Program Studi Sastra Jepang FIB UGM kembali membuktikan prestasinya. Kali ini salah satu mahasiswa Prodi Sastra Jepang, Akbar Rizqi Dhea Habibi, atau yang akrab disapa Rizqi berhasil mendapatkan posisi ke-2 pada lomba kaligrafi Jepang atau Shuuji Contest yang diadakan oleh Universitas Pendidikan Indonesia (UPI) Bandung pada 6 April 2019. Dirinya juga telah beberapa kali mendapatkan prestasi di bidang ini pada kompetisi-kompetisi lain sebelumnya. Akan tetapi, kompetisi kali ini menurutnya lebih menantang.
“Shuji contest yang saya ikuti kali ini pesertanya lebih beragam dari beberapa universtas di Pulau Jawa, dan peserta lainnya pun saya rasa tulisannya bagus-bagus semua, sempat membuat tangan saya gemetaran saat menulis,” ujar Rizqi.
Meskipun hanya mendapat peringkat ke-2, namun Rizqi berhasil mengalahkan kontingen lain dari beberapa universitas di Jawa Timur dampai Jawa Barat. Posisi pertama berhasil diraih oleh kontigen dari STBA Yapari ABA Bandung dan posisi ketiga oleh kontingen dari UPI.
Lomba ini merupakan salah satu rangkaian acara tahunan Japanzuki Show, yakni event tahunan yang diselenggarakan oleh Himpunan Mahasiswa Bahasa Jepang (Himabaja) UPI, dibawah supervisi dari Departemen Pendidikan Bahasa Jepang (DPBJ) UPI. Event ini diselenggarakan sebagai ajang bagi para pembelajar bahasa Jepang dan pecinta ke-Jepangan unjuk berkreativitas dan saling bertukar ilmu mengenai budaya maupun bahasa Jepang.
Rizqi Berharap agar adik-adiknya juga mau menekuni bidang ini, “saya harap adik-adik saya di prodi Sastra Jepang UGM juga mau lebih serius belajar dan menekuni shuuji,” tambahnya.
HEADLINE
Empowering Arts & Cultural Organization
Yogyakarta, Marc 8, 2019
709 Room 7rd floor, Soegondo Building FIB UGM
08.00 a.m – 04.00 p.m
Modern day city is witnessing an urban transformation of an entirely novel scale and speed in many different areas spanning from social dimension to environmental issues. Modern cities are places of residence, manufacture, employment, trade, education, innovation and creativity, and political and social action. At the same time, they are also places where poverty, wealth, deprivation, gender inequality, and social exclusion. In many developing countries, these cities’ challenges have been exacerbated by the rapidly increased of population number. UN forecasts show that in 2050, 66 percent of the world’s population is projected to be urban dwellers. It will absolutely create further challenges concerning access to resources such as clean water and electricity, as well as housing, social infrastructure, and sanitation, reducing the liveability of a city. Consequently it comes as no surprise that a search for city’s problems solution has put pressure on citi¬zens, politicians, and bureaucrats as well as businesses and intelletuals.
While the discussion of city sustainability has been centred on economic and social factors, there is increasing evidence that arts and culture make a positive contribution to the liveability of a city. Cultural institutions attract tourists, provide thousands of jobs, and contribute to resident well-being and quality of life. Arts and culture have also played a pivotal role in reshaping the identity of a city which deals more on the quality and diversity of its cultural activities and services than with its economic or commercial functions. Although it may have less economic contribution, in longer term, a vibrant cultural sector and a good place for residents to ‘work, live and play is critical to ensuring the well-being of residents, improving social connections, lowering stress, improving school effectiveness, raising community awareness, and enhancing civic engagement. Thus in the face of an increasingly globalised multidimensional challenge, aside from conventional improvements to the ‘hard’ infrastructure of cities and regional areas, attention must be paid to the cultural infrastructure, providing services and activities that encourage expressions of cultural diversity and encourage networking and creativity.
Against this background, the 17th URP Forum will address several issues concerning the role of arts and culture in city development. The cultural distinctiveness of city, the arts and a vibrant creative economy are seen as resources and assets in this process. All this means that the seminar will address a very broad theme encompassing the dynamic history of city, public arts and urban design, city’s heritage conservation, urban cultural and environmental issues, and creative city.
Speakers:
1. Assoc. Prof. Dr. Takako Iwasawa. (Hokaido University of Education)
2. Ms. Aiko Kurahara. (Higashiyama Artists Placement Service)
3. Dwi Pradnyawan, M.A. (Archeology Dept., UGM)
4. Wildan Sena Utama, M.A. (History Dept., UGM)
5. Anon Suneko, M.Sn. (Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta)
6. Warsono, M.A. (Indonesia Institute of the Arts Yogyakarta)
Pendaftaran dibuka mulai tanggal 21 Januari 2019 hingga 31 Januari 2019 selama jam kerja kantor (09.30~16.00). Tempat pendaftaran di PRODI Bahasa dan Kebudayaan Korea FIB UGM lt.6 Gedung Soegondo R. S626.
Info pendaftaranMuhammad Iman Rafif (Sastra Inggris 2016) dan Nur Fahmia (Sastra Indonesia 2015) mewakili FIB UGM untuk mengikuti L’Arts ASEAN Seeds Camp Program V. Acara ini diadakan oleh Thammasat University, Thailand, pada tanggal 18–23 Desember 2018. Peserta terdiri atas 48 mahasiswa dari negara Thailand, Indonesia, Kamboja, Malaysia, Korea Selatan, Jepang, Taiwan, Sri Lanka, dan Inggris. Tema acara ini yaitu “Digital Natives and the New Empowerment”.
Iman dan Mia
Kegiatan ASEAN Seeds Camp Program V dilaksanakan di Kota Ratchaburi dan Parachuap Piri Khan. Kegiatan di Ratchaburi meliputi pelatihan materi mengenai film pendek, penulisan naskah, pelatihan gerak badan, dan hukum hak cipta. Adapun tambahan pelatihan memasak makanan pembuka, makanan pembuka, dan merangkai daun pandan menjadi bunga mawar. Kemudian, di Prachuap Piri Khan terdapat kegiatan mengunjungi hutan mangrove dan UKM tenun.
Kegiatan akhir dari pelatihan ini yaitu peserta bekerja kelompok untuk mengeksekusi VLOG pendek yang akan meningkatkan kesadaran yang signifikan tentang Thailand sebagai tempat pembuangan baru bagi limbah dunia. Kelompok Muhammad Iman Rafif menyabet juara first runner-up dengan menyajikan video berupa ad-campaign Thailand berjudul “The Land-feel of Thailand” yang menampilkan berbagai keindahan Thailand dengan fakta yang mencengangkan. Muhammad Iman Rafif berhasil mendapat gelar best director dalam menyutradari film pendek tersebut dengan bantuan dari tim-nya, Smart Mob, dan gelar best music untuk Chanyoung Bae, mahasiswa Korea Selatan yang menjadi produser musik pada film itu. Lalu, kelompok Nur Fahmia menyandang best original script dengan video bertema science fiction. Film ini menampilkan tokoh manusia di masa depan yang mengunjungi Thailand pada masa kini yang penuh sampah. Kemudian, manusia masa depan tersebut berniat untuk membantu manusia kini agar dapat menyebarkan kesadaran tentang pentingnya menjaga kebersihan Thailand.
Prodi Sastra Inggris FIB UGM telah selesai menyelenggarakan sebuah konferensi mahasiswa S1 yang dinamai Student Conference on English Literature and Linguistics (StuCELL) pada tanggal 21 November 2018. Konferensi ini merupakan debut Prodi Sastra Inggris dalam penyelenggaraan forum seminar untuk mahasiswa S1 pada lingkup nasional. Tema besar yang diusung oleh StuCELL tahun ini adalah “Bahasa, Keberagaman, dan Identitas” (Language, Diversity, and Identity). Tema ini dirasa mewakili dinamika sosial dewasa ini dimana keragaman budaya dan masalah identitas terkait agama, ras, etnik, dan gender, masih menjadi polemik yang sensitif di masyarakat. Konferensi ini mengundang seluruh mahasiswa Prodi Inggris di Indonesia untuk menilik problema tersebut dalam karya sastra Inggris atau teks non-fiksi berbahasa Inggris. Tema ini diharapkan mampu mengasah kepekaan mahasiswa terhadap masalah keragaman dan identitas serta menumbuhkan jiwa akademisi yang toleran dan menghargai keberagaman.
Sambutan publik atas konferensi ini amatlah baik. Hal ini terbukti dari cukup banyaknya artikel yang masuk dari mahasiswa-mahasiswa berbagai universitas di Indonesia. Sebanyak 58 mahasiswa dari berbagai universitas di Indonesia terdaftar sebagai presenter dalam forum StuCELL 2018.
Kegiatan konferensi berjalan dengan lancar. Acara dimulai pukul 08.00 WIB dengan sambutan singkat ketua panitia StuCELL 2018 Mala Hernawati, M.A., dilanjutkan dengan sambutan dan pembukaan konferensi secara resmi oleh Ibu Dr. Nur Saktiningrum, Wakil Dekan Bidang Akademik dan Kemahasiswaan FIB UGM. Acara dilanjutkan dengan pertunjukkan tari tradisional Gambyong Pareanom oleh dua mahasiswi Prodi Sastra Inggris. Acara kemudian dilanjutkan dengan plenary session yang diisi oleh dua keynote speakers, Dr. Adi Sutrisno (Universitas Gadjah Mada) dan Dr. Widyastuti Purbani (Universitas Negeri Yogyakarta) dan dimoderatori oleh Elisabeth Oseanita Pukan, M.A. (Universitas Sanata Dharma). Dalam sesi ini, Dr. Adi Sutrisno menyampaikan materi yang berjudul Problems of Speech Perception Experienced by the EFL Learners dan Dr. Widyastuti Purbani menyampaikan materi yang berjudul Identity and Children Literature.
Untuk meningkatkan motivasi para presenter dalam melakukan penulisan karya ilmiahnya, StuCELL 2018 memberikan penghargaan Best Paper Award untuk karya ilmiah terbaik. Tahun ini, StuCELL menganugerahkan penghargaan Best Paper Award untuk dua tulisan ilmiah terbaik (satu dari bidang linguistik dan satu dari bidang sastra). Karya terbaik linguistik berjudul Turn-Taking Strategies Used by Male and Female Presenters in Talk Shows “Jimmy Kimmel Live!” and “Ellen De Generes Show” yang ditulis oleh Nur Trihandayani Rivai dari Universitas Negeri Malang. Karya terbaik Sastra berjudul Catholic Church’s Symbols in Dan Brown’s Origin Book yang ditulis oleh Medina Muncar Irmaranti, Devina Eka Putri, dan Maria Godeliva D.K. dari Unika Soegijapranta, Semarang. Penghargaan Best Paper Award diberikan oleh Dr. Tofan Dwi Hardjanto, M.A., yang berperan sebagai ketua tim blind review abstrak dan artikel StuCELL 2018.
Sesi parallel StuCELL 2018 terbagi dalam empat ruang dan tiga sesi waktu. Di dalam sesi parallel tersebut, para presenter mempresentasikan karya ilmiahnya di bidang sastra dan bahasa Inggris. Topik-topik presentasi yang beragam dan menarik membuat sesi diskusi menjadi hidup dan seru. Hal ini terlihat dari umpan balik peserta yang merasa masih ingin mendapatkan waktu tambahan untuk diskusi. Rangkaian acara StuCELL 2018 berakhir pukul 17.00 WIB dengan pembagian sertifikat kepada seluruh peserta. (kontributor: Maher)
