• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 9: Industri inovasi dan infrastruktur
Arsip:

SDGs 9: Industri inovasi dan infrastruktur

Orasi Sastra Membahas Biopuitika, Alam, Algoritma, dan Masa Depan Humaniora

Rilis Berita Kamis, 20 Agustus 2026

Yogyakarta— Rangkaian Kemah Sastra bersama Alam-Semesta yang diselenggarakan Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) di Pondok A. Salam, Kalimasada, menghadirkan sesi Orasi Sastra pada Jumat malam, 14 Agustus 2026. Acara yang berlangsung mulai pukul 19.30 tersebut menghadirkan dua pembicara dari lingkungan akademik FIB UGM, yakni Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan, mahasiswa Program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora FIB UGM, dan Rini Febriani Hauri, mahasiswa Magister Sastra FIB UGM.

Orasi Sastra menjadi salah satu bagian penting dalam rangkaian Kemah Sastra karena menghadirkan ruang refleksi mengenai sastra, hubungan manusia dengan alam, perkembangan teknologi, serta masa depan humaniora.

Dalam orasi pertama bertajuk “Menyingkap Denyut Teks: Biopuitika dan Krisis Batas Manusia-Alam dalam Sastra,” Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan mengangkat gagasan biopuitika (biopoetics) sebagai perspektif untuk membaca hubungan antara kehidupan, manusia, alam, dan karya sastra.

Secara umum, biopuitika atau biopoetics merupakan pendekatan interdisipliner yang mempertemukan ilmu biologi atau ilmu tentang kehidupan dengan puitika, sastra, seni, dan berbagai bentuk ekspresi kreatif. Pendekatan ini membuka kemungkinan untuk melihat karya sastra tidak semata-mata sebagai produk bahasa dan kebudayaan, tetapi juga sebagai bagian dari perbincangan yang lebih luas mengenai kehidupan dan relasi manusia dengan dunia biologis di sekitarnya.

Dalam orasinya, Lutfi memberikan contoh menarik tentang tendon Achilles, bagian penting dari tubuh manusia yang menghubungkan otot betis dengan tulang tumit. Istilah Achilles tersebut berasal dari Achilles, tokoh dalam mitologi Yunani yang terkenal melalui karya epik Iliad karya Homer. Contoh tersebut menunjukkan bagaimana bahasa dan pengetahuan manusia kerap menyimpan jejak sastra dan mitologi 

Dalam konteks tersebut, biopuitika menjadi relevan ketika batas antara manusia dan alam semakin dipertanyakan. Sastra dapat menjadi ruang untuk mengeksplorasi bagaimana manusia memahami kehidupan, bagaimana alam direpresentasikan, serta bagaimana hubungan manusia dengan makhluk hidup lainnya dibentuk melalui bahasa, imajinasi, dan pengalaman.

Tema “Menyingkap Denyut Teks” membawa sastra ke wilayah yang lebih luas, dengan mempertemukan kajian tekstual dengan persoalan kehidupan dan lingkungan. Biopuitika memungkinkan sastra berdialog dengan ilmu pengetahuan sekaligus mempertanyakan kembali posisi manusia sebagai bagian dari ekosistem kehidupan, bukan sebagai entitas yang sepenuhnya terpisah dari alam.

Sementara itu, Rini Febriani Hauri menyampaikan orasi bertajuk “Membaca Sastra di Era Algoritma: Pengalaman, Penafsiran, dan Masa Depan Humaniora.” Melalui tema tersebut, Rini mengajak peserta mempertimbangkan kembali pengalaman membaca sastra di tengah perkembangan teknologi digital dan derasnya arus informasi.

Dalam orasinya, Rini mengutip Franz Kafka:

“Buku harus menjadi kapak untuk memecahkan lautan beku di dalam diri kita.”

Kutipan tersebut menjadi pijakan reflektif untuk melihat membaca bukan sekadar aktivitas memperoleh informasi, membaca adalah pengalaman yang dapat menggugah, mengusik, bahkan mengubah cara seseorang memahami dirinya dan dunia.

