Pada hari Jumat (5/6/2026), kami berkesempatan mewawancarai purnaguru besar Universitas Kebangsaan Malaysia tersebut, Prof. Dr. Noriah Mohamed, yang juga merupakan alumni Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa (dahulu Sastra Jawa), Universitas Gadjah Mada. Menariknya, meskipun berasal dari Malaysia, ia memiliki kedekatan yang kuat dengan budaya Jawa.
Dalam wawancara tersebut, ia menjelaskan bahwa dirinya masih memiliki akar sebagai orang Jawa. “Orang tua dari Bapak saya adalah orang Jawa. Atuk saya orang Solo, sementara nenek saya orang Kebumen,” tuturnya. Ketertarikan terhadap budaya Jawa juga tumbuh dari pengalaman masa kecil. “Semasa kecil, kakek saya suka nembang Jawa, dan dari situlah minat saya mulai tumbuh.”
Singkat cerita, ia kemudian berkuliah di Program Studi Sastra Jawa, Universitas Gadjah Mada, dan menulis skripsi tentang budaya bangsa Jawa di Selangor. Ketertarikannya terhadap budaya Jawa tidak berhenti di sana. Ia juga menyenangi berbagai karya sastra Jawa, seperti kisah tentang Damarwulan dan Panji Jayengtilam.
Ketertarikan terhadap karya sastra Jawa kemudian membawanya pada sebuah serat berjudul Serat Jayengbaya. Istilah Jayengbaya sendiri merupakan gabungan dari kata jaya + ing + baya yang bermakna ‘berjaya dari bahaya’. Dalam teks ini, terdapat hal yang unik: Ranggawarsita sebagai penulis menggunakan bentuk pengandaian, seperti “kalau aku menjadi…”, yang mencakup berbagai wujud, mulai dari pekerjaan, hewan, hingga Tuhan. Kajian terhadap teks tersebut kemudian ia kembangkan menjadi tesis di jenjang S2 Sastra Universitas Gadjah Mada, yang kini telah diterbitkan.
Dalam perbincangan tersebut, ia menilai bahwa budaya Jawa di masa kini mengalami penurunan, baik di Malaysia maupun di Indonesia. Kondisi ini, menurutnya, menjadi tantangan bersama untuk kembali menghidupkan nilai-nilai budaya yang mulai tergerus. Oleh karena itu, ia menekankan pentingnya generasi muda untuk kembali mengenali jati dirinya. “Kita perlu mengenali diri kita, tentang siapa diri kita. Janganlah menjadi orang lain. Kemudian, budaya itu tidak hanya dipelajari, tetapi dilakukan dan diturunkan,” terangnya.
Penulis : Haryo Untoro
