• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • SDGs 10: Berkurangnya kesenjangan
  • (Page 2)
Arsip:

SDGs 10: Berkurangnya kesenjangan

Gelar Serah Terima Beasiswa Komitrando dan KAGAMA Korea, Prodi BKK UGM Sekaligus Bagikan Buku Sejarah Korea untuk Angkatan 2026

Rilis Berita Selasa, 20 Oktober 2026

Yogyakarta, 7 Oktober 2026 – Sebagai wujud apresiasi atas prestasi dan dedikasi akademis mahasiswanya, Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Korea (BKK) Universitas Gadjah Mada (UGM) kembali menyelenggarakan acara serah terima beasiswa pada Rabu, 7 Oktober 2026. Acara ini mencakup penganugerahan Beasiswa Komitrando, Beasiswa KAGAMA Korea, sekaligus penyerahan buku Sejarah Korea bagi mahasiswa baru angkatan 2026.

Kegiatan dibuka dengan hangat melalui sambutan dari Ketua Program Studi BKK UGM, Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D., yang kemudian dilanjutkan dengan sambutan apresiasi dari Ibu Irene selaku perwakilan dari pihak Komitrando.

Memasuki agenda inti pertama, sertifikat Beasiswa Komitrando yang berupa bantuan pendidikan diserahkan secara langsung oleh Mr. Ahn Gyeong Hwan, perwakilan Komitrando. Beasiswa ini dianugerahkan kepada dua mahasiswi berprestasi, yaitu:

  1. Azzahra Ika Novitasari (IPK 3.68)
  2. Allysa Fadhia Pramudita (IPK 3.82)

Setelah prosesi penyerahan sertifikat, kedua penerima beasiswa turut menyampaikan kesan dan pesan, serta mengutarakan komitmen untuk terus memaksimalkan potensi akademis mereka berkat dukungan pendidikan tersebut.

Acara kemudian dilanjutkan dengan penyerahan Beasiswa KAGAMA Korea yang diserahkan oleh Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D., Bapak Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D., dan Bapak Andri Saefudin, B.A., M.A.. Pada kesempatan ini, beasiswa dianugerahkan kepada 10 mahasiswa berprestasi Prodi BKK UGM dengan capaian nilai yang sangat membanggakan. Berikut adalah daftar kesepuluh penerima Beasiswa KAGAMA Korea:

  1. Rahadita Sekar Dea Alita (IPK 3.71)
  2. Layla Maryam Al-Muqaddas (IPK 3.70)
  3. Nadya Ammara Naura ADN (IPK 3.69)
  4. Nurhalima Ayunda Khoiriyya (IPK 3.79)
  5. Carissa Nura Firdaus (IPK 3.76)
  6. Salma Hayati Kurniasari (IPK 3.74)
  7. Paula Maureen Christella (IPK 3.69)
  8. Alvi Aulia Rachmi (IPK 3.97)
  9. Claudia Keishia Piji Swastika (IPK 3.92)
  10. Baiq Virnieza Muthia (IPK 3.92)

Selain penganugerahan beasiswa, acara ini juga memfasilitasi kebutuhan literatur mahasiswa baru. Bapak Suray Agung Nugroho, S.S., M.A., Ph.D. menyerahkan Buku Sejarah Korea secara simbolis kepada Dylan selaku ketua angkatan, mewakili rekan-rekannya dari angkatan 2026. Kehadiran buku ini ditujukan sebagai bekal ilmu dan referensi berharga bagi perjalanan studi mahasiswa baru ke depannya.

Tidak hanya kepada mahasiswa angkatan baru, Bapak Achmad Rio Dessiar, B.A., M.A., Ph.D. selaku Kaprodi BKK juga menyerahkan Buku Sejarah Korea kepada pihak Komitrando Mr. Ahn Gyeong Hwan dan Ibu Irene.

