AAS merupakan organisasi akademik yang mendukung pengembangan kajian Asia dan mempertemukan akademisi, peneliti, serta pengajar dari berbagai disiplin ilmu. Kegiatan ini juga dihadiri oleh Presiden Association for Asian Studies, Elora Shehabuddin, serta para pemimpin AAS, antara lain Krisna Uk, Hilary Finchum-Sung, dan Brandon Johnson. Kehadiran mereka mencerminkan pentingnya forum ini sebagai platform untuk mendorong dialog lintas kawasan dan memperkuat fondasi pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability) di seluruh Asia.
Dalam forum tersebut, Prof. Wening Udasmoro berpartisipasi sebagai pembahas (discussant) dalam sesi peluncuran buku Archipelagic Cinemas: Screening Southeast Asian Modernity karya Dag S. Yngvesson, Assistant Professor di Faculty of Arts, University of Nottingham Malaysia. Yngvesson merupakan akademisi sekaligus pembuat film dengan fokus kajian pada sinema Asia Tenggara, media, serta persoalan sejarah dan representasi budaya. Karyanya menjadi contoh bagaimana penyelidikan ilmiah dapat menjadi sarana pemberdayaan (empowerment), memberikan komunitas alat untuk menarasikan sejarah dan identitas budaya mereka sendiri.
Sesi bertajuk “Archipelagic Cinemas: Screening Southeast Asian Modernity” diselenggarakan dalam format Roundtable & Book Launch pada pukul 15.00–16.30 di Auditorium A-13/MCB, dengan melibatkan Dr. Furrukh Khan dan Tajwar Awan dari Lahore University of Management Sciences (LUMS), serta seorang akademisi dari Kamboja. Keragaman peserta menunjukkan komitmen bersama terhadap kesetaraan (equality) dalam produksi pengetahuan, memastikan bahwa perspektif dari seluruh Asia Tenggara dan Asia Selatan terwakili dalam wacana akademik global.
Diskusi tersebut berfokus pada perkembangan sinema di Indonesia, Filipina, Thailand, dan Malaysia serta hubungannya dengan modernitas dan dinamika sosial-budaya Asia Tenggara. Percakapan ini menyoroti bagaimana film berfungsi sebagai medium penting untuk melestarikan dan mewariskan warisan budaya (cultural heritage), memungkinkan masyarakat mendokumentasikan sejarah, tradisi, dan identitas mereka yang terus berkembang melalui penceritaan visual.
Keterlibatan Prof. Wening Udasmoro dalam forum tersebut memperluas kontribusi akademisi UGM dalam dialog ilmiah lintas negara, khususnya pada pengembangan kajian humaniora dan ilmu sosial. Partisipasinya mencerminkan upaya yang lebih luas untuk mempromosikan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability) dengan mengintegrasikan perspektif budaya dan sejarah ke dalam kurikulum akademik dan agenda penelitian yang menjawab tantangan jangka panjang yang dihadapi kawasan.
Partisipasi ini sejalan dengan tujuan proyek CHSS 2026 untuk memperkuat jejaring akademik internasional dan memperluas keterlibatan sarjana Asia dalam pertukaran pengetahuan global. Dengan memfasilitasi kolaborasi semacam itu, proyek ini secara aktif mendorong pemberdayaan (empowerment) di kalangan sarjana yang kurang terwakili, memberikan mereka platform untuk berbagi penelitian dan berkontribusi pada debat internasional tentang budaya, media, dan masyarakat.
Melalui kolaborasi tersebut, UGM turut mendorong pertukaran perspektif mengenai sinema, sejarah, dan kebudayaan Asia Tenggara sekaligus memperkuat kontribusi akademisi Indonesia dalam percakapan ilmiah internasional. Hal ini mencerminkan dedikasi terhadap pelestarian warisan budaya (cultural heritage), karena eksplorasi sinematik dan akademik terhadap masa lalu kawasan membantu memastikan bahwa generasi mendatang dapat mengakses dan menghargai kekayaan tradisi Asia Tenggara.
Keterlibatan akademisi UGM dalam forum seperti AAS juga memperkuat pentingnya kesetaraan (equality) dalam representasi akademik, khususnya bagi sarjana dari kawasan yang kurang terwakili. Dengan menciptakan ruang di mana beragam suara dapat didengar, proyek CHSS 2026 dan kepemimpinan UGM berkontribusi pada lanskap akademik global yang lebih inklusif dan setara.
Ke depan, kepemimpinan UGM yang berkelanjutan dalam HUB CHSS Indonesia diharapkan dapat mendorong kolaborasi yang lebih mendalam di antara para sarjana di seluruh Asia, mempromosikan pendidikan untuk keberlanjutan (education for sustainability), pemberdayaan (empowerment), dan pelestarian warisan budaya (cultural heritage) melalui penelitian interdisipliner dan dialog internasional. Keberhasilan partisipasi dalam forum AAS 2026 ini menjadi bukti potensi transformatif pertukaran akademik dalam membangun komunitas global yang lebih terhubung dan sadar budaya.
Kontributor: Nada & Jusma, 2026
