Universitas Gadjah Mada (UGM) bersama CHSS (Cultivating the Humanities and Social Sciences and Supporting Under-Represented Scholars of Asia Project) menyelenggarakan UGM–CHSS Writing and Academic Capacity Building Workshop: Inclusivity for Post-Conflict Issues & Areas pada 19–23 Oktober 2026. Workshop penulisan ilmiah ini merupakan bagian dari inisiatif AAS (Association for Asian Studies) yang didanai oleh SIDA (Swedish International Development Cooperation Agency). Kegiatan ini mencerminkan komitmen bersama terhadap kesetaraan (equality) dalam pendidikan (education) serta prinsip akses yang setara (equal access) terhadap peluang akademik bagi para sarjana dari wilayah pascakonflik.
UGM mendapatkan grant dari AAS-SIDA selama 3 tahun (2026–2028) untuk kegiatan workshop ini sekaligus menjadi HUB yang mewakili Indonesia dengan mitra Asian Research Institute Universitas Indonesia. HUB lain berasal dari beberapa perguruan tinggi di Asia Tenggara dan Asia Selatan, antara lain Chiang Mai University (Thailand), Lahore University of Management Sciences (LUMS) di Lahore, Pakistan, Savitribai Phule Pune University di India, dan Universidade Nacional Timor Lorosa’e dari Timor-Leste. Jaringan ini mewujudkan semangat kesempatan yang setara (equal opportunities), memastikan para akademisi dari berbagai latar belakang yang sering terpinggirkan dapat berpartisipasi dan memperoleh manfaat dari kolaborasi akademik internasional.
Selain itu, workshop ini juga didukung oleh SHAPE-SEA (Strengthening Human Rights and Peace Research and Education in ASEAN) yang juga merupakan grantee dari SIDA dalam kegiatan-kegiatan pembangunan perdamaian melalui travel grant dan riset. Kegiatan di Universitas Gadjah Mada ini bertujuan untuk memperkuat kapasitas akademik dan keterampilan penulisan ilmiah, khususnya dalam mengkaji isu-isu pascakonflik secara inklusif. Pendekatan inklusif ini penting untuk menjamin akses yang setara (equal access) terhadap produksi pengetahuan bagi komunitas dan peneliti yang secara historis terpinggirkan oleh konflik.
Workshop dibuka pada Senin (19/10) di Ruang S.709, Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM, oleh Wakil Dekan Bidang Penelitian dan Kerja Sama FIB UGM, Mimi Savitri, Ph.D. Kegiatan dilanjutkan dengan sambutan dari narasumber CHSS untuk UGM, Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., yang menyampaikan materi mengenai Theory of Change yang menjelaskan pentingnya kegiatan workshop ini agar dapat bermanfaat secara konkret bagi para peserta workshop. Ia menekankan bahwa Theory of Change ini menjadi penting mengingat diversitas peserta yang hadir dari berbagai negara dan wilayah pascakonflik—sebuah keragaman yang menegaskan pentingnya kesetaraan (equality) pada setiap tahap program.
Para peserta antara lain hadir dari Thailand, Filipina, Papua New Guinea, dan Myanmar. Sementara itu, para peserta yang datang dari Indonesia berasal dari Papua, Poso, Ambon, Sampit, Aceh dan berbagai wilayah lain. Kehadiran para akademisi dari wilayah-wilayah tersebut mencerminkan upaya nyata untuk mendorong kesempatan yang setara (equal opportunities) bagi para akademisi yang mengkaji perdamaian dan rekonsiliasi dalam konteks yang sering kurang terwakili dalam kajian internasional, sehingga memajukan pendidikan (education) yang benar-benar inklusif.
Pada sesi pleno pertama, pembicara adalah Dr.phil. Geger Riyanto. Dr. Geger Riyanto adalah ahli peacebuilding yang banyak menulis artikel-artikel ilmiah di berbagai jurnal internasional mengenai isu tersebut. Ia membahas isu peacebuilding dengan moderator Dr. Wulan Tri Astuti, S.S., M.A. Sesi ini menjadi ruang diskusi mengenai pendekatan dan perspektif dalam memahami proses pembangunan perdamaian, terutama dalam konteks masyarakat pascakonflik, yakni Ambon, Poso, Aceh dan Sampit pasca Reformasi Indonesia 1998. Dialog ini menyoroti bagaimana pemberdayaan (empowerment) suara-suara lokal menjadi inti dari perdamaian yang berkelanjutan.
Materi berikutnya disampaikan oleh Prof. Dr. Agus Suwignyo, M.A., yang mengulas penulisan artikel untuk jurnal bereputasi. Sesi ini memberikan wawasan mengenai pengembangan tulisan akademik agar memenuhi standar publikasi ilmiah, sekaligus menegaskan pentingnya pendidikan (education) dan pendampingan dalam membangun kepercayaan diri akademik para peneliti muda dari wilayah pascakonflik.
Pada sesi pleno ketiga, Theresia Dyah Wirastri, S.H., M.A., Ph.D., dan Dr. Mohamad Yusuf, M.A., membahas proses pengajuan artikel ilmiah dari perspektif editor internasional melalui topik Article Submission: International Editors’ Point of View. Sesi yang dimoderatori oleh Mubarika Dyah Fitri Nugraheni, S.Ant., M.A., ini membahas perspektif editorial dalam proses pengajuan artikel untuk publikasi internasional, membantu menciptakan kesempatan yang lebih merata dan memastikan akses yang setara (equal access) ke platform akademik global.
Rangkaian kegiatan hari pertama ditutup dengan sesi mentoring breakdown yang dipandu oleh Prof. Dr. Wening Udasmoro, S.S., M.Hum., DEA., serta pengisian survei awal (pre-workshop survey) oleh peserta sebagai bagian dari persiapan program pendampingan. Struktur pendampingan ini dirancang untuk memberikan pemberdayaan (empowerment) yang berkelanjutan, sehingga para peserta dapat mentransformasikan riset mereka menjadi publikasi yang mampu memengaruhi kebijakan dan praktik pembangunan perdamaian di daerah asal mereka.
Kegiatan workshop UGM ini juga akan dilanjutkan dengan program-program lain yang akan dilaksanakan pada tahun depan, antara lain grant bagi selected participants untuk hadir di konferensi Association for Asian Studies di Malaysia pada 1–3 Juli 2027. Inisiatif semacam ini menegaskan kembali komitmen terhadap kesetaraan (equality) dan kesempatan yang setara (equal opportunities) dalam pertukaran akademik global, memastikan para akademisi dari wilayah pascakonflik dapat berbagi pengetahuan di panggung internasional dan berkontribusi pada pemahaman perdamaian dan pembangunan yang lebih inklusif.
Kontributor: Nada & Jusma, 2026
