Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Dekan Fakultas Ilmu Budaya (FIB) Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Setiadi, M.Si., menekankan pentingnya memperkuat kolaborasi lintas disiplin dan internasionalisasi dalam pengembangan ilmu humaniora. Hal tersebut disampaikan dalam Sidang Senat Terbuka Dies Natalis ke-80 FIB UGM yang digelar pada 3 Maret 2026 di Auditorium Poerbatjaraka FIB UGM.
Dalam pidato laporan dekan, Prof. Setiadi menyampaikan bahwa usia 80 tahun menjadi momentum refleksi atas perjalanan panjang FIB UGM sekaligus pijakan untuk menatap masa depan. Dengan tema “Delapan Dekade Membangun Peradaban”, fakultas diharapkan terus memperkuat kontribusi keilmuan di tingkat nasional maupun internasional.
“Selama 80 tahun, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada telah mengalami banyak perubahan dan meraih capaian yang membanggakan sebagai pilar utama pengembangan ilmu-ilmu humaniora,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa berbagai capaian yang diraih FIB UGM merupakan hasil kerja kolektif sivitas akademika yang dibangun di atas fondasi keilmuan para pendahulu. Menurutnya, keberhasilan tersebut tidak terlepas dari komitmen bersama dalam menjaga mutu pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat.
Dalam laporan tersebut, Prof. Setiadi memaparkan sejumlah indikator kinerja yang melampaui target universitas. Salah satunya adalah jumlah mahasiswa asing yang mencapai 150 orang, melebihi target 100 mahasiswa atau setara dengan 150 persen dari target yang ditetapkan. Pencapaian ini menunjukkan meningkatnya daya tarik FIB UGM di tingkat internasional.
Penguatan kolaborasi riset juga terlihat dari jumlah luaran penelitian multidisiplin yang mencapai 169 judul dari target 84 judul, atau sekitar 201 persen dari target. Capaian ini mencerminkan semakin berkembangnya budaya penelitian kolaboratif yang melibatkan berbagai bidang ilmu.
Selain itu, kegiatan tridharma juga tercermin dalam tingginya publikasi kegiatan yang berkaitan dengan pembangunan berkelanjutan. Sepanjang 2025, FIB UGM mencatat 2.378 pemberitaan kegiatan, melampaui target 1.155 pemberitaan.
Dalam bidang pendidikan, FIB UGM terus meningkatkan kualitas program studi. Dari 21 program studi, sebanyak 20 program studi telah memperoleh akreditasi Unggul dari BAN-PT, sementara Magister Pengkajian Amerika meraih akreditasi Unggul dari LAMSPAK.
Sejumlah program studi juga telah mendapatkan pengakuan dari lembaga akreditasi internasional, seperti ACQUIN, AUN-QA, dan FIBAA. Pengakuan ini memperkuat posisi FIB UGM dalam peta pendidikan humaniora global.
Capaian akademik tersebut juga tercermin dalam pemeringkatan internasional. Program studi Antropologi, Arkeologi, dan Sastra Inggris menempati peringkat pertama nasional dalam QS World University Rankings by Subject dengan posisi global pada rentang 101–170 dan 151–200. Selain itu, lembaga pemeringkat EduRank menempatkan bidang sastra FIB UGM sebagai peringkat pertama di Indonesia dari 68 institusi penyelenggara pendidikan sastra.
Prof. Setiadi juga menyoroti perkembangan jumlah mahasiswa dan peningkatan capaian akademik. Saat ini FIB UGM memiliki 4.346 mahasiswa aktif, terdiri dari 3.448 mahasiswa sarjana, 672 mahasiswa magister, dan 226 mahasiswa doktor. Data akademik menunjukkan peningkatan kualitas studi dengan IPK rata-rata sarjana meningkat dari 3,62 menjadi 3,67, serta masa studi menurun dari 4,42 tahun menjadi 4,28 tahun.
Dalam kesempatan tersebut, ia turut menyampaikan apresiasi kepada dosen, tenaga kependidikan, dan mahasiswa atas kontribusi mereka dalam berbagai prestasi akademik. Dalam empat tahun terakhir, mahasiswa FIB UGM tercatat meraih 23 prestasi internasional, 224 prestasi nasional, dan 48 prestasi regional.
Menutup laporan tersebut, Prof. Setiadi menegaskan pentingnya menjaga nilai integritas, kebersamaan, dan budaya akademik dalam membangun masa depan fakultas.
“Di dunia akademik yang menjunjung kejujuran, kesetaraan, dan integritas, kita perlu terus mengembangkan pola asah, asih, dan asuh serta memperkuat sinergi sebagai keluarga besar FIB UGM,” ungkapnya.
Memasuki usia delapan dekade, FIB UGM diharapkan terus menjadi ruang yang kondusif bagi pengembangan ilmu humaniora serta berkontribusi dalam membangun peradaban melalui pendidikan, riset, dan pengabdian kepada masyarakat. Upaya ini sekaligus mencerminkan komitmen perguruan tinggi dalam mendorong kemajuan pengetahuan, memperluas kolaborasi global, dan menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat luas.
[Humas FIB UGM, Candra Solihin]