 

Selanjutnya, rangkaian acara ditutup dengan sesi foto bersama yang melibatkan jajaran dosen, perwakilan KOMITRANDO, penerima beasiswa, serta seluruh angkatan 2026. Selamat kepada para penerima Beasiswa Komitrando dan KAGAMA Korea! Semoga dukungan ini memberikan manfaat yang besar dan mampu memotivasi seluruh mahasiswa BKK UGM lainnya untuk terus bersemangat menorehkan prestasi cemerlang.

Penulis: Salwa Aulia

Eksplorasi Identitas Multikultural dan Gender Sastra Indonesia Warnai Promosi Doktor di FIB UGM 

Rilis Berita Selasa, 6 Oktober 2026

Khidmat dan rasa bangga mewarnai Sidang Terbuka Promosi Doktor yang berlangsung pada hari Jumat, 2 Oktober 2026, di ruang Multimedia, Gedung Margono, Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada. Momen istimewa ini menandai keberhasilan dua akademisi asal Program Studi Sastra Indonesia, Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Bahasa dan Seni (FBS) Universitas Negeri Medan (Unimed), Wahyu Wiji Astuti, S.S., M.A. dan Muhammad Hafidz Assalam, S.S., M.A., yang resmi meraih gelar Doktor Ilmu-Ilmu Humaniora. Kehadiran keduanya menarik perhatian civitas akademika karena selain berprofesi sebagai sejawat dosen di jurusan yang sama, mereka merupakan pasangan suami istri.

Dalam ujian promosi doktor tersebut, Wahyu Wiji Astuti mempertahankan disertasinya yang bertajuk “Pembentukan Subjek dan Identitas dalam Kumpulan Cerpen Malim Pesong: Kajian Psikoanalisis Lacan”. Penelitian yang dipromotori oleh Prof. Dr. Pujiharto, S.S., M.Hum. ini mengulas secara mendalam dinamika pembentukan identitas serta psikologi subjek dalam karya sastra melalui pendekatan psikoanalisis Jacques Lacan, khususnya dalam konteks masyarakat multikultural Sumatera Utara.

Sementara itu, sang suami, Muhammad Hafidz Assalam, dipromotori oleh Guru Besar Sastra dan Gender FIB UGM yang juga Wakil Rektor Bidang Pendidikan dan Pengajaran UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA.. Ia memaparkan riset bertajuk “Narasi Feminin Pada Cerpen Perempuan Tahun 2020-an: Kompleksitas dan Ambiguitas Tubuh Perempuan”, yang menyoroti representasi gender, dinamika tubuh perempuan, serta wacana feminisme dalam perkembangan cerpen Indonesia kontemporer dekade 2020-an.

Dekan serta dewan penguji FIB UGM memberikan apresiasi tinggi atas pencapaian akademis kedua promovendus. Keberhasilan mempertahankan disertasi di hadapan dewan penguji UGM secara bersamaan di bawah bimbingan para promotor ini diharapkan dapat memperkuat sinergi riset sastra, meningkatkan publikasi ilmiah, serta memberikan dampak positif bagi pengembangan pengajaran Bahasa dan Sastra Indonesia.

 

[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]

Universitas Gadjah Mada Memperkuat Kolaborasi Akademik Internasional melalui Partisipasi dalam CHSS 2026 di Lahore

Rilis Berita Senin, 5 Oktober 2026

Universitas Gadjah Mada (UGM) menegaskan kembali komitmennya terhadap kolaborasi akademik internasional dan pertukaran pengetahuan melalui partisipasi aktifnya dalam Konferensi CHSS 2026 yang diselenggarakan di Lahore University of Management Sciences (LUMS), Pakistan, pada 23 hingga 27 September 2026. Konferensi ini menghadirkan para akademisi, peneliti, pembuat kebijakan, dan praktisi dari seluruh Asia dan luar kawasan untuk mendiskusikan tantangan serta peluang kontemporer yang dihadapi masyarakat di wilayah tersebut.

UGM diwakili oleh Prof. Dr. Wening Udasmoro, Dr. Aprillia Firmonasari, dan Dr. Merry Andriani dari Fakultas Ilmu Budaya, yang berpartisipasi dalam berbagai kegiatan akademik dan networking sepanjang konferensi. Keterlibatan mereka berkontribusi pada diskusi ilmiah mengenai isu-isu yang mempengaruhi Asia dan Global South, sekaligus memperkuat kemitraan antara UGM dan lembaga-lembaga internasional. Prof. Dr. Wening Udasmoro juga bertindak sebagai Hub Leader UGM dalam proyek kerja sama akademik antara Association for Asian Studies (AAS), Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Underrepresented Scholars of Asia (CHSS), dan Universitas Gadjah Mada (UGM).

Konferensi ini menampilkan program yang luas, terdiri dari lokakarya pra-konferensi, presentasi panel, diskusi meja bulat, pameran, kegiatan budaya, dan forum jejaring. Para peserta mendalami berbagai topik, termasuk migrasi, pendidikan, tata kelola pemerintahan, studi gender, ketahanan iklim, kesehatan masyarakat, warisan budaya, dan kerja sama regional. Melalui sesi-sesi ini, peserta saling bertukar perspektif dan hasil penelitian sekaligus mengidentifikasi peluang untuk inisiatif kolaboratif di masa depan.

Selain presentasi akademik, konferensi ini menekankan keterlibatan lintas budaya melalui pameran dan pertunjukan seni budaya yang menyoroti keragaman serta dinamika masyarakat Asia. Kegiatan-kegiatan ini memberikan kesempatan berharga bagi para peserta untuk terhubung lintas disiplin ilmu dan batas negara. Partisipasi UGM dalam konferensi ini mencerminkan upaya berkelanjutan universitas untuk mempromosikan keilmuan yang terlibat secara internasional dan membina kemitraan bermakna untuk mengatasi tantangan global maupun regional. Acara ini juga berfungsi sebagai platform untuk memperluas jaringan akademik dan mengeksplorasi peluang penelitian kolaboratif dengan berbagai institusi di Asia dan sekitarnya.

Melanjutkan momentum yang terbangun di Lahore, Universitas Gadjah Mada akan menjadi tuan rumah lokakarya internasional serupa di Yogyakarta, Indonesia, pada 19 hingga 23 Oktober 2026. Lokakarya ini dirancang sebagai forum akademik inklusif yang menyambut peserta dari berbagai latar belakang disiplin ilmu, institusi, budaya, dan geografis. Sejalan dengan komitmen UGM terhadap kesetaraan sosial dan inklusivitas, program ini akan menyediakan platform bagi para akademisi, peneliti, praktisi, dan perwakilan masyarakat untuk berdialog, berbagi perspektif, dan bertukar pengetahuan tentang isu-isu yang relevan bagi masyarakat. Melalui inisiatif ini, UGM berupaya membina lingkungan akademik yang menghargai keberagaman, mempromosikan partisipasi yang setara, serta mendorong keterlibatan lintas budaya dan interdisipliner.

Melalui partisipasinya dalam CHSS 2026 dan perannya yang akan datang sebagai tuan rumah, UGM terus menunjukkan komitmennya untuk memajukan penelitian yang berdampak, membina dialog internasional, dan berkontribusi pada pengembangan solusi inklusif dan berkelanjutan terhadap tantangan global masa kini. Bagi Universitas Gadjah Mada, keterlibatan ini tidak hanya mewakili peluang untuk pertukaran ilmiah, tetapi juga upaya strategis untuk memperkuat posisi universitas sebagai institusi terdepan dalam memfasilitasi kolaborasi akademik regional dan global.

Resmi Dilantik, Dr. Nur Saktiningrum Siap Bawa FIB UGM ke Babak Baru Periode 2026–2031

Rilis Berita Rabu, 30 September 2026

“Well being bukan semata soal finansial, well being adalah keadaan ketika semua orang di Fakultas Ilmu Budaya dapat bekerja dan belajar dengan sehat dan aman, merasa dihargai, memiliki ruang untuk bertumbuh, dan tahu bahwa dia tidak akan sendirian dalam menghadapi permasalahan.” Demikian yang disampaikan Dr. Nur Saktiningrum, S.S., M.Hum. dalam pidato sambutan Serah Terima Jabatan Dekan FIB UGM, pada hari Rabu, 30 September 2026. Selaku dekan terpilih periode 2026-2031, ia turut mengucapkan terima kasih kepada Dekan periode 2021-2025 dan segenap jajaran tim yang telah bekerjasama dengan baik. Capaian yang telah dibangun selama lima tahun terakhir diharapkan dapat menjadi pondasi yang kokoh bagi jajaran dekanat periode berikutnya. 

Pidato sambutannya di Auditorium Poerbatjaraka siang hari itu disaksikan oleh segenap anggota senat FIB, dosen, tenaga kependidikan, ketua Lembaga Eksekutif Mahasiswa FIB, ketua Himpunan Mahasiswa Jurusan, dan mahasiswa perwakilan Badan Semi Otonom. Dalam kesempatan ini Prof. Dr. Bambang Hudayana, M.A. selaku ketua senat membuka jalannya Upacara Serah Terima Jabatan Dekan tersebut. 

Pidato sambutan juga disampaikan oleh Dekan FIB UGM periode 2021-2026, Prof. Dr. Setiadi, S.Sos., M.Si. Dalam sambutannya, ia mengapresiasi kebersamaan seluruh sivitas akademika yang telah membawa FIB UGM mencapai berbagai capaian hingga saat ini. “Kita berdiri pada pondasi yang kuat, pada leadership yang kuat, dan itu harus kita teruskan sampai kapan pun fakultas ini berdiri,” tegas Prof. Setiadi di hadapan para hadirin. Ia mengamini bahwa di bawah kepemimpinan Dr. Nur Saktiningrum, FIB UGM akan terus berkembang menjadi lingkungan akademis yang semakin inklusif, inovatif, dan berdaya saing global.

Acara berlangsung khidmat dan dilanjutkan dengan penandatanganan berita acara serah terima jabatan serta penyerahan memori jabatan dari Prof. Setiadi kepada Dr. Nur Saktiningrum. Rangkaian prosesi kemudian ditutup dengan doa bersama dan pemberian ucapan selamat dari segenap anggota senat, para dosen, tenaga kependidikan, serta perwakilan mahasiswa yang hadir. Dengan resminya serah terima jabatan ini, FIB UGM siap melangkah ke babak baru di bawah kepemimpinan periode 2026–2031 dengan berfokus pada kesejahteraan, integrasi akademis, dan ruang tumbuh yang aman bagi seluruh elemen fakultas.

[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]

Menelusuri Gagasan Hamzah Fansuri dalam Tradisi Sastra Melayu 

Rilis Berita Kamis, 24 September 2026

Nama Hamzah Fansuri tidak berhenti pada syair-syair yang diwariskan dalam tradisi sastra Melayu. Di balik karya seperti Syair Perahu dan Syair Ikan Tunggal, tersimpan perdebatan tentang manusia dan Tuhan, juga kekuasaan serta batas-batas kebudayaan yang masih menjadi bahan kajian hingga kini. Persoalan itu kembali dibuka dalam Seminar Nasional “Hamzah Fansuri dan Tradisi Kepenyairan Nusantara” yang digelar Magister Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Pemerintah Kota Subulussalam di Auditorium FIB UGM, Rabu (16/9/2026). 

Seminar yang berlangsung pukul 12.00–17.00 WIB tersebut menghadirkan tiga akademisi sebagai pembicara, yakni Prof. Dr. Faruk, S.U., Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., dan Prof. Dr. Sangidu, M.Hum. Diskusi dipandu oleh Rini Febriani.

Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk membahas sosok Hamzah Fansuri, karya-karyanya, pemikiran sufistik, serta kaitannya dengan perkembangan sastra Melayu dan sejarah intelektual Nusantara. Kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali Hamzah Fansuri sebagai tokoh penting yang memiliki keterkaitan erat dengan Kota Subulussalam.

Dalam sambutannya, Wali Kota Subulussalam menyampaikan bahwa Hamzah Fansuri merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Subulussalam. Ia juga menyebut penghargaan yang pernah diberikan kepada Hamzah Fansuri serta pengakuan terhadap warisan intelektualnya.

Menurutnya, Hamzah Fansuri memiliki posisi penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara. Karena itu, kerja sama antara Pemerintah Kota Subulussalam dan Magister Sastra UGM diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk rencana penyelenggaraan Festival Hamzah Fansuri di Kota Subulussalam.

“Ini merupakan awal dari festival Hamzah Fansuri nanti di Kota Subulussalam,” ujar Wali Kota dalam sambutannya.

Sementara itu, Wakil Dekan FIB UGM dalam sambutan sekaligus pembukaan seminar menekankan pentingnya melihat bahasa dan sastra Melayu tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan intelektual Nusantara.

Ia menyinggung posisi Hamzah Fansuri dalam perkembangan genre syair. Pemikiran Hamzah Fansuri, menurutnya, menunjukkan bahwa karya sastra dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan yang mendalam mengenai kehidupan manusia, ketuhanan, dan perjalanan manusia.

Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah Syair Perahu, yang menggambarkan perjalanan manusia melalui metafora sebuah perahu. Sastra, menurutnya, tidak hanya menawarkan keindahan bahasa, tetapi juga kedalaman pemikiran dan refleksi terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Dalam konteks kekinian, sastra juga dinilai dapat menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan merefleksikan arah perjalanan masyarakat. Pertanyaan mengenai ke mana “perahu” Indonesia akan berlayar menjadi salah satu refleksi yang dapat dibaca dari karya sastra hari-hari ini.

Mengkaji Karya dan Pemikiran Sufistik Hamzah Fansuri

Pembicara pertama, Prof. Dr. Sangidu, menyampaikan materi berjudul “Karya-Karya Hamzah Fansuri dan Pemikiran Sufistiknya”. Ia membahas sejumlah karya Hamzah Fansuri dalam bentuk prosa maupun syair serta perkembangan pemikiran sufistik yang melatarinya.

Sangidu menjelaskan bahwa pemikiran Hamzah Fansuri dipengaruhi oleh tradisi Neo-Platonisme dan pemikiran Ibn Arabi. Hamzah Fansuri meninggalkan karya-karya dalam bahasa Melayu, termasuk sejumlah syair dan rubai. Empat rubai yang kemudian diberi syarah oleh Syamsuddin as-Samatrani adalah Subchānal-Lāh Terlalu Kāmil, Allah Maujud Terlalu Bāqī, Sidang Fakir Empunya Kata, dan Ikan Tunggal Bernama Fādhil.

Salah satu pembahasan utama adalah Syair Ikan, yang dikenal dengan dua penyebutan, yakni Syair Ikan Tongkol dan Syair Ikan Tunggal. Sangidu memilih istilah Ikan Tunggal dengan merujuk pada pembacaan Doorenbos karena melihat keterkaitan syair tersebut dengan konsep wahdatul wujud.

Dalam pembacaan tersebut, ikan menjadi simbol manusia atau sālik, sedangkan laut menjadi simbol Tuhan. Hubungan antara ikan dan laut menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan dalam gagasan wahdatul wujud. Manusia diibaratkan sebagai ombak yang berasal dari air dan pada akhirnya kembali kepada air sebagai sumbernya. Dengan demikian, ombak dan air merupakan satu kesatuan.

Sangidu juga menjelaskan konsep tajalli dan Nur Muhammad dalam pemikiran tersebut. Alam semesta dipahami sebagai manifestasi dari Dzat dan wujud Tuhan, sedangkan manusia sebagai mikrokosmos menjalani perjalanan spiritual untuk mencapai pengenalan dan kedekatan dengan Tuhan. Proses tersebut berkaitan dengan fanā’ fil-Lāh, tarkud-dunyā, serta pencapaian ma’rifatullah.

Pembahasan berlanjut pada Sidang Fakir Empunya Kata. Dalam karya tersebut, pengenalan terhadap diri menjadi bagian penting dalam perjalanan mengenal Tuhan. Sangidu menguraikan bahwa pengalaman spiritual dalam karya Hamzah Fansuri menempatkan hati sebagai bagian penting dalam proses mengenali Tuhan. Penyucian hati dan pengamalan ilmu hakikat menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Sangidu juga menempatkan pemikiran Hamzah Fansuri dalam konteks sejarah Aceh dengan menyebut Syamsuddin as-Samatrani, Nuruddin ar-Raniri, Sultan Iskandar Muda, dan Sultan Iskandar Tsani. Perbedaan pemikiran mengenai sufisme kemudian berkaitan dengan perubahan situasi politik dan kekuasaan di Aceh.

Sufisme, Marxisme, dan Persoalan Manusia

Pembicara kedua, Prof. Dr. Aprinus Salam, mengangkat tema “Masalah Indonesia, Sufisme Martabat Tujuh, dan (Pos-)Marxisme”.

Aprinus mengawali pembahasannya dengan persoalan mengenai kecenderungan memaklumi kesalahan dan kejahatan sebagai sesuatu yang “manusiawi”. Ungkapan seperti “namanya juga manusia” atau “itu sesuatu yang manusiawi”, menurutnya, dapat menjadi persoalan ketika digunakan untuk membenarkan atau memaklumi tindakan yang merugikan.

Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan sejarah kolonialisme, modernisasi, kapitalisme, dan perkembangan teori sosial di Indonesia. Sejak abad ke-17, kolonialisme turut membentuk struktur kelas dan status sosial dalam rangka mengatur masyarakat Nusantara. Memasuki awal abad ke-20, teori sosial, termasuk Marxisme, mulai dikenal dan digunakan dalam membaca persoalan sosial, ekonomi, dan politik Indonesia.

Menurut Aprinus, proses sekularisasi dan modernisasi turut membuat sufisme berada dalam posisi yang lebih terbatas sebagai perspektif keilmuan. Sementara itu, Marxisme pernah menjadi sesuatu yang menggelisahkan kekuasaan dan dilarang pada masa Orde Baru karena dianggap memiliki kemungkinan radikalisasi perlawanan terhadap kekuasaan. Setelah 1998, kapitalisme dan modernisme tetap berkembang, sementara Marxisme mengalami transformasi menuju posmarxisme.

Pada titik tersebut, Aprinus melihat kemungkinan pertemuan antara posmarxisme dan sufisme. Posmarxisme memberi perhatian pada kemunculan subjek-subjek radikal, sedangkan dalam pemikiran Martabat Tujuh terdapat gagasan tentang insan kamil. Keduanya, dalam kerangka yang berbeda, dapat dibaca melalui persoalan pembebasan manusia dari berbagai keterikatan ideologis, politik, ekonomi, maupun sosial.

Aprinus juga menghubungkan pembahasan tersebut dengan posisi sastra sufistik dalam sejarah sastra Indonesia. Menurutnya, sastra sufi tetap berjalan dan berkembang, meskipun tidak selalu memperoleh posisi yang kuat dalam pembicaraan sastra Indonesia. Sejumlah karya pada masa Balai Pustaka telah memperlihatkan dimensi tasawuf, sementara pada periode setelah kemerdekaan, terutama ketika kontrol kekuasaan semakin kuat pada 1970-an, sufisme menjadi salah satu ruang yang digunakan sastra untuk mempertahankan ekspresi tertentu.

Dalam perkembangannya, sejumlah penyair seperti Abdul Hadi, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, dan Cak Nun disebut memiliki kecenderungan sufistik dalam karya-karyanya. Aprinus melihat pembacaan terhadap sastra sufistik sebagai bagian dari upaya memahami kembali hubungan antara sastra, manusia, dan kehidupan sosial.

Pembahasan kemudian diperluas melalui gagasan tentang manusia yang terkoneksi dengan alam dan lingkungan. Aprinus menyebut adanya kemungkinan melihat masyarakat tradisional Indonesia yang menempatkan manusia sebagai bagian yang terhubung dengan tumbuhan, hewan, dan benda-benda sebagai suatu bentuk “poshumanisme Nusantara”.

Hamzah Fansuri dan Sultan Iskandar Muda

Pembicara ketiga, Prof. Dr. Faruk, menyampaikan materi berjudul “Hamzah Fansuri dan Sultan Iskandar Muda: Sebuah Homologi”.

Faruk mengawali pembahasannya dengan pertanyaan mengenai perbedaan perlakuan terhadap karya-karya Hamzah Fansuri pada masa Sultan Iskandar Muda dan masa sesudahnya. Dalam materi tersebut, ia membandingkan situasi politik pada masa Sultan Iskandar Muda dengan masa Sultan Iskandar Tsani.

Masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dipaparkan sebagai periode kejayaan Aceh dengan orientasi yang kuat pada perdagangan dunia dan ekspansi politik. Sementara itu, pada masa Sultan Iskandar Tsani, perhatian kekuasaan lebih banyak berhadapan dengan persoalan internal dan perebutan kekuasaan.

Dari perbandingan tersebut, Faruk melihat adanya homologi antara orientasi Sultan Iskandar Muda dan kecenderungan pemikiran Hamzah Fansuri. Iskandar Muda memiliki orientasi untuk melampaui batas-batas lokal melalui perdagangan dan ekspansi politik, sedangkan pemikiran sufistik Hamzah Fansuri juga bergerak melampaui sekat geografis dan kultural.

Menurut Faruk, pemikiran sufistik Hamzah Fansuri membawa kehidupan manusia ke dalam dimensi yang lebih universal. Sufisme, dalam pembacaan tersebut, memiliki kecenderungan crossing the border, yakni melampaui batas-batas yang memisahkan manusia berdasarkan wilayah maupun kebudayaan. Karena itu, pemikiran Hamzah Fansuri dapat ditempatkan dalam kaitannya dengan kosmopolitanisme dan keterbukaan terhadap keberagaman.

Faruk juga menyoroti hubungan antara gagasan sufistik Hamzah Fansuri dan bentuk syair yang digunakannya. Menurutnya, keluasan pemikiran sufistik terkadang membuat bentuk syair seolah tidak sepenuhnya mampu menampung gagasan yang hendak disampaikan. Hubungan antara bentuk sastra dan keluasan gagasan tersebut menjadi salah satu persoalan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Seminar nasional ini memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai Hamzah Fansuri tidak hanya berkaitan dengan sejarah sastra Melayu, tetapi juga bersinggungan dengan sufisme, sejarah politik Aceh, teori sosial, kebudayaan, serta perkembangan pemikiran Nusantara.

Melalui kolaborasi Magister Sastra UGM dan Pemerintah Kota Subulussalam, pembahasan tersebut diharapkan dapat membuka ruang kajian dan kegiatan kebudayaan yang lebih luas mengenai Hamzah Fansuri, sekaligus mempertemukan penelitian akademik dengan upaya mengenalkan kembali warisan intelektual dan sastra Melayu kepada masyarakat.

Penulis: Khotibul Umam

1234…30

Rilis Berita

  • Dari Mengenal hingga Mencoba, Intip Keseruan Benkyoukai Yukata Bahasa dan Kebudayaan Jepang UGM
  • Indonesia Menjadi Tuan Rumah The 23rd Congress of the Indo-Pacific Prehistory Association pada November 2026
  • Mahasiswa Prodi Bahasa dan Kebudayaan Korea Raih Juara 2 dalam 2025 Yeungnam University KF Global e-School Korean Video Contest
  • Pertemuan PROPLI Bahas Penguatan Kelembagaan dan Sinkronisasi Kurikulum Pascasarjana Linguistik
  • FIB UGM Gelar Agenda Monitoring Mahasiswa Pertukaran di Nglanggeran, Perkuat Akademis dan Pengenalan Budaya

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju