• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Magister Sastra
Arsip:

Magister Sastra

Menelusuri Jejak Syaikh Hamzah Fansuri: FIB UGM Gelar Seminar Sastra Melayu dan Kepenyairan Nusantara

Rilis Berita Senin, 28 September 2026

Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya UGM bekerja sama dengan Pemerintah Kota Subulussalam menggelar Seminar Nasional bertajuk “Hamzah Fansuri dan Tradisi Kepenyairan Nusantara”. Acara yang berlangsung pada Rabu, 16 September 2026 di Auditorium Gedung Poerbatjaraka Lantai 3 FIB ini menghadirkan deretan akademisi dan pakar sastra, di antaranya Prof. Dr. Faruk, S.U., Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., Prof. Dr. Sangidu, M.Hum.

Dalam pembukaannya, Dr. Nur Saktiningrum, S.S., M.Hum sebagai perwakilan FIB menekankan pentingnya pengkajian sastra Melayu dalam konteks era modern. Menurutnya, sastra Melayu bukan sekadar catatan masa lalu, melainkan medium penting untuk menjaga ingatan budaya.

“Pengkajian sastra Melayu membuka ruang warisan sekaligus tantangan masa kini. Melalui kajian ini, kita menjaga kesinambungan dan ingatan budaya. Harapannya, seminar ini menjadi dialog yang produktif dan membuka perspektif baru antara sastra dan budaya dalam membangun bangsa yang berbudaya, beretika, dan baik,” ungkapnya.

Diskusi seminar ini membahas peran Syaikh Hamzah Fansuri yang dijuluki sebagai sang pemula puisi Indonesia. Dalam kesempatan tersebut, Prof. Dr. Faruk mengulas Hamzah Fansuri sebagai pembaharu syair Melayu, sedangkan Prof. Dr. Sangidu memaparkan aspek sufistik dalam karya-karya Hamzah Fansuri. Prof. Sangidu menyampaikan apresiasi tinggi atas karya-karya monumental seperti Syaraabul Asyiqin yang masih terselamatkan dan terawat dengan baik hingga saat ini. Ia juga menyinggung keberadaan situs atau tempat bersejarah terkait Hamzah Fansuri yang masih utuh dan terus hidup di tengah masyarakat.

Selain pengkajian sastra klasik, dimensi perkembangan teori sosial dan sastra turut dibahas oleh Prof. Dr. Aprinus Salam melalui materinya mengenai jejak-jejak Hamzah Fansuri dalam puisi-puisi modern Indonesia. Dalam pemaparannya, ia juga menjelaskan dinamika teori-teori sosial seperti teori Marxisme yang sempat dilarang pada masa Orde Baru, namun kemudian membuka ruang baru bagi perkembangan analisis sosial dan pemikiran kritis pasca-reformasi.

Melalui seminar ini, para peserta diajak untuk memahami kembali akar sastra nusantara sekaligus memetik nilai-nilai etika dan budaya lokal untuk menjawab tantangan pembangunan karakter bangsa di masa depan.

 

[Penulis: Humas FIB, Zaidan Abdurrahman]

Meraih Paper Terbaik, Cerita Sofiana, Joko, dan Mulya Berjalan di Sepatu Perempuan dalam Sastra Indonesia

Rilis Berita Senin, 21 September 2026

Ada pertanyaan yang mula-mula terdengar sederhana namun sukar dijawab: siapa yang berhak menceritakan perempuan?

Pertanyaan itu membawa Sofiana Martha Rini dan dua rekannya, Priyo Joko Purnomo serta Mulya Atmana Dwiyana WNA, jauh lebih dalam. Dari tugas mata kuliah prosa, tulisan mereka berkembang menjadi paper yang dipresentasikan dalam The 2nd International Conference Bali Gender Studies Forum (BGSF) 2026.

Paper berjudul Walking in Her Shoes: Gender and Ethics of Representing Women in Post-Reform Indonesian Novels (2000–2025) itu kemudian meraih penghargaan Best Paper dalam konferensi yang diselenggarakan Yayasan Bali Sruti pada 28–29 Agustus 2026 secara daring.

Bagi Sofiana, paper tersebut sebenarnya tidak  tiba-tiba lahir dari meja penelitian yang penuh buku dan teori. Ia bermula dari kegelisahan.

Salah satunya ketika Sofiana membaca dan memikirkan kembali karya karya Panji Sukma. Dari sana muncul pertanyaan tentang representasi: bagaimana perempuan ditulis, siapa yang menuliskannya, dan apakah pengalaman perempuan bisa benar-benar direpresentasikan secara utuh oleh orang lain.

Pertanyaan itu rupanya tidak selesai setelah satu kali membaca.

“Intinya tuh kita harus tahu representasi itu sulit untuk tidak bias,” kata Sofiana.

Kegelisahan tersebut bahkan sempat ia bawa ke diskusi lain, termasuk ketika mengikuti summer school. Ia berdiskusi dengan seorang dosen sekaligus sastrawan Ramayda Akmal dan Prof. Arnez mengenai persoalan representasi dan batas-batas seseorang ketika mencoba menceritakan pengalaman yang bukan miliknya.

Dari sana, topik yang awalnya berangkat dari satu karya melebar menjadi pertanyaan yang lebih besar: bagaimana perempuan direpresentasikan dalam sastra Indonesia setelah Reformasi?

Sofiana bersama kedua rekannya kemudian tidak berhenti pada satu atau dua novel. Mereka membaca 21 novel Indonesia yang terbit antara 2002 hingga 2025, karya pengarang laki-laki maupun perempuan, dari latar sastra dan kecenderungan ideologis yang berbeda.

Kerangka berpikir mereka salah satunya berangkat dari gagasan Stuart Hall mengenai representasi. Representasi, dalam kerangka ini, adalah yang tebarluasnya tanpa tepi dan bukan hanya menghadirkan sesuatu agar terlihat. Ia merupakan proses ketika makna tentang sesuatu diproduksi.

Maka pertanyaannya pun bergeser menjadi: siapa yang membangun makna tentang perempuan itu? Dari sudut pandang siapa pengalaman perempuan diceritakan? Dan siapa yang memiliki otoritas untuk merepresentasikan perempuan?

Untuk membedahnya, mereka menggunakan sejumlah perangkat teori, antara lain konsep male gaze dari Laura Mulvey serta konsep fokalisasi dan non-narratorial commentary dalam naratologi Mieke Bal.

Hasil pembacaan terhadap puluhan tokoh perempuan dalam 21 novel itu menunjukkan pola yang menarik. 

Perempuan memang semakin sering muncul sebagai pusat cerita. Tetapi menjadi pusat cerita tidak otomatis berarti menjadi pusat kuasa. Perempuan boleh bicara. Tetapi siapa yang menentukan?

Dalam sejumlah novel, Sofiana dan timnya menemukan perempuan masih banyak ditempatkan mengelilingi tokoh laki-laki.

Ada perempuan yang berbicara, merasa, mencintai, bahkan mengambil keputusan. Namun suara tersebut tetap berada dalam struktur cerita yang ditentukan oleh tokoh laki-laki.

Contohnya mereka temukan dalam Ayat-Ayat Cinta karya Habiburrahman El Shirazy. Aisha memiliki suara dan pengalaman emosionalnya sendiri. Tetapi cara pembaca mengenali pengalaman itu tetap berhubungan erat dengan posisi Fahri sebagai pusat cerita.

Pola lain muncul ketika perempuan sudah menjadi tokoh utama.

Namun sekali lagi, menjadi protagonis belum tentu berarti memiliki otoritas.

Dalam pembacaan mereka terhadap sejumlah novel, perempuan bisa menjadi pusat perhatian narasi, tetapi keputusan mengenai bagaimana tubuh, pengalaman, trauma, maupun kehidupannya dimaknai tetap dapat dikendalikan oleh struktur naratif yang lebih besar.

Pada tahap ini, Sofiana menemukan perbedaan penting antara agency dan authority.

Perempuan dapat memiliki agensi, yakni mampu memilih, bertindak, menolak, bahkan melawan. Tetapi itu belum tentu berarti ia memiliki otoritas untuk menentukan bagaimana kisahnya sendiri dimaknai.

Lalu, bagaimana jika perempuan menulis perempuan?

