Pada hari Rabu, 9 September 2026, Magister Linguistik menggelar Ceramah Pakar bertajuk Bahasa Indonesia Bagi Penutur Asing. Acara ini merupakan rangkaian dari Konferensi Kajian Linguistik dan Temu Alumni yang akan digelar pada Kamis dan Jumat, 10-11 September mendatang. Dilaksanakan secara daring melalui Zoom, Ceramah Pakar ini menghadirkan Dr. Nguyen Thanh Tuan, M.Hum. dan Dr. Wira Kurniawati, S.S., M.A.
Dr. Nguyen Thanh Tuan merupakan pengajar Bahasa Indonesia di University of Social Sciences and Humanities, VNU-HCMC. Dalam pemaparannya, Dr. Nguyen Tuan Tuan mengulas dinamika pengajaran Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) di Vietnam sejak tahun 1993. Perkembangan BIPA di Vietnam didukung oleh eratnya diplomasi kedua negara, bantuan tenaga pengajar dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, serta tingginya animo mahasiswa berkat program beasiswa dan peluang kerja di perusahaan multinasional. Meskipun masih menghadapi keterbatasan pengajar tetap dan buku ajar berbasis keterampilan, prospek BIPA di Vietnam kian cerah setelah bahasa Indonesia masuk dalam Visi Pendidikan Nasional Vietnam periode 2026–2030/2035 untuk diintegrasikan ke tingkat sekolah menengah.
Sementara itu, Dr. Wira Kurniawati memaparkan pentingnya pemerolehan kompetensi pragmatik bagi pembelajar BIPA. Berdasarkan penelitiannya pada pembelajar BIPA di Taiwan, kemampuan bahasa tidak hanya diukur dari ketepatan tata bahasa, tetapi juga kesesuaian tuturan dengan konteks sosial, jarak antarpenutur, dan tingkat kedaruratan situasi. Pembelajar BIPA sering kali mengalami kendala dalam penggunaan pronomina persona atau justru menggunakan tuturan yang terlalu santun sehingga kurang efektif. Oleh karena itu, pengajaran BIPA diharapkan dapat melatih mahasiswa memilih strategi bertutur yang tepat melalui analisis budaya, sosialisasi, dan refleksi langsung.
Acara dilanjutkan dengan sesi diskusi interaktif yang membahas peran sastra dan budaya daerah sebagai media pemelajaran BIPA. Menjawab pertanyaan peserta, Dr. Nguyen Tuan Tuan menegaskan bahwa pengenalan karya sastra dan budaya lokal dari berbagai daerah di Indonesia, seperti Sumatra, Kalimantan, hingga Nusa Tenggara, sangat penting untuk memberikan pemahaman budaya Indonesia secara menyeluruh sekaligus mempromosikan keanekaragaman Nusantara di panggung internasional.
[Humas FIB, Maylafaizza Nafisha Zifa]