Di tengah budaya digital yang bergerak serba cepat, ketika informasi datang tanpa henti dan algoritma turut menentukan apa yang kita lihat dan baca, Rini mengajak peserta untuk membaca dengan pelan. Ajakan tersebut menjadi semacam jeda sekaligus bentuk perlawanan terhadap dorongan untuk terus bergerak cepat, berpindah dari satu informasi ke informasi lain, dan segera memberikan penilaian.

Membaca secara perlahan memberi ruang bagi pembaca untuk membiarkan teks bekerja dalam dirinya. Dengan demikian, pembaca memiliki kesempatan untuk menikmati bahasa, menangkap lapisan makna, mempertanyakan pengalaman, serta menemukan kemungkinan penafsiran yang mungkin terlewat dalam pembacaan yang tergesa-gesa.

Dalam konteks era algoritma, pengalaman membaca menjadi semakin penting. Ketika teknologi mampu memproduksi, menyebarkan, dan mengolah teks dalam jumlah yang nyaris tak terbatas, kemampuan manusia untuk membaca, merasakan, menafsirkan, dan menemukan makna menjadi bagian penting yang perlu dipertahankan.

Kedua orasi tersebut mempertemukan dua persoalan penting dalam kehidupan sastra kontemporer: hubungan manusia dengan alam dan hubungan manusia dengan teknologi. Di satu sisi, biopuitika mengajak peserta memikirkan kembali batas antara manusia dan dunia kehidupan. Di sisi lain, pembahasan tentang sastra di era algoritma mengajak peserta mempertimbangkan perubahan pengalaman membaca dan menafsirkan karya ketika teknologi semakin hadir dalam kehidupan manusia.

Pertemuan kedua tema tersebut memperluas ruang perbincangan Kemah Sastra. Sastra tidak hanya ditempatkan sebagai kegiatan membaca dan menulis karya, tetapi juga sebagai ruang untuk memahami perubahan dunia, mempertanyakan batas-batas kemanusiaan, dan memikirkan kembali masa depan hubungan manusia dengan alam serta teknologi.

Pelaksanaan Orasi Sastra pada malam hari juga menjadi bagian dari suasana khas Kemah Sastra. Setelah menjalani kegiatan sore dan menikmati suasana alam Kalimasada, peserta berkumpul untuk mendengarkan gagasan, berdiskusi, serta berbagi perspektif mengenai sastra dan berbagai persoalan kehidupan.

Kemah Sastra tidak hanya menawarkan pengalaman berkemah dan berkumpul, tetapi juga menghadirkan ruang intelektual yang mempertemukan karya, gagasan, alam, ilmu pengetahuan, teknologi, dan pengalaman manusia dalam satu rangkaian kegiatan.

Penulis: Khotibul Umam

Kuliah Tamu: Dr. Tan Yujing

Rilis Berita Kamis, 13 Agustus 2026

Yogyakarta (21/7),  Departemen Antropologi FIB UGM menyambut Dr.Tan Yujing dari Universitas Leiden. Dr.Tan Yujing merupakan dosen di Institute for Area Studies and International Studies yang memiliki minat kajian mobilisasi dan migrasi, ekonomi politik dalam inovasi, Global China, dan Sosiologi institusi yang berkaitan dengan asosiasi industri dan ekonomi. Dalam kunjungan nya ke Departemen Antropologi di Ruang Baca Lantai 5, Dr.Tan Yujing mempresentasikan hasil riset dan materinya di daerah Batang, Jawa Tengah dengan judul Understanding Mobility Regime in China Indonesia Economic Cooperative Zone (Batang) yang membahas tentang bagaimana daerah industri di Batang menjadi zona ekonomi yang banyak menyerap tenaga asing seperti Tiongkok dalam rezim mobilitas nya yang masif. Acara tersebut dimoderatori oleh Dr. Wahyu Kuncoro dari Departemen Antropologi yang berjalan selama satu setengah jam dari 13.00 hingga 14.30.

 Diresmikan pada Mei 2025, Zona Ekonomi Batang diciptakan  untuk mendukung investasi asing di industri ekspor Indonesia sebagai respon atas rezim mobilitas untuk memfasilitasi pekerja Tiongkok yang sering bermigrasi ke Indonesia. Dengan spektrum keahlian nya di bidang mobilisasi dan inovasi ekonomi politik dalam konteks industri, beliau menilik bagaimana kedatangan pekerja Tiongkok beradaptasi dengan industri lokal dan menciptakan relasi yang baru di lingkungan para pekerja pabrik di Batang. Dalam riset ini, Dr. Tan Yujing menggunakan berbagai pendekatan untuk mempelajari fenomena pekerja antardua negara tersebut. Salah satunya adalah dengan observasi partisipatoris dengan mengikuti dan bekerja dengan pekerja Tiongkok dan Indonesia selama 4 hari dalam seminggu untuk mempelajari rutinitas harian. Wawancara semi struktur dan obrolan kasual digunakan oleh Dr. Tan Yujing untuk mengetahui lebih dalam tentang hubungan pekerja dengan tempat mereka bekerja secara struktural. Baik itu secara manajerial karyawan, pekerjaan domestik, dan dampaknya terhadap ekonomi daerah lokal dan global. 

Dari hasil risetnya itu, beliau menemukan adanya diferensiasi atau perbedaan pola hidup pekerja Tiongkok dan Indonesia yang membentuk dua dimensi kehidupan yang berbeda dalam satu tempat yang sama. Pekerja Tiongkok membawa kultur negaranya untuk bisa bertahan hidup di Batang sekaligus berasimilasi dengan kebiasaan penduduk lokal. Kolaborasi pekerja antardua negara tersebut tidak hanya dilihat sebagai budaya migrasi untuk mencari taraf ekonomi yang lebih baik. Lebih dari itu, para pekerja di Zona Ekonomi Batang turut menyukseskan kesuksesan ekonomi dan bilateral antar dua negara dalam skala makro. Riset Dr. Tan Yujing membuka pandangan bahwa kerjasama ekonomi bilateral antara Indonesia-Tiongkok tidak hanya dimaknai oleh kesuksesan secara global. Ada aktor-aktor kecil yang jarang terlihat oleh masyarakat luas sebagai penopang utama kesuksesan industri antarnegara, yaitu para pekerja Tiongkok dan Indonesia yang kolaboratif. Harapannya, zona ekonomi yang terintegrasi oleh dua negara di Batang ini bisa membantu surplus ekonomi dua negara secara implementatif.

 

Penulis : Zaky Ahmad Hidayat

Divisi Arkeologi Bawah Air HIMA UGM Asah Kompetensi Penyelaman di Karimunjawa

Rilis Berita Jumat, 7 Agustus 2026

Himpunan Mahasiswa Arkeologi (HIMA) Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada melalui Divisi Arkeologi Bawah Air (ABA) melaksanakan kegiatan Latihan Perairan Terbuka sebagai tahapan pengembangan kemampuan penyelaman mahasiswa. Kegiatan ini berlangsung selama enam hari pada 23-28 Juli 2026 di Karimunjawa, Jepara, Jawa Tengah, dengan melibatkan Sentra Selam Jogja sebagai instruktur pendamping. Dalam pelaksanaannya, peserta pelatihan melakukan praktik penyelaman di perairan terbuka untuk menerapkan berbagai keterampilan yang telah diperoleh pada latihan sebelumnya. 

Latihan Perairan Terbuka menjadi tahap lanjutan dalam proses pembelajaran penyelaman yang memberikan pengalaman secara langsung kepada mahasiswa untuk beradaptasi dengan kondisi perairan laut. Kegiatan ini juga mendukung pengembangan kemampuan mahasiswa dalam melakukan observasi dan dokumentasi di lingkungan bawah air yang berkaitan dengan kajian arkeologi, sekaligus menjadi sarana untuk memperoleh sertifikasi. Melalui kegiatan Latihan Perairan Terbuka, HIMA berupaya meningkatkan kompetensi dan pengalaman lapangan anggota Divisi Arkeologi Bawah Air sekaligus mempersiapkan mahasiswa untuk terlibat dalam kegiatan penelitian arkeologi bawah air dan kajian maritim.  

 

Penulis: Jovinka Aldinova Kiranamurti
Pemilik foto: Ramadhani Alifi Cahya Saputra dan Sentra Selam Jogja

Kisah Dua Wisudawan Magister Sastra FIB UGM: Menempuh Jalur Berbeda, Meraih Prestasi Bersama

Rilis Berita Senin, 3 Agustus 2026

Yogyakarta – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyelenggarakan “Mangayubagya Wisudawan/Wisudawati Program Pascasarjana Periode IV Tahun Akademik 2025/2026” pada Rabu (22/7) di Auditorium Gedung Poerbatjaraka FIB UGM. Acara tersebut menjadi momentum untuk memberikan apresiasi kepada para lulusan yang telah menyelesaikan studi, sekaligus menghadirkan kisah inspiratif dari para wisudawan. Di antaranya ialah Nabillah Faisal Azzahra, lulusan pertama Program Magister Sastra melalui skema Fast Track, serta Wanda Andres Saputra, salah satu lulusan tercepat Program Magister Sastra.

Bagi Nabillah, melanjutkan studi melalui Program Fast Track merupakan langkah yang berangkat dari kecintaannya terhadap kesusastraan Jepang. Alumni Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM angkatan 2021 tersebut melanjutkan studi ke Program Magister Sastra pada 2024 setelah diperkenalkan dengan program tersebut oleh dosen pembimbing akademiknya.

“Saya senang membaca dan mengkaji karya sastra Jepang, terutama mencoba memahami berbagai fenomena sosial, budaya, maupun isu-isu yang diangkat di dalamnya melalui berbagai pendekatan teori. Ketika dosen pembimbing akademik memperkenalkan Program Fast Track, saya merasa ini adalah kesempatan yang tepat untuk memperdalam minat tersebut sekaligus melanjutkan studi dengan lebih efisien,” ujarnya.

Memasuki jenjang magister, Nabillah merasakan perubahan ritme belajar yang menuntut kemandirian lebih tinggi. Ia harus lebih banyak membaca literatur, berpikir kritis, serta membangun argumentasi akademik yang kuat. Baginya, pengalaman tersebut justru menjadi tantangan yang menyenangkan karena membuka banyak perspektif baru dalam kajian sastra.

“Awalnya saya sempat merasa kaget karena teori dan metodologi penelitian dipelajari jauh lebih mendalam. Namun, di situlah letak hal yang paling menarik. Setiap mata kuliah membuka cara pandang baru dan membuat saya semakin menikmati proses belajar,” tuturnya.

Sebagai bagian dari angkatan pertama Program Fast Track Magister Sastra, Nabillah juga harus menyusun strategi belajar secara mandiri karena belum memiliki referensi dari kakak tingkat yang pernah menjalani program serupa. Meski demikian, ia menilai Program Fast Track memberikan banyak manfaat, mulai dari efisiensi waktu dan biaya hingga kesempatan mempertahankan ritme belajar sejak jenjang sarjana.

“Program Fast Track memang memiliki tantangan karena ritme perkuliahannya cepat dan padat. Namun, program ini juga memberikan banyak keuntungan bagi mahasiswa yang memang sudah ingin melanjutkan studi. Saya juga semakin yakin bahwa saya ingin berkarier sebagai akademisi apabila ada kesempatan,” katanya.

Sementara itu, kisah inspiratif juga datang dari Wanda Andres Saputra, lulusan Program Magister Sastra konsentrasi Sastra Inggris yang berhasil menyelesaikan studi sebagai salah satu lulusan tercepat. Wanda mengawali studi magisternya pada Februari 2025 dengan tujuan memperdalam kajian sastra Inggris sekaligus mempersiapkan diri menjadi akademisi.

Meski menyandang predikat lulusan tercepat, Wanda mengaku tidak pernah menjadikan kecepatan lulus sebagai target utama.

“Di awal perjalanan perkuliahan saya tidak memiliki target menjadi lulusan tercepat ataupun menjadi yang terbaik. Saya hanya berfokus kepada riset apa yang sedang dibutuhkan dan harus segera diselesaikan. Karena itu, saya sangat bahagia dan tidak menyangka bisa menjadi salah satu lulusan tercepat,” ungkapnya.

Selama menjalani studi, Wanda menyelesaikan seluruh mata kuliah pada dua semester pertama. Memasuki semester ketiga, ia sepenuhnya memusatkan perhatian pada penyelesaian tesis. Di tengah kesibukannya bekerja sebagai staf akademik bahasa Inggris dan tutor TOEFL ITP, ia tetap meluangkan waktu setiap hari untuk menulis tesis secara konsisten.

Menurutnya, keberhasilan menyelesaikan studi tepat waktu tidak ditentukan oleh strategi yang rumit, tetapi oleh konsistensi dan fokus terhadap bidang keilmuan yang ingin ditekuni.

“Tidak ada strategi yang spesial. Saya hanya berfokus kepada keilmuan yang ingin saya dalami. Saya menyicil tesis setiap hari sebelum bekerja, saat jam istirahat, hingga malam hari. Yang terpenting adalah menjaga ritme dan tetap konsisten,” jelasnya.

Perjalanan tersebut juga tidak lepas dari berbagai tantangan. Wanda mengaku sempat beberapa kali mengubah judul penelitian dan menyesuaikan teori sebelum akhirnya menghasilkan tesis yang dapat dipertanggungjawabkan secara akademik.

Ia pun berpesan kepada mahasiswa yang sedang menempuh studi magister agar tidak hanya berorientasi pada kelulusan cepat, tetapi juga memiliki arah keilmuan yang jelas.

“Fokuslah pada bidang yang benar-benar ingin didalami. Ketika kita tahu ingin menjadi ahli dalam bidang apa, proses belajar akan terasa lebih terarah dan studi pun dapat diselesaikan secara efektif tanpa mengesampingkan kualitas akademik,” pesannya.

Baik Nabillah maupun Wanda sepakat bahwa keberhasilan menyelesaikan studi tidak terlepas dari dukungan para dosen pembimbing dan keluarga. Keduanya menyampaikan apresiasi kepada sivitas akademika FIB UGM yang telah mendampingi proses belajar mereka, sekaligus kepada keluarga yang senantiasa memberikan doa dan dukungan sepanjang perjalanan akademik.

Melalui kisah dua lulusan tersebut, FIB UGM menunjukkan komitmennya dalam menciptakan lingkungan akademik yang mendukung mahasiswa untuk berkembang sesuai potensinya. Program Fast Track membuka peluang bagi mahasiswa mempercepat jenjang pendidikan tanpa mengurangi kualitas pembelajaran, sementara capaian lulusan tercepat menjadi bukti bahwa fokus, konsistensi, dan semangat belajar merupakan bekal penting dalam menyelesaikan pendidikan tinggi. Kisah Nabillah Faisal Azzahra dan Wanda Andres Saputra diharapkan dapat menginspirasi mahasiswa lain untuk terus mengembangkan keilmuan, menghasilkan riset yang berkualitas, serta memberikan kontribusi bagi dunia akademik dan masyarakat.

Penulis: Khotibul Umam

Menjaga Tradisi Batik Yogyakarta melalui Karya Aji Setyowijaya, Alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa

Rilis Berita Senin, 3 Agustus 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada, telah melahirkan banyak alumni yang berkiprah dalam pelestarian dan pengembangan bahasa, sastra, maupun budaya Jawa. Salah satunya ialah Aji Setyowijaya, alumni angkatan 2008 yang kini menekuni dunia batik sebagai pengrajin batik khas Yogyakarta.

Tim Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa berkesempatan mengunjungi sekaligus mewawancarai Aji Setyowijaya, selanjutnya ditulis sebagai Mas Aji, secara langsung pada Selasa, 21 Juli 2026. Alumni angkatan 2008 yang juga merupakan penerima beasiswa Yayasan Arsari Djojohadikusumo (YAD) atau Yayasan Keluarga Hasyim Djojohadikusumo (YKHD) tersebut menceritakan bahwa ketertarikannya terhadap batik bermula dari kekagumannya pada kain-kain batik peninggalan. Ia mengaku sering menjumpai kain batik lama yang memiliki kualitas dan keindahan tinggi, tetapi kondisinya sudah rapuh sehingga tidak lagi layak digunakan. “Saya dulu senang ketika melihat kain batik peninggalan. Kainnya bagus dan ingin dipakai, tetapi sudah rawan. Akhirnya, saya termotivasi untuk mencoba mereproduksi kain batik yang sudah tua. Hal itu ditambah dengan waktu berkuliah saya sedang senang menggunakan rasukan atau pakaian Jawa,” ungkapnya.

Ketertarikan tersebut mendorongnya mulai belajar membatik pada 2009. Dirinya mempelajari berbagai teknik membatik dengan mengamati dan belajar secara langsung di sejumlah sentra batik di Yogyakarta. Pada masa awal tersebut, Mas Aji memfokuskan diri untuk memahami pakem dan teknik batik tradisi Yogyakarta sebagai fondasi utama sebelum mengembangkan karyanya sendiri.

Berbekal pemahaman tersebut, pada sekitar 2013 hingga 2015, Mas Aji mulai memproduksi batik antik, yang juga dikenal sebagai batik kama atau batik lawasan. Menurutnya, pada masa itu masyarakat maupun kolektor memberikan apresiasi yang tinggi terhadap batik lawasan karena dianggap berasal dari puluhan tahun silam. “Pada tahun tersebut, dalam perdagangan, orang lebih mengapresiasi batik antik atau kama atau lawasan dengan asumsi batik itu dari 50–70 tahun yang lalu,” jelasnya.

Namun, pengalaman tersebut justru memunculkan kegelisahan dalam dirinya. Menurut Mas Aji, batik tidak semestinya hanya dipandang sebagai karya klasik yang berhenti pada proses reproduksi masa lalu. Batik juga perlu terus berkembang tanpa meninggalkan akar tradisinya. Berangkat dari pemikiran tersebut, ia mulai menghadirkan identitas pribadinya dalam setiap karya yang dibuat serta memperluas eksplorasi di luar gaya batik khas Yogyakarta.

Sejalan dengan semangat tersebut, sejak 2018 Mas Aji mulai mendalami teknik pewarna alami (natural dye) untuk batik pakem tradisi Yogyakarta. Baginya, mempelajari pewarna alami bukan sekadar menghasilkan ragam warna yang berbeda, melainkan juga menjadi bagian dari upaya memahami kembali pengetahuan teknis yang telah diwariskan oleh para pembatik terdahulu.

Dalam proses berkarya, Mas Aji tidak bekerja seorang diri. Ia berkolaborasi dengan rekannya, Yahya Adi Sutikno, yang berfokus pada proses perancangan desain, sementara Mas Aji lebih banyak menangani proses produksi. Kolaborasi tersebut memungkinkan keduanya menghasilkan berbagai karya batik dengan pendekatan yang saling melengkapi.

Berbagai karya batik telah dihasilkan, mulai dari sample pieces ragam motif batik dalam satu kain yang terdiri atas 27, 260, hingga 480 contoh motif, karya-karya batik replikasi, batik lawasan, hingga batik hasil transformasi, alih media, dan berbagai bentuk batik kreasi. Tidak hanya pada kain batik, eksplorasi tersebut juga diterapkan pada berbagai media tekstil lain, seperti sarung dan media kain lainnya.

Selain berkecimpung dalam pembuatan kain batik, Mas Aji juga aktif dalam Perkumpulan Wastra Indonesia, sebuah komunitas yang menghimpun para pegiat dan pencinta wastra Nusantara. Dedikasinya terhadap batik juga diwujudkan melalui kontribusinya dalam buku Pesona Padu Padan Wastra Indonesia sebagai kontributor busana yang menampilkan penggunaan batik tradisi Yogyakarta.

Di balik seluruh proses kreatif tersebut, Mas Aji menilai bahwa salah satu aspek yang perlu terus dijaga dalam dunia batik adalah pengetahuan teknis. Menurutnya, pembahasan mengenai batik selama ini lebih banyak berfokus pada makna filosofis, simbol, dan nilai budaya, sementara pengetahuan mengenai teknik membatik justru berpotensi hilang apabila tidak didokumentasikan dan diwariskan. “Menurut saya, ranah tersebut (filosofi) tidak mudah hilang karena literaturnya sudah banyak. Tetapi, kalau soal teknis, itu bisa hilang. Misalnya, motif parang itu mau dibuat dari mana, arahnya dari mana. Ada cara dan metodenya.” Bagi Mas Aji, menjaga pengetahuan teknis sama pentingnya dengan menjaga nilai filosofis batik karena keduanya merupakan satu kesatuan yang membentuk tradisi membatik.

Menjelang akhir wawancara, Mas Aji juga menyampaikan pesan kepada mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa agar tidak takut mencoba berbagai peluang di luar ruang kelas. “Masalah besar dikecilkan, dan masalah kecil diabaikan. Jangan ragu atau takut untuk mencoba dan bereksplorasi. Jangan juga menutup wawasan hanya pada perkuliahan saja.”

Perjalanan Mas Aji Setyowijaya menunjukkan bahwa pembelajaran mengenai bahasa, sastra, dan budaya Jawa tidak hanya berhenti pada ranah akademik, tetapi juga dapat diwujudkan melalui praktik pelestarian budaya yang memberikan manfaat bagi masyarakat. Melalui dedikasinya dalam mempelajari teknik membatik, mereproduksi batik tradisi, mengembangkan inovasi berbasis pakem, serta terus mengeksplorasi berbagai kemungkinan baru dalam dunia wastra, Mas Aji membuktikan bahwa warisan budaya dapat terus hidup dan berkembang mengikuti zaman tanpa kehilangan jati dirinya.

Bagi para mahadaya yang ingin mengenal lebih dekat karya maupun aktivitas Mas Aji, dapat mengunjungi akun Instagram @setyowijaya dan Facebook Batik Setyowijaya. Melalui kedua media sosial tersebut, Mas Aji membagikan berbagai proses kreatif, hasil karya, serta aktivitasnya dalam melestarikan dan mengembangkan seni batik.

 

Penulis : Haryo Untoro

123…30

Rilis Berita

  • Menjaga Kemandirian dan Karakter Lewat Kemah Sastra 
  • Memasuki Semester Ketiga, Sastra Arab UGM Ajak Mahasiswa 2025 Siapkan Langkah dan Ambil Peluang.
  • Mahasiswi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Dokumentasikan Bahasa Temanggung dan Aksara Jawa melalui KKN-PPM di Desa Bansari
  • Orasi Sastra Membahas Biopuitika, Alam, Algoritma, dan Masa Depan Humaniora
  • Meriahkan Dies Natalis ke-71 FEB, Lomba Voli Antar-Tendik Kembali Digelar

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju