Kinarya Setyaning Tyas, seorang mahasiswa Sastra Inggris, menjadi bukti bahwa bidang studi bukanlah batasan untuknya belajar dan mengeksplorasi minatnya yang beragam. Menginjak semester keenam, ia tergugah untuk mencari kesempatan magang yang sejalan dengan minatnya. Pilihannya jatuh pada PT Taman Wisata Candi (TWC) Borobudur, Prambanan & Ratu Boko, yang ia percaya bisa mengakomodasi kompetensinya sebagai mahasiswa Sastra Inggris dan minatnya di bidang budaya dan seni. Bertolak dari sana, ia berinisiasi melamar posisi magang, yang menjadi awal dinamikanya di Satuan Kerja Teater & Pentas Ramayana Ballet Prambanan.
Di PT Taman Wisata Candi (TWC), Kinarya menjadi bagian dari divisi Sales dan Attraction, di mana ia bertugas mengunggah dokumentasi dan mengelola pengunjung Ramayana Ballet. Ia menjelaskan perannya secara rinci, mulai dari membuat konten promosi, mengelola media sosial—terutama TikTok—dan melaporkan performa media sosial. Kinarya mengutarakan bahwa salah satu pencapaiannya adalah ketika konten TikTok-nya mencapai lebih dari 340 ribu penonton, menarik lebih banyak orang untuk menghadiri pertunjukan Ramayana. Di luar marketing, ia juga bertanggung jawab atas reservasi, sekaligus menjadi usher, atau among tamu, untuk para pengunjung.
Banyak yang harus dilakukan berarti banyak juga kesempatan untuk berkembang. Kinarya menceritakan bahwa ketika pertama kali melamar, motivasinya adalah untuk meningkatkan kemampuan speaking dan listening yang hanya dapat diasah melalui praktik langsung. Menjawab banyak pertanyaan dan mendengarkan para turis asing, ia mulai merasakan peningkatan dalam kemampuan komunikasinya. “Apalagi kalau aku handle turis dari British, itu listening bener-bener diuji karena dia pakai British accent. Jadi aku banyak improve, sih,” ujarnya.
Meskipun banyak peran yang harus ia jalankan, ia mengaku sangat menikmati pengalaman magangnya. Bahkan, ia berencana untuk memperpanjang masa magangnya yang seharusnya berakhir di akhir April. Kinarya menceritakan lingkungan sosial di Taman Wisata Candi (TWC), terutama di unit Ramayana Ballet Prambanan, yang sangat ramah dan suportif—mulai dari staf, supervisor, dan anggota magang lainnya. Bertemu dengan sesama anggota magang dari berbagai jurusan dan universitas menjadi wadah baginya untuk berbagi pengalaman dan perspektif.
Kendati demikian, bukan berarti Kinarya tidak menghadapi kesulitan apa pun. Pada bulan pertama, ia ragu apakah ia mampu melakukan pekerjaan ini sendiri. Banyak yang harus disimpan dalam pikirannya: alur pertunjukan, jadwal pertunjukan, sistem tempat duduk, sampai cara memasukkan data reservasi. “Aku di sini cuma diberi kesempatan tiga bulan, kan. Jadi aku harus adaptasi cepat aja,” terangnya. Tantangan yang ia hadapi berlanjut sampai bulan kedua, selama puncak musim liburan. “Karena ada masa ramai Lebaran, kan. Kita pentas kayak delapan hari berturut-turut,” jelasnya.
Setelah hampir tiga bulan, Kinarya memperoleh berbagai manfaat dari masa magangnya dalam bentuk keterampilan-keterampilan baru di luar bidang studinya. Ia belajar menganalisis dan mempresentasikan performa media sosial Ramayana Prambanan. “Instagram, TikTok itu setiap bulan ada reporting dan analisis sendiri-sendiri. Terus juga tentang marketing, itu kan di luar Sastra Inggris banget, tapi I learn a lot in here,” tuturnya. Kinarya juga belajar lebih dalam terkait pembuatan konten, mulai dari perencanaan hingga proses editing. Ia mengaku tak pernah benar-benar melakukan editing dalam konteks profesional, sehingga banyak perkembangan yang ia alami, “Jadi aku banyak belajar juga di editing, di fitur-fiturnya juga, terus juga tentang tech content kayak shooting itu di mana, gitu kan.”
Kinarya juga menambahkan bahwa sejalan dengan studinya, ia memperoleh pengalaman pragmatis dalam menginterpretasikan dan menerjemahkan budaya dan tradisi Indonesia, terutama Jawa. “Jadi istilah-istilah [ini] kalau di-translate ke bahasa Inggris itu kayak gimana? Terus ada prosesi tolak bala, arak-arakan, we have to explain it to foreigners dengan narasi yang tepat,” paparnya. Kendati ia mengaku banyak menemui rintangan, hal ini juga menumbuhkan pemahaman lintas budaya. “Itu buat aku lebih mengapresiasi tentang budaya kita, especially Javanese culture,” tambahnya.
Pengalaman magang di PT. Taman Wisata Candi (TWC) merupakan bagian dari upayanya melestarikan budaya dan warisan kita. “Kayak jadi jembatan gitu, loh, jadi mediator, jadi agen dalam pelestarian budaya,” ujarnya. Lebih lanjut, Kinarya menyebutkan bahwa ia juga mempertimbangkan kariernya ke depan ketika memulai magang ini. “I feel like I want to seek a career where it’s beyond handling a job desk; [Aku mau] mencari yang lebih purposeful sama meaningful and valuable, ” paparnya.
Maka, Kinarya juga membagikan prinsip yang ia pegang, “As an English literature student, don’t be afraid to explore more about other subjects. Jangan terlalu rely on one subject or one skill aja.” Ia tidak asal memilih tempat magang, tetapi ia sengaja mencari celah tempat minat bertemu dengan keterampilannya—yang ia temukan di PT Taman Wisata Candi (TWC). Kinarya menyadari bahwa untuk mengeksplorasi dan menguasai bidang lain, learning by doing adalah jalan yang harus ditempuh. “Kalau aku nggak nyoba, aku bakal nggak tahu. Kalau aku nggak melakukan kesalahan, aku juga nggak bakal belajar,” pungkasnya.
Penulis: Gulma Zahra Auradatu


