Yogyakarta, 7 April 2026 – Lima mahasiswa Program Studi Antropologi Budaya, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali melakukan praktik lapangan untuk memperdalam kemahiran riset etnografi. Kelompok mahasiswa ini mengunjungi peternakan lebah milik Pak Paidi dan Pak Heri di Dusun Gandon, Sumuran, Palbapang, Bantul, pada Selasa (07/04). Kunjungan ini merupakan observasi lanjutan setelah kunjungan perdana mereka yang dilaksanakan pada 4 Maret lalu.
Kegiatan ini merupakan bagian integral dari mata kuliah Metode Penelitian Etnografi yang diampu oleh Prof. Dr. Pujo Semedi Hargo Yuwono, M.A. dan Mubarika Dyah Fitri Nugraheni, S.Ant., M.A. Guna menjembatani teori dan praktik, mahasiswa yang telah mendapatkan bekal teknik wawancara dan observasi di kelas diterjunkan langsung ke lapangan. Dalam pelaksanaannya, mahasiswa didampingi oleh asisten dari mahasiswa tingkat atas—di antaranya Hira, Ana, Ruly, Afad, dan Fahmi—sebagai rekan diskusi dan konsultasi. Seluruh hasil temuan lapangan kemudian disusun dalam bentuk fieldnote (catatan lapangan) komprehensif untuk dipresentasikan dalam forum kelas.
Kelompok riset yang terdiri dari Embun Cahaya Kinasih, Bernadette Serena, Ni Kadek Chandadhara Sasmita, Indira Wulan Septyani, dan Sae Munesada ini mengeksplorasi interaksi antara manusia, hewan, dan lingkungan. Melalui metode observasi partisipan, mereka menyelami dinamika kehidupan sosial-ekonomi peternak lebah di wilayah perdesaan Bantul.
Dalam interaksinya, Pak Paidi mengungkapkan bahwa unit usaha ini telah dirintis oleh putranya, Pak Heri, selama lebih dari satu dekade. Keberhasilan peternakan ini sangat bergantung pada harmoni ekosistem lokal. Jenis bunga yang mekar di sekitar lokasi secara alami menentukan karakteristik aroma dan kualitas madu yang dihasilkan.
Riset ini mengungkap temuan menarik mengenai fleksibilitas strategi ekonomi rumah tangga perdesaan. Sebelum fokus pada budidaya lebah jenis Cerana dan Klanceng, keluarga Pak Paidi sempat mengeksplorasi berbagai jenis usaha lain, seperti budidaya jangkrik dan cacing. Selain itu, studi ini menangkap kedalaman pengetahuan lokal (local knowledge) standar kualitas madu ditentukan melalui pengalaman empiris bertahun-tahun, melampaui sekadar teori formal. Pak Heri menjelaskan bahwa keaslian madu justru sering kali terlihat dari visual sarang yang tidak simetris serta perubahan warna yang kian pekat seiring proses pematangan alami.
“Kunjungan ini memberikan dimensi pengalaman sensorik dan intelektual yang berbeda. Kami belajar bahwa pengetahuan peternak bukan sekadar masalah teknis budidaya, melainkan tentang hubungan mendalam dengan ruang hidup mereka,” ungkap Embun Cahaya Kinasih, ketua kelompok riset.
Antusiasme serupa juga disampaikan oleh Sae Munesada, mahasiswa pertukaran pelajar asal Jepang yang turut serta dalam tim. Ia mengaku terkesan dengan kesempatan mempelajari kebudayaan dan kearifan lokal masyarakat Indonesia secara langsung di lapangan.
Di sisi lain, pihak peternak menyambut hangat kolaborasi ini sebagai bentuk sinergi antara masyarakat dan institusi pendidikan. Mereka berharap kehadiran mahasiswa dapat menjadi ruang pertukaran pengetahuan yang bermanfaat bagi kedua belah pihak.
Penulis: Mochammad Najmul Afad
Dokumentasi: Embun Cahaya Kinasih & Sae Munesada

