JAKARTA – Sebuah capaian prestisius kembali ditorehkan oleh akademisi dari Universitas Gadjah Mada (UGM) di kancah nasional. Fitrilya Anjarsari, mahasiswa program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora UGM, resmi dinobatkan sebagai Pemenang Pertama dalam Sayembara Kritik Sastra Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) 2026. Pengumuman tersebut disampaikan dalam acara “Malam Anugerah Sayembara Kritik Sastra DKJ 2026” yang berlangsung khidmat di Gedung Teater Kecil, Taman Ismail Marzuki, pada 23 Juli 2026.
Fitrilya berhasil mengungguli 141 naskah lainnya yang lolos seleksi administrasi melalui esainya yang bertajuk “Keruntuhan Manusia sebagai Pusat: Kecenderungan Post-Human dalam Estetika Sastra Indonesia Mutakhir”. Kemenangan ini tidak hanya menjadi kebanggaan personal, tetapi juga merefleksikan kedalaman tradisi intelektual dan ketajaman analisis kritis yang dibina di lingkungan program doktoral UGM.
Penyelenggaraan sayembara tahun ini mengusung tema besar “Jalan Panjang Sastra Indonesia”. Ketua Komite Sastra DKJ, Fadjriah Nurdiarsih, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan upaya konsisten untuk membangun ekosistem pemikiran dan tradisi keilmuan yang sehat. Sejak pertama kali diadakan pada tahun 2007, sayembara ini telah menjadi ruang regenerasi penting bagi lahirnya kritikus-kritikus baru yang mampu memberikan perspektif segar terhadap perkembangan kesusastraan.
Dalam sambutannya, Ketua Harian DKJ, Bambang Prihadi, menekankan bahwa kritik sastra berfungsi sebagai jembatan agar karya seni dapat dipercakapkan dan diapresiasi secara lebih mendalam oleh masyarakat luas. Senada dengan hal tersebut, Kepala Unit Pengelola Pusat Kesenian Jakarta Taman Ismail Marzuki (UPPKJ TIM), Harry Sanjaya, menyatakan bahwa tradisi kritik yang hidup adalah fondasi bagi kemajuan kebudayaan bangsa.
Naskah yang disusun oleh Fitrilya Anjarsari menarik perhatian dewan juri karena keberaniannya menyentuh diskursus post-humanisme dalam sastra Indonesia pasca-tahun 2000. Dalam pertanggungjawaban dewan juri yang dibacakan oleh Areispine Dymussaga Miraviori dan Asep Subhan, karya Fitrilya dinilai mampu melampaui pembacaan konvensional yang biasanya berfokus pada subjek manusia.
Fitrilya menggunakan referensi-referensi mutakhir untuk membedah empat karya sastra sebagai objek materialnya, yaitu:
- O (2016) karya Eka Kurniawan;
- Semua Ikan di Langit (2017) karya Ziggy Zezsyazeoviennazabrizkie;
- Aroma Karsa (2018) karya Dee Lestari;
- Gentayangan: Pilih Sendiri Petualangan Sepatu Merahmu (2017) karya Intan Paramaditha.
Dalam analisisnya, Fitrilya menunjukkan bagaimana unsur-unsur non-manusia dalam novel-novel tersebut tidak lagi sekadar menjadi latar atau pelengkap, melainkan bertransformasi menjadi penggerak cerita yang memiliki agensi (tubuh material maupun non-material). Penulis secara jeli menjahit tautan antara basis teori dan objek formal dengan bahasa yang sederhana namun tetap memiliki struktur ilmiah yang tertib melalui pembagian subbab yang memperkuat keterbacaan secara holistik.
Proses penjurian dilakukan secara “pembacaan buta” (blind reading), di mana juri menilai naskah tanpa mengetahui identitas maupun asal daerah penulisnya. Hal ini menjamin objektivitas dalam menentukan pemenang berdasarkan aspek kepengrajinan, keterbacaan, dan kebaruan argumen.
Meskipun dinobatkan sebagai yang terbaik, dewan juri tetap memberikan catatan kritis sebagai bagian dari tradisi akademik yang sehat. Juri menyoroti bagian awal naskah Fitrilya di mana ia menyodorkan aneka kecenderungan humanistik dalam pembacaan karya sastra mutakhir sebagai basis argumennya. Menurut juri, bagian ini kurang memberikan contoh kasus yang konkret, sehingga muncul ruang keraguan apakah kecenderungan tersebut benar-benar terjadi dalam ekosistem kritik saat ini atau sekadar imajinasi penulis.
Namun, kekurangan tersebut tertutupi oleh ketajaman Fitrilya dalam menarik unsur-unsur naratif ke dalam pembacaan kontekstual yang sangat meyakinkan. Juri menyimpulkan bahwa naskah Fitrilya merupakan karya yang sangat luwes dan menunjukkan kemampuan seorang pembaca ahli dalam memetakan arah baru estetika sastra Indonesia.
Kemenangan Fitrilya Anjarsari di posisi pertama, diikuti oleh Cindy Wijaya (Juara 2) dan Ridwanul Hakim Authonul Muther (Juara 3), menunjukkan dominasi generasi muda dalam panggung kritik sastra nasional. Bambang Prihadi mencatat bahwa mayoritas peserta sayembara kali ini berasal dari kalangan milenial dan Gen Z, yang membuktikan bahwa daya kritis anak muda Indonesia tetap terjaga.
Sebagai mahasiswa program Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora UGM, pencapaian Fitrilya menjadi bukti nyata kontribusi akademisi kampus dalam memberikan arah baru bagi studi sastra di luar menara gading universitas. Esai ini nantinya akan dipublikasikan di tengara.id, sebuah situs website kritik sastra milik Komite Sastra DKJ, agar dapat diakses secara luas oleh publik dan peneliti lainnya.
Acara malam penganugerahan ini ditutup dengan harapan agar para pemenang terus menularkan semangat berpikir kritis. Dengan kemenangan ini, Fitrilya Anjarsari tidak hanya membawa pulang penghargaan material, tetapi juga mengukuhkan posisinya sebagai salah satu kritikus masa depan yang siap mengawal “Jalan Panjang Sastra Indonesia” dengan perspektif akademik yang tajam dan relevan.
Penulis: Islahuddin Ibrahim
Sumber dokumentasi:
https://www.youtube.com/live/sJnTES3fXr8?si=ySQ6Kf1tXQDfXq-W
