• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 11: Kota dan Pemukiman yang berkelanjutan
Arsip:

SDGs 11: Kota dan Pemukiman yang berkelanjutan

Taman, Penghijauan, dan Pengelolaan Konservasi Tanaman di Fakultas Ilmu Budaya UGM

Rilis Berita Jumat, 16 Oktober 2026

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) dikenal sebagai salah satu kawasan kampus hijau di lingkungan UGM. Komitmen terhadap keberlanjutan lingkungan diwujudkan melalui pengelolaan taman-taman yang asri, penanaman pohon-pohon rindang, serta penerapan konsep green building pada bangunan fakultas. Upaya ini tidak hanya berfungsi sebagai estetika lingkungan, tetapi juga sebagai bagian dari dukungan terhadap ekosistem kampus yang sehat dan berkelanjutan.

Keberadaan taman-taman yang rindang dan sejuk di lingkungan FIB UGM memberikan dampak positif bagi kenyamanan sivitas akademika. Suasana hijau dengan pepohonan yang tumbuh subur menciptakan lingkungan belajar yang tenang dan menyenangkan. Bangku-bangku taman yang tersedia di berbagai sudut fakultas sering dimanfaatkan oleh mahasiswa sebagai ruang alternatif untuk belajar, berdiskusi, membaca, ataupun mengerjakan tugas secara berkelompok. Aktivitas akademik tidak hanya berlangsung di dalam ruang kelas, tetapi juga menyatu dengan alam terbuka yang mendukung proses pembelajaran menjadi lebih santai dan inklusif.

Penghijauan dan konservasi tanaman di FIB UGM juga menjadi bagian dari pendidikan karakter dan kepedulian lingkungan bagi mahasiswa. Interaksi sehari-hari dengan ruang hijau menumbuhkan kesadaran akan pentingnya menjaga kelestarian lingkungan dan sejalan dengan nilai-nilai humaniora yang menjadi dasar keilmuan di FIB UGM.

Bibit tanaman dan pohon yang ada di lingkungan FIB UGM berasal dari berbagai sumber. Sebagian merupakan hasil pembelian yang dilakukan oleh FIB UGM sebagai bentuk investasi jangka panjang dalam pengelolaan lingkungan kampus. Sebagian lain berasal dari sumbangan berbagai pihak, baik dari instansi, komunitas, maupun perseorangan. Partisipasi berbagai pihak ini mencerminkan adanya kolaborasi dan kepedulian bersama terhadap upaya penghijauan dan pelestarian lingkungan di FIB UGM.

FIB UGM juga menerima donasi tanaman dari Kagama Tandur UGM pada tahun 2026. Kagama Tandur UGM merupakan komunitas pencinta tanaman yang aktif mendorong upaya konservasi dan pelestarian tanaman. Donasi ini menjadi salah satu bentuk kolaborasi dalam mendukung penghijauan lingkungan kampus sekaligus meningkatkan kepedulian terhadap kelestarian alam. Keberadaan tanaman di lingkungan fakultas tidak hanya memperindah kawasan kampus, tetapi juga berkontribusi dalam menciptakan lingkungan yang lebih sejuk, asri, dan nyaman bagi sivitas akademika. Bagi FIB UGM, dukungan dari Kagama Tandur UGM sejalan dengan komitmen untuk mewujudkan lingkungan kampus yang berkelanjutan. Upaya penghijauan menjadi bagian dari langkah nyata dalam membangun budaya peduli lingkungan melalui keterlibatan berbagai pihak, termasuk komunitas alumni dan masyarakat.

Kolaborasi ini juga mencerminkan pentingnya sinergi antara perguruan tinggi dan komunitas dalam menjaga keanekaragaman hayati serta menumbuhkan kesadaran akan pentingnya konservasi tanaman. Melalui donasi tersebut, FIB UGM berharap tanaman yang diberikan dapat dirawat dan dikembangkan secara berkelanjutan sehingga memberikan manfaat bagi lingkungan kampus dalam jangka panjang.

FIB UGM menyusun daftar inventaris pembelian dan pemberian pohon pada periode tahun 2025 hingga Januari 2026. Inventaris ini mencatat jenis tanaman, asal perolehan, serta waktu penanaman sebagai bagian dari pengelolaan aset hijau fakultas. Dengan pengelolaan taman dan penghijauan yang berkelanjutan, FIB UGM terus berupaya mempertahankan identitasnya sebagai kampus hijau yang nyaman, ramah lingkungan, dan mendukung kualitas pembelajaran serta kehidupan akademik sivitasnya.

Program taman, penghijauan, dan konservasi tanaman di FIB UGM berkontribusi terhadap beberapa tujuan SDGs, terutama SDGs poin 11 – Kota dan Permukiman yang Berkelanjutan (Sustainable Cities and Communities), SDGs poin 13 – Penanganan Perubahan Iklim (Climate Action), SDGs poin 15 – Ekosistem Daratan (Life on Land), SDGs poin 12 – Konsumsi dan Produksi yang Bertanggung Jawab (Responsible Consumption and Production), SDG 17 – Kemitraan untuk Mencapai Tujuan (Partnerships for the Goals).

Seminar Internasional “Revisiting Cultural Diplomacy” FIB UGM Soroti Praktik Diplomasi Akar Rumput dan Pascakolonial

Rilis Berita Kamis, 15 Oktober 2026

YOGYAKARTA – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) sukses menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Revisiting Cultural Diplomacy: The Politics of Cross-Cultural Dialogue in Postcolonial Societies” pada Selasa dan Rabu, 13–14 Oktober 2026. Forum akademik ini menjadi wadah strategis bagi para peneliti, mahasiswa, dan praktisi global untuk mengkaji ulang praktik diplomasi budaya, khususnya dari kacamata negara-negara pascakolonial.

Seminar ini turut menghadirkan Direktur Jenderal Diplomasi Budaya, Promosi, dan Kerja Sama, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Endah T.D. Retnoastuti, S.S., M.Phil., yang memberikan wawasan krusial sebagai pembicara kunci (keynote speaker). Ia membawakan materi bertajuk “Beyond Cultural Promotion: Indonesia’s Cultural Diplomacy through Dialogue, Agency, and Partnership”. Melalui pemaparannya, ia menekankan urgensi pergeseran paradigma diplomasi budaya Indonesia yang tidak seharusnya terpaku pada promosi semata, melainkan perlu diwujudkan secara nyata melalui dialog interaktif, keagenan aktif, serta kemitraan yang setara.

Tidak hanya didominasi oleh pemakalah dari Indonesia, forum ini juga diikuti oleh presenter mancanegara yang berasal dari berbagai negara, antara lain Taiwan, Myanmar, Turki, India, Australia, hingga Austria. Selama dua hari penyelenggaraan, para akademisi mempresentasikan rangkuman topik yang sangat beragam dan multidisipliner. Kajian mengenai gastrodiplomasi atau diplomasi kuliner menjadi salah satunya. Dalam panel ini, makanan dikaji secara mendalam sebagai alat diplomasi budaya dan negosiasi identitas, yang mencakup analisis kuliner lokal, resep berbasis tempe di media digital, hingga diskursus politik akar rumput melalui narasi martabak di platform TikTok.

Selain itu, pergeseran diplomasi ke ranah maya juga dibahas secara komprehensif melalui topik diplomasi digital dan budaya populer. Diskusi pada sesi ini menyoroti peran Kecerdasan Buatan (AI) di era digital humanities, fenomena musik dangdut atau hipdut, representasi budaya melalui Instagram Reels, hingga pengaruh manhwa (Boys’ Love). Topik lainnya mengeksplorasi diplomasi sastra, mode, dan literasi yang mencakup peran penerjemahan, literatur poskolonial, buku cerita anak dwibahasa, tren fesyen (Wastra Nusantara), serta diplomasi memori melalui karya seni dan teater. Diskusi juga menyentuh aspek krusial lainnya seperti warisan budaya, pariwisata, dan pendidikan dengan membahas perlindungan ruang agama dan budaya seperti Candi Prambanan dan Kota Tua Jakarta, dinamika pariwisata berkelanjutan, serta mobilitas mahasiswa internasional sebagai bentuk pertukaran budaya.

Diskusi komprehensif dari seminar internasional ini diharapkan tidak sekadar berakhir sebagai produksi pengetahuan akademik, tetapi juga mampu membuahkan perspektif yang lebih inklusif, etis, dan akuntabel mengenai kebijakan kebudayaan di masa depan. FIB UGM menegaskan komitmennya untuk terus mengambil peran aktif sebagai jembatan diplomasi kultural dalam merespons tantangan global.

[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]

Bersama Titik Renggani, Mahasiswa Diajak Memahami Geliat Sastra Jawa dalam Siaran Radio

Rilis Berita Kamis, 8 Oktober 2026

Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menyelenggarakan diskusi rutin bertajuk “Geliat Sastra Jawa dalam Media: Cipta, Karya, dan Perubahannya” pada Jumat, 25 September 2026. Pada edisi September ini, diskusi mengangkat tema “Sastra Jawa dalam Siaran Radio” dan dilaksanakan di Ruang 709 FIB UGM pada pukul 13.00–15.00 WIB.

Dalam kegiatan tersebut, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa menghadirkan Titik Renggani, penyiar senior RRI, pegiat teater, serta pelestari budaya Jawa asal Yogyakarta. Kegiatan dihadiri oleh mahasiswa Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa dari berbagai angkatan serta mahasiswa exchange.

Dalam pemaparannya, Titik Renggani berbagi pengalaman mengenai keberadaan sastra dalam siaran radio, khususnya di RRI. Ia menjelaskan berbagai aspek yang berkaitan dengan proses penciptaan karya sastra, seperti radio, geguritan, majalah udara, feautere, dsb., pembacaan atau penyampaian karya sastra melalui siaran, hingga peran voice actor dalam dunia penyiaran. Selain itu, ia juga memaparkan berbagai peluang yang dapat dikembangkan bagi mereka yang memiliki ketertarikan terhadap dunia radio dan industri kreatif.

Salah satu hal yang menarik perhatian peserta adalah informasi mengenai jumlah audiens RRI Yogyakarta. Pada kesempatan tersebut, Titik Renggani menunjukkan data melalui aplikasi RRI Digital dan menyampaikan bahwa pada hari pelaksanaan kegiatan, Jumat, 25 September 2026, RRI Yogyakarta tercatat didengarkan oleh sekitar 208 ribu audiens. Menurut data yang ditunjukkannya, jumlah tersebut berada di atas jumlah audiens RRI Jakarta dan RRI Surabaya pada saat itu.

Titik Renggani juga memberikan motivasi kepada mahasiswa untuk terus mengembangkan kemampuan dan berkarya melalui bidang yang mereka tekuni. “Bila saya saja yang merupakan lulusan ekonomi mampu untuk terus berkarya dalam siaran, termasuk terkait dengan bahasa dan sastra Jawa, teman-teman juga harus mampu karena mendalami ilmu tersebut,” tuturnya.

Setelah sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan diskusi. Suasana diskusi berlangsung serius, tetapi tetap santai sehingga mendorong peserta untuk aktif menyampaikan pertanyaan. Pertanyaan yang muncul pun beragam, mulai dari proses penciptaan karya sastra Jawa, dunia penyiaran dan RRI, hingga kiat-kiat menghasilkan karya yang menarik dan berkualitas.

Diskusi tersebut menjadi ruang bagi mahasiswa untuk melihat sastra Jawa tidak hanya sebagai objek kajian akademik, tetapi juga sebagai bagian dari praktik kreatif yang dapat hadir dalam berbagai media. Pengalaman yang dibagikan Titik Renggani menunjukkan bahwa radio dapat menjadi salah satu ruang bagi sastra Jawa untuk terus digunakan, dikembangkan, dan diperkenalkan kepada masyarakat.

Melalui diskusi ini, peserta memperoleh gambaran mengenai keberadaan dan perkembangan sastra Jawa dalam dunia radio dan penyiaran. Bagi mahasiswa, pengalaman yang dibagikan Titik Renggani juga menjadi wawasan mengenai peluang pengembangan bahasa dan sastra Jawa melalui media kreatif. Diskusi ini sekaligus menunjukkan bahwa upaya nguri-uri ‘melestarikan’ dan ngurip-urip ‘menyemarakkan’ bahasa dan sastra Jawa dapat dilakukan melalui berbagai medium agar tetap hadir dan relevan di tengah perkembangan zaman.

Penulis : Haryo Untoro

Editor : Haryo Untoro

Menelusuri Gagasan Hamzah Fansuri dalam Tradisi Sastra Melayu 

Rilis Berita Kamis, 24 September 2026

Nama Hamzah Fansuri tidak berhenti pada syair-syair yang diwariskan dalam tradisi sastra Melayu. Di balik karya seperti Syair Perahu dan Syair Ikan Tunggal, tersimpan perdebatan tentang manusia dan Tuhan, juga kekuasaan serta batas-batas kebudayaan yang masih menjadi bahan kajian hingga kini. Persoalan itu kembali dibuka dalam Seminar Nasional “Hamzah Fansuri dan Tradisi Kepenyairan Nusantara” yang digelar Magister Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Pemerintah Kota Subulussalam di Auditorium FIB UGM, Rabu (16/9/2026). 

Seminar yang berlangsung pukul 12.00–17.00 WIB tersebut menghadirkan tiga akademisi sebagai pembicara, yakni Prof. Dr. Faruk, S.U., Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., dan Prof. Dr. Sangidu, M.Hum. Diskusi dipandu oleh Rini Febriani.

Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk membahas sosok Hamzah Fansuri, karya-karyanya, pemikiran sufistik, serta kaitannya dengan perkembangan sastra Melayu dan sejarah intelektual Nusantara. Kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali Hamzah Fansuri sebagai tokoh penting yang memiliki keterkaitan erat dengan Kota Subulussalam.

Dalam sambutannya, Wali Kota Subulussalam menyampaikan bahwa Hamzah Fansuri merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Subulussalam. Ia juga menyebut penghargaan yang pernah diberikan kepada Hamzah Fansuri serta pengakuan terhadap warisan intelektualnya.

Menurutnya, Hamzah Fansuri memiliki posisi penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara. Karena itu, kerja sama antara Pemerintah Kota Subulussalam dan Magister Sastra UGM diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk rencana penyelenggaraan Festival Hamzah Fansuri di Kota Subulussalam.

“Ini merupakan awal dari festival Hamzah Fansuri nanti di Kota Subulussalam,” ujar Wali Kota dalam sambutannya.

Sementara itu, Wakil Dekan FIB UGM dalam sambutan sekaligus pembukaan seminar menekankan pentingnya melihat bahasa dan sastra Melayu tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan intelektual Nusantara.

Ia menyinggung posisi Hamzah Fansuri dalam perkembangan genre syair. Pemikiran Hamzah Fansuri, menurutnya, menunjukkan bahwa karya sastra dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan yang mendalam mengenai kehidupan manusia, ketuhanan, dan perjalanan manusia.

Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah Syair Perahu, yang menggambarkan perjalanan manusia melalui metafora sebuah perahu. Sastra, menurutnya, tidak hanya menawarkan keindahan bahasa, tetapi juga kedalaman pemikiran dan refleksi terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Dalam konteks kekinian, sastra juga dinilai dapat menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan merefleksikan arah perjalanan masyarakat. Pertanyaan mengenai ke mana “perahu” Indonesia akan berlayar menjadi salah satu refleksi yang dapat dibaca dari karya sastra hari-hari ini.

Mengkaji Karya dan Pemikiran Sufistik Hamzah Fansuri

Pembicara pertama, Prof. Dr. Sangidu, menyampaikan materi berjudul “Karya-Karya Hamzah Fansuri dan Pemikiran Sufistiknya”. Ia membahas sejumlah karya Hamzah Fansuri dalam bentuk prosa maupun syair serta perkembangan pemikiran sufistik yang melatarinya.

Sangidu menjelaskan bahwa pemikiran Hamzah Fansuri dipengaruhi oleh tradisi Neo-Platonisme dan pemikiran Ibn Arabi. Hamzah Fansuri meninggalkan karya-karya dalam bahasa Melayu, termasuk sejumlah syair dan rubai. Empat rubai yang kemudian diberi syarah oleh Syamsuddin as-Samatrani adalah Subchānal-Lāh Terlalu Kāmil, Allah Maujud Terlalu Bāqī, Sidang Fakir Empunya Kata, dan Ikan Tunggal Bernama Fādhil.

Salah satu pembahasan utama adalah Syair Ikan, yang dikenal dengan dua penyebutan, yakni Syair Ikan Tongkol dan Syair Ikan Tunggal. Sangidu memilih istilah Ikan Tunggal dengan merujuk pada pembacaan Doorenbos karena melihat keterkaitan syair tersebut dengan konsep wahdatul wujud.

Dalam pembacaan tersebut, ikan menjadi simbol manusia atau sālik, sedangkan laut menjadi simbol Tuhan. Hubungan antara ikan dan laut menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan dalam gagasan wahdatul wujud. Manusia diibaratkan sebagai ombak yang berasal dari air dan pada akhirnya kembali kepada air sebagai sumbernya. Dengan demikian, ombak dan air merupakan satu kesatuan.

Sangidu juga menjelaskan konsep tajalli dan Nur Muhammad dalam pemikiran tersebut. Alam semesta dipahami sebagai manifestasi dari Dzat dan wujud Tuhan, sedangkan manusia sebagai mikrokosmos menjalani perjalanan spiritual untuk mencapai pengenalan dan kedekatan dengan Tuhan. Proses tersebut berkaitan dengan fanā’ fil-Lāh, tarkud-dunyā, serta pencapaian ma’rifatullah.

Pembahasan berlanjut pada Sidang Fakir Empunya Kata. Dalam karya tersebut, pengenalan terhadap diri menjadi bagian penting dalam perjalanan mengenal Tuhan. Sangidu menguraikan bahwa pengalaman spiritual dalam karya Hamzah Fansuri menempatkan hati sebagai bagian penting dalam proses mengenali Tuhan. Penyucian hati dan pengamalan ilmu hakikat menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Sangidu juga menempatkan pemikiran Hamzah Fansuri dalam konteks sejarah Aceh dengan menyebut Syamsuddin as-Samatrani, Nuruddin ar-Raniri, Sultan Iskandar Muda, dan Sultan Iskandar Tsani. Perbedaan pemikiran mengenai sufisme kemudian berkaitan dengan perubahan situasi politik dan kekuasaan di Aceh.

Sufisme, Marxisme, dan Persoalan Manusia

Pembicara kedua, Prof. Dr. Aprinus Salam, mengangkat tema “Masalah Indonesia, Sufisme Martabat Tujuh, dan (Pos-)Marxisme”.

Aprinus mengawali pembahasannya dengan persoalan mengenai kecenderungan memaklumi kesalahan dan kejahatan sebagai sesuatu yang “manusiawi”. Ungkapan seperti “namanya juga manusia” atau “itu sesuatu yang manusiawi”, menurutnya, dapat menjadi persoalan ketika digunakan untuk membenarkan atau memaklumi tindakan yang merugikan.

Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan sejarah kolonialisme, modernisasi, kapitalisme, dan perkembangan teori sosial di Indonesia. Sejak abad ke-17, kolonialisme turut membentuk struktur kelas dan status sosial dalam rangka mengatur masyarakat Nusantara. Memasuki awal abad ke-20, teori sosial, termasuk Marxisme, mulai dikenal dan digunakan dalam membaca persoalan sosial, ekonomi, dan politik Indonesia.

Menurut Aprinus, proses sekularisasi dan modernisasi turut membuat sufisme berada dalam posisi yang lebih terbatas sebagai perspektif keilmuan. Sementara itu, Marxisme pernah menjadi sesuatu yang menggelisahkan kekuasaan dan dilarang pada masa Orde Baru karena dianggap memiliki kemungkinan radikalisasi perlawanan terhadap kekuasaan. Setelah 1998, kapitalisme dan modernisme tetap berkembang, sementara Marxisme mengalami transformasi menuju posmarxisme.

Pada titik tersebut, Aprinus melihat kemungkinan pertemuan antara posmarxisme dan sufisme. Posmarxisme memberi perhatian pada kemunculan subjek-subjek radikal, sedangkan dalam pemikiran Martabat Tujuh terdapat gagasan tentang insan kamil. Keduanya, dalam kerangka yang berbeda, dapat dibaca melalui persoalan pembebasan manusia dari berbagai keterikatan ideologis, politik, ekonomi, maupun sosial.

Aprinus juga menghubungkan pembahasan tersebut dengan posisi sastra sufistik dalam sejarah sastra Indonesia. Menurutnya, sastra sufi tetap berjalan dan berkembang, meskipun tidak selalu memperoleh posisi yang kuat dalam pembicaraan sastra Indonesia. Sejumlah karya pada masa Balai Pustaka telah memperlihatkan dimensi tasawuf, sementara pada periode setelah kemerdekaan, terutama ketika kontrol kekuasaan semakin kuat pada 1970-an, sufisme menjadi salah satu ruang yang digunakan sastra untuk mempertahankan ekspresi tertentu.

Dalam perkembangannya, sejumlah penyair seperti Abdul Hadi, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, dan Cak Nun disebut memiliki kecenderungan sufistik dalam karya-karyanya. Aprinus melihat pembacaan terhadap sastra sufistik sebagai bagian dari upaya memahami kembali hubungan antara sastra, manusia, dan kehidupan sosial.

Pembahasan kemudian diperluas melalui gagasan tentang manusia yang terkoneksi dengan alam dan lingkungan. Aprinus menyebut adanya kemungkinan melihat masyarakat tradisional Indonesia yang menempatkan manusia sebagai bagian yang terhubung dengan tumbuhan, hewan, dan benda-benda sebagai suatu bentuk “poshumanisme Nusantara”.

Hamzah Fansuri dan Sultan Iskandar Muda

Pembicara ketiga, Prof. Dr. Faruk, menyampaikan materi berjudul “Hamzah Fansuri dan Sultan Iskandar Muda: Sebuah Homologi”.

Faruk mengawali pembahasannya dengan pertanyaan mengenai perbedaan perlakuan terhadap karya-karya Hamzah Fansuri pada masa Sultan Iskandar Muda dan masa sesudahnya. Dalam materi tersebut, ia membandingkan situasi politik pada masa Sultan Iskandar Muda dengan masa Sultan Iskandar Tsani.

Masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dipaparkan sebagai periode kejayaan Aceh dengan orientasi yang kuat pada perdagangan dunia dan ekspansi politik. Sementara itu, pada masa Sultan Iskandar Tsani, perhatian kekuasaan lebih banyak berhadapan dengan persoalan internal dan perebutan kekuasaan.

Dari perbandingan tersebut, Faruk melihat adanya homologi antara orientasi Sultan Iskandar Muda dan kecenderungan pemikiran Hamzah Fansuri. Iskandar Muda memiliki orientasi untuk melampaui batas-batas lokal melalui perdagangan dan ekspansi politik, sedangkan pemikiran sufistik Hamzah Fansuri juga bergerak melampaui sekat geografis dan kultural.

Menurut Faruk, pemikiran sufistik Hamzah Fansuri membawa kehidupan manusia ke dalam dimensi yang lebih universal. Sufisme, dalam pembacaan tersebut, memiliki kecenderungan crossing the border, yakni melampaui batas-batas yang memisahkan manusia berdasarkan wilayah maupun kebudayaan. Karena itu, pemikiran Hamzah Fansuri dapat ditempatkan dalam kaitannya dengan kosmopolitanisme dan keterbukaan terhadap keberagaman.

Faruk juga menyoroti hubungan antara gagasan sufistik Hamzah Fansuri dan bentuk syair yang digunakannya. Menurutnya, keluasan pemikiran sufistik terkadang membuat bentuk syair seolah tidak sepenuhnya mampu menampung gagasan yang hendak disampaikan. Hubungan antara bentuk sastra dan keluasan gagasan tersebut menjadi salah satu persoalan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Seminar nasional ini memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai Hamzah Fansuri tidak hanya berkaitan dengan sejarah sastra Melayu, tetapi juga bersinggungan dengan sufisme, sejarah politik Aceh, teori sosial, kebudayaan, serta perkembangan pemikiran Nusantara.

Melalui kolaborasi Magister Sastra UGM dan Pemerintah Kota Subulussalam, pembahasan tersebut diharapkan dapat membuka ruang kajian dan kegiatan kebudayaan yang lebih luas mengenai Hamzah Fansuri, sekaligus mempertemukan penelitian akademik dengan upaya mengenalkan kembali warisan intelektual dan sastra Melayu kepada masyarakat.

Penulis: Khotibul Umam

Awali Program Pengabdian Masyarakat, Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Gelar Pertemuan Perdana di SMA Negeri 1 Depok

Rilis Berita Rabu, 23 September 2026

Pada Kamis, 3 September 2026, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), melaksanakan kunjungan sekaligus pertemuan perdana dalam rangka program pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 1 Depok, Sleman. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok melalui program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).

Program PKJ dirancang untuk memperkenalkan berbagai aspek bahasa dan budaya Jawa kepada siswa, khususnya aksara Jawa, unggah-ungguh dan budi pekerti Jawa, serta pengetahuan budaya Jawa yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman kebudayaan secara langsung.

Pertemuan perdana tersebut diawali dengan pembukaan oleh Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan tim yang akan terlibat sebagai fasilitator selama pelaksanaan program. Tim fasilitator terdiri atas alumni dan mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yaitu:

  1. Faradilla Putri Margaretha
  2. Endar Sasmito Aji
  3. Fauzan Adi Fadlurahman
  4. Anggit Galuh Ajar Amanah
  5. Wening Hidayati
  6. Pesdhi Sekar Hayumay
  7. Maysa Putri Fatihah
  8. Muhamad Rafi Nur Fauzy
  9. Pingky Putri Khairani
  10. Meifira Arini Pitaloka
  11. Lakshita Pradnya Dayinta
  12. Dian Patmisari.

Selain memperkenalkan tim fasilitator, pertemuan pertama juga diisi dengan materi dari dua dosen Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Dr. Yosephin Apriastuti Rahayu, S.S., M.Hum., menyampaikan materi mengenai aksara Nusantara, termasuk aksara Jawa. Sementara itu, Dr. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A., memberikan pemaparan mengenai penggunaan bahasa dan budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dikemas secara interaktif sehingga siswa dapat mengenal materi kebudayaan Jawa melalui pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman mereka.

Pertemuan pertama ini merupakan awal dari rangkaian tujuh pertemuan yang telah dijadwalkan. Setelah pertemuan perdana, kegiatan pada pertemuan kedua hingga ketujuh akan dilanjutkan oleh para fasilitator melalui pembelajaran dan kegiatan praktik bersama siswa kelas X SMA Negeri 1 Depok.

Pelaksanaan program ini menjadi bagian dari kontribusi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin 4 (Pendidikan Bermutu) melalui pembelajaran bahasa dan budaya Jawa di lingkungan sekolah, poin 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui perluasan akses terhadap pengetahuan dan pembelajaran kebudayaan, serta poin 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan) melalui upaya pelestarian dan pewarisan budaya Jawa kepada generasi muda. Selain itu, kolaborasi antara Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok juga mendukung poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program pengabdian masyarakat ini tidak hanya menjadi bentuk penerapan pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk memperkenalkan dan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap bahasa dan budaya Jawa.

 

Penulis : Haryo Untoro

123…56

Rilis Berita

  • Universitas Gadjah Mada Menjadi Pemimpin HUB Indonesia dalam Project AAS: CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholar of Asia Project) 2026 melalui Kolaborasi Akademik
  • Mahasiswa Prodi Bahasa dan Kebudayaan Jepang FIB UGM Raih Juara I Kanji Cup ke-23 Tingkat Menengah
  • Kolaborasi Kenalkan Warisan Budaya Sumbu Filosofi Yogyakarta melalui Kegiatan Bercerita dan Pameran
  • Prodi Bahasa dan Sastra Indonesia UGM Jadi Tuan Rumah Seminar Internasional PIBSI ke-48, Bahas Bahasa dan Sastra di Era Humaniora Digital
  • Gelar Serah Terima Beasiswa Komitrando dan KAGAMA Korea, Prodi BKK UGM Sekaligus Bagikan Buku Sejarah Korea untuk Angkatan 2026

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju