• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 9: Industri inovasi dan infrastruktur
  • SDGs 9: Industri inovasi dan infrastruktur
Arsip:

SDGs 9: Industri inovasi dan infrastruktur

Divisi Arkeologi Bawah Air HIMA UGM Asah Kompetensi Penyelaman di Karimunjawa

Rilis Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Himpunan Mahasiswa Arkeologi (HIMA) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada melalui Divisi Arkeologi Bawah Air (ABA) melaksanakan kegiatan Latihan Perairan Terbuka sebagai tahapan pengembangan kemampuan penyelaman mahasiswa. Kegiatan ini berlangsung selama enam hari pada 23-28 Juli 2026 di Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, dengan melibatkan Sentra Selam Jogja sebagai instruktur pendamping. Dalam pelaksanaannya, peserta pelatihan melakukan praktik penyelaman di perairan terbuka untuk menerapkan berbagai keterampilan yang telah diperoleh pada latihan sebelumnya. 

Latihan Perairan Terbuka menjadi tahap lanjutan dalam proses pembelajaran penyelaman yang memberikan pengalaman secara langsung kepada mahasiswa untuk beradaptasi dengan kondisi perairan laut. Kegiatan ini juga mendukung pengembangan kemampuan mahasiswa dalam melakukan observasi dan dokumentasi di lingkungan bawah air yang berkaitan dengan kajian arkeologi, sekaligus menjadi sarana untuk memperoleh sertifikasi. Melalui kegiatan Latihan Perairan Terbuka, HIMA berupaya meningkatkan kompetensi dan pengalaman lapangan anggota Divisi Arkeologi Bawah Air sekaligus mempersiapkan mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan penelitian arkeologi bawah air dan kajian maritim.  

 

Penulis: Jovinka Aldinova Kiranamurti
Pemilik foto: Ramadhani Alifi Cahya Saputra dan Sentra Selam Jogja

Kisah Dua Wisudawan Magister Sastra FIB UGM: Menempuh Jalur Berbeda, Meraih Prestasi Bersama

Rilis Berita Senin, 3 Agustus 2026

Yogyakarta – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan “Mangayubagya Wisudawan/Wisudawati Program Pascasarjana Periode IV Tahun Akademik 2025/2026” pada Rabu (22/7) di Auditorium Gedung Poerbatjaraka FIB UGM. Acara tersebut menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada para lulusan yang telah menyelesaikan studi, sekaligus menghadirkan kisah inspiratif dari para wisudawan. Di antaranya ialah Nabillah Faisal Azzahra, lulusan pertama Program Magister Sastra melalui skema Fast Track, serta Wanda Andres Saputra, salah satu lulusan tercepat Program Magister Sastra.

Bagi Nabillah, melanjutkan studi melalui Program Fast Track merupakan langkah yang berangkat dari kecintaannya terhadap kesusastraan Jepang. Alumni Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM angkatan 2021 tersebut melanjutkan studi ke Program Magister Sastra pada 2024 setelah diperkenalkan dengan program tersebut oleh dosen pembimbing akademiknya.

“Saya senang membaca dan mengkaji karya sastra Jepang, terutama mencoba memahami berbagai fenomena sosial, budaya, maupun isu-isu yang diangkat di dalamnya melalui berbagai pendekatan teori. Ketika dosen pembimbing akademik memperkenalkan Program Fast Track, saya merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk memperdalam minat tersebut sekaligus melanjutkan studi dengan lebih efisien,” ujarnya.

Memasuki jenjang magister, Nabillah merasakan perubahan ritme belajar yang menuntut kemandirian lebih tinggi. Ia harus lebih banyak membaca literatur, berpikir kritis, serta membangun argumentasi akademik yang kuat. Baginya, pengalaman tersebut justru menjadi tantangan yang menyenangkan karena membuka banyak perspektif baru dalam kajian sastra.

“Awalnya saya sempat merasa kaget karena teori dan metodologi penelitian dipelajari jauh lebih mendalam. Namun, di situlah letak hal yang paling menarik. Setiap mata kuliah membuka cara pandang baru dan membuat saya semakin menikmati proses belajar,” tuturnya.

Sebagai bagian dari angkatan pertama Program Fast Track Magister Sastra, Nabillah juga harus menyusun strategi belajar secara mandiri karena belum memiliki referensi dari kakak tingkat yang pernah menjalani program serupa. Meski demikian, ia menilai Program Fast Track memberikan banyak manfaat, mulai dari efisiensi waktu dan biaya hingga kesempatan mempertahankan ritme belajar sejak jenjang sarjana.

“Program Fast Track memang memiliki tantangan karena ritme perkuliahannya cepat dan padat. Namun, program ini juga memberikan banyak keuntungan bagi mahasiswa yang memang sudah ingin melanjutkan studi. Saya juga semakin yakin bahwa saya ingin berkarier sebagai akademisi apabila ada kesempatan,” katanya.

Sementara itu, kisah inspiratif juga datang dari Wanda Andres Saputra, lulusan Program Magister Sastra konsentrasi Sastra Inggris yang berhasil menyelesaikan studi sebagai salah satu lulusan tercepat. Wanda mengawali studi magisternya pada Februari 2025 dengan tujuan memperdalam kajian sastra Inggris sekaligus mempersiapkan diri menjadi akademisi.

Meski menyandang predikat lulusan tercepat, Wanda mengaku tidak pernah menjadikan kecepatan lulus sebagai target utama.

“Di awal perjalanan perkuliahan saya tidak memiliki target menjadi lulusan tercepat ataupun menjadi yang terbaik. Saya hanya berfokus kepada riset apa yang sedang dibutuhkan dan harus segera diselesaikan. Karena itu, saya sangat bahagia dan tidak menyangka bisa menjadi salah satu lulusan tercepat,” ungkapnya.

Selama menjalani studi, Wanda menyelesaikan seluruh mata kuliah pada dua semester pertama. Memasuki semester ketiga, ia sepenuhnya memusatkan perhatian pada penyelesaian tesis. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai staf akademik bahasa Inggris dan tutor TOEFL ITP, ia tetap meluangkan waktu setiap hari untuk menulis tesis secara konsisten.

Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan studi tepat waktu tidak ditentukan oleh strategi yang rumit, tetapi oleh konsistensi dan fokus terhadap bidang keilmuan yang ingin ditekuni.

“Tidak ada strategi yang spesial. Saya hanya berfokus kepada keilmuan yang ingin saya dalami. Saya menyicil tesis setiap hari sebelum bekerja, saat jam istirahat, hingga malam hari. Yang terpenting adalah menjaga ritme dan tetap konsisten,” jelasnya.

Perjalanan tersebut juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Wanda mengaku sempat beberapa kali mengubah judul penelitian dan menyesuaikan teori sebelum akhirnya menghasilkan tesis yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang sedang menempuh studi magister agar tidak hanya berorientasi pada kelulusan cepat, tetapi juga memiliki arah keilmuan yang jelas.

“Fokuslah pada bidang yang benar-benar ingin didalami. Ketika kita tahu ingin menjadi ahli dalam bidang apa, proses belajar akan terasa lebih terarah dan studi pun dapat diselesaikan secara efektif tanpa mengesampingkan kualitas akademik,” pesannya.

Baik Nabillah maupun Wanda sepakat bahwa keberhasilan menyelesaikan studi tidak terlepas dari dukungan para dosen pembimbing dan keluarga. Keduanya menyampaikan apresiasi kepada sivitas akademika FIB UGM yang telah mendampingi proses belajar mereka, sekaligus kepada keluarga yang senantiasa memberikan doa dan dukungan sepanjang perjalanan akademik.

Melalui kisah dua lulusan tersebut, FIB UGM menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang mendukung mahasiswa untuk berkembang sesuai potensinya. Program Fast Track membuka peluang bagi mahasiswa mempercepat jenjang pendidikan tanpa mengurangi kualitas pembelajaran, sementara capaian lulusan tercepat menjadi bukti bahwa fokus, konsistensi, dan semangat belajar merupakan bekal penting dalam menyelesaikan pendidikan tinggi. Kisah Nabillah Faisal Azzahra dan Wanda Andres Saputra diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan keilmuan, menghasilkan riset yang berkualitas, serta memberikan kontribusi bagi dunia akademik dan masyarakat.

Penulis: Khotibul Umam

Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

Rilis Berita Senin, 3 Agustus 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah dalam pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, maupun budaya Jawa. Salah satunya ialah Aji Setyowijaya, alumni angkatan 2008 yang kini menekuni dunia batik sebagai pengrajin batik khas Yogyakarta.

Tim Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berkesempatan mengunjungi sekaligus mewawancarai Aji Setyowijaya, selanjutnya ditulis sebagai Mas Aji, secara langsung pada Selasa, 21 Juli 2026. Alumni angkatan 2008 yang juga merupakan penerima beasiswa Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) atau Yayasan Keluarga Hasyim Djojohadikusumo (YKHD) tersebut menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap batik bermula dari kekagumannya pada kain-kain batik peninggalan. Ia mengaku sering menjumpai kain batik lama yang memiliki kualitas dan keindahan tinggi, tetapi kondisinya sudah rapuh sehingga tidak lagi layak digunakan. “Saya dulu senang ketika melihat kain batik peninggalan. Kainnya bagus dan ingin dipakai, tetapi sudah rawan. Akhirnya, saya termotivasi untuk mencoba mereproduksi kain batik yang sudah tua. Hal itu ditambah dengan waktu berkuliah saya sedang senang menggunakan rasukan atau pakaian Jawa,” ungkapnya.

Ketertarikan tersebut mendorongnya mulai belajar membatik pada 2009. Dirinya mempelajari berbagai teknik membatik dengan mengamati dan belajar secara langsung di sejumlah sentra batik di Yogyakarta. Pada masa awal tersebut, Mas Aji memfokuskan diri untuk memahami pakem dan teknik batik tradisi Yogyakarta sebagai fondasi utama sebelum mengembangkan karyanya sendiri.

Berbekal pemahaman tersebut, pada sekitar 2013 hingga 2015, Mas Aji mulai memproduksi batik antik, yang juga dikenal sebagai batik kama atau batik lawasan. Menurutnya, pada masa itu masyarakat maupun kolektor memberikan apresiasi yang tinggi terhadap batik lawasan karena dianggap berasal dari puluhan tahun silam. “Pada tahun tersebut, dalam perdagangan, orang lebih mengapresiasi batik antik atau kama atau lawasan dengan asumsi batik itu dari 50–70 tahun yang lalu,” jelasnya.

Namun, pengalaman tersebut justru memunculkan kegelisahan dalam dirinya. Menurut Mas Aji, batik tidak semestinya hanya dipandang sebagai karya klasik yang berhenti pada proses reproduksi masa lalu. Batik juga perlu terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya. Berangkat dari pemikiran tersebut, ia mulai menghadirkan identitas pribadinya dalam setiap karya yang dibuat serta memperluas eksplorasi di luar gaya batik khas Yogyakarta.

Sejalan dengan semangat tersebut, sejak 2018 Mas Aji mulai mendalami teknik pewarna alami (natural dye) untuk batik pakem tradisi Yogyakarta. Baginya, mempelajari pewarna alami bukan sekadar menghasilkan ragam warna yang berbeda, melainkan juga menjadi bagian dari upaya memahami kembali pengetahuan teknis yang telah diwariskan oleh para pembatik terdahulu.

Dalam proses berkarya, Mas Aji tidak bekerja seorang diri. Ia berkolaborasi dengan rekannya, Yahya Adi Sutikno, yang berfokus pada proses perancangan desain, sementara Mas Aji lebih banyak menangani proses produksi. Kolaborasi tersebut memungkinkan keduanya menghasilkan berbagai karya batik dengan pendekatan yang saling melengkapi.

Berbagai karya batik telah dihasilkan, mulai dari sample pieces ragam motif batik dalam satu kain yang terdiri atas 27, 260, hingga 480 contoh motif, karya-karya batik replikasi, batik lawasan, hingga batik hasil transformasi, alih media, dan berbagai bentuk batik kreasi. Tidak hanya pada kain batik, eksplorasi tersebut juga diterapkan pada berbagai media tekstil lain, seperti sarung dan media kain lainnya.

