novel bahkan dapat dikerjakannya selama bertahun-tahun, hingga mencapai sembilan tahun untuk satu karya.

Menurut Mahfud, setiap novel membutuhkan treatment, cara kerja, metode, dan riset yang berbeda. Tidak ada satu resep yang dapat diterapkan untuk semua karya. Riset untuk menulis karya sastra pun, menurutnya, tidak dapat begitu saja disamakan dengan riset ilmiah. Semuanya bergantung pada jenis cerita, dunia yang hendak dibangun, serta apa yang ingin disampaikan melalui karya.

Ia kemudian menyinggung kebiasaan menulis Haruki Murakami sebagai salah satu contoh bagaimana seorang penulis dapat membangun disiplin kreatif melalui rutinitas. Murakami dikenal dengan kebiasaan berlari dan menulis secara teratur. Bagi Mahfud, contoh tersebut memperlihatkan bahwa proses kreatif juga membutuhkan kerja rutin dan ketekunan, bukan semata-mata menunggu datangnya inspirasi.

Salah satu gagasan menarik yang dibagikan Mahfud adalah nasihat agar penulis tidak selalu memulai cerita dari gagasan-gagasan besar atau grand narrative. Cerita, menurutnya, justru dapat tumbuh dari sesuatu yang tampak kecil: sebuah peristiwa, adegan, percakapan, atau dialog yang menarik.

Hal-hal kecil tersebut dapat menjadi pintu masuk ke dalam cerita yang lebih luas. Yang penting adalah bagaimana peristiwa atau adegan tersebut mampu membuat pembaca betah mengikuti cerita dan terus merasa penasaran.

Dengan cara demikian, penulis tidak perlu sejak awal memaksakan sebuah gagasan besar ke dalam cerita. Sebuah percakapan sederhana atau peristiwa yang tampaknya sepele dapat berkembang menjadi dunia cerita yang kompleks apabila digarap dengan tepat.

Pandangan tersebut juga tampak dalam cara Mahfud melihat kehidupan masyarakat di luar pusat kebudayaan. Ia akrab dengan apa yang disebutnya sebagai budaya dan hiburan rendah—wilayah kebudayaan populer yang sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan.

Kehidupan masyarakat dan dunia pinggiran, misalnya, justru menjadi bahan yang diolah Mahfud menjadi karya sastra. Salah satunya adalah Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu, yang mengangkat kehidupan masyarakat di sebuah wilayah pedesaan dan berhasil memperoleh penghargaan sastra bergengsi.


Kegemaran Mahfud terhadap budaya populer juga tidak berhenti sebagai konsumsi pribadi. Dangdut, film India, dan sepak bola menjadi bagian dari dunia yang kemudian masuk ke dalam karya-karyanya.

Ketertarikannya pada sepak bola, misalnya, melahirkan novel Bek: Sebuah Novel (2024). Sementara kecintaannya pada film India dituangkan dalam buku esai Aku dan Film India Melawan Dunia (2017). Kegemarannya terhadap dangdut dan berbagai fenomena budaya populer lainnya kemudian hadir dalam Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop Lainnya (2024).

Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa bahan sastra tidak harus selalu datang dari sesuatu yang dianggap “tinggi”. Kehidupan sehari-hari, hiburan populer, kebiasaan masyarakat, bahkan hal-hal yang kerap dianggap remeh dapat menjadi sumber kreativitas.

Bagi Mahfud, justru dari wilayah-wilayah semacam itulah cerita sering kali memiliki kedekatan dengan pengalaman manusia yang konkret.

Menjelang akhir sesi, pembicaraan bergeser pada persoalan kritik sastra. Mahfud menjelaskan bahwa kritik yang baik memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar memberikan penilaian atau mencari kelemahan sebuah karya.

Ia mengibaratkan kritik sastra seperti latihan menyanyi dan suara fals. Seorang penyanyi mungkin tidak menyadari bahwa ada nada tertentu yang dinyanyikannya kurang tepat. Demikian pula seorang pengarang tidak selalu mengetahui seluruh hal yang bekerja di dalam karyanya.

“Ada hal-hal tertentu yang bahkan penulis sendiri tidak tahu dan sadari.”

Karena itu, kritik sastra dapat membantu membuka kemungkinan-kemungkinan yang tidak terlihat oleh pengarang sendiri. Dengan perspektif, teori, dan metode yang tepat, kritik dapat menjadi cara untuk membaca karya secara lebih tajam dan produktif.

Kritik sastra, dalam pandangan Mahfud, tidak seharusnya berhenti pada apa yang belakangan kerap diasosiasikan dengan perdebatan di media sosial: sekadar “nyinyir”, saling serang, atau ribut-ribut tanpa pijakan yang jelas.

Mahfud sendiri pernah menulis kritik melalui bukunya Melihat Pengarang Tidak Bekerja (2022). Buku tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana ia mempraktikkan kritik dengan caranya sendiri: dekat dengan karya, tetapi tetap berusaha melihat proses dan persoalan kepengarangan secara kritis.

Sesi Unggunan Cerita akhirnya menjadi lebih dari sekadar percakapan tentang teknik menulis. Dari perjalanan panjang sebuah novel hingga kesukaan terhadap dangdut, film India, dan sepak bola, Mahfud menunjukkan bahwa dapur kreatif seorang penulis dapat berada di mana saja.

Cerita bisa tumbuh dari desa, dari pinggiran, dari lapangan sepak bola, dari layar film India, dari panggung dangdut, atau bahkan dari sebuah dialog kecil yang awalnya tampak tidak penting. Yang membedakan adalah bagaimana seorang penulis melihat, mengolah, meriset, dan memberinya bentuk.

Di bawah langit malam Kalimasada, Unggunan Cerita memperlihatkan bahwa sastra tidak selalu lahir dari gagasan-gagasan besar. Kadang-kadang, ia justru bermula dari hal kecil yang diperhatikan dengan sungguh-sungguh—lalu dikerjakan dengan sabar selama bertahun-tahun.

 

Penulis: Khotibul Umam

Menjaga Kemandirian dan Karakter Lewat Kemah Sastra 

Rilis Berita Jumat, 21 Agustus 2026

Yogyakarta— Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Kemah Sastra bersama Alam-Semesta 2026 di Pondok A. Salam, Kalimasada, pada Jumat (14/8) hingga Sabtu (15/8). Mengusung semangat pengabdian dan kebersamaan, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan para pegiat sastra sekaligus ruang untuk kembali merefleksikan posisi sastra dalam kehidupan.

Kemah Sastra berlangsung secara sederhana dan nonkomersial. BagiProf. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., Ketua Program Studi Magister Sastra UGM sekaligus fasilitator kegiatan ini, salah satu hal penting dari sastra, termasuk penyelenggaraan Kemah Sastra Magister Sastra FIB UGM di Pondok A. Salam, Kalimasada, adalah upaya menjaga kemandirian dan mempertahankan karakter manusia.

“Hal yang penting dari sastra, termasuk Kemah Sastra Magister Sastra FIB UGM di Pondok A. Salam, Kalimasada, adalah upaya menjaga kemandirian dan mempertahankan karakter. Peluang untuk tidak berhasil mungkin lebih besar.”

Menurut Aprinus, upaya tersebut tidak mudah. Dalam sejarahnya, sastra justru menempatkan diri secara elegan ketika berhadapan dengan kekuasaan politik dan ekonomi, termasuk dengan konstruksi sosial-budaya yang hierarkis dan asimetris.

“Secara adab dan estetik, sastra adalah upaya-upaya untuk terus menerus mengklarifikasi mana kehidupan yang terkontaminasi dan mana yang seharusnya diperjuangkan.”

Pandangan tersebut memberikan konteks yang lebih luas terhadap pelaksanaan Kemah Sastra yang digelar secara sederhana. Kegiatan ini tidak dirancang sebagai acara komersial atau kegiatan yang mengejar kemewahan fasilitas, tetapi sebagai ruang perjumpaan dan konsolidasi melalui sastra.

Aprinus menilai, menjaga kemandirian merupakan sesuatu yang berat dan kemungkinan mengalami kegagalan cukup besar. Terlebih, menurutnya, kinerja-kinerja independen semakin sulit dilakukan. Banyak warga negara berada dalam kondisi serba terbatas dan tidak cukup terlatih untuk mandiri.

Namun, bagi sastra, persoalan kemandirian tidak dapat dipisahkan dari upaya mempertahankan karakter kemanusiaan.

“Dalam sejarahnya, sastra adalah ruang konsolidasi untuk mempertahankan karakter kemanusiaan yang asli. Sastra adalah ruang perjuangan untuk mempertahankan karakter manusia yang murni. Sastra adalah cara untuk mempertahankan hati nurani manusia.”



Peserta Kemah Sastra 2026 direkrut melalui proses kurasi karya. Para calon peserta diminta menyerahkan sedikitnya satu cerpen atau lima puisi. Dari karya yang masuk, sekitar 40 persen peserta atau kurang lebih 40 orang dinyatakan lolos kurasi.

Karya-karya peserta selanjutnya akan dihimpun dalam antologi cerpen dan puisi. Untuk tahap awal, buku antologi akan diterbitkan dalam bentuk buku fotokopi sesuai kebutuhan. Apabila buku tersebut dinilai baik dan layak dikembangkan, ke depan akan diupayakan pengurusan ISBN.

Dengan demikian, Kemah Sastra tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga mempertemukan proses penciptaan, pembacaan, kurasi, dan perbincangan sastra dalam satu ruang yang relatif sederhana.

Kegiatan dimulai Jumat (14/8) pukul 14.00. Sebelumnya, peserta hadir dan dilakukan pembagian kelompok,kemudian peserta mengikuti salat bersama sekaligus menerima informasi kegiatan. Sore hari diisi dengan perkenalan, ngobrol, jalan-jalan, olahraga ringan, dan menikmati suasana kebun di Kalimasada. Menjelang malam, peserta menikmati matahari terbenam sebelum melanjutkan kegiatan malam.

Setelah makan malam, rangkaian acara diisi dengan Orasi Sastra bersama Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan dan Rini Febriani Hauri. Acara dilanjutkan dengan pembacaan Catatan Kuratorial. Peserta kemudian mengikuti sesi Ngobrol Santai bersama Mahfud Ikhwan bertajuk Unggunan Cerita.

Malam ditutup dengan pembacaan puisi dan cerpen serta acara bebas. Peserta kemudian beristirahat dan melanjutkan kegiatan pada Sabtu pagi.

Meski hanya berlangsung sekitar 18 jam, Aprinus melihat Kemah Sastra sebagai sebuah praktik kecil yang memperlihatkan upaya manusia untuk menjaga kemandirian dan karakter. Namun, ia sekaligus mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya justru muncul setelah kegiatan selesai.

“Seperti Kemah Sastra, misalnya, mungkin pada saat mempraktikkan Kemah Sastra, seolah memang ada upaya menjaga kemandirian dan mempertahankan karakter manusianya masing-masing. Sayangnya, hal itu cuma berlangsung 18 jam.”

Sabtu pagi, peserta bangun dan melaksanakan salat Subuh, dilanjutkan dengan kegiatan santai seperti jalan pagi, ngopi, dan ngeteh. Setelah sarapan, peserta melakukan foto bersama dan mempersiapkan kepulangan.

Bagi Aprinus, berakhirnya Kemah Sastra bukan berarti berakhir pula perjuangan yang dibicarakan dan dipraktikkan selama kegiatan. Justru setelah kembali ke kehidupan sehari-hari, tantangan untuk mempertahankan kemandirian dan karakter kemanusiaan kembali dihadapi masing-masing.

“Selesai Kemah Sastra, kita harus berjuang sendiri-sendiri lagi, terjebak dalam berbagai rutinitas politik yang bising, terjebak dalam rutinitas ekonomi yang mencemaskan, terjebak dalam rutinitas sosial budaya yang membosankan.”

Karena itu, meskipun berlangsung singkat dan dengan fasilitas yang terbatas, Kemah Sastra diharapkan menjadi semacam jeda dari berbagai rutinitas tersebut—sebuah ruang untuk bertemu, membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan kembali suara hati nurani melalui sastra.

Fasilitas Kemah Sastra memang masih terbatas. Keterbatasan tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman kemah: hidup bersama dengan fasilitas sederhana, berbagi ruang, berbagi cerita, serta belajar mengatur kebutuhan secara mandiri.

Dengan jadwal kegiatan yang cukup padat, peserta diharapkan disiplin terhadap waktu dan menjaga kekompakan. Namun, di atas semua itu, Kemah Sastra 2026 diharapkan menjadi ruang yang menyenangkan—tempat sastra tidak hanya dibicarakan, tetapi juga dihidupi melalui kebersamaan.

Sebab, sebagaimana ditekankan Prof. Aprinus Salam, sastra pada akhirnya bukan hanya perkara karya dan estetika. Ia juga merupakan upaya untuk mempertahankan sesuatu yang lebih mendasar: kemandirian, karakter kemanusiaan, dan hati nurani.

 

Penulis: Khotibul Umam

 

Ramayda Akmal Membaca Gagasan Ariel Heryanto, Mengajak Publik Meninjau Ulang Cara Memahami Indonesia

Rilis Berita Kamis, 2 Juli 2026

Yogyakarta — Penulis sekaligus dosen Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada, Ramayda Akmal, mengajak publik membaca kembali pemikiran Profesor Emeritus Monash University, Ariel Heryanto, dalam diskusi bertajuk “Ramayda Akmal Membaca Ariel Heryanto” yang digelar di Auditorium Soegondo, Lantai 7 FIB UGM, Senin (29/6), pukul 13.00–15.00 WIB.

Acara yang dimoderatori mahasiswa Magister Sastra UGM, Giandra Febrian, menghadirkan Ariel Heryanto sebagai narasumber. Diskusi berfokus pada dua karya Ariel, yakni Huruf demi Huruf dan Nasib Publik dalam Republik, serta mengundang peserta untuk mendiskusikan berbagai persoalan sosial, politik, dan budaya Indonesia melalui pembacaan atas karya-karya tersebut.

Dalam sambutan acara ini, Ketua Program Studi Magister Sastra UGM, Prof. Aprinus Salam, mengenang perjalanan intelektualnya bersama Ariel Heryanto. Ia bahkan memperlihatkan sejumlah foto lama yang merekam kebersamaan mereka sebagai bagian dari nostalgia sekaligus penghormatan terhadap kontribusi Ariel dalam dunia akademik Indonesia.

Mengawali pemaparannya, Ramayda Akmal menyebut Huruf demi Huruf sebagai kumpulan esai yang merangkum berbagai persoalan paling krusial yang dihadapi bangsa Indonesia. Menurutnya, tulisan-tulisan Ariel tidak hanya mengangkat isu-isu penting, tetapi juga mengajak pembaca mempertanyakan kembali asumsi yang selama ini dianggap mapan, mulai dari makna pemilu sebagai “pesta demokrasi”, konsep kelas menengah, pembacaan atas perkosaan Mei 1998 sebagai bahasa kekuasaan, hingga relasi antara struktur sosial Indonesia pascakemerdekaan dengan warisan kolonial Hindia Belanda.

Ramayda juga menyoroti bagaimana Ariel Heryanto membangun cara pandang yang tidak selalu bertumpu pada teori-teori Barat. Menurutnya, banyak esai Ariel memperlihatkan upaya memahami masyarakat Asia melalui pengalaman, sejarah, pengetahuan, dan pemikiran yang lahir dari sesama masyarakat Asia atau yang dikenal sebagai south-south knowledge exchange. Dalam pembacaannya, Ariel berupaya melihat budaya Indonesia melalui relasinya dengan masyarakat Asia lainnya.

Selain itu, Ramayda menjelaskan bahwa salah satu kekuatan tulisan Ariel terletak pada kemampuannya membaca hubungan yang semakin kompleks antara budaya populer, kapitalisme, dan kekuasaan. Menurutnya, perkembangan media digital menghadirkan berbagai bentuk produk budaya alternatif yang tampak inklusif, tetapi tetap berada dalam logika kapitalisme.

“Yang membuat tulis Mas Ariel bisa kita baca dan bisa dipertanyakan ulang ketika kita melihat contoh-contohnya semakin kompleks. Tadi alternate literature itu masuk pop culture apa tidak, pembacanya, atau ia alternative product. Tapi sangat difasilitasi oleh media yang sangat kapitalis. Walaupun karakternya sangat variatif-inklusif, setiap orang bisa nulis, bisa baca, tapi kan kalau product kamu harus bayar […] nah itu kan semakin kompleks hubungan antara kapitalisme, budaya pop, penguasa, kekuatan dominan,” ujar Ramayda.

Dalam sesi diskusi, Ramayda juga membagikan kesan pribadinya terhadap esai “Huruf demi Huruf” yang menjadi judul buku tersebut. Baginya, esai itu menjadi salah satu tulisan Ariel yang paling berkesan karena berangkat dari pengalaman masa lalu yang sangat personal, lalu menghubungkannya dengan refleksi mengenai kondisi Indonesia hari ini.

Sementara itu, Ariel Heryanto mengungkapkan pertanyaan yang terus mendorongnya menulis sejak sekitar 1976. Menurutnya, ia selalu terusik oleh kenyataan bahwa ketimpangan sosial dapat berlangsung dalam masyarakat yang tampak relatif stabil, damai, dan seolah berjalan tanpa gejolak besar.

Diskusi semakin hangat ketika peserta menanyakan kemungkinan Indonesia mengalami disintegrasi, merujuk pada judul buku Nasib Publik dalam Republik. Menanggapi pertanyaan tersebut, Ariel menekankan bahwa kapitalisme merupakan kekuatan terbesar yang membentuk kehidupan bernegara saat ini.

“Menurut saya kekuatan terbesar di dunia saat ini bernama kapitalisme. Bukan radikalisme, bukan separatisme. Ada semua itu, tapi tidak mampu mengungguli kapitalisme. Selama ia (negara) menggunakan kapitalisme, ia akan bertahan. Bukan saja di dalam negeri, tapi juga di luar. Dengan kata lain, nasionalisme adalah produk dan kepentingan kapitalisme. Nasib sebuah nation akan bertahan tergantung pembentukan menggunakan sistem kapitalisme atau tidak,” ujar Ariel.

Melalui diskusi ini, penyelenggara berharap masyarakat, baik yang telah maupun belum membaca karya-karya Ariel Heryanto, dapat menjadikan forum tersebut sebagai ruang untuk mengurai sekaligus mengkritisi berbagai persoalan kebangsaan melalui perspektif sastra, budaya, dan ilmu sosial.

Acara ditutup dengan sesi penandatanganan buku oleh Ariel Heryanto. Sejumlah peserta memanfaatkan kesempatan tersebut untuk meminta tanda tangan, berfoto, dan berdiskusi secara langsung dengan Ariel mengenai gagasan-gagasan yang dipaparkan selama diskusi. Antusiasme peserta mencerminkan besarnya minat terhadap karya dan pemikiran Ariel Heryanto yang masih relevan dalam membaca berbagai persoalan Indonesia hari ini. 

 

Penulis: Khotibul Umam

Menepis Stigma “Tak Dibutuhkan Industri” dari Bangku Kuliah

HEADLINERilis Berita Senin, 15 Juni 2026

Ketika lini masa media sosial dipenuhi berita kericuhan geopolitik Timur Tengah, dalam negeri juga sedang dihadapkan dengan realitas krisis lapangan kerja dan berbagai polemik mengenai penutupan program studi sosio-humaniora. Di tengah himpitan ini, sebuah pertanyaan besar muncul. Bagaimana lulusan FIB  memetakan langkah karier mereka di tengah himpitan tantangan global dan domestik ini?

Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemediktisaintek) beberapa waktu lalu sempat menuai diskusi publik melalui rencana penutupan program studi sosio-humaniora yang dinilai kurang relevan dengan dalih penyesuaian arah kebutuhan industri strategis nasional. Sebagai mahasiswa mahasiswa Fakultas Ilmu Budaya (FIB), tentu kekhawatiran akan jenjang karier terasa semakin nyata. Padahal perguruan tinggi bukan semata ruang produksi tenaga kerja. Ia adalah ruang pembentukan pola pikir dan karakter, serta tempat pengembangan sumber daya yang inovatif, responsif, kreatif, terampil, dan berdaya saing.

Hal ini dibuktikan oleh Desthy Umayah, seorang alumnus tahun 2011 yang justru merasakan betul bagaimana bekal dari perkuliahannya di Sastra Arab UGM dapat mengantarkannya ke panggung internasional. Saat ini, ia sedang dalam masa penugasan di KBRI Kuwait City periode 2023–2026 dan bertanggung jawab khusus untuk isu-isu keprotokolan, kekonsuleran, termasuk perlindungan WNI di Kuwait. Seperti banyak mahasiswa sosio-humaniora lain, pada mulanya Desthy bercita-cita untuk melanjutkan karir sebagai tenaga pendidik dan penerjemah profesional. Namun, ketegangan politik di kawasan Teluk saat ini justru membentuk perannya menjadi lebih menantang sekaligus berkesan. 

Evakuasi WNI saat terjadi konflik kawasan
Evakuasi WNI saat terjadi konflik kawasan

Menurut Desthy, kunci keberhasilannya di dunia diplomasi tidak lepas dari ekosistem pembelajaran selama di UGM. “Saat kuliah saya bergabung dengan IMABA (saat ini berganti nama menjadi Ikmasa), Marching Band, dan Rampoe UGM. Dari kegiatan-kegiatan tersebut saya melatih kemampuan public speaking, negosiasi, leadership, dan teamwork.” ungkapnya.

Ia sangat mengapresiasi pengalamannya selama menempuh pendidikan S1 di Sastra Arab UGM dengan tim Akademis yang begitu suportif. Ketika Arab Spring terjadi pada 2011 lalu, Prodi Sastra Arab secara aktif menghadirkan beberapa narasumber untuk membentuk kelas-kelas kecil tentang Arab Spring, termasuk menghadirkan beberapa alumni Sastra Arab UGM yang bekerja di dunia diplomasi. Sejak saat itulah ia kemudian mulai tertarik dengan geopolitik Timur Tengah dan mendapatkan exposure tentang dunia diplomasi.

Relevansi lulusan Sastra Arab di dunia diplomasi tersebut kini menjadi bukti nyata bahwa industri tidak kekurangan tempat untuk ranah sosio-humaniora, melainkan hanya menuntut adaptabilitas yang lebih tinggi. Dengan dinamika industri yang kian kompetitif, fleksibilitas lulusan sosio-humaniora justru menjadi keunggulan tersendiri. Kemampuan komunikasi, public speaking, negosiasi dan berjejaring adalah skillset yang dapat menjembatani celah tersebut.

Foto: Dhesti Umayah
Penulis: Aufa Zalfa
Editor: Candra Solihin

Tingkatkan Mutu Program, FIB UGM Evaluasi Program Pertukaran Mahasiswa

Rilis Berita Jumat, 29 Mei 2026

Yogyakarta, 22 Mei 2026 – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar pertemuan evaluasi program pertukaran mahasiswa. Program ini merupakan hasil kerjasama antara FIB UGM dengan mitra universitas nasional (PMM) dan internasional. Pertemuan yang berlangsung di Ruang Multimedia ini dilaksanakan sehubungan dengan akan berakhirnya KBM Semester Genap Tahun Akademik 2025/2026.

Kegiatan evaluasi ini dihadiri oleh Dekan FIB UGM, Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si., Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan, Wakil Dekan Bidang Penelitian, Pengabdian kepada Masyarakat, Kerja Sama, dan Alumni. Forum ini juga mengundang para mahasiswa pertukaran pelajar nasional dan internasional, termasuk mahasiswa jenjang magister dan doktoral khusus untuk mahasiswa internasional.

Para peserta program pertukaran pada tahun akademik ini berasal dari berbagai universitas mitra di dalam dan luar negeri. Mahasiswa internasional tercatat berasal dari Kokushikan University, Hankuk University of Foreign Studies, National Chengchi University, University of Naples L’Orientale, Universiti Brunei Darussalam, Palacky University Olomouc, Kobe University, dan Daito Bunka University. Dari jenjang pascasarjana internasional, hadir mahasiswa dari program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora, Doktor Antropologi, Magister Antropologi, Magister Linguistik, Magister Arkeologi, serta Magister Sastra. Sementara itu, mahasiswa tingkat nasional berasal dari Universitas Brawijaya, Universitas Sebelas Maret, Universitas Udayana, dan Universitas Andalas.

Dalam sambutannya, Prof. Setiadi menyampaikan apresiasi atas antusiasme para peserta selama menempuh studi. Beliau menegaskan keunggulan akademis dan lingkungan sosial di lingkungan fakultas yang mendukung proses belajar mahasiswa.

“FIB menjadi pilihan yang tepat bagi teman-teman sekalian, terutama mahasiswa Internasional. Karena selain memiliki berbagai jurusan yang mata kuliahnya boleh diambil walaupun tidak linier, FIB juga memiliki beragam kegiatan kemahasiswaan (BSO) yang dapat diikuti untuk saling mengenal latar belakang dan kebudayaan satu sama lain,” tutur Prof. Setiadi.

Pada sesi utama pertemuan, beberapa mahasiswa menyampaikan evaluasi, kesan, dan pesan mereka. Perwakilan mahasiswa dari berbagai universitas mitra tersebut membagikan pengalaman berharga, masukan untuk perbaikan program, serta kesan positif yang mereka dapatkan selama mengikuti kegiatan pertukaran dan berkuliah di FIB UGM.

Pertemuan evaluasi ini menjadi langkah krusial dalam menjaga sekaligus meningkatkan mutu kualitas program pertukaran pelajar di masa mendatang. Melalui penguatan kemitraan akademis lintas negara dan daerah, FIB UGM terus berupaya menciptakan ruang belajar yang adaptif serta mendukung pemerataan akses pendidikan bermutu yang menghargai keberagaman budaya global.

[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

123…16

Rilis Berita

  • Siswa SMA Negeri 2 Karanganyar Eksplorasi Peluang Kuliah dan Beasiswa di FIB UGM
  • Menjelang Semester Lima, Mahasiswa Sastra Arab UGM Mulai Menyiapkan Magang dan Arah Karier
  • BKJ UGM dan Fakultas Seni Universitas Tsukuba Jajaki Kerja Sama dalam Bidang Seni, Budaya, dan Penelitian
  • Magister Linguistik UGM Gelar Pengabdian kepada Masyarakat di SMAN 1 Depok
  • Kuliah Perdana Pascasarjana FIB UGM: Prof. Sajarwa Tekankan Kolaborasi dan Research Gap

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju