Suasana haru sekaligus hangat menyelimuti Auditorium Poerbatjaraka Fakultas Ilmu Budaya UGM pada Jumat, 11 September 2026. Lebih dari 200 orang yang terdiri dari dosen-dosen FIB UGM, tamu konferensi, serta mahasiswa S1 dan S2 program Linguistik dan Bahasa Indonesia hadir untuk menyaksikan pidato valediktori Prof. Dr. I Dewa Putu Wijana, S.U., M.A.
Momen tersebut menjadi hari terakhir Prof. Putu mengajar secara resmi di FIB UGM. Sosok kelahiran 16 Agustus 1956 yang dikenal luas sebagai pakar di bidang Pragmatik, Analisis Wacana, dan Sosiolinguistik ini telah mengabdikan dirinya sebagai pengajar sejak Februari 1983. Tepat 43 tahun lamanya beliau mendidik generasi demi generasi di fakultas ini.
Tak sekadar perpisahan, acara valediktori kemarin juga ditandai dengan peluncuran tiga buku terbarunya, yaitu Renik-Renik Linguistik, Linguistik Forensik, serta Kumpulan Humor Prof. Putu yang merupakan persembahan khusus dari kolega dan mahasiswa.
Sebagai sosok yang telah menulis lebih dari 10 buku, Prof. Putu memanfaatkan mimbar terakhirnya untuk menyampaikan pesan mendalam tentang pentingnya tradisi menulis. Bagi beliau, menulis adalah cara terbaik untuk mengeluarkan apa yang ada di dalam pikiran.
“Menulislah, karena itu cara agar Anda abadi,” ujar Prof. Putu, sebuah ujaran yang terus beliau ulang-ulang di depan para hadirin.
Meski acara diselimuti rasa sedih karena akan berpisah, karakter Prof. Putu yang humoris berhasil mencairkan suasana. Candaan-candaan receh yang kerap beliau lontarkan di sela-sela pidato sukses mengubah suasana haru menjadi hangat oleh gelak tawa. Suasana makin berkesan ketika ditayangkan video kenangan persembahan dari para dosen dan murid untuk beliau.
Sebelum mengakhiri pidatonya, Prof. Putu menutup perpisahan tersebut dengan sebuah kutipan pepatah bahasa Arab sebagai motivasi bagi semua yang hadir: “Man jadda wa jada”—siapa yang bersungguh-sungguh, dia akan berhasil.
[Penulis: Humas FIB, Zaidan Abdurrahman]

