On 11 March 2020, the World Health Organization (WHO) declared a global pandemic: COVID-19. One of the main emergency measures taken by local Asian governments was the temporary suspension of all educational institutions, public services, and social, cultural, leisure-recreational activities, followed by the closing of non-essential businesses, including cultural institutions and industries. In contrast to this situation, the demand for cultural and creative content has gradually increased throughout the lockdown period, with digital access including the use of social media having become more critical than ever before. Ironically, despite the crucial role played by culture in times of isolation and resiliency, economic indicators predict that the cultural sector will be one of the most affected by, and probably one of the latest to recover from the pandemic and its consequences (UNESCO 2020).
The systemic uncertainty created by the crisis has indeed generated serious problem for the very human need to connect with arts and culture. It prevents us from visiting museum and heritage places to attending theatre performances and community cultural practices. UNESCO records that more than 95% were closed in May 2020, and 13% of them may not be reopen (UNESCO, 2020). The past few months has been witnessed that more than 75 million jobs in the travel and tourism sector are under threat. Cultural tourism makes up nearly 40% of world tourism revenue (UN NEWS). It is important to note that the cultural and cultural industries contribute to US $2,250 BN to the global economy and account for 29,5 million jobs worldwide. To overcome the crisis, some Asian countries have taken policies such as in China where the government funded
US $ 56 million for cultural and tourism business, and in Indonesia, the Directorate-General for Culture’s has launched a YouTube channel “BudayaSaya” to share artistic performances and artisans’ masterclasses on dancing, painting, music, storytelling, and producing films.
While the arts and cultural sectors are among the hardest hit by the global pandemic, it is believed that arts and culture play a pivotal position to controland minimize the impact of the pandemic. Karavaïeff (2020) reports how arts and culture might help people during the lockdown and confinement. Social distancing and isolation have created an ether of personal spaces, but it is in these spaces that we listen to that great music, watch movies, cultural performances, and obtain joy from the artworks that we see with our devices.
Museums have also gone through a process of digitalization of their collection and presented online to reach wider global audience during the pandemic. Against this background, the two day seminar addresses several issues on exchanging information, ideas, and methodology in the sector of arts and culture to overcome the current COVID-19 pandemic.
HEADLINE
Master Research Scholarship Call for Applications:
Palm Oil and Tensions between Global and Local Food Security A joint-programme, the Department of Anthropology, UGM and the Department of Ethnology, University of Kohln
INCULS UGM kembali membuka pendaftaran kelas daring untuk semester depan. Masih dalam situasi pandemi Covid-19, Lembaga BIPA dari UGM ini membuka pintu bagi para penutur asing yang ingin belajar bahasa Indonesia (BIPA) secara daring. Pada semester II 2020/2021 pendaftaran kelas daring dibuka untuk program regular, intensif, dan privat.
Pendaftaran online program reguler bisa diakses melalui https://admission.ugm.ac.id/registration/ mulai tanggal 1 Desember 2020 – 3 Januari 2021. Seleksi administrasi akan dilaksanakan pada tanggal 8 Januari 2021. Seleksi akademik dan LO (Latter of Offer) diberikan pada tanggal 13 Januari 2021. Pembayaran akan dilakukan oleh mahasiswa pada tanggal 20 Januari 2021.
Setelah mahasiswa diterima oleh Universitas Gadjah Mada, mereka akan menerima LoA (Latter of Acceptance) pada tanggal 22 Januari 2021. Sebelum memulai program, mahasiswa akan melaksanakan tes penempatan (Placement Test) pada tanggal 26 Januari 2021 dan menerima pengumuman tanggal 29 Januari 2021. Perkuliahan akan dimulai dari tanggal 8 Februari 2021 sampai 11 Juni 2021.
Di tengah situasi pandemi Covid-19, ketertarikan para penutur asing untuk belajar bahasa Indonesia (BIPA) tidak hilang. Terbukti dari masih adanya instansi dan mahasiswa yang bertanya mengenai kursus bahasa Indonesia di INCULS. Sehubungan dengan itu, pembelajaran daring ditawarkan INCULS untuk para penutur asing yang ingin belajar bahasa Indonesia untuk para penutur asing (BIPA).
INCULS pada semester I 2020/2021 membuka pendaftaran kelas daring untuk program regular, intensif, dan privat. Program kelas daring sudah diselenggarakan INCULS sejak awal masa pandemi pada Maret 2020. Sistem pembelajaran daring akan dilanjutkan untuk penyelenggaraan program reguler, intensif, dan privat semester 1 tahun ajaran 2020/2021. Program itu dilaksanakan secara daring mulai dari pendaftaran, pembelajaran, ujian, sampai pembagian sertifikat.
Pendaftaran kursus daring INCULS semester I 2020/2021 bisa diakses melalui link https://admission.ugm.ac.id/registration/. Untuk program reguler silakan dipilih menu ‘INCULS Online Regular Program Odd Semester 2020/2021 (1 Semester)’, sedangkan untuk program intensif atau privat dapat dipilih menu ‘INCULS Online Intensive Program Odd Semester 2020/2021’. Pendaftaran program reguler akan ditutup pada tanggal 4 September 2020. Perkuliahan akan dimulai pada 14 September 2020 sampai 18 Desember 2020.
Sudah 4 bulan masyarakat Indonesia hidup di bawah tekanan wabah virus corona dan banjir informasi mengenai wabah tersebut. Data statistik dunia dan Pemerintah Indonesia menunjukkan bagaimana serangan wabah hingga hari ini masih terus naik, belum ada tanda-tanda mereda kecuali di beberapa negeri yang masyarakat dan pemerintahnya sangat disiplin. Namun pada akhir Juni, sikap waspada masyarakat terhadap wabah menjadi sangat kendor. Konsep “new normal” yang digulirkan Pemerintah di berbagai negeri ditanggapi sebagai “back to normal”, kembali aman seperti sedia kala. Keadaan ini sungguh bertolak belakang dengan dua bulan pertama masa wabah, dimana banyak masyarakat mengambil tindakan ekstra ketat untuk membendung wabah, sekarang masyarakat bersikap seolah-olah sudah tidak ada masalah. Bagaimana kita bisa memahami semua ini?
Webinar FIB kali ini akan mengeksplorasi keragaman pengalaman “new normal” yang sepertinya terlalu dini ini secara komparatif antar wilayah melalui perspektif arkeologis, historis, linguistik, sastra dan etnografis.
Jadwal:
10 Agustus 2020 13.00 – 15.00 WIB
