Program Studi Magister Linguistik, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada menyelenggarakan Ceramah Pakar dengan tema “Politik Bahasa” pada Senin, 7 September 2026. Kegiatan yang berlangsung di Gedung Soegondo, FIB UGM, ini menjadi forum akademik untuk memperluas wawasan mengenai hubungan bahasa dengan dinamika sosial, politik, dan regional, khususnya di kawasan Asia Tenggara.
Ceramah Pakar menghadirkan dua narasumber dengan perspektif yang saling melengkapi. Jerôme Samuel dari Institut National des Langues Orientales, France menyampaikan materi berjudul “Politik Bahasa di Negara-Negara Asia Tenggara”. Dalam pemaparannya, pembahasan diarahkan pada dinamika kebijakan dan politik bahasa di berbagai negara Asia Tenggara serta bagaimana bahasa menempati posisi strategis dalam kehidupan masyarakat dan hubungan antarnegara di kawasan.
Narasumber kedua, Dr. Merry Andriani, S.S., M.L.C.S. dari Universitas Gadjah Mada, membawakan materi “Politik Bahasa Indonesia sebagai Bahasa Kerja di ASEAN”. Topik tersebut memberikan perspektif mengenai posisi dan peran bahasa Indonesia dalam konteks regional, terutama dalam kaitannya dengan perkembangan ASEAN dan peluang bahasa Indonesia sebagai bahasa yang digunakan dalam komunikasi dan kerja sama di kawasan.
Diskusi dalam kegiatan ini dipandu oleh Dhisna Luklu’ul Fauzan, S.S., mahasiswa Magister Linguistik, sebagai moderator. Interaksi antara narasumber dan peserta menjadi bagian penting dalam memperkaya pembahasan serta membuka ruang untuk melihat persoalan politik bahasa dari berbagai perspektif.
Melalui Ceramah Pakar ini, Program Studi Magister Linguistik FIB UGM terus menghadirkan ruang akademik yang mendorong mahasiswa dan peserta untuk memahami bahasa tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari dinamika sosial, politik, identitas, dan hubungan regional.
Program Studi Magister Linguistik FIB UGM menyampaikan terima kasih kepada para narasumber, moderator, dan seluruh peserta yang telah berkontribusi dalam kegiatan ini. Semoga Ceramah Pakar “Politik Bahasa” dapat memperluas wawasan serta mendorong diskusi dan kajian lebih lanjut mengenai politik bahasa di Indonesia dan kawasan Asia Tenggara.
Penulis: Prodi Magister Linguistik
