• About UGM
  • Academic Portal
  • IT Center
  • Library
  • Research
  • Webmail
  • Informasi Publik
  • Indonesia
    • English
Universitas Gadjah Mada Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
  • Beranda
  • Profil
    • Sejarah
    • Visi & Misi
    • Struktur Organisasi
    • Manajemen
    • Tenaga Kependidikan
    • Tenaga Pendidik
  • Akademik
    • Kalender Akademik
    • Program Sarjana
      • Antropologi Budaya
      • Arkeologi
      • Sejarah
      • Pariwisata
      • Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Sastra Inggris
      • Sastra Arab
      • Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa
      • Bahasa dan Sastra Prancis
    • Program Master/S2
      • Magister Antropologi
      • Magister Arkeologi
      • Magister Sejarah
      • Magister Sastra
      • Magister Linguistik
      • Magister Pengkajian Amerika
      • Magister Kajian Budaya Timur Tengah
    • Program Doktor/S3
      • Antropologi
      • Ilmu-ilmu Humaniora
      • Pengkajian Amerika
    • Beasiswa
    • Layanan Mahasiswa
  • KPPM
    • Info Penelitian
    • Skema Penelitian FIB UGM Tahun 2026
    • Pengabdian Masyarakat
    • Kerjasama Luar Negeri
    • Kerjasama Dalam Negeri
  • Organisasi Mahasiswa
    • Lembaga Eksekutif Mahasiswa
    • Badan Semi Otonom
      • KAPALASASTRA
      • Persekutuan Mahasiswa Kristen
      • LINCAK
      • Saskine
      • Keluarga Mahasiswa Katolik
      • Dian Budaya
      • Sastra Kanuragan (Sasgan)
      • Keluarga Muslim Ilmu Budaya (KMIB)
      • BSO RAMPOE UGM
      • Bejo Mulyo
    • Himpunan Mahasiswa Program Studi (HMPS)
      • Badan Keluarga Mahasiswa Sejarah
      • Himpunan Mahasiswa Arkeologi
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Korea
      • Himpunan Mahasiswa Pariwisata
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Kebudayaan Jepang
      • Himpunan Mahasiswa Bahasa dan Sastra Prancis
      • Ikatan Mahasiswa Sastra Arab
      • Ikatan Mahasiswa Jurusan Sastra Inggris
      • Keluarga Mahasiswa Antropologi Budaya
      • Keluarga Mahasiswa Bahasa dan Sastra Indonesia
      • Keluarga Mahasiswa Sastra Nusantara
  • Pendaftaran
  • Beranda
  • Rilis Berita
  • (Page 7)
Arsip:

Rilis Berita

Bahasa Arab Buka Peluang Karier di Bidang Penyelenggaraan Haji dan Umrah

Rilis Berita Kamis, 24 September 2026

YOGYAKARTA – Potensi pasar haji dan umrah di Indonesia yang terus meningkat setiap tahun membuka peluang karier bagi mahasiswa Sastra Arab, khususnya melalui penguasaan bahasa Arab yang dipadukan dengan kompetensi profesional. Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam perkuliahan Kewirausahaan dan Pengembangan Diri yang diikuti mahasiswa Program Studi Sastra Arab Universitas Gadjah Mada pada 21 September 2026. Mengangkat tema “Pengelolaan Haji dan Umrah”, perkuliahan tersebut menghadirkan Kuwat Prasetya, S.S., Founder Biro Haji dan Umrah Nur Ramadhan, sebagai pemateri.

Pembelajaran diawali dengan pembahasan mengenai strategisnya kemampuan bahasa Arab dalam dunia kerja. Kuwat menjelaskan bahwa lulusan Sastra Arab tidak hanya memiliki peluang karier di bidang pendidikan dan diplomasi, tetapi juga dalam penyelenggaraan haji dan umrah serta layanan Saudi handling. Pemahaman mengenai sistem penyelenggaraan haji dan umrah menjadi bekal penting bagi mereka yang ingin berkarier di bidang tersebut.  Kuwat menjelaskan bahwa terdapat tiga jenis penyelenggaraan haji, yaitu haji reguler, haji khusus, dan haji mujamalah, yang memiliki mekanisme, biaya, dan ketentuan keberangkatan berbeda. Sementara itu, penyelenggaraan umrah terdiri atas layanan reguler dan plus. Selanjutnya, pemahaman terhadap ketentuan visa menjadi hal krusial  yang harus diketahui bagi tenaga profesional yang bekerja di bidang perjalanan dan layanan haji dan umrah. Kuwat menjelaskan bahwa visa Arab Saudi memiliki jenis dan fungsi yang berbeda dengan visa haji dan umrah, visa yang berlaku pada musim haji tidak serta-merta dapat digunakan untuk melaksanakan ibadah haji.

Kemudian Kuwat turut memaparkan sejumlah alternatif karier di bidang tersebut, mulai dari hotel specialist, ticketing, visa umrah specialist, tour planner, handling specialist, marketing, customer service, finance, social media specialist, tour guide, mutawif, tour leader, hingga IT support. Menurutnya, setiap posisi membutuhkan kompetensi yang sesuai yang diperkuat melalui sertifikasi. 

“Bahasa Arab membuka pintu. Kompetensi membuat Anda diterima. Integritas membuat Anda dipercaya. Profesionalisme membuat Anda bertahan,” pungkasnya. Oleh karena itu, ia mendorong mahasiswa Sastra Arab untuk mulai menyusun strategi pengembangan karier dan mempersiapkan kompetensi yang relevan dengan bidang pekerjaan yang dituju. Hal tersebut perlu disertai integritas, tanggung jawab, kemampuan beradaptasi, dan profesionalisme dalam memberikan pelayanan kepada jamaah. Upaya tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya SDG 4 Quality Education dan SDG 8 Decent Work and Economic Growth.

Penulis : Hashifa Zara Ahfiyani

Semarak Undoukai 2026, Pererat Kebersamaan dan Sportivitas Mahasiswa BKJ UGM  

Rilis Berita Kamis, 24 September 2026

Undoukai 2026 hadir sebagai ajang kompetisi olahraga antarmahasiswa Program Studi Bahasa dan Kebudayaan Jepang Universitas Gadjah Mada. Mengusung semangat kebersamaan dan sportivitas, kegiatan ini akan mempertemukan perwakilan dari setiap angkatan dalam rangkaian perlombaan pada 5–6 September 2026.

Berbagai cabang olahraga dan permainan akan memeriahkan Undoukai 2026, mulai dari badminton, gobak sodor, Mobile Legends, hingga e-Football. Perlombaan akan diselenggarakan di beberapa lokasi di sekitar Yogyakarta dan lingkungan Fakultas Ilmu Budaya UGM.

Tidak sekadar menjadi ajang untuk menunjukkan kemampuan dan meraih kemenangan, Undoukai 2026 menjadi kesempatan bagi mahasiswa untuk mempererat kebersamaan, membangun semangat kompetitif yang sehat, serta menciptakan pengalaman berkesan bersama lintas angkatan.

Penulis: SAHLA NAURA NOOR SABRINA

Menelusuri Gagasan Hamzah Fansuri dalam Tradisi Sastra Melayu 

Rilis Berita Kamis, 24 September 2026

Nama Hamzah Fansuri tidak berhenti pada syair-syair yang diwariskan dalam tradisi sastra Melayu. Di balik karya seperti Syair Perahu dan Syair Ikan Tunggal, tersimpan perdebatan tentang manusia dan Tuhan, juga kekuasaan serta batas-batas kebudayaan yang masih menjadi bahan kajian hingga kini. Persoalan itu kembali dibuka dalam Seminar Nasional “Hamzah Fansuri dan Tradisi Kepenyairan Nusantara” yang digelar Magister Sastra Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama Pemerintah Kota Subulussalam di Auditorium FIB UGM, Rabu (16/9/2026). 

Seminar yang berlangsung pukul 12.00–17.00 WIB tersebut menghadirkan tiga akademisi sebagai pembicara, yakni Prof. Dr. Faruk, S.U., Prof. Dr. Aprinus Salam, M.Hum., dan Prof. Dr. Sangidu, M.Hum. Diskusi dipandu oleh Rini Febriani.

Kegiatan ini menjadi ruang akademik untuk membahas sosok Hamzah Fansuri, karya-karyanya, pemikiran sufistik, serta kaitannya dengan perkembangan sastra Melayu dan sejarah intelektual Nusantara. Kolaborasi tersebut juga menjadi bagian dari upaya memperkenalkan kembali Hamzah Fansuri sebagai tokoh penting yang memiliki keterkaitan erat dengan Kota Subulussalam.

Dalam sambutannya, Wali Kota Subulussalam menyampaikan bahwa Hamzah Fansuri merupakan salah satu kebanggaan masyarakat Subulussalam. Ia juga menyebut penghargaan yang pernah diberikan kepada Hamzah Fansuri serta pengakuan terhadap warisan intelektualnya.

Menurutnya, Hamzah Fansuri memiliki posisi penting dalam sejarah kebudayaan Nusantara. Karena itu, kerja sama antara Pemerintah Kota Subulussalam dan Magister Sastra UGM diharapkan dapat menjadi langkah awal untuk mengembangkan berbagai kegiatan kebudayaan, termasuk rencana penyelenggaraan Festival Hamzah Fansuri di Kota Subulussalam.

“Ini merupakan awal dari festival Hamzah Fansuri nanti di Kota Subulussalam,” ujar Wali Kota dalam sambutannya.

Sementara itu, Wakil Dekan FIB UGM dalam sambutan sekaligus pembukaan seminar menekankan pentingnya melihat bahasa dan sastra Melayu tidak hanya sebagai alat komunikasi, tetapi juga sebagai bagian dari kekayaan intelektual Nusantara.

Ia menyinggung posisi Hamzah Fansuri dalam perkembangan genre syair. Pemikiran Hamzah Fansuri, menurutnya, menunjukkan bahwa karya sastra dapat menjadi ruang untuk menyampaikan gagasan yang mendalam mengenai kehidupan manusia, ketuhanan, dan perjalanan manusia.

Salah satu karya yang menjadi perhatian adalah Syair Perahu, yang menggambarkan perjalanan manusia melalui metafora sebuah perahu. Sastra, menurutnya, tidak hanya menawarkan keindahan bahasa, tetapi juga kedalaman pemikiran dan refleksi terhadap berbagai persoalan kehidupan.

Dalam konteks kekinian, sastra juga dinilai dapat menjadi ruang untuk berhenti sejenak dan merefleksikan arah perjalanan masyarakat. Pertanyaan mengenai ke mana “perahu” Indonesia akan berlayar menjadi salah satu refleksi yang dapat dibaca dari karya sastra hari-hari ini.

Mengkaji Karya dan Pemikiran Sufistik Hamzah Fansuri

Pembicara pertama, Prof. Dr. Sangidu, menyampaikan materi berjudul “Karya-Karya Hamzah Fansuri dan Pemikiran Sufistiknya”. Ia membahas sejumlah karya Hamzah Fansuri dalam bentuk prosa maupun syair serta perkembangan pemikiran sufistik yang melatarinya.

Sangidu menjelaskan bahwa pemikiran Hamzah Fansuri dipengaruhi oleh tradisi Neo-Platonisme dan pemikiran Ibn Arabi. Hamzah Fansuri meninggalkan karya-karya dalam bahasa Melayu, termasuk sejumlah syair dan rubai. Empat rubai yang kemudian diberi syarah oleh Syamsuddin as-Samatrani adalah Subchānal-Lāh Terlalu Kāmil, Allah Maujud Terlalu Bāqī, Sidang Fakir Empunya Kata, dan Ikan Tunggal Bernama Fādhil.

Salah satu pembahasan utama adalah Syair Ikan, yang dikenal dengan dua penyebutan, yakni Syair Ikan Tongkol dan Syair Ikan Tunggal. Sangidu memilih istilah Ikan Tunggal dengan merujuk pada pembacaan Doorenbos karena melihat keterkaitan syair tersebut dengan konsep wahdatul wujud.

Dalam pembacaan tersebut, ikan menjadi simbol manusia atau sālik, sedangkan laut menjadi simbol Tuhan. Hubungan antara ikan dan laut menggambarkan hubungan manusia dengan Tuhan dalam gagasan wahdatul wujud. Manusia diibaratkan sebagai ombak yang berasal dari air dan pada akhirnya kembali kepada air sebagai sumbernya. Dengan demikian, ombak dan air merupakan satu kesatuan.

Sangidu juga menjelaskan konsep tajalli dan Nur Muhammad dalam pemikiran tersebut. Alam semesta dipahami sebagai manifestasi dari Dzat dan wujud Tuhan, sedangkan manusia sebagai mikrokosmos menjalani perjalanan spiritual untuk mencapai pengenalan dan kedekatan dengan Tuhan. Proses tersebut berkaitan dengan fanā’ fil-Lāh, tarkud-dunyā, serta pencapaian ma’rifatullah.

Pembahasan berlanjut pada Sidang Fakir Empunya Kata. Dalam karya tersebut, pengenalan terhadap diri menjadi bagian penting dalam perjalanan mengenal Tuhan. Sangidu menguraikan bahwa pengalaman spiritual dalam karya Hamzah Fansuri menempatkan hati sebagai bagian penting dalam proses mengenali Tuhan. Penyucian hati dan pengamalan ilmu hakikat menjadi bagian dari perjalanan tersebut.

Sangidu juga menempatkan pemikiran Hamzah Fansuri dalam konteks sejarah Aceh dengan menyebut Syamsuddin as-Samatrani, Nuruddin ar-Raniri, Sultan Iskandar Muda, dan Sultan Iskandar Tsani. Perbedaan pemikiran mengenai sufisme kemudian berkaitan dengan perubahan situasi politik dan kekuasaan di Aceh.

Sufisme, Marxisme, dan Persoalan Manusia

Pembicara kedua, Prof. Dr. Aprinus Salam, mengangkat tema “Masalah Indonesia, Sufisme Martabat Tujuh, dan (Pos-)Marxisme”.

Aprinus mengawali pembahasannya dengan persoalan mengenai kecenderungan memaklumi kesalahan dan kejahatan sebagai sesuatu yang “manusiawi”. Ungkapan seperti “namanya juga manusia” atau “itu sesuatu yang manusiawi”, menurutnya, dapat menjadi persoalan ketika digunakan untuk membenarkan atau memaklumi tindakan yang merugikan.

Ia kemudian mengaitkan persoalan tersebut dengan sejarah kolonialisme, modernisasi, kapitalisme, dan perkembangan teori sosial di Indonesia. Sejak abad ke-17, kolonialisme turut membentuk struktur kelas dan status sosial dalam rangka mengatur masyarakat Nusantara. Memasuki awal abad ke-20, teori sosial, termasuk Marxisme, mulai dikenal dan digunakan dalam membaca persoalan sosial, ekonomi, dan politik Indonesia.

Menurut Aprinus, proses sekularisasi dan modernisasi turut membuat sufisme berada dalam posisi yang lebih terbatas sebagai perspektif keilmuan. Sementara itu, Marxisme pernah menjadi sesuatu yang menggelisahkan kekuasaan dan dilarang pada masa Orde Baru karena dianggap memiliki kemungkinan radikalisasi perlawanan terhadap kekuasaan. Setelah 1998, kapitalisme dan modernisme tetap berkembang, sementara Marxisme mengalami transformasi menuju posmarxisme.

Pada titik tersebut, Aprinus melihat kemungkinan pertemuan antara posmarxisme dan sufisme. Posmarxisme memberi perhatian pada kemunculan subjek-subjek radikal, sedangkan dalam pemikiran Martabat Tujuh terdapat gagasan tentang insan kamil. Keduanya, dalam kerangka yang berbeda, dapat dibaca melalui persoalan pembebasan manusia dari berbagai keterikatan ideologis, politik, ekonomi, maupun sosial.

Aprinus juga menghubungkan pembahasan tersebut dengan posisi sastra sufistik dalam sejarah sastra Indonesia. Menurutnya, sastra sufi tetap berjalan dan berkembang, meskipun tidak selalu memperoleh posisi yang kuat dalam pembicaraan sastra Indonesia. Sejumlah karya pada masa Balai Pustaka telah memperlihatkan dimensi tasawuf, sementara pada periode setelah kemerdekaan, terutama ketika kontrol kekuasaan semakin kuat pada 1970-an, sufisme menjadi salah satu ruang yang digunakan sastra untuk mempertahankan ekspresi tertentu.

Dalam perkembangannya, sejumlah penyair seperti Abdul Hadi, Sutardji Calzoum Bachri, Zawawi Imron, dan Cak Nun disebut memiliki kecenderungan sufistik dalam karya-karyanya. Aprinus melihat pembacaan terhadap sastra sufistik sebagai bagian dari upaya memahami kembali hubungan antara sastra, manusia, dan kehidupan sosial.

Pembahasan kemudian diperluas melalui gagasan tentang manusia yang terkoneksi dengan alam dan lingkungan. Aprinus menyebut adanya kemungkinan melihat masyarakat tradisional Indonesia yang menempatkan manusia sebagai bagian yang terhubung dengan tumbuhan, hewan, dan benda-benda sebagai suatu bentuk “poshumanisme Nusantara”.

Hamzah Fansuri dan Sultan Iskandar Muda

Pembicara ketiga, Prof. Dr. Faruk, menyampaikan materi berjudul “Hamzah Fansuri dan Sultan Iskandar Muda: Sebuah Homologi”.

Faruk mengawali pembahasannya dengan pertanyaan mengenai perbedaan perlakuan terhadap karya-karya Hamzah Fansuri pada masa Sultan Iskandar Muda dan masa sesudahnya. Dalam materi tersebut, ia membandingkan situasi politik pada masa Sultan Iskandar Muda dengan masa Sultan Iskandar Tsani.

Masa pemerintahan Sultan Iskandar Muda dipaparkan sebagai periode kejayaan Aceh dengan orientasi yang kuat pada perdagangan dunia dan ekspansi politik. Sementara itu, pada masa Sultan Iskandar Tsani, perhatian kekuasaan lebih banyak berhadapan dengan persoalan internal dan perebutan kekuasaan.

Dari perbandingan tersebut, Faruk melihat adanya homologi antara orientasi Sultan Iskandar Muda dan kecenderungan pemikiran Hamzah Fansuri. Iskandar Muda memiliki orientasi untuk melampaui batas-batas lokal melalui perdagangan dan ekspansi politik, sedangkan pemikiran sufistik Hamzah Fansuri juga bergerak melampaui sekat geografis dan kultural.

Menurut Faruk, pemikiran sufistik Hamzah Fansuri membawa kehidupan manusia ke dalam dimensi yang lebih universal. Sufisme, dalam pembacaan tersebut, memiliki kecenderungan crossing the border, yakni melampaui batas-batas yang memisahkan manusia berdasarkan wilayah maupun kebudayaan. Karena itu, pemikiran Hamzah Fansuri dapat ditempatkan dalam kaitannya dengan kosmopolitanisme dan keterbukaan terhadap keberagaman.

Faruk juga menyoroti hubungan antara gagasan sufistik Hamzah Fansuri dan bentuk syair yang digunakannya. Menurutnya, keluasan pemikiran sufistik terkadang membuat bentuk syair seolah tidak sepenuhnya mampu menampung gagasan yang hendak disampaikan. Hubungan antara bentuk sastra dan keluasan gagasan tersebut menjadi salah satu persoalan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut.

Seminar nasional ini memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai Hamzah Fansuri tidak hanya berkaitan dengan sejarah sastra Melayu, tetapi juga bersinggungan dengan sufisme, sejarah politik Aceh, teori sosial, kebudayaan, serta perkembangan pemikiran Nusantara.

Melalui kolaborasi Magister Sastra UGM dan Pemerintah Kota Subulussalam, pembahasan tersebut diharapkan dapat membuka ruang kajian dan kegiatan kebudayaan yang lebih luas mengenai Hamzah Fansuri, sekaligus mempertemukan penelitian akademik dengan upaya mengenalkan kembali warisan intelektual dan sastra Melayu kepada masyarakat.

Penulis: Khotibul Umam

Program Reguler Semester Gasal 2027: Halo Jogja!

Rilis Berita Rabu, 23 September 2026

Yogyakarta, 20 Agustus 2026 – Empat hari sebelum program reguler INCULS semester gasal tahun ajaran 26/27 memulai pembelajaran efektif, mahasiswa BIPA dari 12 negara berkumpul di ruangan S.709 mengikuti upacara pembukaan program INCULS yang diselenggarakan di Gedung Soegondo, Fakultas Ilmu Budaya (FIB), Universitas Gadjah Mada (UGM).

Upacara pembukaan sekaligus International Student Orientation (ISO) merupakan marka awal dari eksplorasi teman-teman pelajar Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing (BIPA) dalam mempelajari Bahasa dan Kebudayaan Indonesia. Untuk sekitar lima bulan kedepan, Yogyakarta akan menjadi rumah mereka, dan INCULS sebagai teman mereka selama di sini. Di INCULS, mereka tidak hanya belajar Bahasa Indonesia, tapi juga belajar mengenai budaya yang ada di Indonesia. Dengan berbagai kesempatan menarik seperti berinteraksi dengan masyarakat Jogja, kegiatan study tour, dan berbagai kegiatan pembelajaran luar kelas lainnya.

Pada kegiatan seremonial ini, informasi penting mengenai pembelajaran dan pengenalan budaya di Jogja dipaparkan kepada mahasiswa BIPA baru INCULS. Hal-hal kecil seperti bagaimana makanan-minuman di Jogja; keseharian orang Jogja; norma-norma di Indonesia; dan sebagainya. Jadi para mahasiswa langsung dibekali informasi penting yang akan membantu mereka selama mereka di Indonesia juga memberi wawasan budaya yang baru bagi mereka.

INCULS berharap Program Reguler ini dapat menjadi tempat teman-teman BIPA untuk terus berkembang dan menjadi jembatan antara Indonesia dengan negara-negara di dunia. Melalui program ini, tidak hanya bahasa, namun juga budaya yang akan menjadi modal mereka di kemudian hari. Semangat belajar teman-teman semua.

Penulis: Dydo Athaya Rafif (INCULS) 

Awali Program Pengabdian Masyarakat, Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa UGM Gelar Pertemuan Perdana di SMA Negeri 1 Depok

Rilis Berita Rabu, 23 September 2026

Pada Kamis, 3 September 2026, Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Gadjah Mada (FIB UGM), melaksanakan kunjungan sekaligus pertemuan perdana dalam rangka program pengabdian kepada masyarakat di SMA Negeri 1 Depok, Sleman. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari kerja sama antara Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok melalui program Pendidikan Khas Kejogjaan (PKJ).

Program PKJ dirancang untuk memperkenalkan berbagai aspek bahasa dan budaya Jawa kepada siswa, khususnya aksara Jawa, unggah-ungguh dan budi pekerti Jawa, serta pengetahuan budaya Jawa yang dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi ruang pembelajaran yang mempertemukan pengetahuan akademik dengan pengalaman kebudayaan secara langsung.

Pertemuan perdana tersebut diawali dengan pembukaan oleh Ketua Program Studi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, Dr. Sulistyowati, S.S., M.Hum. Kegiatan kemudian dilanjutkan dengan perkenalan tim yang akan terlibat sebagai fasilitator selama pelaksanaan program. Tim fasilitator terdiri atas alumni dan mahasiswa Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa, yaitu:

  1. Faradilla Putri Margaretha
  2. Endar Sasmito Aji
  3. Fauzan Adi Fadlurahman
  4. Anggit Galuh Ajar Amanah
  5. Wening Hidayati
  6. Pesdhi Sekar Hayumay
  7. Maysa Putri Fatihah
  8. Muhamad Rafi Nur Fauzy
  9. Pingky Putri Khairani
  10. Meifira Arini Pitaloka
  11. Lakshita Pradnya Dayinta
  12. Dian Patmisari.

Selain memperkenalkan tim fasilitator, pertemuan pertama juga diisi dengan materi dari dua dosen Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa. Dr. Yosephin Apriastuti Rahayu, S.S., M.Hum., menyampaikan materi mengenai aksara Nusantara, termasuk aksara Jawa. Sementara itu, Dr. Bima Slamet Raharja, S.S., M.A., memberikan pemaparan mengenai penggunaan bahasa dan budaya Jawa dalam kehidupan sehari-hari. Penyampaian materi dikemas secara interaktif sehingga siswa dapat mengenal materi kebudayaan Jawa melalui pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman mereka.

Pertemuan pertama ini merupakan awal dari rangkaian tujuh pertemuan yang telah dijadwalkan. Setelah pertemuan perdana, kegiatan pada pertemuan kedua hingga ketujuh akan dilanjutkan oleh para fasilitator melalui pembelajaran dan kegiatan praktik bersama siswa kelas X SMA Negeri 1 Depok.

Pelaksanaan program ini menjadi bagian dari kontribusi Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs), khususnya pada poin 4 (Pendidikan Bermutu) melalui pembelajaran bahasa dan budaya Jawa di lingkungan sekolah, poin 10 (Berkurangnya Kesenjangan) melalui perluasan akses terhadap pengetahuan dan pembelajaran kebudayaan, serta poin 11 (Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan) melalui upaya pelestarian dan pewarisan budaya Jawa kepada generasi muda. Selain itu, kolaborasi antara Prodi Bahasa, Sastra, dan Budaya Jawa FIB UGM dan SMA Negeri 1 Depok juga mendukung poin 17 (Kemitraan untuk Mencapai Tujuan) melalui penguatan kerja sama antara perguruan tinggi dan satuan pendidikan.

Melalui rangkaian kegiatan tersebut, program pengabdian masyarakat ini tidak hanya menjadi bentuk penerapan pengetahuan akademik, tetapi juga menjadi ruang kolaborasi untuk memperkenalkan dan memperkuat pemahaman generasi muda terhadap bahasa dan budaya Jawa.

 

Penulis : Haryo Untoro

1…56789…335

Rilis Berita

  • Wujudkan Kantin Sehat dan Transparan, FIB UGM Gelar Workshop Gerakan Kantin Sehat
  • Alumni Linguistik UGM Sampaikan Aspirasi Penguatan Jejaring yang Lebih Aktif, Inklusif, dan Berdampak
  • KEMANT Gelar Antro Jalan-Jalan dan Pameran Etnofotografi
  • Social Entrepreneurship: Membangun Kemandirian melalui Kewirausahaan Sosial
  • Bersama Titik Renggani, Mahasiswa Diajak Memahami Geliat Sastra Jawa dalam Siaran Radio

Arsip Berita

Video UGM

[shtmlslider name='shslider_options']
Universitas Gadjah Mada

Fakultas Ilmu Budaya
Universitas Gadjah Mada
Jl. Nusantara 1, Bulaksumur Yogyakarta 55281, Indonesia
   fib@ugm.ac.id
   +62 (274) 513096
   +62 (274) 550451

Unit Kerja

  • Pusat Bahasa
  • INCULS
  • Unit Jaminan Mutu
  • Unit Penelitian & Publikasi
  • Unit Humas & Kerjasama
  • Unit Pengabdian kepada Masyarakat & Alumni
  • Biro Jurnal & Penerbitan
  • Teknologi Informasi dan Pangkalan Data
  • Pusaka Jawa

Fasilitas

  • Perpustakaan
  • Laboratorium Bahasa
  • Laboratorium Komputer
  • Laboratorium Fonetik
  • Student Internet Centre
  • Self Access Unit
  • Gamelan
  • Guest House

Informasi Publik

  • Daftar Informasi Publik
  • Prosedur Permohonan Informasi Publik
  • Daftar Informasi Tersedia Setiap Saat
  • Daftar Informasi Wajib Berkala

Kontak

  • Akademik
  • Dekanat
  • Humas
  • Jurusan / Program Studi

© 2024 Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada

KEBIJAKAN PRIVASI/PRIVACY POLICY

[EN] We use cookies to help our viewer get the best experience on our website. -- [ID] Kami menggunakan cookie untuk membantu pengunjung kami mendapatkan pengalaman terbaik di situs web kami.I Agree / Saya Setuju