Yogyakarta, 3 Maret 2026 – Ketua Departemen Bahasa dan Sastra Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada, Prof. Dr. Suhandano, M.A., menyoroti perkembangan serta tantangan studi bahasa di era digital dalam pidato ilmiah yang disampaikan pada Rapat Senat Terbuka Dies Natalis ke-80 Fakultas Ilmu Budaya UGM. Dalam pidatonya, ia menekankan bahwa kajian linguistik memiliki cakupan yang luas dan berpotensi besar untuk berkontribusi dalam memahami berbagai persoalan masyarakat.
Prof. Suhandano menjelaskan bahwa studi bahasa saat ini tidak hanya berfokus pada struktur internal bahasa, tetapi juga pada hubungannya dengan berbagai aspek kehidupan. Dalam linguistik mikro, kajian mencakup bidang seperti fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik. Sementara itu, linguistik makro mengkaji bahasa dalam kaitannya dengan bidang lain, seperti analisis wacana, sosiolinguistik, neurolinguistik, linguistik antropologis, hingga linguistik komputasional dan linguistik forensik.
Menurutnya, bahasa sebagai objek kajian bersifat dinamis dan selalu berkembang mengikuti perubahan masyarakat. Karena itu, perspektif dalam mempelajari bahasa juga terus bertambah seiring dengan munculnya berbagai persoalan baru dalam kehidupan sosial.
Ia juga menyinggung perkembangan pemikiran mengenai bahasa sejak zaman Yunani kuno. Filsuf Plato, misalnya, telah mengajukan pertanyaan mengenai hubungan antara kata dan benda yang dinamainya. Dari pemikiran tersebut muncul dua pandangan yang berbeda, yakni pandangan yang melihat hubungan kata dan benda bersifat logis serta pandangan yang menilai hubungan tersebut bersifat arbitrer atau terbentuk melalui kesepakatan masyarakat penutur.
Sementara itu, Aristoteles memandang bahasa sebagai alat untuk berpikir. Ia mengidentifikasi tiga komponen utama dalam proposisi, yaitu onoma, rema, dan logos, yang dalam kajian linguistik modern dapat disejajarkan dengan nomina, verba, dan kalimat.
Prof. Suhandano menekankan bahwa bahasa tidak hanya berfungsi sebagai sistem tanda, tetapi juga sebagai sarana untuk memahami dunia. “Bahasa mencerminkan bagaimana penuturnya memandang dunia, bagaimana penuturnya memikirkan apa yang ada di sekitarnya,” ujarnya dalam pidato ilmiah tersebut.
Pandangan ini membuka peluang bagi studi linguistik untuk berkontribusi dalam berbagai tema penelitian yang relevan dengan kebutuhan masyarakat. Ia mencontohkan bahwa tema pangan yang sekilas tampak jauh dari kajian bahasa sebenarnya dapat ditelaah melalui perspektif linguistik untuk memahami bagaimana masyarakat memandang dan membicarakan pangan.
Untuk mengembangkan kajian tersebut, Prof. Suhandano menilai kolaborasi lintas disiplin menjadi langkah penting. “Linguistik perlu bergandeng tangan dengan ilmu-ilmu lain dalam menggarap tema-tema tersebut,” tuturnya.
Dalam kesempatan itu, ia juga menyoroti posisi Fakultas Ilmu Budaya UGM yang selama ini dikenal sebagai salah satu rujukan penting dalam pengembangan studi bahasa di Indonesia. Sejumlah karya akademik yang lahir dari fakultas tersebut telah menjadi acuan dalam kajian linguistik, termasuk karya M. Ramlan mengenai morfologi dan sintaksis bahasa Indonesia.
Minat terhadap studi bahasa di fakultas tersebut juga terus berkembang. Mahasiswa dari berbagai daerah di Indonesia bahkan dari mancanegara datang untuk mempelajari linguistik dengan beragam tema penelitian.
Memasuki usia ke-80, pembangunan gedung baru FIB UGM diharapkan dapat mendukung aktivitas akademik yang semakin berkembang. Dengan fasilitas yang lebih memadai, kegiatan pendidikan, penelitian, dan pengabdian kepada masyarakat diharapkan dapat berjalan lebih optimal.
Di tengah perubahan yang cepat pada era digital, Prof. Suhandano menilai studi bahasa tetap memiliki peluang besar untuk berkembang. Melalui penelitian dan kolaborasi lintas disiplin, kajian linguistik diharapkan dapat memberikan kontribusi nyata dalam memahami dinamika masyarakat serta mendorong pengembangan ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi kehidupan bersama.
[Humas FIB UGM, Candra Solihin]