Pertanyaan tersebut membawa penelitian mereka ke bagian berikutnya. Apakah representasi otomatis menjadi lebih etis ketika perempuan menjadi penulisnya? Jawabannya ternyata tidak sesederhana itu.

Sofiana dan timnya juga membaca karya-karya yang ditulis pengarang perempuan. Di sana mereka menemukan perempuan memang dapat hadir dengan suara, pengalaman, dan persoalan yang lebih beragam.

Tapi bagi mereka, jenis kelamin pengarang bukan satu-satunya ukuran. Sebab persoalannya bukan semata-mata siapa si empunya pena. Yang lebih penting adalah bagaimana teks tersebut memproduksi makna tentang perempuan dan sejauh mana teks menyadari batas-batas otoritasnya ketika berbicara tentang pengalaman orang lain.

Karena itu, kesimpulan paper mereka justru terasa seperti pertanyaan yang sengaja dibiarkan tanpa closure.

Can we ever fully walk in her shoes?

Mungkin tidak. Dan justru karena itulah, kata Sofiana dan timnya, sastra perlu menyadari bahwa tidak ada seseorang yang bisa sepenuhnya berjalan dengan sepatu orang lain.

Tugas etisnya bukan berpura-pura telah sampai pada pengalaman tersebut. Perlu menyadari batas.

Dari tugas kuliah, menariknya, paper yang membawa Sofiana meraih penghargaan itu bermula dari sesuatu yang sangat dekat dengan kehidupan mahasiswa: tugas kuliah.

Tulisan tersebut berangkat dari tugas mata kuliah prosa. Setelah dikerjakan dan dibaca kembali, Sofiana bersama kedua rekannya melihat ada gagasan yang masih bisa dikembangkan.

Mereka kemudian merevisi tulisan tersebut dan mengikutsertakannya dalam call for paper BGSF.

Yayasan Bali Sruti sendiri selama ini mengembangkan penerbitan di bidang literasi akademik, sosial, budaya, perempuan dan anak, bahasa, hingga kebijakan publik. Lembaga tersebut juga memiliki lini penerbitan prosiding dan book chapter. Paper Sofiana dan tim akhirnya dipresentasikan secara daring pada 28 Agustus.

Waktu presentasinya pun tidak panjang. Hanya sekitar enam menit.

Enam menit untuk membawa 21 novel, sejumlah teori, kegelisahan akan representasi, dan pertanyaan tentang otoritas ke hadapan forum internasional.

Pada akhirnya, paper itulah yang membawa nama Sofiana dan timnya meraih Best Paper. Penghargaan tersebut datang tidak hanya karena banyaknya novel yang mereka baca atau teori yang mereka gunakan. Ada perjalanan yang lebih panjang di belakangnya: tugas kuliah yang tidak berhenti hanya sebagai tugas, sebuah kegelisahan yang terus dipikirkan, lalu sebuah pertanyaan yang terus dibawa sampai ke ruang konferensi.

Siapa yang berhak menceritakan perempuan?

Sofiana sendiri tidak memberikan jawaban yang sederhana. Barangkali memang tidak ada.

Sebab semakin jauh ia membaca, semakin jelas bahwa persoalan representasi bukan cuma tentang siapa yang berbicara, bahwa ketika ia berbicara mengenai orang lain, selalu ada bagian yang tidak akan pernah sepenuhnya menjadi miliknya.

 

Penulis: Khotibul Umam

Unggunan Cerita: Di Balik Dapur Kreatif Mahfud Ikhwan

Rilis Berita Senin, 24 Agustus 2026

Yogyakarta — Malam di Pondok A. Salam, Kalimasada, menjadi lebih hangat ketika sesi Unggunan Cerita menghadirkan penulis Mahfud Ikhwan dalam rangkaian Kemah Sastra bersama Alam-Semesta 2026. Dalam suasana santai dan akrab, Mahfud berbagi cerita tentang perjalanan kepenulisan, proses kreatif, riset, kegemarannya pada budaya populer, hingga bagaimana ia memandang kritik sastra.

Sesi ini menjadi kesempatan bagi peserta untuk mengintip “dapur kreatif” seorang penulis yang selama bertahun-tahun membangun karya melalui ketekunan, riset, dan kedekatan dengan kehidupan sehari-hari.

Mahfud mengawali perjalanan kepenulisannya melalui novel Ulid Tak Ingin ke Malaysia (2009). Namanya kemudian semakin dikenal melalui Kambing dan Hujan: Sebuah Roman (2015) dan Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu (2017). Karya-karya tersebut memperlihatkan perhatian Mahfud pada kehidupan masyarakat, terutama dunia desa dan kelompok-kelompok yang kerap berada di pinggiran arus utama.

Dalam Unggunan Cerita, Mahfud berbicara cukup jauh mengenai proses kreatifnya. Ia mengungkapkan bahwa menulis sebuah novel bukan pekerjaan yang selalu dapat diselesaikan dalam hitungan bulan. Sebuah novel bahkan dapat dikerjakannya selama bertahun-tahun, hingga mencapai sembilan tahun untuk satu karya.

Menurut Mahfud, setiap novel membutuhkan treatment, cara kerja, metode, dan riset yang berbeda. Tidak ada satu resep yang dapat diterapkan untuk semua karya. Riset untuk menulis karya sastra pun, menurutnya, tidak dapat begitu saja disamakan dengan riset ilmiah. Semuanya bergantung pada jenis cerita, dunia yang hendak dibangun, serta apa yang ingin disampaikan melalui karya.

Ia kemudian menyinggung kebiasaan menulis Haruki Murakami sebagai salah satu contoh bagaimana seorang penulis dapat membangun disiplin kreatif melalui rutinitas. Murakami dikenal dengan kebiasaan berlari dan menulis secara teratur. Bagi Mahfud, contoh tersebut memperlihatkan bahwa proses kreatif juga membutuhkan kerja rutin dan ketekunan, bukan semata-mata menunggu datangnya inspirasi.

Salah satu gagasan menarik yang dibagikan Mahfud adalah nasihat agar penulis tidak selalu memulai cerita dari gagasan-gagasan besar atau grand narrative. Cerita, menurutnya, justru dapat tumbuh dari sesuatu yang tampak kecil: sebuah peristiwa, adegan, percakapan, atau dialog yang menarik.

Hal-hal kecil tersebut dapat menjadi pintu masuk ke dalam cerita yang lebih luas. Yang penting adalah bagaimana peristiwa atau adegan tersebut mampu membuat pembaca betah mengikuti cerita dan terus merasa penasaran.

Dengan cara demikian, penulis tidak perlu sejak awal memaksakan sebuah gagasan besar ke dalam cerita. Sebuah percakapan sederhana atau peristiwa yang tampaknya sepele dapat berkembang menjadi dunia cerita yang kompleks apabila digarap dengan tepat.

Pandangan tersebut juga tampak dalam cara Mahfud melihat kehidupan masyarakat di luar pusat kebudayaan. Ia akrab dengan apa yang disebutnya sebagai budaya dan hiburan rendah—wilayah kebudayaan populer yang sering kali dipandang sebelah mata oleh sebagian kalangan.

Kehidupan masyarakat dan dunia pinggiran, misalnya, justru menjadi bahan yang diolah Mahfud menjadi karya sastra. Salah satunya adalah Dawuk: Kisah Kelabu dari Rumbuk Randu, yang mengangkat kehidupan masyarakat di sebuah wilayah pedesaan dan berhasil memperoleh penghargaan sastra bergengsi.


Kegemaran Mahfud terhadap budaya populer juga tidak berhenti sebagai konsumsi pribadi. Dangdut, film India, dan sepak bola menjadi bagian dari dunia yang kemudian masuk ke dalam karya-karyanya.

Ketertarikannya pada sepak bola, misalnya, melahirkan novel Bek: Sebuah Novel (2024). Sementara kecintaannya pada film India dituangkan dalam buku esai Aku dan Film India Melawan Dunia (2017). Kegemarannya terhadap dangdut dan berbagai fenomena budaya populer lainnya kemudian hadir dalam Kepikiran Dangdut dan Hal-hal Pop Lainnya (2024).

Karya-karya tersebut menunjukkan bahwa bahan sastra tidak harus selalu datang dari sesuatu yang dianggap “tinggi”. Kehidupan sehari-hari, hiburan populer, kebiasaan masyarakat, bahkan hal-hal yang kerap dianggap remeh dapat menjadi sumber kreativitas.

Bagi Mahfud, justru dari wilayah-wilayah semacam itulah cerita sering kali memiliki kedekatan dengan pengalaman manusia yang konkret.

Menjelang akhir sesi, pembicaraan bergeser pada persoalan kritik sastra. Mahfud menjelaskan bahwa kritik yang baik memiliki fungsi yang jauh lebih penting daripada sekadar memberikan penilaian atau mencari kelemahan sebuah karya.

Ia mengibaratkan kritik sastra seperti latihan menyanyi dan suara fals. Seorang penyanyi mungkin tidak menyadari bahwa ada nada tertentu yang dinyanyikannya kurang tepat. Demikian pula seorang pengarang tidak selalu mengetahui seluruh hal yang bekerja di dalam karyanya.

“Ada hal-hal tertentu yang bahkan penulis sendiri tidak tahu dan sadari.”

Karena itu, kritik sastra dapat membantu membuka kemungkinan-kemungkinan yang tidak terlihat oleh pengarang sendiri. Dengan perspektif, teori, dan metode yang tepat, kritik dapat menjadi cara untuk membaca karya secara lebih tajam dan produktif.

Kritik sastra, dalam pandangan Mahfud, tidak seharusnya berhenti pada apa yang belakangan kerap diasosiasikan dengan perdebatan di media sosial: sekadar “nyinyir”, saling serang, atau ribut-ribut tanpa pijakan yang jelas.

Mahfud sendiri pernah menulis kritik melalui bukunya Melihat Pengarang Tidak Bekerja (2022). Buku tersebut menjadi salah satu contoh bagaimana ia mempraktikkan kritik dengan caranya sendiri: dekat dengan karya, tetapi tetap berusaha melihat proses dan persoalan kepengarangan secara kritis.

Sesi Unggunan Cerita akhirnya menjadi lebih dari sekadar percakapan tentang teknik menulis. Dari perjalanan panjang sebuah novel hingga kesukaan terhadap dangdut, film India, dan sepak bola, Mahfud menunjukkan bahwa dapur kreatif seorang penulis dapat berada di mana saja.

Cerita bisa tumbuh dari desa, dari pinggiran, dari lapangan sepak bola, dari layar film India, dari panggung dangdut, atau bahkan dari sebuah dialog kecil yang awalnya tampak tidak penting. Yang membedakan adalah bagaimana seorang penulis melihat, mengolah, meriset, dan memberinya bentuk.

Di bawah langit malam Kalimasada, Unggunan Cerita memperlihatkan bahwa sastra tidak selalu lahir dari gagasan-gagasan besar. Kadang-kadang, ia justru bermula dari hal kecil yang diperhatikan dengan sungguh-sungguh—lalu dikerjakan dengan sabar selama bertahun-tahun.

 

Penulis: Khotibul Umam

Menjaga Kemandirian dan Karakter Lewat Kemah Sastra 

Rilis Berita Jumat, 21 Agustus 2026

Yogyakarta— Magister Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Kemah Sastra bersama Alam-Semesta 2026 di Pondok A. Salam, Kalimasada, pada Jumat (14/8) hingga Sabtu (15/8). Mengusung semangat pengabdian dan kebersamaan, kegiatan ini menjadi ruang perjumpaan para pegiat sastra sekaligus ruang untuk kembali merefleksikan posisi sastra dalam kehidupan.

Kemah Sastra berlangsung secara sederhana dan nonkomersial. BagiProf. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., Ketua Program Studi Magister Sastra UGM sekaligus fasilitator kegiatan ini, salah satu hal penting dari sastra, termasuk penyelenggaraan Kemah Sastra Magister Sastra FIB UGM di Pondok A. Salam, Kalimasada, adalah upaya menjaga kemandirian dan mempertahankan karakter manusia.

“Hal yang penting dari sastra, termasuk Kemah Sastra Magister Sastra FIB UGM di Pondok A. Salam, Kalimasada, adalah upaya menjaga kemandirian dan mempertahankan karakter. Peluang untuk tidak berhasil mungkin lebih besar.”

Menurut Aprinus, upaya tersebut tidak mudah. Dalam sejarahnya, sastra justru menempatkan diri secara elegan ketika berhadapan dengan kekuasaan politik dan ekonomi, termasuk dengan konstruksi sosial-budaya yang hierarkis dan asimetris.

“Secara adab dan estetik, sastra adalah upaya-upaya untuk terus menerus mengklarifikasi mana kehidupan yang terkontaminasi dan mana yang seharusnya diperjuangkan.”

Pandangan tersebut memberikan konteks yang lebih luas terhadap pelaksanaan Kemah Sastra yang digelar secara sederhana. Kegiatan ini tidak dirancang sebagai acara komersial atau kegiatan yang mengejar kemewahan fasilitas, tetapi sebagai ruang perjumpaan dan konsolidasi melalui sastra.

Aprinus menilai, menjaga kemandirian merupakan sesuatu yang berat dan kemungkinan mengalami kegagalan cukup besar. Terlebih, menurutnya, kinerja-kinerja independen semakin sulit dilakukan. Banyak warga negara berada dalam kondisi serba terbatas dan tidak cukup terlatih untuk mandiri.

Namun, bagi sastra, persoalan kemandirian tidak dapat dipisahkan dari upaya mempertahankan karakter kemanusiaan.

“Dalam sejarahnya, sastra adalah ruang konsolidasi untuk mempertahankan karakter kemanusiaan yang asli. Sastra adalah ruang perjuangan untuk mempertahankan karakter manusia yang murni. Sastra adalah cara untuk mempertahankan hati nurani manusia.”



Peserta Kemah Sastra 2026 direkrut melalui proses kurasi karya. Para calon peserta diminta menyerahkan sedikitnya satu cerpen atau lima puisi. Dari karya yang masuk, sekitar 40 persen peserta atau kurang lebih 40 orang dinyatakan lolos kurasi.

Karya-karya peserta selanjutnya akan dihimpun dalam antologi cerpen dan puisi. Untuk tahap awal, buku antologi akan diterbitkan dalam bentuk buku fotokopi sesuai kebutuhan. Apabila buku tersebut dinilai baik dan layak dikembangkan, ke depan akan diupayakan pengurusan ISBN.

Dengan demikian, Kemah Sastra tidak hanya menjadi ruang berkumpul, tetapi juga mempertemukan proses penciptaan, pembacaan, kurasi, dan perbincangan sastra dalam satu ruang yang relatif sederhana.

Kegiatan dimulai Jumat (14/8) pukul 14.00. Sebelumnya, peserta hadir dan dilakukan pembagian kelompok,kemudian peserta mengikuti salat bersama sekaligus menerima informasi kegiatan. Sore hari diisi dengan perkenalan, ngobrol, jalan-jalan, olahraga ringan, dan menikmati suasana kebun di Kalimasada. Menjelang malam, peserta menikmati matahari terbenam sebelum melanjutkan kegiatan malam.

Setelah makan malam, rangkaian acara diisi dengan Orasi Sastra bersama Muhammad Lutfi Dwi Kurniawan dan Rini Febriani Hauri. Acara dilanjutkan dengan pembacaan Catatan Kuratorial. Peserta kemudian mengikuti sesi Ngobrol Santai bersama Mahfud Ikhwan bertajuk Unggunan Cerita.

Malam ditutup dengan pembacaan puisi dan cerpen serta acara bebas. Peserta kemudian beristirahat dan melanjutkan kegiatan pada Sabtu pagi.

Meski hanya berlangsung sekitar 18 jam, Aprinus melihat Kemah Sastra sebagai sebuah praktik kecil yang memperlihatkan upaya manusia untuk menjaga kemandirian dan karakter. Namun, ia sekaligus mengingatkan bahwa tantangan sesungguhnya justru muncul setelah kegiatan selesai.

“Seperti Kemah Sastra, misalnya, mungkin pada saat mempraktikkan Kemah Sastra, seolah memang ada upaya menjaga kemandirian dan mempertahankan karakter manusianya masing-masing. Sayangnya, hal itu cuma berlangsung 18 jam.”

Sabtu pagi, peserta bangun dan melaksanakan salat Subuh, dilanjutkan dengan kegiatan santai seperti jalan pagi, ngopi, dan ngeteh. Setelah sarapan, peserta melakukan foto bersama dan mempersiapkan kepulangan.

Bagi Aprinus, berakhirnya Kemah Sastra bukan berarti berakhir pula perjuangan yang dibicarakan dan dipraktikkan selama kegiatan. Justru setelah kembali ke kehidupan sehari-hari, tantangan untuk mempertahankan kemandirian dan karakter kemanusiaan kembali dihadapi masing-masing.

“Selesai Kemah Sastra, kita harus berjuang sendiri-sendiri lagi, terjebak dalam berbagai rutinitas politik yang bising, terjebak dalam rutinitas ekonomi yang mencemaskan, terjebak dalam rutinitas sosial budaya yang membosankan.”

Karena itu, meskipun berlangsung singkat dan dengan fasilitas yang terbatas, Kemah Sastra diharapkan menjadi semacam jeda dari berbagai rutinitas tersebut—sebuah ruang untuk bertemu, membaca, menulis, berbicara, dan mendengarkan kembali suara hati nurani melalui sastra.

Fasilitas Kemah Sastra memang masih terbatas. Keterbatasan tersebut justru menjadi bagian dari pengalaman kemah: hidup bersama dengan fasilitas sederhana, berbagi ruang, berbagi cerita, serta belajar mengatur kebutuhan secara mandiri.

Dengan jadwal kegiatan yang cukup padat, peserta diharapkan disiplin terhadap waktu dan menjaga kekompakan. Namun, di atas semua itu, Kemah Sastra 2026 diharapkan menjadi ruang yang menyenangkan—tempat sastra tidak hanya dibicarakan, tetapi juga dihidupi melalui kebersamaan.

Sebab, sebagaimana ditekankan Prof. Aprinus Salam, sastra pada akhirnya bukan hanya perkara karya dan estetika. Ia juga merupakan upaya untuk mempertahankan sesuatu yang lebih mendasar: kemandirian, karakter kemanusiaan, dan hati nurani.

 

Penulis: Khotibul Umam

 

Sastra dalam Pusaran Globalisasi: Magister Sastra UGM Buka Call for Papers Diseminasi Internasional 2026

Rilis Berita Jumat, 3 Juli 2026

Program Studi Magister Sastra, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM) membuka Call for Papers (CFP) untuk kegiatan Diseminasi Internasional 2026 bertajuk Literature in the Crosscurrents of Globalization. Kegiatan yang akan diselenggarakan secara daring melalui Zoom Meeting pada 4 November 2026 ini mengundang akademisi, peneliti, dosen, mahasiswa, guru, dan pemerhati sastra dari dalam maupun luar negeri untuk mendiskusikan berbagai dinamika hubungan antara sastra, budaya, dan masyarakat dalam konteks global kontemporer.

Selain menjadi ruang pertemuan akademik internasional, kegiatan ini juga menawarkan berbagai luaran publikasi, di antaranya penerbitan artikel dalam buku bunga rampai ber-ISBN dan kesempatan bagi artikel terpilih untuk direkomendasikan terbit di Poetika: Jurnal Ilmu Sastra (SINTA 2). Kegiatan ini tidak dipungut biaya pendaftaran (free registration).

Tema Literature in the Crosscurrents of Globalization berangkat dari semakin intensifnya perjumpaan berbagai budaya, nilai, dan cara pandang di era globalisasi. Perkembangan teknologi digital, mobilitas manusia, dan pertukaran informasi lintas negara telah menghadirkan dinamika baru dalam kehidupan sosial dan budaya. Dalam konteks tersebut, sastra tidak hanya menjadi representasi realitas, tetapi juga ruang tempat identitas, ideologi, tradisi, dan pengalaman manusia dipertemukan, dipertentangkan, serta dinegosiasikan.

Ketua Panitia Diseminasi Internasional, Rini Febriani, menjelaskan bahwa forum ini diharapkan menjadi ruang pertukaran gagasan dan temuan penelitian mengenai berbagai perubahan budaya yang berlangsung di tengah masyarakat global.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin menghadirkan ruang dialog yang mempertemukan akademisi dan peneliti dari berbagai latar belakang untuk mendiskusikan bagaimana sastra merepresentasikan, mengkritisi, dan mentransformasikan perubahan budaya dalam era globalisasi. Kami berharap diseminasi ini dapat memperluas jejaring akademik dan melahirkan kolaborasi penelitian yang produktif,” ujarnya.

Adapun subtema yang ditawarkan dalam CFP ini meliputi Cultural Industry and the Standardization of Literature, Literature as a Site of Power Negotiation, Myth-Making in Popular Literature, Contestation and Demystification of Narratives in Global Space, serta Reconfiguring Localities in Globality. Melalui subtema tersebut, panitia membuka ruang bagi kajian sastra dan fenomena budaya yang relevan dengan perkembangan masyarakat global kontemporer.

Ketua Program Studi Magister Sastra FIB UGM, Dr. Aprinus Salam, M.Hum., menyambut baik penyelenggaraan diseminasi internasional tersebut. Menurutnya, globalisasi tidak hanya mempertemukan berbagai budaya, tetapi juga membentuk politik produksi sastra di tingkat global.

“Tema-tema yang berkembang dalam karya sastra kontemporer tidak hadir secara kebetulan. Di balik kemunculannya, terdapat dinamika dan kuasa global yang turut memengaruhi arah produksi sastra dunia. Isu-isu seperti lingkungan, gender, dan berbagai tema kontemporer lainnya sering kali menjadi bagian dari arus global yang membentuk tren dan orientasi produksi sastra. Karena itu, sastra perlu dibaca tidak hanya sebagai karya estetik, tetapi juga sebagai bagian dari politik ekonomi dan dinamika budaya global,” ungkapnya.

Pendaftaran dan pengiriman artikel dibuka mulai 29 Juni hingga 4 September 2026. Proses peer review akan dilaksanakan pada 5–26 September 2026, pengumuman penerimaan artikel pada 28 September 2026, revisi artikel pada 5 Oktober 2026, dan pengumpulan bahan presentasi pada 26 Oktober 2026. Forum Diseminasi Internasional akan diselenggarakan pada 4 November 2026.

Peserta dapat mengikuti kegiatan ini dengan mengirimkan artikel ilmiah berbahasa Inggris melalui tautan pendaftaran yang telah disediakan panitia. Artikel yang dikirim harus berupa full paper dengan panjang 5.000–7.000 kata dan akan melalui proses kurasi serta peer review sebelum dipresentasikan dalam forum diseminasi internasional.

Melalui penyelenggaraan Diseminasi Internasional ini, Program Studi Magister Sastra FIB UGM berharap dapat memperkuat jejaring akademik nasional dan internasional, mendorong kolaborasi lintas institusi, serta menghadirkan ruang dialog yang produktif mengenai perkembangan sastra dan kebudayaan di tengah pusaran globalisasi.

Informasi lebih lanjut mengenai pendaftaran, panduan penulisan, template artikel, dan ketentuan kegiatan dapat diakses melalui tautan berikut:

🔗 Pendaftaran: https://bit.ly/Desiminasi2026UGM

🔗 Informasi Umum: bit.ly/GeneralInfoDissemination2026

📩 Narahubung (WhatsApp):

  • Ella: +62 823-2494-4082
  • Mita: +62 813-9056-4071

📧 Email: diseminasiugm@gmail.com

Penulis: Rini Febriani Hauri

123…7

Rilis Berita

  • Medinfo HIMAJE Ajak Mahasiswa BKJ UGM Eksplorasi Desain Digital melalui Figma 101
  • Resmi Dilantik, Dr. Nur Saktiningrum Siap Bawa FIB UGM ke Babak Baru Periode 2026–2031
  • FIB UGM Terima Kunjungan 19 Siswa Australia dari Canning Vale College dan Duncraig Senior High School
  • Ceramah Pakar Magister Linguistik UGM Bahas Pengembangan Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing
  • Temu Alumni Magister Linguistik FIB UGM 2026: Memperkuat Silaturahmi dan Jejaring Alumni

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju