YOGYAKARTA – Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada (FIB UGM) sukses menyelenggarakan seminar internasional bertajuk “Revisiting Cultural Diplomacy: The Politics of Cross-Cultural Dialogue in Postcolonial Societies” pada Selasa dan Rabu, 13–14 Oktober 2026. Forum akademik ini menjadi wadah strategis bagi para peneliti, mahasiswa, dan praktisi global untuk mengkaji ulang praktik diplomasi budaya, khususnya dari kacamata negara-negara pascakolonial.
Seminar ini turut menghadirkan Direktur Jenderal Diplomasi Budaya, Promosi, dan Kerja Sama, Kementerian Kebudayaan Republik Indonesia, Endah T.D. Retnoastuti, S.S., M.Phil., yang memberikan wawasan krusial sebagai pembicara kunci (keynote speaker). Ia membawakan materi bertajuk “Beyond Cultural Promotion: Indonesia’s Cultural Diplomacy through Dialogue, Agency, and Partnership”. Melalui pemaparannya, ia menekankan urgensi pergeseran paradigma diplomasi budaya Indonesia yang tidak seharusnya terpaku pada promosi semata, melainkan perlu diwujudkan secara nyata melalui dialog interaktif, keagenan aktif, serta kemitraan yang setara.
Tidak hanya didominasi oleh pemakalah dari Indonesia, forum ini juga diikuti oleh presenter mancanegara yang berasal dari berbagai negara, antara lain Taiwan, Myanmar, Turki, India, Australia, hingga Austria. Selama dua hari penyelenggaraan, para akademisi mempresentasikan rangkuman topik yang sangat beragam dan multidisipliner. Kajian mengenai gastrodiplomasi atau diplomasi kuliner menjadi salah satunya. Dalam panel ini, makanan dikaji secara mendalam sebagai alat diplomasi budaya dan negosiasi identitas, yang mencakup analisis kuliner lokal, resep berbasis tempe di media digital, hingga diskursus politik akar rumput melalui narasi martabak di platform TikTok.
Selain itu, pergeseran diplomasi ke ranah maya juga dibahas secara komprehensif melalui topik diplomasi digital dan budaya populer. Diskusi pada sesi ini menyoroti peran Kecerdasan Buatan (AI) di era digital humanities, fenomena musik dangdut atau hipdut, representasi budaya melalui Instagram Reels, hingga pengaruh manhwa (Boys’ Love). Topik lainnya mengeksplorasi diplomasi sastra, mode, dan literasi yang mencakup peran penerjemahan, literatur poskolonial, buku cerita anak dwibahasa, tren fesyen (Wastra Nusantara), serta diplomasi memori melalui karya seni dan teater. Diskusi juga menyentuh aspek krusial lainnya seperti warisan budaya, pariwisata, dan pendidikan dengan membahas perlindungan ruang agama dan budaya seperti Candi Prambanan dan Kota Tua Jakarta, dinamika pariwisata berkelanjutan, serta mobilitas mahasiswa internasional sebagai bentuk pertukaran budaya.
Diskusi komprehensif dari seminar internasional ini diharapkan tidak sekadar berakhir sebagai produksi pengetahuan akademik, tetapi juga mampu membuahkan perspektif yang lebih inklusif, etis, dan akuntabel mengenai kebijakan kebudayaan di masa depan. FIB UGM menegaskan komitmennya untuk terus mengambil peran aktif sebagai jembatan diplomasi kultural dalam merespons tantangan global.
[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]