Selain berkecimpung dalam pembuatan kain batik, Mas Aji juga aktif dalam Perkumpulan Wastra Indonesia, sebuah komunitas yang menghimpun para pegiat dan pencinta wastra Nusantara. Dedikasinya terhadap batik juga diwujudkan melalui kontribusinya dalam buku Pesona Padu Padan Wastra Indonesia sebagai kontributor busana yang menampilkan penggunaan batik tradisi Yogyakarta.

Di balik seluruh proses kreatif tersebut, Mas Aji menilai bahwa salah satu aspek yang perlu terus dijaga dalam dunia batik adalah pengetahuan teknis. Menurutnya, pembahasan mengenai batik selama ini lebih banyak berfokus pada makna filosofis, simbol, dan nilai budaya, sementara pengetahuan mengenai teknik membatik justru berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan dan diwariskan. “Menurut saya, ranah tersebut (filosofi) tidak mudah hilang karena literaturnya sudah banyak. Tetapi, kalau soal teknis, itu bisa hilang. Misalnya, motif parang itu mau dibuat dari mana, arahnya dari mana. Ada cara dan metodenya.” Bagi Mas Aji, menjaga pengetahuan teknis sama pentingnya dengan menjaga nilai filosofis batik karena keduanya merupakan satu kesatuan yang membentuk tradisi membatik.

Menjelang akhir wawancara, Mas Aji juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa agar tidak takut mencoba berbagai peluang di luar ruang kelas. “Masalah besar dikecilkan, dan masalah kecil diabaikan. Jangan ragu atau takut untuk mencoba dan bereksplorasi. Jangan juga menutup wawasan hanya pada perkuliahan saja.”

Perjalanan Mas Aji Setyowijaya menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai bahasa, sastra, dan budaya Jawa tidak hanya berhenti pada ranah akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui praktik pelestarian budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui dedikasinya dalam mempelajari teknik membatik, mereproduksi batik tradisi, mengembangkan inovasi berbasis pakem, serta terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam dunia wastra, Mas Aji membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Bagi para mahadaya yang ingin mengenal lebih dekat karya maupun aktivitas Mas Aji, dapat mengunjungi akun Instagram @setyowijaya dan Facebook Batik Setyowijaya. Melalui kedua media sosial tersebut, Mas Aji membagikan berbagai proses kreatif, hasil karya, serta aktivitasnya dalam melestarikan dan mengembangkan seni batik.

 

Penulis : Haryo Untoro

Konferensi Industri Kreatif dan Diplomasi Budaya Quebec (Kanada)–Indonesia Perkuat Kolaborasi Internasional di UGM

Rilis Berita Rabu, 15 Juli 2026

Yogyakarta – Departemen Antropologi, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada menjadi tuan rumah penyelenggaraan Konferensi Industri Kreatif dan Diplomasi Budaya antara Quebec (Kanada) dan Indonesia, yang diselenggarakan bekerja sama dengan Asia Pacific Foundation of Canada. Kegiatan ini mempertemukan para pembuat kebijakan, akademisi, pelaku industri, praktisi kreatif, serta mahasiswa dari Kanada dan Asia Tenggara untuk berdiskusi dan bertukar gagasan mengenai penguatan kerja sama di bidang industri kreatif dan diplomasi budaya.

Konferensi ini secara resmi dibuka oleh Prof. Dr. Wening Udasmoro, Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM. Dalam sambutannya, beliau menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi sebagai ruang kolaborasi internasional yang mampu mendorong pertukaran budaya, pengembangan inovasi, serta penguatan jejaring global.

Sementara itu, penutupan konferensi disampaikan oleh Dr. Alexandre Veilleux, yang menekankan pentingnya menjaga keberlanjutan kemitraan antara Kanada dan Indonesia melalui kolaborasi akademik, industri kreatif, dan pembangunan jaringan jangka panjang di kawasan Indo-Pasifik.

Konferensi menghadirkan dua sesi diskusi panel yang membahas berbagai perspektif mengenai pengembangan industri kreatif dan diplomasi budaya.

Pada Panel 1 bertajuk “The Strategic Value of Creative Industries and Cultural Diplomacy: A Government Lens”, hadir sebagai narasumber:

1. Guillermo Moyano, Director of Economic Affairs, Quebec Government Office in Singapore;
2. Dr. Leonard Hutabarat, Badan Strategi Kebijakan Luar Negeri Republik Indonesia sekaligus mantan Konsul Jenderal Republik Indonesia di Toronto;
3. Yurnelis Piliang, S.IP., M.P.A., Kepala Bidang Daya Tarik Pariwisata, Dinas Pariwisata Daerah Istimewa Yogyakarta.

Diskusi dimoderatori oleh Dr. Agung Wicaksono dari Universitas Gadjah Mada.

Sementara itu, Panel 2 mengangkat tema “Creative Industry Innovation: Canada–Indonesia Business Insights” dengan menghadirkan:

1. Danny Tan, Managing Producer, Moment Factory Singapore Office;
2. Ivan Chen, Ketua Kamar Dagang dan Industri Indonesia (KADIN);
3. Lev Kroll, CEO Nuanu Creative City.

Sesi ini dipandu oleh Yaxin Zhou dari Université de Montréal.

Selain menjadi forum dialog strategis, konferensi ini juga menjadi rangkaian pembuka bagi CERIUM Indo-Pacific Chair Summer School, sebuah program yang mempertemukan mahasiswa pascasarjana dari Kanada dan Asia Tenggara untuk belajar langsung dari para akademisi, praktisi, dan pemangku kepentingan di bidang hubungan internasional dan industri kreatif. Program ini diselenggarakan melalui kolaborasi antara Université de Montréal, Université Laval, dan Universitas Gadjah Mada.

Melalui penyelenggaraan konferensi ini, diharapkan terjalin kerja sama yang semakin erat antara Kanada dan Indonesia dalam pengembangan industri kreatif, inovasi, serta diplomasi budaya. Seluruh penyelenggara menyampaikan apresiasi kepada Asia Pacific Foundation of Canada, CERIUM, khususnya Dr. Alexandre Veilleux, para narasumber, peserta, serta seluruh mitra yang telah berkontribusi dalam menyukseskan kegiatan ini.

Ke depan, jejaring dan kolaborasi yang telah terbangun melalui konferensi ini diharapkan dapat terus berkembang menjadi berbagai inisiatif bersama yang memberikan manfaat bagi kedua negara, sekaligus memperkuat hubungan Kanada–Indonesia di kawasan Indo-Pasifik melalui kreativitas, inovasi, dan pertukaran budaya.

Penulis: Dewi Widyastuti
Foto: Muhammad Fahmi Rafsanjani

Sastra dalam Pusaran Globalisasi: Magister Sastra UGM Buka Call for Papers Diseminasi Internasional 2026

Rilis Berita Jumat, 3 Juli 2026

Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka Call for Papers (CFP) untuk kegiatan Diseminasi Internasional 2026 bertajuk Literature in the Crosscurrents of Globalization. Kegiatan yang akan diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada 4 November 2026 ini mengundang akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, guru, dan pemerhati sastra dari dalam maupun luar negeri untuk mendiskusikan berbagai dinamika hubungan antara sastra, budaya, dan masyarakat dalam konteks global kontemporer.

Selain menjadi ruang pertemuan akademik internasional, kegiatan ini juga menawarkan berbagai luaran publikasi, di antaranya penerbitan artikel dalam buku bunga rampai ber-ISBN dan kesempatan bagi artikel terpilih untuk direkomendasikan terbit di Poetika: Jurnal Ilmu Sastra (SINTA 2). Kegiatan ini tidak dipungut biaya pendaftaran (free registration).

Tema Literature in the Crosscurrents of Globalization berangkat dari semakin intensifnya perjumpaan berbagai budaya, nilai, dan cara pandang di era globalisasi. Perkembangan teknologi digital, mobilitas manusia, dan pertukaran informasi lintas negara telah menghadirkan dinamika baru dalam kehidupan sosial dan budaya. Dalam konteks tersebut, sastra tidak hanya menjadi representasi realitas, tetapi juga ruang tempat identitas, ideologi, tradisi, dan pengalaman manusia dipertemukan, dipertentangkan, serta dinegosiasikan.

Ketua Panitia Diseminasi Internasional, Rini Febriani, menjelaskan bahwa forum ini diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan dan temuan penelitian mengenai berbagai perubahan budaya yang berlangsung di tengah masyarakat global.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai latar belakang untuk mendiskusikan bagaimana sastra merepresentasikan, mengkritisi, dan mentransformasikan perubahan budaya dalam era globalisasi. Kami berharap diseminasi ini dapat memperluas jejaring akademik dan melahirkan kolaborasi penelitian yang produktif,” ujarnya.

Adapun subtema yang ditawarkan dalam CFP ini meliputi Cultural Industry and the Standardization of Literature, Literature as a Site of Power Negotiation, Myth-Making in Popular Literature, Contestation and Demystification of Narratives in Global Space, serta Reconfiguring Localities in Globality. Melalui subtema tersebut, panitia membuka ruang bagi kajian sastra dan fenomena budaya yang relevan dengan perkembangan masyarakat global kontemporer.

Ketua Program Studi Magister Sastra FIB UGM, Dr. Aprinus Salam, M.Hum., menyambut baik penyelenggaraan diseminasi internasional tersebut. Menurutnya, globalisasi tidak hanya mempertemukan berbagai budaya, tetapi juga membentuk politik produksi sastra di tingkat global.

“Tema-tema yang berkembang dalam karya sastra kontemporer tidak hadir secara kebetulan. Di balik kemunculannya, terdapat dinamika dan kuasa global yang turut memengaruhi arah produksi sastra dunia. Isu-isu seperti lingkungan, gender, dan berbagai tema kontemporer lainnya sering kali menjadi bagian dari arus global yang membentuk tren dan orientasi produksi sastra. Karena itu, sastra perlu dibaca tidak hanya sebagai karya estetik, tetapi juga sebagai bagian dari politik ekonomi dan dinamika budaya global,” ungkapnya.

Pendaftaran dan pengiriman artikel dibuka mulai 29 Juni hingga 4 September 2026. Proses peer review akan dilaksanakan pada 5–26 September 2026, pengumuman penerimaan artikel pada 28 September 2026, revisi artikel pada 5 Oktober 2026, dan pengumpulan bahan presentasi pada 26 Oktober 2026. Forum Diseminasi Internasional akan diselenggarakan pada 4 November 2026.

Peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan mengirimkan artikel ilmiah berbahasa Inggris melalui tautan pendaftaran yang telah disediakan panitia. Artikel yang dikirim harus berupa full paper dengan panjang 5.000–7.000 kata dan akan melalui proses kurasi serta peer review sebelum dipresentasikan dalam forum diseminasi internasional.

Melalui penyelenggaraan Diseminasi Internasional ini, Program Studi Magister Sastra FIB UGM berharap dapat memperkuat jejaring akademik nasional dan internasional, mendorong kolaborasi lintas institusi, serta menghadirkan ruang dialog yang produktif mengenai perkembangan sastra dan kebudayaan di tengah pusaran globalisasi.

Informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran, panduan penulisan, template artikel, dan ketentuan kegiatan dapat diakses melalui tautan berikut:

🔗 Pendaftaran: https://bit.ly/Desiminasi2026UGM

🔗 Informasi Umum: bit.ly/GeneralInfoDissemination2026

📩 Narahubung (WhatsApp):

  • Ella: +62 823-2494-4082
  • Mita: +62 813-9056-4071

📧 Email: diseminasiugm@gmail.com

Penulis: Rini Febriani Hauri

123…29

Rilis Berita

  • Jadwal Kuliah Program Sarjana dan Pascasarjana Semester Gasal Periode 2026/2027
  • PIONIR Kampung Budaya 2026 Resmi Dibuka, Sambut 838 Mahasiswa Baru FIB UGM
  • Jadwal Mata Kuliah Bahasa Asing Semester Gasal Periode 2026/2027
  • Divisi Arkeologi Bawah Air HIMA UGM Asah Kompetensi Penyelaman di Karimunjawa
  • Mengenal Indonesia Lebih Dekat melalui Wisata Dieng

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju