Singapura, 5 Januari 2026 – Randy Setiawan, tenaga kependidikan FIB UGM menjadi delegasi dalam program Transforming University Libraries Leadership & Innovation Programme (TULLIP) yang diselenggarakan oleh NUS Libraries. Program ini diikuti oleh 19 peserta dari berbagai negara dan berlangsung selama lima hari dengan fokus pada penguatan kepemimpinan, inovasi, serta transformasi digital perpustakaan perguruan tinggi.
Program TULLIP dirancang untuk menjembatani kolaborasi antara pustakawan di kawasan ASEAN dan komunitas akademik global. Melalui rangkaian workshop, seminar, diskusi meja bundar, dan kunjungan pembelajaran, peserta dibekali keterampilan strategis untuk menjawab tantangan pengelolaan perpustakaan di tengah lanskap informasi yang terus berubah.
Selama pelaksanaan program, peserta mengikuti berbagai sesi tematik. Hari pertama membahas kepemimpinan dalam mendorong perubahan transformatif di perpustakaan. Hari kedua menyoroti pemanfaatan kecerdasan buatan, transformasi digital, dan inovasi di perpustakaan akademik terkemuka. Hari ketiga mengangkat praktik kemitraan perpustakaan dalam mendukung pendidikan dan riset. Hari keempat menempatkan perpustakaan sebagai living lab melalui pengelolaan koleksi, infrastruktur, dan penataan ruang. Program ditutup dengan sesi pemecahan masalah berbasis studi kasus pada hari kelima.
Dalam salah satu sesi presentasi, Randy memaparkan tantangan yang dihadapi Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya UGM, khususnya terkait keterbatasan ruang penyimpanan koleksi. “Pada presentasi paper kemarin, kami mengangkat permasalahan yang dihadapi oleh Perpustakaan Fakultas Ilmu Budaya, yaitu kebutuhan untuk mengakomodasi ruang seiring dengan terus bertambahnya koleksi perpustakaan,” ujar Randy.
Ia menambahkan bahwa koleksi lama justru memiliki tingkat kebutuhan yang tinggi di kalangan mahasiswa. “Selain itu, terdapat urgensi untuk mengolah koleksi perpustakaan dari bentuk fisik ke bentuk digital. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan ruang perpustakaan sementara, yang hanya mampu menampung sekitar 15 persen dari total koleksi yang dimiliki,” katanya. Kondisi tersebut menyebabkan sekitar 85 persen koleksi harus disimpan dalam jangka waktu panjang dan berisiko mengalami kerusakan.
Randy juga menyampaikan bahwa melalui sesi workshop, peserta memperoleh wawasan mengenai proses digitalisasi koleksi yang efektif dan mutakhir. Dalam kesempatan tersebut, ia turut memperkenalkan upaya promosi koleksi langka Fakultas Ilmu Budaya UGM melalui platform Lawang Sejarah yang dapat diakses di laman langka.lib.ugm.ac.id.
Keikutsertaan delegasi FIB UGM dalam program TULLIP mencerminkan upaya perguruan tinggi untuk terus beradaptasi dengan perkembangan teknologi informasi serta memperkuat peran perpustakaan sebagai pusat pembelajaran dan riset. Melalui penguatan kapasitas sumber daya manusia dan jejaring internasional, perpustakaan diharapkan mampu mendukung ekosistem akademik yang inklusif, berdaya guna, dan berorientasi pada keberlanjutan.
[Humas FIB UGM, Candra Solihin]

