Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada (UGM) menggelar Rapat Senat Terbuka dalam rangka Dies Natalis ke-80. Di tengah khidmatnya perayaan tersebut, penghargaan “Insan Berprestasi Unsur Mahasiswa” diberikan kepada individu-individu terpilih, salah satunya adalah Ghibran Arsha Daffa’ Musaffa’ dari Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa.
Terpilihnya Ghibran sebagai Mahasiswa Berprestasi bukan tanpa alasan. Ghibran dikenal sebagai mahasiswa yang akif berkiprah di lini kebudayaan Jawa. Beberapa capaian yang pernah ia dapatkan di antaranya Juara 3 Lomba Dongeng Temu Budaya Nusantara, Juara Harapan 2 Lomba Pranatacara Remaja Kompetisi Bahasa dan Sastra Kabupaten Bantul 2025, dan terpilih sebagai finalis Dimas Diajeng Kota Jogja 2025.
Selain perlombaan, Ghibran juga aktif di berbagai kegiatan lainnya. Ia pernah terlibat sebagai pemeran dalam lakon Adisari Cahaya Kasih di Balik Penaklukan, bertindak sebagai Master of Ceremony (MC) pada Closing Ceremony Wonderful Indonesia Wellness, hingga menjadi pendongeng dalam Field Program Dimas Diajeng Jogja di Desa Wisata Sleman.
Namun, di balik keberhasilan tersebut, Ghibran mengungkapkan bahwa perjalanannya merupakan proses yang panjang. Dalam wawancara daring pada Jumat (24/4/2026), ia menceritakan bahwa dorongan untuk berprestasi sudah tumbuh sejak bangku sekolah dasar.
“Motivasi saya dimulai dari hal sederhana dan mungkin terdengar lucu. Sedari SD, saya ingin mendapatkan uang saku tambahan karena ekonomi keluarga kami saat itu kurang mampu,” ungkap Ghibran. Ia mengenang masa ketika uang jajannya hanya sejumlah Rp2.000 saat kelas 4 SD. Ketika itu, sang Ibu memberi tantangan kepadanya agar uang saku itu tidak habis. Dari sana, ia justru membuatnya melirik lomba-lomba berhadiah.
Kemenangan pertamanya dalam lomba Ngudar Kawruh Tembang se-Kabupaten Bantul menjadi titik balik. Sejak saat itu, Ghibran menyadari bahwa prestasi bukan sekadar uang tetapi sebagai jalan pembuka. Dengan prestasi yang ia toreh, ia dapat masuk SMP melalui jalur prestasj hingga kesempatan tampil di media nasional seperti TVRI.
Memasuki jenjang perkuliahan di UGM, Ghibran berprinsip untuk memberikan kontribusi nyata bagi almamater. “Saya mungkin bukan mahasiswa yang paling mencolok di akademik murni, tapi saya selalu berusaha memberi ‘kenang-kenangan’ berupa trofi bagi universitas,” tuturnya. Puncaknya, ia berkesempatan membacakan puisi di hadapan Menteri Pendidikan RI pada tahun 2024.

Baginya, gelar Mahasiswa Berprestasi bukan sekadar penghargaan. Ada rasa syukur, tapi juga beban tanggung jawab yang ia rasakan. Hal itu malah jadi penyemangat untuk terus berkarya. “Rencana saya ke depan, saya ingin lulus tepat waktu, tapi tetap aktif ikut lomba. Saya ingin terus jadi pribadi yang bermanfaat” terangnya.
Ia juga membagikan resep konsistensinya. Sejak dulu, ia terbiasa menuliskan target-targetnya di selembar kertas dan menempelnya di dinding kamar. “Jangan pernah malu untuk bermimpi besar. Bagi saya, bermimpi adalah langkah awal dari sebuah pencapaian. Melalui kerja keras dan doa, satu per satu impian tersebut menjadi kenyataan,” pungkasnya. Ia juga menekankan pentingnya rasa syukur dalam setiap proses, baik saat meraih kemenangan maupun menghadapi kegagalan.
[Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Haryo Untoro]
