• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 10: Berkurangnya kesenjangan
  • SDGs 10: Berkurangnya kesenjangan
  • hal. 3
Arsip:

SDGs 10: Berkurangnya kesenjangan

Transformasi Pembelajaran Bahasa Arab di Era AI Jadi Sorotan Seminar Internasional

Rilis Berita Rabu, 20 Mei 2026

Upaya penguatan integrasi teknologi dan pembelajaran bahasa Arab kembali dilakukan melalui seminar internasional bertajuk “Arabic Linguistic Analysis and Instructional Design.” yang dilaksanakan secara daring pada Kamis, 30 April 2026 ini diikuti oleh pendidik, akademisi, dan praktisi bahasa Arab dari berbagai negara. Seminar ini menjadi ruang diskusi dalam membahas perkembangan metode pembelajaran bahasa Arab di era kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Dalam forum ini, peserta diajak memahami pentingnya pemanfaatan teknologi dalam pembelajaran, tanpa meninggalkan dasar-dasar ilmiah dalam pendidikan bahasa.

Selama seminar berlangsung, peserta mendapatkan pemaparan roadmap pembelajaran berdurasi lima jam yang mencakup tiga tahap utama, yaitu penguatan teori, praktik langsung, dan pengembangan profesional tenaga pendidik. Melalui pendekatan tersebut, peserta memperoleh gambaran mengenai penerapan AI dalam pembelajaran bahasa Arab secara lebih efektif dan berkelanjutan. Salah satu pembahasan utama dalam seminar ini adalah pengenalan “Mubeen,” sebuah model AI yang dirancang khusus untuk kebutuhan linguistik bahasa Arab. Mubeen dinilai lebih mampu memahami kompleksitas bahasa Arab dibandingkan model AI umum, mulai dari ketepatan pemberian harakat (tasykil), analisis struktur morfologi, hingga pemahaman konteks budaya dalam penggunaan bahasa Arab.

Selain pemaparan materi, seminar juga menghadirkan kegiatan interaktif dimana peserta terlibat langsung dalam praktik prompt engineering. Dalam sesi ini, peserta menyusun teks deskriptif berbahasa Arab yang hasil teks tersebut kemudian dianalisis menggunakan pendekatan Pedagogical Judge (القاضي البيداغوجي) untuk menilai kualitas pembelajaran dalam teks. Diskusi seminar berlangsung aktif, terutama saat membahas peran AI dalam dunia pendidikan. Sebagian peserta menilai AI dapat membantu tenaga pendidik mengurangi pekerjaan administratif dan perencanaan yang berulang. Namun, ada pula pandangan bahwa penggunaan AI secara berlebihan dapat membuat proses pembelajaran menjadi terlalu mekanis. Perdebatan tersebut memperkaya sudut pandang peserta mengenai posisi teknologi sebagai alat bantu dalam pendidikan.

Meskipun berlangsung secara virtual, antusiasme peserta tetap terlihat tinggi sepanjang kegiatan berlangsung. Hal ini tampak dari aktifnya peserta dalam sesi tanya jawab, diskusi, serta pertukaran pengalaman mengenai penggunaan teknologi dalam pembelajaran bahasa Arab.  Sebagai penutup, seminar ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan dan pengalaman, tetapi juga mendorong lahirnya komitmen bersama untuk menerapkan hasil pelatihan dalam praktik pembelajaran di masing-masing institusi. Melalui kegiatan ini, peserta diharapkan mampu mengembangkan metode pengajaran bahasa Arab yang lebih inovatif, adaptif, dan relevan dengan perkembangan teknologi di era digital.

icesco
Penulis : Indana Zulfa Maulida

Asia Theories Network Workshop 2026 Hadir Membahas Globalisasi dan Dinamika Diskonektivitas di Era Digital

Rilis Berita Rabu, 20 Mei 2026

Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada melalui pelaksanaan Asia Theories Network (ATN) Workshop 2026 menghadirkan forum akademik internasional yang mempertemukan para sarjana terkemuka dari Asia, Amerika Serikat, dan Eropa untuk membahas paradoks globalisasi dan diskonektivitas di era digital. Kegiatan ini akan berlangsung pada 22–24 Mei 2026 di Ruang 709, Gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada.

Mengusung tema “Globalization and (Dis)Connectivity”, workshop ini mengangkat berbagai persoalan mengenai perubahan identitas, komunitas, dan institusi di tengah dunia yang semakin terkoneksi secara digital. Para peserta diajak untuk mendiskusikan bagaimana jaringan digital dan budaya tidak hanya menciptakan integrasi global, tetapi juga melahirkan bentuk-bentuk isolasi sosial dan keterputusan baru dalam kehidupan masyarakat kontemporer.

ATN Workshop 2026 juga menghadirkan dialog interdisipliner yang melibatkan bidang sastra, pendidikan, politik, hingga kajian budaya. Para akademisi dan peneliti akan membahas berbagai isu kontemporer seperti gerakan sosial digital, politik koalisi, wacana dekolonial, kesejahteraan digital (digital well-being), hingga isu Anthropocene yang berkaitan dengan relasi manusia dan lingkungan. Kehadiran perspektif global dan lokal dalam setiap sesi menjadi salah satu kekuatan utama workshop ini, termasuk pembahasan kasus-kasus regional seperti Gerakan Sunflower di Taiwan maupun kontroversi media di Indonesia.

Selain forum akademik, peserta juga akan diajak mengenal kekayaan budaya Yogyakarta melalui berbagai kegiatan budaya seperti kunjungan ke candi, pertunjukan tradisional, dan pengalaman kuliner lokal. Kegiatan ini menjadi upaya memperkenalkan budaya Indonesia kepada komunitas akademik internasional sekaligus memperkuat pertukaran budaya lintas negara.

Penyelenggaraan Asia Theories Network Workshop 2026 turut mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 tentang Pendidikan Berkualitas melalui penguatan kolaborasi akademik internasional dan pengembangan wacana keilmuan kritis, SDG 10 tentang Berkurangnya Kesenjangan melalui dialog lintas budaya dan perspektif global-lokal, serta SDG 17 tentang Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kerja sama akademik internasional antara peneliti, institusi pendidikan, dan komunitas intelektual dari berbagai negara.

[Humas FIB UGM, Alma Syahwalani]

Menyoal “Sosok Rakyat” dalam Sastra Populer Indonesia

Rilis Berita Senin, 18 Mei 2026

Sastra populer tidak hanya hadir sebagai hiburan, tetapi juga menjadi ruang untuk membaca ulang persoalan sosial, identitas, dan posisi rakyat dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Berangkat dari gagasan tersebut, pada hari Rabu, 13 Mei 2026, telah dilaksanakan Diskusi Publik bertajuk “Mempertanyakan Sosok Rakyat dalam Sastra Populer Indonesia” di Ruang Multimedia Margono Lantai 2 mulai pukul 09.00 WIB hingga selesai. Kegiatan ini menghadirkan sejumlah akademisi dan peneliti, mahasiswa Magister Sastra UGM, yang membahas representasi “rakyat” dalam karya sastra dan film populer Indonesia melalui beragam perspektif teoretis.

Diskusi dibuka dengan pemaparan dari Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum. mengenai Sastra Populer dan Masalah Bangsa, dilanjutkan pengantar redaksional oleh Ella Manikam Auliyah yang mengangkat persoalan representasi “sosok rakyat” dalam sastra populer Indonesia. Selanjutnya, para pemateri mempresentasikan kajian masing-masing dengan fokus pada subjek rakyat, resistensi, cinta, kebebasan, dan otentisitas dalam berbagai karya sastra maupun film populer.

Pada sesi pertama, Tri Kurniawan S. membahas tokoh Harun dalam novel Laskar Pelangi karya Andrea Hirata sebagai subjek subaltern yang mengalami keterbungkaman struktural akibat keterbatasan ekonomi, pendidikan, tubuh, dan akses terhadap wacana dominan. Kajian ini menunjukkan bahwa sastra populer mampu menghadirkan kritik terhadap konstruksi normalitas sosial. Selanjutnya, Giandra Febriyan mengkaji dilema moral dalam Agak Laen 2: Menyala Pantiku! dengan menunjukkan bahwa rakyat tidak selalu menjadi korban pasif, melainkan tetap memiliki agensi di tengah keterbatasan. Struktur komedi dalam karya tersebut menghadirkan kritik sosial secara ringan namun reflektif. Adapun Nur Firliyana membahas tokoh Wiro Sableng sebagai representasi rakyat yang digerakkan oleh rasa lapar sekaligus harapan akan masa depan yang lebih baik. Tokoh tersebut dipandang berhasil menghadirkan harapan baru di tengah situasi keputusasaan.

Dalam sesi diskusi pertama, peserta mengajukan sejumlah pertanyaan, di antaranya mengenai kemungkinan adanya perlawanan antarsesama rakyat yang telah menjadi borjuis, penegasan konsep dan kedudukan sastra populer, serta representasi Wiro Sableng dalam keseluruhan karya dibandingkan hanya pada objek kajian tertentu.

Pada sesi kedua, Darmastuti Eka H. membahas tokoh Jonathan dalam film Sore: Istri dari Masa Depan dengan menyoroti transformasi bentuk perlawanannya, dari perlawanan internal yang destruktif menjadi bentuk pengampunan terhadap ayahnya sebagai revolusi personal. Atiqah Khusnul H. memaparkan tokoh Dilan sebagai subjek radikal yang berani menjadi diri sendiri melalui “kegilaan cinta” dan kesetiaan terhadap pilihan hidupnya. Selanjutnya, M. Iqbal Saputra mengkaji konsep kebebasan subjektif dalam novel Gadis Kretek karya Ratih Kumala melalui pemikiran Shestov tentang kebenaran subjektif dan subjek kreatif. Abdul Jabaru H. menelaah novel Keluarga Cemara 1 karya Arswendo Atmowiloto dengan menyoroti tokoh Abah dan Emak sebagai subjek otentik ketika berada dalam “kebenaran cinta”, namun juga menunjukkan bagaimana humanisme dapat mereduksi kebebasan anak-anak untuk menjadi subjek yang otentik.

Pada sesi tanya jawab kedua, peserta mendiskusikan penggunaan teori non-sastra dalam kajian sastra, perbedaan konsep cinta menurut Alain Badiou dan Slavoj Žižek, serta persoalan narasi subaltern dalam representasi tokoh Harun.

Secara umum, diskusi publik ini menghasilkan pemahaman bahwa representasi “rakyat” dalam sastra populer Indonesia bersifat dinamis dan tidak tunggal. Rakyat tidak hanya digambarkan sebagai korban pasif, tetapi juga sebagai subjek yang memiliki agensi, harapan, serta kemampuan melakukan perlawanan dalam berbagai bentuk, baik secara terbuka maupun tersembunyi. Diskusi ini juga memperlihatkan bahwa sastra populer dapat menjadi medium refleksi sosial yang relevan dalam membaca persoalan bangsa dan kehidupan masyarakat kontemporer.

[Magister Sastra, Khotibul Umam]

Satu Semester, Segudang Pelajaran: Merangkul Perspektif Baru melalui Program Pertukaran Pelajar di UNS

Rilis Berita Senin, 18 Mei 2026

Bagi banyak mahasiswa, mengikuti program pertukaran pelajar tidak hanya memberi kesempatan untuk menempuh pendidikan di negara lain, tetapi juga memberikan perspektif baru di luar zona nyaman. Pengalaman itulah yang saat ini dijalani oleh Ardhanamesvari Nuringtyas Aji, yang akrab disapa Vari, melalui program DiscoverNUS di National University of Singapore (NUS). Program ini memberikan kesempatan bagi mahasiswa internasional untuk belajar selama satu semester di NUS dengan biaya kuliah yang ditanggung penuh. Vari mengetahui peluang tersebut melalui Office of International Affairs Universitas Gadjah Mada (OIA UGM). 

Keputusan Vari memilih NUS didorong oleh rasa ingin tahu yang tinggi. Berbeda dengan sebagian besar mahasiswa yang sejak lama merencanakan tujuan studinya, Vari mengaku pilihannya muncul karena merasa memiliki peluang untuk memenuhi persyaratan pendaftaran sebelum tenggat waktu yang ditentukan. “Saya melihat informasinya dan merasa bisa memenuhi semua persyaratan serta timeline yang ada,” ujarnya. Kedekatan Singapura dengan Indonesia juga menjadi alasan tersendiri yang membuat kesempatan tersebut terasa semakin menarik dan mungkin untuk diwujudkan. Hal inilah yang membuat Vari tidak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. 

Sebelum keberangkatan, Vari menyiapkan sejumlah dokumen seperti surat rekomendasi dan motivation letter, memperpanjang paspor, hingga mengikuti tes IELTS. Setelah dinyatakan lolos, ia masih harus mengurus berbagai kebutuhan lain, mulai dari pengajuan visa pelajar, pendaftaran asrama kampus, hingga pemilihan mata kuliah untuk satu semester. Meski cukup melelahkan, proses tersebut menjadi bagian penting dalam transisinya menuju pengalaman studi di luar negeri. 

Kesan mendalam yang dirasakan Vari setibanya di Singapura adalah atmosfer yang sangat berbeda apabila dibandingkan dengan Yogyakarta. “Kota ini sangat modern,” katanya. Menurutnya, Singapura merupakan tempat yang “rapi dan tertata di mana pun saya berada.” Vari juga terkejut dengan budaya akademik di NUS yang menekankan partisipasi mahasiswa sebagai komponen penting dari penilaian, sehingga diskusi di kelas berlangsung dengan aktif. Selain itu, budaya berpakaian di lingkungan kampus yang lebih santai juga merupakan hal baru baginya. Di sisi lain, ia menyadari bahwa meraih nilai tinggi di NUS terasa lebih menantang daripada yang ia bayangkan. 

Karena sebelumnya belum pernah menetap di luar Yogyakarta, Vari sempat mengalami berbagai tantangan saat menyesuaikan diri dengan kehidupan di Singapura. Ia harus belajar hidup di asrama bersama mahasiswa lain, beradaptasi dengan penggunaan transportasi umum, serta mengikuti lingkungan akademik NUS yang menekankan keaktifan dalam diskusi, pengerjaan proyek, dan partisipasi di kelas. Dalam proses adaptasi tersebut, Vari mulai membentuk rutinitas baru, salah satunya dengan lebih sering belajar di perpustakaan.

Selama mengikuti program tersebut, rutinitas harian Vari mulai terasa lebih teratur. Pada hari kerja, ia biasanya bangun sekitar pukul delapan atau sembilan pagi untuk sarapan di residence hall yang menyediakan makanan bagi mahasiswa. Di luar kegiatan akademik, ia kerap menghadiri berbagai acara kampus, bertemu teman-teman asal Indonesia untuk makan siang bersama, hingga belajar di perpustakaan pada malam hari. Sementara itu, akhir pekan dimanfaatkannya untuk menjelajahi Singapura bersama teman-teman dan mengenal kehidupan kota di luar lingkungan kampus 

Melalui pengalaman pertukaran pelajar ini, Vari merasa berkembang baik secara pribadi maupun akademik. Hidup mandiri di negara baru membuatnya menjadi lebih percaya diri, mudah beradaptasi, dan disiplin, sementara lingkungan akademik yang kompetitif memotivasinya untuk bekerja lebih keras dan konsisten. Pertemuannya dengan orang-orang dari berbagai budaya juga memperluas sudut pandangnya dalam banyak hal. “Saya belajar untuk berani dan percaya diri dalam mencoba hal-hal baru,” tuturnya. 

Berkaca pada pengalamannya, Vari mendorong mahasiswa lain agar tidak takut mengambil peluang untuk belajar di luar negeri. Ia menekankan pentingnya memperhatikan tenggat waktu dan detail administrasi, sekaligus tetap terbuka terhadap pengalaman baru. Bagi Vari, program pertukaran pelajar ini merupakan salah satu pengalaman paling berharga yang penuh pelajaran bermakna, kenangan tak terlupakan, dan persahabatan baru. “Awalnya mungkin terasa menakutkan,” ujarnya, “tetapi ketika sudah mulai menjalani, kalian akan berterima kasih pada diri sendiri karena berani mencoba.” 

[Sastra Inggris, Maulina Artyansa S]

Kuliah Tamu Dr. Irma Budginaitė-Mačkinė Bahas Lithuania dalam Ambiguitas Post-Soviet

Rilis Berita Senin, 11 Mei 2026

Pada pertemuan terakhir di paruh pertama mata kuliah Poskolonialisme, mahasiswa Magister Sastra Universitas Gadjah Mada mendapatkan kesempatan mengikuti kuliah tamu bertajuk Baltic Postcolonialism yang disampaikan oleh Dr. Irma Budginaitė-Mačkinė, Associate Professor of Sociology di Vilnius University, Lithuania. Dr. Irma melakukan kunjungan ke Indonesia dalam rangka skema mobilitas riset yang dibiayai oleh Project MARS: Non Western Migration from Global Perspectives.

Kuliah ini dihadirkan oleh dosen pengampu mata kuliah Poskolonialisme pada paruh pertama, yakni Dr. Arifah Arum Candra Hayuningsih. Kuliah tamu pada kelas Magister Sastra ini dilaksanakan pada Senin (27/4/2026) di Gedung Soegondo 224, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada.

Mata kuliah Poskolonialisme merupakan salah satu mata kuliah wajib yang bertujuan untuk memberikan pemahaman kepada mahasiswa mengenai dinamika kolonialisme serta dampaknya terhadap berbagai aspek kehidupan, seperti bahasa, sastra, ekonomi, politik, dan kebudayaan. Kajian ini tidak hanya berfokus pada negara-negara di Asia dan Afrika, tetapi juga mencakup wilayah lain seperti Karibia, Kenya, India, Vietnam, hingga kawasan Eropa Timur, termasuk Lithuania, yang mengalami dominasi kekuasaan dalam bentuk yang berbeda dari kolonialisme klasik.

Berbagai pengalaman kolonial tersebut melahirkan pemikir-pemikir poskolonial yang berupaya mengkritisi dan mendekonstruksi hegemoni kolonial melalui gagasan-gagasan reflektif dan kritis. Tokoh-tokoh seperti Aimé Césaire, Albert Memmi, Frantz Fanon, Ngũgĩ wa Thiong’o, Trinh T. Minh-ha, Chandra Talpade Mohanty, serta Édouard Glissant menghadirkan perspektif beragam dalam memahami kolonialisme dan proses dekolonisasi.

Dalam pemaparannya, akademisi yang memiliki latar belakang interdisipliner dalam bidang ilmu politik dan sosiologi ini, menyoroti posisi Lithuania yang ambigu dalam kajian poskolonial, khususnya dalam konteks post-Soviet. Untuk memahami ambiguitas tersebut, Lithuania perlu dilihat dalam kerangka post-imperial, yakni sebagai negara yang mengalami transisi dari kekuasaan Kekaisaran Rusia hingga Uni Soviet menuju fase pasca-Soviet. Negara ini tidak mudah dikategorikan sebagai “terjajah” dalam pengertian kolonialisme klasik, namun tetap mengalami bentuk dominasi yang menyerupai kolonialisme (colonial-like domination).

Secara geografis, Lithuania merupakan negara dengan luas sekitar 65.300 km², atau kurang lebih setengah dari Pulau Jawa, dengan jumlah penduduk sekitar 2,9 juta jiwa yang setara dengan populasi penduduk di Kota Yogyakarta. Bahasa nasionalnya, yaitu bahasa Lithuania, termasuk dalam rumpun Indo-Eropa cabang Baltik dan menjadi bagian penting dari identitas nasional yang tetap bertahan di tengah berbagai tekanan sejarah.

Dari sisi historis, Lithuania pernah tergabung dalam persatuan politik melalui Uni Polandia–Lithuania pada tahun 1569. Namun, pada tahun 1795, negara ini kehilangan kedaulatannya dan menjadi bagian dari Kekaisaran Rusia. Sejak saat itu, berbagai kebijakan yang diterapkan menunjukkan bahwa dominasi yang terjadi tidaklah sederhana, melainkan berlangsung secara sistematis dan kompleks.

Dalam pemaparannya, sosiolog yang telah melakukan riset ilmiah selama sepuluh tahun lebih tersebut juga menerangkan persoalan terkait pandangan sejarawan Darius Staliūnas yang mendeskripsikan dominasi Rusia di Lithuania menyasar berbagai aspek kehidupan. Dalam bidang politik, Lithuania berada di bawah kontrol kekuasaan eksternal yang membatasi kedaulatan nasional. Dalam aspek sosial, praktik represi seperti sensor dan pembatasan kebebasan menjadi bagian dari pengalaman masyarakat. Secara ekonomi, terjadi eksploitasi serta pengalihan orientasi ekonomi untuk kepentingan pusat kekuasaan.

Selanjutnya pada bidang budaya, bahasa, dan agama, dominasi ini tampak melalui kebijakan yang mendorong Russification. Pemerintah Rusia mempromosikan Kristen Ortodoks, membatasi pengaruh Gereja Katolik, serta pernah melarang penggunaan alfabet Latin. Kebijakan ini menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menggeser identitas lokal Lithuania. Selain itu, pendidikan dan pengetahuan juga dijadikan sebagai alat kontrol untuk membentuk cara berpikir masyarakat agar sesuai dengan kepentingan kekuasaan.

Sebagai bentuk respons terhadap tekanan tersebut, masyarakat Lithuania menunjukkan berbagai bentuk resistensi, salah satunya melalui tindakan migrasi besar-besaran. Pada periode 1865–1915, sekitar 700.000 penduduk Lithuania meninggalkan negaranya dan berpindah ke berbagai wilayah, seperti Amerika Serikat, Inggris, Kanada, Brasil, Argentina, dan Jerman. Migrasi ini dapat dipahami sebagai bentuk perlawanan tidak langsung terhadap dominasi yang mereka alami.

Setelah runtuhnya Uni Soviet, Lithuania memasuki fase post-Soviet transition yang ditandai dengan pemulihan kemerdekaan politik pada tahun 1990 serta berakhirnya kontrol langsung dari kekuatan eksternal. Namun demikian, dampak dari dominasi sebelumnya masih terasa hingga saat ini. Lithuania, seperti negara-negara Eropa Timur lainnya, menghadapi tantangan sebagai negara yang relatif kurang berkembang, belum sepenuhnya modern, dan masih berada dalam proses mengejar ketertinggalan dari negara-negara Barat.

Oleh karena itu, pengalaman Lithuania menunjukkan bahwa kolonialisme tidak selalu berbentuk penjajahan geografis yang eksplisit, tetapi juga dapat dikenali melalui relasi kuasa yang kompleks dan berlapis. Ambiguitas inilah yang menjadikan Lithuania sebagai kasus yang menarik dalam kajian poskolonial, sekaligus memperluas cakupan analisis poskolonial di luar wilayah Global South.

[Magister Sastra, Selvia Parwati Putri]

12345…27

Rilis Berita

  • UGM dan UiTM Malaysia Perkuat Kajian Bahasa Arab melalui Diskusi Daring
  • Departemen Arkeologi UGM Kirim Tujuh Mahasiswa untuk Mengikuti PATI 2026 
  • Mahasiswa Doktoral Ilmu-Ilmu Humaniora UGM Raih Peringkat Pertama Sayembara Kritik Sastra DKJ 2026: Menggugat Antroposentrisme melalui Narasi Post-Human
  • Memperkuat Tata Kelola Akademik dan Inklusivitas: Hearing Departemen Antropologi Budaya UGM 2026 
  • Kuliah Praktisi Penulisan Keterangan Saksi Ahli Linguistik Forensik

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju